Kembaran Ibu

Saat diumumkan kalau hari Senin, 31 Agustus 2015 harus mengenakan pakaian Jawa Jogja, saya kebingungan karna belum punya. Pas ulang tahun Jogja bulan Maret lalu, saya pas dinas luar, jadi tidak ikut mengenakan baju tradisional Jawa. Karna diumumkan hari Jumat, dan hari Sabtu (seperti biasa) saya mudik, akhirnya saya kontak ponakan di rumah supaya nyariin baju mbah Uti (baju Ibuk) yang model tangkepan. Hasil seraching-nya menunjukkan kebaya-kebaya yang dipunyai Ibuk kebanyakan kebaya kutu baru. Hikssss…..bagaimana inih??

Akhirnya pas saya sampai rumah ubek2 lagi dan nemu satu kebaya warna PINK yang modelnya tangkepan! Puji Tuhan….. Minggu sore balik Jogja, jahit bagian yang sobek (karna udah lama ya jadi ada luka-luka dikit), kemudian dicuci. Besok paginya siap dikenakan untuk mangayubagya hari Keistimewaan Yogyakarta. Pas sampai pada tatanan rambut, upsss…..ini rambut seuprit mau digimanain ini??? Untung masih punya sisa hairspray pas ke Malay dulu, jadi tanpa latihan langsung sasak rambut pakai sisir biasa, semprot hairspray dan bawa rambut ke belakang. Jepit rambut seuprit di belakang dengan jepitan berpita. Taraaa….dari depan mirip sanggulan. Dari belakang mah, kuciran 😆 . Dan sebelum masa aktif hairspray habis, foto dulu donk 😀

mom duplicate

sebelum berangkat kantor

di meja kantor

di meja kantor…tak lupa Boci menemani 😀

IMG_0035

bersama teman-teman kantor…. hairspray sudah mulai kehilangan masa aktifnya (rambutnya dah mulai mbelah 😀 )

Trus, pas ponakan liat foto-foto saya, dia bilang: “mbak Tanti mirip mbah Utiiiii”!!

O yes, i am your duplicate, Mom ❤

[15HariNgeblogFF2#day8] Ramai

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…

Akhirnya, waktu kepulangan Kinar tiba. Kinar telah menyelesaikan studynya tepat waktu. Penerbangan Jepang-Jakarta disambung Jakarta-Jogja kali ini penuh dengan rindu. Rindu pada kampung halaman, rindu pada keluarga, rindu pada…Barra. Meskipun beberapa waktu menjelang kepulangannya, Kinar merasakan sesuatu yang aneh pada diri Barra, tetapi tetap saja ada nama Barra dalam kerinduannya.

Pesawat tiba di bandara internasional Adi Sucipto Yogyakarta pukul 2 siang. Ah..akhirnya menghirup udara tanah air lagi, meski 8 bulan lalu sempat menghirup udara Bandung. Jantung Kinar berdegup kencang begitu turun dari pesawat. Jogja, sebuah cerita baru akan dimulai di tanahmu.

Semua menyambut Kinar dengan gembira, Bapak, Ibu, kakak-kakak, ponakan-ponakan. Waduh, ini seperti penyambutan presiden saja, semua datang menjemput. Tapi Kinar tak melihat sosok Barra. Sedih menjalar ke hatinya. Ah, sudahlah, keluargamu sebanyak ini sedang bergembira menyambutmu, jangan biarkan mereka bersedih melihat dukamu.

**

Sudah seminggu Kinar di rumah. Barra sudah mengabarinya dan meminta maaf tak bisa menjemputnya di bandara bahkan belum bisa menemuinya hingga saat ini karna sedang dinas ke luar kota. Kinar maklum karna memang begitulah pekerjaannya. Komunikasi mereka memang sudah tak selancar dulu. Juga beberapa kejadian yang kerap membuat Kinar bertanya-tanya. Tetapi Kinar tetap mencoba berpikir positif: Barra sibuk dengan pekerjaannya.

