Sah!

Seminggu ikutan jalan-jalan ke Tokyo capek gak? Tapi seneng kan bisa lihat macem-macem tokoh anime, danau Biwa, dan perkampungan Shirakawago; bisa ikut menikmati ketinggian Tokyo Skytree, bisa mupeng liat robot Gundam segedhe Gaban (eh, itu udah beda tokoh! Gundam ya segedhe Gundam :mrgreen: ), trus bingung kenapa patung Liberty ada di Jepang, juga lewat Harajuku street dan berakhir di Shibuya. Huft…capek. Pulang yuk…

Seperti kata Armand Maulana kemarin, pulang itu ya ke rumah, ke keluarga. Senang ya kalau pulang ke rumah, ketemu keluarga, disambut si kecil yang lucu sambil teriak “ibuu pulaaaang!!!” lalu menghambur ke pelukan.. #yak mulai ngayal 😛 . Hihihi….amin deh, mudah-mudahan khayalannya segera jadi nyata. Tapi bener, habis jalan-jalan ke Tokyo itu saya pulang ke rumah beneran, lewat skype tentunya. Karna ponakan saya, anak kedua dari kk1 menikah, jadi saya streaming dari sini.

Prosesi akad nikahnya tanggal 1 Januari 2013 pukul 19:00 WIB. Tepat pukul 7 malam waktu rumah, saya whatsapp kk5, udah siap belum? Ternyata penghulu belum datang. Mempelai gelisah donk. Ditelponlah si penghulu bolak-balik, sampai si mempelai perempuan hampir ‘mutung’. Ya..wajar lah namanya juga gelisah. Hehe…. Akhirnya pukul 19:28 WIB (bisa persis karna lihat rekaman whatsapp :mrgreen: ) penghulunya datang. Lega…. Dan bersiaplah untuk acaranya. Saya ndak tau lengkapnya karna pas akad malah saya gagal skype gara-gara pulsa kk5 habis. Tapi dapat cerita kalau latihannya diulang berkali-kali. Bapaknya mempelai perempuan yang salah-salah terus. Nah, ini dia. Biasanya yang getol latihan ngapalin ijab kabul si mempelai pria, sedang yang menikahkan, si Bapak, malah sering terlewat ngapalin ijab kabul itu. Tapi terus akhirnya mbaca dan lancar. Setelah mengucap ijab kabul, tanya pada saksi, dan SAH! Puji Tuhan….. Mari berdoa semoga pernikahan mereka diberkahi Allah, menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Amin.

Hari berikutnya, 2 Januari 2013 diadakan resepsinya. Wah…dapat kiriman foto yang pada cantik-cantik dan gembira gitu. Senangnya… Tapi sedih juga karna saya gak ada di sana. Gapapa deh, besok di nikahanku kita semua ngumpul lagi yaaa…. Amiiin… 😀

Ini dia ponakan dan ponakan ipar saya.

kk1 ipar - ponakan ipar - ponakan - kk1belum punya foto lainnya :D

kk1 ipar – ponakan ipar – ponakan – kk1
belum punya foto lainnya 😀

Salam,

~Tt

Kuterima pinangannya sebelum aku mencintainya

Sebenarnya saya sedang pusing nyari ide buat tugas kuliah. Tapi berhubung belum nemu juga, jadilah saya istirahat dulu dan main ke dunia blog. Waktu baca lagi cerita Galih dan Ratna, saya jadi ingat cerpen lama saya (belum lama-lama banget sih) yang saya upload di facebook. Saya baca lagi, eh..kok rasanya nyambung sama cerpen yang kemarin, bisa jadi sekuelnya nih. Hihi…sekuelnya malah udah ditulis duluan :P. Ya udah, saya post di sini juga ya. Meskipun nggak nyambung-nyambung banget, tapi disambung-sambungin ya. Hehe…maksa… 😀

——————————————

Kuterima pinangannya sebelum aku mencintainya

“Ibu, aku mau menikah dengan Ayah.”
“Kenapa nak? Kamu tidak  boleh menikah dengan Ayah, dia suami Ibu. (senyum)”
“Kalau Ibu sudah selesai menikahi Ayah, bolehkah aku menikahi Ayah?”
“Hihi.. Ibu tidak akan pernah selesai, Nak. Kau harus menikah dengan orang lain.”
“Boleh aku mengenakan kebaya putih panjang itu Bu?
“Tentu saja.”
“Dimana kami akan hidup bahagia selamanya.”
“Jika kau menikah dengan orang yang sangat mencintaimu.”
“Seperti Ayah.”
“Ya, seperti Ayah.”

