Belajar dari Kehilangan

Ketika kita kehilangan sesuatu pastilah kita merasa sedih. Apalagi jika sesuatu itu sangat berharga dan kita sayangi. Contohlah ketika sy bersedih hati kehilangan pensil kesayangan sy, sampai2 sy posting di sini untuk mengenangnya. Tapi meratapi kehilangan terlalu lama tidak akan menjadikan yang hilang itu kembali. Jika ingin ia kembali, maka kita harus mencari. Meski terkadang yang kita temukan bukanlah dia yang hilang itu, tapi dia yang lain yang menggantikan yang hilang itu. Peristiwa kehilangan itu akan menjadi berharga jika kita mau belajar darinya. Meratapi tanpa belajar tidak akan menghasilkan apa2 kecuali air mata dan kesedihan. 🙂

Ya sudah, tidak usah panjang lebar pengantarnya. Sy mau bercerita tentang kisah di balik rajutan sy. Begini ceritanya. *duduk manis ya anak2, eyang mau ndongeng*

Adalah sahabat baik sy, mb Rina, yang wajahnya mirip dengan sy, dia yang sering berbagi suka duka dengan sy, dia yang sering keluar makan siang bareng sy, dia yang sedih ketika sy hendak berangkat ke Jepang. Suaminya malah yang bilang: “Nanti kalau Titik ke Jepang, kamu sama siapa Ma?”. Weleh. Pas nyeritain apa yang dibilang suaminya itu, dia masih ketawa-ketawa. Tapi pas dia sendiri yang bilang, via sms: “Gi ngapain? Sibuk ngepak2 ya? Hiks. Kok aku jadi sedih yo :(” sy meleleh tiada tara. Hiks… Sy juga sedih mb ninggalin kamu. Tapi waktu itu sy bilang (sok tegar gitu deh): “kan masih ada mas x, mb y, dan temen2 yang lain. Dan msh ada ym, fb, tenang aja aku gk ke mana2…”. Sy sayang sama dia, seperti dia juga sayang sm sy. Ah…jadi melting lagi nih… 😦

Mb Rina memberi sy kenang-kenangan berupa syal yang merupakan hasil karyanya sendiri untuk sy pakai di musim dingin di Jepang. Waktu sy tiba di Jepang cuaca memang masih dingin. Sy senang bukan main. Mb Rina juga pemula dalam dunia rajut merajut, dan dia belajar dari youtube. Tapi hasil karyanya sudah ok punya lho dan warnanya coklat, cantik, sy memang suka warna coklat. Sy pakai selama di Osaka. Benar-benar sesuai kebutuhan mb ‘oleh2mu’ ini. Berjuta terimakasih ya.. 🙂

sy memakai syal dari mb Rina

Sy memakainya setiap hari, ke mana sy keluar, pasti sy pakai. Maklum cuaca benar2 dingin saat itu, 7-9 derajat gitu, hidung sy sampai merah ky tomat. Hehe… Seminggu sy di Osaka untuk orientasi umum, lalu sy berangkat ke Naruto, Tokushima tempat sy belajar. Dari Osaka ke Naruto kami naik bus. Sy tidur di bus, sampai tiba-tiba kami sudah sampai di pemberhentian bus di Naruto. Sy dibangunkan kawan sy dan agak terburu-buru menurunkan barang-barang sy. Setelah turun dan bus melaju sy merasakan ‘semribit’ di leher sy. “Syalkuu!!” teriak hati sy saat itu. Sy cek di tas yg sy bawa, syal tidak ada di sana. Ah….jatuh lah dia di bus :cry:. Sesampai di tempat penginapan sy sms (sms apa telpon ya, sy lupa) kawan sy sambil mewek :”syal yg dari mb Rina jatuh di bus. hu hu hu..”. Sy sedih banget. Sy sms mb Rina, minta maaf sudah menghilangkan kenang2an darinya. Sambil nangis tu sms-nya :(. Sama mb Rina dibalas: “ya udah gk papa, besok bikin lagi, malah jadi ada alasan buat belanja benang lagi. Lagipula kan udah ada fotonya.” Holoh…mb Rina ini…akunya sedih beneran, dianya nyantai aja.

