Iman Mengalahkan Kecemasan

Kecemasan membuat kita melihat sesuatu
yang sebenarnya tidak ada,

kecemasan membuat kita menjadi lumpuh
sebelum kita akhirnya benar-benar jatuh,

kecemasan menimbulkan berbagai masalah di mana
kedamaian seharusnya justru berada.

Percaya dan bergantunglah kepada Allah
untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang akan
mengakhiri kecemasanmu.

RON HISER

Yang hatinya teguh Kaujagai dengan
damai sejahtera, sebab kepadaMU-lah ia percaya. 
(Yesaya 26:3) 


———————————

#dikutip dari pembatas Alkitab

Tentang Dewa

Siapa yang kemarin nonton Konser Mahakarya Ahmad  Dhani? Saya nonton donk… Di TV? Di youtube donk. Hahaha…. Sempat ditanya juga si sama teman: mbak, kalau misalnya mb Titik di Jakarta, mbak nonton konsernya nggak? Hla dengan mantab hakul yakin kujawab: Pasti! Hihi…gayanya!

Pertama kenal Dewa ya Dewa 19 dengan lagu Kangen ituh. Waktu itu masih SD kaya’nya, karna saya ingat betul, jaman SMP itu udah album Pandawa Lima yang ada lagu “Kamulah Satu-Satunya”. Kok inget Tik? Pastinya ada cerita dengan lagu tersebut. Uhuk… :P. Ngomong-ngomong tentang Dewa, boleh dibilang saya penggemar berat..mmm gk berat-berat banget sih tapi lumayan hapal dengan lagu-lagunya. Saya punya kaset Dewa dari album kedua Format Masa Depan sampai album keenam Cintailah Cinta. Iya, kaset pita. Jaman itu belum ada CD bajakan #ups, harga CD ori masih mahal untuk ukuran saya (kaset aja termasuk mahal), dan yang gk kalah penting saya ndak punya pemutar CDnya :D. Mudah-mudahan kaset-kaset itu masih terawat di rumah sana. #mbakkuuuu, tengokin kaset2ku, diputar sesekali biar gk berjamur yaa…

Dan, mengenai konser Ahmad Dhani kemarin, saya sama sekali gk greget dengan Agnes Monika dan bintang tamu lainnya. Kehadiran Ari Lasso dan Once (tapi terutama Ari Lasso), membangkitkan energi buat saya untuk melompat, mewek, merinding, dan membuka kenangan masa lalu. Buat saya pribadi, konser Ahmad Dhani adalah konser nostalgia. Dan buat saya pribadi (lagi), Ari Lasso adalah the best performer di panggung malam itu. Dan kalau ditanya lagu apa yang paling saya suka, saya ndak bisa jawab, semua suka. Lagu-lagu Dewa, hampir semua suka. Saya bilang hampir semua, karna saya tidak mengenal beberapa lagu di album pertama mereka dan lagu-lagu di album terakhir-terakhir mereka. Dan mungkin bukan hanya saya yang merasa kualitas lirik lagu Dewa (baca: Dhani) kian lama kian menurun, tidak sepuitis dan sedalam dulu.

OK lah, konser kemarin memang bukan konser Dewa, tapi konser Mahakarya Ahmad Dhani. Tapi mau gimana lagi, Dhani ‘besar’ bersama Dewa, jadi banyak karya-karyanya yang dinyanyikan Dewa, yang itu artinya Dhani identik dengan Dewa #duh ribet amat ya ngomongnya#. Yuk ah, nonton konsernya lagi aja…gk bosen saya. Dan inilah salah satu soundtrack hidup saya jaman SMP. Haha…. Yattaaa…..!! Lompaaaaattttt!!!!

————————————–

Serial Barra-Kinar-Kayla sedang libur. Mereka sedang sama-sama menepi. 😀 #penulishilangide

Hadiah Terindah

Wah, hari ini Pakdhe menulis tentang Hadiah Terbaik yang Bisa Kita Berikan. Seru nih. Soalnya saya dulu pernah dapat tali asih dari Pakdhe waktu nulis tentang Kado Pernikahan untuk Sahabat. Masih ada hubungannya kan? Hehe… Tapi kali ini saya bukan mau mengulang apa yang saya tulis dulu, tapi menanggapi tulisan Pakdhe hari ini.

