See you Japan, hello home… :)

Hai…nglanjutin cerita lagi yaa… Hihihi, gak selesai2 ni ceritanya :P , cerita kepulangan yang diiringi fajar pagi itu, hingga tiba di bandara dengan bagasi yang pastinya overweight :mrgreen: . Seperti saya bilang kemarin, kami bertiga membawa 2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, 3 box boneka hinaninggyo, 1 ransel, 1 tas kamera, 1 tas selempang, 2 tas tangan. Waktu di counter check in, saya hanya memasukkan koper besar, tas besar, dan box boneka. Tapi ternyata petugas meminta memasukkan 2 koper kecil juga ke bagasi karna barang yang dibawa di kabin sudah terlalu banyak. Hmm…baiklah.. Menurut tiket kami masing-masing, saya hanya dapat jatah 20kg, Bapak dan Kakak masing-masing 30kg, jadi total kami bertiga 80kg.  Tapi Garuda memberi kebijakan untuk penerbangan internasional kelas ekonomi mendapat bagasi 30kg. Jadi kami bertiga dapat jatah 90kg. Nah, setelah ditimbang, ternyata total bagasi kami 120kg. Ya sudah bisa diduga bakal kelebihan sih, apalagi dua koper kecil yang tadinya mau dibawa di kabin ternyata diminta dimasukkan bagasi, ya sudah lah… Saya diminta membayar 2.500 yen/kg overweight kalau gak salah. Tapi saya minta keringanan dulu. Berdasar saran dari kawan yang sudah bolak-balik sekolah di LN (cepet lulus ya bro :P ), saya musti bilang ke petugas kalau saya pelajar yang sudah menyelesaikan study, kepulangan saya ini istilahnya back for goodpulang untuk menetap di tempat tujuan tidak kembali lagi dalam waktu dekat. Saya pun menjelaskan pada petugas seperti saran kawan saya tsb. Tapi mbaknya tetap meminta saya membayar karna saya sudah didiskon 10 kg lho dari jatah 20kg menjadi 30kg. Mmm…karna saya masih ngeyel, akhirnya ada petugas lain, kali ini seorang pria, sepertinya memiliki jabatan yang lumayan, mendatangi counter kami dan bertanya masalah kami. Mbaknya menjelaskan duduk perkara kepada pria tersebut dalam bahasa Jepang. Masnya mendatangi saya dan menawarkan discount untuk membayar kelebihan bagasi saya. Saya lalu mengulangi lagi penjelasan saya ke mbak petugas tadi kepada mas pria ini. Dengan jurus onegaishimasu tolong dibantu, mas tadi paham kalau saya pelajar. Dia bertanya: berarti anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)?  Dengan tegas menjawab: Iya, ini beli tiket pesawatnya pun lewat Garuda PPI Kansai lho…bla..bla..bla..sebutin deh nama-nama pejabat di PPI Kansai *modus*. Mas pria pun tersenyum ramah seakan bertemu kawan satu group dan menginstruksikan mbak petugas untuk memasukkan semua bagasi saya berapapun kelebihan beratnya. Hah…puji Tuhan… Terima kasih mas pria yang tidak saya tahu namanya. Setelah urusan check in beres, mas pria tadi masih mengajak saya ngobrol, menanyakan tempat kuliah saya, dan mengucapkan selamat juga atas kelulusan saya. Sebelum saya berlalu, sempat menyalami saya, bapak, dan mbak sambil mengucapkan selamat jalan.

Sambil menunggu saat boarding, kami sarapan dulu. Berhubung sudah sampai Jepang dan belum makan udon, baiklah mari kita makan udon. (Nyari-nyari foto2 saat2 ini kok gak nemu ya? Ee..di manakah?).

OK, akhirnya waktu boarding tiba. Yuk masuk….

Saya dan Bapak-kakak ternyata terpisah lumayan jauh duduknya. Tapi tak apalah, berdoa semoga perjalanan lancar.

