Lihatlah dari sisi yang lain… (2)

Ini tentang menonton konser KLa Project saat paginya hujan abu mengguyur kota Jogja.

Info dari teman maupun baliho-baliho di pinggir jalan tentang rencana KLa Project mengadakan konser bertajuk “reinKLAnasi, Jogja reinviting love” pada Jumat, 14 Februari 2014 memang sudah ada sejak beberapa hari or minggu sebelumnya. Saya ikut forward-forward infonya juga, tapi memang belum memutuskan akan nonton atau tidak. Alasan utamanya simple sih: karna gak ada temannya #curcol . Sampai pada hari Kamis, 13/2 malam sekitar pukul 19, saya WA-an dengan teman yang ternyata sama-sama pengen nonton konser itu. Akhirnya keputusan nonton pun turun malam itu. Sekitar pukul 20:00 saya meluncur menuju salah satu tiket box paling dekat dengan rumah. Ada kejadian lucu-lucu gimanaaa gitu waktu beli tiket. Saya sudah masuk dan bilang mau beli tiket 2 lembar. Ee..ternyata uang cash di dompet saya tidak cukup untuk beli 2 tiket. Kebiasaan jarang bawa uang cash banyak karna biasanya bisa gesek. Ternyata di situ gk bisa gesek. Yah, akhirnya saya minta mereka nyiapin tiketnya dulu dan saya keluar cari ATM. Sudah sampai ATM ada kejadian lagi yang bikin lebih lucu-lucu gimana. Sudah saya tulis di FB, jadi ku-screenshot aja ya 🙂

screenshot

Hihi…begitulah cerita malam itu. Selesai dari ATM saya kembali ke tiket box dan mendapatkan dua tiket konser reinKLAnasi untuk esok hari.

20140226-132046.jpg

Pulang beli tiket, malam saya seperti penuh bunga. Membayangkan esok hari nonton konser KLA dengan seseorang itu. Iya, sengaja WA orang itu dan ngobrolin tentang konser KLA bukan tanpa tujuan, memang supaya dia ngajak nonton dan aku bisa melihat berbagai kemungkinan dengannya. Ini sengaja curhat, bukan curhat colongan. Hihihi…. Gimana hasilnya? Lanjutin aja bacanya. Hahaha….

Setelah malam penuh bunga itu, pukul 22:50 melihat status teman yang mendengar suara letusan, lalu menyalakan TV, dan menyaksikan letusan gunung Kelud dengan kilatan-kilatannya. Seketika bayangan tentang konser KLA lenyap, berganti kengerian yang mencekam. Malam itu tidur dengan lebih banyak doa.

Pagi harinya, 14 Februari 2014, seperti sudah kuceritakan sebelumnya, Jogja hujan abu tebal. Kantor diliburkan dan saya tidak keluar rumah seharian. Tidak ada pesan juga dari seseorang itu, kecuali pagi hari mengingatkan mengenakan mantel kalau berangkat kantor. Tapi setelahnya tidak ada pesan apa-apa. Saya juga disibukkan dengan bersih-bersih abu. Sampai sekitar pukul 15, ketika ingin rehat, barulah teringat tentang konser KLA. Ada perasaan masygul saat itu. Apa iya akan nonton konser di tengah kondisi yang seperti ini, di saat warga sekitar Kelud berjuang menyelamatkan diri dari erupsi, di tengah warga Jogja juga bergelut melawan abu di rumah dan di jalanan. Lalu kamu akan kentjan di saat seperti ini? Ah…hati saya gamang saat itu. Sudah ada 2 tiket di tangan, tetapi kondisinya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya 😦 .