Kupeluk gadis kecilku erat. Kubelai rambutnya supaya dia segera tidur. Sementara pikiranku bermain-main ke masa lalu. Masa 8 tahun yang lalu ketika kuputuskan mengakhiri penantian panjangku dengan menerima pinangan seseorang yang tak pernah kucintai sebelumnya. Seseorang yang datang tanpa bunga, tanpa coklat, tanpa puisi cinta. Memang aku sudah mengenal dia sebelumnya. Dia hanya datang tiga kali: pertama menawarkan masa depan bersamaku dengan cinta sederhana, kedua: menanyakan jawabanku, ketiga: melamarku ke orang tuaku. Kami menikah. Dia mendasari pernikahan kami dengan niat tulus, membangun keluarga, meraih surga dalam keluarga. Dengan cinta sederhana, dengan pengertian, dengan tanggung jawab. Bukan cinta yang menggebu, bukan cinta yang penuh cemburu, bukan cinta yang mengharuskan kamu menjadi seperti yang kumau. Aku menerimanya karna ketulusannya, karna tanggung jawabnya, dan karna niatnya membangun keluarga sebagai ibadah kepada-Nya. Dia mencinta-Nya, menghidupkan hidupnya demi mencintai-Nya. Aku menerimanya bukan karna aku telah mencintainya. Bukan. Saat itu aku hanya ingin segera beranjak dari penantian panjang tanpa kepastian. Penantianku, penantian adikku, penantian kami. Sesungguhnya kami tak tau kapan penantian itu akan beraakhir. Dan aku memilih mengawalinya. Aku memilih masa depan yang lebih pasti, bersama dia yang berani menawarkannya.

Saat itu aku berpikir lebih baik aku mengalah. Ya, aku menempatkan diriku dalam posisi ‘kalah’ ketika aku memutuskan melepaskan harapan yang telah kugantung bertahun-tahun lamanya. Tapi ternyata aku keliru. Aku bukan menjadi yang kalah, tapi aku justru menang, menang melawan cinta yang menepikan logika, menang melawan keegoisanku, menang melawan hawa nafsuku, menang melawan ketakutanku akan masa depan tanpa seseorang itu. Meski aku hanya manusia biasa yang tak mudah mengikhlaskan apa yang dicintainya. Namun bersama dia, aku mampu belajar mengikhlaskan masa lalu, dan mulai belajar mencintainya. Tak sekali dua kali aku menangis ketika mengingat masa lalu. Namun dia dengan segala pengertiannya mampu menghapus air mataku, menenangkanku, mengajakku berdoa. Dia bahkan tidak marah ketika tahu bahwa ingatan akan masa lalu-lah yang mengalirkan air mataku. Dan waktu mendewasakan semuanya. Mengikhlaskan masa lalu, juga mengikhlaskan diri menjalani hidup mengikuti kehendakNya, bukan kehendakku.

Belajar mencintai memang tak semudah membalikkan tangan. Belajar setiap hari, sampai aku lelah dan memilih membiarkan semuanya mengalir seperti air. Aku memegang komitmen yang telah kuucap di depan Tuhan dan jemaat, untuk menerimanya menjadi suamiku, mencintainya dalam susah dan senang, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, menghormatinya dan patuh kepadanya. Dan aku pun mengingat janji yang juga dia ucap, bahwa dia menerimaku sebagai istrinya, mencintaiku dalam susah dan senang, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, melindungiku, dan bertanggung jawab atasku. Perjanjian itulah yang meneguhkan pernikahan kami, mengikat kami dalam kesucian pernikahan. Berpegang pada janji itu membuat kehidupan pernikahanku kujalani dengan ringan dan bahagia. Aku tak memaksakan diri untuk mencintainya. Namun ternyata, cinta itu telah tumbuh dengan sendirinya. Cinta yang dewasa. Bukan cinta membara yang mudah mati ketika badai masalah menerpa.

Tuhan mengajar melalui masalah dan pengalaman. Kehidupan pernikahanku mengajarkanku bahwa cinta bukanlah segala-galanya. Apalagi jika yang disebut cinta itu adalah ketika kamu tak bisa tidur karna merindukannya, ketika kamu marah ketika dia lupa membalas pesanmu, ketika kamu cemburu ketika dia izin makan malam dengan koleganya. Ah, cinta menggebu itu mudah mati, sangat mudah mati, jika kita tidak menumbuhkannya menjadi cinta yang dewasa. Cinta yang mengedepankan saling pengertian, cinta yang menempatkan percaya dan setia, cinta yang mengingat komitmen yang telah diucapkan bersama-sama dan cinta yang bertanggung jawab untuk mempertahankan komitmen itu. Aku pun mulai belajar untuk lebih mengerti suamiku, setia kepadanya, bertanggung jawab atas apa yang telah kuikrarkan. Menutup buku masa lalu, dan membuka buku baru yang sama sekali baru. Kami berdua memegang pena kami masing-masing dan menuliskan kisah hidup kita di buku yang sama. Karna hidup kami sekarang telah menjadi satu meski dalam dua raga, dua pena.

