Tarian Tradisional Indonesia di Panggung Internasional

Ups! Judulnya gaya ya? Tetapi begitulah kenyataannya. Tarian tradisional Indonesia banyak ditampilkan oleh pemuda-pemudi Indonesia di dunia international. Juga banyak dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa dari negara asing yang menimba ilmu di Indonesia. Saya adalah lulusan Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki fakultas Bahasa dan Seni di mana salah satu jurusannya adalah jurusan Tari & Karawitan. Banyak mahasiswa asing yang mengikuti perkuliahan di jurusan tersebut dan seringkali saya lihat mereka sedang berlatih tari Jawa di pendapa Tejakusuma UNY. Seringkali saya merasa bangga sekaligus miris menyaksikan fenomena itu. Mereka orang-orang asing justru tertarik untuk mempelajari budaya kita, sedangkan kita seringkali mengabaikan budaya kita (dan baru merasa handarbeni ketika ada pihak lain yang mengklaim budaya yang tidak kita beri perhatian itu sebagai miliknya).

Puji Tuhan saya diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk mencari ilmu di negara lain. Sewaktu di Indonesia, ketika ditanya: ‘kamu asli mana’, maka saya akan menjawab ‘Purworejo, Jawa Tengah’. Dan oleh karenanya, saya membawa nama Jawa Tengah atau Yogyakarta dalam tindak tanduk saya. Tetapi ketika di sini, saya adalah orang Indonesia yang mewakili Indonesia sehingga saya pun harus merepresentasikan Indonesia dalam tindak tanduk saya, dan dalam pengenalan budaya, saya bukan hanya menjadi ‘orang Jawa’ tetapi ‘orang Indonesia’ dengan budaya yang beraneka ragam itu. Dan salah satu yang bisa saya lakukan untuk mengenalkan Indonesia dan budayanya di mata international adalah melalui tarian dan busana.

Di kampus saya, setiap tahun diselengarakan dua kali international party. IP yang pertama diadakan pada bulan Juli. Di IP ini masing-masing negara diperbolehkan menampilkan budayanya entah dalam bentuk tari, permainan, maupun performance lainnya. Tahun lalu, saya dan teman-teman sesama pelajar Indonesia di sini menampilkan tari Sajojo seperti pernah saya tulis di sini. Sedangkan tahun ini kami menampilkan Tari Golek Tirtakencana dari Jawa dan Tari Selayang Pandang dari Sumatera. Jadi kami mengambil tarian dari tiga kawasan Indonesia. Kawasan timur Indonesia dengan Sajojo, kawasan tengah Indonesia dengan tari Golek dan kawasan barat Indonesia dengan tari Selayang Pandang. IP kedua diadakan bulan November. Di IP ini kita menampilkan busana tradisional dari negara kita masing-masing. Tahun lalu saya tidak bisa mengikuti fashion show busana tradisional karna bertepatan dengan konferensi yang saya ikuti. Sayang sekali.

Tari Sajojo dari daerah Papua, berdasarkan informasi dari Kompas dot com, lirik lagunya bercerita tentang seorang gadis cantik yang diidolakan oleh pemuda-pemuda di kampungnya. Saya benar-benar ingin tahu arti lagu sajojo itu dalam bahasa Indonesia. Saya coba cari di mesin pencari tetapi belum menemukan. Jika ada teman dari Papua yang membaca tulisan ini, saya berharap untuk bisa berbagi arti lagu sajojo di kolom komentar. Terimakasih.

Lagu Selayang Pandang adalah lagu Melayu yang berisi pantun-pantun di tiap baitnya. Jadi ada banyak sekali versi lirik lagu Selayang Pandang. Sedangkan tarian yang mengiringi lagu ini adalah tarian kreasi baru, sehingga bisa kita modifikasi sendiri.

Menari Selayang Pandang
Saya berperan sebagai laki-laki.