Sambil rebahan, saya membuka WhatsApp salah satu grup. Seorang teman ada yang membahas tentang konser tersebut. Ternyata konser tetap diadakan, tetapi konsep acaranya sedikit bergeser, dari yang tadinya konser biasa menjadi konser peduli, di mana sebagian dana yang terkumpul akan disalurkan bagi korban bencana Kelud, Sinabung, dan banjir Manado. Puji Tuhan, artinya kami yang nonton bukan hanya bersenang-senang, tetapi juga sedikiiit berkontribusi membantu para korban. Saya sedikit lega, lalu mencoba mengingatkan seseorang itu dengan mengirim foto tiket yang saya dapat semalam. Balasan dia sama dengan kegamangan saya tadi: “jadi nonton? Rasanya lain ya nonton dalam suasana begini”. Saya tersenyum, mengerti sangat apa yang dia rasakan karna saya juga merasakan hal yang sama. Tapi ketika saya ceritakan bahwa konsernya untuk konser peduli, akhirnya dia memutuskan berangkat juga 🙂 .

Tepat waktu maghrib dia sampai di kontrakan. Tentu saja lengkap dengan masker dan mantel, minus kaca mata. Dia menjalankan kewajibannya dulu sementara saya siap-siap. Sekitar pukul 18:45 kami berangkat dari kontrakan. Itu jadi saat pertama saya keluar dari kontrakan seharian itu. Ternyata memang tebal sekali abunya. Di jalan-jalan masih kemebul tiap kali abu tergesek ban kendaraan. Untunglah kami sudah mengenakan mantel dan masker. Memang tidak hujan sih, tapi kan hujan abu. Hehe… Kami menunggu cukup lama di lokasi konser. Sambil foto-foto, ngobrol haha hihi, ketemu teman yang berpikiran sangat positif tentang kami. Hihi… Pukul 21 barulah Katon, Lilo, Adi dan tim tampil di panggung. Aaa.., saya berteriak, sementara dia kalem saja. Saya memang heboh kalo nonton konser. Nyanyi, teriak, lompat, gitu deh… Beberapa lagu dinyanyikan seperti Romansa, Tak Bisa ke Lain Hati, Terpurukku, Yogyakarta, Semoga, 2 lagu yang saya gak tau judulnya, ditutup dengan lagu Kembali. Sepertinya tidak banyak yang dinyanyikan KLA, karna tau-tah udah selesai aja konsernya. Haha…penonton konser selalu saja pengen nambah, padahal udah 1,5 jam juga mereka nyanyi non stop 🙂 . Saya tak banyak memotret, tapi sempat merekam 2 lagu: Tak Bisa ke Lain Hati dan Semoga. Karna lagunya syahdu, saya gk lompat-lompat, diam menghayati dan merekam 🙂 .

20140226-132114.jpg

Konser selesai, kami pulang. Saya bahagia. Lalu sadar bahwa hari itu adalah hari Valentine. Valentine kelabu, tetapi hatiku merah jambu.

Lalu bagaimana hasil kentjannya?

Esok harinya, masih bersuasana merah jambu, saya BBMan dengan teman, yang lalu bercerita bahwa dia bertemu seseorang yang nonton konser dengan saya itu bersama dengan pacarnya & bahkan dikenalkan padanya. Kejadian itu hanya berselang beberapa hari sebelum dia nonton konser dengan saya. Ya, begitulah hasilnya. Ternyata Valentine kelabu kemarin memang benar-benar kelabu. Hati yang sebelumnya sempat merah jambu mendadak tertutup hujan abu. Sepertinya cukup tebal, jadi kalau ada yang mau membersihkannya, harus bawa serokan dan berani berkeringat untuk menyerok dan menyiram sampai bersih sampai terlihat merah jambu lagi ^_^ . Hihihi…

Jadi begitu cerita saya tentang nonton konser KLa Project setelah hujan abu pagi harinya. Meski dalam kondisi yang tak sebaik yang dibayangkan, tetapi setidaknya malah ada manfaat yang diberikan selain bersenang-senang menonton konser, yaitu ikut membantu korban bencana di Indonesia, meski hanya keciiiil sekali jumlahnya. Meski hasil melihat berbagai kemungkinannya berbuah negatif, tetapi setidaknya menjadi tahu, ternyata hati ini masih kelabu perlu disapu, xixixi… Dan setelahnya pun tak ada yang berubah dari kami, karna saya hobby berteman, jadi semuanya masih seperti semula. Indah kan? 😉

ke+hilang+an

Aku kehilanganmu, bahkan ketika kita masih bersama.

