enam bulan yang lalu

Hari ini 6 bulan yang lalu adalah kesedihan bagi Jepang dan juga dunia. Masih ingat kan? Ya, tanggal 11 Maret 2011 Jepang diguncang gempa berkekuatan 8.8 SR yang diikuti dengan tsunami. Tanggal itu adalah 10 hari sebelum hari keberangkatan sy ke Jepang. Dan pada saat itu sy masih disibukkan dengan pekerjaan kantor yang kejar deadline (mau berangkat ke Jepang pun masih nyelesaikan kerjaan kantor, bahkan sampai hari terakhir masuk kantor πŸ˜€ ). Sy sedang di ruang sidang, sengaja menepi ke ruang sidang supaya bisa fokus dengan pekerjaan yang kejar deadline tersebut. Begitu ada kabar gempa dan tsunami di Jepang, semua mata terarah padaku. Mereka lantas bertanya “kamu trus gimana Tik? Jadi berangkat tidak?”. Dan taukah bahwa sy bahkan menanyakan pertanyaan yang sama: “apa kabar keberangkatanku 10 hari ke depan?”

Dengan adanya kabar gempa tersebut, akhirnya kami menyalakan tv (yg memang ada di ruang sidang, layar datar dan luebar pula) dan mengikuti perkembangan gempa. Maha besar Tuhanku, sungguh kita hanya serupa debu yang dihempas gelombang tsunami. Bergidik kami menyaksikannya. Tak lama SMS dan telepon berdatangan menanyakan kabar keberangkatanku, menanyakan lokasiku, menguatkanku, dll. Ada yang dengan nada panik, ada yang dengan nada sabar, ada pula yang cuma sepatah kata: “ambil hikmahnya”. Saya sendiri? Sy mencoba sok sabar. Apapun yang Tuhan kehendaki terjadi bagiku, terjadilah menurut kehendak-Mu. πŸ™‚ So, karna memang sy belum tau kabar keberangkatan sy selanjutnya maka sy jawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan pernyataan bahwa sy belum tau. Dan yang terpikirkan oleh sy saat itu malah kabar kak Imel dan Inga Fety. Beruntung kak Imel ‘muncul’ di FB sehingga bisa mengikuti perkembangan kabar di sana.

Saat itu sy benar-benar stuck. Sy shock tapi juga harus sabar dan juga harus menyelesaikan pekerjaan. Complicated. Hari itu sy menelepon rumah, ‘menenangkan’ Bapak bahwa sy akan menanyakan ke Jakarta tentang keberangkatan sy dan mengabarkan hasilnya pada Bapak. Tapi sy pikir Jakarta juga belum bisa berkeputusan hari itu. Maka sy baru telpon ke Jakarta besok harinya. Dan benar saja, Jakarta mengatakan bahwa tidak ada informasi apa-apa dari Jepang, apakah ditunda atau tidak. Akhirnya sy pun mengambil jalan pintas, langsung kirim email ke Jepang, menyampaikan bela sungkawa sy atas musibah yang menimpa Jepang, juga menanyakan kabar keberangkatan sy. Dan dari Jepang pun mengirim email balasan bahwa tidak ada pembatalan atau penundaan keberangkatan karena jarak Tohoku dan Shikoku adalah +/- 900km, jadi lokasi tempat sy belajar tidak terkena dampak tsunami. Plus dikirim peta dengan keterangan2nya. Ah…sementara lega.

Kelegaan disesakkan lagi dengan kabar kebocoran reaktor nuklir PLTN Fukushima. Dan ini lebih mengkhawatirkan dibanding kabar gempa kemarin. Apa pasal? Karena nama yang mirip antara Fukushima dan Tokushima tempat sy belajar. Saya pun menjawab pertanyaan tentang itu berkali-kali:”bukan Pak, tempat sy nanti Tokushima bukan Fukushima”, “jauh Pak, 900km dari Fukushima”, “insyAllah tempat sy aman dari kebocoran nuklir itu”, dst. Lalu akhirnya, ketika sy berpamitan dengan teman-teman kantor setelah senam hari Jumat dan sy menjelaskan lokasi saya, lokasi gempa, lokasi Fukushima, teman-teman pun menjadi tenang melepas kepergian sy.

Sepuluh hari menjelang keberangkatan saya itu menjadi sepuluh hari yang penuh dengan serba-serbi. Berbagai perasaan campur aduk menjadi satu. Namun puji nama Tuhan, Tuhan menguatkan dan melancarkan semuanya. Maka tak heran jika ada kegalauan di wajah Bapak ketika melepas kepergian saya. Antara bahagia, sedih, khawatir, semua berbaur menjadi satu.

Ketika Tuhan berkehendak, maka sangat mudah bagi Dia untuk menjadikannya.

Hari ini sy mengikuti simulasi penanganan bencana. Apa yang harus dilakukan ketika gempa datang, bagaimana menggunakan fire extinguisher ketika terjadi kebakaran, dsb. Mudah2an bisa sy share kapan2.

Flash back ke enam bulan yang lalu, dan tiba-tiba saya jadi sadar: ternyata sudah 6 bulan saya di Jepang. Semoga terus dikuatkan, dilancarkan, dan dimudahkan segala sesuatunya. Untuk orang2 yang sy kasihi di rumah, semoga senantiasa dalam lindungan-Nya, beroleh kesehatan, dan kedamaian senantiasa. Amin. Puji nama Tuhan.