Pada international party kemarin, kami juga menampilkan tari Golek Tirtakencana, tarian traditional dari daerah Jawa Tengah & Yogyakarta. Tari Golek berkisah tentang gadis remaja yang sedang bersolek, maka gerakan-gerakan dalam tari golek pun serupa gerakan bersolek seperti bersisir, memakai alis, memakai sanggul, dan berkaca. Tari Golek memiliki bermacam variasi yang penamaannya biasanya didasarkan pada iringan gamelannya. Misalnya Golek Tirtakencana yang diiringi ladrang Tirtakencana, Golek Asmarandhana dengan iringan gending Asmarandhana, Golek Surundayung dengan iringan Ladrang Surundayung, dan sebagainya. Makna Tari Golek, berdasarkan asal katanya ‘golek’ dalam bahasa Jawa yang berarti mencari, maka tarian Golek memiliki makna pencarian jati diri si gadis remaja tadi. Jika boleh saya kait-kaitkan, masa remaja memang sedang masa-masa pencarian jati diri seseorang, masa menemukan eksistensi diri, masa puber sehingga dia pun mulai belajar berdandan.

Tari Golek Tirtakencana
(penghormatan)

Tari Golek Tirtakencana
(Gerakan bersolek)

Tari Golek Tirtakencana
(mencari jati diri)

Jujur, saya sudah lama sekali tidak menari Jawa. Mungkin terakhir kali saat SMP. Memang sejak kecil sudah dileskan tari di tetangga yang kebetulan pandai menari dan kenal baik dengan Ibu. Jadi setiap Minggu sepulang sekolah minggu saya belajar menari. Waktu itu saya sempat iri dengan kakak yang dileskan menari di Pendapa Kabupaten. Tetapi ternyata tak jadi masalah belajar menari di mana saja. Ketika masuk SMP, saya pun mengikuti ekstrakurikuler tari dan melanjutkan latihan tari saya di sekolah. Di SMA, saya sudah jarang menari. Untuk tampil di panggung 17-an, saya sudah malu wong sudah besar, begitu pikir saya waktu itu. Untuk tampil di acara pernikahan, sudah mulai ditinggalkan dan berganti organ tunggal. Ya, praktis aktivitas menari Jawa saya terhenti sejak SMA. Ketika kemarin memutuskan untuk menari Golek, saya mencari panduan dari youtube untuk kemudian belajar lagi. Puji Tuhan dulu pernah berlatih sehingga bisa mengingat kembali gerakan-gerakan yang dulu dipelajari. Sedangkan untuk tari Selayang Pandang, kami juga mencari di youtube dan dipelajari bersama-sama. Puji Tuhan lancar.

Beberapa video tari tradisional Indonesia di youtube ditarikan oleh penari dari luar negeri. Saya harus bangga bahwa mereka mencintai tarian dan budaya kita. TETAPI jangan sampai kita sendiri tidak mencintai budaya kita sendiri, kalah dengan mereka-mereka yang dari luar negeri. Jangan sampai kita mendadak mencintai tari-tarian Indonesia ketika orang lain/bangsa lain lebih peduli dan lebih menghargai kekayaan budaya kita. Para pendahulu kita telah menciptakan karya sebagai hasil kreativitas olah pikir mereka yang memiliki makna filosofis yang tinggi. Kita, generasi muda lah yang wajib nguri-nguri, melestarikan budaya kita supaya tidak hilang atau diakui sebagai milik orang lain yang ‘menemukan’ harta kita yang hilang karena tak teperhatikan.

Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia.

——————————-

Update: Postingan ini memang sempat mengalami ‘pause‘ tetapi setelah tekan play lagi akhirnya selesai juga.

Kado Pernikahan untuk Sahabat

Aduk Edisi Khusus: Kado Pernikahan

Di usia saya yang sudah merapat mendekati kepala tiga, tentunya banyak sanak saudara juga kawan-kawan yang ingin segera melihat saya menikah. Sudah banyak yang membuat daftar kado pernikahan untuk saya. Bukan saya lho yang membuat daftar, tapi justru mereka. Hihi…lucu ya. Teman-teman satu ruangan saya di kantor, malah membuat semacam janji: “Mbak Titik, kalau mb Tt menikah tahun ini nanti Bu S nyumbang 1 angkruk mpek-mpek (maklum dia dari Palembang dan punya warung mpek-mpek), Bu H nyumbang dokumentasinya wis, Bu A nyumbang kamar mantennya”. Nah, yang bapak-bapak cuma klecam-klecem saja dan bilang: “kami bed cover aja ya”. Hihihi…. Dan saya cuma tertawa, ngakak 😀 (padahal dalam hati terharu sangat). Lalu ‘tahun ini’ dalam percakapan tadi pun lewat, dan mereka selamat dari pemenuhan janji mereka. Hahaha…

