Pengalaman pertama dgn ASKES

Selamat hari Jumat,

Kemarin pagi ketika bangun tidur, sy mendapati suara sy hilang entah ke mana. Ya, malamnya memang sy batuk hebat dan tidak bisa tidur nyenyak karna bolak-balik terbangun untuk mengeluarkan dahak yang masih sedikit itu. Sudah beberapa hari sebenarnya. Sy obati dengan obat yang dijual di koperasi kantor, tapi belum sembuh juga. Lalu mencoba jeruk nipis+kecap. Tapi belum lama sy meminum obat herbal itu, suara sy sudah menghilang. Akhirnya sy putuskan untuk minta obat dokter.

Kamis pagi sy pamit dari kantor untuk periksa ‘sebentar’ ke puskesmas. Ini adalah kali pertama sy ke puskesmas di Jogja ini. Ya, selama hampir 10 tahun sy tinggal di Jogja, sy belum pernah ke puskesmas. Puji Tuhan sy termasuk jarang sakit. Kalaupun sakit paling batuk, pilek, dan demam, yang sehari atau beberapa hari saja sudah sembuh. Sakit yang bagi sy lumayan adl 3th yll, yaitu radang tenggorokan. Itu juga sy tidak ke puskesmas, tapi ke RS di rumah sana. Nah, ternyata puskesmas yang sy tuju lokasinya nylempit. Sy kesasar-sasar tidak menemukannya. Setelah bertanya pada juru kunci, akhirnya ketemu juga itu puskesmas. Ternyata plang petunjuknya ketutup sama plang In**mart (perlu ditertibkan nih!). Berhubung sy belum pernah ke puskesmas jadi sy celingak celinguk. Mana sy gk bisa ngomong pula, jadi mau tanya juga susah. Waktu ke pendaftaran, petugas meminta KTP. Sy serahkan ktp lalu menunggu panggilan. Beberapa waktu kemudian dipanggilah sy. Sy membayar biaya pendaftaran lalu duduk lagi menunggu panggilan ruang pemeriksaan. Sy baca-baca kartu periksa sy yang ‘baru’. Ada tertulis pasien umum/askes. Dan sy dimasukkan kategori pasien umum. Hey! Sy kan punya askes (meskipun sy belum daftar, tapi trnyta udah kedaftar). Sy balik lagi ke bagian pendaftaran menyerahkan kartu askes. Mbak di pendaftaran agak sebel juga: “waaaaah, lha kok baru dikasihkan sekarang to mb???” Sy jawab dgn isyarat bibir: “ndak tauu.” Mbaknya yang tadi mau ngomel jadi luluh dan mungkin geli karna sy gk bisa ngomong. Dia akhirnya bercanda-canda, membetulkan kartu periksa sy, memberi informasi untuk menyerahkan kartu askes di awal mendaftar, lalu memberikan uang pendaftaran yang tadi sudah sy bayarkan. Dalam hati: “ooo….kalo pake askes gk bayar pendaftaran ya?”. Sy pun dipanggil ke ruang periksa. Ditanya ini itu dan dijawab dengan anggukan, gelengan, atau isyarat bibir dengan suara yang keluar hanya sepotong-sepotong, pak dokter memberi resep. Sy ambil di apotek dan ee…ternyata gk bayar lagi ya? Duh! Udik amat si anak ini. Baru sekali ini pake askes ya?? Puji Tuhan, iya. 😀

Begitulah pengalaman pertama dengan askes. Semoga tidak sering-sering menggunakan askes. Amin.

Hari ini suara sy sudah ketemu, meskipun belum ketemu semua. Kalo ada yang nemu suara sy di jalan, tolong dikembalikan ya. Sy takut dikira Iga Mawarni kalo suranya serak-serak basah gini. 😀

guru dan teman2…

Tadi pagi, tanpa sengaja sy mendengar iklan layanan masyarakat tentang pendidikan yang backsoundnya lagu “Guru” yang dulu diputar di TVRI, bersama lagu “Pak Nelayan”, “Paramedis”, trus apa lagi ya? Banyak.

