Hati yang berlubang. Hati yang pecah mengeping.

Takrasak-rasak’ke (saya rasa-rasakan), akhir-akhir ini kok saya cerewet ya. Apa-apa mau diceritakan. Apa saya sedang cerewet, atau memang saya aslinya cerewet? Sudah gitu, banyak hal tidak penting yang seringkali saya ceritakan. Contohnya, ya 4 kalimat sebelum ini, tidak penting bukan? ๐Ÿ™‚ Dan sekarang pun, sepertinya saya mau cerita lagi. Hehe… Ini masih kelanjutan postingan yang kemarin. Ternyata saya sudah mulai menikmati posting setiap hari, karna cerita bisa saling berlanjut.

Jadi, seperti saya tulis di “Masih ada sukacita?“, semalam seusai saya menuntaskan menulis postingan, beralih ke yang lain, saya tiba-tiba bertemu kejadian yang membuat saya: “hah?? kok gitu??!”. Kaget, shock, dan sedih. Sederhana saja peristiwanya, mungkin saya yang terlalu membesarkan hal kecil, atau mungkin juga dia yang mengecilkan hal besar. Tapi seperti yang saya tulis di post kemarin: mungkin dia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu membuat saya sedih. Tapi dasar saya responsif ya, saya langsung bikin postingan di sini (jadi bikin postinganย reblogย punya Om Wong ketutup sama postingan curhat deh)ย danย status di FB. Haha… Tapi bukan karna marah, justru karna saya ingin perasaan saya damai sebelum tidur. Saya ingin tidur dengan nyenyak dan besok bangun tidur sudah tidak ada perasaan tidak nyaman lagi. Dan karna saya ingin dia tahu kalau yang dilakukannya (sebenarnya) membuat saya sedih, saya pun bilang kepadanya. Tapi saya juga bilang kalau saya baik-baik saja. I have joy in my heart, daijoubu desu yo… ๐Ÿ˜›

Paginya yang di selatan bingung mbaca status FB saya. Ini anak kenapa kok statusnya gini. Bertanyalah dia. Dan karna saya jawabnya ke mana-mana, dia paham kalau saya tidak ingin membahasnya. Jadi dia pun ikut putar haluan ๐Ÿ˜€ . Siangnya, si dia yang membuat saya sedih itu memperbaiki kesalahannya. Saya tahu dia akan melakukannya. Ya sudah case closed. :). Selesai!

Lha?!! Gitu doang?! Trus maksud judulnya itu apa?? Kok gak nyambung?! O iya, gak nyambung ya? Berarti belum saya sambungkan :mrgreen:. Sabar atuh… ๐Ÿ˜›

Pasti banyak yang tau kisah tentang seorang bapak yang menyuruh anaknya menancapkan paku di pagar rumahnya setiap hari selama seminggu lalu kemudian minggu berikutnya si anak disuruh melepas paku itu satu per satu. Lalu apa yang didapat anak itu? Semua paku memang sudah tidak ada di pagar tetapi lubang-lubang pakunya masih tertinggal. Begitulah kalau kita menyakiti orang lain. Kita mungkin sudah mencabut kesalahan-kesalahan kita, tetapi bekas luka di hatinya mungkin masih menganga.ย Perumpamaan lain adalah tentang gelas yang pecah mengeping. Sulit untuk menyatukannya lagi menjadi utuh seperti semula.

Dua perumpamaan di atas mengingatkan saya supaya saya berhati-hati dalam berperilaku supaya tidak menyakiti orang lain. Tetapi, jika ternyata saya yang tersakiti (mungkin juga saya yang salah lho, tapi anggaplah saya sedih gitu ya..), gimana donk?! Jika memang ada yang menancapkan paku di hati kita, setelah dia mencabutnya, bagaimana kalau kita dempul dan cat lagi supaya menjadi baru dan indah lagi? Kalau hati kita pecah, bagaimana kalau kita berusaha untuk menyatukannya lagi dengan lem alteco dan dicat lagi? Kalau pecahnya sudah berkeping-keping, ya sudah, diremuk sekalian saja lalu ganti yang baru :D. Hati yang sudah dicat ulang tidak akan terlihat lagi lubang atau retakannya kan, kecuali kita iseng mengorek-oreknya lagi. Hati yang baru tidak akan mengingat lagi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan atasnya.

