Pasir Berbisik

dengar bisik angin menelisik di sela rambut yang kusut…. lihat kita serupa titik di padang sahara yang terbentang tak bersudut.. Apalah kita, serupa butir pasir di gurun yang terbang diterpa angin… Apalah kita…

Tetapi Ialah Sang Maha, yang tak lalai menjagai ciptaanNya… Ialah Sang Maha, yang tak lepas mengawasi kita…

  

dot on the desert

 
**kawasan Pasir Berbisik Gunung Bromo

Menikmati Bromo di Siang Hari?!! BISA!!

Heyho, selamat Jumat… Melanjutkan postingan lalu tentang perjalanan ke Bromo yuk… ๐Ÿ™‚ . Kemarin ceritanya baru sampai Desa Tosari yaa… Yang belum baca, boleh intip dulu di sini ๐Ÿ™‚ #sekalianpromosipostingan

Perjalanan ke Bromo diawali dengan menyewa jip. Bapak-bapak itu yang ngurusin sementara saya ke toilet buat bebersih meski akhirnya gak berani sentuh air dan cuma pakai tissue basah. Tawar menawar dan didapat harga IDR 750,000.00 untuk satu jip beserta sopirnya. Bapak sopirnya bernama Pak Iswanto, seorang warga beragama Hindu, memiliki ladang kentang, juga menyewakan jipnya. Pak Iswanto tidak banyak bicara, jadi kita yang tanya-tanya. Saya ding, soalnya kawanan di belakang pada tertidur ๐Ÿ˜€ . Sebelum melanjutkan perjalanan dengan jip, kita bayar tiket masuk dulu seharga IDR 27,500.00 per orang. Murah kan?!

Ini tiket masuknya...

Ini tiket masuknya…

Tujuan pertama adalah Puncak Penanjakan, view point’nya Gunung Bromo. Biasanya orang-orang menikmati sunrise di sini. Karena sudah siang, sudah tidak begitu ramai di sini, malah cenderung sepi. Tapi malah bisa puas menikmati view gegunungan dan poto poti di sini. Meskipun awan-awan sudah menguap, matahari sudah bersinar terang, tak ada lagi jingga fajar, tapi perpaduan gunung, langit biru, dan hamparan pasir sangat cantik. Berdesir dada saya. Luar biasa karya Sang Pencipta.

Pintu gerbang view point Puncak Penanjakan

Pintu gerbang view point Penanjakan

SAH :D

SAH ๐Ÿ˜€

Langit, gunung-gunung, dan hamparan pasirnya lagi akuuuurrrrrr...... Cakeps bingitsss.......

Langit, gunung-gunung, dan hamparan pasirnya lagi akuuuurrrrrr…… Cakeps bingitsss…….

mau pagi mau siang, lukisanNya tetap indah...

mau pagi mau siang, lukisanNya tetap indah…

selfie ah.... Eh, bukan selfie si ini namanya, poto dirii :D

selfie ah…. Eh, bukan selfie si ini namanya, poto dirii ๐Ÿ˜€

OK! Sudah menikmati karya agung Sang Pencipta di View Point Penanjakan, mari kita turun ke kalderanya. Jalannya berkelok-kelok, tapi tenang saja, pak sopir sudah hapal dengan jalanan di sini. Pemberhentian pertama adalah gunung Batok. Silakan menikmati view gunung Batok dengan hamparan pasir di sekelilingnya. Awalnya saya pikir ini kawasan pasir berbisiknya. Ternyata saya salah. Kawasan pasir berbisik ada di belakang sana. Nanti kita ke sana yaa…. Di sini sebaiknya pakai masker, atau penutup kepala dan hidung. Soalnya, kadang-kadang angin datang dan mengangkut debu-debu beterbangan. Jadilah syal saya saya ubel-ubel biar menutup kepala, leher, juga hidung ๐Ÿ˜€

panorama di pemberhentian pertama....

panorama di pemberhentian pertama….

me love this pic so much... Keren ya?! Xixixi....

me love this pic so much… Keren ya?! Xixixi….

perempuan berkalung sorban eh pashmina ding :D Jadi kaya pake jilbab ya, padahal itu cuma diubel2 biar gak kena debu :D

perempuan berkalung sorban eh pashmina ding ๐Ÿ˜€
Jadi kaya pake jilbab ya, padahal itu cuma diubel2 biar gak kena debu ๐Ÿ˜€

Untung udah 'dibalut' pas debunya beterbangan gini...

