Persahabatan bagai kepompong…

Ada yang masih ingat lagu itu? Lagu itu terkenal sekali beberapa waktu lalu. Teman-teman masih ingat atau sudah melupakan lagu itu seiring banyaknya lagu baru yang bermunculan? Hehe….. Lupakan pertanyaan saya :P. Bukan mau membahas tentang lagu itu kok. Tapi mau membahas persahabatan saya dan teman-teman semasa KKN saya. 🙂

Siapa yang tidak setuju bahwa masa KKN adalah masa yang sangat menyenangkan? Hayoo jujur, siapa yang dapat jodoh saat KKN? Siapa yang putus sama pacar gara-gara si pacar cemburu sama teman KKN? Siapa yang kecantol anak Pak Dukuh saat KKN? Siapa yang digoda ‘penunggu dukuh’ saat KKN? Ah, kalau ini sih si mungil yang hobi pethakilan loncat sana loncat sini itu. Hihi… Nah, buat saya, masa KKN adalah masa yang sangat menyenangkan. Dan saya sangat bersyukur mendapat 1 tim kelompok KKN yang baik-baik dan sangat kompak. Persahabatan kami langgeng sampai sekarang. Mmm…kami KKN pada tahun 2004, jadi sudah 7 tahun ya. Tapi kami masih berkomunikasi dengan baik, meski ada 1 anggota tim yang sekarang tidak kutahu kabar beritanya, yang lainnya masih connected :D.

Teman2 KKN. Hayoo..sy yang mana? Halah, mukamu kan gk berubah Tik! 😛

Kami masih saling berbagi tentang banyak hal. Dari ber-10 itu, saya paling dekat dengan 3 orang: 2 putri dan 1 putra. Dengan mereka bertiga kami masih saling berbagi dan bercerita. Dengan yang lain kami juga masih saling berkomunikasi meski topik pembicaraan tidak begitu ‘dalam’. Hehe…. Kami masih saling menyuport lho. Ketika salah satu mendapat kebahagiaan, kami akan berbagi dan ikut berbahagia. Ketika salah satu mendapat kesusahan, sebisa mungkin kami membantu. Persahabatan yang sangat menyenangkan. Saya pernah menuliskan kebahagiaan yang saya rasakan ketika sahabat saya akhirnya lulus kuliah di sini. Senang sekali rasanya. Ikutan plong. Hehe…

Kami kadang masih bertemu meskipun sangat jarang karna kesibukan kami masing-masing. Kalau kami bertemu, wah, rasanya kembali muda, kembali ke masa KKN dulu. Hihihi… Meski dalam setiap pertemuan selalu tidak bisa komplit, tapi puji Tuhan tali silaturahmi bisa terus terjalin. Kadang kami pergi ke pantai, atau hanya berkumpul saja di rumah siapa dan mengobrol sana-sini, atau ketemu di rumah makan mana dan ngobrol sambil makan di sana.

Pertemuan dengan mereka, Maret 2010

 

Waktu sekolahnya ngadain trip, saya diajakin 😀

 

Pertemuan sebelum sy berangkat (Maret 2011)

Setelah saya jauh, kami berkomunikasi melalui internet, kadang melalui YM, kadang FB, dan kadang skype. Bersyukur dengan adanya teknologi kami bisa terhubung dengan mudah meski jarak memisahkan. Hehe.. Dan beberapa malam yang lalu sahabat saya menelepon melalui skype. Begitu saya ‘angkat’, eh yang keluar wajah sahabat saya yang lain. Wah…senangnya saya bisa melihat wajah mereka berdua. Ya, sahabat saya yang perempuan mudik dari (dekat) ibu kota dan berkunjung ke sahabat saya yang laki2. Lalu mereka menelpon sy. Senang sekali. Sambil kami mengobrol, kami pun chatt dengan sahabat kami yang lain yang tidak ikut dalam telepon itu. Jadi berasa kumpul KKN lagi. Senangnya.Kumpul KKN online 😀

