Idul Adha & Gas 3kg

Kemarin dan hari ini, teman-teman muslim merayakan hari Raya Idul Adha. Kenapa dua kali? Ah, sy tidak ingin membahasnya karna itu bukan wilayah sy. Namun kantor memberlakukan libur Idul Adha sesuai kalender dari pemerintah yaitu pada hri Rabu, 17 November 2010. Meski begitu, untuk teman-teman yang menjalankan sholat Ied di hari Selasa diberi kelonggaran untuk menjalankan sholat Ied terlebih dahulu dan masuk kantor pada pukul 10.00. Senin malam terdengar takbir berkumandang, begitu pula Selasa malam. Dan pagi tadi, masjid depan kost menyelenggarakan sholat Ied dan pemotongan hewan korban. Sy hanya mendengar, tidak berani menengok apalagi menyaksikan. Gk tega.

Selamat Idul Adha bagi teman-teman yang merayakannya. Semoga kita semua dapat meneladani ketaatan nabi Abraham/Ibrahim. Amin.

Di hari raya korban ini, biasanya kost pun dapat kiriman daging dari masjid. Biasanya kami masak bersama dengan anak-anak kost. Tapi kali ini sy sendirian di kost. Anak-anak libur kuliahnya karena merapi. Dan lagi, gas 3 kg di dapur habis. Hoho… Pagi tadi, sy muter-muter nyari gas 3kg, bagaimanapun juga sy GR kalo bakal dapat daging sore nanti :mrgreen: . Tapi ternyata, setelah muter-muter ke mana-mana, setiap warung yang memajang tabung ijo, selalu mengatakan ‘kosong mbak’. Loh? Gimana ini. Sampai dua puluhan warung mungkin yang sy datangi dan semua berkata hal yg sama.  Bukannya pemerintah sudah mencanangkan gerakan konversi minyak ke gas ya? Persediaan minyak tanah di pasaran juga sudah sangat minim dan kalaupun ada, mahaaaal. Kenapa sekarang gas 3 kg juga ikut2an langka di pasaran? Bagaimana dengan mereka yang kurang mampu yang sudah mengandalkan gas 3 kg pemberian pemerintah untuk masak sehari-hari. Kalau langka begini mereka masak pake apa??? *pengen protes rasanya*

Tolong donk Pem (pemerintah-pen), diperhatikan itu ketersediaan gas di pasaran. Kasihan kan kami-kami yang sudah terlanjur mengandalkan gas 3 kg untuk kebutuhan kompor sehari-hari. Kasihan kan saya, jadi gk bisa masak daging hari ini… 😦 .

#sudah ditelpon ibu kost kalo dapat kiriman daging. Betul kan keGRan sy :D. Tapi sama aja, gk bisa masaknya 😦

 

warnet, 17 nov 2010

Membiasakan Terimakasih

Entah, ini kebiasaan baik atau buruk, yang jelas saya susah mengubahnya.

Akibat dari punya banyak kakak adalah sy jadi punya banyak ponakan dan silih berganti. Satu beranjak gedhe, lahir lagi yang kecil, begitu seterusnya, sy tidak pernah tidak punya ponakan balita :D. Membelajarkan sopan-santun pun menjadi kebiasaan yang berlanjut. Membelajarkan bagaimana meminta dengan sopan, bagaimana mengucapkan terimakasih setelah menerima sesuatu, dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya seringkali cara-cara itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat bertemu anak-anak jalanan.

Setiap kali bertemu dengan anak-anak jalanan, yang menadahkan tangan meminta sedikit rejeki kita, hati sy sering kali gamang. Jika diberi uang, maka kita sama artinya melanggengkan praktek mengemis, dan mempekerjakan anak-anak tapi jika tidak diberi kasihan juga mereka :(. Seringkali yang sy lakukan adalah memberi makanan, bukan uang. Jika kebetulan sy tidak membawa makanan, dengan berat hati sy minta maaf. 😦 sedih rasanya. Kalau menurut teman-teman, gimana si baiknya?