Dari kejadian itu, sy kemudian bertekad: “sy mau bikin syal seperti yang mb Rina kasih. Mb Rina membuatnya dengan sepenuh hati dan memerlukan waktu yang lama, tapi dengan mudahnya km hilangkan. Coba kamu rasakan bagaimana panjangnya proses membuat syal itu”. Dengan tekad itu, sy mulai search ‘how to knit’ di google dan youtube. Berdasarkan info yang sy dapat itu, sy beli peralatan merajut (hehe..cuma needle sama benang aja ding :P). Pertama sy beli jarum yang dari bambu dan benang berwarna coklat. Tapi ternyata benangnya kebesaran dan needle dari bambu agak seret, tidak licin. Lalu setelah jadi 10 cm, sy belanja lagi needle yang dari logam dan benang yang lebih kecil. Lebih licin dan lebih manis hasilnya. Di awal-awal kuliah, waktu tugas belum banyak, sy masih bisa mengerjakannya. Tapi waktu tugas mulai banyak, sy jadi menelantarkannya dan dengan nyamannya rajutan sy ini tersimpan di laci. Baru kemarin, ketika tema weekly photo challenge tentang textured dan sy meng-upload foto rajutan sy, sy mulai melanjutkan lagi.

Sebagai pemula, tentu masih banyak lubang di sana-sini, ada yang kelompatan, ada yang saling silang, hehe… Tapi tak mengapa, jika terus berlatih pasti ada kemajuan nantinya. 🙂

masih bolong di sana-sini

Semoga sebelum musim dingin nanti syal ini sudah jadi ya mb Rin. Dan aku akan menganggapnya sebagai syal pemberian mb Rin. Maaf kalau nanti hasilnya tidak seperti yang mb Rina buat. Hug!

Begitulah ceritanya kawans. Kalau sy tidak kehilangan syal pemberian mb Rina, mungkin sampai sekarang sy tidak punya pikiran untuk belajar merajut. Dan bersyukur, dengan internet kita punya sumber belajar yang melimpah. Buat teman-teman yang ingin belajar merajut, search aja tutorialnya di youtube, banyak kok. Ok?! Yuk belajar sama-sama! 🙂

Salam hangat dari sy yg sedang belajar merajut,

Suatu hari di langitku

Jumat, 11 Juni 2010 kemarin ada pemandangan menakjubkan di langit jogja. Sebuah garis berwarna biru lurus dari barat ke timur terbentang menjelang magrib. Entah apa itu. Banyak yang menyebutnya ‘pelangi biru’. Meski saya melewatkan momen itu karna saat itu saya sedang di luar jogja, tapi tak mengurangi kekaguman saya ketika melihat foto ini. Maha Besar Allah dengan segala karya ciptanya. Luar biasa.

*terimakasih kepada mb rina yang udah mengupload foto ini di fesbuk & mengizinkanku membagikannya di blog. (sdh diizinkan to mb, hehe 😀 )*

geng hore…

Persembahkanlah yang terindah demi persahabatan

Jika dia harus tau musim surutmu

Biarkan dia juga tau musim pasangmu

Sebab siapakah sahabat itu

Hingga kau hanya mendekatinya

Untuk bersama sekedar hanya untuk membunuh sang waktu

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu

Sebab dialah orangnya untuk mengisi kekuranganmu

Bukannya untuk mengisi keisenganmu

Dan dalam kemanisan persahabatan

Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka,

Tangis, kecemasan, dan kesenangan

Sebab dari titik-titik kecil embun pagi

Hati manusia menghirup udara di fajar hari

Untuk menemukan gairah segar kehidupan

(Kahlil Gibran –Sang Nabi- Tentang Persahabatan)

——————-

Apakah kamu memiliki sahabat? Seberapa berharganya sahabat buatmu?

Aku memiliki sahabat-sahabat. Kusebut mereka sahabat karna mereka tak sekedar teman yang ada di dekatku, tapi mereka adalah sahabat yang tak hanya ada di sampingku tapi juga di hatiku. Bukan hanya ada dalam sukaku tapi juga dalam dukaku. Pun begitu sebaliknya.

Di kantor aku punya sahabat-sahabat baik. Mungkin kelihatannya kami hanya berkumpul dan bersenang-senang, karna memang itulah yang tampak. Kami sering keluar makan bareng, main bareng, jalan bareng, olahraga bareng, menghadiri pernikahan temen bareng. Kami menamakan diri ‘geng hore’ karna memang awalnya kami berkumpul, keluar makan bareng saat kami sedang dibebani banyak pekerjaan dan ingin sedikit refreshing dan keluar makan bareng, supaya kita bisa sedikit rileks, supaya bisa sedikit berteriak: “horeeeeee!” Itulah awal pendirian penamaan kelompok kecil kami.