Tulisan Pakdhe simple tapi romantis. Ada suatu kisah yang dikutipnya. Tentang seorang suami yang ingin ditemani istrinya menikmati matahari terbenam di balik gunung sampai hari berakhir. Uhuk…saya kok jadi deg-degan sendiri. Halaghh!!

Tentang hadiah terindah yang pernah saya dapat, sesimpel cerita itu juga kelihatannya, tapi bagi saya tidak simpel, adalah ketika Bapak bersemangat untuk sembuh dari sakit demi mengantar saya ke bandara saat keberangkatan ke Jepang. Itu adalah hadiah terindah dari Bapak dan dari Tuhan yang diberikan kepada saya menjelang keberangkatan saya.

Atau sebuah pesan singkat dari sahabat yang mendarat di HP saya dalam perjalanan dari Jogja menuju Jakarta untuk selanjutnya menuju Jepang: “Sahabatku, selamat belajar di negeri sakura. Jangan cengeng lagi di sana ya, ndak ada yang dipinjami pundaknya”. Siapa yang tidak tersenyum dibuatnya, dan bahkan merasa pundaknya yang sering saya pinjam untuk menangis itu ikut saya bawa ke Jepang untuk sewaktu-waktu saya pakai jika membutuhkan. Simple ya…

Lalu apa yang bisa saya berikan untuk Bapak dan sahabat saya itu? Kabar dari sini bahwa saya baik-baik saja, tidak sakit, tidak cengeng lagi, dan tambah gemuk, adalah hal sederhana yang membahagiakan bagi Bapak dan sahabat saya.

Kadangkala hadiah istimewa itu tidak harus mewah. Yang sederhana, tapi memberi arti yang dalam, itulah hadiah terindah…

——————————-

Artikel ini untuk menanggapi artikel Blogcamp berjudul Hadiah Terbaik Yang Bisa Kita Berikan tanggal 20 Juni 2012.

[15HariNgeblogFF2#day9] Genggaman Tangan

Kereta Prameks tujuan Solo baru saja berangkat, pukul 7 lebih sepuluh. Barra segera mengambil handphonenya, ditelponnya Kinar dengan gelisah. Tidak diangkat. Ditelponnya lagi dan lagi, tetap tidak ada jawaban. Dikirimkannya pesan singkat: “Kinar, tolong angkat telponnya”. Tetapi setelah mencoba lagi, tetap saja tak ada hasil. Barra bergerak menjauhi stasiun menuju rumah Kinar.

“Eh, Nak Barra, apa kabar? Sudah pulang dari dinas luar? Kinar sudah nunggu-nunggu lho…” Ibunda Kinar menyambut Barra dengan grapyak.

“Kabar baik, Bu. Kinarnya ada?”

“Kinar tadi keluar sama Renata, mau jalan-jalan keliling Jogja katanya. Sudah kangen sekali dia dengan Jogja. Nak Barra sudah hubungi HPnya?”

“Sudah Bu, tapi tidak diangkat, mungkin sedang di jalan.”

Barra akhirnya pamit. Dengan keresahan dia mencari Kinar keliling Jogja. Tapi tak juga ia temukan. Kinar, kamu di mana? Barra gelisah.

***

Pagi ini harusnya Barra ke Solo setelah kemarin Kayla ke Jogja menemuinya. Tapi Barra masih belum tenang, pikirannya masih ada pada Kinar. Puluhan sms yang dikirimnya tak satupun yang mendapat balasan. Puluhan kali telponnya, tak ada yang diangkat. Kinar, aku tahu kamu marah besar, tapi izinkan aku bicara…

Barra menuju rumah Kinar. Kali ini Renata yang menemuinya. Dengan wajah asam bin pahit penuh kebencian Rena menjawab pertanyaan Barra.

“Rena, Tante Kinar…?”

“Pergi!”

