Wedang Serbat Dalam Mug GerhanaCoklat: Teman Ngeblog di Musim Dingin

Ini adalah musim dingin pertama yang kualami. Kedinginan, itulah yang kurasakan. Minum minuman penghangat badan adalah salah satu yang kulakukan. Beberapa jenis minuman penghangat tubuh dari Indonesia tersedia di laci meja. Setiap hari kuminum satu, dua, tiga gelas, tergantung keinginan. Kali ini aku memilih serbat sebagai penghangat tubuh sekaligus teman ngeblogku. Kuramu di mug gerhanacoklat hadiah dari pembelian buku dengan judul yang sama. Sengaja kubawa ke Jepang mug ini sebagai tanda persahabatan antara aku dan penulis buku ini, kak Yulia Hardy. Di kakiku terpasang heater sebagai penghangat ruangan (tidak ada AC di kamar mungilku ini). Hangat di luar, hangat di dalam. 🙂

masukkan satu atau dua butir serbat

tuang air panas

tambahkan gula sesuai selera, untukku kutambah 1 blok gula

aduk rata

ngeblog ditemani wedang serbat dalam mug gerhanacoklat

 

#diikutsertakan dalam Photo-Contest yang diadakan kak Julie.

Selamat Tahun Baru, semuanya… 🙂

Karna Doamu Aku Kembali

Cerita sebelumnya ditulis oleh Hanila Husein Pendar Bintang dan Jumialely Dream: Ibunda Nadine seorang single fighter yang membesarkan Nadine dengan penuh perjuangan. Menjajakan jajanan dengan berjalan kaki dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah Nadine. Sampai akhirnya Nadine menikah dengan seorang pengusaha kaya yang membuatnya lupa akan masa lalunya. Namun kehendak Tuhan tidak bisa ditolak, suami Nadine meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Bersamaan dengan suaminya seorang perempuan muda. Desas desus pun berhembus di lingkungan sekitar. Nadine yang sedang berada di rumah ibunya memilih pulang ke rumah mewahnya sebulan setelah meninggalnya suaminya. Hal itu membuat desas desus para tetangga semakin menjadi. Ibunda Nadine hanya bisa istigfar dan mendoakan Nadine. Sampai suatu hari ibunda Nadine memutuskan untuk mengunjungi Nadine di rumahnya. Dengan uang hasil penjualan kue yang hanya pas-pasan, ibunda Nadine berangkat. Namun sesampainya di pintu gerbang rumah mewah itu, jantung ibunda Nadine seolah berhenti berdetak. Ia mendengar anaknya berteriak-teriak pada tiga orang polisi dan seorang pria berkemeja putih.

Ini Bohong, tidak mungkin, kalian jangan coba-coba menipu saya!”

Ini pasti surat palsu. Pergi kalian dari rumah saya!” Teriak Nadine sambil menggerak-gerakkan telunjuknya ke muka polisi dan pria itu, sembari memegang perutnya yang terlihat membuncit, mukanya memerah menahan amarah yang sangat besar.

Tiba-tiba tubuh Nadine melunglai. Pria berkemeja putih itu mencoba menangkap Nadine. Ibunda Nadine berlari menembus tiga polisi tadi dan memeluk anaknya.

“Istigfar Nak, istigfar.”

Nadine terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba. Namun Nadine sangat butuh pelukan saat ini, sangat butuh dukungan kekuatan. Ibundanya datang di saat yang tepat.

“Ini tidak mungkin Bu. Tidak mungkin.” Sambil menangis di pelukan ibunya, Nadine meremas lemas surat sita rumah dan harta benda miliknya untuk membayar hutang perusahaan suaminya. Tangisnya melirih, lalu berubah menjadi rintih kesakitan. Perutnya kontraksi.

 

Usia kehamilan Nadine baru menginjak 35 minggu. Bayi dalam kandungannya memang sudah bisa dilahirkan meski resikonya cukup banyak. Berat badan bayinya hanya 2000gr. Nadine hanya ditemani ibunya saat melahirkan. Susah payah dan kesakitan saat melahirkan diimbangi doa dan semangat yang terus mengalir dari mulut ibunda. Nadine merasakan betapa perjuangan seorang ibu saat melahirkan sangatlah luar biasa. Air matanya menetes deras. Antara bahagia menyaksikan buah hatinya terlahir ke dunia dengan selamat dan penyesalannya yang begitu dalam atas sikapnya kepada ibunya. Ia tau kini, mengapa ibundanya begitu sabar dan menyayanginya. Bahkan ketika mulutnya berkata kasar, ibundanya tetap sabar dan membalas dengan halus disertai doa. Nadine terhenyak. Nadine tersadar akan cinta seorang ibu kepada anaknya. Kini, Nadine sungguh merasakan betapa ia menyayangi bayi yang baru dilahirkannya. Ada darahnya mengalir di tubuh kecil yang terbaring lemah dalam incubator di ruang bayi sana. Ada kasih sayang dan perjuangan yang besar dalam setiap hela nafas bayi mungil itu.

Nadine mengusap air matanya. Menoleh pada ibunya yang baru selesai sholat magrib. Ibunya melipat mukena dan sajadah yang baru ia gunakan. Air mata Nadine kembali mengalir. Teringat perlakuannya saat melempar mukena ibunya ke tempat baju kotor. Nadine terisak.

