Cinta tanpa akhir…

Treeet..treeett….handphone-ku bergetar pagi subuh ini. Bukan bunyi alarm, karna biasanya alarm kuset pukul 5 pagi. Ini masih 30 menit sebelumnya. Kuraih handphone dan kulihat nama “my lovely son” di layar. Anak laki-lakiku. Satu pesan dikirimkannya. Kubuka dan hatiku berdesir.

Selamat hari ibu, Ma.. Semoga Mama dikaruniai kebahagiaan dari Yang Kuasa. Maafkan kakak belum bisa menjadi anak yang baik buat Mama.. Kami sayang Mama..

Ada yang tergenang di pelupuk mata. Ah, kak.. Mama yang minta maaf tak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Tapi sungguh, Mama sangat menyayangimu, tak bisa Mama jelaskan seperti apa. Terkadang Mama pun berasa bersalah. Saat kamu masih bayi, Mama hanya bisa bersamamu penuh 2 bulan lamanya. Setelah itu waktu Mama tak sepenuhnya untukmu lagi. Mama membagi waktu mama untuk rumah dan kantor. Tapi Nak, mama tak pernah membagi hati mama, hati mama sepenuhnya untuk keluarga, untukmu. Mama inginkan kamu tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya, mama ingin di tubuhmu mengalir kasih sayang mama melalui air susu mama. Maafkan mama jika seringkali asi mama harus kauminum melalui punting karet, bukan dari punting mama sendiri. Mama juga tak selalu bisa mengganti popokmu ketika mama sedang di kantor. Mama sedih, nak. Terlebih sedih ketika mama tak bisa menjadi yang pertama melihatmu bisa berdiri, berjalan, atau bernyanyi. Kau tahu Nak, mama sering juga cemburu pada mbak Nany yang bantu mama mengasuhmu.  Dia yang seringkali menjadi orang pertama yang melihat momen-momen berharga itu. Mama sering juga takut kamu lebih dekat padanya daripada mama. Tapi aliran darah dan kasih sayang mama padamu tak sanggup memisahkanmu dari mama.

Mama ingat saat kamu beranjak remaja. Kamu tak mau lagi mama cium setelah memberi salam saat berangkat sekolah. Mama sedih, tapi mama juga tahu, akan ada masa itu. Dan mama pun bahagia karna artinya kamu telah beranjak remaja. Pun ketika akhirnya kamu harus meninggalkan rumah untuk kuliah di luar kota. Mama bangga padamu Nak, kamu berhasil melanjutkan ke universitas yang kamu inginkan. Doa mama selalu mama panjatkan untukmu. Mama selalu berpesan padamu untuk fokus pada kuliahmu dan tidak mengecewakan mama. Tapi ketika di akhir masa kulaihmu kamu pulang dengan kekasihmu, dengan wajah sendu, hingga pengakuanmu tentang janin di rahim kekasihmu, mama lemas nak.. Mama kecewa, mama sedih, mama marah, sekaligus mama merasa gagal menjadi orang tua. Mama hanya bisa menangis dan menangis saat itu. Mama malu pada masyarakat, mama marah padamu. Tapi nak, mama tak pernah membencimu. Selepas kemarahan mama malam itu, dan kepergianmu dari rumah karna permintaan mama, mama terus memikirkanmu. Mama memikirkan anak di perut kekasihmu. Mama memikirkan kekasihmu, perempuan yang sebentar lagi akan menjadi ibu, sama seperti mama. Mama mencarimu, sesungguhnya mama tak pernah benar-benar mengusirmu, mama hanya sedang marah. Nak….mama tak ingin melepaskan pelukan mama ketika kamu datang lagi menyampaikan penyesalan dan permintaan maafmu. Mama sudah terlalu bahagia menerima kepulanganmu. Mama memohonkan ampunan Tuhan atas kesalahanmu, dan mari kita mempertanggungjawabkan kesalahanmu di dunia. Biarlah Tuhan yang memberikan balasan sesuai kasih karuniaNya.

Mata mama berlinangan ketika akhirnya kamu menikah dengan kekasihmu, menantu mama, anak mama. Biarlah orang di luar menjudge kamu seperti apa, tapi mama tetap menyayangimu, kamu tetaplah anak mama. Semoga Tuhan menerima permohonan maaf kita & mengampuni kita, hingga merestui pernikahan ini. Cucu mama tidak pernah tahu dengan cara seperti apa dia dibentuk, dengan cara yang salah ataukah halal. Apapun, dia tetaplah makhluk kecil yang tidak berdosa. Mama pun menyayanginya.