“Pergi ke mana Re?”

“Emang penting buat mas Barra tahu ke mana Tante Kinar pergi? Mas Barra kan…”

“Sssttt…please Rena, kasih tau ke mana tante Kinar. Tante Kinar pasti sedang kalut, mas Barra butuh bicara dengan dia..”

Melihat raut wajah Barra yang serius dan gelisah, Rena pun tak tega.

“Tadi katanya mau ke Karanganyar, Solo, Mas..” suaranya melembut.

Karanganyar? Barra tau pasti ke mana Kinar pergi. Dalam suasana hati yang kacau, Kinar biasanya menepi, kalau tidak ke pantai ya ke bukit. Dan saat Rena menyebut Karanganyar, terbayang curug Tawangmangu tempat pelarian Kinar. Barra segera pamit, menstater motornya dan melesat.

“Hati-hati, Mas!” suara Rena tak lagi terdengar.

Dari Jogja ke Tawangmangu menggunakan motor memang tidak dekat. Tapi Kinar tidak peduli. Dia membawa motor sendirian, dalam hati yang kalut. Sungguh berbahaya. Dan sekarang Barra pun menyusulnya, juga dengan motor dan juga dalam kekhawatirannya. Ah…mereka berdua…

Setelah menuruni tangga yang panjang dan melelahkan, akhirnya Barra sampai di air terjun di Tawangmangu ini. Benar saja, dia menemukan Kinar sedang duduk mengamati air yang meluncur dari atas bukit. Ah, untunglah tebakan Barra benar, kalau tidak, sia-sialah perjalanan motornya plus perjalanannya menuruni tangga.

“Kinar…”

Kinar terkejut. Dia hapal betul suara itu. Bagaimana Barra bisa sampai di sini?? Kinar bergeming. Barra mendekatinya dan duduk di bebatuan di sampingnya. Menatap Kinar.

“Kinar…”

Kinar tetap bergeming. Barra tak tahu harus memulai dari mana.

“Kinar aku minta maaf…”

Akhirnya kalimat itu yang keluar. Bergemuruh hati Kinar. Kinar tak kuasa menahan air matanya.

“Minta maaf untuk apa?”

“Kinar… Aku minta maaf telah menyakiti kalian berdua…”

Barra pun sama terpuruknya. Dia menyadari kesalahannya. Dia telah menyakiti dua perempuan baik yang tulus mencintainya.

“Kayla itu siapa? Apa benar dia tunangan Mas?”

Hati Barra sakit mendengar pertanyaan Kinar. Sakit karna jawaban yang akan dia berikan akan sangat menyakiti Kinar. Barra gemetar. Gentar.

“Kenapa tak dijawab, Mas? Kayla itu siapa?”

Dengan air mata berlinangan Kinar menatap Barra yang tertunduk. Pun menahan air matanya. Barra menghela nafas, mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Digenggamnya tangan Kinar.

“Kinar.. Biar kuceritakan padamu semuanya. Semua yang kusembunyikan darimu. Iya. Kayla itu tunanganku..”

Bagai dijatuhi bebatuan di kawasan air terjun Tawangmangu, Kinar tergugu…sakit…

“Aku telah mengenal Kayla jauh sebelum aku mengenalmu. Kami sudah lama berpacaran. Tetapi kemudian jarak memisahkan kami, aku di Jogja dan dia mendapat tugas di Makassar. Lalu kamu datang dengan semua keceriaanmu, aku menyayangimu Kinar, tetapi berbeda dengan yang kurasakan pada Kayla. Sampai akhirnya aku tahu perasaanmu padaku tidak seperti yang kurasakan padamu. Aku bersalah tak mampu mengendalikan itu, tak mampu mencegah itu terjadi. Maafkan aku Kinar….”

Kinar semakin tergugu. Hatinya penuh dengan kesedihan, juga kemarahan.

“Kenapa mas tidak pernah bilang kalau mas sudah punya pacar? Kenapa mas tidak jujur dari dulu? Kenapa mas harus datang ke Bandung waktu itu? Kenapaaaaa?!”