Untung udah ‘dibalut’ pas debunya beterbangan gini…

Habis dari sini, kita ke tujuan utama, yaitu puncak Gunung Bromo. Sampai di pemberhentian kedua ini, kita akan diserbu oleh tukang kuda (aduh apa ya itu istilahnya). Mereka akan menawarkan jasa kudanya untuk mengantar kita sampai ke anak tangga menuju puncak Gunung Bromo. Harganya sekitar 50 ribuan. Tapi sebagai mantan pendaki gunung (halah! baru juga sekali naik gunungnya ๐Ÿ˜† ), saya pilih jalan kaki sampai puncak donk. Eits, tapi sebelum naik-naik ke puncak gunung, kita sarapan dulu yuk, lapeeerrrr….. Di sini ada warung tenda yang menjual cup mie seharga IDR 10rb. Lumayan lah buat ganjal perut dan cadangan tenaga jalan ke puncak Bromo. Hehe…..

sarapan dulu

sarapan dulu

mereka...teman seperjalanan

mereka…teman seperjalanan

menuju tangga itu dulu...

menuju tangga itu dulu… Jauh? ya…relatif sih…tapi saya sampai sana dengan gembira kok….

Akhirnya sampai puncak :D

Akhirnya sampai puncak ๐Ÿ˜€

Kawah Gunung Bromo, masih mengepul dengan bau belerangnya…. Eh..eh..di Bromo ini saya merasakan pentingnya tongsis! Hwakakakak……

Jadi begitulah perjalanan menuju puncak Gunung Bromo. Menikmati Bromo di siang hari?! Bisa. Nyatanya kami bisa menikmatinya dengan ceria. Ini belum selesai. Masih ada satu lagi yaitu pasir berbisik dan bukit teletubies. Tapi karna ini udah panjang banget, jadi bersambung lagi yaaa….. Oiya, ada yang nanya: berapa suhu Bromo siang hari? Mmm…waktu itu dengan baju seperti itu saya nyaman2 saja. Tidak begitu dingin juga. Agak sorean sekira pukul 15:00 baru mulai mendingin. Siapin jaket saja lah ๐Ÿ™‚

OK deh, sampai di sini dulu ceritanya. Dilanjut kalau saya mood ya.. Semoga gak lama…

Salam :kiss:

Turnamen Foto Perjalanan #57: Langit Biru

Huwoooo….temanya bikin gak kukuuu… Here is my sky…

2015/03/img_8579.jpg

Foto ini diambil pagi tadi (3 Maret 2015) sekira pukul 07:00 pagi saat berangkat kantor dari kawasan Prambanan, Sleman menggunakan iPhone 5 tanpa suntingan. Hamparan hijau menguningnya padi berpadu dengan biru langit pagi. Indahnya alam Indonesia. That’s why i love this country so deep.

Foto ini diikutsertakan pada Turnamen Foto Perjalanan 57 : Langit Biru

Perjalanan 2014

2015

Selamat tahun baruuu….. Ish, terlambat banget ya. Haha… Gak papa deh, mumpung Januarinya belum habis, masih bisa ngucapin selamat tahun baru buat teman-teman semua :mrgreen: .