Kini kalian telah hidup bahagia. Mama takputus berdoa untuk kalian. Maafkan mama tak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Terima kasih telah mengajari mama banyak hal. Terima kasih telah menjadi cahaya bagi hidup mama, apapun adanya dirimu.

Kuusap air mata yang ternyata sudah menderas di pipiku. Kuketik balasan untuk pesan dari putraku.

Terima kasih, Syg… Mama selalu menyayangimu.. Doa mama untukmu. Salam untuk Kinar dan istrimu..

Sesaat kemudian aku teringat Ibu…

***

BannerHariIbuKEB_zps8670007d

Hujan dan Kenangan

Deras hujan di luar, mengingatkanku padamu. Apa kabarmu?

 

 

Senja menggantung di ujung langit, kala itu. Bersiap menyerbukan hujan ke bumi manusia. Aku sedang merenungi rasa hampa.

 

Sekian waktu kau abaikan aku. Takpedulikan pesan2 yang kukirim puluhan kali ke handphonemu. Tak mengangkat telponku meski aku menghubungimu puluhan kali. Aku merindu dalam gelisah, Sayangku. Bergema tanya, adakah di sana kau baik selalu?

 

Aku makin tak menentu ketika sepotong kue kuning telah tersaji di langit malam dan kau tak kunjung hadir. Di mana kamu? Aku menunggumu hingga malam tak mampu menahan mentari bangun dari peraduan. Tak peduli cincin hitam melingkar di mataku & aku tertidur di sela waktu kerja, setelah itu. Setiap malam kutunggui kamu. Hingga sepotong kue kuning itu tandas dimakan masa. Tiga kali putarannya dan aku harus selalu merelakan ia habis tanpa kunikmati denganmu.

 

Kamu menghilang begitu saja. Tanpa permisi. Tanpa pelukan perpisahan. Tanpa ciuman pelepasan. Kamu hilang… Dan aku? Aku patah hati tanpa bisa konfirmasi..

 

Dan senja itu, ketika aku telah pasrah kehilanganmu, hujan turun menderas. Aku menikmatinya dari jendela kamarku, tempat biasanya aku menantikan kue kuning sebagai penanda waktu kedatanganmu. Dan….. aku menemukanmu. Berlari di bawah hujan, melambaikan tangan ke arahku, isyarat yg mengatakan ‘bukain pintu’. Aku tertegun. Tak percaya itu kamu. Ah…tapi gemuruh rindu membuatku berjingkat turun dan membukakan pintu untukmu. Kamu tersenyum lucu di depan pintu. Tanganmu terbuka menyambut hamburanku ke pelukmu. Tapi aku masih takjub menemukanmu lagi setelah berbulan-bulan kehilangan. Dan kamu pun tak tahan, kaudekap aku penuh kerinduan.

 

“hey…..basah semua bajumu.” teriakku di pelukmu dan kita terbahak bersama.

 

Hujan masih menderas di luar. Kamu telah berganti baju yang sengaja kautinggal di lemari bajuku. Aku pun demikian. Kita bercengkerama di ruang keluarga, ditemani secangkir kopi dan sepenuh bahagia. Kamu bercerita banyak hal sambil membelai kepalaku yang kurebahkan di bahumu. Tapi kamu takkunjung menjawab tanyaku kemana saja selama ini. Hingga kali ketujuh aku bertanya, kamu menghela nafas, melepas belaianmu, bangun, mengambil cangkir kopimu tapi tak meminumnya.

 

“ada apa?” kuusap punggungmu. Aku merasakan beban dan gelisah dari gelagatmu.

“aku harus meninggalkanmu….”

Jedaaarrr!! Petir di luar seolah mengetahui persis keterkejutanku. Bibirku gemetar untuk bertanya ‘kenapa?’. Dan kamu menjawabnya tanpa perlu aku tanya.

“dia telah tau keberadaanmu. Dia akan meninggalkanku jika aku tak meninggalkanmu.”

“…dan kamu memilih dia daripada aku??” tanyaku lirih tanpa perlu jawaban.

Kamu meletakkan cangkirmu lalu memelukku. Mencoba mengalirkan kehangatan pada tubuh yg membeku. Aku terisak di pelukmu….

 

Inilah pelukan perpisahan.. Akhir perjalanan…

.

.

.

***

.

.

.

 

Hujan belum juga reda. Kuseduh dua cangkir kopi. Kubawa ke ruang keluarga bersama sepiring pisang goreng.

