Purworejo pun kelabu…

Jumat, 5 November 2010

Tengah malam suara gemuruh terdengar keras. Sy dan anak kost memantau dari streaming radio maupun televisi. Merapi kembali meradang. Jl. Kaliurang ramai pengungsi. Kost kami tidak tepat di pinggir jalan, tapi agak ke dalam shg kami tidak tau betul apa yg terjadi di Jl. Kaliurang, kecuali memantau dari streaming radio (yg kemasukan jammer tdk beradab) maupun televisi. Pukul 01.00 masjid depan kost mengumumkan bahwa radius wilayah bahaya diperluas dari 15km dari puncak merapi menjadi 20km dari puncak merapi. Seluruh warga diminta siap siaga di rumah. Kami semakin siaga, meskipun sebelumnya kami sudah mengetahui dari siaran televisi. Suara ambulance terdengar melewati jalan dekat kost. Mungkin Jakal ramai pengungsi sehingga ambulance dialihkan melalui jalan dalam. SMS dan telpon datang dari teman2, juga dari keluarga di rumah (Purworejo). Sy menjawab dengan penuh ketenangan, berharap mereka tidak mengalami kepanikan. Ketika keluarga menanyakan jarak kost dari puncak merapi, sy jawab 27km sehingga masih 7km dr radius terluar wilayah bahaya. Belakangan sy ketahui, ternyata kost sy ada di km ke 22 dari puncak merapi, atau 2 km dr wilayah terluar radius bahaya.

2 km dr garis biru, 2 km dr p4tk matematika adl kost sy

Tak berapa lama genteng pun bersuara tik tak tik tak. Anak kost (yg kebetulan mmg panikan) langsung bilang: “mbak, kerikil”. Sy coba menadahkan tangan dan menangkap butiran-butiran pasir di telapak tangan sy. “Hujan pasir” kataku. Keluarga di rumah kembali menelepon. Sy bilang: “di sini gk kenapa2 Pak, Bapak sare aja, nggak kenapa2 kok”. Ternyata sy salah, Bapak mengabarkan kalo Purworejo hujan pasir. Duh, gantian sy yg khawatir. Malam itu sy tidak bisa tidur, sampai pagi.

Jumat pagi pkl.06.30 sy menelepon Bapak, menanyakan keadaan rumah. Tak diduga, ternyata keadaan rumah masih gelap, seperti pkl.4 pagi, hujan abu sangat lebat, ketebalan abu pada pkl.06.30 itu sudah 1 cm. Duh Gusti….lindungilah Bapak.

Sy ke kantor lengkap dengan masker, mantel, dan kerudung. Hujan abu masih turun. Sampai kantor semua pegawai mengenakan masker. Pukul 09.00 sy kembali menelepon Bapak. Bapak mengabarkan keadaan rumah yang porak poranda. Abu masih turun. Ketebalannya semakin bertambah, sudah 2-3cm. Pohon-pohon pisang di depan rumah tumbang, pohon mangga, pohon rambutan depan rumah semplak dahan-dahannya. Pohon nangka milik tetangga samping rumah semplak dan roboh ke halaman rumah. Pohon nangka milik sendiri di pinggir jalan juga semplak dahannya. Pohon sukun di belakang rumah semplak dan roboh ke jalan setapak di belakang rumah. Situasi masih gelap, listrik pun padam. Ya Tuhan….. Sy tidak tenang membayangkan keadaan rumah. Di sini, di Jogja, Jakal Km.6 ‘hanya‘ hujan abu, itupun tidak sampai setebal 1cm.

Dengan kondisi Gunung Merapi yang tidak menentu ini, lembaga mengambil kebijakan untuk menutup lebih awal semua kegiatan diklat yang sedang diselenggarakan di kantor. Peserta dipulangkan lebih cepat demi menjaga keselamatan mereka & ketenangan keluarga mereka.

Pukul 18.00 sy baru pulang dari kantor. Teman-teman menyarankan pada sy untuk mengungsi saja. Sy sendiri juga sudah tidak sronto ingin mengetahui bagaimana keadaan Bapak & kondisi rumah. Malam itu juga sy mengemasi dokumen2 penting sy dan sy pulang. Pukul 19.00 sy berangkat. Di perjalanan, ngantuk luar biasa, maklum tadi pagi tidak tidur. Berkali-kali sy terkaget karna tiba-tiba sudah begitu dekat dengan pantat truk atau mobil, bahkan sempat sekali terbangun sudah berada di jalur kanan. Pj Tuhan, masih dalam lindunganNya….