Barra meraih Kinar yang kalap dalam pelukannya. Kinar menangis tersedu-sedu di dadanya. Barra tau pasti luka hatinya. Dan inilah yang paling ia takutkan selama ini. Meski tetap akan sampai pada masanya. Pelukan dan genggaman tangannya kini, tak lagi sanggup mengobati luka hati Kinar.

Kinar maafkan aku…

———————————

Word count: 700 (pas!)

Masih berlanjoooootttt…..

Yang sabar ya.. Jangan tonjok Barra dulu.. Jangan benci Kayla dulu… Jangan buru-buru kasihan sama Kinar… Hihihihi….. 😆

This is it: 9th day of #15HariNgeblogFF2.

[15HariNgeblogFF2#day8] Ramai

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…

Akhirnya, waktu kepulangan Kinar tiba. Kinar telah menyelesaikan studynya tepat waktu. Penerbangan Jepang-Jakarta disambung Jakarta-Jogja kali ini penuh dengan rindu. Rindu pada kampung halaman, rindu pada keluarga, rindu pada…Barra. Meskipun beberapa waktu menjelang kepulangannya, Kinar merasakan sesuatu yang aneh pada diri Barra, tetapi tetap saja ada nama Barra dalam kerinduannya.

Pesawat tiba di bandara internasional Adi Sucipto Yogyakarta pukul 2 siang. Ah..akhirnya menghirup udara tanah air lagi, meski 8 bulan lalu sempat menghirup udara Bandung. Jantung Kinar berdegup kencang begitu turun dari pesawat. Jogja, sebuah cerita baru akan dimulai di tanahmu.

Semua menyambut Kinar dengan gembira, Bapak, Ibu, kakak-kakak, ponakan-ponakan. Waduh, ini seperti penyambutan presiden saja, semua datang menjemput. Tapi Kinar tak melihat sosok Barra. Sedih menjalar ke hatinya. Ah, sudahlah, keluargamu sebanyak ini sedang bergembira menyambutmu, jangan biarkan mereka bersedih melihat dukamu.

**

Sudah seminggu Kinar di rumah. Barra sudah mengabarinya dan meminta maaf tak bisa menjemputnya di bandara bahkan belum bisa menemuinya hingga saat ini karna sedang dinas ke luar kota. Kinar maklum karna memang begitulah pekerjaannya. Komunikasi mereka memang sudah tak selancar dulu. Juga beberapa kejadian yang kerap membuat Kinar bertanya-tanya. Tetapi Kinar tetap mencoba berpikir positif: Barra sibuk dengan pekerjaannya.

“Tante, jalan-jalan yuk. Tante ndak kangen po sama Jogja?” ponakan Kinar yang sudah semester 2 di Gajah Mada itu menyentak lamunannya.

“Kangen banget, Re.. Yuk, jalan-jalan ke Malioboro, trus makan di gudeg Wijilan ya… Kamu yang bawa motor, tante bonceng!”

“Siaaaaapp!!”

Masih seperi dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat. Penuh selaksa makna.

Menyusuri jalan kaliurang selatan ringroad, Kinar protes.

“Ini kenapa jadi padet banget sih Re? Dulu belum ada resto pizza ini, dulu ada warung jagung bakar di sudut situ. Aih…”

Renata senyum-senyum saja. Perubahan itu cepet banget, Tante! Batinnya. Tapi memasuki kawasan Kotabaru, sebelah kali Code, Kinar tersenyum sendiri.

“Nah, yang ini masih sama Re.. Dulu Tante sering makan di angkringan sepanjang kali Code itu. Terus di dekat gereja Kotabaru itu, ada penjual duren, Tante sering beli di situ sama mas Barra. Atau juga di pojokan situ, ada penjual garang asem Solo dan nasi goreng sapi, nah kalo itu Tante seringnya sama mas Gilang, sahabat Tante jaman kuliah.”

Renata hanya terkekeh melihat tantenya bernostalgia. Motor pun terus melaju mendekati Jl. Malioboro, pusat kota Yogkarta.

“Tante deg-degan ni Re..”

