Sup Ikan Kuah Kuning

Wuih..posting masak-masak lagi. Nggak bosen? Enggakkk.. Hehe..

Beberapa waktu lalu ada tamu dari Rwanda. Bukan orang Rwanda sih, tapi orang Jepang yang menjadi koordinator project di Rwanda. Seperti biasa jika kami kedatangan tamu baik profesor maupun visitor lain, kami akan mengadakan international student’s party, entah welcome party atau good bye party. Biasanya kami akan memasak masakan kami masing-masing, kemudian kami bawa ke guest house dan kami makan bersama. Jadi kita bisa menikmati aneka makanan dari berbagai negara. Hehe…tak perlu ke Thailand untuk menikmati green curry, tak perlu ke Philippine untuk menikmati pangsit, tak perlu ke Jepang untuk menikmati sushi. (Lho, ini kan lagi di Jepang. Hihi…).

Di pertemuan kemarin sy memasak Sup Ikan Kuah Kuning. Begini penampakannya:

Coba bayangin gimana rasanya? Hehe… =P~ drooling

Gimana cara membuatnya? Gampang kok. Yuk kita mulai siapkan bahan-bahannya.
Bahan:
Ikan 5 ekor, lumuri jeruk nipis & garam lalu digoreng.
Santan
Petai (potong kecil-kecil)
Cabai

Bumbu:
5 siung Bawang merah
3 siung Bawang putih
Kemiri
1 sdt Ketumbar
Kunyit
Sereh (memarkan)
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya

Cara membuat:
Haluskan bumbu (kecuali sereh, memarkan saja). Tumis bumbu hingga harum. Masukkan sereh. Masukkan santan, aduk-aduk sampai tercampur rata. Masukkan ikan, petai, dan cabai. Diamkan sampai bumbu meresap. Angkat, sajikan.

Hmm…..mari masak…[]--- cook

Nah, setelah masakan itu sy bawa ke party, teman sy dari Pasific (Fiji & Salomon) bilang ini seperti masakan di tempatnya juga, namanya suruwa. Jadilah mereka seperti bernostalgia sama masakan mereka. Hihi…senang sy karna mereka suka. Beberapa waktu lalu ketika kita ada perpisahan teman yang mau kembali ke Thailand, mereka nanyain lagi suruwa ala Tt. Haha…masa’ suruwa terus, ganti tempe bacem dulu ya. Hehe…

Selesai makan, lanjut ngobrol sharing pengalaman. Dan sebelum pulang, seperti biasa foto bersama dulu sebagai kenangan. 🙂

Ternyata yang narsis bukan cuma masakannya aja. Yang masak juga ikutan narsis. 😛

Selamat awal bulan kawans..
Salam,

Masak sih.. ;)

Saya perempuan yang tidak bisa memasak. Ah, masak sih? Yee…nggak percaya. Saya hanya bisa masak dua jenis masakan, yaitu ‘sop’ dan ‘oseng’ seperti yang pernah saya tulis di sini. Kalau disuruh masak, pasti hasil masakannya merupakan anggota himpunan sop atau oseng :D. Di Jogja banyak sekali warung makan yang menyediakan makanan siap santap, jadi tidak perlu memasak sudah bisa makan 3 kali sehari dengan menu yang diinginkan. Dan karena saya termasuk golongan orang yang pemalas praktis, jadi saya lebih sering makan di luar ketimbang masak sendiri. Saya akan masak kalau sedang ingin masak. Hehe.. Atau kalau pas Ramadhan tiba dan saya ikut puasa, biasanya saya dan anak-anak kost akan masak bersama untuk sahur dan berbuka. Atau kalau pas mudik dan ingin masak, maka saya masak. Selainnya itu, beli jadi. Hehe…

Setelah di sini, saya tidak bisa lagi dengan mudah mendapatkan warung makan murah meriah seperti di Jogja. Hasilnya, saya jadi belajar masak sedikit-sedikit. Tiap hari saya masak minimal untuk makan siang dan makan malam. Sarapan biasanya roti dan susu. Pas awal-awal masak, saya foto ‘hasil karya’ saya itu. Begitu seterusnya sampai sekarang. Kalau masakannya berulang, tidak saya foto lagi. Dan saya pernah ‘tunjukkan’ beberapa hasil karya belajar masak saya di sini. Melihat foto-foto di situ saya merasa begitu lugu. Hihi… Fotonya yang lugu. Sekarang saya belajar masak yang lain-lain lagi selain tumis dan sup. Saya belajar masak masakan Indonesia. Beberapa memang masih menggunakan bumbu instant yang saya beli online dari distributor di sini, seperti bumbu rendang, bumbu gulai, dan bumbu sambal goreng ati. Tapi yang lainnya, saya coba racik sendiri dengan bumbu seadanya. Puji Tuhan hasilnya tidak begitu mengecewakan. Setidaknya terbukti dari berat badan saya yang naik 2.5 kg selama di sini, yang saya simpulkan sebagai: saya banyak makan. Hehe..