Kami transit di Ngurah Rai Denpasar kemudian berpisah di sini. Bapak-kakak melanjutkan penerbangan ke Jogja, sedangkan saya ke Jakarta. Kok ke Jakarta sih? Lah dapatnya tiket ke sana, nawar ke Jogja gak boleh. Ya sudah lah. Oche, dari Ngurah Rai, pesawat saya berangkat satu jam lebih awal dari pesawat kakak dan Bapak. Setelah berpamitan, saya pun menaiki bus menuju pesawat. Pesawat terbang dan beberapa saat kemudian sampai pula di Soeta. Saya sempat bertemu temannya teman untuk menyampaikan titipan, lalu menunggu kakak saya yang katanya mau datang menjemput lalu mengantar saya ke hotel. Sebenernya bisa saja saya tidur di rumah kakak di Bekasi sana, tapi kasihan besok pagi-pagi harus ngantar lagi ke bandara. Jadi sudahlah saya nginap di hotel murah dekat bandara saja. Tring..tring..sudah hampir putus asa karna kakak tak kunjung datang, saya pun menelepon hotel untuk menjemput. Eee…belum selesai telepon, kakak dan keluarga muncul. Bukannya disambut pelukan rindu setelah sekian lama gak ketemu, saya malah ngomel: iiiih….lama banget, disms gak balas, ditelpon gak bisa!! Hahaha…payah nih adik bungsu :P Menyadari respon yang gak OK, buru-buru saya cium tangan mereka dan ponakan2 cium tangan saya. Hihihi…. Kami pun menuju hotel.

Besok harinya, saya terbang ke Jogja. Kali ini pakai si singa. Sampai Jogja, sengaja gak minta jemput karna yang jemput pasti masih capek habis jemput Bapak-kakak semalam. Berasa cuma dari situ aja, iya kan, cuma dari Jakarta, cuma bawa satu koper besar dan tas ransel, saya sudah ‘dijemput’ banyak sopir taksi. Haha… Akhirnya saya pilih yang paling gigih & tentu saja yang murah :mrgreen: . Jadi, saya pulang ke Purworejo naik taksi avanza, sendirian. Ndak sampai 2 jam, sudah sampailah saya di kampung halaman. Haaa…..welcome home, Titik ^_^.  Tapi e tapi….ini rumah kok sepi?! Rumah Bapak malah kuncian, dan di rumah kakak cuma ada dik Ganesh dan yang momong. Wkwkwk…. Ternyata, Bapak baru ke sawah coba!! Hadeh…baru juga semalam tiba dari Jepang, paginya sudah ke sawah. Ndak capek po ya Bapak tu.. Nengoki aja sih, tapi mbok ya istirahat dulu to Pak… Habis ngglethak sebentar di rumah kk5, terdengar motor datang..haa…kk5 dan Krishna datang.. Krishna salting ketemu mb Tanti. Hihihi….. Ndak berapa lama Bapak pun pulang…. Ah….kembali di rumah lagi dan kali ini untuk waktu yang lamaaaa… Puji Tuhan..

Terima kasih Tuhan untuk segala hal yang telah Engkau limpahkan buat kami. Terima kasih untuk kesempatan mencari ilmu di Jepang. Terima kasih juga untuk kesehatan bagi Bapak selama saya berada di Jepang, pun selama lima hari Bapak berada di Jepang. Semua karna anugerahMu, Tuhan.. Hamba senantiasa mohon tuntunan dan pimpinanmu untuk kehidupan hamba selanjutnya di tanah air. Semoga senantiasa Engkau berkati dan menjadi saluran berkatMu bagi sesama. Amin..

Here i am…

home

Bapak & kk5 sedang melihat2 foto perjalanan Bapak ke Jepang

The last day >> Time to say good bye “See You!!”

19 Maret 2013

Hari ini adalah hari yang pernah sangat saya tunggu-tunggu, tetapi ketika sampai pada saatnya, hari ini menjadi hari yang begitu berat untuk dilalui. Manusia sering begitu ya, menunggu suatu waktu tetapi ketika sampai pada waktunya malah galau. Gimana donk? :D

04:00 JST

Bangun dari tidur yang mungkin hanya dua-tiga jam. Mandi sebentar lalu bersiap. Pukul 05:00 sudah memesan taksi untuk menjemput di hotel. Bus dari Naruto Highway menuju Kansai Airport Osaka berangkat pukul 05:30. Karena di Jepang segalanya on time, maka memesan taksi pukul 05:00 sudah cukup untuk mengantar ke halte bus. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak menunggu terlalu lama. Dua taksi yang akan membawa kami, saya-bapak-kakak-barang2, sudah siap di depan ketika kami turun pukul 5 kurang 10 menit. Tiga orang, dan….rrr….2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, tiga kardus boneka hinamatsuri, 1 ransel, 1 tas slempang, 1 tas kamera, 2 tas tangan. Omigod…..

