Intermezzo II

20120730-231948.jpg

Mungkin kita butuh waktu untuk menepi, sama2 pergi, utk menguji hati, dan mengerti rasa kehilangan.

Baiklah, mari menepi, sama2 pergi, utk menguji hati, dan mengerti rasa kehilangan…

hari kesembilan belas….belasan rindu reras terlepas….lalu menguap menggumpal awan………….tertahan……..
bilakah bisa kurinaikan hujan?

namun kini, semua tak lagi sama 🙂
biar saja rindunya tertahan, biar saja tetap tergantung di awan-awan.. Usah menunggu waktu tuk rinaikan.. Usah katakan.. Biar jadi rahasiamu dan awan, ada rindu yang lelah tersimpan…

Bangun! Bangun dari mimpi dan pergi! Hapus jejak-jejak yang ragu-ragu, yang berikan kepastian bahwa segalanya tidak pasti…

Simpan rinai rindumu dengan sabar… Ada kemarau yang menunggu gerimis lucumu…

Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.

Thanks for waking me up this morning from my long long sleep. GBU!

.:tt:.

mengantar rindu..

Ini malam minggu. Saat yang selalu kita tunggu karna malam minggu adalah saat kita bertemu. Jarak kita memang tak jauh, tapi bukankah satu jengkal itu juga jarak. Dan jarak kita pun membuat kita tak bisa bertemu. Lalu waktu ikut mengambil perannya dalam memisahkan kita. Ah, untunglah kita masih punya setia, masih saling percaya, dan tentu saja dengan dasar: ‘cinta’.

Saat weekday kita hanya berjumpa lewat suara, atau barisan kata2 di layar handphone kita. Kita sama2 menahan rindu. Beruntung cinta kita tumbuh mendewasa. Pada langit yang sama membiru, kita leburkan rindu kita. Pada cinta yang sama membara, kita menyatu dalam percaya. Ah, aku bersyukur karenanya.

Malam ini aku melaju, menuju ke kotamu. Tak peduli dingin menyerangku. Aku ingin bertemu. Ingin cepat2 aku sampai di tempatmu, mengantarkan rinduku, memberikan cintaku, hanya untukmu kekasihku, hanya untukmu. Siapkan dirimu dengan hangat cintamu, karna kau akan kuhujani dengan deras rinduku. Tunggulah aku di kotamu. Kita akan segera bertemu.

-3.10.2009: 18.50-

dalam vw kodok, pada sebuah perjalanan 😀

under: fiksi