Yang di atas adalah percakapan 2 tahun terakhir. Sedangkan percakapan seputar pernikahan sudah ada sejak jaman kuliah. Dulu kawan-kawan kuliah saya berasal dari berbagai fakultas dengan berbagai keahlian dan keterampilan mereka. Dan puji Tuhan, mereka semua sayang sama saya. Hehe..tentu saja :P. Lalu ketika kita mulai membicarakan seputar pernikahan, maka saya sendiri yang cuma plonga-plongo, tidak berani berangan-angan, cuma diam. Nah, mereka lah lalu yang ‘menyemangati’ dengan ‘janji-janji’ mereka. Teman yang dari jurusan Teknik Tata Busana & Kecantikan bilang: ‘Mb Tt, besok kalo mb Tt nikah, aku yang dandanin ya..’, ‘..aku yang bikin kebayanya ya mbak…’ kata yg lain, ‘tenang Tik, aku siap jadi fotografernya’ kata teman yang hobby forografi, ‘mbak Tik, nanti aku nyanyi di gereja ya, mas B yang main biolanya, mas E mainin saxophone-nya, mas D and the gang mainin ensamble guitarnya.’ kata teman2 yang dari jurusan Seni Musik. “Dekorasinya biar kita yang tanganin Tik’ kata yang dari jurusan Seni Rupa. ‘Mbak Tik, aku yang nari ya..’ kata yang dari Seni Tari. “Lah aku ngapain Tik?” tanya yang dari jurusan Teknik Mesin bagian pengelasan. Hahaha… Saya bahagia, geli, tertawa, dan terharu dengan pembicaraan kala itu. Ah, teman-teman itu di mana ya sekarang.. Apa mereka masih ingat percakapan kala itu? Tapi saya sangat bahagia dengan doa yang mungkin tanpa mereka sadari terpanjat untuk saya kala itu. Terimakasih ya kawan, ‘rencana’ kado pernikahan dari kawan-kawan sangat berharga bagi saya. 🙂

Kado Pernikahan. Selama ini, kita fasih menghubungkan kado pernikahan dengan barang yang dibungkus kertas kado dengan warna-warni ceria lengkap dengan pita. Atau amplop berisi uang sebagai tanda ikut berbahagia. Tapi apakah kado pernikahan itu harus selalu berupa barang atau uang? Ternyata tidak teman-teman. Lihatlah rencana kado pernikahan yang teman-teman saya sudah rancangkan untuk saya. Mereka merencanakan untuk memberi saya kado pernikahan berupa ‘keahlian’ mereka. Bukan barang, bukan uang, juga bukan karangan bunga. Dan tentu saja yang tidak luput dari semuanya itu adalah doa.

Doa. Bagi saya, ‘doa’ sebagai kado pernikahan bukanlah sekedar ‘hanya’. Seringkali ketika kita tidak bisa menghadiri undangan pernikahan, maka kita bilang: “maaf ya, tidak bisa hadir di acara pernikahanmu, ‘hanya’ doa yang bisa kupanjatkan untukmu, semoga menjadi keluarga bahagia….”. Buat saya, doa adalah kado pernikahan yang ‘paling utama’. Barang yang terbungkus kertas kado berpita, atau uang jutaan rupiah di dalam amplop bernama, tidak akan ada artinya tanpa doa bagi mempelai berdua.

Sekarang, ketika saya berada jauh di rantau dan teman-teman saya banyak yang melengkapkan hidupnya dengan menikah, saya tak bisa hadir memberi selamat dan mengirim kado atau amplop untuk mereka. Maka saya kirimkan doa sebagai kado pernikahan buat mereka. Karna saya seorang Kristiani, maka saya berdoa dengan cara saya untuk teman-teman saya baik yang juga Kristiani maupun yang bukan. Namun tak jarang, saya juga mengirimkan kepada teman saya yang beragama Islam, doa dari surat mereka yang bagi saya sangat indah dan cocok untuk didoakan bagi pasangan yang menikah. Ketika mereka membaca surat ini, maka mereka sedang memanjatkan doa untuk mereka sendiri. Jadi saya berdoa dan mereka pun berdoa.  Doa dari Al Ma’tsurat. Saya tidak bisa bahasa Arab-nya, jadi saya tuliskan bahasa Indonesianya ya:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah terkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan marifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin.”

