Tarian Tradisional Indonesia di Panggung Internasional

Ups! Judulnya gaya ya? Tetapi begitulah kenyataannya. Tarian tradisional Indonesia banyak ditampilkan oleh pemuda-pemudi Indonesia di dunia international. Juga banyak dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa dari negara asing yang menimba ilmu di Indonesia. Saya adalah lulusan Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki fakultas Bahasa dan Seni di mana salah satu jurusannya adalah jurusan Tari & Karawitan. Banyak mahasiswa asing yang mengikuti perkuliahan di jurusan tersebut dan seringkali saya lihat mereka sedang berlatih tari Jawa di pendapa Tejakusuma UNY. Seringkali saya merasa bangga sekaligus miris menyaksikan fenomena itu. Mereka orang-orang asing justru tertarik untuk mempelajari budaya kita, sedangkan kita seringkali mengabaikan budaya kita (dan baru merasa handarbeni ketika ada pihak lain yang mengklaim budaya yang tidak kita beri perhatian itu sebagai miliknya).

Puji Tuhan saya diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk mencari ilmu di negara lain. Sewaktu di Indonesia, ketika ditanya: ‘kamu asli mana’, maka saya akan menjawab ‘Purworejo, Jawa Tengah’. Dan oleh karenanya, saya membawa nama Jawa Tengah atau Yogyakarta dalam tindak tanduk saya. Tetapi ketika di sini, saya adalah orang Indonesia yang mewakili Indonesia sehingga saya pun harus merepresentasikan Indonesia dalam tindak tanduk saya, dan dalam pengenalan budaya, saya bukan hanya menjadi ‘orang Jawa’ tetapi ‘orang Indonesia’ dengan budaya yang beraneka ragam itu. Dan salah satu yang bisa saya lakukan untuk mengenalkan Indonesia dan budayanya di mata international adalah melalui tarian dan busana.

Di kampus saya, setiap tahun diselengarakan dua kali international party. IP yang pertama diadakan pada bulan Juli. Di IP ini masing-masing negara diperbolehkan menampilkan budayanya entah dalam bentuk tari, permainan, maupun performance lainnya. Tahun lalu, saya dan teman-teman sesama pelajar Indonesia di sini menampilkan tari Sajojo seperti pernah saya tulis di sini. Sedangkan tahun ini kami menampilkan Tari Golek Tirtakencana dari Jawa dan Tari Selayang Pandang dari Sumatera. Jadi kami mengambil tarian dari tiga kawasan Indonesia. Kawasan timur Indonesia dengan Sajojo, kawasan tengah Indonesia dengan tari Golek dan kawasan barat Indonesia dengan tari Selayang Pandang. IP kedua diadakan bulan November. Di IP ini kita menampilkan busana tradisional dari negara kita masing-masing. Tahun lalu saya tidak bisa mengikuti fashion show busana tradisional karna bertepatan dengan konferensi yang saya ikuti. Sayang sekali.

Tari Sajojo dari daerah Papua, berdasarkan informasi dari Kompas dot com, lirik lagunya bercerita tentang seorang gadis cantik yang diidolakan oleh pemuda-pemuda di kampungnya. Saya benar-benar ingin tahu arti lagu sajojo itu dalam bahasa Indonesia. Saya coba cari di mesin pencari tetapi belum menemukan. Jika ada teman dari Papua yang membaca tulisan ini, saya berharap untuk bisa berbagi arti lagu sajojo di kolom komentar. Terimakasih.

Lagu Selayang Pandang adalah lagu Melayu yang berisi pantun-pantun di tiap baitnya. Jadi ada banyak sekali versi lirik lagu Selayang Pandang. Sedangkan tarian yang mengiringi lagu ini adalah tarian kreasi baru, sehingga bisa kita modifikasi sendiri.

Menari Selayang Pandang
Saya berperan sebagai laki-laki.

Pada international party kemarin, kami juga menampilkan tari Golek Tirtakencana, tarian traditional dari daerah Jawa Tengah & Yogyakarta. Tari Golek berkisah tentang gadis remaja yang sedang bersolek, maka gerakan-gerakan dalam tari golek pun serupa gerakan bersolek seperti bersisir, memakai alis, memakai sanggul, dan berkaca. Tari Golek memiliki bermacam variasi yang penamaannya biasanya didasarkan pada iringan gamelannya. Misalnya Golek Tirtakencana yang diiringi ladrang Tirtakencana, Golek Asmarandhana dengan iringan gending Asmarandhana, Golek Surundayung dengan iringan Ladrang Surundayung, dan sebagainya. Makna Tari Golek, berdasarkan asal katanya ‘golek’ dalam bahasa Jawa yang berarti mencari, maka tarian Golek memiliki makna pencarian jati diri si gadis remaja tadi. Jika boleh saya kait-kaitkan, masa remaja memang sedang masa-masa pencarian jati diri seseorang, masa menemukan eksistensi diri, masa puber sehingga dia pun mulai belajar berdandan.

Tari Golek Tirtakencana
(penghormatan)

Tari Golek Tirtakencana
(Gerakan bersolek)

Tari Golek Tirtakencana
(mencari jati diri)

Jujur, saya sudah lama sekali tidak menari Jawa. Mungkin terakhir kali saat SMP. Memang sejak kecil sudah dileskan tari di tetangga yang kebetulan pandai menari dan kenal baik dengan Ibu. Jadi setiap Minggu sepulang sekolah minggu saya belajar menari. Waktu itu saya sempat iri dengan kakak yang dileskan menari di Pendapa Kabupaten. Tetapi ternyata tak jadi masalah belajar menari di mana saja. Ketika masuk SMP, saya pun mengikuti ekstrakurikuler tari dan melanjutkan latihan tari saya di sekolah. Di SMA, saya sudah jarang menari. Untuk tampil di panggung 17-an, saya sudah malu wong sudah besar, begitu pikir saya waktu itu. Untuk tampil di acara pernikahan, sudah mulai ditinggalkan dan berganti organ tunggal. Ya, praktis aktivitas menari Jawa saya terhenti sejak SMA. Ketika kemarin memutuskan untuk menari Golek, saya mencari panduan dari youtube untuk kemudian belajar lagi. Puji Tuhan dulu pernah berlatih sehingga bisa mengingat kembali gerakan-gerakan yang dulu dipelajari. Sedangkan untuk tari Selayang Pandang, kami juga mencari di youtube dan dipelajari bersama-sama. Puji Tuhan lancar.

Beberapa video tari tradisional Indonesia di youtube ditarikan oleh penari dari luar negeri. Saya harus bangga bahwa mereka mencintai tarian dan budaya kita. TETAPI jangan sampai kita sendiri tidak mencintai budaya kita sendiri, kalah dengan mereka-mereka yang dari luar negeri. Jangan sampai kita mendadak mencintai tari-tarian Indonesia ketika orang lain/bangsa lain lebih peduli dan lebih menghargai kekayaan budaya kita. Para pendahulu kita telah menciptakan karya sebagai hasil kreativitas olah pikir mereka yang memiliki makna filosofis yang tinggi. Kita, generasi muda lah yang wajib nguri-nguri, melestarikan budaya kita supaya tidak hilang atau diakui sebagai milik orang lain yang ‘menemukan’ harta kita yang hilang karena tak teperhatikan.

Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia.

——————————-

Update: Postingan ini memang sempat mengalami ‘pause‘ tetapi setelah tekan play lagi akhirnya selesai juga.