Kumpul KKN online 😀

Bahagianya saya bisa ‘berkumpul’ bersama mereka meski hanya di dunia maya. Ups. Bukan. Ini bukan maya, ini nyata. Kebahagiaan saya bertambah ketika sahabat saya mengabarkan bahwa dia akan tunangan dan mempersiapkan pernikahan. Wah…bahagia sekali rasanya. Meski sedih juga karna saya tidak bisa menghadiri pertunangan maupun pernikahannya. Tapi doa saya tetap saya kirimkan untuk dia. Ya. Malam tadi salah satu dari dua sahabat saya itu bertunangan. Semoga ikatan yang sudah kuat itu semakin dikuatkan. Semoga persiapan menuju pernikahan diberi kelancaran dan kemudahan dan akhirnya ikatan kalian dikuduskan dalam nama Tuhan. Amin. Doaku dari sini untukmu, sahabat. 🙂

 

Yang merindui sahabat2,

sepeda sahabat

Sosok itu menyediakan pundaknya untukku membagi lara. Dia rela menjadi cicak di langit-langit supaya aku bisa menatapnya ketika air mata tergenang hingga menunda kejatuhannya. Jika musik sederhana selalu bisa membuatku menyanyi, maka dia adalah sosok sederhana yang selalu bisa membuatku tersenyum.

“Jaga diri baik-baik, jangan suka nangis, siapa nanti yang dipinjami pundak kalo kamu nangis? Hihi…” dia masih saja mengajak bercanda saat berpamitan.

“Mudah-mudahan selalu ada cicak pas aku mau nangis ya, Han. Hahaha..” kami berdua tertawa. Padahal sesungguhnya aku sedih.

“Siapa nanti yang nemeni aku ke mana-mana kalau gk ada kamu ya, Han?”

“Sepeda ini” sosok itu menyorongkan sepedanya “pakailah selalu, aku tetap menemanimu melalui dia.”

Sosok itu melangkah pergi. Pertemuan adalah sesuatu yang indah, namun perpisahan adalah sesuatu yang lebih indah. Dan perjumpaan kembali adalah sesuatu yang paling indah. Aku akan menunggu saat itu, sahabat. Di suatu senja, berkawan sepeda, untuk saat yang paling indah.

 

 

Note: artikel ini diikutkan dalam Kuis Cerpelai Persahabatan. Jumlah kata 147 (tidak termasuk judul & note).

.

Salam,

 

Bintang Jatuh

Bulan tak lagi bulat penuh, sudah sedikit terkikis waktu. Tapi bintang masih bertabur berserak di pelataran langit yang tak berbatas. Ratri menghitung bintang-bintang itu. Terlalu banyak hingga tak pernah bisa ia selesaikan. Dan malam ini, malam minggu ini, Ratri duduk sendirian di teras rumahnya, memandang langit yang selalu dikaguminya. Tak ada aktivitas yang lebih menyenangkan daripada memandang langit dan mengagumi keindahannya. Tidak malam, tidak siang, tidak senja, tidak fajar, langit selalu memesona bagi Ratri. Dan bintang adalah penghuni langit yang paling Ratri sukai. Satu buntang ia nobatkan sebagai bintangnya. Bukan bintang yang paling terang, tapi Ratri begitu menyukainya, karna walau sinarnya tak cemerlang, bintang itu setia berkedip seolah genit menyapa Ratri. Sementara Ratri menikmati lukisan alam, dari jauh terdengar suara motor tua yang sangat dikenalnya. Motor lelaki yang tak pernah bosan mengunjungi Ratri, begitu pula denga Ratri. Semakin dekat suara itu dan Ratri memasang senyum sebelum lelaki itu tiba di depan pagar rumahnya.

“Dah selesai belum ngitung bintangnya?” sapa Gilang sambil memarkir motornya di depan pagar rumah Ratri.

“Belum ni bro, makin banyak aja perasaan.” Jawab Ratri. Gilang membuka pagar rumah Ratri yang hanya setinggi perutnya dan terbuat dari bambu. Menuju teras melewati setapak kecil yang dipagari tanaman pacar air di kanan kiri. Nuansa pedesaan yang kental di rumah Ratri. Siapa pun akan nyaman berlama-lama di sana.

“Abang martabak tikungan nitip ini buat kamu, Rat.” Gilang menyodorkan tas plastik berisi martabak telur kesukaan Ratri. Dua minggu terakhir Ratri puasa makan martabak karna radang tenggorokan. Gilang tau betul Ratri bakal kangen dengan makanan kesukaannya ini.

