Tiga Puluh

Sabtu, 19 Oktober 2013, pagi selepas sadar dari tidurnya, perempuan pencinta langit mengerjapkan mata dan bersyukur: Puji Tuhan, sudah 10.958 hari diberi kesempatan untuk mencicipi hidup di dunia fana yang penuh cerita. Sudah dianugerahi berbagai berkat yang membuat hidup semakin indah, pun ujian-ujian yang memperkaya pengalaman dan mendewasakan kepribadian. 10.958 hari, atau 360 purnama, jadi berapa tahun anak-anak?? Iya, tiga puluh tahun. Puji Tuhan.

wajah asli pas kepala nambah

wajah asli pas kepala nambah

Menjadi tiga puluh, bagi sebagian perempuan apalagi yang masih lajang macam saya itu sungguh horor. Ngeri, menyebalkan, dan kalau bisa gak usah melewati hari itu. Tapi yang namanya waktu kan gak peduli, kamu mau diam, jalan di tempat, jalan cepat atau berlari, dia tetep lempeng aja jalan 60 detik tiap menit, 60 menit tiap jam, dan 24 jam tiap hari. Tetep sampai juga di hari Sabtu, 19 Oktober 2013 tadi, di mana bilangan usia saya bergeser dari dua puluhan menjadi resmi tiga puluhan. Trus, gimana kamu menghadapi perpindahan bilangan usia itu Tik? Haha…saya harus berterima kasih pada kantor atas kesibukan yang bertubi-tubi sehingga menjelang hari H pikiran saya sudah penuh dengan kesibukan dan lupa pada ketakutan remeh temeh masalah usia. Hahaha….. Jadi semua mengalir saja, tidak ada status seperti yang saya tulis beberapa bulan sebelumnya tentang ketidakmauan saya memercayai kenyataan kalau saya sudah tua tiga puluh tahun :D. Saya juga belum menggusur pelembab saya yang iklannya sih untuk remaja, menjadi pelembab warna2 merah matang yang judulnya ‘anti aging’ :D. Woles aja. Selow. :mrgreen:

Tak ada gempita di hari ulang tahun saya. Meski begitu, beberapa kawan karib yang entah kenapa masih saja ingat hut saya, padahal saya gak pernah traktir mereka tiap saya ultah, masih mengirimkan ucapan melalui berbagai media. Ponakan serumah yang kamarnya bersebelahan, sudah nggeblas dari pagi, gak tau dia kalau tantenya di kamar sebelah sudah nambah satu kepalanya. Hihi…. Dan saya pun gak ngapa-ngapain hari itu sampai siang hari kepala terasa pusing. Lah iya, lha wong cuma tidur-tiduran, gak mandi, gak makan. Ultah kok males-malesan. Hup!! Bangun, mandi, & keluar cari makan.

me on my 30th b'd

me on my 30th b’d

Selesai makan yang gak bisa masuk karna kadung telat, jalan-jalanlah diriku mengejar senja. Mendapatkan langit yang mistis tapi manis.

langitku

langitku

HUT diakhiri dengan bo2 manis.

Minggu, 20 Oktober 2013. Saya memang gak mudik karna ada acara kumpul2 dengan teman SMA yang tinggal di Jogja. Lalu pengen nonton festival layang-layang di pantai Glagah. Dan yang kedua ini saya lewati dengan seseorang yang….mmm…adalah, sesuatu pokoknya 🙂 . Kami sampai di Glagah pukul 3-an. Dan layang-layang sudah mulai diturunkan dan dilipat. Hiks, terlambat. Tapi tak apa, kami tetap menikmati kok. Apalagi setelah kami merapat ke pantai, senja turun dengan cantiknya. Oh baiklah senja, mari kita bercumbu.

mandi senja di pantai Glagah

mandi senja di pantai Glagah

Kami kenyang berfoto ria, sampai gelap merenggut senja dari kita. Kami pulang, diakhiri pelukan perpisahan, dan harapan semoga setelah ini segalanya menjadi lebih baik 🙂 . Saya bahagia. Sungguh.