Pukul 05:15 kami sudah sampai di halte bus Naruto. Sampai di sana, kami bertemu kawan orang Kenya yang juga akan back for good seperti saya. Dia diantar oleh kawan kami orang Jepang menggunakan mobil. Kami berlima pun menaiki highway menggunakan monorail.  Setelah turun dari monorail, kami masih perlu berjalan menaiki tangga/menggunakan lift untuk sampai di haltenya. Dengan barang bawaan saya yang begitu banyak, saya perlu bolak-balik untuk membawanya. Untunglah ada kawan-kawan saya itu, jadi bisa membantu membawa.

Sampai di atas, tak berapa lama datang kawan saya orang Fiji yang juga akan pulang setelah wisuda hari kemarin. Dia juga diantar kawan orang Jepang yang merasa kepagian mengantar ke halte pukul 05:00 dari asrama :D . Yah, karena orang Jepang terbiasa on time dan sudah hapal estimasi waktu dari rumah sampai halte, sedang kita terbiasa tidak on time, jadi lebih baik nunggu daripada ketinggalan bus. Hihi…

Sebelum bus datang dan kita harus berpisah, mari berfoto bersama dulu. Eh…saat kami berfoto, terdengar suara tapak sandal sedang berlari dan nafas yang ngos-ngosan. Rupanya dua teman kami, satu orang China dan satu orang Jepang berlari karna ingin menguntabkan (melepas kepergian) kami. Mereka pun langsung bergabung berfoto bersama. Motretnya hanya dengan HP jadi banyak red-eye-nya deh.

05:30

Pukul 05:30 kurang sedikit, bus tujuan Kansai Airport, Osaka pun datang. Sopir memberi karcis untuk bagasi kita lalu memeriksa tiket. Penumpang dipersilakan masuk dan sopir menaikkan barang-barang kita ke bagasi. Ya, di Jepang, sopir bekerja sendiri. Dan kita tidak perlu memberi tip untuk jasa menaik-naikkan barang-barang kita tersebut karna itu sudah menjadi bagian dari tugasnya.

Pukul 05:30 bus pun berangkat… Melambaikan tangan pada kawan-kawan yang mengantar di luar. Ah….see you, Naruto…

Setelah dua tahun menghabiskan hari-hari di Naruto dengan segala suka-dukanya, dengan kenangan, harapan, kegagalan, bangkit, dan lain sebagainya, akhirnya hari ini sampai juga. Dan kita harus berpisah, pulang kembali membawa segala kenangan yang ada di sana. Kembali teringat kata-kata yang terucap saat awal dulu: jarak ribuan mil itu dekat dan dua tahun itu cepat. Indeed, semuanya terjadi seperti yang terucap. Hatiku bergetar lagi menuliskan ini. Di jalan, matahari pagi pun bangun. Ah….fajar terakhir yang kulihat di Jepang. Oo…tidak, bukan…bukan yang terakhir, bukankah kaubilang ‘sampai jumpa’? Semoga kelak akan menjumpai lagi fajar di negeri sakura. Amin.

IMG_7410

Bus melaju dengan tenang menembus pagi yang lengang. Saya dan Bapak berbincang di jalan. Saya tidak ingin tidur di jalan, begitupun Bapak. Tak terasa bus telah tiba di pemberhentian yang kita tuju: Kansai airport. Kita semua turun dan mengambil bagasi kita. Masih terlalu pagi, counter check in Garuda belum buka. Baiklah, kita istirahat dulu. Saya turun ke lantai 2 untuk membeli beberapa makanan untuk oleh-oleh, seperti Kit-Kat rasa matcha dan sakura. Setelah dirasa cukup, saya kembali ke lantai 4 dan mengantri di counter check in. Sudah bersiap dengan bagasi yang bejibun sekaligus jawabannya. Petugas di counter adalah orang Jepang. Bagaimana kabar bagasi saya yang sudah pasti overweight itu? Berapa yen yang harus saya bayar? Besok lagi ya ceritanya… Hehe…. :D

Kecele’ bau tubuhmu…

[Cerita di balik aroma]

Ada banyak kenangan yang terpapar ketika suatu aroma tiba-tiba menyeruak masuk menggoyang bulu-bulu hidung dan mengirim sinyal informasi ke otak. Tak hanya informasi tentang sumber aroma tersebut, tetapi lengkap dengan kenangan yang menyertainya. Saya punya cerita tentang aroma itu. Mungkin sedikit konyol, tapi setiap kali tercium aroma itu, saya kembali tersenyum geli.