Malam telah menggelap, menabur hujan seperti spora tertiup angin. Tidak deras, namun pasukan kecil itu bersepakat menyerbu bumi bersama-sama. Dan kita berdua tak takut akan serbuan mereka.

Aku menaiki jok belakang, pertanda akan duduk di belakangmu sepanjang perjalanan. Belum sampai roda berputar, hati ini merasa ngilu: akankah kualami lagi kebersamaan ini nanti? Mataku panas, namun aku berjuang menahan bulir embun dari ujungnya terjatuh. Aku tak mau menangis. Tidak. Kita harus menciptakan bahagia di kebersamaan ini.

Sepanjang perjalanan kita masih berbincang. Kamu bercerita. Aku menjawab dengan jawaban pendek saja. Supaya kamu tak tau suaraku mulai parau karna menahan ngilu di dada dan air mata di pelupuk mata. Kupandangi langit, memasukkan lagi air mata yang tergenang. Ragu-ragu tanganku menyentuhmu. Tidak kuberpegang di pinggangmu. Tidak kumasukkan kedua tanganku di saku jaketmu, seperti biasanya saat kita melaju di atas dua roda. Aku sibuk menghalau perih di hatiku. Dan aku tak mau kamu tau.

Kita berhenti di dekat perempatan. Memasuki toko kecil, membeli beberapa keperluan. Usai terbeli, kita keluar. Kembali kunaiki jok belakang. Dan ngilu itu kembali menelusup di relung hati. Sakit. Sakit sekali. Kamu bertanya kita akan ke mana. Dan kali ini aku tak mampu menjawabnya. Air mata yang kutahan sekuat daya, luluh juga tanpa bisa kutunda. Tak bisa kujawab pertanyaanmu dengan tangisku. Kamu tak tau apa yang terjadi denganku. Ya. Kamu tidak melakukan apapun yang menyakitiku. Wajar kamu tak tau makna air mataku.

Kita melaju pelan. Kamu tak banyak bertanya, hanya menuruti apa mauku. Aku merasa bersalah telah membuatmu bertanya-tanya, bahkan mungkin mencari-cari: apa salahku. Aku pun mencoba membuat kita tertawa, melumerkan kebekuan yang sempat melanda.

Malam itu. Dan aku menuliskannya kini, saat aku merasa telah kehilanganmu bahkan ketika kita sedang bersama.


Rabu, 09032011, 20.39

Lho, kok postingannya jadi kaya punya ~Ra sih? Hihihi…., sebenernya dulu juga sering nulis dan kasih soundtrack sih, cuma karna blog ~Ra bertajuk ‘menceritakan lagu & melagukan cerita’, jadilah di setiap tulisannya pasti ada lagunya :P. Ada yang belum kenal ~Ra? Masa sih? Saya justru banyak kenal teman-teman dari dia kok :D.

Kemarin beberapa waktu yang lalu ada teman saya di sini yang nyeletuk: “mbak, mbok tulisan mb yang di FB yang tentang perjalanan ke Jepang itu diupload di blog. Siapa tahu ada yang kaya aku mau ke Jepang kan bisa baca pengalamannya mb. Kalau di blog kan bisa dibaca semua orang.”. Hihi…tahun lalu waktu dia mau ke sini dan tanya ini itu, memang trus saya suruh baca note saya itu, karna kebetulan satu program. Lalu bulan Oktober lalu waktu ada yang mau datang lagi dan nanya ke saya lagi, saya kasih link note itu lagi. Dan kata mereka -yang sama2 baru pertama kali ke luar negeri sendiri- pengalaman yang saya tulis itu bikin mereka percaya diri buat berangkat ke Jepang sendiri :D. Kalau ada yang tanya: kenapa dulu gak di-upload di blog? Karna dulu blog ini mau saya hapus!! Hehehe……

Nah, berhubung sekarang saya sedang counting down untuk pulang, boleh deh sekali-sekali saya selipkan tulisan saya tentang Jepang yang sudah saya upload di FB ke sini. Flashback buat saya sendiri sih, sekalian count down. Btw, kenapa sekarang jadi merasa sedih mau ninggalin Jepang yaa.. Padahal awal berangkat dulu punya slogan: jarak ribuan mil itu dekat dan dua tahun itu cepat. Ini sekarang jadi kerasa cepaaaaat sekali. Huhuhu….