Jika menilik setahun ke belakang, sepertinya waktu berlalu dengan sangat cepat, tiba-tiba sudah tiba lagi tahun yang baru. Banyak hal dialami, tetapi yang paling tampak adalah tahun 2014 saya dipenuhi dengan perjalanan. Meskipun tentu saja tidak hanya itu. Ada syukur yang teramat sangat, seperti pada bulan Februari saat keluarga kami merayakan ulang tahun Bapak yang ke-80. Ada duka mendalam saat kehilangan sahabat, saudara, keluarga, si M yang adalah Simon, yang saya ceritakan di sini, pada bulan November lalu. Ada banyak cerita yang tak sempat kubagikan pada dunia. Baiklah, mari kita rangkum saja perjalanan 2014 menjadi satu postingan di blog yang sudah berdebu dengan jaring laba-laba belang di tembok keraton putih temboknya. Sepertinya ini bakal jadi postingan yang panjang… Skip-skip aja kalau lagi sibuk yaa… ๐Ÿ™‚

Januari

Awal tahun 2014, saya melakukan perjalanan ke pulau Sumatera tepatnya ke Sumatera Barat. Perjalanan ini adalah dalam rangka ‘kopdangan’, kopdar sekaligus kondangan ke tempat Bundo LJ. Ini adalah pertama kalinya saya bertemu Bundo. Ini juga pertemuan pertama saya dengan ย teman perjalanan yang luar biasa: Putri, Bunda Lily, Bunda Monda. Tak afdol rasanya sudah sampai bumi Minang tapi tidak jalan-jalan. Kami sempat berkunjung ke lembah Harau, tarusan Kamang, rumah puisi Taufik Ismail, Panorama, Taruko, Rumah Bung Hatta, Istana Pagaruyuang, dan banyak lagi. Menyenangkan pakai banget deh pokoknya… Pengen jalan-jalan bareng lagi. Kapan ya?!

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Februari

Bulan Februari adalah bulan bahagia bagi keluarga saya. Yes! Bulan ini Bapak kami berulang tahun pada tanggal 4, dan tahun 2014 kemarin adalah ulang tahunnya yang ke-80. Puji Tuhan, bersyukur atas anugerah kesehatan dan usia bagi Bapak. Kami mengadakan persekutuan doa bersama mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan buat Bapak dan keluarga kami.

Di bulan Februari 2014 juga terjadi erupsi Gunung Kelud pada tanggal 13 dan tepat pada hari Valentine dini hari abu vulkaniknya sampai di Jogja dan menjadikan seluruh Jogja kelabu. Tetapi sejak beberapa hari sebelumnya, saya sudah berniat nonton konser KLa Project pas tanggal 14 itu. Jadilah nonton konser dalam kedukaan. Tapi untungnya konsernya diubah jadi konser amal, jadi lebih nyaman nontonnya ๐Ÿ˜€

Karna abu vulkanik itu, kawan saya, Simon, yang punya tambak udang memanen udangnya, kebetulan sudah hampir tiba waktu panen dan takut kenapa-kenapa kalau tersiram abu segitu banyak. Diundanglah kami teman-temannya untuk ikut di panenan. Kami pun datang seperti kuceritakan di sini. Pulangnya kami dibawain satu plastik udang per orang. Bukan hanya itu, beberapa hari kemudian kami diundang lagi untuk syukuran panenannya. Ah, Simon…. How i miss you, Mon… ๐Ÿ˜ฆ

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Maret

Bulan Maret, sebelum tugas kantor bertumpuk-tumpuk, saya dan teman-teman kantor mengambil waktu untuk jalan-jalan. Gak jauh-jauh yang penting happy.. Kami jalan-jalan ke Gunung Api Purba Nglanggeran dan Pantai Sadranan dan Kukup di Gunung Kidul. Tentang pantai Sadranan sudah saya ceritakan di sini, tapi bolehlah saya kasih beberapa fotonya lagi di sini, ditambah foto di Nglanggeran yang belum saya bagi di blog. Hadeh…modus pamer bingit ya.. ๐Ÿ˜€

Oiya, bulan ini saya berkesempatan kopdar dengan penulis buku Niskala, mas Daniel Mahendra, sekaligus kopdar dengan blogger senior seperti Bunda Tuti Nonka dan Uda Vizon.