Ceritanya saya punya teman dekat, sudah sangat dekat sekali sehingga ‘baunya’ pun saya hapal. Saat bersama dia ‘baunya’ selalu memenuhi radius 2 meter di sekeliling kami. Saat dibonceng dia, aroma itu yang tertiup angin dan masuk ke lubang hidungku. Begitupun ketika memasuki kamar kostnya. Sudah lah, ini baunya banget. Maka setiap kali tercium aroma tubuh dan kamarnya itu, saya sudah pasti yakin itu dia yang datang. Sampai suatu hari aroma tubuh dan kamarnya itu tertangkap indra penciuman saya. Ada seseorang di belakang saya yang dari aromanya saya yakin betul kalau itu dia. Tapi….. Begitu saya membalik badan dan melihat sosok di belakang saya itu, lhooo…. kok bukan diaaa??? Ini kan bau diaaa??!!! Kenapa?! Kenapa kamu nyama-nyamain aroma tubuhnya??? Saya kecele’ teramat sangat. Hiks…

Ketika kemudian saya mengadu padanya bahwa ‘baunya’ itu juga dimiliki orang lain, kami selidiki apa penyebabnya. Ternyata oh ternyata, segala aroma tubuh dan kamar yang dia miliki berasal dari pewangi pakaian dari tempat laundry langganannya. Dan tentu saja yang mencucikan baju di tempat laundry tersebut bukan hanya dia tapi juga orang-orang lain termasuk orang yang saya pikir nyama-nyamain baunya itu. Hahaha….

wangi

Setelah kejadian itu, definisi aroma itu menjadi sedikit meluas, bukan lagi aroma tubuhnya tetapi terdeteksi sebagai aroma laundry langganannya. Hahaha…… Sayangnya saya belum pernah nanya ke tukang laundry-nya, merk pewangi apa yang dia pakai. Kalau tahu kan bisa saya pakai juga di rumah, supaya saya bisa selalu membaui tubuhnya. Asal nggak kesaru sama bau tubuh orang lain di belakang saya tadi aja. Hahaha…

Setelah sekian lama saya tidak mencium aroma itu, beberapa waktu yang lalu ketika tercium lagi, saya kembali ngikik. Teringat kejadian kecele’ aroma pakaian yang sama dari dua orang yang berbeda. Hihihi….

Begitulah sedikit cerita di balik aroma yang pernah saya miliki yang saya ceritakan untuk meramaikan Giveaway Cerita di Balik Aroma yang diadakan oleh Kakaakin.

5 hari di Jepang: hari ke-5 >> This is the day…

Saya agak deg-degan mau menuliskan cerita hari ke-5 Bapak di Jepang, alias hari Senin, 18 Maret 2013. Kenapa? Karena hari ini adalah puncak tujuan kunjungan Bapak ke Jepang: menghadiri wisuda saya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang senantiasa menuntun, membimbing, melindungi kami semua hingga hari ini. Syukur tak terhingga.

Semalam, kami bertiga menginap di hotel di kamar yang sama. Pagi itu saya bangun lebih pagi, lalu meminta Bapak mandi. Selesai Bapak mandi, saya pun menyusul. Ketika saya keluar kamar mandi, Bapak sedang memakai dasi yang rupanya sedikit kepanjangan. Untunglah punya peniti kecil jadi bisa diakali. Setelah urusan dasi selesai, saya pun mengurus dandanan saya sendiri. Karna minim peralatan dandan, rambut cuma saya gulung seadanya, wajah cuma bedak, eye liner, dan lipstik. Baju, saya memakai kebaya dan rok batik. Untuk baju kami dibebaskan memilih baju yang kami inginkan. Saya dan teman-teman international students memilih mengenakan baju tradisional dari negara kami masing-masing. Sementara teman-teman yang orang Jepang memilih mengenakan jas atau hakama (kimono untuk pelajar). Selesai berdandan seadanya dan mengenakan kebaya, giliran sepatu….. O’ow…saya tidak punya sepatu/sandal high heels yang cocok untuk kebaya. Untunglah kakak saya tipikal perempuan banget yang ke mana-mana memakai sandal/sepatu tinggi. Saya pun disodorinya sepatu yang matching dengan kebaya yang saya kenakan. Tentu saja sambil kasih ceramah: makanya jadi perempuan itu yang feminin dan sedikit modis donk. Duh, padahal menurut saya, saya sudah lumayan feminin je, ternyata di mata kakak masih tomboy. Alamak….