Doa ini belum lama saya kirim kepada sahabat saya yang menikah bulan Mei lalu. Sahabat satu kantor yang sering curhat tentang pasangan hidup dan keinginan orang tuanya untuk segera mantu anak perempuannya ini. Tapi yang namanya jodoh tidak bisa datang begitu saja ketika diminta. Dan kegelisahan pun dia alami. Namun di saat dia berada di titik kepasrahan, di saat itulah Tuhan menjawab doanya. Terharu sangat saya, ketika tiba-tiba layar FB saya berkedip-kedip dan dia mengirim pesan: “mbak Titik, aku akan menikah”. Seketika saya tak sanggup menahan air mata. Terharu dan tak henti mengucap syukur. Maka meski saya jauh darinya, doa saya terpanjat untuknya, dan doa di atas pun saya kirimkan sebagai kado pernikahan untuknya.

Untuk teman-teman yang merayakan ulang tahun pernikahan di bulan Juli ini, kiranya kado pernikahan berupa doa masih terus abadi sampai usia berapapun pernikahan kalian nanti. Dan tulisan ini pun, semoga bisa menjadi inspirasi, dan menjadi kado pernikahan untuk kalian berdua. Selamat ulang tahun pernikahan. 🙂

” Artikel ini saya tulis sebagai Wedding Anniversary Gift bagi para sahabat yang mensyukuri hari ulang tahun pernikahannya pada bulan Juli 2011 ”

——————————————————————————–

[Selesai sy menulis artikel ini, tiba-tiba ada yang berbisik di telinga saya: “Tt, kado pernikahan apa yang kamu inginkan ketika kamu menikah nanti?” Lalu saya tersenyum, dan hati saya menjawab pelan: “…dia yang mencintai Tuhan, mencintai saya apa adanya, dan yang saya cintai ini, yang sekarang ada di samping saya untuk menikahi saya, adalah kado pernikahan yang lebih dari cukup buat saya…” :)]

Karna Doamu Aku Kembali

Cerita sebelumnya ditulis oleh Hanila Husein Pendar Bintang dan Jumialely Dream: Ibunda Nadine seorang single fighter yang membesarkan Nadine dengan penuh perjuangan. Menjajakan jajanan dengan berjalan kaki dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah Nadine. Sampai akhirnya Nadine menikah dengan seorang pengusaha kaya yang membuatnya lupa akan masa lalunya. Namun kehendak Tuhan tidak bisa ditolak, suami Nadine meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Bersamaan dengan suaminya seorang perempuan muda. Desas desus pun berhembus di lingkungan sekitar. Nadine yang sedang berada di rumah ibunya memilih pulang ke rumah mewahnya sebulan setelah meninggalnya suaminya. Hal itu membuat desas desus para tetangga semakin menjadi. Ibunda Nadine hanya bisa istigfar dan mendoakan Nadine. Sampai suatu hari ibunda Nadine memutuskan untuk mengunjungi Nadine di rumahnya. Dengan uang hasil penjualan kue yang hanya pas-pasan, ibunda Nadine berangkat. Namun sesampainya di pintu gerbang rumah mewah itu, jantung ibunda Nadine seolah berhenti berdetak. Ia mendengar anaknya berteriak-teriak pada tiga orang polisi dan seorang pria berkemeja putih.

Ini Bohong, tidak mungkin, kalian jangan coba-coba menipu saya!”

Ini pasti surat palsu. Pergi kalian dari rumah saya!” Teriak Nadine sambil menggerak-gerakkan telunjuknya ke muka polisi dan pria itu, sembari memegang perutnya yang terlihat membuncit, mukanya memerah menahan amarah yang sangat besar.

Tiba-tiba tubuh Nadine melunglai. Pria berkemeja putih itu mencoba menangkap Nadine. Ibunda Nadine berlari menembus tiga polisi tadi dan memeluk anaknya.

“Istigfar Nak, istigfar.”

Nadine terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba. Namun Nadine sangat butuh pelukan saat ini, sangat butuh dukungan kekuatan. Ibundanya datang di saat yang tepat.

“Ini tidak mungkin Bu. Tidak mungkin.” Sambil menangis di pelukan ibunya, Nadine meremas lemas surat sita rumah dan harta benda miliknya untuk membayar hutang perusahaan suaminya. Tangisnya melirih, lalu berubah menjadi rintih kesakitan. Perutnya kontraksi.