Memasuki Purworejo, sy melihat sisa2 abu di pinggir jalan. Gerimis malam itu. Sampai Bagelen jalanan mulai berlumpur tipis. Semakin ke utara semakin tebal abunya. Memasuki kota, lumpur abu luar biasa. Sy tidak bisa melajukan motor sy lebih dari kecepatan 20km/jam. Sy hanya berani jalan 10km/jam, itupun terpleset berkali-kali, pj Tuhan tidak sampai terjatuh. Di alun-alun atau pusat kota purworejo, lumpur abu bertambah tebal. Harus ekstra hati-hati.

Sampai di rumah, sy menghela nafas lega. Pj Tuhan sampai rumah juga. Pukul.22.00. Bapak menunggu di teras. Sy geleng-geleng kepala melihat depan rumah tidak karuan. Sy geleng-geleng kepala mengingat jalanan berlumpur yg sy lewati. Luar biasa….. Listrik malam itu padam. Sy dan bapak bercerita peristiwa malam tadi hingga malam ini. Tuhan memang luar biasa…

Sabtu, 6 November 2010

Pagi hari bangun dari tidur, sy segera melihat keluar. Semalam gelap, tidak begitu jelas kondisi di luar. Subhanallah…. Abunya tebal, pohon-pohon tumbang & semplak. Jalanan licin karna abu bercampur gerimis semalam.

Pj Tuhan listrik di rumah sy sudah hidup. Listrik tetangga samping rumah masih padam. Juga listrik di tempat kakak yg beda kecamatan dgn sy pun masih padam. Jadilah pagi itu tetangga menumpang mengisi daya baterai di rumah. Kakak dan keluarga datang menumpang mandi dan charge hp. Tak lupa bercerita pengalaman berkendara dalam lumpur. Kakak terjatuh 2x naik motor. Ponakan mobilnya tiba-tiba mleset ke kanan. Wah..macam-macam kejadiannya. Kami mensyukurinya, karna hal seperti itu entah kapan lagi akan dialami.

Siangnya kita kerjabakti membersihkan abu yg menyelimuti lantai rumah sampai ke dalam-dalam. Membereskan pohon2 yang semplak.

Sy lampirkan foto-foto kondisi rumah sy di Purworejo berikut.

kondisi depan rumah

pohon pisang, pohon rambutan, & pohon nangka yg 'semplak'

pohon mangga, semplak

jalanan di depan rumah, licin

Sy tambahkan 1 foto lagi. Ini bukan foto kondisi rumah, tapi ini foto salah satu tempat di kantor. Tebaklah ini tempat apa? Yg jelas, tempat ini adalah salah satu tempat pelepasan sy dari penat pekerjaan di kantor.

tempat refreshing kini tertutup abu

Sy berharap, sungguh sy memohon semua ini segera berakhir. Ketegangan, kecemasan setiap kali mendengar suara gemuruh, dll, segeralah berlalu. Semoga mereka yg di pengungsian tetap bersabar dengan keadaan ini. Semakin dikuatkan dalam kelemahan. Doanya teman-teman…..

#8November2010

hujan abu

Pagi-pagi pukul 2.30 ditarik (baca: dibangunkan paksa) anak kost dan dibawa keluar. “Lihat mbak!”. Dan woh….mobil di depan kost tertutup abu. Udara bau belerang dan tidak nyaman. Hujan abu masih lumayan ‘deras’ pagi itu. Teman yang ngungsi ke kost kami, jaketnya berabu. Padahal kostnya tak terlalu jauh dari kost kami.

 

diambil pkl. 3 pagi... Mobil tertutup abu

Kubuka internet dan ternyata benar, Merapi kembali memuntahkan awan panasnya. Abu vulkanik berhamburan hingga menutupi Jogja. Kunyalakan tv, berita dini hari itu pun penuh dengan info merapi. Kubuka facebook, teman-teman sudah mengupdate info seputar Merapi. Bunda Affan bahkan mendengar bunyi serupa guruh, yaitu bunyi guguran material dari merapi. Teman yang tinggal tetanggaan dengan kost mengirim sms: “Titik, ngungsi ke mana?” Waduh, tu anak heboh betul ya.. Hehe.. Sy mah tenang-tenang saja dan berusaha menenangkan anak kost. “Aku gk ngungsi, cuma hujan abu kok. Yang penting sedia masker. Jangan keluar2 dulu deh, di luar masih deras hujan abunya, gk baik buat pernafasan.” Ternyata dia udah ngungsi ke selatan sana….. Wooo…..

Agak siangan sy ke depan, ngeliat jalan depan kost. Cukup tebal abunya. Anak-anak berangkat sekolah mengenakan masker. Jalanan tertutup salju kelabu’

 

harus mengenakan masker

jalan depan kost, Jl.Kaliurang Km.8

Jogja hujan abu pagi ini. Sampai berita ini diturunkan tulisan ini dibuat, hujan belum berhenti meskipun tidak sederas pagi tadi.

====

Jl. Kaliurang Km.8, 30 Okt 2010, 09.07 WIB