Hujan dan Kenangan

Deras hujan di luar, mengingatkanku padamu. Apa kabarmu?

 

 

Senja menggantung di ujung langit, kala itu. Bersiap menyerbukan hujan ke bumi manusia. Aku sedang merenungi rasa hampa.

 

Sekian waktu kau abaikan aku. Takpedulikan pesan2 yang kukirim puluhan kali ke handphonemu. Tak mengangkat telponku meski aku menghubungimu puluhan kali. Aku merindu dalam gelisah, Sayangku. Bergema tanya, adakah di sana kau baik selalu?

 

Aku makin tak menentu ketika sepotong kue kuning telah tersaji di langit malam dan kau tak kunjung hadir. Di mana kamu? Aku menunggumu hingga malam tak mampu menahan mentari bangun dari peraduan. Tak peduli cincin hitam melingkar di mataku & aku tertidur di sela waktu kerja, setelah itu. Setiap malam kutunggui kamu. Hingga sepotong kue kuning itu tandas dimakan masa. Tiga kali putarannya dan aku harus selalu merelakan ia habis tanpa kunikmati denganmu.

 

Kamu menghilang begitu saja. Tanpa permisi. Tanpa pelukan perpisahan. Tanpa ciuman pelepasan. Kamu hilang… Dan aku? Aku patah hati tanpa bisa konfirmasi..

 

Dan senja itu, ketika aku telah pasrah kehilanganmu, hujan turun menderas. Aku menikmatinya dari jendela kamarku, tempat biasanya aku menantikan kue kuning sebagai penanda waktu kedatanganmu. Dan….. aku menemukanmu. Berlari di bawah hujan, melambaikan tangan ke arahku, isyarat yg mengatakan ‘bukain pintu’. Aku tertegun. Tak percaya itu kamu. Ah…tapi gemuruh rindu membuatku berjingkat turun dan membukakan pintu untukmu. Kamu tersenyum lucu di depan pintu. Tanganmu terbuka menyambut hamburanku ke pelukmu. Tapi aku masih takjub menemukanmu lagi setelah berbulan-bulan kehilangan. Dan kamu pun tak tahan, kaudekap aku penuh kerinduan.

 

“hey…..basah semua bajumu.” teriakku di pelukmu dan kita terbahak bersama.

 

Hujan masih menderas di luar. Kamu telah berganti baju yang sengaja kautinggal di lemari bajuku. Aku pun demikian. Kita bercengkerama di ruang keluarga, ditemani secangkir kopi dan sepenuh bahagia. Kamu bercerita banyak hal sambil membelai kepalaku yang kurebahkan di bahumu. Tapi kamu takkunjung menjawab tanyaku kemana saja selama ini. Hingga kali ketujuh aku bertanya, kamu menghela nafas, melepas belaianmu, bangun, mengambil cangkir kopimu tapi tak meminumnya.

 

“ada apa?” kuusap punggungmu. Aku merasakan beban dan gelisah dari gelagatmu.

“aku harus meninggalkanmu….”

Jedaaarrr!! Petir di luar seolah mengetahui persis keterkejutanku. Bibirku gemetar untuk bertanya ‘kenapa?’. Dan kamu menjawabnya tanpa perlu aku tanya.

“dia telah tau keberadaanmu. Dia akan meninggalkanku jika aku tak meninggalkanmu.”

“…dan kamu memilih dia daripada aku??” tanyaku lirih tanpa perlu jawaban.

Kamu meletakkan cangkirmu lalu memelukku. Mencoba mengalirkan kehangatan pada tubuh yg membeku. Aku terisak di pelukmu….

 

Inilah pelukan perpisahan.. Akhir perjalanan…

.

.

.

***

.

.

.

 

Hujan belum juga reda. Kuseduh dua cangkir kopi. Kubawa ke ruang keluarga bersama sepiring pisang goreng.

“kopi buatan istriku paling enak sedunia.” kata pria di depan tv itu sambil menggodaku. Dia yg selalu ada untukku tanpa perlu kutunggu sepotong kue kuning dalam sepiring langit kelam datang di balik jendela. Seandainya dulu aku masih bersetia pada ketidakpastian, mungkin saat ini aku masih duduk di tepi jendela, menantikannya, yang tak kan datang selamanya. Hatinya telah memilih, lalu mengapa tak mau beralih? Tapi Tuhan tak pernah tinggal diam, dia bersama mereka yang patah hatinya. Dan setiap kita adalah malaikat yang patah sayapnya. Pasangan sayap kita ada pada pasangan kita. Dia, yang datang tiba-tiba tanpa aku duga sebelumnya. Ya… Tuhan tak pernah tinggal diam….

“hayoo melamun!!” suamiku membuyarkan lamunanku.

Aku pun tersipu malu…

 

 

19092010
#inspired by: hujan, ‘Sepotong Kue Kuning’ Dee..

9 thoughts on “Hujan dan Kenangan

  1. dey says:

    ish .. romantis sekali ..
    5 th sudah 500 postingan ? Masih lumayan mbak, blog-ku udah 7 tahun tapi belum sampe 400 postingan 😀

  2. siwimars (@siwimars) says:

    humm hummm…saya hapal betul tulisan sepotong kue kuning-nya Dee dan sering membaca ulang tanpa pernah merasa bosan. Ah, manis juga kalau ending ceritanya begini..atauuu bayangin juga kalau di endingnya itu bersama laki2 yang dulu itu dinantinya..ah..ah..entahlah..
    nice writing mbaeeee 🙂

Any comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s