“Wuah….makasih ya Lang. Kamu memang buaik. Ntar kubikinan minum dulu ya.”

Beberapa menit kemudian Ratri keluar dengan dua cangkir minuman dan sepiring martabak yang dibeli Gilang tadi.

“Kopi hitam buat kamu, kopi krimmer buat aku. Diminum Lang.” Sudah tak perlu bertanya lagi, Ratri sudah tau minuman kesukaan Gilang. Kopi hitam tanpa ampas.

Ratri dan Gilang bersahabat sejak empat tahun yang lalu. Pertemuan tak sengaja di acara ulang tahun teman Ratri yang ternyata juga teman Gilang. Mereka pun akhirnya saling mengenal. Bersama dengan temannya itu akhirnya mereka bersahabat. Tapi sejak sang teman punya kekasih, mereka lebih sering berdua dan tidak lagi bertiga. Gilang dan Ratri saling terbuka, Ratri adalah tempat Gilang berkeluh kesah, pun Gilang adalah tempat Ratri menuangkan perasaannya. Bahu Gilang sudah kuyup dengan air mata Ratri. Tangan Ratri sudah halus mengusap punggung Gilang member kekuatan. Yah, begitulah dua sahabat itu.

“Masih nunggu satu bintang itu jatuh Rat?”
“Iya Lang. Kalau dia jatuh aku akan minta satu permintaan yang aku yakini akan dikabulkan.”
“Keyakinanmu itu yang mengabulkan permintaanmu, bukan bintang jatuh itu.”
“Kurasa juga begitu.”
Mereka berbincang sambil memandang langit. Tak saling pandang satu sama lain. Di tangan Gilang cangkir berisi kopi hitam, di tangan Ratri cangkir berisi kopi krimmer.

“Masih belum bisa melupakan dia, Rat?”
“Sedikit-sedikit sudah bisa.”
“Lalu kenapa masih menunggu bintang itu jatuh?”
Ratri tak langsung menjawab pertanyaan Gilang. Justru gemuruh yang riuh di hatinya.

“Aku justru ingin membuka hati buat orang lain Lang. Aku menunggu bintang itu jatuh. Bintang itu bukan lagi dia, tapi seseorang lain yang menyayangiku apa adanya. Bukan menggantikan dia, tapi menyempurnakan hidupku dan membuatku mampu melupakan masa lalu. Jika telah datang seseorang itu, maka artinya bintang itu telah jatuh.”

Gilang menoleh, mendapati wajah Ratri menatap satu bintang yang disukainya. Wajah perempuan yang telah lama disayanginya. Andai kamu tau Rat, aku ingin sekali menjadi bintang itu. Aku ingin sekali jatuh di jantungmu, ingin kamu tau betapa aku menyayangimu.

“Tidakkah kamu menyadari bintang itu telah jatuh?” Gilang berbisik lirih sampai-sampai Ratri tak mendengarnya.
“Kamu bilang apa Lang?” Ratri mengkonfirmasi.
“Kamu nggak dengar Rat? Barusan aku bilang: wajahmu jelek banget kalau lagi serius. Hahahaha..”
Dan gelak pun membuncah di antara mereka. Obrolan berlanjut dengan materi ringan yang penuh canda sampai malam memaksa mereka berpisah.

“Aku pulang Rat. Kalau sudah kamu temukan satu bintang itu, kalau bintang itu sudah jatuh, kabari aku. Aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia. Oke?”

Ratri tersenyum mengangguk. Gilang keluar dari halaman rumah Ratri, menyalakan motor tuanya dan melambaikan tangan pada Ratri sebelum menghilang di tikungan.

Ratri memandang langit. Pada satu bintang di langit kelam itu. Dan dia segera mengambil handphonenya. Diketiknya sebuah pesan untuk Gilang.

‘Lang, bintangnya udah jatuh barusan…’

Di jalan Gilang menghentikan motornya membaca sms dari Ratri. Mengernyitkan dahi. Lalu membalas.

‘Oh ya? Cepat sekali? Lalu kamu minta permohonan apa?’

‘Aku ingin bersama dia selamanya.