Di sini sering diadakan party, dan kami diminta membawa masakan kami masing-masing. Karna itulah saya belajar membuat masakan Indonesia, supaya saat di party bisa bilang ke teman-teman dari negara lain bahwa ini masakan asli Indonesia. Hehe… Di acara welcome party menyambut kedatangan kami (saya di dalamnya), saya belum bisa masak apa-apa, jadi saya cuma bikin timus. Apakah itu masakan asli Indonesia? Semoga iya. Masakan asli Indonesia yang lainnya yang pernah saya bawa ke party adalah ‘sambal terong balado’ dan ‘mie goreng’ 😀 (sayang saya tidak punya foto mie gorengnya).

Timus

Sambal Terong Balado (Balado Eggplant Sambal)

Sekarang saya menikmati aktivitas memasak di dapur. Ternyata menyenangkan sekali. Dan ketika masakan saya matang, saya akan lebih senang ketika saya bisa berbagi dengan teman saya lalu makan bersama (kalau teman yang saya ajak berbagi itu satu asrama, biasanya kami makan bersama di kamar saya, tapi kalau yang saya ajak berbagi itu berbeda asrama biasanya kami akan makan bersama di waktu yang sama, hehe..). Kebahagiaan itu akan berlipat ketika dibagi.

Nah, postingan saya melebar dari masak sampai ke bahagia kan? Hehe… Ya sudah, begitu dulu cerita saya tentang masak-memasak. Saya punya cerita lain tentang persahabatan dan teknologi yang mendekatkan kami, juga cerita tentang mas Krishna yang makin lucu saja. Tapi masih belum sempat nulisnya. Semoga tidak tertunda lama.

Mari memasak kawan. Bagikan kebahagiaan melalui masakan. 🙂

This slideshow requires JavaScript.

 

Salam penuh cinta,

Masak Yuk..

Eh? Gk salah ni Tt ngajaki masak? Udah bisa masak kamu sekarang T?

Aiiii…..tidak tidak tidak….!! Sy masih belum bisa masak. Teteup, seperti yg sy bilang di ‘8 things about me’ bahwa sy cuma bisa masak sop & oseng :D. Tapi sekarang sy lagi seneng-senengnya masak ni. Lagi belajar masak ceritanya. Hehe… Berhubung sy bisanya cuma sop & oseng, jadi yg sy masak juga cuma seputaran itu :D. Ky’nya perlu belajar atau nyontek resep dari dapurnya mb Nchie deh. Hihi… Diizinkan kan mama Olive? 😉

Nah, karna kemampuan sy memasak cuma sop & oseng, makanya sahabat sy kalo nanya bukan: “hari ini masak apa?” tapi “hari ini masak sop/oseng apa?”. Hihihi…..dasar! Kalo pas lagi malas atau gk ada waktu (cie..soksib), sy cuma goreng sesuatu & bikin salad. Cukup lah. Yang penting ada nasi, sayur, lauk, buah, dan minum :D. Lho? Kok bukan susu? Ah, 4 sehat aja udah cukup lah.. 😛

Btw, banyak hal yang bisa didapat dari memasak lho. Dengan memasak kita bisa mengatur sendiri kombinasi menu sesuai kebutuhan gizi kita. Dapet deh: kemampuan merencanakan. Setelah merencanakan menu masakan, kita akan mulai menyiapkan bahan-bahan, bumbu, dan sebagainya. Hey, kita dapat lagi: kemampuan meng-arrange (padanan bhs Indonesia paling tepat apa ya? Maksudku dari nentukan berapa banyaknya sampai siap jadi bahan yg siap dimasak, apa termasuk kemampuan merencanakan ya? haha…pokoknya itu lah..). Setelah itu, selama proses memasak, kita belajar berkesperimen. Tidak selalu kan kita saklek sesuai resep. Kadang kita melakukan modifikasi di sana-sini. Selain itu, kita juga bermain insting saat memasak. Kadang kala resep hanya menulis ‘garam secukupnya’. Nah, di sini insting kita mulai dimainkan. Lalu saat masakan telah matang, kita akan menyajikan masakan kita. Ahay…di sini kita mendapatkan kreativitas dan nilai estetika lho. Kita akan berpikir kreatif, bagaimana menyajikan hasil masakan kita supaya indah dan menarik untuk disantap. Hmm… Banyak ya yg bisa kita dapatkan dari memasak. Ini baru yang untuk kita, orang dewasa. Belajar memasak untuk anak-anak lebih banyak lagi manfaatnya. Baca sendiri ya… (dasar pemalas 😀 ) Di sini, di situ, di sana.