Eciee…saya sok wise banget ya.. ๐Ÿ˜€ Ini tulisan memang semacam permenungan dan pengingat untuk saya sendiri. Kalau bermanfaat untuk teman-teman juga, ya puji Tuhan. Nah, karena sebagai pengingat, tolong ingatkan saya untuk membaca postingan ini kalau nanti saya patah hati yaaa…. (mudah-mudahan tidak). Sediakan dempul dan lem alteco banyak-banyak yaa, Tt chan… :mrgreen:

Selamat hari Rabu temans, apakah kalian sudah sedia dempul dan lem alteco? Atau malah sedang mendempul atau mengelem luka hati? Semangat yhuaaa……!!

Salam,
~Tt

Advertisements

10 thoughts on “Hati yang berlubang. Hati yang pecah mengeping.

  1. Esti Sulistyawan says:

    Hahaha kalo kecewa sama seseorang, lebih baik langsung bilang aj, itu kalo saya
    Kalo ditulis dg status atau posting takutnya rasa itu tidak tersampaikan malah buat pikiran si dia macam2..kan rugiii
    Tapi, orang kan beda2 ya dlm menghadapi masalah
    Semangat ya Tik, jangan mau patah hati lagi

    Btw, ngontes di hari terakhir kmrn, klo gak ikutan ditagih terus je hahaha

    Yu’i, makanya kemarin itu aku juga bilang kok. Prinsipku juga gitu, kalau gak dibilangi dia mungkin gak tau.. ๐Ÿ™‚

  2. LJ says:

    bisaa.. bekas pakunya bisa ilang kok T..
    hati tt kan bukan pagar dan gak ada yang gak mungkin. ๐Ÿ˜›
    so, tetap semangat..!

    Betul Bundo….!!
    Hati kita bukan pagar & bukan juga gelas. *perumpamaan yg gagal ๐Ÿ˜€
    Dempul & lem alteconya adalah maaf & ikhlas. Hati kita bisa cling…putih lagi deh… ๐Ÿ™‚

  3. yeye says:

    Waduh, melongo aku bacanya hehehe
    Aku kynya udah melewati masa dempul mendempul, cat mengecat x yah hahahahaha *berasa sotoy*

    ihiiiiir….tapi teteup sedia dempul/lem alteco lho ya, sapa tau nanti ada yang iseng nancepin paku di hatinya mb Ye.. #iseng beneeer ๐Ÿ˜€

  4. Orin says:

    Hati-nya buatan Tuhan kok Tt chan, malah tambah kuat ๐Ÿ˜‰

    iya Teteh…. Seperti tulang yang patah, ia malah memproduksi kalsium lebih banyak shg tulang mjd lebih kuat. Hati juga…. ๐Ÿ˜€

  5. Lidya says:

    dengan berjalannya waktu pasti bisa sembuh kok, hatinya gak akan terluka selamanya, asal dengan kemauan dari diri sendiri , semangat ๐Ÿ™‚ hihihi aku sok2 kan saran padahal sih

    iya mb Lid… Tetap positif & semangat… ๐Ÿ˜€

  6. prih says:

    Terima kasih Tt-chan refleksi diri yang menguatkan setiap hati. Salam

    Amin. Puji Tuhan jika bisa menjadi kekuatan buat yang lain ๐Ÿ™‚ Salam, Ibu.

  7. Imelda says:

    sayangnya gelas kalau sudah pecah ngga bisa diganti dgn yang baru, apalagi hati… Musti pakai cushion tuh supaya jgn pecah ๐Ÿ˜€
    Eh tapi … mamaku selalu beli 12 biji gelas, buat cadangan tuh… semoga cukup untuk seumur hidup ๐Ÿ˜‰

    Kalau cuma gumpil aja masih bisa dilem alteco, kak.. Tapi kalau udah sampai berkeping2, ya itu tadi, diremuk aja sekalian, buang n ganti yang baru.. ๐Ÿ˜€

  8. niee says:

    Bener mbak. apapun krbaikan dimasa sekarang kita (atau aku aja yak) susah banget utk bersikap biasa kepada orang yg telah menyakiti hati.

    Curhat dikit. contohnya sekarang ada temen aku yg bakalan nikah minggu ini dengan cowoknya yg menurut aku hasil ‘merebut’ dr aku dulu.. walopun sekarang udah gak ada perasaan sama sekali dan menganggap abangku lebih lebih deh dari dia. tapi merasa ada gimana gitu dan pas diundang males juga mau datang.. hihihi

  9. danirachmat says:

    kalo sayah perumpamaannya kayak batu yang dilempar ke sungai Mba Tik. kalo batu dilempar ke sungai kan jadinya airnya ribut, habis itu meskipun airnya tenang lagi, batu ada di dalem sungai. eh kok kayak pendendam gitu ya? ๐Ÿ˜€

Any comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s