Seusai kami semua berbenah, saya memanggil taksi untuk mengantar kami ke kampus. Masih sedikit pagi jadi kami mampir asrama dulu. Dari asrama ke kampus jalan kaki. Dan pagi itu, anginnya bertiup kencang sekali. Sampai aula sudah banyak wisudawan/wisudawati yang foto-foto. Kami pun ikut berfoto. Karna angin bertiup kencang, rok pun terbang-terbang dan rambut yang tidak di-hairspray pun terbang ke mana-mana.

Ketika waktu masuk aula tiba, kami masuk. Keluarga wisudawan/ti diberi tempat duduk di belakang. Wisuda kali ini dibarengkan antara wisudawan/ti undergraduate (S1) dan graduate (S2). Prosesi wisuda di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia, semua wisudawan akan maju ke depan dan menerima ijazah serta memindahkan kuncung topi dari kiri ke kanan. Sedangkan di Jepang (di kampus saya), hanya satu perwakilan dari mahasiswa S1 dan satu perwakilan dari mahasiswa S2 yang maju ke depan dan menerima ijazah. Selebihnya, ijazah dibagikan di luar. Oke, saya perjelas urut-urutan prosesi wisudanya. Pertama penghormatan kepada bendara Jepang dan panji universitas. Lalu pembukaan dari Rektor. Yang kedua sambutan dari pejabat kampus lainnya (saya tidak tahu siapa). Dilanjutkan dengan penerimaan ijazah bagi perwakilan wisudawan/ti S1. Setelah itu perwakilan mahasiswa S2. Lalu pidato dari Rektor. Dilanjutkan dengan pembacaan kesan pesan dari wakil wisudawan S1 dan wakil wisudawan S2. Yang terakhir, pemberian penghargaan bagi mahasiswa berprestasi. Lalu penutup. Semua prosesi dilakukan full Japanese. Beberapa bisa dipahami, seperti meminta berdiri dan memberi hormat. Tetapi untuk sambutan maupun pidato rektor, hmm….nyimak sih, tapi cuma bisa nangkap sedikit saja kosakatanya :D .

Selesai upacara, kami keluar dan di luar sudah ada petugas dari bagian akademik dengan tas-tas berisi ijazah kami. Saya pun mendekat lalu bilang: kokusai kyouiku, onegaishimasu. Dan Bapak petugas pun memberi segepok tas untuk satu kelas kami (yang cuma 7 orang itu :D ). Wah, gak ada prosesi penyerahan apa-apa ni ya? Kita bikin yuk. Xixi.. Akhirnya, saya pun menyerah-nyerahkan tas itu ke teman-teman seolah-olah saya rektor atau dekan. Hahaha…. O iya, keluar dari aula, sanggul saya sudah sayonara, lepas dan terurai deh :D . Untung tetap matching sama kebayanya ya, soalnya kebayanya modern (kebaya pinjem juga sih :P ).

Setelah itu, apalagi kalau gak foto-foto. Setelah foto-foto dengan teman-teman, saya menuju depan kampus untuk foto dengan background nama kampus dan sakura. Sayang, sakuranya sudah mulai tumbuh daun, tapi tetap lumayan cantik lah :D . O iya, pada hari H wisuda, professor saya yang juga pembantu rektor langsung berangkat ke Zambia seusai upacara wisuda. Saya berusaha mencarinya lebih dulu karna sudah tidak akan bertemu lagi. Tapi kemudian saya pasrah saja, karna Sensei pasti sangat sibuk untuk keberangkatan ke Zambia. Dan ternyata, saat kami sedang berfoto-foto di depan kampus, Sensei lewat dan menyempatkan turun demi menyalami Bapak dan berfoto bersama kami. Meski sangat mepet waktunya. Saya pun sekaligus pamitan pulang ke Indonesia dan mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan bantuannya selama ini. Sensei orang yang sangat sangat baik.