“Kenapa Tan?”

“Banyak kenangannya di sini.”

“Hahaha…” mereka berdua tertawa.

Kinar meminta Renata memarkir motornya di sisi utara, supaya mereka bisa menyusuri Malioboro ini dari utara hingga titik 0 di ujung selatan Malioboro.

Ramai pedagang lesehan di kiri jalan, masih seperti dulu. Dan di sisi kanan, berjajar penjual pernak pernik asesoris buatan pengrajin rumahan, biasanya pengrajin ini berasal dari kabupaten Bantul. Juga baju-baju batik yang dijual sepanjang emperan toko. Murah meriah. Kaos-kaos dengan karikatur khas Jogja atau kalimat-kalimat menggelitik pun banyak di sana. Sore ini Malioboro ramai sekali. Kinar mengajak Renata ‘keluar’ dari  keramaian itu, menuju jalan jalur lambat. Beberapa andong parkir di sana. Tukang becak yang lewat menawarkan jasanya.

“Becaknya mbak, ke bakpia Pathuk atau Dagadu sepuluh ribu saja.”

Mboten Pak, orang Jogja juga ini Pak.” sahut Kinar dengan senyum dan anggukan. Renata terkekeh.

“Sudah mirip orang Jepang sih Tante, dikira Rena nganterin orang Jepang nih..”

Mereka berdua akhirnya sampai di Mirota Batik, letaknya berhadapan dengan pasar Beringharjo. Kinar mengajak Renata masuk. Pengen beli baju batik untuk kerja, katanya. Rena nurut saja. Tugasnya kan cuma mengantarkan Kinar menikmati Jogja.

“Tante sama mas Barra kalau beli batik di sini, Re..”

“Iya Tante.. Duh, dari tadi mas Barra terus ni yang diceritain. Bener-bener nostalgia kebersamaan dengan mas Barra yaa?” ledek Renata. Kinar meninju lembut bahu Renata.

…terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja…

“Tante…tante…” gugup Rena menepuk-nepuk Kinar yang masih memilih-milih batik, “mas Barra, Tante…”

Kinar tersentak. Barra ada di sini? Bukannya masih dinas di luar kota?

Kinar memalingkan wajahnya dari gantungan batik yang sedang dipilihnya. Bersamaan dengan itu Barra pun menoleh. Mereka bertemu pandang.

“Mas Barra…”

“Kinar…”

Gadis berkerudung ungu di samping Barra kebingungan.

“Siapa dia mas?” berbarengan kedua perempuan itu bertanya.

“Kinar, ini…” Barra bingung hendak mengenalkan gadis di sampingnya. Tetapi rupanya gadis itu lebih sigap, dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.

“Kayla, tunangan mas Barra.”

Bumi seolah berhenti berputar. Segala di sekitar Kinar memudar. Sebelum Kinar hilang kesadaran, Renata menepuk-nepuk bahunya. “Tante..tante…”

Kinar tersadar, dia hanya tersenyum pada mereka berdua. Sebelum mereka menemukan air mata di pelupuk matanya, Kinar menyeret Rena keluar.

“Ayo ke Parangtritis!”

“Tapi ini sudah sore Tante..”

“Sudah! Ayo ke Paris!” Kinar tergugu. Ramai pikiran berkecamuk di kepalanya. Dalam perjalanan menuju parkir motor, Rena tak mampu bicara apa-apa. Di seberang jalan sekelompok musisi jalanan menyanyikan lagu Didi Kempot. Cidro.

..musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu…

—————————

Word count: 772

Kelebihan 72 kata, Saudara! Sudah dihapus beberapa bagian, masih saja kelebihan. Jogja, terlalu banyak yang diceritakan darinya. Padahal harusnya settingnya Malioboro, kenapa meluas jadi Jogja? Xixixixi…..

OK deh, this is the 8th day of #15HariNgeblogFF2.

[15HariNgeblogFF2#day7] Biru, Jatuh Hati

:: hallo-hallo Bandung, kota kenang-kenangan..

Kinar menulis status di facebooknya. Sesaat kemudian muncul komentar dari sahabatnya.