Baiklah, hari ini nulis ini dulu. O iya, kata BunAff, gaya ngeblog saya sekarang beda, katanya kaya penyiar. Halah…apa iya? Xixixi…perasaan sama aja. Bagaimanapun, yang penting jujur, gak SARA, gak nipu (lagi hits nih 😛 ), & bisa diterima teman-teman semua ya.. Amin.

Selamat malam semua. Salam dari saya,
Titik

All by His grace..

Jika aku bisa melalui ‘gunung’ ini, itu bukan karna kekuatanku, tetapi semata-mata karna anugerah-Nya. Karna Ia berjalan di sampingku dan menggendongku ketika aku lemah. Juga Ia anugerahkan penolong-penolong di sekelilingku yang memberikan bantuan, semangat, dan dukungan di waktu baikku maupun saat-saat beratku. Terima kasih kuucapkan. Semoga Tuhan memberkatimu. Amin. (bungkukin badan ke depan, kanan, & kiri)

2 February 2013. Puji Tuhan hari ini berjalan dengan sangat baik. Semua pasti karna doa teman-teman semua. Apa? Ada yang gak doakan? Kan kemarin sudah kuminta doakan. Xixixi…minta doa kok maksa :P. Meski lupa mendoakan, tapi support teman-teman melalui komen atau like ataupun kunjungan di blog ini pun jadi semangat buat saya untuk menjalani hari ini. Terima kasih ya teman 🙂

Seperti saya ceritakan kemarin, kemarin saya mencoba merilekskan diri dengan pulang lab gasik lalu makan di warung sushi. Sepulang dari makan sushi lalu leyeh-leyeh di kamar, berharap bisa tidur gasik. Tapi bagaimana kenyataannya?! Ternyata, saya baru bisa tidur jam 3!! Rrrr….mungkin benar, resah dan gelisah bisa bikin tak enak makan dan tak enak tidur. E tapi pas makan sushi itu tetap enak kok :mrgreen:. Jadi akhirnya saya malah merangkai bunga, nyetrika baju yang mau dipakai buat hari ini dari atas sampai bawah, dari luar sampai dalam, meskipun sebenernya udah seterikaan. :D. Akhirnya tidur juga sekitar pukul 3 pagi itu.

bunga momo yang mirip sakura

bunga momo yang mirip sakura

Tadi pagi, saya bangun pukul 9!! 😀 Waktu keluar kamar mau mandi, eh..ada yang gantungin makanan di pintu. Ternyata, dari teman Taiwan di lantai 4, ada post it-nya ditempel di plastik, katanya ini buat sarapan yang mau ujian dan tak lupa ucapan ‘ganbatte’-nya. Haduh, baiknya anak ini, tau aja kalau saya gak bakalan sempat bikin sarapan. Terima kasih ya Tuhan, sudah berikan teman-teman yang sangat baik. Saya masukkan makanannya lalu saya pergi mandi. Selesai semua, saya ke kampus bawa makanan dari teman tadi. Masih pukul 10:30 sih, tapi namanya juga cemas ya bo’, jadi lebih awal lebih baik,, hehe… Sampai kampus sudah ada teman saya di sana. Sudah rapi jali dengan jas dan dasinya. Hihi… Semua terlihat ganteng dan cantik hari ini. Saya lalu buka laptop, sarapan, dan latihan presentasi (lagi). Eh, dari tadi moler-moler cerita saya belum bilang ya kalau hari ini saya mengikuti oral examination untuk tesis saya. Mungkin tidak se-‘mengerikan’ seperti di Indonesia, karena oral exam-nya bersamaan dengan teman-teman 1 jurusan (7 orang). Waktu ujiannya pun tidak lama, hanya 25 menit dengan rincian 15 menit presentasi dan 10 menit tanya jawab. Tapi yang namanya ‘ujian’ itu tetap saja ‘sesuatu’ :D.

ready for today!!
#kalo diliat dari posisi tangannya sih, anak ini rada cemas 😛
*caption persis di FB 😀