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

April

April…mmm….ini bulan Pemilu kan yaa… Pemilu legislatif. Selain itu, ini juga bulan reuni. Saya reunian dengan teman-teman SMA yang tinggal di Jogja di kontrakan saya. Saya juga kedatangan sahabat baik waktu kuliah yang berasal dari Bali. Ini juga bulan yang happy ๐Ÿ˜€

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Mei

Bulan Mei tahun lalu saya dapat kesempatan mengikuti training di Penang, Malaysia. Hampir sebulan saya di sana. Bertemu dengan teman-teman dari negara lain memang selalu menyenangkan. Menambah wawasan dan pengalaman, berbagi dan berdiskusi. Bersyukur mendapat kesempatan itu. Nah, selain belajar tentu saja ada sesi jalan-jalan. Haha…. Saya berkesempatan mengunjungi George Town dan Bukit Bendera di Penang, lalu Twin Tower, Putrajaya, dan Batu Cave di Kuala Lumpur. Bersyukur, bersyukur, bersyukur…

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Juni

Bulan Juni kantor kami ‘bandung bondowoso’ melaksanakan pelatihan Kurikulum 2013 bagi Guru Sasaran yang akan melaksanakan kurikulum 2013. Bulan ini saya tidak mengenal hari Sabtu-Minggu. Everyday is a working day, dengan perjalanan ke sana kemari. InsyAllah kami ikhlas, meskipun sekarang kurikulum 2013 dihentikan sementara implementasinya. Yup, memang masih banyak kekurangan di sana sini pada tataran implementasi, tetapi secara konseptual K13 bagus kok, tidak berubah 180 derajatย dari kurikulum sebelumnya tetapi hanya melengkapi. Ups! Kok jadi bahas kurikulum. Hihi… Back to postingan jalan2 aja ya :mrgreen:. Nah, di bulan Juni ini, keluarga kami juga mantu ponakan. Padahal saya masih ribet dengan kurikulum. Akhirnya pas tanggal itu saya minta lokasi pelatihan yang di Purworejo biar bisa izin sehari untuk datang ke nikahan ponakan. Puji Tuhan, akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga di hari pernikahan ponakan ๐Ÿ™‚

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Ternyata udah panjang dan lebar ya, padahal baru 6 bulan ni ceritanya… Hmm… Mau dilanjutin sampai Desember atau dipotong sampai sini dulu ya?? Ah, berhubung tahun 2014 blog ini cuma berisi 19 postingan, jadi dipotong jadi 2 aja deh, biar dapat 2 postingan. Hihi…. Jadi, demikian dulu cerita tentang perjalanan saya di tahun 2014 ya, teman-teman. Ini buat arsip pribadi saya aja sih. Terima kasih buat yang masih sudi mampir dan berkenan baca ^_^ .

Salam hangat dan jangan lupa bahagia ๐Ÿ™‚

Sadranan i’m in love

pantai sadranan.jpgMelihat landscape di atas, bayangan kalian pantai indah itu ada di mana? Bali? Lombok? Hoho… Pantai indah itu ada di Jogja, tepatnya di Gunung Kidul, DIY. Namanya: Pantai Sadranan.

Minggu kemarin, saya dan teman-teman kantor melakukan perjalanan ke Gunung Kidul, dan salah satu destinasi wajib kunjung di Gunung Kidul adalah pantai. Kita menuju pantai-pantai selatan di wilayah Gunung Kidul yang dulunya dikenal dengan area BKK. Apa itu BKK? BKK itu Baron-Kukup-Krakal. Dulu yang terkenal memang 3 pantai itu. Tetapi lama-lama, semakin banyak pantai-pantai indah yang dikembangkan untuk area wisata.