Nah, kebiasaan sy jika bertemu dengan anak-anak jalanan itu adalah bertanya: “kamu sekolah ndak?“. Kebanyakan mereka akan menjawab iya. Lalu setelah memberikan makanan pada mereka, mereka akan mengucapkan “Terimakasih” dan sy tersenyum sambil bilang: “sekolahnya yang rajin ya” lalu dia pergi. Entah kenapa sy selalu mengucapkan itu, udah ky template aja. Sy rasa mereka berhak mengenyam pendidikan meskipun mereka ‘harus/terpaksa’ bekerja. Dan kebiasaan sy yang lain (yang entah baik entah buruk) adalah ketika sy memberi sesuatu kepada anak2 itu dan mereka ‘lupa’ bilang terimakasih, maka sy akan bertanya: “matur pripun?“/”bilang apa?” (sambil senyum tentunya) dan mereka akan menjawab maturnuwun atau terimakasih. Sy bukan gila hormat atau butuh dihargai dengan bertanya seperti itu. Hal itu semata-mata karna kebiasaan membelajarkan mengucapkan terimakasih pada ponakan2 sy.

Semoga anak2 itu tidak menganggap sy sombong ya…. 😦

 

Kehamilan Minggu ke-35

Wah, anakku mesak’ke. Tekan saiki BB’ne baru 2,1 kg. Masih kecil banget. Padahal dah gak sampe 4 minggu lagi. Lha nek bsk lair msh di bwh 2,5 kan hrs msk inkubator 😦

===

Translate:

Wah, anakku kasihan. Sampai sekarang BB’nya baru 2,1 kg. Masih kecil banget. Padahal dh gak sampe 4 minggu lagi. Kalau besok lahir masih di bawah 2,5 kan harus masuk inkubator 😦

Begitu  bunyi sms yg sy baca pagi tadi. Sy yakin dia yg mengirim sms di sana sedang sedih dan khawatir. Sy tanya usia kehamilannya, dan dia menjawab: 35 minggu. Oke, tunggu sebentar, syg. Sy buka primbon, yaitu newsleter dari Ayahbunda.co.id. Sy ambil bagian ‘Kehamilanku Minggu Ke-35’.

Begini bunyinya:

Kondisi ‘Adik’ di minggu ke-35:

Sekarang panjang janin sekitar 33 cm, sedang panjang badan sebenarnya sekitar 45 cm. Berat tubuhnya berkisar antara 2 – 2,5 kg.

Kukirimkan ke pengirim sms hasil contekanku tadi.

“Normal, say. Tenang aja.” kataku.

Semoga si adik terus tumbuh dengan normal hingga saat kelahirannya nanti menjadi kebahagiaan untuk keluarga ya Say. Amin.

Ternyata berguna juga ya berlangganan newsletter dari Ayahbunda. 🙂

 

Purworejo pun kelabu…

Jumat, 5 November 2010

Tengah malam suara gemuruh terdengar keras. Sy dan anak kost memantau dari streaming radio maupun televisi. Merapi kembali meradang. Jl. Kaliurang ramai pengungsi. Kost kami tidak tepat di pinggir jalan, tapi agak ke dalam shg kami tidak tau betul apa yg terjadi di Jl. Kaliurang, kecuali memantau dari streaming radio (yg kemasukan jammer tdk beradab) maupun televisi. Pukul 01.00 masjid depan kost mengumumkan bahwa radius wilayah bahaya diperluas dari 15km dari puncak merapi menjadi 20km dari puncak merapi. Seluruh warga diminta siap siaga di rumah. Kami semakin siaga, meskipun sebelumnya kami sudah mengetahui dari siaran televisi. Suara ambulance terdengar melewati jalan dekat kost. Mungkin Jakal ramai pengungsi sehingga ambulance dialihkan melalui jalan dalam. SMS dan telpon datang dari teman2, juga dari keluarga di rumah (Purworejo). Sy menjawab dengan penuh ketenangan, berharap mereka tidak mengalami kepanikan. Ketika keluarga menanyakan jarak kost dari puncak merapi, sy jawab 27km sehingga masih 7km dr radius terluar wilayah bahaya. Belakangan sy ketahui, ternyata kost sy ada di km ke 22 dari puncak merapi, atau 2 km dr wilayah terluar radius bahaya.