“kopi buatan istriku paling enak sedunia.” kata pria di depan tv itu sambil menggodaku. Dia yg selalu ada untukku tanpa perlu kutunggu sepotong kue kuning dalam sepiring langit kelam datang di balik jendela. Seandainya dulu aku masih bersetia pada ketidakpastian, mungkin saat ini aku masih duduk di tepi jendela, menantikannya, yang tak kan datang selamanya. Hatinya telah memilih, lalu mengapa tak mau beralih? Tapi Tuhan tak pernah tinggal diam, dia bersama mereka yang patah hatinya. Dan setiap kita adalah malaikat yang patah sayapnya. Pasangan sayap kita ada pada pasangan kita. Dia, yang datang tiba-tiba tanpa aku duga sebelumnya. Ya… Tuhan tak pernah tinggal diam….

“hayoo melamun!!” suamiku membuyarkan lamunanku.

Aku pun tersipu malu…

 

 

19092010
#inspired by: hujan, ‘Sepotong Kue Kuning’ Dee..

ke+hilang+an

Aku kehilanganmu, bahkan ketika kita masih bersama.

Malam telah menggelap, menabur hujan seperti spora tertiup angin. Tidak deras, namun pasukan kecil itu bersepakat menyerbu bumi bersama-sama. Dan kita berdua tak takut akan serbuan mereka.

Aku menaiki jok belakang, pertanda akan duduk di belakangmu sepanjang perjalanan. Belum sampai roda berputar, hati ini merasa ngilu: akankah kualami lagi kebersamaan ini nanti? Mataku panas, namun aku berjuang menahan bulir embun dari ujungnya terjatuh. Aku tak mau menangis. Tidak. Kita harus menciptakan bahagia di kebersamaan ini.

Sepanjang perjalanan kita masih berbincang. Kamu bercerita. Aku menjawab dengan jawaban pendek saja. Supaya kamu tak tau suaraku mulai parau karna menahan ngilu di dada dan air mata di pelupuk mata. Kupandangi langit, memasukkan lagi air mata yang tergenang. Ragu-ragu tanganku menyentuhmu. Tidak kuberpegang di pinggangmu. Tidak kumasukkan kedua tanganku di saku jaketmu, seperti biasanya saat kita melaju di atas dua roda. Aku sibuk menghalau perih di hatiku. Dan aku tak mau kamu tau.

Kita berhenti di dekat perempatan. Memasuki toko kecil, membeli beberapa keperluan. Usai terbeli, kita keluar. Kembali kunaiki jok belakang. Dan ngilu itu kembali menelusup di relung hati. Sakit. Sakit sekali. Kamu bertanya kita akan ke mana. Dan kali ini aku tak mampu menjawabnya. Air mata yang kutahan sekuat daya, luluh juga tanpa bisa kutunda. Tak bisa kujawab pertanyaanmu dengan tangisku. Kamu tak tau apa yang terjadi denganku. Ya. Kamu tidak melakukan apapun yang menyakitiku. Wajar kamu tak tau makna air mataku.

Kita melaju pelan. Kamu tak banyak bertanya, hanya menuruti apa mauku. Aku merasa bersalah telah membuatmu bertanya-tanya, bahkan mungkin mencari-cari: apa salahku. Aku pun mencoba membuat kita tertawa, melumerkan kebekuan yang sempat melanda.

Malam itu. Dan aku menuliskannya kini, saat aku merasa telah kehilanganmu bahkan ketika kita sedang bersama.


Rabu, 09032011, 20.39

Lho, kok postingannya jadi kaya punya ~Ra sih? Hihihi…., sebenernya dulu juga sering nulis dan kasih soundtrack sih, cuma karna blog ~Ra bertajuk ‘menceritakan lagu & melagukan cerita’, jadilah di setiap tulisannya pasti ada lagunya :P. Ada yang belum kenal ~Ra? Masa sih? Saya justru banyak kenal teman-teman dari dia kok :D.

Kemarin beberapa waktu yang lalu ada teman saya di sini yang nyeletuk: “mbak, mbok tulisan mb yang di FB yang tentang perjalanan ke Jepang itu diupload di blog. Siapa tahu ada yang kaya aku mau ke Jepang kan bisa baca pengalamannya mb. Kalau di blog kan bisa dibaca semua orang.”. Hihi…tahun lalu waktu dia mau ke sini dan tanya ini itu, memang trus saya suruh baca note saya itu, karna kebetulan satu program. Lalu bulan Oktober lalu waktu ada yang mau datang lagi dan nanya ke saya lagi, saya kasih link note itu lagi. Dan kata mereka -yang sama2 baru pertama kali ke luar negeri sendiri- pengalaman yang saya tulis itu bikin mereka percaya diri buat berangkat ke Jepang sendiri :D. Kalau ada yang tanya: kenapa dulu gak di-upload di blog? Karna dulu blog ini mau saya hapus!! Hehehe……

Nah, berhubung sekarang saya sedang counting down untuk pulang, boleh deh sekali-sekali saya selipkan tulisan saya tentang Jepang yang sudah saya upload di FB ke sini. Flashback buat saya sendiri sih, sekalian count down. Btw, kenapa sekarang jadi merasa sedih mau ninggalin Jepang yaa.. Padahal awal berangkat dulu punya slogan: jarak ribuan mil itu dekat dan dua tahun itu cepat. Ini sekarang jadi kerasa cepaaaaat sekali. Huhuhu….