Setelah berfoto, saya menyelesaikan beberapa urusan administrasi di kampus. Setelah ini masih ada acara buang sampah dan cek out dari asrama. Tapi sebelum mengantar Bapak dan kakak ke hotel dan saya kembali lagi ke asrama untuk menyelesaikan urusan terakhir dengan kampus, kami makan siang dulu di warung makan depan kampus. Kami makan bertiga sambil mensyukuri berkat yang Tuhan limpahkan kepada kami. Puji syukur padaMu, ya Allah…. :)


.
.
#btw, Bapak pakai jas keren ya? Kaya pensiunan deh, Pak :D

Rumahku Istanaku…

Sudah hari terakhir Uni Evi mengadakan giveaway pertamanya dan saya belum menulis review or komen dari salah satu postingannya. Maafkan Uni. Artikel-artikel Uni semuanya menarik, tapi ketika sampai pada artikel tentang rumah dan kemiskinan, memori saya jadi kembali ke masa kanak-kanak hingga dewasa seperti sekarang. Saya mengalami tahapan-tahapan ‘rumah’ berdasar tingkat kesejahteraan keluarga. Rumah seperti yang dipasang di postingan Uni (saya kopi di sini ya Uni) pun pernah saya tinggali. Bedanya atap rumah saya sudah genteng.

rumah ga evi

Melihat tumpukan sabut kelapa dan blarak (daun kelapa kering), sungguh persis dengan kondisi saya masa kecil. Plus ayam yang masuk rumah. Haha… Dulu Ibu rajin pelihara ayam, katanya kalau mau lauk ayam tinggal potong ayam sendiri, mana kuat waktu itu beli daging ayam di pasar :D . Plus, kalau butuh uang, ayamnya bisa dijual. Yang saya tidak suka dengan pelihara ayam adalah kotorannya. Apalagi kalau ayam masuk rumah dan ‘bertelur’ di dalam rumah, haduh… Nah kalau blarak dan sabut kelapa itu untuk bahan bakar karna dulu kami masih memasak menggunakan kayu. Jika terdengar suara daun kelapa kering yang jatuh di belakang rumah, saya dan kakak segera berlari lalu menyeretnya ke rumah. Biasanya Bapak atau Ibu yang nglekreki/memisahkan daun kelapa dari pelepahnya. Lalu saya yang akan mengumpulkan lalu mengikatnya dengan tali yang diambil dari pelepah daun kelapa. Kami punya lumbung tempat menyimpan padi dan di atasnya ada tempat untuk menyimpan blarak. Kadang-kadang Titik kecil suka naik ke atas dan sembunyi di tumpukan blarak itu. Tidak heran kalau Titik kecil sering dihinggapi tengu maupun kamitetep di ketiak dan di bagian-bagian nylempit lainnya.

Nostalgia rumah berdinding bambu berlantai tanah belum selesai. Karna lantainya masih alami alias dari tanah, maka sapu yang digunakan pun sapu lidi. Baik untuk dalam rumah maupun halaman. Dan supaya tidak berdebu saat disapu (terutama untuk halaman), tanah diperciki air dulu. Maka setelah selesai menyapu, ujung sapu lidi pun menjadi bentol-bentol serupa korek api. Haha….

Sedikit demi sedikit keuangan keluarga semakin membaik seiring dengan berkurangnya anggota keluarga yang sekolah dan beralih status menjadi bekerja. Maka seperti yang disebutkan Uni Evi bahwa standar kemiskinan atau kesejahteraan keluarga bisa dilihat dari rumahnya, rumah kami pun meningkat sedikit menjadi setengah permanen. Separuh permanen, separuhnya lagi dengan bambu. Lantai pun meningkat menjadi plester. Sudah perlu sapu ijuk sekarang plus belajar mengepel lantai :D . Selain dari rumahnya, rupanya standar kemiskinan/kesejahteraan juga bisa dilihat dari cara memasaknya. Yang tadinya dengan tungku dan kayu, maka kami meningkat menggunakan kompor minyak dan tungku (Ibu paling sulit meninggalkan daden geni neng luweng, katanya eman-eman kayu dan blaraknya :D ). Memiliki rumah dengan dinding bambu itu ada untungnya. Saya tidak perlu pigura untuk memajang foto. Cukup dengan ditusuk lidi dan diselipkan di antara lubang bambu :D .

Sekarang, puji Tuhan rumah kami sudah permanen penuh dan kami pun sudah memasak dengan kompor gas, meninggalkan kompor minyak maupun tungku. Tetapi kenangan-kenangan akan masa kecil dengan segala kekurangan dan keterbatasan menjadikan kami tak kurang bersyukur atas penyertaanNya bagi keluarga kami. Kita memang seringkali perlu bernostalgia mengenang masa lalu. Bukan untuk meratapi keadaan di masa lalu, tetapi justru untuk mensyukuri apa yang telah kita terima hingga saat ini. Dan kita pun akan tersenyum dan takjub atas luar biasanya berkat Tuhan untuk hidup kita.