“Tante, jalan-jalan yuk. Tante ndak kangen po sama Jogja?” ponakan Kinar yang sudah semester 2 di Gajah Mada itu menyentak lamunannya.

“Kangen banget, Re.. Yuk, jalan-jalan ke Malioboro, trus makan di gudeg Wijilan ya… Kamu yang bawa motor, tante bonceng!”

“Siaaaaapp!!”

Masih seperi dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat. Penuh selaksa makna.

Menyusuri jalan kaliurang selatan ringroad, Kinar protes.

“Ini kenapa jadi padet banget sih Re? Dulu belum ada resto pizza ini, dulu ada warung jagung bakar di sudut situ. Aih…”

Renata senyum-senyum saja. Perubahan itu cepet banget, Tante! Batinnya. Tapi memasuki kawasan Kotabaru, sebelah kali Code, Kinar tersenyum sendiri.

“Nah, yang ini masih sama Re.. Dulu Tante sering makan di angkringan sepanjang kali Code itu. Terus di dekat gereja Kotabaru itu, ada penjual duren, Tante sering beli di situ sama mas Barra. Atau juga di pojokan situ, ada penjual garang asem Solo dan nasi goreng sapi, nah kalo itu Tante seringnya sama mas Gilang, sahabat Tante jaman kuliah.”

Renata hanya terkekeh melihat tantenya bernostalgia. Motor pun terus melaju mendekati Jl. Malioboro, pusat kota Yogkarta.

“Tante deg-degan ni Re..”

“Kenapa Tan?”

“Banyak kenangannya di sini.”

“Hahaha…” mereka berdua tertawa.

Kinar meminta Renata memarkir motornya di sisi utara, supaya mereka bisa menyusuri Malioboro ini dari utara hingga titik 0 di ujung selatan Malioboro.

Ramai pedagang lesehan di kiri jalan, masih seperti dulu. Dan di sisi kanan, berjajar penjual pernak pernik asesoris buatan pengrajin rumahan, biasanya pengrajin ini berasal dari kabupaten Bantul. Juga baju-baju batik yang dijual sepanjang emperan toko. Murah meriah. Kaos-kaos dengan karikatur khas Jogja atau kalimat-kalimat menggelitik pun banyak di sana. Sore ini Malioboro ramai sekali. Kinar mengajak Renata ‘keluar’ dari  keramaian itu, menuju jalan jalur lambat. Beberapa andong parkir di sana. Tukang becak yang lewat menawarkan jasanya.

“Becaknya mbak, ke bakpia Pathuk atau Dagadu sepuluh ribu saja.”

Mboten Pak, orang Jogja juga ini Pak.” sahut Kinar dengan senyum dan anggukan. Renata terkekeh.

“Sudah mirip orang Jepang sih Tante, dikira Rena nganterin orang Jepang nih..”

Mereka berdua akhirnya sampai di Mirota Batik, letaknya berhadapan dengan pasar Beringharjo. Kinar mengajak Renata masuk. Pengen beli baju batik untuk kerja, katanya. Rena nurut saja. Tugasnya kan cuma mengantarkan Kinar menikmati Jogja.

“Tante sama mas Barra kalau beli batik di sini, Re..”

“Iya Tante.. Duh, dari tadi mas Barra terus ni yang diceritain. Bener-bener nostalgia kebersamaan dengan mas Barra yaa?” ledek Renata. Kinar meninju lembut bahu Renata.

…terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja…

“Tante…tante…” gugup Rena menepuk-nepuk Kinar yang masih memilih-milih batik, “mas Barra, Tante…”

Kinar tersentak. Barra ada di sini? Bukannya masih dinas di luar kota?

Kinar memalingkan wajahnya dari gantungan batik yang sedang dipilihnya. Bersamaan dengan itu Barra pun menoleh. Mereka bertemu pandang.

“Mas Barra…”

“Kinar…”

Gadis berkerudung ungu di samping Barra kebingungan.