Oral exam dimulai pukul 13:00 JST. Presenter pertama sampai ketiga adalah mahasiswa reguler dari Jepang dan China yang sejurusan dengan saya. Kemudian dilanjutkan kami berempat, mahasiswa dengan beasiswa dari JICA. Saya mendapat urutan kelima. Setelah rekan dari China selesai presentasi, dilanjutkan dengan kami dari JICA. File kami berempat sudah ditaruh di laptop saya. Bukan mau beda-bedakan dengan yang dari Jepang atau China ya, tapi karna mereka lebih prefer menggunakan laptop mereka sendiri karna bahasanya menggunakan bahasa Jepang/China. O iya, mereka bertiga presentasi dan tanya jawab dalam bahasa Jepang, sedang kami berempat dalam bahasa Inggris. Nah, ada kejadian lucu nih waktu saya ngeset laptop untuk presentasi kami berempat. Karna kami berempat disponsori JICA, jadi pihak JICA datang menghadiri oral exam kami. Tapi memang diatur supaya datangnya pas presentasi kami saja tidak ikut presentasi rekan kami bertiga tadi, jadi diundang pukul 14:30 JST. Nah, waktu saya ngeset itu masih pukul 14:18, jadi masih ada 12 menit & pihak JICA pun belum datang. Akhirnya pemimpin sidang memutuskan untuk break dulu 10 menit. Dan saya yang lagi ngeset laptop pun spontan merespon: “hai!! Arigatou, Sensei” yang langsung disambut tawa seisi ruangan. Hahh?? Kenapa pada ketawa? Dan saya baru sadar, ternyata saya bersemangat sekali untuk break saking nervous-nya. Wkwkwkwk……

Setelah presentasi dan tanya jawab oleh rekan saya dari Fiji, akhirnya pukul 15:05 JST (13:05 WIB) giliran saya yang presentasi.

Puji Tuhan, semua lancar. Pertanyaan yang diajukan sensei bisa saya jawab dengan baik. Kebetulan saya sudah feeling kalau yang itu akan ditanyakan, meskipun cuma 1 yang sesuai feeling, sedang yang lain, jauh bo’. Hahaha…. Tapi puji Tuhan, Tuhan pimpin lidahku untuk menjawab.

inilah wajah super lega :D

inilah wajah super lega 😀
(perasaan saya pakai bando untuk nyibakkan rambut deh, ini kenapa rambutnya jadi kemana-mana? Hihihi…..)

Puji nama Tuhan yang kasihnya tak berkesudahan. Semua yang terjadi di dalam hidupku hanyalah oleh kehendakNya, oleh kasih karuniaNya. Puji nama-Mu, Puji Hu di setiap waktu. Terima kasih juga untuk semua professor yang selalu menyuport kami selama 2 tahun ini, terutama untuk supervisor saya Prof. Chikamori. Terima kasih untuk teman-teman seperjuangan di sini untuk sharing segala hal selama di sini. Terima kasih untuk teman-teman di situ, di sana, di mana-mana yang senantiasa menjadi semangat untukku. Terima kasih yaa…… Dan tak lupa, terima kasih untuk keluarga di rumah, terutama untuk ayahanda tercinta, atas cinta dan doa yang tak pernah putus pada ananda. Kupersembahkan ini semua untukmu, Pak. I love you :-*

/

Titik

Pergilah seperti uap, karna kutahu, kau akan kembali sebagai hujan…

(Rio Anggoro)

Dancing_in_The_Rain_by_AnkyShpanky

D. Rio Anggoro adalah teman saya sejak SMP.
Pernah 1 kelas selama 3 tahun di SMP. Naik ke SMA, kami 1 SMA lagi.
Berbeda nasib setelah kuliah. Dia ke Farmasi Sanata Dharma, saya ke kampus di sebelahnya.
Sekarang menjadi Overseas Business Manager di PT. Dexa Medica.
Sementara berkantor di Lagos, Nigeria.
Orangnya tipe planning, segalanya harus well preparedPerfectionist.
Ngakunya tidak pandai berimajinasi. Tapi sekali menulis, saya langsung jatuh hati.
Ini tulisan satu-satunya yang saya temukan di note FB dia. Saya jatuh cinta pada kata-kata yang diraciknya.
Sayang saya tak pandai membaca puisi. Jadi maaf, jika terdengar seperti orang bergumam. Tanpa emosi.
Semoga masih bisa dinikmati. 🙂