Memasuki pos retribusi, kita membayar biaya retribusi 10 ribu rupiah per kepala, dan itu sudah bisa menikmati 10 pantai di areal BKK situ. Murah banget. Tapi ada yang mengganjal buat saya, karena kita membayar untuk 8 kepala dan hanya dikasih karcis 2 lembar. Hmm….ke mana 6 lembarnya??

OK, tujuan pertama kami ke pantai Kukup. Saya sudah pernah kemari, mudah-mudahan nanti bisa saya tuliskan tentang pantai ini juga :). Selanjutnya kami ingin ke pantai Pulang Syawal/Indrayanti, tapi saya pengen ke pantai yang belum terkenal aja. Akhirnya teman yang pegang kemudi membelokkan mobil ke pantai Sadranan. Pantai Sadranan ini kalo dari pantai Kukup ambil arah kanan, melewati pantai Krakal masih lurus saja, nanti ketemu pertigaan yang ada plang pantai Sadranan gitu ambil kanan lagi. Nah, habis itu ketemu penginapan baru deh ambil kiri, jalan kecil dan berbatu. Mungkin karna aksesnya belum lebar makanya sampai sana hanya ada beberapa motor yang parkir dan mobil kami saja. Waw!! Begitu memasuki kawasan berpasir putih, jantung saya langsung berdesir, masyaAllah….keren sangaaadddd…..!! Saya ambil alih kamera yang tadi dipegang teman: aku mau motret2!!

pantai sadranan gunung kidul.jpg

20140327-213239.jpg

Airnya di sini jerniiiih banget!! Kamu bisa liat ikan kecil-kecil warna warni di sini. Lucuuu…. Saranku sih jangan diambil, dinikmati aja. Toh kalau diambil, dibawa pulang juga mungkin cuma akan mati karna kadar garam airnya tidak sesuai. Biarin aja mereka berenang-renang di sini yaa… ๐Ÿ™‚

ikan mungil di pantai sadranan.jpg

Pantai Sadranan ini tempatnya masih sepi, padahal keindahannya tiada tara begini. Ombaknya hampir tidak ada. Pantai ini berkarang, jadi ombak sudah pecah membentur karang di tengah sana, sampai di pinggir sudah tinggal gelombang kecil saja. Nyaman banget kalau dipakai berendam. Sayaaaang banget kemarin gak bawa baju renang atau setidaknya yang bisa basah-basahan. Makanya masih penasaran pengen ke sana lagi, pengen berendaaam.. ^_^

20140327-214251.jpg

20140327-214258.jpg

20140327-214323.jpg

Gimana? Kereeen kan?

Lho, foto Tt mana? Eh, belum ada ya?? Tenang..tenang.. Tt mah gak bakal ketinggalan nampang. Hihihi… Nih!

20140327-214744.jpg

20140327-214757.jpg

20140327-214813.jpg

20140327-214831.jpg

Harapanku, pantai ini akan tetap bersih seperti ini. Gak usah ramai-ramai deh, yang ramai biar di Indrayanti aja :P. Tapi habis kemarin foto pantai ini dishare sama admin twitter @JogjaToday dan banyak yang retweet, kayanya pantai ini bakal makin ramai nih.. Yang penting tetap jaga ketenangan dan kebersihan yaa…

Salam #pokokepiknik \^_^/

Gagal Menemukan Sang Ratu #myDreamyVacation

Sore tadi selepas jam kantor, saya sempat mengetik beberapa paragraf tentang my dreamy vacation seperti yang ditanyakan Mak Indah. Sudah thirik-thirik gitu deh ‘mimpi’ jalan-jalan saya. Dari Sumatera sampai Papua.. Yang Belitung, Derawan, Bromo, Tana Toraja, sampai Raja Ampat. Tapi ketika akhirnya saya menyimpannya di draft, menurup browser internet, shut down dan keluar ruangan, saya dapati langit di sisi barat masih biru padahal waktu sudah menunjuk pukul 17:15. Saya buru-buru mengirim pesan ke kawan saya: aaa…ceraaahhh!! Dan sebuah perjalananan pun dimulai.