‘Semoga terkabul seperti keyakinanmu. Jadi siapa bintang itu?’

Ratri sedikit gemetar. Lalu diketiknya pesan singkat untuk Gilang.

Send to Gilang:

‘…bintang itu…kamu…’

Gilang memutar motornya kembali ke rumah Ratri…

.

.

[1 Mei 2010, 22.00 WIB]

Cinta kadang perlu juga diucapkan.

 

**dibuat pas malam minggu, duduk sendirian di teras depan kamar kost, sambil mamam martabak telur dan liatin bintang, mangku ciput sambil seru2an pesbukan ma temen2, ee tau2 jadilah tulisan. Horeee….bisa nulis cerpen lagi. Xixixixi….. 😀 **

Kita baikan ya…

Kita baikan ya…

Saya senyum sendiri menulis judul di atas. Hihi….keliatannya lucu ya… Ini cerita tentang anak kost saya.

Saya tinggal berempat dengan anak-anak lucu ini. Mereka sudah satu kost denganku sejak satu setengah tahun yang lalu. Kita pun pindah sama-sama dari kost lama ke kost yang sekarang. Boyongan. Jadilah kita sudah sangat sehati, apalagi kost ini memang cuma punya 5 kamar, 1 kamar lagi masih kosong. Ada yang mau gabung?? Hehe…

Dari berempat itu, macem2 karakternya. Ada yang tertutup sangat, ada yang kaya anak kecil, ada yang moody-an (saya :p), ada juga yang easy going. Satu orang yang tertutup sangat, sangat sulit bergabung dengan anak kost yang lain. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar tertutup. Bersosialisasi dengan anak kost lain hanya seperlunya saja. Tapi kalau hanya tinggal berdua saja di kost (misalnya hanya saya dan dia), dia bisa juga diajak ngobrol. Hmm… Lalu yang dua lagi, mereka lebih mudah bergaul. Sering ngumpul di kamar saya, sering ngajak keluar bareng, makan bareng, nonton, bareng, ngasih surprise waktu ultah saya. Ya mereka berdua. Waktu bulan puasa kemarin, kita masak bareng tiap hari, sahur di kamar saya bareng2, berbuka bareng2. Bertiga dengan mereka berdua, plus satu orang lagi yang kini sudah pindah kost, sementara 1 orang yang tertutup sangat tidak ikut bergabung dengan kami.

Nah….karena saking seringnya apa2 bertiga, jadi rasanya ada yang kurang kalau satu orang tidak serta. Seperti kemarin. Kami pergi keluar berdua, saya dan anak kost, sebut saja Li. Kami berdua sudah mengajak Ka ikut serta, namun karna dia masih sibuk dengan kegiatan KKN, dia tidak bisa ikut serta. Akhirnya kami berdua pergi tanpa Ka. Tapi ternyata kepergian kami berdua tanpa Ka berbuntut.. Ka jadi diam ke Li. Saya tidak begitu perhatian karna akhir2 ini sy jarang ketemu dengan Ka di kost, maklum Ka sedang sibuk di KKNnya. Dan ternyata, Li juga tidak menyadari kalau didiemin sama Ka…. Sampai tiba-tiba kemarin Ka bilang ke Li: “Li, kita baikan ya….”. Parahnya Li tidak tanggap kalo beberapa hari ini didiemin sama Ka. Hahaha, lucunya anak2 ini….

Cerita sederhana si. Tapi saya merasa lucu dan geli dengan cerita ini. Bagaimana tidak, Ka sudah berlelah-lelah ngambek sama Li, dan ternyata Li tidak tau kalau Ka ngambek. Sampai akhirnya Ka lelah sendiri dan meminta maaf pada Li, mengajak Li kembali ‘baikan’ dengan dia. Sementara Li merasa tidak bersalah karna sebelum pergi Li sudah mengajak Ka, sehingga dia merasa tidak bersalah meninggalkan Ka.

Hihi…saya senyum sendiri. Emang nggak enak ya marah/ngambek/benci sama orang lain, apalagi orang yang sangat dekat dengan kita. Nggak perlu nunggu lama-lama kita akan lelah sendiri memusuhi sahabat kita itu. Bener deh pepatah bilang: 1000 teman itu belum cukup, tapi 1 orang musuh udah kelebihan.