Semoga keluarga-keluarga yang masih tinggal di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah tetap menjalani kehidupan dengan bahagia. Percayalah, Tuhan memberikan berkatNya untuk seluruh umat, termasuk Anda dan saya :) . Dan semoga para pemimpin di atas sana lebih memperhatikan rakyatnya dan bukan kekuasannya semata :) .

Selamat hari Rabu dan selamat menghayati anugerah penyertaanNya bagi hidup kita.

Salam,
Titik

Postingan ini diikutkan pada

BANNER-EVIINDRAWANTO1

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto

5 hari di Jepang: hari ke-4 >> Hina Matsuri

Nerusin cerita Bapak di jepang ah. Sekarang sudah sampai hari Minggu atau hari ke-4. Semalam kami menginap di rumah kawan kami di Shirasagidai, Tokushima. Paginya, kawan kami, namanya mb Ayu, dan kedua anaknya menjemput kami di sana dan mengajak Bapak jalan-jalan melihat pameran boneka di acara Hinamatsuri atau festival boneka untuk memperingati hari anak perempuan. Tempatnya di Katsuura-cho, sebelah selatan Tokushima.

Pada festival hinamatsuri tersebut ditampilkan hina ninggyou, satu set boneka dari kaisar, permaisuri, dayang-dayang, menteri, juga pemain musik. Ditata dalam meja berundak dengan karpet merah di bawahnya. Pada hari anak perempuan, yaitu 3 Maret, para keluarga juga memasang boneka tersebut dan melepasnya jika perayaan sudah selesai.

Nah, sebagai foreigner, kami diperbolehkan membawa pulang boneka-boneka tersebut. Gratis. Jadi Bapak dan kakak pun mengambil juga. Kakak malah meminta satu set, dan diizinkan. Oh my God, sayanya malah gak enak karna dapat banyak banget :D .

Sepulang dari hinamatsuri, kami membawa pulang 3 box boneka yang nantinya dibawa pulang ke Indonesia. Aje gile ya.. Hihi…. Sebelum kembali ke Naruto, kami mampir makan di warung sushi. Ternyata Bapak dan kakak bisa juga makan sushi. Hebat deh. Bapak malah tambah es krim. Katanya es krimnya beda ya, enak. Hihi…puji Tuhan. Sampai di Naruto, kami kembali ke asrama dulu, beberes (lagi) sampai bersih lalu kembali ke hotel. Saya pun ikut menginap di hotel untuk persiapan acara besok pagi.

Kami istirahat dulu yaa…. :D

5 Hari di Jepang: hari ke-3 & ke-4

Lho kok dijadiin 1? Iya, soalnya hari ketiga itu kan baru pulang dari Kyoto, jadi anggaplah hari istirahat yaa, meskipun ada kegiatan juga malamnya. Jadi, kami tiba dari Kyoto hari Jumat malam. Bapak dan kakak langsung saya inapkan di penginapan sedangkan saya kembali ke asrama. Hari Sabtu pagi jadwal saya buang sampah-sampah besar (baju bekas, kertas bekas, elektronik bekas yang tidak bisa dilungsurkan) ke Recycle Center Naruto. Untuk membuang sampah memang agak ribet di Jepang ini. Saya punya lemari es kecil yang kebetulan dulu dapat lungsuran tapi kemudian rusak. Saya tidak tega mau nglungsurkan lagi ke teman lain, akhirnya saya pilih untuk membuangnya saja. Saya harus bayar sekitar 3500 yen. Hehe… Berhubung saya tidak mau ada masalah sebelum kepulangan ke Indonesia, jadi saya ikuti saja semua peraturan pembuangan sampah di sini. Saya membayar di kantor pos, kemudian saat membuang sampah, tanda terima pembayaran diserahkan kepada petugas di recycle center.

