Catherine and Her Promise…

Pagi ini Cath kembali membuka mata ketika matahari telah mulai bekerja. Dibukanya gorden jendela kamarnya dan dia dapati matahari mulai terik. “Hai, aku terlambat bangun!”. Cath lempar selimutnya begitu saja dan langsung menyambar handuk menuju kamar mandi. “Ah, tidak perlu bersih. Cukuplah lelahku karna lama tertidur, kuhapus dengan guyuran air. Tak ada kotoran di badanku.” pikirnya di sela menyikat giginya yang selalu tampak putih dan berjajar rapi saat senyum manisnya tersungging.

Cath berangkat bekerja. Rutinitas yang dilaluinya setiap hari. Bangun pagi, lalu kerja sampai sore datang. Di sela bekerja Cath akan bernyanyi riang seolah hidupnya berwarna. Bercanda dengan teman-temannya. Berbicara tentang cinta dengan teman maya-nya. Padahal cinta yang ia bicarakan itu tak pernah ia rasakan. Kadang menasehati bagaimana harus bersikap terhadap lelaki, bagaimana bangkit saat patah hati, bagaimana menghadapi kesendirian yang sering dirasakan perempuan-perempuan yang tak kujung memiliki pasangan. Padahal dia sendiri masih larut dalam kesendirian. Hidupnya selalu sama setiap hari. Bangun, bekerja, pulang, aktivitas rutin di kamar sempitnya, lalu tidur. Besok pagi terulang lagi. Begitu setiap hari. “Hidup yang sangat monoton” begitu gumamnya jika dia telah benar-benar bosan.

Cath bukan tak punya teman. Ada banyak teman2nya di luar sana. Tapi dia masih merasa sendiri. Cath bukan tak punya cinta. Dia punya cinta, hatinya penuh dengan cinta. Ya. Penuh dengan cinta yang berulang urung dia berikan kepada laki-laki yang dicintainya. Karna lelaki itu telah memberikan cintanya untuk perempuan lain. Cath pun menyimpannya kembali di hatinya. Suatu hari nanti akan diberikannya kepada laki-laki yang dipilihkan Tuhan. Tapi tak kunjung Tuhan memberikannya sehingga hatinya pun penuh dengan cinta yang tak tersampaikan. Ada beberapa lelaki di hidupnya yang membuatnya tahu apa artinya berkorban. Berkorban hati, perasaan, waktu, dan kepentingan. Bahkan mengorbankan kesenangan dan kebahagiaannya demi cinta. Hey, begitukan mencintai?? Cath berulangkali bertanya: benarkah caraku mencintai?? Aku tidak menuntut apa-apa dari lelaki yang kucintai. Aku hanya berharap dia pun mencintaiku. Tetapi jika dia tidak mencintaiku, apa aku juga harus menghentikan cintaku padanya? Jika aku terus mencintainya dan memberikan segala yang aku punya untuk dia, apakah aku telah melakukan hal yang benar???

“Catherine, ada telepon. Mencarimu.” Catherine mengangkat telepon yang gagangnya sudah dutaruh di meja.
“Hallo..” sapa Cath.
“Hai Cath, aku pulang. Di mana kau tinggal sekarang?? Boleh aku main ke tempatmu??”
Hey, suara di ujung telepon itu begitu dikenal Cath. Bertahun-tahun yang lalu suara itu selalu ia dengar setiap hari. Bertahun-tahun yang lalu Cath pernah memberikan semuanya untuk pemilik suara itu meskipun sang pemilik suara tak memberikan perlakuan yang sama seperti yang Cath lakukan padanya. Bertahun-tahun yang lalu lelaki di ujung telepon itu berusaha membuat Cath membencinya setelah dia tahu Cath mencintainya. Bertahun-tahun yang lalu lelaki itu meninggalkannya dan menikah dengan perempuan, yang katanya, dicintainya. Bertahun-tahun yang lalu pria itu telah membuat Cath mengatakan satu ucapan yang menjadi janji di hati Cath: Jika tidak dengan kamu, aku memilih sendiri mas. Bertahun-tahun Cath berusaha melupakan laki-laki itu tapi tak juga berhasil hingga detik ini. Hingga saat suara itu kembali didengarnya di ujung telepon.