Puji nama Tuhan yang telah memilihkan suami yang begitu mengasihiku. Suami yang tetap mengasihiku sejak aku belum mencintainya. Suami yang bersamanya mampu kuhapus masa lalu, menjadikannya hanya kenangan semata. Jika kamu ingin bahagia dengan masa depanmu, tutuplah masa lalumu. Percayalah, ketika kamu kehilangan sesuatu, Tuhan telah menyediakan yang baru jika kamu mengikhlaskan kepergiaannya. Bahkan Tuhan akan memberimu lebih. Aku telah belajar dari itu semua. Tuhan tak hanya memberiku suami yang mencintaiku, tapi juga putri kecil kami, Langit, tempat ditaburnya segala keindahan.

Ah…suara motor suamiku terdengar. Dia sudah pulang dari lembur di kantornya. Putri kecilku sudah lelap di pelukku. Kulepas pelan pelukannya dan kubukakan pintu untuk suamiku.

“Capek Yah?”
“Sedikit. Tapi melihatmu, capek Ayah hilang.”
“Aih..Ayah merayu. Sudah, mandi dulu sana, biar capeknya bener-bener hilang.”

Suamiku menurut saja apa kataku. Dia mandi sementara kusiapkan makan malam untuknya..juga untukku. Aku memang menunggunya pulang untuk makan malam bersama. Selesai mandi, kami duduk berdua di meja makan, bercerita banyak hal di meja makan, biasanya tentang pekerjaannya dan obrolan seputar keluarga. Kami melanjutkan obrolan di sofa depan tv. Kuceritakan padanya tentang putri kecil kami.

“Ayah, tadi ada yang minta izin sama Ibu untuk menikahi Ayah.” kupasang ekspresi datar. Dia terkejut.
“Ibu, jangan bercanda ah. Ayah tidak pernah punya pemikiran untuk menikah lagi. Siapa dia Bu?”
“Lala, Yah. Lala ingin menikahi Ayah. Katanya kalau Ibu sudah selesai menikahi Ayah, dia mau menikah dengan Ayah.”
“Hahaha..Lala ada-ada saja..lalu Ibu bilang apa?”
“Tentu saja Ibu tidak izinkan. Ayah kan suami Ibu, Ibu tidak akan pernah berhenti menikahi Ayah. Kamu harus menikah dengan orang lain yang mencintaimu, seperti Ayah, tapi bukan Ayah.”
“Hihihi…Ibu yang hebat.” lalu ciuman pun mendarat di pipiku dan cumbuan demi cumbuan mengikutinya.

Ah, maaf ya, harus kuakhiri tulisan ini sampai di sini. Aku tidak ingin kalian tau apa yang selanjutnya terjadi.. ^_^

——————————————————————————————

aku & kenangan

Ini postingan beberapa waktu yang lalu, pernah sy post di notes fb & sekarang saya repost di sini. Sedang kangen ada cerpen di blog ini. Udah lama gk bikin & sekarang juga sedang tidak punya ide, jadi repost aja lah. Hehe… Ditulis di penghujung 2009.

Aku mempercepat jalanku. Lutut ini sudah gemetar. Tanganku tanpa kusadari terkepal. Dingin..dan basah. Sepanjang jalan kusenandungkan lagu pujian, supaya hatiku menjadi tenang. Dan sesampainya di kamar berukuran 3×3 meter, aku rebah.. Kubuka genggaman tanganku & air mataku mengalir.

Vespa birumu terparkir di depan rumahnya.

—–

Tanganku dingin dan jemariku mengaku. Aku harus menyelesaikan latihan ini untuk ujian akhir esok hari. Tuts hitam putih di depanku menunggu untuk kumainkan. Partitur telah kujajar di depan. Kutarik nafas dalam & kuhembuskan perlahan. Aku mulai menarikan jari jemariku. Mengalir pelan melodi kumainkan. Sesaat kulihat partitur di depanku. Bayanganmu berkelebat. Dan mengacaukan semuanya. Ah..aku pasrah. Ujian esok hari aku menyerah..

—–

“Aku hanya tetap menjalin silaturahim dgn keluarganya. Tidak mungkin silaturahim yg terjalin begitu lama putus begitu saja hanya karna kami sudah tidak bersama kan?” begitu penjelasanmu tentang keberadaan vespa biru di depan rumahnya.

Aku percaya dan kita kembali bersama.

—–

Aku tidak lulus ujian.

—–

Kamu tidak mengabariku tentang hari ini. Memang sudah satu bulan tak pernah ada kabar, tak ada kunjungan, dan aku pun merasa biasa saja karna kadang kesibukan membuat kita tak berhubungan. Biasanya semuanya baik-baik saja. Itu yang ada dlm pikirku, sampai sahabatku memberi kabar tentangmu. Diperkuat keterangan orang tuamu.