“lagi di Bandung Kin?”

“Gilaaaaang…apa kabar??? Iya ni lagi di Bandung. Tapi Sabtu sudah balik Jogja lagi.”

“mampir Ciamis donk, kita kan belum pernah ketemu sejak kamu pulang dari Jepang. Nanti jalan-jalan ke Pangandaran deh…”

“waaa….mauuu…”

Gilang adalah sahabat Kinar sejak kuliah dulu. Dia tinggal di Ciamis, di kecamatan Pangandaran. Rumahnya tak jauh dari pantai Pangandaran, tinggal bersepeda saja sudah bisa menikmati panorama pantai dengan kapal-kapal nelayan yang menghiasi. Saat kuliah mereka sangat dekat, maklumlah satu kelas, satu organisasi, punya kecintaan yang sama selain musik, lukis, juga mendaki gunung. Klop sudah. Sejak kuliah mereka sudah saling berbagi cerita. Tak hanya Kinar, tetapi juga Gilang tak sungkan membagi kisahnya pada Kinar. Yah, mereka bersahabat, persahabatan antara laki-laki dan perempuan, yang konon tak pernah ada yang murni.

Kinar akhirnya memutuskan untuk ke Ciamis hari Sabtu. Bandung-Ciamis cuma 2 jam lebih sedikit dengan bis. Kinar sudah minta Gilang untuk membelikan tiket travel ke Jogja untuk Sabtu malamnya, supaya bisa sampai Minggu pagi dan bisa beristirahat di hari Minggu sebelum masuk kerja lagi Seninnya. Semua sudah beres. Gilang tak sabar ingin segera bertemu Kinar, begitupun Kinar. Pukul 1 lebih Kinar sampai di rumah Gilang. Ibunda Gilang sudah memasak berbagai masakan untuk menyambut Kinar. Kinar jadi tak enak hati, apalagi Kinar tak membawa oleh-oleh apa-apa untuk Ibu Gilang.

“Wah, neng Kinar cakep pisan ya sekarang, kurusan dibanding jaman kuliah dulu. Jepang bikin neng Kinar tambah putih ni..”

Begitu komentar Ibu Gilang begitu melihat Kinar. Beliau memang pernah bertemu Kinar dua kali. Pertama waktu Kinar dan teman-temannya main ke Pangandaran saat kuliah dulu. Rumah Gilanglah tempat mereka singgah dan menginap. Kedua waktu mereka wisuda. Kinar tak percaya ibu masih ingat padanya karna dulu Kinar gemuk sedang sekarang langsing (kalau tidak mau dibilang kurus).

“Ah, Ibu bisa saja. Masih seperti dulu kok Bu, cuma sekarang ndak banyak waktu buat susur pantai atau manjat yang bikin kulit hitam.” mereka berdua tertawa “Ibu kenapa musti repot-repot begini?”

“Ndak papa Neng, demi tamu agung Gilang” Ibu melirik Gilang dan tersenyum penuh isyarat.

Seusai bercengkerama bersama keluarga Gilang, mereka bersepeda ke pantai. Di antara pohon kelapa di tepi pantai mereka duduk dan menikmati birunya laut sambil berbincang.

“Berarti sudah berapa lama kamu di rumah Kin?”

“Dua bulan Lang. Tapi langsung dihujani banyak pekerjaan, plus ada proyek penelitian dengan teman di Bandung.”

“Kamu masih saja seperti dulu, selalu sibuk.”

“Ah, ndak juga kali Lang, buktinya masih bisa main ke sini.” mereka tersenyum. Jeda sesaat.

“Barra gimana kabarnya?”

“Sepertinya baik. Mau menikah dia.”

Gilang mengerutkan kening. “Sepertinya”? “Dia”?

“Dia? Kenapa tak kaubilang ‘mau menikah kita’, gitu to Kin?”

“Menikahnya bukan sama aku, gimana mau kubilang ‘kita’, to Lang?” kata Kinar sambil terkekeh.

