Cerita di Balik Layar

Masih melanjutkan tulisan saya yang kemarin, kali ini saya mau menceritakan cerita di balik layar sebelum pentas tari di international party tersebut. Saya bagi 3 segmen biar runtut dan mudah dibaca (ikut gaya Om Nh).

1. Pemilihan tarian

Di Naruto University ada 3 mahasiswa Indonesia yang melanjutkan sekolah di sini. Setelah pengumuman penyelenggaraan international party, kami berdiskusi akan menampilkan apa di acara tersebut. Awalnya mereka berdua menyuruh saya saja yang menari mewakili Indonesia. Saya tidak mau, saya ingin semua ikut berpartisipasi di acara tersebut. Saya bisa menambahkan satu tarian yang saya tarikan sendiri, tetapi harus ada yang dipentaskan bersama-sama. Mereka pun setuju. Akhirnya kami bertiga mencari di youtube tari-tarian dari daerah Sumatera untuk dipentaskan bersama-sama (karena tarian dari Jawa sudah akan saya tarikan). Beberapa usulan tarian muncul: Tari Saman, Tari Piring, dan Tari Tor-Tor. Setelah ditonton, diperhatikan gerakan kaki dan tangan, dicoba, ternyata ketiga tarian tersebut sulit, Saudara-Saudara. Untuk Tari Saman, karna kami cuma bertiga rasanya kok kurang bagus. Untuk Tari Piring, selain gerakannya yang rumit, kami juga takut piring yang kami bawa meleset (berhubung kami semua belum pernah menari piring). Untuk Tari Tor-Tor, sebenarnya saya sudah dapat sedikit-sedikit gerakannya, tetapi kemudian salah seorang kawan mengusulkan tari Selayang Pandang yang ditemukannya di youtube. Dan setelah saya cek dan perhatikan, sepertinya gerakannya tidak begitu rumit. Kami bertiga pun menyetujuinya.

Sudah terpilih tarian yang akan ditarikan kami bertiga. Kini giliran memilih tari tunggal yang akan saya tarikan. Beberapa bulan yang lalu kakak saya mengirimkan kostum tari 2 macam: kostum tari Golek dan kostum Tari Gambyong. Untuk kostum tari gambyong berupa kemben yang juga bisa dipakai untuk tari Bondan. Sebenarnya tari Gambyong/Bondan lebih saya ingat ketimbang tari Golek karna dulu tari Gambyong & Bondan lebih laris ditarikan di acara pernikahan ketimbang tari Golek (kecil-kecil dulu udah dapat uang dari nari di pernikahan, hihi…😀 ). Tetapi mengingat kostumnya yang berupa kemben, sayanya tidak PD (hehe…) plus tata rambutnya harus disanggul dan saya tidak bisa nyanggul rambut sendiri. Jadi akhirnya saya pilih tari Golek meskipun harus berlatih lagi dengan bantuan youtube.

Deal, jadi terpilihlah tari Selayang Pandang dan tari Golek (Tirtakencana).

2. Latihan

Seperti tahun lalu, latihan kami pun mengandalkan bantuan youtube. Kami putar, perhatikan gerakannya dan dicoba. Sedikit demi sedikit kami temukan gerakannya. Karna kesibukan masing-masing kami, kami hanya berlatih 4 kali. Tetapi puji Tuhan semua gerakan bisa dikuasai dengan baik. Salut untuk teman-teman yang dalam 4 hari bisa menghafal gerakan tari dari awal sampai akhir padahal (menurut mereka) mereka tidak punya basic menari. O iya, contoh tarian Selayang Pandang yang kami gunakan, kami ambil dari sini.

Untuk tari Golek, saya sendiri sudah lupa dulu saya menari golek jenis apa. Akhirnya saya cari di youtube dan sepertinya Golek Tirtakencana-lah yang dulu pernah saya pelajari. Akhirnya saya berlatih dengan guru tari Mrs. Youtube.😛

3. Kostum dan tata rias

Pentas tari tentu tidak luput dari kostum dan tata rias. Untuk tari Selayang Pandang terjadi diskusi yang panjang, baik dari jenis baju maupun warna baju. Sampai-sampai kedua teman saya itu membawa baju-bajunya ke kamar saya untuk dicocokkan keserasiannya. Hahaha…. Kamar saya memang base camp selama latihan tari, jadilah apa-apa dilakukan di kamar saya (yang sempit itu) sampai ke urusan mencocokkan kostum. Setelah tidak menemukan kecocokan dari baju-baju yang dimiliki, akhirnya kami menyepakati untuk memakai kebaya saja, berbeda warna tidak apa. Dan untuk saya sebagai pemeran pria, memakai atasan baju bodo Sulawesi yang dibawa teman dan mengenakan topi ala Sumatera supaya kelihatan Sumateranya (nama topinya apa ya itu?). Untuk kostum Golek saya sudah tidak ada masalah karna dikirim lengkap oleh kakak saya termasuk perhiasan-perhiasannya.