Advertisements

18 thoughts on “enam bulan yang lalu

  1. Mood says:

    Wew. . Ga terasa sudah 6 bln km dijepang, pasti makin lancar aj neh bahasa Oshinnya πŸ˜›
    Ikut mendoakan km, supaya diberikan banyak kemudahan dalam menjalani hari hari di Jepang dan bisa blk ketanah air tercinta dengan membawa ilmu yang bermanfaat.

    Salam.. .

    kadang terasa juga Bang, hehe…
    belum lancar juga bahasa Oshinnya, lha di sini kebanyakan pakai bahasa Inggris, Indonesia, n Jawa πŸ˜€
    Amin..amin…makasih doanya ya Bang…

    Salam.

  2. Imelda says:

    heheheh aku masih ingat, kamu tanya cara naik limousine bus dari Narita ke Haneda ya? Hmmm udah 6 bulan. Cepet ya waktu berputar.
    Kemarin aku baru bicara pertama kali setelah 5 bulan tidak bicara dgn adik ipar. Dia skr tinggal di Miyasaki, ngungsi. Suaminya tetap kerja di Sendai. Dia sendiri tidak kerja lagi. Betapa gempa tohoku telah merubah “kenyamanan” keluarga2 Jepang 😦

    Enjoy your days

    EM

    Iya kak, aku masih ingat. Waktu itu pikiranku adl menyiapkan segala sesuatu sebelumnya termasuk info2 di sana karna bakal pergi sendiri plus gk bisa bhs Jepang pula. Dan jadwal penerbangan dr Haneda yang mepet, jadi harus pakai limousin yang pas waktunya. Eh, ternyata semua sudah diarrange dgn baik sama pihak Jepang. Jadi tidak nyari2 sendiri. Puji Tuhan.

    Benar kak, meski sepertinya sudah tenang keadaannya, tapi perubahan yang ditimbulkan masih memerlukan proses untuk menyesuaikannya. Salam untuk saudara2 kak Em di sana ya Kak. Percaya saja, Tuhan akan pulihkan. Amin.

  3. Cahya says:

    Ndak terasa ya sudah 6 bulan Jeng, tapi bersyukur semuanya berjalan dengan baik hingga hari ini :).

    Ya terasa lah Cah… Hehehe…. Amin, segala sesuatunya memang harus disyukuri πŸ™‚

  4. gadgetboi says:

    waktu memang cepat berlalu … semoga mbak baik-baik saja di jepang dan bisa cepat kembali ke tanah air dan kembali bertemu orang terkasih

    Amin. Terimakasih doanya ya mas.. Salam kenal πŸ™‚

  5. bundadontworry says:

    waktu cepat berlalu ya Tt…
    alhamdulillah, Tt selalu sehat selama disana
    dan, semoga kedepannya lebih baik lagi, dan sukses selalu utk Tt sayang
    salam

    Iya Bun, waktu cepat sekali berjalan…
    Terimakasih Bun, semua juga karna doa Bunda dan semuanya..
    Amin Bun. Terimakasih selalu mendoakan Tt ya Bun.
    salam πŸ™‚

  6. septarius says:

    ..
    wah udah 6 bulan ya Tik..?
    kok terasa cepet banget ya.. ^^
    ..
    soal penanganan bencana harusnya Indonesia belajar banyak sama jepang..
    makanya kamu musti belajar yg banyak ya Tik, nanti dibagi-bagi sama yg di tanahair.. πŸ˜‰
    ..

    Nah kan? Cepet kan?
    Maka bener kalau kubilang 2 tahun itu cepat..

    Iya Ta, di sini sangat serius prevention thd bencana. Besok2 kushare deh… πŸ™‚

  7. nh18 says:

    Terus terang waktu kamu secara implisit mengabari keberangkatanmu …
    saya agak mengernyitkan dahi … waduh Titik nekat berangkat juga …

    Dan Alhamdulillah Puji Tuhan … saat ini kamu sehat-sehat saja …

    Semoga demikian terus ya Tik
    Take care

    Salam saya

    Hehehe…secara implisit ya Om kasih taunya πŸ˜›
    Iya Om, ketika pihak Jepang menyatakan ‘AMAN’ maka sy dengan yakin berangkat. Karna setahu sy orang Jepang sangat hati2.
    Ya Om, puji Tuhan segala sesuatunya berjalan baik. Semua karna doa Om dan teman2 juga. Terimakasih ya Om. πŸ™‚
    Salam.

  8. isnuansa says:

    6 bulan sudah bisa bahasa Jepang apa aja, Mbak? udah ketemuan sama Mbak EM, Kai dan Riku dong ya?
    —-
    Arigatou gozaimasu, sumimasen, konnichiwa :D.
    Malah belum ketemu mereka mb. Mg2 bs ketemuan deh selama aku di sini. πŸ™‚

    *masih bau melati πŸ˜‰ *

  9. nia/mama ina says:

    wahh ternyata udah 6 bulan yach di jepang…krna baru mampir belakangan ini jd aku baru taunya seminggu yang lalu hehe….

    smoga waktu yg tersisa bisa dimanfaatkan dgn sebaik mungkin…..

    senangnya bisa sekolah di jepang…pengen mengkhayal ahh smoga satu saat anak2ku bisa sekolah juga ke jepang (ini salah satu impian bapaknya…soale dulu bapaknya pernah belajar bahasa jepang supaya bisa sekolah/kerja disana tapi ngga kesampean hihihi….)

  10. Sugeng says:

    Hm …. memang sama-sama shima tapi jauhnya sampai 900Km. Semua karena terbatasnya pengetahuan diri kita atas wilayah teritorial negara lain.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Any comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s