Baiklah, hari ini nulis ini dulu. O iya, kata BunAff, gaya ngeblog saya sekarang beda, katanya kaya penyiar. Halah…apa iya? Xixixi…perasaan sama aja. Bagaimanapun, yang penting jujur, gak SARA, gak nipu (lagi hits nih 😛 ), & bisa diterima teman-teman semua ya.. Amin.

Selamat malam semua. Salam dari saya,
Titik

Perjalanan Kita

Rangga, happy 2nd anniversary… Entah anniversary untuk apa karna kita tidak pernah mengikrarkan apa-apa. Hanya saja, hari ini dua tahun lalu kita sama-sama mengakui perasaan kita masing-masing. Ya, hanya sebatas pengakuan tanpa kelanjutan apa-apa. Karna ‘kelanjutan’ itu seolah kemustahilan bagi kita.

Rangga, selama bersamamu, aku bahagia. Meski….tak sempurna. Aku tak pernah bisa (bahkan sekedar) berharap akan begini selamanya. Kita hanya menjalani hari-hari berdua, berbagi segala hal, tetapi tak pernah berani bertanya ‘kita mau ke mana?’. Pada akhirnya nanti kita tetap harus memilih. Kita telah sama-sama tahu apa yang harus kita pilih. Meski hingga kini, kita tetap saja menyusun cerita dalam perjalanan hidup kita.

Rangga… Perjalanan kita ini seolah tanpa tanda baca ya… Kita tak ingat lagi bagaimana awalnya. Kita hanya terus menulis dan menulis dalam lembaran kehidupan kita. Kita tak pernah tau kapan akan berakhir, bahkan tak yakin apakah akan berakhir.

Mungkin memang cinta tak perlu tanda baca ya…..

Love,
~Tt

#intinya ingin posting puisinya Sapadi Djoko Damono, Sonet 12 ^_^
#ini hanya fiksi belaka, mencoba mengintepretasikan sonetanya Pak Sapardi 😛
#ditulis dalam perjalanan…

[15HariNgeblogFF2#day9] Genggaman Tangan

Kereta Prameks tujuan Solo baru saja berangkat, pukul 7 lebih sepuluh. Barra segera mengambil handphonenya, ditelponnya Kinar dengan gelisah. Tidak diangkat. Ditelponnya lagi dan lagi, tetap tidak ada jawaban. Dikirimkannya pesan singkat: “Kinar, tolong angkat telponnya”. Tetapi setelah mencoba lagi, tetap saja tak ada hasil. Barra bergerak menjauhi stasiun menuju rumah Kinar.

“Eh, Nak Barra, apa kabar? Sudah pulang dari dinas luar? Kinar sudah nunggu-nunggu lho…” Ibunda Kinar menyambut Barra dengan grapyak.

“Kabar baik, Bu. Kinarnya ada?”

“Kinar tadi keluar sama Renata, mau jalan-jalan keliling Jogja katanya. Sudah kangen sekali dia dengan Jogja. Nak Barra sudah hubungi HPnya?”

“Sudah Bu, tapi tidak diangkat, mungkin sedang di jalan.”

Barra akhirnya pamit. Dengan keresahan dia mencari Kinar keliling Jogja. Tapi tak juga ia temukan. Kinar, kamu di mana? Barra gelisah.

***

Pagi ini harusnya Barra ke Solo setelah kemarin Kayla ke Jogja menemuinya. Tapi Barra masih belum tenang, pikirannya masih ada pada Kinar. Puluhan sms yang dikirimnya tak satupun yang mendapat balasan. Puluhan kali telponnya, tak ada yang diangkat. Kinar, aku tahu kamu marah besar, tapi izinkan aku bicara…

Barra menuju rumah Kinar. Kali ini Renata yang menemuinya. Dengan wajah asam bin pahit penuh kebencian Rena menjawab pertanyaan Barra.

“Rena, Tante Kinar…?”

“Pergi!”

“Pergi ke mana Re?”

