Resah

Hadeeehhh….ini lagu terngiang2 terus di telinga…
Denger di radio pada Minggu malam dalam perjalanan Prambanan-Mlati dalam kantuk yang luar biasa. Sudah hampir sampai rumah lagu ini muncul.. Pas sampai di depan rumah pas reffnya: aku ingin berdua denganmu, di antara daun gugur….
Entah kenapa sepenggal lirik itu nyantel terus di kepala. Sampai melahirkan penasaran dan akhirnya mencari-cari lagu siapa sih itu tadi? Ketik lirik yang diingat di mesin pencari dan muncullah blognya Payung Teduh: payungteduh.blogspot.com. Di sana saya menemukan puisi/lirik lagu lain yang seperti puisi2 saya, salah satunya kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan.. Yah, hidup ini keberulangan memang, yang terjadi di kita bisa terjadi di orang lain. Kalau tidak begitu, pasti tidak ada yang puisinya menceritakan kisah hidup kita, atau sebaliknya ada orang yang termehek-mehek baca puisi kita karna merasa “ini gue bangettt…huhuhu….”
Hahaha…ya sudahlah, mari kalian ikut dengarkan lagunya payung teduh yang terus terngiang di telingaku itu yaa…. :smile:

#jangan lupa bahagia, temans…

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan…

Kita tak semestinya berpijak diantara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri ditengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan abadi

o0o

#Payung Teduh

Weekly Photo Challenge: Orange

Orange, kupikir tadinya jeruk, eh ternyata warna oren alias oranye. Tentang etimologi kata ini bisa temans baca di blognya Bunda Monda. Dulu saya hampir tidak punya baju berwarna oren dan warna-warna cerah temannya seperti kuning, merah, dan biru muda. Tapi sejak kePDan saya meningkat, saya mulai menyukai baju-baju berwarna cerah. Dan tanpa disadari, ada beberapa baju oren di lemari saya baik itu kaos maupun baju untuk ke kantor. Ini salah satu baju yang didesain dan dicetak teman saya pakai foto dan tagline saya. Hihi…. Ada yang berminat bikin kaos macam ini? Bisa buat kado lho… Hubungi saya yaa… :D

2015/03/img_7905.jpg Selain pada baju, warna oren bisa dengan mudah kita temui di kuliner Nusantara. Salah satunya di menu ikan bakar pedas khas Makassar ini. Look at the colour and imagine how spicy and hot that cuisine. Cabenya cabe rawit bo’. Huhhah banget deh…

2015/03/img_5273.jpg

 Untuk menawarkan rasa pedas, enak banget kalo minum es jus markisa. Di Makassar salah satu oleh-oleh yang bisa kita bawa pulang adalah sirup markisa. Saya sering bawa pulang sirup markisa. Nah, ada kejadiaan lucu nyebelin nih dengan sirup markisa. Alkisah sirup markisanya tinggal sedikit di botol. Mungkin teman saya pengen bersih-bersih kulkas saya kali ya, jadi dia dengan kreatifnya menuang sisa sirup markisa itu di cetakan es batu. Pas saya mau bikin es teh, o’ow, ini kenapa ada oren2 di cetakan es batu gini??? Ternyata beliau punya niat mulia, memudahkan membuat es sirup markisa dengan mencemplungkan sirup berbentuk es ke dalam segelas air. Apa daya koloid berbentuk sirup tersebut tidak juga membeku meski disimpan di dalam frezer. Huhuhu….

IMG_6341

Daripada gelo karna gak jadi bikin es teh, mending jalan-jalan menikmati langit sore yang mengoren yuk… Haha…tetep aja lebih enak disebut ‘menjingga’ yaa… :D Marii…

IMG_5288

Saya kasih bonus satu foto yaa… Ndilalahnya kantor saya kok ya bikin kaos seragam olahraga warna oren. Jadi pas deh dengan tema WPC kali ini. Gimana, oren masih cocok kan ya dengan kulit saya yang sawo matang? ;)

IMG_6257 Selamat berWPC temans. Selamat hari Kamis menjelang weekend. Pesan terakhir: jangan lupa bahagia :D

Turnamen Foto Perjalanan #57: Langit Biru

Huwoooo….temanya bikin gak kukuuu… Here is my sky…

2015/03/img_8579.jpg

Foto ini diambil pagi tadi (3 Maret 2015) sekira pukul 07:00 pagi saat berangkat kantor dari kawasan Prambanan, Sleman menggunakan iPhone 5 tanpa suntingan. Hamparan hijau menguningnya padi berpadu dengan biru langit pagi. Indahnya alam Indonesia. That’s why i love this country so deep.

Foto ini diikutsertakan pada Turnamen Foto Perjalanan 57 : Langit Biru

Nada untuk Asa: Positif Menghadapi Hidup

Pagi tadi seorang teman mengirim pesan lewat BBM: “di Jogja film Nada untuk Asa diputer ndak? Recommended, jeng. Bagus!”. Hmm…saya yang tidak rajin memerhatikan judul-judul film yang sedang tayang di sinema di Jogja pun langsung membuka laman 21cineplex. Oh ternyata diputar. Saya baca sekilas sinopsisnya di laman itu dan memutar trailernya. Lalu saya balas pesan teman saya: “OK, nanti aku nonton”.