2 km dr garis biru, 2 km dr p4tk matematika adl kost sy

Tak berapa lama genteng pun bersuara tik tak tik tak. Anak kost (yg kebetulan mmg panikan) langsung bilang: “mbak, kerikil”. Sy coba menadahkan tangan dan menangkap butiran-butiran pasir di telapak tangan sy. “Hujan pasir” kataku. Keluarga di rumah kembali menelepon. Sy bilang: “di sini gk kenapa2 Pak, Bapak sare aja, nggak kenapa2 kok”. Ternyata sy salah, Bapak mengabarkan kalo Purworejo hujan pasir. Duh, gantian sy yg khawatir. Malam itu sy tidak bisa tidur, sampai pagi.

Jumat pagi pkl.06.30 sy menelepon Bapak, menanyakan keadaan rumah. Tak diduga, ternyata keadaan rumah masih gelap, seperti pkl.4 pagi, hujan abu sangat lebat, ketebalan abu pada pkl.06.30 itu sudah 1 cm. Duh Gusti….lindungilah Bapak.

Sy ke kantor lengkap dengan masker, mantel, dan kerudung. Hujan abu masih turun. Sampai kantor semua pegawai mengenakan masker. Pukul 09.00 sy kembali menelepon Bapak. Bapak mengabarkan keadaan rumah yang porak poranda. Abu masih turun. Ketebalannya semakin bertambah, sudah 2-3cm. Pohon-pohon pisang di depan rumah tumbang, pohon mangga, pohon rambutan depan rumah semplak dahan-dahannya. Pohon nangka milik tetangga samping rumah semplak dan roboh ke halaman rumah. Pohon nangka milik sendiri di pinggir jalan juga semplak dahannya. Pohon sukun di belakang rumah semplak dan roboh ke jalan setapak di belakang rumah. Situasi masih gelap, listrik pun padam. Ya Tuhan….. Sy tidak tenang membayangkan keadaan rumah. Di sini, di Jogja, Jakal Km.6 ‘hanya‘ hujan abu, itupun tidak sampai setebal 1cm.

Dengan kondisi Gunung Merapi yang tidak menentu ini, lembaga mengambil kebijakan untuk menutup lebih awal semua kegiatan diklat yang sedang diselenggarakan di kantor. Peserta dipulangkan lebih cepat demi menjaga keselamatan mereka & ketenangan keluarga mereka.

Pukul 18.00 sy baru pulang dari kantor. Teman-teman menyarankan pada sy untuk mengungsi saja. Sy sendiri juga sudah tidak sronto ingin mengetahui bagaimana keadaan Bapak & kondisi rumah. Malam itu juga sy mengemasi dokumen2 penting sy dan sy pulang. Pukul 19.00 sy berangkat. Di perjalanan, ngantuk luar biasa, maklum tadi pagi tidak tidur. Berkali-kali sy terkaget karna tiba-tiba sudah begitu dekat dengan pantat truk atau mobil, bahkan sempat sekali terbangun sudah berada di jalur kanan. Pj Tuhan, masih dalam lindunganNya….

Memasuki Purworejo, sy melihat sisa2 abu di pinggir jalan. Gerimis malam itu. Sampai Bagelen jalanan mulai berlumpur tipis. Semakin ke utara semakin tebal abunya. Memasuki kota, lumpur abu luar biasa. Sy tidak bisa melajukan motor sy lebih dari kecepatan 20km/jam. Sy hanya berani jalan 10km/jam, itupun terpleset berkali-kali, pj Tuhan tidak sampai terjatuh. Di alun-alun atau pusat kota purworejo, lumpur abu bertambah tebal. Harus ekstra hati-hati.