“Emang penting buat mas Barra tahu ke mana Tante Kinar pergi? Mas Barra kan…”

“Sssttt…please Rena, kasih tau ke mana tante Kinar. Tante Kinar pasti sedang kalut, mas Barra butuh bicara dengan dia..”

Melihat raut wajah Barra yang serius dan gelisah, Rena pun tak tega.

“Tadi katanya mau ke Karanganyar, Solo, Mas..” suaranya melembut.

Karanganyar? Barra tau pasti ke mana Kinar pergi. Dalam suasana hati yang kacau, Kinar biasanya menepi, kalau tidak ke pantai ya ke bukit. Dan saat Rena menyebut Karanganyar, terbayang curug Tawangmangu tempat pelarian Kinar. Barra segera pamit, menstater motornya dan melesat.

“Hati-hati, Mas!” suara Rena tak lagi terdengar.

Dari Jogja ke Tawangmangu menggunakan motor memang tidak dekat. Tapi Kinar tidak peduli. Dia membawa motor sendirian, dalam hati yang kalut. Sungguh berbahaya. Dan sekarang Barra pun menyusulnya, juga dengan motor dan juga dalam kekhawatirannya. Ah…mereka berdua…

Setelah menuruni tangga yang panjang dan melelahkan, akhirnya Barra sampai di air terjun di Tawangmangu ini. Benar saja, dia menemukan Kinar sedang duduk mengamati air yang meluncur dari atas bukit. Ah, untunglah tebakan Barra benar, kalau tidak, sia-sialah perjalanan motornya plus perjalanannya menuruni tangga.

“Kinar…”

Kinar terkejut. Dia hapal betul suara itu. Bagaimana Barra bisa sampai di sini?? Kinar bergeming. Barra mendekatinya dan duduk di bebatuan di sampingnya. Menatap Kinar.

“Kinar…”

Kinar tetap bergeming. Barra tak tahu harus memulai dari mana.

“Kinar aku minta maaf…”

Akhirnya kalimat itu yang keluar. Bergemuruh hati Kinar. Kinar tak kuasa menahan air matanya.

“Minta maaf untuk apa?”

“Kinar… Aku minta maaf telah menyakiti kalian berdua…”

Barra pun sama terpuruknya. Dia menyadari kesalahannya. Dia telah menyakiti dua perempuan baik yang tulus mencintainya.

“Kayla itu siapa? Apa benar dia tunangan Mas?”

Hati Barra sakit mendengar pertanyaan Kinar. Sakit karna jawaban yang akan dia berikan akan sangat menyakiti Kinar. Barra gemetar. Gentar.

“Kenapa tak dijawab, Mas? Kayla itu siapa?”

Dengan air mata berlinangan Kinar menatap Barra yang tertunduk. Pun menahan air matanya. Barra menghela nafas, mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Digenggamnya tangan Kinar.

“Kinar.. Biar kuceritakan padamu semuanya. Semua yang kusembunyikan darimu. Iya. Kayla itu tunanganku..”

Bagai dijatuhi bebatuan di kawasan air terjun Tawangmangu, Kinar tergugu…sakit…

“Aku telah mengenal Kayla jauh sebelum aku mengenalmu. Kami sudah lama berpacaran. Tetapi kemudian jarak memisahkan kami, aku di Jogja dan dia mendapat tugas di Makassar. Lalu kamu datang dengan semua keceriaanmu, aku menyayangimu Kinar, tetapi berbeda dengan yang kurasakan pada Kayla. Sampai akhirnya aku tahu perasaanmu padaku tidak seperti yang kurasakan padamu. Aku bersalah tak mampu mengendalikan itu, tak mampu mencegah itu terjadi. Maafkan aku Kinar….”

Kinar semakin tergugu. Hatinya penuh dengan kesedihan, juga kemarahan.

“Kenapa mas tidak pernah bilang kalau mas sudah punya pacar? Kenapa mas tidak jujur dari dulu? Kenapa mas harus datang ke Bandung waktu itu? Kenapaaaaa?!”

Barra meraih Kinar yang kalap dalam pelukannya. Kinar menangis tersedu-sedu di dadanya. Barra tau pasti luka hatinya. Dan inilah yang paling ia takutkan selama ini. Meski tetap akan sampai pada masanya. Pelukan dan genggaman tangannya kini, tak lagi sanggup mengobati luka hati Kinar.

Kinar maafkan aku…

———————————

Word count: 700 (pas!)

Masih berlanjoooootttt…..

Yang sabar ya.. Jangan tonjok Barra dulu.. Jangan benci Kayla dulu… Jangan buru-buru kasihan sama Kinar… Hihihihi….. 😆

This is it: 9th day of #15HariNgeblogFF2.