Mmm..mau lihat hasil masakan sy gk?! *enggaaaaaaaak!!!* Tapi sy maksa ah buat majang foto masakan sy… :mrgreen: *ya udah deh, sok atuh.. *

oseng cumi & cumi goreng tepung (serba cumi)

sop ikan & tumis udang brokoli

salad & udang goreng

Yuk masak…. Menyenangkan, banyak manfaat & irit juga lho… Hihihi… 🙂

.

Salam penuh rasa,

(uji coba signature dr Kilan)

Keripik Jamur

Berapa waktu yang lalu teman sy main ke kost. Pas kebetulan cemilan yang ada di kost adalah keripik jamur. Jadilah obrolan kita diawali dari cerita seputar jamur. Obrolan berkembang ke mana2 dan keripik jamur seplastik pun habis sudah. Wah….ini anak doyan apa laper ya, hehe….

Sy jadi kepikiran untuk bikin sendiri. Waktu belanja kebutuhan bulanan, sy ambil satu wadah jamur tiram yg berwarna putih itu. Dengan semangat 45 sy berniat bikin keripik jamur. Tapi sayang disayang kesibukan membuat sy tidak sempat untuk memasak, apalagi yg sifatnya ‘rekreasi’ gitu. Jamur pun ngendon di kulkas beberapa lama.

Hari ini, depan kost dipasang tenda untuk acara nikahan tetangga kost. Jadilah sy tidak bisa ke mana2. Kebetulan sy tidak mudik krn mau jagong ke tetangga itu. Sy jadi punya kesempatan buat mengolah si jamur yang (belum) berjamur. Hehe….

Jujur, sy nggak ngerti sebenernya resep buat bikin keripik jamur itu apa. Sy cuma menduga-duga. Jadi begini cara sy:

Bahan:

  • Jamur tiram
  • Tepung terigu
  • Tepung beras
  • Garam
  • Penyedap rasa (jika perlu)

Cara membuat:

  • Jamur tiram disuwir-suwir (bahasa indonesianya apa ya?) lalu dicuci dan tiriskan.
  • Campur tepung terigu dan tepung beras (sy kemarin perbandingannya 1:1)
  • Tambahkan garam dan penyedap rasa (bila perlu)
  • Lumuri jamur dengan tepung lalu goreng

Jadi deh keripik jamurnya……

This is it keripik jamur ala chef  Tt 😀

krispi meskipun sudah dingin

dinikmati dengan segelas milo hangat....

Selain memang sy pengen bikin keripik jamur, postingan ini juga terinspirasi dari postingan bunda Tuti tentang jamur & postingan mb anna tentang sup krim brokoli (Liat deh, brokoli yg sy pake sebagai hiasan itu rencananya mau sy bikin sup krim brokoli ky yg mb anna buat, tapi karna gk sempat2 akhirnya si brokoli mengering sudah).

Bagaimana? Mudah bukan untuk membuatnya?

Anda ingin mencobanya??? 😉

cita-citaku jadi chef… :-o

“Jadi chef”

Begitu jawab ponakan ketika kutanya: “cita-citamu jadi apa Gas?” Kontan saja saya menegaskan pertanyaan sy tadi: “Wueh, mb itu nanya serius je.” dan langsung pula dijawab dengan gemes sama ponakan: “Bagas juga seriuuuuuussss mbaaaakkkk.”

Wogh 😮

Saya mau kenalin dulu ponakan saya ini. Dia laki-laki, masih duduk di kelas VIII atau 2 SMP. Sejak SD termasuk anak yang cerdas di kelasnya. Selalu dapet ranking atau masuk 10 besar. Anak ke-3 dari 5 bersaudara. Ibunya memang pintar memasak, masakan yang dimasak ibunya selalu enak (menurut lidah saya 😀 ). Ponakan saya ini suka ikut membantu ibunya di dapur. Atau karna ini ya dia jadi suka memasak dan pengen jadi chef???