“Cath… hallooo.. kamu di situ kah?”…

Suara di ujung telepon mengembalikan imajinasi Cath ke waktu yang ia pijak sekarang. Tumpukan sejarah yang baru saja ia baca ulang, tiba-tiba tertutup karena sapaan ‘Cath’ dari ujung sana.
“Ya, saya di sini. Maaf ini siapa ya?”
Cath mencoba menata kekacauan hatinya dengan pertanyaan yang tidak bermutu, yang jelas sudah ia tahu jawabannya. Mana mungkin dia melupakan suara itu. Dulu setiap hari mereka habiskan bersama. Jika dalam sehari tidak ada waktu bertemu, malam hari handphone Cath akan berdering dan suara itu akan menemani malam harinya sampai Cath mengantuk dan mengucapkan ‘Good night’.
“Kamu sudah lupa denganku Cath? Ini Endru!!” Bersemangat lelaki itu menyebutkan namanya, membaca nama ‘Andrew’ yang tertulis di akta kelahiran dan ijazah-ijazahnya.
Cath terdiam sesaat, memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan setelah mendengar nama itu disebut, memikirkan ekspresi apa yang pantas ia buat setelah ia mendengar nama itu karna ekspresi keterkejutan sudah berhasil dia sembunyikan saat pertama kali mendengar suara itu. Cath akhirnya menemukan apa yang dicarinya.
“Hai Endru, apa kabar? Masih menyimpan nomor kantorku?”
Ah, ternyata Cath menjawab dengan datar saja. Seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Cath hanya ingin menunjukkan pada lelaki itu bahwa usahanya dulu untuk membuat Cath membencinya, telah berhasil. Cath juga tidak mau lelaki itu tahu bahwa selama bertahun-tahun ini sesungguhnya Cath menanti dia kembali. Cath tidak mau lelaki itu tahu dia bahagia saat mendengar lelaki itu meneleponnya saat ini. Cath ingin terlihat biasa saja, seolah telepon yang diterima saat ini bukan sesuatu yang spesial bagi dia.
“Kabar baik. Kamu apa kabar Cath?” ada nada kecewa dari suara lelaki ini. Mungkin dia mengharap respon lebih dari Cath. Bukan hanya menanyakan kabar seperti yang biasa ditanyakan pada orang-orang sebagai basa-basi.

Begitulah. Telepon siang itu diakhiri dengan ucapan ‘sampai ketemu lagi’. Cath merasa perlu menata ulang hatinya yang beberapa waktu tadi berantakan. Cath merasa perlu memikirkan apa yang harus dibuatnya nanti jika lelaki itu benar-benar datang ke rumah kostnya. Waktu makan siang yang biasa dihabiskan Cath dengan teman kantornya mengunjungi rumah makan yang berbeda sekedar wisata kuliner, kali ini dia pamit. Dia pasti tak bisa menikmati makan siang kali ini. Teman-temannya tak bertanya banyak, mereka berpikir Cath sedang memerlukan banyak waktu untuk mengerjakan tugas-tugas kantornya.

Catherine mengarahkan sepeda motornya ke sebuah taman kota tak jauh dari kantornya. Taman yang sejuk di tengah kota yang gerah karna kurangnya penghijauan. Tempat yang banyak dikunjungi anak-anak bersama ibu ataupun baby sitternya. Anak-anak yang masih lucu-lucunya, sedang senang-senangnya berlari setelah dia berhasil belajar berjingkat-jingkat dengan riangnya. Anak-anak yang harus dialihkan perhatiannya hanya untuk menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Anak-anak yang geleng-geleng kepala saat menyanyi Balonku Ada Lima. Lucu sekali mereka. Cath duduk di bangku di bawah sebuah pohon besar. Memperhatikan anak-anak yang sangat riang itu, hatinya sedikit terhibur.
“Lihat Cath, mereka lucu sekali ya. Itu yang rambutnya ikal. Kamu kalau punya anak pasti seperti dia. Lucu sekali.” Endru sering berkomentar saat mereka duduk di taman sepulang sarapan di hari libur. Sesekali meledek Cath dengan mencari-cari anak yang sekiranya bisa jadi gambaran anak Cath kelak. Cath bukannya marah dengan ledekan Endru, dia malah akan membayangkan yang indah-indah dengan anak-anak yang dia miliki nanti, dan Endru hanya akan manyun karna tak berhasil membuat Cath marah. Kadang Endru akan memanggil seorang anak yang lucu, memangkunya, dan mengajarinya bernyanyi. Cath hanya mendampingi Endru sambil ikut menyanyi seperti si kecil di pangkuan Endru. Dalam hatinya, Cath berkata: kamu akan jadi ayah yang baik buat anak-anak kita mas.

