Cinderella kehilangan sepatunya

Alkisah seorang Cinderella sedang merantau ke negeri Sakura. Si Cinderella ini memang berasal dari kampung, jadi kadang tabiat ndeso-nya masih belum bisa hilang betul. Suatu hari di musim panas, kota tempat Cinderella tinggal menggelar festival tari. Festival itu tidak dilewatkan oleh Cinderella dan kawan-kawannya yang berasal dari negeri yang sama untuk ikut berpartisipasi. Mereka sepakat mengenakan pakaian adat negeri mereka dan menari di festival tersebut. Para pria mengenakan baju lurik dan blangkon, sedang para wanitanya mengenakan kebaya.

Festival tersebut dimulai sore hari sekitar pukul 5 dan berakhir malam hari sekitar pukul 10. Cinderella datang tepat waktu, mengenakan kebaya dan rok batik, juga sandal jinjit aka highheels-nya. Festival pun dimulai dan Cinderella bersama teman-temannya menari berkeliling sesuai rute yang sudah ditentukan panitia. Ternyata lumayan jauh, Saudara-Saudara. Cinderella yang orang kampung itu mulai kelelahan dengan high heels-nya. Setelah sampai di ujung rute, grup Cinderella beristirahat. Cinderella pun segera melepas high heels-nya. Fiuuh…lega… Eeeh…baru beberapa menit istirahat, dipanggillah rombongan untuk berfoto bersama. Mereka pun segera berarak menuju tempat pemotretan. Cinderella meninggalkan high heels-nya di tempat istirahat karna ada salah satu teman yg sedang menggendong bayinya sehingga tetap duduk di situ dan tidak ikut foto. Selesai foto, kembalilah mereka ke tempat istirahat tadi, dan….. “Eh?? Mbak temenku ke mana?? High heels-ku ke mana??” Cinderella meraung. Segera ditelponlah si Mbak.

“Mbak, kau ke mana? Bawa sendal jinjitku kah?”
“Aku ke mobil dik, lha iki si Raia ngelak, dadi takmimiki di mobil. Iyho takgowo, lha rame banget je tadi itu.”

Cinderella pun pasrah. Ini artinya dia harus jalan ke parkir mobil NYEKER alias tanpa alas kaki. Dan lebih parah lagi, karena kepadatan lokasi festival, Cinderella mengalami disorientasi arah, tak taulah mana utara mana timur, mana tempat parkir mobil. Yang dia tahu cuma jalan kembali ke posko dekat lokasi start tadi. Akhirnya disepakati, Cinderella dan si Mbak yang ‘menyelamatkan’ high heels-nya ketemu di posko. Cinderella pun berjalan tanpa alas kaki sambil nyincing rok panjangnya yang sedikit ribet. Oh…gadis cantik dengan kebaya yang cantik, tapi nyeker!!

Tidak sedikit orang yang tanya “Sugoi… Daijoobu?” (Luar biasa..ndak papa itu?). Cinderella cengar-cengir sambil jawab: “Daijoobu desu“. Pun teman-teman satu grupnya bilang: “Wis…gk ragu lagi nek kowe seko nJowo. Ndeso!!” Hahaha… Ada lagi yang bilang: “Bar pertunjukan tari, saiki pertunjukan debus”. Wkwkwk…

Sampailah akhirnya ke posko. Si Mbak segera mengembalikan high heels Cinderella. Cinderella menerima dengan senang hati, meski ada sedikit kecewa: kenapa yang mengembalikan Mbak, bukan sang pangeran??? Saya kan jadi tidak tinggal di istana!!! :((

“Yustha Tt berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng AnggieDesa BonekaKios108

——-

#Libas habis semua kategori. Kalau gk da yang nyantol satu pun, aduhai kasihannya… 😀
#Itu maaf kalau kebayanya terlalu seksi ya.. Udah kadung! 😀
#O iya, Cinderella itu nama tengah saya… Hahaha…. 😆

Tragedi jagong manten :D

Hihihihi… Lho? Apa ini, datang-datang langsung ngikik? Hehehe…sy lagi chatting sama sahabat sy. Sahabat sy ini ingatannya tentang masa lalu top markotop. Jadi kadang kalau lagi cerita apa, dia nyebutin kisah di masa lalu yang bikin saya ngekek. Seperti barusan ini.. Hihi..