Hayoo…ada yang masih punya amarah di hati? Apalagi sama sahabat sendiri. Cepet-cepet deh bilang: Kita baikan ya….. 😉

 

saya & mereka:: tampak sebaya kan? hehe...

.

.:tt:. 3 November 2009

>>> Buat Ka yang besok ulang tahun…. Happy birthday ya nak… 🙂

happiness…

Gambar di atas dikirim oleh seorang teman ke email saya, bersamaan dengan gambar-gambar lain yang penuh inspirasi. Udah lama banget si ngirimnya dan udah lama juga tersimpan di folder foto saya. Kadang saya buka-buka lagi kalau sedang senggang.

Yupz….tidak ada yang bertanggungjawab atas kebahagiaanmu, kecuali dirimu sendiri <mudah2an bener saya nerjemahkannya>. Saya sering bilang pada diri saya sendiri: yang bisa bikin kamu bahagia itu ya dirimu sendiri, yang bikin kamu sedih itu ya pikiran2mu sendiri, yang bikin kamu cemas itu ya kekhawatiran2mu sendiri. Jadi kalau kamu mau bahagia: ciptakan itu dari hatimu…inner suggestion…. (halah belibet, padahal belum tentu bener…wkwkwk)

Abaikan celotehan saya di atas. Dan saya mau berbagi bahagia di sini. Saya bahagia karena berbagai alasan.

1. Bapak sudah sembuh

Setelah kemarin sempat tinggi tekanan darahnya, sekarang beliau sudah kembali sehat. Sudah telepon sambil tertawa2. Sudah bisa jalan-jalan pagi lagi (kalau tidak hujan). Ya..secara umum, beliau sudah sehat. Terimakasih teman-teman yang sudah membantu dalam doa. Jangan sepelekan doa ya, doa itu sangat besar kuasanya loh.. Jadi kalau ada yang bilang: “aku bantu doa ya”, itu dukungan yang luar biasa lho temans.. 🙂

2. Saya ulang tahun

Hah?? Ulang tahun lagi?? Bukan..bukan… Jadi ceritanya 13 November kemain kantor saya berulang tahun. Saya bertugas jadi mc acara ceremonial resmi –pengarahan pak kepala pusat–. Hmm..sempat deg2an juga saya, soalnya baru kali ini saya ngemsi di depan babe baru (kepala lembaga saya yang baru-saya biasa menyebutnya babe-) yang terkesan garang. Wew… Tapi puji Tuhan lancar hingga akhir. Karena hari jumat acara dilanjutkan setelah sholat jumat yaitu acara potong tumpeng dan makan bersama, dan mc-nya bukan lagi saya.

Pukul 13 kita berkumpul di ruang makan dan acara dimulai. Babe memotong tumpeng dan diserahkan pada pejabat termuda, mas yuliawanto (meski dia sudah jadi pejabat, saya tetap ndak bisa ganti manggil dia dengan sebutan “Pak”, hehe). Kemudian beliau memotong tumpeng lagi dan diserahkan pada pegawai termuda, saya… :”> (emoticon malu kaya apa ya?? :P) . Tak lupa beliau “bebani” saya dengan wejangan2nya. Doakan kami ya Pak, mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab kami dengan baik…

3. Hujan

Ya…saya bahagia karna hujan sudah datang. Ngerasain kan cuaca kemarin2 yang panas tak terkira. Ya, saya mengalami udara dan cuaca yang panas tak terkira. Menyalakan kipas angin pun rasanya tetap panas, bahkan angin yang dikipaskan pun ikut2an hangat.