Sabtu pagi (hari ke-3, 16 Maret), setelah beberes, saya dijemput teman orang Jepang yang mau mengantar ke pembuangan sampah. Segala baju bekas, kertas bekas, dan sampah-sampah lain kami masukkan ke mobilnya, lalu kami melaju ke recycle center. Letak RC-nya di pojokan di daerah pegunungan. Sampai sana ternyataaa……TUTUP. Ah…ternyata Sabtu-Minggu tutup. Teman saya yang mengantar tadi juga tidak tahu kalau Sabtu tutup karna RC di tempatnya tetap buka di hari Sabtu tapi hanya setengah hari. Kami akhirnya kembali ke asrama dan menurun-nurunkan lagi sampah-sampah tadi. Saya tinggal punya hari Senin, 18 Maret untuk menyelesaikan segala urusan karena 19 Maret subuh saya sudah harus berangkat ke bandara lalu kembali ke Indonesia. Padahal 18 Maret adalah hari wisuda saya dan teman saya yang mengantar tadi. O’ow… Saya tadinya mikir pas hari  terakhir di Jepang ini sudah bebas segala urusan, tinggal wisuda, check out dari asrama lalu jalan-jalan cari oleh-oleh. Ternyataaaa….akan ada ceritanya nanti :D . Akhirnya teman saya yang baik hati itu mau membantu saya membuang sampah di hari wisuda itu, tapi sore hari. Saya janjian dengan petugas asrama untuk cek out jam 4. Jadi dia menawarkan untuk mengantar sendiri tanpa saya. Duh, orang Jepang ni kalau baik ya baik banget deh. Dengan sedikit tidak enak akhirnya saya setujui. Bagaimana lagi, jadwalnya mepet.

Nah, setelah acara buang sampah yang gagal itu, saya bersepeda menuju penginapan Bapak dan kakak. Ternyata mereka berdua sudah check out dari hotel. Gasik banget. Nanti malam rencananya mau menginap di rumah teman, jadi saya memang bilang sama pihak hotel kalau besok kami check out dan check in lagi hari minggu malam untuk menginap 2 hari, minggu dan senin. Saya pikir bisa check out nanti agak siang, ee…jam 10an saya sampai hotel, mereka udah di luar. Begitu liat saya langsung tertawa mereka: kita buta huruf deh, gak bisa ngomong, gak mudeng apa-apa. Hihi… Saya bicara dengan pihak hotel dan meninggalkan barang-barang kami di hotel karna besok bakal menginap di sini lagi. Setelah urusan dengan hotel beres, kami pergi ke asrama saya. Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan. Dari hotel ke asrama jalan kaki. Jauh bo’.. Eh mampir sarapan dulu ding. Bapak saya minta menaiki sepeda saya biar gak terlalu capek. Hihi..bersepeda di Jepang ya Pak :D . Berhubung asrama saya pulau tersendiri, jadi kami harus menaiki kapal boat untuk menyeberang. Sayang fotonya belum tersimpan di sini, masih di HP, nanti deh disusulkan.

Sudah hampir sampai di asrama, kami bertemu dengan bunga sakura yang sudah mekar. Ayo foto dulu, Pak… :)

bapak sakura

Setelah sampai asrama, Bapak dan kakak kaget: lho kok masih banyak yang belum diberesi??!! Wkwkwk….walhasil, hari itu saya dan kakak berjibaku menyelesaikan packing yang belum selesai. Bapak, istirahat saja ya Pak :D . Sudah agak sore, teman saya orang Indonesia menjemput ke asrama. Kami memang berencana menginap di rumahnya karna kebetulan ibu’nya juga datang dari Indonesia. Sampai di rumahnya, ternyata istrinya masak besar. Eh? Dan ternyata juga mengundang teman-teman Indonesia lainnya  untuk datang. Hwaa…gak kepikiran bakal ada acara, taunya cuma main doang :D . Teman saya itu juga habis lulus Ph.D, jadi sekalian syukuran katanya. Ooh…. Tiwas saya gak bawa apa-apa. Hari ke-3 ditutup dengan ngobrol bareng keluarga Indonesia di Tokushima.

Wah, ternyata baru cerita hari ke-3 sudah sepanjang ini. Gak jadi digabung kalau gitu.. Wkwkwk… Hari ke-4 di postingan selanjutnya saja deh, hihi… Puji Tuhan sampai hari ketiga Bapak masih sehat dan bugar. Agak sakit perut sedikit katanya, plus gak bisa ke belakang buang air besar jadinya Bapak takut makan. Kalau buang air kecil malah bolak-balik. Tapi secara keseluruhan masih bisa diatasi. Bersyukur juga ada banyak teman-teman yang membantu selama Bapak di Jepang. Termasuk yang membantu mengantar buang sampah, memberi penginapan hari itu, juga yang besok hari mengajak Bapak melihat pameran boneka di festival hinamatsuri. Apa itu hinamatsuri? Besok ya ceritanya…. :) #gaya

Salam dari Jogja,
Titik

#Tambahan. Puji Tuhan, foto ini terpilih sebagai pemenang kontes Sehari menjadi Srikandi di blog Happy Photographs. Terima kasih komandan Blogcamp group dan dewan juri untuk kesempatannya. Sukses selalu. :)