cint…

terbata mengeja cinta

lalu diam menggantung di sudut bibir

biar mentari menjadikannya uap

atau embun meleburnya dalam debu

 

 

 

 

 

 

kita bisu

tekun menenun waktu

———————————————————

Kata teman sy, Februari itu bulan cinta (mmm…referensinya apa ya?). Kata teman sy lagi, sy lama gk update blog ini (perasaan baru 4 hari). Kata teman sy yang lain, sy lama gk bikin puisi (bikin puisi butuh mood je). Jadi, mengakomodasi kata teman2 saya tadi, sy mencoba membuat puisi cinta untuk meng-update blog ini. Hasilnya…. beginilah kalo nulis puisi gk pake mood. Maaf ya teman. 🙂

Selamat bulan Februari…

Salam,

foto diambil dari google

postingan ke-200

Sebuah Undangan

Aku tak tertarik dari mana dan bagaimana kamu sampai disini. Aku cuma ingin tahu bahagiakah engkau berada di sini, saat ini, sekarang, bersamaku

Aku tak tertarik siapa saja keluargamu dan bagaimana silsilah orang tuamu. Aku cuma ingin tahu bisakah engkau menerimaku sebagaimana adanya dan tidak mempedulikan apa kata orang-orang.

Aku tak tertarik di mana, dan kapan serta apa yang kamu pelajari. Aku cuma ingin tahu apakah gagasanmu dan gagasanku bisa bertemu, membentuk visi dan misi yang satu, dan kita bisa mewujudkan semua itu, bukan cuma dalam khayal semu.

Aku tidak tertarik apa pekerjaanmu dan apa mata pencaharianmu. Aku cuma ingin tahu bahwa apa pun yang kamu lakukan itu, memang benar, sesuai dengan hati nuranimu, bukan sekedar mengikuti arus pendapat umum

Aku tak tertarik berapa banyak hartamu dan berapa jumlah uang yang kau miliki. Aku cuma ingin tahu benarkah engkau dapat hidup dalam kesederhanaan dan tidak menjadikan harta dunia sebagai tujuan

Aku tidak tertarik berapa usiamu dan bagaimana masa lalumu. Aku cuma ingin tahu apakah semua tahun yang telah kau lewati telah memperkaya wawasanmu dan menjadikanmu tegar menghadapi  apa pun yang terjadi, sekarang dan nanti.

Aku tak tertarik untuk tahu siapa sebenarnya kamu. Aku cuma ingin tahu maukah  engkau melangkah bersamaku dan tetap bergandengan tangan disaat semuanya tampak kelam dan seolah tanpa harapan

Aku tak tertarik untuk tahu apa pun lagi. Jika aku tahu, kita akan tetap bersama, apa pun yang terjadi, dalam suka dan dalam duka, dalam senang dan dalam sedih, dalam siang dan malam, saat segalanya gelap dan juga terang. Saat berbagi ceria dan saat harus berbagi luka, lukamu atau lukaku, dukamu atau dukaku, sedihmu atau sedihku, gagalmu atau gagalku, sakitmu atau sakitku.

Aku ingin tahu apakah kita akan tetap saling mendukung, untuk bangkit, setelah semalaman berduka, sedih dan merana dan tetap melangkah ditengah bara.

Aku tahu bahwa kita sebenarnya bisa sendirian melakukan segalanya, tetapi memilih untuk bersama.

 

Diilhami dari sebuah puisi di buku SQ

 

 

 

 

[dikopi paste dari blognya mb Rumi, yg mana beliau menyadur dari puisi The Invitation by Oriah House]

Selamat tinggal senja

Senja melenggang tanpa sepatah kata
Tak sisakan jingga berhias kilau sedikit saja
Lalu tanggallah lelah itu di sudut dengan setitik perih
Biar merata dengan fatamorgana, tepisku

Senja melenggang semakin jauh
Merentang jarak tak kasat mata dan sia-sia
Lalu tanggallah segenggam asa yang tertanam
Biar layu sebelum menuai sekotak narasi

Senja itu ada di sudut mataku
Senja itu ada di tiap inci kulitku
Senja adalah nafas yang pernah kamu tiup
Segenggam butiran kopi
Sejumput keinginan untuk berkata
Senja adalah rasa
Senja adalah kamu
Senja adalah aku
Senja adalah kita

Selamat tinggal senja..

Pati, 21 Maret 2010
Untuk: Yustha TT ‘maap inspirasinya kurang liar, T.. spontan soalnya.. but just for you, beib’

——————————————————————-
very big thanks for my lovely friend Catastrova Prima, yang udah mempersembahkan puisi cantik ini buat dirikuwh…. Aje gile betul anak ini, puisi-puisinya bernyawa euy….

sajak malam

langit tertidur,
angin berhembus pelan,
tak berani mengusik
takut daun-daun berisik

lengang..
senyap..
sunyi..
hening..

tugasmu Krik,
menyumbangkan alunan musik,
jadi nina bobo mata-mata yang masih mendelik..

Jangkrik

[3 Februari 2010, 01.32]