Sampai di rumah, rumah kosong. Ponakan saya itu memang gak betahan di rumah kayanya. Saya pun istirahat sambil melihat-lihat foto tadi. Gak berapa lama ponakan menyusul pulang. Tumben gasik. Lalu ngobrol dengan pacarnya (yang katanya baru putus sementara demi jadian lagi suatu ketika – nggosip) di teras. Saya sih gak menduga macam-macam, sampai tiba-tiba lampu ruang tamu dimatikan dan mereka berdua masuk membawa kue dengan lilin menyala di atasnya sambil nyanyi ‘happy birthday to you’. Haha….semacam surprise party setelah kemarin kelupaan :mrgreen: . Yah, kami menikmati malam itu, meniup lilin, potong kue, dan makan. Ah, ponakan, kamu menambah kebahagiaan. Terima kasih ya.. 🙂

little surprise party from my niece n nephew

little surprise party from my niece n nephew

Setelah selesai dan kami beristirahat. saya buka FB dan baca status teh Nchie tentang Ariel di ultah salah satu stasiun tv. Oh my, lengkaplah sudah kado ultah buat saya hari ini. Komplet. Matur nuwun, Gusti…

what a perfect day

what a perfect day

Eh, dari tadi belum ceritain harapan-harapan saya di ulang tahun ke-30 ya? Hehe..malu saya. Saya berdoa, pertama-tama untuk menjadi lebih baik dari waktu yang lalu, lebih dekat dengan Tuhan yang sudah mengasihi saya tanpa lelah, lebih pinter juga, perasaan saya merasa tambah bodoh deh, hiks. Saya juga berdoa semoga di usia saya yang sudah kepala 3 ini segera diizinkan punya rumah sendiri (aamiin). Dan, saya juga berdoa semoga segera dipertemukan dengan pasangan hidup saya, tak perlu pangeran berkuda putih deh, yang penting dia pria yang mengasihi Tuhan, mengasihi saya & keluarga saya, dan bisa membuat saya mengasihinya. Aamiin.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah menirim ucapan & mendoakan saya melalui SMS, WhatsApp, LINE, Facebook, Instagram, maupun yang secara langsung salim & cipika-cipiki. Doa-doa terbaik juga untuk kalian semua. Tuhan memberkati.

**

Dan kebahagiaan saya bertambah lengkap ketika Senin sorenya
saya mendapat kado special dari seseorang di jauh sana.
Tuhan memang luar biasa .
Terima kasih ya 🙂

Masih kutunggu kejutan manis selanjutnya :).

harapan esok hari

senja telah beringsut
terlalu dini kali ini
pertanda musim telah berganti

daun-daun pun menguning dan berguguran
dia yang rela mati
demi terciptanya hidup yang baru

esok adalah matahari baru
harapan yang pernah terlupa

aku telah siap berlari
untuk mengejar matahari
sekali lagi

.:tt:.

Selamat tahun baru Hijriyah 1434 H
Semoga sehat, selamat, bahagia senantiasa.
Selamat menikmati libur panjang akhir pekan bagi yang merayakannya ^_^

Salam,

yustha tt

[15HariNgeblogFF2#day3] Jingga di Ujung Senja

Yang kupunya hanyalah rasa, tersimpan rapat di relung hati, mungkin telah mengristal di endapan sunyi. Meski yang kauberi hanyalah bayang, nyanyian rindu yang adalah pelukanmu, canda tawa yang adalah kecupanmu, dan doa-doa yang adalah genggaman tangan yang menguatkanku. Kita percaya pada takdir. Kita percaya kita tak bisa mengontrol jalan takdir. Yang kita bisa hanyalah berserah, berpasrah padanya, dan mengusahakan semampu kita.

Matahari menitipkan jingga pada langit, senja menjelang. Sunyi kembali menyergap ruang hati. Rindu telah tak bisa kuhitung lagi. Dan senja adalah pertemuan kita. Pertemuan di bawah langit yang sama.

“Kau tau siapa yang mewarnai jingga di ujung senja itu?” katamu suatu ketika.

“Siapa?”

“Kita. Ketika kita membiarkan senja apa adanya, kita bahkan telah mewarnainya.” dan kita kembali sunyi, menikmati senja bersama. Senja kita masing-masing, di bawah langit yang sama.

“Selamat berbuka puasa, Sayang.” katamu di masa yang lain.

“Iya, Sayang, sebentar lagi. Di situ sudah maghrib? Selamat berbuka ya. Semoga puasa hari ini barokah.” kataku dalam perih.

Palembang – Jogja itu jauh, Sayang. Ketika kamu telah membasahi kerongkonganmu setelah seharian kering, aku masih menunggu beberapa saat lagi. Palembang – Jogja itu jauh, Sayang. Jauh. Semakin jauh. Dan air mataku terjatuh.

“Sudah gelap Ran, ayo pulang.”