 

Usia kehamilan Nadine baru menginjak 35 minggu. Bayi dalam kandungannya memang sudah bisa dilahirkan meski resikonya cukup banyak. Berat badan bayinya hanya 2000gr. Nadine hanya ditemani ibunya saat melahirkan. Susah payah dan kesakitan saat melahirkan diimbangi doa dan semangat yang terus mengalir dari mulut ibunda. Nadine merasakan betapa perjuangan seorang ibu saat melahirkan sangatlah luar biasa. Air matanya menetes deras. Antara bahagia menyaksikan buah hatinya terlahir ke dunia dengan selamat dan penyesalannya yang begitu dalam atas sikapnya kepada ibunya. Ia tau kini, mengapa ibundanya begitu sabar dan menyayanginya. Bahkan ketika mulutnya berkata kasar, ibundanya tetap sabar dan membalas dengan halus disertai doa. Nadine terhenyak. Nadine tersadar akan cinta seorang ibu kepada anaknya. Kini, Nadine sungguh merasakan betapa ia menyayangi bayi yang baru dilahirkannya. Ada darahnya mengalir di tubuh kecil yang terbaring lemah dalam incubator di ruang bayi sana. Ada kasih sayang dan perjuangan yang besar dalam setiap hela nafas bayi mungil itu.

Nadine mengusap air matanya. Menoleh pada ibunya yang baru selesai sholat magrib. Ibunya melipat mukena dan sajadah yang baru ia gunakan. Air mata Nadine kembali mengalir. Teringat perlakuannya saat melempar mukena ibunya ke tempat baju kotor. Nadine terisak.

“Ada apa Nak? Kenapa kamu menangis? Anakmu pasti baik-baik saja. Dia sudah dirawat dokter dan perawat di ruang bayi sana. Meskipun masuk incubator, tapi kondisi bayimu sehat.” Ibunda Nadine mencoba menenangkan Nadine meskipun bukan itu yang membuat Nadine menangis.

“Bu, maafkan Nadine.” Nadine tergugu, tak sanggup berkata-kata lagi.

“Kenapa kamu bicara begitu Nak? Apa yang harus Ibu maafkan?”

“Nadine sudah berlaku buruk pada Ibu. Nadine sudah bersikap jahat pada Ibu. Nadine sombong. Nadine silau dengan harta benda dan lupa pada masa lalu Nadine. Padahal Ibu yang telah berjuang dengan jerih payah untuk Nadine hingga Nadine bisa seperti ini. Nadine jahat pada Ibu…..” Nadine kembali tergugu.

“Nak, kamu tidak jahat. Tidak.. Kamu hanya sedang lupa. Tapi Ibu tak pernah lupa bahwa kamu adalah anak Ibu. Dalam tubuhmu mengalir darah dan kasih sayang Ibu dan Ayahmu. Kamu tak perlu minta maaf Sayang, ibu telah memaafkanmu sebelum kamu memintanya.”

Ibunda Nadine memeluk tubuh anaknya yang masih lemah. Ada kelegaan melihat putrinya telah kembali. Air matanya pun mengalir bahagia. Ia sangat bersyukur, sangat bersyukur.

“Bu, Nadine sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. Bolehkan Nadine tinggal bersama Ibu?”

“Tanpa perlu kamu minta, Ibu akan membawamu dan cucu Ibu pulang ke rumah Nak.”

 

Malamnya ibunda Nadine sholat tahajud. Nadine terbangun dan melihat ibunya sedang berdoa. Dalam doanya terdengar namanya disebut. Ibunda Nadine tak pernah lupa membawa Nadine dalam doanya. Nadine haru dan sangat bersyukur memiliki ibu yang teramat baik. Setengah berbisik Nadine berucap: “Ibu, terimakasih untuk kasih sayangmu. Terimakasih telah menyadarkanku dengan kasihmu. Terimakasih Bu. Nadine menyayangi Ibu meskipun tak sebanding dengan kasih Ibu. Semoga Nadine bisa menjadi ibu yang baik seperti Ibu.” Lalu dengan terbaring Nadine memejamkan mata dan berdoa untuk ibundanya….

 

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas?

Ibu…… Ibu……

 

THE END

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com

 

aku dilamar…..