“Maksudmu?” Gilang menatap Kinar lekat-lekat. Kinar menghela nafas, menundukkan kepalanya dan bermain-main dengan sepotong ranting yang tiba-tiba ditemukan di sampingnya duduk.

“Barra sudah memilih perempuan lain Lang. Tapi aku pun sangat mengerti, dua tahun kutinggalkan pastilah tidak mudah untuknya tanpa siapapun di sampingnya yang bisa menemaninya, merawatnya, mencintainya, dicintainya.”

“Tapi kalian kan…”

“Sudahlah Gilang… Dia pasti lebih tau apa yang terbaik untuknya. Aku pun yakin bahwa perempuan itu pastilah lebih baik dariku. Lagipula selama ini kami tidak pernah “resmi” berpacaran, hanya saling menyayangi dan mengisi, tanpa ada permintaan atau lamaran apapun darinya padaku. Karna itu ketika aku tak mampu lagi mengisi hidupnya, dia boleh mencarinya dari yang lain. Aku tak berhak apa-apa atasnya….”

“Kinar….” Gilang hanya mampu berbisik tanpa sanggup berkomentar apa-apa.

“Iya Gilang…” dan Kinar malah menyahutnya sambil bercanda.

“Kamu ini…akunya berempati malah kamu hahahihi.. Trus kamu gimana sekarang?”

“Sekarang?! As you see, i’m absolutely fine. Aku baik-baik saja Gilang.” Kinar tersenyum. Gilang meraih bahu Kinar, ditepuk-tepuknya sambil bergumam ‘kamu sungguh tegar Kinar’. Kinar memalingkan wajahnya menatap Gilang dan tersenyum. Dalam hatinya dia berterimakasih pada Tuhan, mengirimkan sahabat sebaik Gilang.

“Terimakasih ya…” Kinar berbisik pada Gilang dan Gilang mengeratkan pelukannya.

Di depan sana hamparan biru pantai Pangandaran masih menari-nari. Gilang membiarkankan Kinar merebahkan kepala di bahunya. Dia tahu betul, di lubuk hati Kinar ada luka yang teramat dalam meski bibirnya tetap tersenyum. Perempuan ceria dan tegar yang telah sejak lama diimpikannya. Gilang telah lama jatuh hati padanya.

Biru berganti jingga. Senja tiba. Kinar harus bersiap kembali ke Jogja.

——————–

Word count: 700

7th day of #15HariNgeblogFF2, horeee udah hampir setengah jalan… ^_^

[15HariNgeblogFF2#day6] Sehangat Serabi Solo

“Iya, ini sudah mau berangkat. Nanti aku pakai kereta Prameks1 8.30. Aku turun Purwosari saja ya, supaya kamu tidak kejauhan jemputnya. Jangan lupa bawa helm.”

“Ya, Mas. Hati-hati ya.”

Barra menstater motornya dan melaju menuju stasiun Tugu Jogja. Hari ini dia dan Kayla berencana mencari kain batik di Pasar Klewer Solo untuk sarimbitan yang akan dipakai di pernikahan sepupu Kayla bulan depan. Dititipkannya motornya di stasiun dan dia berangkat ke Solo dengan kereta Prameks. Kayla memang tinggal di Solo, sementara Barra di Jogja. Jarak mereka hanya satu jam perjalanan saja menggunakan kereta atau dua jam dengan sepeda motor. Tiap Sabtu atau Minggu biasanya Barra akan ke Solo mengunjungi Kayla. Atau jika Barra sedang punya banyak kesibukan, Kayla-lah yang mengalah menjenguk Barra. Mereka ringan saja menjalani hubungan yang sudah terjalin sejak….ah sejak kapan tepatnya mereka sendiri tidak mengerti. Mereka telah lama saling mengenal, kemudian semakin dekat dan akhirnya berpacaran. Tepatnya kapan tanggal ‘jadian’ itupun tidak mereka ingat lagi. Ya sudahlah, yang penting mereka serius menjalin hubungan karena beberapa kali orang tua Kayla menanyakan tentang keseriusan Barra, Barra selalu berjanji akan serius menyayangi dan menjaga Kayla, meski sampai saat ini belum juga berani menyebut kapan akan menikahinya.