Aku memaksa datang meski sahabat2ku melarang. Aku bahkan menyiapkan kado buatmu. Karna ini hari besarmu…. Hari pernikahanmu.

Lututku melemas & bibirku gemetar. Sudah puluhan kali pujian dalam pemberkatan nikah kunyanyikan, tapi kali ini bibirku bergetar dan suaraku parau. Hanya punggungmu yang bisa kulihat, bersanding dengan dia, perempuan itu. Aku memaksa berdiri demi mendengarmu mengucapkan janji nikah, menerima dia menjadi istrimu, mencintainya dalam susah & sedih, dalam untung & malang, mendidik anak2 dalam takut akan Tuhan. Aku ingin mendengarnya. Dan ya, sekarang aku mendengarnya. Sahabat2ku harus menopangku supaya aku tetap kokoh berdiri mendengar semua itu. Semua orang tau, aku perempuan paling sedih hari ini, paling shock dengan semua ini.

Kamu pasti tidak menyangka aku ada di sini. Kamu gugup saat aku menyalamimu, mengucapkan selamat untukmu. “Kenalkan, ini adikku.” katamu pada perempuan itu, yang beberapa menit lalu telah resmi menjadi istrimu. Aku tersenyum. Getir.

Tidak ada penjelasan. Dan aku tidak butuh penjelasan lagi. Semuanya sudah jelas…

Tidak akan ada lagi suara vespa yang membuatku berlari menyambutmu. Tidak akan ada lagi telpon malam hari atau sms2 melegakan darimu. Tidak akan ada lagi dirimu di saat aku membutuhkanmu. Tidak akan ada lagi..

Vespa yang terpakir di depan rumahnya, hari2 tanpa kabar darimu, penjelasan2mu, sudah nyata hari ini. Jelas.

Aku terpuruk. Pasti.

———

31.12.09

Hari ini, ya, hari ini adalah 3 tahun setelah saat itu. Sudah 3 tahun berlalu. Kamu sudah bahagia dengan keluarga kecilmu. Sudah lahir buah cintamu.

Aku? Aku pun sudah bahagia dengan duniaku. Mengajar anak2 yang lucu2. Masuk dalam dunia mereka setiap hari. Menyaksikan mereka pintar bernyanyi, bercerita, menggambar, dan berhitung matematika, itulah kebahagiaanku. Jika aku masih sendiri, itu hanya masalah waktu. Kamu tak perlu khawatir, ini bukan karna kamu. Bukan. Ini hanya masalah waktu…..

Suatu saat kau pun akan melihat, aku bahagia sepertimu…

Amin.

.:tt:.

31.12.09

Dedicated 4 my lovely friend: nothing last 4ever, dear. Time heals almost everything…

Happy new year..

Dikopas pada hari Kamis, 18 Februari 2010, pkl.22.40 WIB.

cincin..

cincin

ups..! maaf-maaf, ini bukan dalam rangka narsis kalau saya tampilkan foto diri di sini,hehe…. Bukan juga pamer cincin kalo kebetulan ada dua cincin di jari tengah saya 😀

Kenapa cincin kawin (nikah) itu dilingkarkan di jari manis?

Coba kalian lakukan seperti yang saya lakukan di samping. Kedua jari tengah dilipat dan kesepuluh jari disatukan, ya seperti foto saya itu lah (susah jelasinnya,hehe).

Sudah semua???

Ibu jari itu ibarat orang tua, telunjuk ibarat mertua, kelingking ibarat anak, dan jari manis ibarat pasangan kita.

Masih dengan posisi jari jemari seperti semula, coba kita buka tutup ibu jari kita. Bisa? Ya, mudah. Lalu telunjuk kita, bisa juga. Kelingking? Bisa. Coba kita buka jari manis kita. Apa yang terjadi? Ternyata kita sulit melepaskan jari manis kita, tidak seperti saat kita melepaskan ibu jari, telunjuk, dan kelingking kita.

Yupz, itulah mengapa cincin kawin (nikah) dilingkarkan di jari manis. Karna pernikahan ibarat suatu ikatan yang tidak bisa dilepaskan. Kita bisa lepas dari orang tua kita, dari mertua kita, ditinggalkan anak kita kelak, tapi pasangan hidup kita, dia akan selalu bersama-sama dengan kita, terikat erat dengan kita, dan tidak terlepas sepanjang hidup kita.

Trus, napa lo pake cincin di jari tengah Tik?

Biar ketahuan kalo gue belum merid. 😀

.

.

12.10.2009:16.40

Ballroom I, The Sunan Hotel Solo