[15HariNgeblogFF2#day8] Ramai

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…

Akhirnya, waktu kepulangan Kinar tiba. Kinar telah menyelesaikan studynya tepat waktu. Penerbangan Jepang-Jakarta disambung Jakarta-Jogja kali ini penuh dengan rindu. Rindu pada kampung halaman, rindu pada keluarga, rindu pada…Barra. Meskipun beberapa waktu menjelang kepulangannya, Kinar merasakan sesuatu yang aneh pada diri Barra, tetapi tetap saja ada nama Barra dalam kerinduannya.

Pesawat tiba di bandara internasional Adi Sucipto Yogyakarta pukul 2 siang. Ah..akhirnya menghirup udara tanah air lagi, meski 8 bulan lalu sempat menghirup udara Bandung. Jantung Kinar berdegup kencang begitu turun dari pesawat. Jogja, sebuah cerita baru akan dimulai di tanahmu.

Semua menyambut Kinar dengan gembira, Bapak, Ibu, kakak-kakak, ponakan-ponakan. Waduh, ini seperti penyambutan presiden saja, semua datang menjemput. Tapi Kinar tak melihat sosok Barra. Sedih menjalar ke hatinya. Ah, sudahlah, keluargamu sebanyak ini sedang bergembira menyambutmu, jangan biarkan mereka bersedih melihat dukamu.

**

Sudah seminggu Kinar di rumah. Barra sudah mengabarinya dan meminta maaf tak bisa menjemputnya di bandara bahkan belum bisa menemuinya hingga saat ini karna sedang dinas ke luar kota. Kinar maklum karna memang begitulah pekerjaannya. Komunikasi mereka memang sudah tak selancar dulu. Juga beberapa kejadian yang kerap membuat Kinar bertanya-tanya. Tetapi Kinar tetap mencoba berpikir positif: Barra sibuk dengan pekerjaannya.

“Tante, jalan-jalan yuk. Tante ndak kangen po sama Jogja?” ponakan Kinar yang sudah semester 2 di Gajah Mada itu menyentak lamunannya.

“Kangen banget, Re.. Yuk, jalan-jalan ke Malioboro, trus makan di gudeg Wijilan ya… Kamu yang bawa motor, tante bonceng!”

“Siaaaaapp!!”

Masih seperi dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat. Penuh selaksa makna.

Menyusuri jalan kaliurang selatan ringroad, Kinar protes.

“Ini kenapa jadi padet banget sih Re? Dulu belum ada resto pizza ini, dulu ada warung jagung bakar di sudut situ. Aih…”

Renata senyum-senyum saja. Perubahan itu cepet banget, Tante! Batinnya. Tapi memasuki kawasan Kotabaru, sebelah kali Code, Kinar tersenyum sendiri.

“Nah, yang ini masih sama Re.. Dulu Tante sering makan di angkringan sepanjang kali Code itu. Terus di dekat gereja Kotabaru itu, ada penjual duren, Tante sering beli di situ sama mas Barra. Atau juga di pojokan situ, ada penjual garang asem Solo dan nasi goreng sapi, nah kalo itu Tante seringnya sama mas Gilang, sahabat Tante jaman kuliah.”

Renata hanya terkekeh melihat tantenya bernostalgia. Motor pun terus melaju mendekati Jl. Malioboro, pusat kota Yogkarta.

“Tante deg-degan ni Re..”

“Kenapa Tan?”

“Banyak kenangannya di sini.”

“Hahaha…” mereka berdua tertawa.

Kinar meminta Renata memarkir motornya di sisi utara, supaya mereka bisa menyusuri Malioboro ini dari utara hingga titik 0 di ujung selatan Malioboro.

Ramai pedagang lesehan di kiri jalan, masih seperti dulu. Dan di sisi kanan, berjajar penjual pernak pernik asesoris buatan pengrajin rumahan, biasanya pengrajin ini berasal dari kabupaten Bantul. Juga baju-baju batik yang dijual sepanjang emperan toko. Murah meriah. Kaos-kaos dengan karikatur khas Jogja atau kalimat-kalimat menggelitik pun banyak di sana. Sore ini Malioboro ramai sekali. Kinar mengajak Renata ‘keluar’ dari  keramaian itu, menuju jalan jalur lambat. Beberapa andong parkir di sana. Tukang becak yang lewat menawarkan jasanya.

“Becaknya mbak, ke bakpia Pathuk atau Dagadu sepuluh ribu saja.”

Mboten Pak, orang Jogja juga ini Pak.” sahut Kinar dengan senyum dan anggukan. Renata terkekeh.

“Sudah mirip orang Jepang sih Tante, dikira Rena nganterin orang Jepang nih..”