“Iya…”

Kutaburkan bunga yang kugenggam ini di sungai Musi. Berharap harumnya sampai padamu. Mungkin akan menjadi bunga terakhir yang kukirim padamu bersama sebait sajak sepi. Bacalah bersama malaikat-malaikat di sorga yang kini menemanimu. Telah tiba saatnya aku mengubur kenangan tentangmu, kamu yang tidak akan pernah lagi kembali untuk bersama menikmati senja, di bawah langit yang sama. Lalu akan kusambut pagi, bersama dia yang mengajakku pulang. Pulang ke rumah jiwa, tempat aku kembali dari mana saja. Selamat tinggal senja.

Senja melenggang tanpa sepatah kata
Tak sisakan jingga berhias kilau sedikit saja
Lalu tanggallah lelah itu di sudut dengan setitik perih
Biar merata dengan fatamorgana, tepisku

Senja melenggang semakin jauh
Merentang jarak tak kasat mata dan sia-sia
Lalu tanggallah segenggam asa yang tertanam
Biar layu sebelum menuai sekotak narasi

Senja itu ada di sudut mataku
Senja itu ada di tiap inci kulitku
Senja adalah nafas yang pernah kamu tiup
Segenggam butiran kopi
Sejumput keinginan untuk berkata
Senja adalah rasa
Senja adalah kamu
Senja adalah aku
Senja adalah kita

Selamat tinggal senja..

————————————————————–

Word count: 354. 

Puisi by Catastrova Prima.

3rd day of #15HariNgeblogFF2

Parade Langit

Selamat hari Selasa teman semua, selamat bulan April, dan selamat BBM tidak belum jadi naik (yang ini perlu diselamati gk ya?). Saya datang lagi di halaman celoteh .:tt:. ini. Sepertinya baru tanggal 28 Maret kemarin saya menulis di sini, tetapi saya merasa sudah lama sekali saya tidak ngeblog. Ternyata sekedar mengisi blog ini dengan tulisan dan kemudian meninggalkannya lagi tanpa ada interaksi dengan pembaca, serasa kehilangan jiwa. Ya, saya serasa belum kembali ngeblog meskipun sempat menitipkan tulisan di blog ini. Bahkan giveaway yang saya adakan pun serasa terabaikan. Maafkan saya ya teman-teman. Meskipun begitu, saya merasa sangat bahagia karena ternyata masih banyak teman-teman yang mengirimkan karyanya untuk mengikuti GA pertama saya ini. Tercatat 5 sahabat yang mengikuti kategori pertama, dan 26 sahabat mengikuti kategori kedua. Wow, saya sangat tersanjung dengan perhatian sahabat semua. Terimakasih banyak ya. Kini saatnya saya membaca satu per satu karya sahabat. Saya yakin semua karya sahabat memiliki keunikan tersendiri. Sambil saya membaca karya sahabat, silakan menikmati sajian parade langit kiriman sahabat semua. Semoga berkenan.

This slideshow requires JavaScript.

(untuk mb Millati Indah, mohon maaf foto langitnya tidak bisa saya tampilkan di sini karena gambar tidak bisa saya salin.)

Karena banyaknya karya yang harus saya baca, saya seleksi, dan akhirnya saya pilih, maka saya mohon maaf jika pengumuman peserta terpilih baru bisa keluar kurang lebih dua minggu dari sekarang. Mudah-mudahan tanggal 15 April atau sebelumnya. Bersabar ya, siapa tahu malah jadi kejutan di bulan April. 🙂

Salam saya.

Selamat tinggal senja

Senja melenggang tanpa sepatah kata
Tak sisakan jingga berhias kilau sedikit saja
Lalu tanggallah lelah itu di sudut dengan setitik perih
Biar merata dengan fatamorgana, tepisku

Senja melenggang semakin jauh
Merentang jarak tak kasat mata dan sia-sia
Lalu tanggallah segenggam asa yang tertanam
Biar layu sebelum menuai sekotak narasi

Senja itu ada di sudut mataku
Senja itu ada di tiap inci kulitku
Senja adalah nafas yang pernah kamu tiup
Segenggam butiran kopi
Sejumput keinginan untuk berkata
Senja adalah rasa
Senja adalah kamu
Senja adalah aku
Senja adalah kita

Selamat tinggal senja..

Pati, 21 Maret 2010
Untuk: Yustha TT ‘maap inspirasinya kurang liar, T.. spontan soalnya.. but just for you, beib’

——————————————————————-
very big thanks for my lovely friend Catastrova Prima, yang udah mempersembahkan puisi cantik ini buat dirikuwh…. Aje gile betul anak ini, puisi-puisinya bernyawa euy….