Nah, urusan tata rias ini menjadi masalah tersendiri buat saya. Untuk tari Selayang Pandang, karna saya memerankan laki-laki, saya tenang saja tidak perlu berdandan. Tapi untuk tari Golek? Lah, saya ini tidak bisa berdandan. Setiap hari hanya memakai pelembab yang mengandung alas bedak (semacam P*nds), bedakan, dan lipstik tipis. Padahal untuk menari kan perlu tata rias panggung yang notabene lengkap dengan eye shadow, blush on, maskara, dan sebagainya. Alamak…biasanya ada kakak saya yang melakukan tata rias wajah dan rambut. Kali ini harus dilakukan sendiri. Lagi-lagi belajar dari youtube bagaimana memulaskan eye shadow di kelopak mata. Dan beruntungnya salah satu teman saya punya perlengkapan make up itu meski dia mengaku tidak bisa dandan. Hihihi… Dan beginilah wajah-wajah kami sebelum pentas (maaf kalau blur😛 )

2 perempuan berkebaya & saya mencoba berbusana ala Sumatera

kostum tari Golek & itu saya sudah dandan lho…

Ada yang membuat saya getun/gela kemarin itu. Apa pasal? Pas pentas tari Selayang Pandang yang saya tidak dandan, saya tidak lupa melepas kaca mata. Eh…giliran pentas tari Golek yang berdandan dengan latihan sehari semalam, saya malah lupa melepas kaca mata. Yah, gk kelihatan deh eye shadow-nya. Hihihi….😀

25 thoughts on “Cerita di Balik Layar

    • yustha tt says:

      Hahaha…kok bisa aneh lho, wong ya sama saja, liat gerakannya lalu dipraktekkan. Mau poco-poco, mau Tor-Tor, mau Tari Golek, semua bisa dipelajari dengan melihat videonya mas. Dan kenyataannya mmg kami latihan dgn melihat video di link2 itu. Hehe….🙂

    • yustha tt says:

      Kalo poto ndak tau mb, akunya pede semua (dasar narsis). Tapi kalau nari lebih pede gk pakai kaca mata soalnya jadi gk lihat penontonnya, blawur semua, haha…

  1. LJ says:

    Bundo pingin Tt ikut pertunjukan tari piring,
    yang ada adegan injek2 belingnya.. xixi.

    meskipun eye shadow gak kliatan
    anak gadis satu ini selalu mem(p)esona..^^

    • yustha tt says:

      Iya Bundo. Waktu cerita sama yang di rumah kalau mau pentas tari piring, dia langsung bilang gitu juga: ‘tari piring itu sakral lho.. Nti kalau udah selesai nari piringnya diinjak-injak. Makanya tari piring terkenal ya karna sakralnya itu. Bisa po kamu?’. Wuing…jadi mikir lagi meski sempat ngeles: ‘kan cuma buat perform bukan buat upacara adat’. Untungnya gerakannya juga sulit jadi gk jadi makai tari piring. Hehehe..

  2. Evi says:

    Tik, dalam balutan kostume tari golek, dirimu feminim sekali. Beda di kostum sumatera tea…
    Eh, sekarang hebat ya, belajar nari cukup dari youtube…Tak terpikirkan oleh saya hehehe..

    • yustha tt says:

      Yang kostum Sumatera kelihatan maskulin ya Uni? Asiiik..berhasil bergaya maskulin ^_^

      Kata simbah apa yang kelihatan itu bisa dipelajari. Tari kan kelihatan dan sekarang ada media youtube, jadi kalau mmg mau dan niat pasti bisa ^^

  3. Nh Her says:

    Pementasan tari tradisional Indonesia …
    akan semakin menjadi berkesan …. karena ini dilakukan di luar negeri …

    Saya rasa ini hal kecil … namun tidak bisa dianggap kecil dampaknya

    salam saya Tik

  4. prih says:

    Jeng Tt, trenyuh (haru) bersanding mongkok (bangga) membaca postingan ini. Bangganya kami dengan duta budaya dan akademik tiga dara mem(p)esona ini. Salam

Any comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s