Hah? Dilamar??
Iya..hihi…
Gimana ceritanya?
Ya gitu. Awalnya kita ngobrol2 biasa. Eh, tiba2 dia nanya: mau gk jadi pasanganku??
Hwaaa….romantisnya… Trus2, lu iya’in?
Ya…sempat mikir dulu sih.. Tapi akhirnya kubilang: iya, mau…
Huwaaaaa……senangnya.. Jadi kapan rencananya?
Rencana apaan?
Ya rencana nikah lah.. Habis dilamar trus apa lagi??
Hah??? Nikah???
Lho? Kok malah kaget gitu?
Hahahaha….. Kamu ituuu… Emang kamu pikir aku dilamar siapaaa??
Lha?? Emang dilamar siapa?? *bingung*
Aku dilamar sama Hani tauuu..
Hah??? Perempuan?? Ow emji… Gk nyangka. Ternyata elu…. *sigh*
Ternyata apa?? Kamu mikir apa? *toyor palanya* Kamu pikir aku homoseksual gitu?? Enak aja..
Lha itu, dilamar sama Hani…
Haha….emang urusan lamar-melamar cuma buat nikah doang bu?? Kamu kerja dulu pake ngelamar gk? Kerjaan kamu laki pa perempuan??
Kerjaan gk berjenis kelamin kalee…
Nah, itu tau..
Jadi lu dilamar Hani buat dijadiin apanyaaaa??? *gemes*
Pasangannya.
Tuh kan…masih gk boleh gw mikir lu homoseks?
Heh? Emang pasangan cuma antara laki-laki dan perempuan doang? Tu Candra Wijaya ma Toni Gunawan juga pasangan kan? Hayoo…kamu mau mikir apa?
Bingung gw..
Hahaha…kasian deh lo…
Iiiihhhh….sebel gw sama lo… *kabur*
Hahaha……

Eits….yg baca juga ikut kabur?? Bener ni gk pengen tau?? Hihi…. Sy dilamar Hani buat jadi pasangan di K3W. Apa tuh K3W? K3W adalah kontes cerita bersambung yang akan diselenggarakan oleh sohibul kontes kita Pakdhe Cholik. K3W singkatan dari Kecubung 3 Warna, nah Kecubung sendiri singkatan dari Keroyokan Cerita Unggulan Bersambung. Trus 3 warna’nya? 3 warna karna cerita bersambungnya disusun oleh 3 orang. Macam Dasrun kemarin, tapi dibatasi sampai episode 3 saja. Jadi kita harus cari kawan 3 orang untuk ikut kontes ini. Lihat trik mencari pasangan ala Pakdhe bagi yang ingin ikut tapi belum punya pasangan. Sy sudah dilamar Hani untuk jadi pasangannya. Horee….sudah punya tim buat ikut K3W. Lho? Satunya siapa Tt? Coba tebak… Hehehe…..

Ayo yang belum punya pasangan buat ikut K3W, jangan takut buat melamar. Atau mau seperti saya, tiba-tiba dilamar? 😉

Good luck kawans… 🙂

Salam penuh cinta dari Jogja,

Mendadak Kopdar

Melengkapi cerita Dini dan Ais tentang kopdar dan penculikan, sy juga mau cerita tentang drama Mendadak Dangdut Kopdar yang terjadi siang tadi. Mengharukan deh kawan. 😛

Jarum jam di pergelangan tangan sudah menunjuk waktu istirahat. Sy mulai bw ke sana kemari *hihi…dasar!*. Tiba-tiba sms datang. Dari Nandini. Isinya: “Mb Ti, lagi istirahat? Maksi yuk..” Berhubung teman-teman sy di dunia maya (baca: YM dan FB) sering ‘mengajak’ makan siang kalau tiba waktu maksi, (maksudnya mengingatkan sy untuk istirahat dan makan siang), jadi sy pikir Nandini pun mengajak sy maksi dengan tujuan seperti itu. Sy jawab: “Iya ni lagi istirahat. Yuk maksi..” dengan tanpa terpikir kalo Nandini bermaksud mengajak maksi beneran. Edodo e..ternyata Dini membalas sms sy kalo dia sedang di jalan, menanyakan lokasi kantor sy, dan akan langsung menuju kantor sy untuk menjemput sy makan siang. Doeng…ngajak maksi beneran to? Hahaha…..