Dan…cessss…..hujan datang bawa sejuk. Bau ampo (tanah) yang ditimbulkan dari hujan pertama aromanya sedaaaaaap banget. Ya nggak sih? Kalau saya iya. Rumput-rumput dan tanaman2 pasti menari-nari karna hujan. Dan suasana hujan itu lho…umh….romantis…melankolis….tragis (ups!jangan donk, kan lagi ngomongin bahagia 😉 )

Saya menikmati musim hujan kali ini… Seneng banget rasanya dia udah datang… Adem…

4. Menikah

Tenang…tenang…bukan saya yang menikah ;). Sahabat-sahabat saya banyak yang mengakhiri masa lajangnya waktu-waktu ini. Bahagia banget mendengarnya. Sahabat saya waktu SMP menikah minggu lalu, tapi saya tidak bisa datang karena bapak sedang sakit waktu itu, tapi tetep kirim doa donk (inget, doa besar kuasanya, kado paling mahal tuh 😉 ). Sahabat saya waktu SMA, ada berapa ya….mmm 2 yang udah masuk kabarnya, ntar pasti ada susulan undangan lagi deh.. Trus sahabat saya waktu kuliah…setidaknya ada 3 yang rencananya saya mau datang: Bantul, Boyolali, Cilacap. Yang Bantul sahabat di organisasi, yang Boyolali sahabat yang luar biasa (gw sebut gitu jeng, karna kita memang luar biasa…:P ), sahabat yang cilacap…wah pernah jadi teman tidur ya jeng…hehehe…

Selamat ya sahabat2…dan terimakasih banyak udah bikin aku bahagia dengan kabar2 dari kalian.

5. Pekerjaan

Pekerjaanmu udah kelar tik?? Hehe…belum…pakai banget pula belumnya.. Tapi setidaknya saya mencoba menikmati pekerjaan saya. Walaupun silih berganti tiada henti, tapi bersyukur tak terkira, lihat…betapa banyaknya saudara2 yang sedang berjuang untuk ikut tes cpns tahun ini. Untuk apa coba?? Untuk cari kerja. Nah, saya malah udah punya kerjaan banyak, gimana nggak bersyukur coba… 🙂

6. Sahabat

Saya bahagia memiliki kalian semua, sahabat2 saya di dunia maya maupun nyata. Berbagi banyak hal dengan teman2, belajar banyak hal dari teman2. Ya…saya sangat bahagia.

Beberapa waktu terakhir, saya sedang jadi pendengar yang baik dari beberapa sahabat yang sedang dalam ‘pergumulan’. Dan saya bersyukur dipilih Tuhan untuk menjadi pendengar mereka, karena lagi-lagi dari semua yang mereka ceritakan, dari apa respon saya, saya belajar….belajar..dan belajar…

7. Tidak tahu

Ya…..saya tidak ada alasannya…tau2 saya bahagia…hehe…. Akhir2 ini ada perasaan yang tidak saya pahami…dan biarlah saya menyebutnya bahagia…

.

.

::kantor, 18 November 2009: 20.01 wib::

dan hari ini ada namamu lagi

geng hore…

Persembahkanlah yang terindah demi persahabatan

Jika dia harus tau musim surutmu

Biarkan dia juga tau musim pasangmu

Sebab siapakah sahabat itu

Hingga kau hanya mendekatinya

Untuk bersama sekedar hanya untuk membunuh sang waktu

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu

Sebab dialah orangnya untuk mengisi kekuranganmu

Bukannya untuk mengisi keisenganmu

Dan dalam kemanisan persahabatan

Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka,

Tangis, kecemasan, dan kesenangan

Sebab dari titik-titik kecil embun pagi

Hati manusia menghirup udara di fajar hari

Untuk menemukan gairah segar kehidupan

(Kahlil Gibran –Sang Nabi- Tentang Persahabatan)

——————-

Apakah kamu memiliki sahabat? Seberapa berharganya sahabat buatmu?

Aku memiliki sahabat-sahabat. Kusebut mereka sahabat karna mereka tak sekedar teman yang ada di dekatku, tapi mereka adalah sahabat yang tak hanya ada di sampingku tapi juga di hatiku. Bukan hanya ada dalam sukaku tapi juga dalam dukaku. Pun begitu sebaliknya.

Di kantor aku punya sahabat-sahabat baik. Mungkin kelihatannya kami hanya berkumpul dan bersenang-senang, karna memang itulah yang tampak. Kami sering keluar makan bareng, main bareng, jalan bareng, olahraga bareng, menghadiri pernikahan temen bareng. Kami menamakan diri ‘geng hore’ karna memang awalnya kami berkumpul, keluar makan bareng saat kami sedang dibebani banyak pekerjaan dan ingin sedikit refreshing dan keluar makan bareng, supaya kita bisa sedikit rileks, supaya bisa sedikit berteriak: “horeeeeee!” Itulah awal pendirian penamaan kelompok kecil kami.