Gini ni liriknya:

Kita jadi bisa menulis dan membaca, karna siapa?

Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu, dari siapa?

Kita jadi pintar dibimbing pak guru,

kita bisa pandai dibimbing bu guru,

Guru bak pelita, penerang dalam gulita,

jasamu tiada tara….

Apakah teman2 masih ingat lagu itu? Sampai sekarang sy masih sering menggumamkan melodinya. Kalau dilihat dari liriknya, sungguh, peran guru sangat besar buat kita. Jasanya memang tiada tara… Di lirik Hymne Guru juga disebutkan:

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan,

Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa…

Ah…jadi inget sama bapak/ibu guru dari TK sampai kuliah. Guru TK sy namanya Bu Tri, dari sy TK sampai sekarang, beliau masih jadi guru TK dan masih tetap sama, tidak berubah wajahnya. Awet muda. Guru SD sy rata2 sudah jadi kepala sekolah atau malah sudah pensiun. Waktu kemarin sy ke SD, guru2nya sudah ndak ada yang kenal, kecuali yg rumahnya sekampung. Guru SMP sy, masih ada yg kenal, tapi banyak yg sudah baru. Nah, kalau guru SMA sy, banyak yg baru juga, tapi yg dulu ngajar sy juga masih ada. Senang sekali waktu reunian tempo hari masih bisa bersilaturahim dengan beliau2. Beberapa berkenan foto bersama.

Pak Sutrisno, guru Fisika Smunsa Pwr. Punya pengalaman lucu dengan beliau yang selalu diingat teman2 sesekolahan 😀

Di barisan belakang dengan jilbab biru, putih, dan hitam adalah Bu Partinem (guru Bahasa Indonesia), Bu Umi (guru B.Inggris, skrg guru B. Jerman), dan Bu Titik (guru Agama Islam). Bu Partinem pernah jadi Juara Guru Berprestasi Tk. Nasional th.2009.

Kedua foto tadi diambil pada tanggal 10 Juli 2010 waktu acara Reuni Pulang Kandang SMU 1 Purworejo. Foto reunian dengan teman2 seangkatan terakhir lebaran kemarin. Kita sepakat tiap tahun ketemuan di lebaran hari ke-3. Meski jumlahnya menyusut, tapi kita senang bisa selalu menjalin silaturahim.

bersama (sebagian kecil) alumni Smunsa Pwr 2001

-=memaafkan & meminta maaf=-

Di pagi yang indah ini, ketika gema takbir bersahutan, sy, Tt, mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

Mohon maaf atas segala kesalahan yang sy perbuat baik lewat kata2 yang kurang berkenan, sikap yg tidak semestinya, prasangka buruk yg ada di kepala, mohon maaf yang sebesar2nya. Semoga Tuhan Yang Maha Pengampun mengampuni dosa2 kita dan masih mempertemukan kita di Ramadhan yang akan datang. Amin.

Temans, di hari fitri ini ucapan ‘mohon maaf lahir & batin’ seringkali kita ucapkan. Namun sudahkah kita benar2 meminta maaf? Meminta maaf membutuhkan kerendahan hati, kesadaran diri bahwa diri telah melakukan kesalahan. Dan semoga kesalahan2 yang kita perbuat adalah kesalahan yg tidak kita sengaja. Semoga kita tidak pernah dengan sengaja melakukan kesalahan.

Tak hanya meminta maaf, namun juga memaafkan. Memaafkan membutuhkan kebesaran hati. Keikhlasan untuk memaafkan orang lain dan melupakan kesalahannya. Tidak mudah untuk dilakukan, namun siapakah kita sehingga kita menjadi hakim atas sesama kita dgn tidak mau memaafkan sesama kita? Ketika kita memohon ampunan Yang Kuasa, bersihkanlah dahulu hati kita dari menyimpan dendam & kesalahan orang lain. Bagaimana Tuhan akan mengampuni kita sedang kita sendiri tidak mau memaafkan sesama kita?

Kawans, mari kita saling memaafkan. Damai di hati kita, damai di bumi, damai di semesta raya.

Kita sama belajar, sy pun.

Salam damai penuh cinta,
-Tt-