Mereka berdua akhirnya sampai di Mirota Batik, letaknya berhadapan dengan pasar Beringharjo. Kinar mengajak Renata masuk. Pengen beli baju batik untuk kerja, katanya. Rena nurut saja. Tugasnya kan cuma mengantarkan Kinar menikmati Jogja.

“Tante sama mas Barra kalau beli batik di sini, Re..”

“Iya Tante.. Duh, dari tadi mas Barra terus ni yang diceritain. Bener-bener nostalgia kebersamaan dengan mas Barra yaa?” ledek Renata. Kinar meninju lembut bahu Renata.

…terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja…

“Tante…tante…” gugup Rena menepuk-nepuk Kinar yang masih memilih-milih batik, “mas Barra, Tante…”

Kinar tersentak. Barra ada di sini? Bukannya masih dinas di luar kota?

Kinar memalingkan wajahnya dari gantungan batik yang sedang dipilihnya. Bersamaan dengan itu Barra pun menoleh. Mereka bertemu pandang.

“Mas Barra…”

“Kinar…”

Gadis berkerudung ungu di samping Barra kebingungan.

“Siapa dia mas?” berbarengan kedua perempuan itu bertanya.

“Kinar, ini…” Barra bingung hendak mengenalkan gadis di sampingnya. Tetapi rupanya gadis itu lebih sigap, dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.

“Kayla, tunangan mas Barra.”

Bumi seolah berhenti berputar. Segala di sekitar Kinar memudar. Sebelum Kinar hilang kesadaran, Renata menepuk-nepuk bahunya. “Tante..tante…”

Kinar tersadar, dia hanya tersenyum pada mereka berdua. Sebelum mereka menemukan air mata di pelupuk matanya, Kinar menyeret Rena keluar.

“Ayo ke Parangtritis!”

“Tapi ini sudah sore Tante..”

“Sudah! Ayo ke Paris!” Kinar tergugu. Ramai pikiran berkecamuk di kepalanya. Dalam perjalanan menuju parkir motor, Rena tak mampu bicara apa-apa. Di seberang jalan sekelompok musisi jalanan menyanyikan lagu Didi Kempot. Cidro.

..musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu…

—————————

Word count: 772

Kelebihan 72 kata, Saudara! Sudah dihapus beberapa bagian, masih saja kelebihan. Jogja, terlalu banyak yang diceritakan darinya. Padahal harusnya settingnya Malioboro, kenapa meluas jadi Jogja? Xixixixi…..

OK deh, this is the 8th day of #15HariNgeblogFF2.

[15HariNgeblogFF2#day7] Biru, Jatuh Hati

:: hallo-hallo Bandung, kota kenang-kenangan..

Kinar menulis status di facebooknya. Sesaat kemudian muncul komentar dari sahabatnya.

“lagi di Bandung Kin?”

“Gilaaaaang…apa kabar??? Iya ni lagi di Bandung. Tapi Sabtu sudah balik Jogja lagi.”

“mampir Ciamis donk, kita kan belum pernah ketemu sejak kamu pulang dari Jepang. Nanti jalan-jalan ke Pangandaran deh…”

“waaa….mauuu…”

Gilang adalah sahabat Kinar sejak kuliah dulu. Dia tinggal di Ciamis, di kecamatan Pangandaran. Rumahnya tak jauh dari pantai Pangandaran, tinggal bersepeda saja sudah bisa menikmati panorama pantai dengan kapal-kapal nelayan yang menghiasi. Saat kuliah mereka sangat dekat, maklumlah satu kelas, satu organisasi, punya kecintaan yang sama selain musik, lukis, juga mendaki gunung. Klop sudah. Sejak kuliah mereka sudah saling berbagi cerita. Tak hanya Kinar, tetapi juga Gilang tak sungkan membagi kisahnya pada Kinar. Yah, mereka bersahabat, persahabatan antara laki-laki dan perempuan, yang konon tak pernah ada yang murni.

Kinar akhirnya memutuskan untuk ke Ciamis hari Sabtu. Bandung-Ciamis cuma 2 jam lebih sedikit dengan bis. Kinar sudah minta Gilang untuk membelikan tiket travel ke Jogja untuk Sabtu malamnya, supaya bisa sampai Minggu pagi dan bisa beristirahat di hari Minggu sebelum masuk kerja lagi Seninnya. Semua sudah beres. Gilang tak sabar ingin segera bertemu Kinar, begitupun Kinar. Pukul 1 lebih Kinar sampai di rumah Gilang. Ibunda Gilang sudah memasak berbagai masakan untuk menyambut Kinar. Kinar jadi tak enak hati, apalagi Kinar tak membawa oleh-oleh apa-apa untuk Ibu Gilang.