Namanya Han, dia temen KKN sy dulu. Kita dulu sering saling menemani jagong (kondangan penganten) karna sama-sama gk punya pendamping jagong, haha… Pernah suatu hari kita berdua jagong ke tempat teman KKN kita di Bantul. Kita boncengan pakai motor sy. Motor sy itu kunci kontaknya sudah lojek alias mudah lepas, jadi gantungan kuncinya harus dicantol di spion atau di stang supaya kalo lepas dari kontaknya, si kunci masih tergantung di motor. Nah, berhubung yang di depan si Han, sy lupa kasih tau dia dan dia pun gk menyantolkan gantungan kuncinya. Inilah awal mala petaka itu. Hahaha…. Lho, mala petaka kok malah ketawa. Lha habisnya lucu.

Yup, seperti dugaan teman2 semua: kunci motor sy HILANG. Inilah tragedi satu. Kami baru menyadari hilangnya kunci motor kami setelah sampai di lokasi kawinan. Pas mau matikan motor, barulah kami sadar, hah..kunci motornya gk ada. Lhaa….gimana ini matikannya?? Akhirnya kita pinjem kunci motor siapa saja buat matikan motor dan berhasil. Lega.. Kita pun melenggang ke tempat kawinan.

Pas sampai sana, ternyata pestanya masih ala piring terbang, bukan yang prasmanan gitu.. Jadi ada banyak peladen/sinoman yang melayani para tamu. Biasanya para sinoman ini adalah pemuda desa atau karang taruna. Biasanya mereka sudah punya seragam batik karang taruna untuk keperluan laden seperti ini. Atau bisa juga dibuatkan seragam oleh yang punya hajat. Di sinilah tragedi dua terjadi. Ternyata seragamnya para peladen dan batik yang dipakai si Han SAMA. Hahahahaha…. Kita berdua langsung thingak-thinguk satu sama lain dan ketawa ngakak. Hahaha….. Udah sana Han, kamu bantuin laden dulu…. Wkwkwk… Pas foto sama penganten juga dibilang sama tukang fotonya: lho, ini mas sinom kok ndisik’i? Wkwkwk…padahal kita tamu undangaaan…bukan sinoman… Haha…si Han cuma cengar-cengir aja..lalu ngajak pulang… 😀

Masalah muncul lagi setelah kita sampai parkiran. Tadi memang bisa matiin motor dengan sembarang kunci. Tapi buat nyalain?? Ow..ow..masalah ini.. Tentu saja gk bisa dengan sembarang kunci. Akhirnya kita jalan dorong motor nyari bengkel. Karna sudah capek, kadang si Han lari dorong motornya lalu dia lompat dan duduk di motor sementara motor jalan. Nah, pas ngelakuin itu, ada ibu-ibu naik sepeda yang ngomelin si Han: “eeeehhh….reka-reka!!” (neka-neka/aneh-aneh/ada2 saja). Hahaha….lagi capek-capek dorong motor nyari bengkel gk nemu-nemu, kena marah pula. Nasib…nasib….

Setelah jalan jauh, pakai salah bengkel karna yang kita tanyain pas nemu semacam bengkel, ternyata tempat servis kulkas dan bukan bengkel motor :mrgreen:, akhirnya kita menemukan bengkel motor kecil-kecilan. Sambil numpang istirahat, kita laporan kalau kunci motor sy hilang dan tolonglah dengan cara apapun, nyalakan motor kami. Si bapak bengkel membuka thothok depan, lalu menyambung kabel itu dengan kabel itu, dan taraaa….nyala, saudara-saudara!! Hah? Secepat itu? Iya!! Dan kami menyesal kenapa si Han gk tau tentang itu. Hahaha…nyalahin si Han, padahal sendirinya mana tau hal begituan. :mrgreen:

Setelah mengucapkan terimakasih berkali-kali pada bapak bengkel (beliau gk mau dibayar apa-apa, meski kita paksa), akhirnya kita bisa mengendarai motor kita, sambil thingak-thinguk lagi. Kali ini hunting tukang kunci. Beberapa lama melaju, bukan tukang kunci yang kita temui, malah sepasang muda-mudi yang pacaran di pinggir jalan. Saya langsung tepuk-tepuk pundak si Han dan bilang:
“Idiih…ada yang pacaran di pinggir jalan Han…”
Dan apa jawab si Han??
“Ya betul itu pacaran di pinggir jalan…kalo di tengah jalan, ganggu lalu lintas…”
Hiyaaaaaaaaaa…….

“Yustha Tt berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng AnggieDesa BonekaKios108

——-

Trus? Ketemu tukang kuncinya gk? Ketemu dan berhasil bikin kunci kontak yang baru. Hihihi….kisah ini masih saja bikin sy tertawa sampai saat ini. Han…Han…reka-reka!!