Di kantor, kami memang tenaga muda yang masih diperdayakan diberdayakan dengan maksimal oleh kantor. Tak heran jika kamilah sosok-sosok yang akan ketemu dengan bapak2 satpam pukul 19, 21, bahkan minta izin pak satpam untuk nginep di kantor. Para lemburman dan lemburwati sejati. Seringkali kami harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di luar tugas rutin kami namun memang ada dalam tugas fungsi lembaga kami. Seringkali beberapa di antara kami dipertemukan dalam satu tim kerja. Mungkin itu juga yang menambah kedekatan kami. Bahkan sekarang, saat bos sudah mengendus adanya oknum2 yang suka pulang tepat waktu di hari jumat dan berbarengan menuju arah rumah makan tertentu, pemuda pemudi kreatif, inovatif, kritis, nylekuthis (halah!), kami pun disatukan menjadi satu tim penyusun laporan akhir tahun lembaga. Kami juga yang ditraktir bos waktu beliau ultah. “Saya undang ‘’geng hore” makan siang.” Meski tentu saja ada urusan pekerjaan yang juga dibicarakan di sela-sela makan siang.

Teman-teman di kantor mungkin menilai kami hanyalah geng yang suka dolan dan makan-makan. Tapi, hey….ternyata tidak hanya sekedar itu. Saya terutama, merasakan persahabatan yang luar biasa di antara kami. Jika kami bersama dalam suka, ya itu mungkin biasa, tapi ternyata kami pun bersama saat duka. Saat aku merasa sedih, pada mereka aku cerita, mungkin tidak semuanya. Pernah suatu hari aku tidak bisa menahan tangis, lalu aku datang pada salah satu dari mereka. Dia cowok yang santai. Tapi menghadapi aku yang bermata sembab, dia pun keluar care-nya. Dibuatkannya aku kopi & dimintanya aku cerita. “Yang begini gk boleh disimpen sendiri tik, ayo cerita.” Dan merekalah yang bisa buat aku kembali tersenyum setelah menangis. Itu hanya salah satu yang bisa kuceritakan. Persahabatan kami pun unik. Beberapa di antara kami sudah menikah dan beberapa masih single. Tapi kami mengenal dengan baik pasangan2 mereka, juga pacar2 mereka. Kami pun menghormati keluarga mereka. Jika akan keluar bareng sepulang kantor, tak lupa kami pamit pada istri atau suami masing-masing, yang pacar tidak perlu pamit, cukup bilang saja, yang jomblo tinggal pergi saja tak perlu pamit dengan siapa2..hehe… Dan yang membuatku banyak belajar dari mereka adalah besarnya pengertian dari pasangan mereka, juga kepercayaan yang mereka betul-betul jaga. Kadang saya yang belum menikah ini berharap mendapatkan suami seperti mereka (yang laki2), atau seperti suami sahabat2ku ini.

Yah, ini hanya sedikit cerita tentang sahabat-sahabatku di kantor. Banyak hal berharga yang kudapatkan dari persahabatan kami. Entah apa yang sudah kuberikan pada mereka, biarlah mereka yang merasakannya. Seorang teman pernah bilang:

“Tt, aku pengen bisa temenan sama kamu seperti kamu temenan dengan mas Andi, mas Haryo, mb Anna, dan sahabat2mu itu. Aku pengen bisa seperti itu dengan kamu.”

Dia saja menganggap persahabatan kami ini indah sehingga dia pun ingin bisa seperti kami, apalagi aku yang merasakannya. I really luv u friends….

15 Juli 2009: 00.29 (repost di kantor)

Waktu insomnia sambil dengerin Ari Lasso nyanyi lagu Cinta Sejati

Dedicated for: Geng Hore (myl, mb anna, mb rina, mz andi, bro, mj)

geng hore kurang 2: yang 1 udah pulang karna ditunggu suami, yang 1 fotografer... :)

geng hore kurang 2: yang 1 udah pulang karna ditunggu suami, yang 1 fotografer... 🙂