“Siapa dia mas?” berbarengan kedua perempuan itu bertanya.

“Kinar, ini…” Barra bingung hendak mengenalkan gadis di sampingnya. Tetapi rupanya gadis itu lebih sigap, dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.

“Kayla, tunangan mas Barra.”

Bumi seolah berhenti berputar. Segala di sekitar Kinar memudar. Sebelum Kinar hilang kesadaran, Renata menepuk-nepuk bahunya. “Tante..tante…”

Kinar tersadar, dia hanya tersenyum pada mereka berdua. Sebelum mereka menemukan air mata di pelupuk matanya, Kinar menyeret Rena keluar.

“Ayo ke Parangtritis!”

“Tapi ini sudah sore Tante..”

“Sudah! Ayo ke Paris!” Kinar tergugu. Ramai pikiran berkecamuk di kepalanya. Dalam perjalanan menuju parkir motor, Rena tak mampu bicara apa-apa. Di seberang jalan sekelompok musisi jalanan menyanyikan lagu Didi Kempot. Cidro.

..musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu…

—————————

Word count: 772

Kelebihan 72 kata, Saudara! Sudah dihapus beberapa bagian, masih saja kelebihan. Jogja, terlalu banyak yang diceritakan darinya. Padahal harusnya settingnya Malioboro, kenapa meluas jadi Jogja? Xixixixi…..

OK deh, this is the 8th day of #15HariNgeblogFF2.

ingatlah hari ini

kamu sangat berarti, istimewa di hati

slamanya rasa ini

jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing

ingatlah hari ini….

don’t you worry just be hapy

temanmu di sini

Setelah malam itu jadi sering menyenandungkan lagu ini. Hmm..cuma reff-nya doang, habis yang lainnya gk begitu ngeh ky mana lagunya. Hehe…

Malam itu? Ada apa dengan malam itu? Kapan malam itu?

Hmm….13 Mei 2010, Kamis malam Jumat, hari hujan karna Jogja memang sedang rainy days berhari-hari ini. Tapi kehangatannya gk kalah hangat dengan kita duduk di depan perapian. Karna kita masing-masing memancarkan kehangatan cinta yang tulus dari dalam. (Halah! Ngomong apa to kamu Tik?! Hihi..)

Akhirnya……..setalah deg-degan menunggu kedatangan mereka, yang saya kagumi lewat tulisan-tulisannya, yang telah akrab bersenda tawa di dunia tarik suara maya, yang serasa sudah kenal lama, ketemu juga. Adalah mereka orang-orang yang saya kagumi: Catastrova Prima, Frozzy, dan Macangadungan (pake nama maya saja yah, kekekek) yang berkunjung ke Jogja dan menyempatkan diri untuk bertemu dan mengobrol ini itu. Meski hari hujan, tak mngurungkan niat kita yang dirundung rindu (wkwkwk…lebay) untuk saling bertemu. Hehehe…..

Lagi gk bisa nulis gw, jadi majang poto aje ye….

13 Mei 2010

Berlokasi di warung makan Bebek Pak H.Slamet Mangkubumi, kita bertemu. Besok lagi kalo ketemuan jangan di tempat yang ada jam tutupnya ye…. Kekekek……

biar percaya kalo mereka ke Jogja 😀

Dari Semarang dan Jakarta menuju Jogja, belum afdal afdol kalo belum photo2 di Tugu.. 😀

Non CePe, minggu ini jadi tulisannya ya… 😀

Jeung Frozy, jangan lupa ceritain perjalanannya ke Jogja, termasuk ketemu ma wartawan ituh…. (ups!)

Sist Macan, komiknya yah sist…

Hihihi…kok saya jadi bikin list tugas gini sih…

Senang berjumpa dengan kalian kawans. Ditunggu kedatangan selanjutnya (tahun ini lho), ajak serta mb Isma, mb Pito, dan Indira….hwaaa..pengen jumpa mereka….. ^^

Nyanyi lagi: Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, Ingatlah hari ini…..