Suatu hari ada teman bertanya pada saya: senja di Ratu Boko itu indah banget ya, Tik.. (semacam pemberitahuan yang meminta persetujuan). Hmm?!! Saya gelagapan sendiri. Saya belum pernah ke Ratu Boko ๐Ÿ˜ฆ . Lalu saya browsing di internet dan menikmati foto-foto senja di Ratu Boko yang memang indah bangettt…!!! Coba lihat yang ini:

20140319-234805.jpg
credit

Indah kaaannn??? ๐Ÿ˜ฉ

Sejak peristiwa itu, saya punya keinginan kuat untuk bisa menikmati senja di candi Ratu Boko! Sendirian!
Tapi sore akhir-akhir kemarin belum bersahabat, kalau tidak hujan ya saya pulang kemaleman. Dan waktu sore tadi pulangnya masih terang benderang, maka saya pun segera mengarahkan Jeung Ngatini (motor saya) melaju ke arah Candi Prambanan. Dari kantor saya hanya 25 menit. Dari Candi Prambanan, Candi Boko masih ke selatan kira-kira 3km. Saya dan Jeung Ngatini pun cepat melaju. Tujuannya supaya masih dapat senja di Ratu Boko.

20140320-002137.jpg

Tapi apa yang terjadi? Saya kesasar, Saudara! Jadi sampai plang parkir bus Ratu Boko, ternyata portalnya tertutup. Saya lalu meminta bantuan google map untuk menunjukkan rute menuju Ratu Boko. Google map memang membantu. Tapi dikasih plus juga bantuannya: plus nyasar! Senja sudah mulai rendah, horizon sudah menjingga tuh, saya makin tertantang donk untuk nyari jalan menuju candi. Saya pun kembali ke tempat masuk parkir bis yang portalnya tertutup tadi, lalu meneruskan gas ke selatan sampai ada plang arah Ratu Boko lagi. Saya ikuti plangnya. Senja mulai berubah kelam. Binatang-binatang kecil mulai menyambar-nyambar mata yang walaupun sudah kaca mataan terap kesamber juga. Saat memasuki perkampungan, saya mulai curiga. Jalannya sempit dan menanjak. Semula masih ada lampu jalan, tapi lama-lama kok gak ada, gak ada orang lewat juga, hari sudah mulai gelap dan saya sendirian!! Aaaakkk…. Langsung saja kasih komando ke jengNgat: ambil u-turn, segera!! Yak, kami pun putar balik dan pulang…… Hiks banget ya.. Udah sampai ‘lokasi’ Ratu Boko, tapi akhirnya tak menemukan Sang Ratu ๐Ÿ˜ฆ Tapi daripada sudah jauh-jauh gak dapat foto apa-apa, baiklah jepret dulu senja yang hampir habis itu.. Nih!

20140319-235053.jpg

Saya masih penasaran dengan senja dari candi Ratu Boko! Saya harus ke sana lagi!! Sampai menemukan Sang Ratu!! Harus!! *kepalkan tangan tinggi2*

It’s My Dreamy Vacation!!! *sederhana yak, cuma nemuin Ratu (Boko), lalu nikmatin senja di situ, iya di situ doang, gk jauh2…*

20140320-000611.jpg

Ikutan giveawaynya Mak Indah Nuria Savitri ^_^

Lihatlah dari sisi yang lain… (1)

Tentang meletusnya Gunung Kelud dan hujan abu yang turun di sejumlah daerah di Jawa menyisakan banyak kisah. Malam itu (13 Februari 2014) salah seorang teman menulis status di FB kalau mendengar suara gemuruh lalu menduga-duga apakah Gunung Kelud sumber suaranya. Saya yang sudah tiduran di kamar bergegas keluar dan menyalakan TV. Reporter TV menyiarkan meletusnya Gunung Kelud dengan latar belakang kilatan-kilatan ngeri di langit hitam. Group di WhatsApp pun mulai ramai. Malam itu kengerian yang pernah kurasakan saat meletusnya Gunung Merapi kembali terasa.