Pertanyaan saya tadi saya lontarkan lantaran kakaknya usai bercerita tentang ujian masuk perguruan tinggi yang dia ikuti. Pilihan-pilihan jurusan apa saja yang dipilihnya. Lalu muncullah pertanyaan pada adiknya yang waktu itu ikut dalam obrolan kami. Mendengar jawaban ponakan tadi, hampiiiirrr saja saya menganggap cita-citanya aneh. Untunglah malaikat baik segera menggiring pikiran saya menuju pikiran yang baik-baik. Tidak ingin saya membuat dia kecewa. Saya mencoba menyemangatinya untuk mewujudkan cita-citanya. “Kalo gitu nanti nerusin di SMK Boga aja ya Gas, terus kuliahnya di perhotelan. Kamu kan anak pinter, nanti bisa jadi chef sukses kaya Bara Pattiradjawane apa Rudi Khoirudin. Ntar kalo di tivi acaranya apa Gas? Dapur Bagas Triatmoko!!”, “Wah, jelek mbak, namaku jadi Bagas Moko aja biar bagus kalo di tivi” begitu jawabnya.

Hmm….saya jadi ingat ponakan bunda Tuti yang juga ingin jadi chef. Saya rasa profesi chef saat ini sudah jadi profesi favorit. Terbukti banyak yang ingin jadi chef. Menjadi chef bukan karena kebetulan kuliah di jurusan Boga, namun karena keinginan dan minat pada dunia itu.

Ayo Gas, kejar cita-citamu! Ibumu mendukung cita-citamu. Terbukti dia sediakan bahan-bahan kalau kamu ingin masak-masak di rumah. Tantemu ini juga mendukung, apalagi itu sudah jadi minatmu. Semoga berhasil ya Gas. Karna keberhasilan bukan pada apa pekerjaanmu, tapi pada bagaimana kamu mengerjakan pekerjaan itu. Jika kamu melakukannya dengan cinta, seluruh alam raya pasti mendukungmu. *ups, merampok kata2 om paulo coelho tanpa izin 😀 *

—jadi, apakah pekerjaanmu sesuai dengan cita-citamu??—

Long weekend, ngapain?

Akhir minggu, atau biasa kita sebut weekend -bukan karna sok inggris,tapi karna kata itu lebih sering dipakai daripada bahasa indonesianya- adalah saat yang saya tunggu,apalagi jika pekerjaan sedang banyak-banyaknya,weekend jadi saat buat rest n relax. Hari sabtu biasanya saya gunakan untuk bersih2 & mencuci. Juga saat buat bercengkerama dengan anak2 kost dengan masak bareng atau bikin makanan bareng. Tapi kadang ibu kost ngeduluin kita mengirim makanan buatannya. Jika begini kita tak lagi bikin2,tinggal menikmati saja. Sering2 aja bu,hehe… Siang hari waktunya bermalas-malasan dan sorenya mudik ke kampung halaman. Itu kalo hari sabtu free dari kegiatan. Kalau pas ada kegiatan lain lagi ceritanya.

Mudik ke kampung halaman & bercengkerama dengan babe n ponakan adalah rutinitasku tiap akhir minggu. Kadang kakak n ponakan juga datang menambah kehangatan keluarga. Kalau pas kebetulan sahabat saya mudik,biasanya dia akan berkunjung dan mengisi malam minggu saya dengan cerita yang beraneka warna. Itulah malam mingguku.

Hari minggu saya ke gereja. Pulang gereja mampir alun2 nyari sarapan. Jam segini masih banyak pemuda2 yang habis olahraga n sarapan di penjual2 yang berjajar di pinggir alun2, atau keluarga yang sekedar jalan2 bersama anaknya yang masih kecil. Rame sekali alun2 di minggu pagi. Acara hari minggu selanjutnya adalah masak, bersih2 rumah dan bobo siang. Ah…ternyata tidur siang itu nikmat sekali. Kenapa ponakan2 itu harus disuruh-suruh untuk bobo siang ya?

Nah,itu adalah aktivitas saya tiap weekend. Dah hey..ada tambahan libur 1 hari lagi minggu ini. Itu artinya long weekend… Wah,senangnya bisa libur lebih lama. Jadi apa kegiatanku di long weekend ini? Boleh ya saya cerita.