“Wah, neng Kinar cakep pisan ya sekarang, kurusan dibanding jaman kuliah dulu. Jepang bikin neng Kinar tambah putih ni..”

Begitu komentar Ibu Gilang begitu melihat Kinar. Beliau memang pernah bertemu Kinar dua kali. Pertama waktu Kinar dan teman-temannya main ke Pangandaran saat kuliah dulu. Rumah Gilanglah tempat mereka singgah dan menginap. Kedua waktu mereka wisuda. Kinar tak percaya ibu masih ingat padanya karna dulu Kinar gemuk sedang sekarang langsing (kalau tidak mau dibilang kurus).

“Ah, Ibu bisa saja. Masih seperti dulu kok Bu, cuma sekarang ndak banyak waktu buat susur pantai atau manjat yang bikin kulit hitam.” mereka berdua tertawa “Ibu kenapa musti repot-repot begini?”

“Ndak papa Neng, demi tamu agung Gilang” Ibu melirik Gilang dan tersenyum penuh isyarat.

Seusai bercengkerama bersama keluarga Gilang, mereka bersepeda ke pantai. Di antara pohon kelapa di tepi pantai mereka duduk dan menikmati birunya laut sambil berbincang.

“Berarti sudah berapa lama kamu di rumah Kin?”

“Dua bulan Lang. Tapi langsung dihujani banyak pekerjaan, plus ada proyek penelitian dengan teman di Bandung.”

“Kamu masih saja seperti dulu, selalu sibuk.”

“Ah, ndak juga kali Lang, buktinya masih bisa main ke sini.” mereka tersenyum. Jeda sesaat.

“Barra gimana kabarnya?”

“Sepertinya baik. Mau menikah dia.”

Gilang mengerutkan kening. “Sepertinya”? “Dia”?

“Dia? Kenapa tak kaubilang ‘mau menikah kita’, gitu to Kin?”

“Menikahnya bukan sama aku, gimana mau kubilang ‘kita’, to Lang?” kata Kinar sambil terkekeh.

“Maksudmu?” Gilang menatap Kinar lekat-lekat. Kinar menghela nafas, menundukkan kepalanya dan bermain-main dengan sepotong ranting yang tiba-tiba ditemukan di sampingnya duduk.

“Barra sudah memilih perempuan lain Lang. Tapi aku pun sangat mengerti, dua tahun kutinggalkan pastilah tidak mudah untuknya tanpa siapapun di sampingnya yang bisa menemaninya, merawatnya, mencintainya, dicintainya.”

“Tapi kalian kan…”

“Sudahlah Gilang… Dia pasti lebih tau apa yang terbaik untuknya. Aku pun yakin bahwa perempuan itu pastilah lebih baik dariku. Lagipula selama ini kami tidak pernah “resmi” berpacaran, hanya saling menyayangi dan mengisi, tanpa ada permintaan atau lamaran apapun darinya padaku. Karna itu ketika aku tak mampu lagi mengisi hidupnya, dia boleh mencarinya dari yang lain. Aku tak berhak apa-apa atasnya….”

“Kinar….” Gilang hanya mampu berbisik tanpa sanggup berkomentar apa-apa.

“Iya Gilang…” dan Kinar malah menyahutnya sambil bercanda.

“Kamu ini…akunya berempati malah kamu hahahihi.. Trus kamu gimana sekarang?”

“Sekarang?! As you see, i’m absolutely fine. Aku baik-baik saja Gilang.” Kinar tersenyum. Gilang meraih bahu Kinar, ditepuk-tepuknya sambil bergumam ‘kamu sungguh tegar Kinar’. Kinar memalingkan wajahnya menatap Gilang dan tersenyum. Dalam hatinya dia berterimakasih pada Tuhan, mengirimkan sahabat sebaik Gilang.

“Terimakasih ya…” Kinar berbisik pada Gilang dan Gilang mengeratkan pelukannya.

Di depan sana hamparan biru pantai Pangandaran masih menari-nari. Gilang membiarkankan Kinar merebahkan kepala di bahunya. Dia tahu betul, di lubuk hati Kinar ada luka yang teramat dalam meski bibirnya tetap tersenyum. Perempuan ceria dan tegar yang telah sejak lama diimpikannya. Gilang telah lama jatuh hati padanya.

Biru berganti jingga. Senja tiba. Kinar harus bersiap kembali ke Jogja.

——————–

Word count: 700

7th day of #15HariNgeblogFF2, horeee udah hampir setengah jalan… ^_^