Esok paginya, saat bangun tidur sekitar pukul 5, rasanya ingin segera keluar rumah. Dan saya begitu syok mendapati halaman rumah sudah berwarna putih, meski masih ada sisa tanah yang bersih dari abu di bawah teras. Saya membangunkan ponakan dan menyalakan TV. Pagi itu grup WhatsApp sudah ramai sejak subuh. Saya tak juga beranjak dari kasur di depan TV, menyimak berita di TV dan obrolan di WhatsApp. Hari masih gelap, padahal ketika kulihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Menjelang pukul 7, langit menjadi merah. Merah seluruhnya. Jujur saja, saat itu saya justru takjub, ya Tuhan indahnyaa… Pukul 8 langit mulai tampak seperti pukul 5:30 biasanya. Hujan abu masih deras. Saya masih belum memutuskan untuk berangkat kantor karna derasnya hujan. Manajemen segera rapat darurat dan tak berapa lama memutuskan meliburkan kantor karna hujan abu yang cukup deras. Ya, memang pagi itu sangat deras. Saya keluar dengan payung transparan, dan hanya beberapa detik payung saya sudah semacam di foto ini.

Hari itu saya memutuskan diam di rumah tanpa keluar-keluar. Kemarin habis belanja barang kebutuhan, termasuk makanan2 instant. Tapi namanya ‘harus’ terkena bencana, ternyata kompor di dapur error gasnya (ngesess..) plus air galon pun habis. Jadi sama saja tidak bisa bikin ind*mie rebus atau semacamnya untuk isi perut. Bersyukur sekitar pukul 10 pacarnya ponakan datang bawa air mineral 1,5 liter dan makanan kecil. Lumayan lah untuk sarapan. Sekitar pukul 11, saya mendengar suara Bapak kontrakan membersihkan halaman. Wah, sebelum halaman kontrakan ikut dibersihkan Bapak, lebih baik segera menyingsingkan lengan baju, dan membersihkan halaman. Apa kata dunia kalau sampai Bapak yang membersihkan halaman kontrakan. Jadi siang itu saya dan Bapak, berdua membersihkan halaman, Bapak membersihkan halaman kost2an, saya membersihkan halaman kontrakan. Hasil pengumpulan abu diserahkan pada Bapak untuk disingkirkan ๐Ÿ˜€

Selesai bebersih halaman, ada teman datang membawakan makan siang. Karna dipikir cuma dekat, teman saya ini tidak memakai mantel untuk menutup badannya. Hasilnya, sampai kontrakan saya, baju, celana, dan semuanya penuh dengan abu. Aduh Man..Man.. Tapi terima kasih banyak bantuan logistiknya ya.

Hari itu memang kami diam di dalam rumah, ‘menikmati’ hujan abu yang cukup tebal. Tapi masih ada banyak hal yang bisa disyukuri dari kejadian hujan abu itu. Bersyukur masih bisa dibersihkan, bersyukur masih ada persediaan ataupun bantuan makanan, bersyukur ketika melihat berita di TV, tidak banyak korban dan para pengungsi pun aman.

Alam menyeimbangkan dirinya. Gunung meletus, insya Allah, akan mendatangkan kebaikan nantinya. Keseimbangan alam, kesuburan tanah, pun kebersamaan warga. Berdoa semoga para korban nyawa maupun harta benda boleh diberi keikhlasan dan kekuatan untuk menerima ‘anugerah’ dari Tuhan ini dan kita semua juga boleh belajar dari setiap kejadian di muka bumi ini… Aamiin..

.

*iyee…ini emang postingan telaaaaat banget.. biarin ah, buat catatan pribadi ^_^