Sabtu
Seperti biasa,sabtu adalah waktu bersih2 n mencuci. Sabtu ini saya mau mudik lebih pagi karna sudah janji mau nganter babe ke undangan. Jadi saya hanya mencuci,mandi,lalu mudik ke kampung halaman. Sampai rumah bapak sudah siap mau ke undangan. Jadi saya hanya istirahat sebentar lalu berangkat nganter bapak. Di tempat undangan bapak ketemu teman2nya & saya ketemu 2 guru SMP saya. Dulu waktu saya SMP mereka masih pacaran,e sekarang anaknya udah SD. Ternyata sudah 11 tahun saya meninggalkan sekolah yang mengantar saya ke masa puber itu.

Itu hari sabtu saya, selain tidur siang, bersih2 rumah & kasih semangat buat ponakan yang besok mau maju final bulutangkis PBSI Cup se-Kab. Purworejo.

Minggu
Saya ke gereja pagi,beribadah sekaligus menjadi saksi peneguhan teman saya menjadi majelis gereja. Pulang gereja seperti biasa cari sarapan. Setelah itu saya & bapak langsung meluncur ke Gedung Serba Guna untuk kasih suport ponakan yang maju final PBSI Cup. Sampai di lapangan,ponakan sedang pemanasan. Saya lihat lawan tandingnya juga sedang pemanasan. Waduh,badannya lebih besar dari ponakan saya. Pantas saja semalam ponakan tampak agak2 takut bertarung. Tapi dengan semangat & tekad yang kuat,ponakan pun maju bertanding.

Yup,waktunya tiba. Meski masih kecil,di pertandingan dia masuk kelas usia dini, dia tampak lincah di lapangan. Aku lihat dia sedikit grogi meski terus beraksi. Set pertama dia kalah telak 11-21. Waktu pergantian set kulihat dia menenggak minumnya hanya untuk menutupi perasaan kecewanya. Saat pelatih memberi arahan2 dia mengangguk2 sambil tetap menenggak minumannya. Tapi saat akan memasuki lapangan kulihat dia mengusap matanya dengan lengan bajunya. Ya..dia menangis.. Tapi tak lama karna setelah di lapangan dia kembali beraksi. Berada pada posisi seimbang berkali-kali akhirnya dia mengakui keunggulan lawannya dengan skor 18-21 di set kedua.

Ya,namanya prestasi harus diraih dengan usaha & kegagalan adalah pemacu untuk berjuang meraih kesuksesan. Bagi orang dewasa mungkin mudah memaknai kalimat itu,tapi untuk anak kecil,harus mencari istilah yang mudah dia cerna untuk menguatkannya lagi. Setelah sempat menangis seusai pertandingan & mendapat support dari ortu,pelatih, & teman2nya, ponakan saya kembali bersemangat lagi dan ikut memberi semangat teman2 satu klubnya yang ikut bertanding di kelas yang berbeda.

Yup! Seharian hari Minggu ini hampir saya habiskan di lapangan bulutangkis. Hanya saat istirahat kita sempat pulang & tidur siang, kemudian sorenya kembali ke lapangan lagi menyaksikan pertandingan selanjutnya & menunggu penerimaan piala untuk ponakan saya. Dia tampak sangat bahagia menerima piala meski sebagai juara 2. Sampai di rumah ditaruhnya piala pertamanya itu di samping piala kakaknya yang dulu menjuarai lomba macapat.

Saya bangga dengan ponakan saya yang meskipun masih kecil punya semangat yang begitu besar. Dia bilang: “Mbak,kalau Taufik Hidayat itu kan nama di bajunya ‘Hidayat T’ to mbak? Berarti aku besok ‘Candra P’ ya mbak?” Saya tersenyum bangga mendengarnya. Itu artinya dia ingin menjadi seperti Taufik Hidayat,memakai kaos bertuliskan namanya Puspita Candra Dewi menjadi ‘Candra P’ dan berlaga di tingkat dunia. Saya hanya bisa menyemangatinya untuk terus berlatih, makan teratur,dan menjaga kesehatan.

Itulah hari kedua.

Senin
Pagi2 2 ponakanku sudah bermain bulu tangkis di lapangan RT dekat rumah. Sepulang main mereka berdua mulai request masakan. Akhirnya kubawa mereka berdua ke pasar untuk memilih sayuran sendiri. Pilihan jatuh pada sawi hijau,tahu putih,& wortel. Untuk lauknya mereka memilih tempe,hehe..

Aktivitas selanjutnya: memasak. Dan anak2 makan dengan lahap..

Berhubung karakter di hp hbs,jd ckp segini ceritaku. Bagaimana long weekend kalian? Cerita ya