Handphone Cath bergetar. SMS dari teman kantornya, menanyakan keberadaannya karna sudah pukul 2 siang Cath belum juga kembali ke kantor. Cath terbangun dari lamunannya. Lamunan yang lagi-lagi kembali pada masa kebersamaannya dengan Endru.

Ya, Tuhan.. Tidak ada yang bisa membuatku melupakannya. Semua tempat di bawah kolong langit ini punya kenangan tentang dia. Sekarang dia datang lagi Tuhan. Aku tidak pernah bisa mengubah perasaanku padanya meskipun aku tahu harapanku hidup bersama-sama dengan dia sudah tidak mungkin terwujud. Aku mencintainya. Saat kudengar suaranya tadi, aku masih merasakan cinta yang sama. Ya Tuhan….

Cath menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, tertunduk dengan perasaan berserah. Masih ingat angan-angan yang dia susun 6 tahun yang lalu saat kebersamaan bersama Endru. Enam tahun setelah ditinggalkan Endru,Cath menutup hatinya untuk siapapun. Dibiarkannya hatinya sepi.

Pukul 18.00 Cath masih terpekur di taman. Sudah berganti pengunjung di taman itu. Remaja dan pemuda yang berpasang-pasangan mulai berdatangan. Beberapa hanya berjalan santai, beberapa duduk di bangku taman, beberapa tertawa-tawa. Cath tidak mengindahkan mereka. Cath masih berdiam dengan dirinya sendiri. Masih membuka kembali kenangannya bersama Endru. Ada bahagia, ada harapan, ada cinta, meskipun ada luka juga di sana. Namun saat Endru meninggalkannya untuk meraih bahagia, Cath telah merelakannya. Apalagi yang diharapkan seseorang dari orang yang disayanginya selain kebahagiannya. Cath tersenyum bahagia ketika Endru menyatakan akan menikah dengan orang yang disayanginya. “Aku ikut bahagia mas. Sungguh.” kata Cath kala itu. “Mas berhak bahagia, dan jika kebahagiaan mas ada padanya, maka raihlah itu. Aku selalu mendukungmu karna aku menyayangimu. Mas tidak perlu mengkhawatirkan aku, karna aku bisa jaga diriku sendiri. Dan tak pernah aku membencimu, yang ada adalah aku selalu mengasihimu….” Cath menitikkan air mata, tapi air mata bahagia dan air mata penuh kasih untuk orang yang sangat disayanginya.

Cath melajukan motornya dengan perlahan. Cath telah kembali pada waktu di mana dia berpijak sekarang. “Aku telah menutup sejarah tentang kita mas, karna itu aku tidak akan membukanya lagi. Mas telah bahagia bersama orang yang mas sayangi. Mungkin sekarang telah hadir buah cinta kalian. Aku tidak akan hadir lagi dalam kebahagiaan mas. Aku tetap memutuskan sendiri, seperti janjiku dulu: jika tidak dengan mas, aku memilih sendiri….”

Malam semakin gelap. Motor Cath terus melaju, membelah kegelapan malam.. Akan ada pagi setelah malam. Dan Cath terus memegang harapan. Ada bahagia dan cinta di sepanjang jalan…….

———————————-the end——————————

2 thoughts on “Catherine and Her Promise…

Comments are closed.