Kayla telah menunggu di luar stasiun saat kereta Barra tiba. Diciumnya tangan Barra dan mereka segera menuju tujuan mereka. Berboncengan motor dari stasiun Purwosari menuju pasar Klewer tak memakan waktu lebih dari 5 menit. Setibanya di Klewer, mereka mulai memilah milih kain batik yang cocok untuk mereka berdua. Tak mudah menemukan yang sesuai selera. Kadang yang Kayla suka, Barra kurang sreg. Begitu sebaliknya. Mereka menyusuri Klewer, berjalan berdua, tetapi tanpa bergandengan tangan. Kayla memang tidak suka menunjukkan kemesraan di muka umum. Berbeda dengan Kinar yang sedikit cuek meski tetap sewajarnya. Ah..mendadak Barra teringat Kinar yang baru ditemuinya beberapa hari lalu di Bandung. Perasaan bersalah menelusup di hati Barra. Gadis itu tak tau apa-apa. Sesungguhnya niatnya menemui Kinar di Bandung sekaligus untuk mengakui semuanya pada Kinar, membuka rahasia yang disimpannya dari Kinar beberapa waktu ini. Tetapi apa daya. Melihat senyum Kinar, sorot penuh rindu di mata Kinar, dan rona bahagia di wajahnya, Barra tak mampu. Bahkan dia pun tak mampu berdusta bahwa ada rindu di hatinya untuk Kinar dan ada bahagia di relung terdalam melihat raut bahagia Kinar.

“Yang ini gimana Mas?” Kayla mengagetkan lamunan Barra.

“Nah! Ini aku suka Dik. Motif ini adalah motif untuk pemuda seperti kita yang masih terus belajar. Warnanya juga aku suka. Ambil yang ini saja.”

“Nggih Bu, mundhut ingkang menika, Bu.2” Kayla membayar dan menerima kain batik mereka.

“Pulang?”

“Aku pengen serabi, Mas. Nyari serabi dulu yuk.”

Kayla sudah punya langganan serabi di seputaran pasar Klewer ini. Maka tak perlu waktu lama untuk menemukan penjual serabi. Sesampainya di penjual serabi, Kayla memesan serabi sementara Barra menunggu di tempat duduk yang disediakan. Beberapa saat menunggu,  ttrrrrttt…..handphone Barra bergetar. Ditengoknya nama di layar. Nomor tak dikenal. Ah, ini pasti Kinar yang menelepon menggunakan layanan voip. Sepertinya Kayla masih lama, Barra pun memutuskan mengangkatnya toh biasanya Kinar tak pernah lama kalau meneleponnya.

“Selamat hari Minggu, Mas. Lagi di mana dan sedang apa?” Seperti kereta Kinar bertanya, dengan nada renyah seperti biasanya.

“Ndak sedang ngapa-ngapain. Lagi di rumah aja. Gimana kabarmu?” mungkin sekedar basa basi atau menutupi sesuatu dari Kinar.

“Puji Tuhan baik, Mas. Sudah kembali lagi dengan tugas-tugas ni… Mas gimana ker…”

“Serabi dataaang! Selamat menikmati, Mas.” seru Kayla memotong pembicaraan Barra dan Kinar. Barra buru-buru menutup telpon Kinar tanpa memberi isyarat terlebih dahulu pada Kinar.

Di jauh sana, Kinar bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba teleponnya terputus? Siapa suara perempuan tadi? Kinar mencoba menelepon lagi, tetapi sampai berkali-kali tak juga mendapat jawaban dari Barra. Kinar merasa tidak tenang. Kinar merasa ada yang disembunyikan Barra darinya. Kinar merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Barra. Kinar merasa…..ah…tak terasa air mata mengalir di pipi Kinar. Hangat. Sehangat serabi yang tengah Barra dan Kayla nikmati…

—————————————————

1) kereta Prambanan Ekspress

2) Iya Bu, beli yang ini.

Word count: 632

6th day of #15HariNgeblogFF2