Tak perlu menunggu lama, sesaat kemudian Dini sudah menelepon kalo dia sudah di depan kantor. Dengan senyum-senyum sy nyangking helm dan menghampiri gadis berbaju biru di depan kantor. Dengan semu-semu geli (karna ujug2 kopdar) sy cipika cipiki dengan Nandini, ngomentari wajah Dini yg ke-india2-an, dan sedikit bingung sambil membayangkan postur Ais (pada bingung kan? haha… ceritanya sy tertukar. Itu aja ya klu’nya 😛 ). Kami pun melaju ke Jl. Kaliurang untuk cari tempat maksi. Mlipir-mlipir karna susah nyebrang, sampailah kita ke tempat makan yang cukup nyaman.

Setelah memesan makan dan minum, mulailah kami ngobrol. Berhubung sy pendiam dan Dini ceriwis, jadi deh Dini yg banyak cerita. Hihi…. Macem-macem ceritanya. Dari kopdar gentengnya dengan Ais, kopdar dengan pakdhe Cholik, dengan Bli Cahya (aih…jadi ikut manggil Bli 😛 ), dan tentu saja mas Dhani’nya. Sudah membuktikan ‘kemedhokan’ Dini yg ternyata sama saja sama sy. Hahaha…. Sembari mengobrol, Dini menelpon dan sms Ais yg sedang nonton dengan adiknya. Saat makanan datang, saat Ais membalas kalau dia mau ikutan. Tungguin Ais dulu ya makannya. Mm..kok lama ya.. makan dulu yuk Din.. Hihi…akhirnya pas Ais datang sudah tandaslah makanan di piring kami.

Yieeey….akhirnya sy kopdaran juga dengan Nandini dan Ais. Nandini orangnya ceriwis dan Ais seru plus cuek kalo menurutku. Seru ketemuan sama mereka. Nemu cerita2 ‘tak terduga’. Hahaha… Ternyata dunia blogging itu aneka warna ya Din, Is.. Hihihi… 😛

Kapan kita ketemuan lagi? Kita bahas mau kita apakan K’Jul pas datang nanti? Sama mb Anna juga yg belum jadi ketemuan. Yuk..yuk…makan siang lagi… 😛

Thanks ya Nandini & Ais, udah kasih kejutan di hari Senin.

This is the beauty of blogging… This is the beauty of kopdar.. 😀

mersi mergi: pamer gusi pamer gigi 😀

komen ke-2000

Biar kata Pakdhe Cholik posting di hari Sabtu/Minggu akan sepi pengunjung, tapi biarlah sy posting. Udah selak kepengen posting. Hehe…

Beberapa hari kemarin ketika buka dashboard blog, pas muncul banyak komen 2000. Sy langsung pencet printscreen dan menyimpannya. Memang, itu bukan murni komentator ke-2000 karna sy kadang mereply komen sehingga sy pun ikut masuk dalam hitungan komentator. Tapi biar aja, yang penting beliau adalah komentator untuk komen ke-2000 di blog sy. Hehe…

Blog ini memang hanya blog sederhana. Pertemanan dengan teman-teman blogger belum lama terjalin. Maklum sy orangnya pemalu, jadi jarang mendahului berkunjung 😳 . Tapi ketika sudah berteman dengan mereka, sy bahagia. 🙂 Karna itu, komen di blog ini pun tak banyak. Dua tahun lebih blog ini berdiri tapi jumlah komennya baru 2000. Tapi buat sy, sy menulis karna memang sy ingin menulis dengan harapan tulisan yg sy buat bermanfaat meskipun kadang isinya cuma curhat :D. Dan kalau ada yang memberi komentar, itu artinya mereka memang terkesan dengan tulisan sy & ingin memberikan komentar.

Nah, jadi siapakah komentator dari komen ke-2000 itu?

Sy belum begitu dekat mengenalnya, meskipun sudah sering saling berkunjung. Beliau adalah blooger dari Bali. Tulisan-tulisannya seringkali menggunakan gaya bahasa tingkat tinggi tapi tak jarang juga tulisan-tulisan ringan tentang kehidupan. Sering disisipi musik Bali yang menenangkan. Putri kecilnya pernah membuat cerita bergambar untuk mb Iyha yang membuat pembaca terharu biru. Yup..yup..yup…beliau adalah Bli Budiarnaya.. *selama ini sy terbalik, sy kira Budiaryana, hehe…maafkan sy Bli… :)*

dan inilah komen Bli Budiarnaya di postingan ‘tak cukup’:

Tak seperti Edda yang memberikan award pada komentator ke-3000 di blognya, di sini sy ingin mengucapkan terimakasih kepada semua teman-teman yang sudah berkenan hadir, membaca, meninggalkan jejak di blog ini. Semoga persahabatan kita di dunia maya ini dapat terus terjalin dan bahkan mewujud di dunia nyata. Terimakasih banyak….