Sampai di rumah, sy menghela nafas lega. Pj Tuhan sampai rumah juga. Pukul.22.00. Bapak menunggu di teras. Sy geleng-geleng kepala melihat depan rumah tidak karuan. Sy geleng-geleng kepala mengingat jalanan berlumpur yg sy lewati. Luar biasa….. Listrik malam itu padam. Sy dan bapak bercerita peristiwa malam tadi hingga malam ini. Tuhan memang luar biasa…

Sabtu, 6 November 2010

Pagi hari bangun dari tidur, sy segera melihat keluar. Semalam gelap, tidak begitu jelas kondisi di luar. Subhanallah…. Abunya tebal, pohon-pohon tumbang & semplak. Jalanan licin karna abu bercampur gerimis semalam.

Pj Tuhan listrik di rumah sy sudah hidup. Listrik tetangga samping rumah masih padam. Juga listrik di tempat kakak yg beda kecamatan dgn sy pun masih padam. Jadilah pagi itu tetangga menumpang mengisi daya baterai di rumah. Kakak dan keluarga datang menumpang mandi dan charge hp. Tak lupa bercerita pengalaman berkendara dalam lumpur. Kakak terjatuh 2x naik motor. Ponakan mobilnya tiba-tiba mleset ke kanan. Wah..macam-macam kejadiannya. Kami mensyukurinya, karna hal seperti itu entah kapan lagi akan dialami.

Siangnya kita kerjabakti membersihkan abu yg menyelimuti lantai rumah sampai ke dalam-dalam. Membereskan pohon2 yang semplak.

Sy lampirkan foto-foto kondisi rumah sy di Purworejo berikut.

kondisi depan rumah

pohon pisang, pohon rambutan, & pohon nangka yg 'semplak'

pohon mangga, semplak

jalanan di depan rumah, licin

Sy tambahkan 1 foto lagi. Ini bukan foto kondisi rumah, tapi ini foto salah satu tempat di kantor. Tebaklah ini tempat apa? Yg jelas, tempat ini adalah salah satu tempat pelepasan sy dari penat pekerjaan di kantor.

tempat refreshing kini tertutup abu

Sy berharap, sungguh sy memohon semua ini segera berakhir. Ketegangan, kecemasan setiap kali mendengar suara gemuruh, dll, segeralah berlalu. Semoga mereka yg di pengungsian tetap bersabar dengan keadaan ini. Semakin dikuatkan dalam kelemahan. Doanya teman-teman…..

#8November2010

Pray and Action for Indonesia

Pray for Indonesia

Indonesia berduka. Indonesia menangis. Bencana di mana-mana. Bumi bergoyang, laut bergelombang, perut bumi memuntahkan isinya. Mari berdoa bagi Indonesia. Bawa Indonesia dalam setiap doamu. Mohon Tuhan ampuni Indonesia, mohon Tuhan pulihkan Indonesia. Telinga Tuhan tak kurang tajam untuk mendengar, tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menolong. Tuhan pasti menolong…..

Teman, mari kita sama berdoa, dan mari kita sama-sama bertindak bagi saudara-saudara kita. Mereka membutuhkan pertolongan kita. Salurkan bantuan kita. Apaaaa saja, sekecil apapun, pasti berguna bagi mereka.

Anak-anak butuh susu & baju, perempuan2, para lanjut usia, para korban, mereka butuh obat-obatan, pakaian, makanan. Salurkan kepedulian melalui kantong-kantong amal yang banyak tersedia di mana-mana.

Tak perlu bawa bendera partai, kelompok, organisasi, perusahaan untuk membantu saudara kita. Janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diberikan tangan kananmu. Tuhanlah yang menolong. Biarlah hanya nama Tuhan yang dimuliakan, bukan partaimu, bukan organisasimu, bukan kelompokmu, bukan juga dirimu.

MARI BERDOA BAGI INDONESIA

MARI BERTINDAK BAGI INDONESIA

Salam,

tt