Di kantor, kami memang tenaga muda yang masih diperdayakan diberdayakan dengan maksimal oleh kantor. Tak heran jika kamilah sosok-sosok yang akan ketemu dengan bapak2 satpam pukul 19, 21, bahkan minta izin pak satpam untuk nginep di kantor. Para lemburman dan lemburwati sejati. Seringkali kami harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di luar tugas rutin kami namun memang ada dalam tugas fungsi lembaga kami. Seringkali beberapa di antara kami dipertemukan dalam satu tim kerja. Mungkin itu juga yang menambah kedekatan kami. Bahkan sekarang, saat bos sudah mengendus adanya oknum2 yang suka pulang tepat waktu di hari jumat dan berbarengan menuju arah rumah makan tertentu, pemuda pemudi kreatif, inovatif, kritis, nylekuthis (halah!), kami pun disatukan menjadi satu tim penyusun laporan akhir tahun lembaga. Kami juga yang ditraktir bos waktu beliau ultah. “Saya undang ‘’geng hore” makan siang.” Meski tentu saja ada urusan pekerjaan yang juga dibicarakan di sela-sela makan siang.

Teman-teman di kantor mungkin menilai kami hanyalah geng yang suka dolan dan makan-makan. Tapi, hey….ternyata tidak hanya sekedar itu. Saya terutama, merasakan persahabatan yang luar biasa di antara kami. Jika kami bersama dalam suka, ya itu mungkin biasa, tapi ternyata kami pun bersama saat duka. Saat aku merasa sedih, pada mereka aku cerita, mungkin tidak semuanya. Pernah suatu hari aku tidak bisa menahan tangis, lalu aku datang pada salah satu dari mereka. Dia cowok yang santai. Tapi menghadapi aku yang bermata sembab, dia pun keluar care-nya. Dibuatkannya aku kopi & dimintanya aku cerita. “Yang begini gk boleh disimpen sendiri tik, ayo cerita.” Dan merekalah yang bisa buat aku kembali tersenyum setelah menangis. Itu hanya salah satu yang bisa kuceritakan. Persahabatan kami pun unik. Beberapa di antara kami sudah menikah dan beberapa masih single. Tapi kami mengenal dengan baik pasangan2 mereka, juga pacar2 mereka. Kami pun menghormati keluarga mereka. Jika akan keluar bareng sepulang kantor, tak lupa kami pamit pada istri atau suami masing-masing, yang pacar tidak perlu pamit, cukup bilang saja, yang jomblo tinggal pergi saja tak perlu pamit dengan siapa2..hehe… Dan yang membuatku banyak belajar dari mereka adalah besarnya pengertian dari pasangan mereka, juga kepercayaan yang mereka betul-betul jaga. Kadang saya yang belum menikah ini berharap mendapatkan suami seperti mereka (yang laki2), atau seperti suami sahabat2ku ini.

Yah, ini hanya sedikit cerita tentang sahabat-sahabatku di kantor. Banyak hal berharga yang kudapatkan dari persahabatan kami. Entah apa yang sudah kuberikan pada mereka, biarlah mereka yang merasakannya. Seorang teman pernah bilang:

“Tt, aku pengen bisa temenan sama kamu seperti kamu temenan dengan mas Andi, mas Haryo, mb Anna, dan sahabat2mu itu. Aku pengen bisa seperti itu dengan kamu.”

Dia saja menganggap persahabatan kami ini indah sehingga dia pun ingin bisa seperti kami, apalagi aku yang merasakannya. I really luv u friends….

15 Juli 2009: 00.29 (repost di kantor)

Waktu insomnia sambil dengerin Ari Lasso nyanyi lagu Cinta Sejati

Dedicated for: Geng Hore (myl, mb anna, mb rina, mz andi, bro, mj)

geng hore kurang 2: yang 1 udah pulang karna ditunggu suami, yang 1 fotografer... :)

geng hore kurang 2: yang 1 udah pulang karna ditunggu suami, yang 1 fotografer... 🙂