Sandiwara

Dia baik Na, tapi keras kepala. Dia tulus, dan dia mencintaiku. Kamu tau Na?! Sudah lama kami berhubungan, dan kami bisa bertahan karena kami saling mencintai.

Satu.

Na,kami mau menikah. Banyak yang terjadi dalam hubungan kami, tapi syukurlah kami bisa mengatasinya. Dia bahkan menyatakan kesungguhannya bahwa dia mencintaiku dengan mengajakku menikah. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Kamu tahu Na?! Aku tidak bisa marah pada dia. Ketika aku sedang marah, hatiku terpenuhi oleh maaf. Bahkan sekarang aku sedang sangat bahagia, Na.

Dua.

Mohon doa ya Na, kami telah menikah. Maaf tidak mengabarimu. Hanya keluarga saja. Tapi doamu sangat kami butuhkan Na.

Tiga.

Aku hamil Na.

Empat.

Maulana tersenyum getir, mendengar semua yang Indi kabarkan padanya. Semua sandiwara yang Indi buat untuk meyakinkan Maulana bahwa dia bahagia, bahwa Maulana harus segera melupakannya karena Indi telah menjadi milik orang lain.

Episode apalagi yang akan dibuat Indi, Maulana hanya menanti. Satu episode sandiwara yang dibuatnya harus diikuti sandiwara2 berikutnya supaya Maulana melihatnya sebagai sebuah kewajaran dan kenyataan.

Maulana menanti. Indi mencari2 cerita baru lagi. Kelak Indi akan kelelahan dan mengakhiri rangkaian sandiwaranya dengan sebuah pengakuan, sebuah kejujuran bahwa tak pernah ada laki-laki dalam hidupnya

kecuali

Maulana…

.

.

15.10.2009: 19.27
Kamar kost
Under: fiksi

==========

Hehehe….jangan protes sama tanggal di penghujung tulisan. Sy nggak salah kok, ini memang tulisan setahun yang lalu. Sy lagi stuck gk punya ide nulis ni, tapi sy pengen nulis, nah lo, gimana tuh? Akhirnya sy baca-baca lagi tulisan-tulisan saya yg sudah lama. Eh, ketemu yg ini dan kok sy suka. Repost di wp ah… Hehe…..

Selamat hari Kamis, kawan! 😀

5 thoughts on “Sandiwara

  1. Reva Lee Pane says:

    Sebuah fiksi buatku terkadang tak perlu dieksplorasi lebih jauh, toh sudah menyampaikan maksudnya. Jadi kalau kau tercekat karena ternyata ia hanya berhenti di situ, itu bukti kepiawaian penulis mengolah emosi pembacanya.

    Lagian, cerpen kalo kepanjangan yg baca akan segera bosan :mrgreen:

    Nice fiction. Muaacchh…!! *lho?*
    ===
    yups…Right…
    Makanya Tt sampai mlongo mengetahui fiksi mb Lee udah selesai, padahal emosiku masih di puncak… 😀

    Thanks ya mb…
    Byk belajar dr mb Lee… 🙂

Any comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s