O iya, satu info lagi tentang Rio: dia sudah punya pacar. Sayang ya…. :mrgreen:

Selamat hari Jumat, teman-teman. Apakah di situ hujan? Mari menari di bawah hujan…. 🙂

/

Salam,
~Tt

Intermezzo II

20120730-231948.jpg

Mungkin kita butuh waktu untuk menepi, sama2 pergi, utk menguji hati, dan mengerti rasa kehilangan.

Baiklah, mari menepi, sama2 pergi, utk menguji hati, dan mengerti rasa kehilangan…

hari kesembilan belas….belasan rindu reras terlepas….lalu menguap menggumpal awan………….tertahan……..
bilakah bisa kurinaikan hujan?

namun kini, semua tak lagi sama 🙂
biar saja rindunya tertahan, biar saja tetap tergantung di awan-awan.. Usah menunggu waktu tuk rinaikan.. Usah katakan.. Biar jadi rahasiamu dan awan, ada rindu yang lelah tersimpan…

Bangun! Bangun dari mimpi dan pergi! Hapus jejak-jejak yang ragu-ragu, yang berikan kepastian bahwa segalanya tidak pasti…

Simpan rinai rindumu dengan sabar… Ada kemarau yang menunggu gerimis lucumu…

Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.

Thanks for waking me up this morning from my long long sleep. GBU!

.:tt:.

11 Januari

11 Januari bertemu
menjalani kisah cinta ini..
Naluri berkata: engkaulah milikku…

Kenal gak sama lirik lagu itu? Kenal donk. Itu lagunya band Gigi tahun 2008 lalu. Lagu untuk ‘mengingat’ hari pernikahan Armand dan Dewi Gita. Katanya Arman suka lupa tanggal pernikahan mereka. Biasa ya..cowok memang gitu 😛 . Makanya dia bikin lagu yang berjudul 11 Januari supaya jadi ingat terus :D.

Pasangan Armand Maulana dan Dewi Gita adalah salah satu pasangan artis yang sepi gosip. Tidak pernah terdengar kabar yang tidak sedap dari mereka. Romantis-romantis saja kelihatannya. Apa mereka tidak pernah ada masalah? Ya, mustahil lah kalau dalam rumah tangga tidak ada masalah. Tapi Arman punya kiat sendiri untuk menyelesaikan masalah: selesaikan hari itu juga. Saya suka sama prinsip ini. Kalau bisa sebelum tidur malam, masalah yang terjadi hari ini sudah selesai dulu. Satu lagi yang saya suka dari pernyataan Arman, yaitu bahwa rumah (keluarga) itu adalah tempat untuk pulang. Di pekerjaan kita sering memiliki masalah, jangan sampai ketika kita pulang kita punya masalah lagi. Nikmatilah kehidupan keluarga di rumah.

Mereka berdua ini menikah di usia yang sangat muda, 22 tahun dan 23 tahun. Tapi kalau melihat sudah 19 tahun mereka menikah dan masih selalu romantis, saya rasa cinta mereka telah bertumbuh menjadi cinta yang dewasa meski usia mereka belia.

Yah, semoga saja suami saya kelak seperti Armand Maulana :mrgreen:

Happy 19th wedding anniversary Armand Maulana-Dewi Gita… 🙂

Salam,

~Tt

Tentang Cinta yang Bertumbuh

Malam minggu ngomongin cinta. Pas banget kan? Hihi… Lagi pada malam mingguan sama siapa? Sama pacar? Sama pasangan sah? Sama keluarga? Atau sendiri? Gak masalah mau sama siapapun, yang penting ada cinta dan suka cita di hati. Setuju? Setuju donk. Setuju ya. Ngomongin cinta nih, kamu percaya gak sih kalau cinta itu bertumbuh? Cinta berubah seiring waktu? Kalau setelah menikah, cinta yang indah-indah saat pacaran, bisa jadi berubah? Percaya? Saya percaya.