“Ada apa Nak? Kenapa kamu menangis? Anakmu pasti baik-baik saja. Dia sudah dirawat dokter dan perawat di ruang bayi sana. Meskipun masuk incubator, tapi kondisi bayimu sehat.” Ibunda Nadine mencoba menenangkan Nadine meskipun bukan itu yang membuat Nadine menangis.

“Bu, maafkan Nadine.” Nadine tergugu, tak sanggup berkata-kata lagi.

“Kenapa kamu bicara begitu Nak? Apa yang harus Ibu maafkan?”

“Nadine sudah berlaku buruk pada Ibu. Nadine sudah bersikap jahat pada Ibu. Nadine sombong. Nadine silau dengan harta benda dan lupa pada masa lalu Nadine. Padahal Ibu yang telah berjuang dengan jerih payah untuk Nadine hingga Nadine bisa seperti ini. Nadine jahat pada Ibu…..” Nadine kembali tergugu.

“Nak, kamu tidak jahat. Tidak.. Kamu hanya sedang lupa. Tapi Ibu tak pernah lupa bahwa kamu adalah anak Ibu. Dalam tubuhmu mengalir darah dan kasih sayang Ibu dan Ayahmu. Kamu tak perlu minta maaf Sayang, ibu telah memaafkanmu sebelum kamu memintanya.”

Ibunda Nadine memeluk tubuh anaknya yang masih lemah. Ada kelegaan melihat putrinya telah kembali. Air matanya pun mengalir bahagia. Ia sangat bersyukur, sangat bersyukur.

“Bu, Nadine sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. Bolehkan Nadine tinggal bersama Ibu?”

“Tanpa perlu kamu minta, Ibu akan membawamu dan cucu Ibu pulang ke rumah Nak.”

 

Malamnya ibunda Nadine sholat tahajud. Nadine terbangun dan melihat ibunya sedang berdoa. Dalam doanya terdengar namanya disebut. Ibunda Nadine tak pernah lupa membawa Nadine dalam doanya. Nadine haru dan sangat bersyukur memiliki ibu yang teramat baik. Setengah berbisik Nadine berucap: “Ibu, terimakasih untuk kasih sayangmu. Terimakasih telah menyadarkanku dengan kasihmu. Terimakasih Bu. Nadine menyayangi Ibu meskipun tak sebanding dengan kasih Ibu. Semoga Nadine bisa menjadi ibu yang baik seperti Ibu.” Lalu dengan terbaring Nadine memejamkan mata dan berdoa untuk ibundanya….

 

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas?

Ibu…… Ibu……

 

THE END

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com

 

aku dilamar…..

Hah? Dilamar??
Iya..hihi…
Gimana ceritanya?
Ya gitu. Awalnya kita ngobrol2 biasa. Eh, tiba2 dia nanya: mau gk jadi pasanganku??
Hwaaa….romantisnya… Trus2, lu iya’in?
Ya…sempat mikir dulu sih.. Tapi akhirnya kubilang: iya, mau…
Huwaaaaa……senangnya.. Jadi kapan rencananya?
Rencana apaan?
Ya rencana nikah lah.. Habis dilamar trus apa lagi??
Hah??? Nikah???
Lho? Kok malah kaget gitu?
Hahahaha….. Kamu ituuu… Emang kamu pikir aku dilamar siapaaa??
Lha?? Emang dilamar siapa?? *bingung*
Aku dilamar sama Hani tauuu..
Hah??? Perempuan?? Ow emji… Gk nyangka. Ternyata elu…. *sigh*
Ternyata apa?? Kamu mikir apa? *toyor palanya* Kamu pikir aku homoseksual gitu?? Enak aja..
Lha itu, dilamar sama Hani…
Haha….emang urusan lamar-melamar cuma buat nikah doang bu?? Kamu kerja dulu pake ngelamar gk? Kerjaan kamu laki pa perempuan??
Kerjaan gk berjenis kelamin kalee…
Nah, itu tau..
Jadi lu dilamar Hani buat dijadiin apanyaaaa??? *gemes*
Pasangannya.
Tuh kan…masih gk boleh gw mikir lu homoseks?
Heh? Emang pasangan cuma antara laki-laki dan perempuan doang? Tu Candra Wijaya ma Toni Gunawan juga pasangan kan? Hayoo…kamu mau mikir apa?
Bingung gw..
Hahaha…kasian deh lo…
Iiiihhhh….sebel gw sama lo… *kabur*
Hahaha……

Eits….yg baca juga ikut kabur?? Bener ni gk pengen tau?? Hihi…. Sy dilamar Hani buat jadi pasangan di K3W. Apa tuh K3W? K3W adalah kontes cerita bersambung yang akan diselenggarakan oleh sohibul kontes kita Pakdhe Cholik. K3W singkatan dari Kecubung 3 Warna, nah Kecubung sendiri singkatan dari Keroyokan Cerita Unggulan Bersambung. Trus 3 warna’nya? 3 warna karna cerita bersambungnya disusun oleh 3 orang. Macam Dasrun kemarin, tapi dibatasi sampai episode 3 saja. Jadi kita harus cari kawan 3 orang untuk ikut kontes ini. Lihat trik mencari pasangan ala Pakdhe bagi yang ingin ikut tapi belum punya pasangan. Sy sudah dilamar Hani untuk jadi pasangannya. Horee….sudah punya tim buat ikut K3W. Lho? Satunya siapa Tt? Coba tebak… Hehehe…..

Ayo yang belum punya pasangan buat ikut K3W, jangan takut buat melamar. Atau mau seperti saya, tiba-tiba dilamar? 😉

Good luck kawans… 🙂

Salam penuh cinta dari Jogja,