~o0o~

Nada, diperankan oleh Marsha Timothy, dihadapkan pada kematian suaminya yang ternyata disebabkan oleh AIDS. Kehidupannya bertambah remuk saat hasil tes darah dirinya menyatakan ia positif HIV, juga pada bayinya, Asa. Menjalani kehidupan sebagai orang positif HIV tidaklah mudah. Penolakan dari keluarga, dari lingkungan, bahkan dari dirinya sendiri. Asa dewasa pun mengalami hal-hal yang menyakitkan karena dirinya positif. Tetapi Asa adalah gadis yang kuat, berani menghadapi hidup. “Orang-orang mungkin kagum dengan orang yang berani mati. Tetapi bagi kami orang-orang positif, butuh kekuatan untuk kami berani hidup!” begitu ucap Asa pada Wisnu (Darius Sinartria), laki-laki yang pernah menjadi pendamping orang-orang dengan HIV/AIDS, yang kemudian jatuh cinta pada Asa.

Film yang disutradari Charles Gozali dan dibintangi pemain-pemain berkelas seperti Marsha Timothy, Acha Septriasa, Mathias Mucus, Buthet Kertaraharja, Wulan Guritno, Irgi A. Fahrezi, dll ini dikemas dalam alur bolak-balik. Pemilihan setting dan properti yang pas membuat penonton mengikuti alur tersebut dengan smooth. Didukung musik yang diolah oleh Pongky Prasetyo menjadikan film bergenre drama ini menjadi apik untuk dinikmati.

Nada untuk Asa, dalam durasinya yang cukup singkat ini memberikan banyak pesan untuk kita, khususnya untuk saya pribadi. Bagaimana kita dibukakan pada kenyataan kehidupan para ODHA, menyentuh nurani saya tentang bagaimana saya musti memperlakukan para ODHA sebagai teman, sahabat, saudara. Mereka bukan ancaman, mereka adalah korban, di mana mereka pun berhak menjalani hidup seperti orang-orang tanpa HIV/AIDS. Begitu juga semangat para ODHA untuk melanjutkan hidup, berani menjalani hidup, membuat saya merasa betapa ringannya permasalahan hidup yang saya alami dibanding mereka. Melalui film ini juga kita kembali diingatkan tentang janji pernikahan: setia pada saat suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit. Dan yang tak kalah penting yang saya peroleh dari film ini adalah kekuatan pengampunan! Betapa Nada yang semestinya marah pada perempuan yang telah menularkan virus HIV di tubuh suaminya hingga akhirnya ia dan anaknya pun mengidap virus yang sama, memilih memaafkan perempuan itu, memaafkan perselingkuhan suaminya, berdamai dengan kenyataan dan menatap ke depan menghadapi kehidupan bagaimanapun juga.

Film ini tidak diputar pada bulan Desember, para peringatan hari AIDS sedunia, tetapi justru pada bulan Februari, bulan cinta. Menurut saya, ini memberikan persepsi baru, terutama bagi generasi muda, tentang bagaimana kita memaknai cinta. Cinta bukan hanya tentang kamu dan pasanganmu, tetapi juga dengan orang-orang di sekelilingmu, termasuk mereka para ODHA. Cinta bukan hanya tentang bahagia pada saat sehatnya, tetapi juga berjuang bersama pada saat sakitnya. Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton, baik untuk generasi muda maupun keluarga.

Terima kasih untuk Prima yang telah merekomendasikan film ini untuk saya tonton. Terima kasih untuk Nada, Asa, Wisnu, Bapak, keluarga Papa untuk segala pesan yang disampaikan melalui peran kalian di film ini. Terima kasih para ODHA untuk semangat yang kalian berikan untuk kami. Positif menjalani hidup!

81 tahun Bapak

Adalah syukur ketika masih bisa melihat senyum Bapak yang bahagia menyaksikan ulang video acara ulang tahunnya yang ke-80 tahun lalu. Seperti kembang api yang meletup-letup, mungkin begitulah yang beliau rasa ketika menonton video ulang tahun ke-80 pada saat usianya 81. Ya, 4 Februari lalu Bapak menambahkan lagi angka usianya menjadi 81. Puji Tuhan yang membuatnya terjadi.

Kami tak membuat pesta untuk ulang tahun Bapak kali ini, kami hanya berkumpul, bersyukur, berdoa, dan makan bersama di rumah. Semoga Bapak bahagia. Meski masih ada harapan Bapak yang belum terwujud, tetapi kami berdoa semoga Bapak tetap bahagia & semoga Tuhan segera mewujudkan, mengabulkan harapan Bapak itu. Amin.

2015/02/img_8103.jpg

2015/02/img_8173.png

2015/02/img_8159.jpg

2015/02/img_8152.jpg

Selamat ulang tahun, Pak… Semoga berlimpah sukacita, sehat, & bahagia. Tuhan memberkati…. #sungkem