Dua tahun lalu, ibu dua anak yang keren habis bernama Erry Andriyati  -seleb blog yang dengan perjuangannya (bukan karna keberuntungan semata) berhasil memenangkan kontes menulis di blog berhadiah tour ke Korea- pernah menuliskan kisahnya tentang cinta yang bertumbuh ini. Dia menyebutnya cinta yang berubah, tapi saya lebih suka menyebut cinta yang bertumbuh, karna cinta yang Teh Erry ceritakan adalah cinta yang sepertinya melemah, tapi ternyata justru menguat. Sudah lama saya melupakan postingan Teh Erry itu, lalu saat beberapa waktu lalu saya baca lagi, saya nangis bo’.. (nangis kok bangga! Xixi…). Di sana diceritakan tentang betapa berbedanya hubungan saat pacaran dengan saat menikah. Waktu pacaran, saat jalan saling bergandeng tangan. Tapi setelah nikah, si Abah (suami Teh Erry) sibuk memegangi Fathir sementara Teh Erry sibuk menjaga Kayla. Atau materi telepon yang berbeda saat pacaran dan setelah menikah. Dari yang obrolan ke mana-mana yang penting mesra, menjadi obrolan tentang jadwal bayar listrik dan kawan-kawannya. Semuanya berubah. Tidak lagi cinta yang menggebu-gebu, tapi menjadi cinta yang NYAMAN.

Karena cinta yang “always sparkling” atau menggelora dan menggebu gebu itu sangat melelahkan…dan semua rasa cemburu itu akan terasa menyesakkan dada…

Gue butuh cinta yang nyaman…Karena pernikahan berlaku seumur hidup…dan seumur hidup itu lama sekali lho…hihihi

Dari sini saya mulai nangis. Haha… Kenapa? Karna inget temen-temen yang bermasalah dalam pernikahannya dan hampir menyerah  itu. Dan saya ingat lagi bahwa pernikahan itu berlaku seumur hidup. Lalu teh Erry dengan caranya yang tidak menggurui tapi mengena, memberikan ‘tips’ menjaga dan menumbuhkan cinta yang menggebu menjadi cinta yang nyaman & bertanggung jawab. Seperti, tetap mencium tangan Abah sebelum berangkat & sepulang kerja meskipun lagi marahan. Mengingat kejadian-kejadian ‘pedih’ yang telah bisa dilalui bersama. Saat Kayla muntah-muntah, Teh Erry panik dan Abah tetap tenang dan menenangkan Teh Erry, saat listrik mati dan mereka berempat tidur bareng di depan TV, saat duit habis dan tidak bisa mengambil uang di ATM, dst. Kejadian-kejadian ‘pedih’ yang ternyata bisa mendekatkan hubungan kita dengan pasangan kita. Cara Teh Erry bercerita sanggup membuat saya membayangkan kejadian saat itu, membuat hati ikut haru, sekaligus merasakan keromantisan yang mengalir natural. Itu memang kelebihan Teh Erry, menulis dengan ringan, mengalir, tapi membuat pembaca tidak mau berhenti membaca sebelum tulisan itu berakhir. Bahkan kadang-kadang tercengang: lho kok udah selesai? Dan setelah di-scroll naik, ternyata postingannya panjang. Haha….

Saya terkesan dengan tulisan itu, karna Teh Erry dengan caranya telah memberi bekal buat saya (dan teman-teman yang belum menikah) untuk siap-siap bahwa setelah menikah nanti, cinta kita atau pasangan kita bisa, bahkan harus berubah dan perubahan itu baik adanya. Cinta yang menggebu menjadi cinta yang bertanggung jawab.

Teh, aku bakal inget-inget tulisan Teh Erry itu kelak kalau aku menikah. Aku mau belajar mencintai dengan dinamis, berubah dan bertumbuh menjadi cinta yang nyaman dan bertanggung jawab. Terima kasih banyak atas tulisan keren itu ya Teh… 🙂 :kecup:

~Tt

Tulisan ini diikutkan pada Bibi Titi Teliti’s Korean Giveaway!