Salam 🙂

*postingan kali ini banyak link :D*

Boneka Tutel Lila

Kemarin saya lihat ponakan saya bermain-main dengan boneka kura-kura. Akhir-akhir ini saya lihat dia senang sekali bermain dengan mainannya itu. Wajahnya begitu sumringah waktu memamerkan boneka itu pada saya, lalu memainkannya, mengobrol dengan boneka itu seolah dia dapat bicara. Saya tersenyum dan bahagia melihatnya. Tapi, sore tadi saya lihat ponakan saya murung sambil memeluk boneka kesayangannya itu. Saya dekati dia dan pelan-pelan saya tanya.

“Sayang, kenapa nggak mainan sama bonekanya? Tu bonekanya nunggu diajarin nyanyi sama Lila.”

Ponakan saya tetap diam sambil memeluk boneka kura-kuranya. Mulutnya manyun.

“Kak Lila, aku sakit dipeluk kakak kenceng-kenceng. Ayo main kakak.” saya berbicara sebagai boneka dengan logat kanak-kanak. Lalu ponakan saya membuka mulutnya.

“Tante, kak Derby sudah mau selesai liburannya. Nanti kalau kak Derby pulang, si Tutel pasti diambil. Lila nggak bisa main sama Tutel lagi.”

Derby adalah ponakan saya dari kakak pertama. Sedang Lila adalah ponakan saya dari kakak kedua. Saya sendiri anak ketiga. Derby 1 tahun lebih tua dari Lila. Derby sekolah di kelas 1, sedang Lila masih TK. Seminggu yang lalu Derby datang menitipkan Tutel, boneka kura-kuranya, pada Lila karna dia akan pergi liburan bersama orang tuanya ke luar kota. Seperti halnya Lila yang sangat menyayangi Tutel, Derby pun sangat menyayangi Tutel. Karna itu Derby menitipkan Tutel dengan alasan supaya Tutel tidak sendirian di rumah. Lila senang sekali bisa bermain-main dengan Tutel selama Derby pergi. Tapi rupanya Lila berat hati ketika tiba waktunya boneka titipan itu akan diambil pemiliknya.

Saya mengusap kepala Lila, mencoba membuatnya merelakan Tutel diambil pemiliknya.

“Sayang, Tutel juga suka main-main sama Lila. Tapi, rumah Tutel bukan di sini. Rumah Tutel ada di rumah kak Derby. Tutel pasti kangen juga sama rumahnya.”

“Kalo gitu kita anter Tutel ke rumah kak Derby, trus kita bawa ke sini lagi ya Tante.”

Hmm…bagaimana saya harus menyadarkan Lila bahwa boneka itu bukan miliknya? Dia hanya dititipi.

“Sayang, nanti kita beli boneka kura-kura yang lebih bagus ya. Tapi, Lila harus kasih Tutel ke kak Derby kalo kak Derby ambil, karna Tutel itu milik kak Derby dan kak Derby juga sangat sayang sama Tutel. Lila nggak boleh sedih kalau nggak bisa main-main dengan Tutel lagi, karna nanti Lila punya boneka baru lagi buat gantiin Tutel. Ya.”

“Bener Tante, Lila dibeliin Tutel baru?” Lila bersemangat sambil menatap saya penuh harap. Saya mengangguk sambil tersenyum.

“Horee…” Lila mengangkat kedua tangannya sambil berteriak lalu berlari berputar-putar.

Ah, ponakan-ponakan kecilku. Kalian adalah gambaran kehidupan dalam sebuah kepolosan. Tante menyayangi kalian.

Kamar, 281210, 06.10

Fiksi

—————————————————————–

Hikmah:

  1. Tidak ada yang kita miliki di dunia ini, semua hanya titipan. Ketika Sang Pemilik hendak mengambilnya, kita harus ikhlas merelakannya.
  2. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Ada yang pergi, akan ada yang datang yang lebih baik lagi. Percayalah.
  3. Hikmah dapat diambil dari mana saja, termasuk dari hal kecil tentang boneka kura-kura Lila 🙂
Artikel ini diikutkan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.
*terimakasih kepada BunAff yang telah menjadi proffreader tulisan ini sebelum diikutkan dalam KUCB. Luv u Bun. Hug.*