Rumah..

Ada banyak tempat singgah, tetapi aku ingin rumah, tempat di mana aku bisa selalu kembali. Pulang.

Ibu, selamat hari ibu. Aku ingin sepertimu, memiliki satu rumah, sekali seumur hidupmu.

ibu

Putrimu,
Tanti

Hari Ibu: Ibu-Ibu Petani

Saya lahir dan besar di keluarga petani. Bapak dan Ibu bekerja di sawah setiap hari. Biasanya Bapak berangkat pagi-pagi dan pulang sebelum saya berangkat sekolah, jadi saya selalu pamit dengan Bapak dan Ibu sebelum berangkat sekolah. Terkadang Bapak berangkat bareng dengan saya berangkat sekolah. Bagaimana dengan Ibu? Pagi hari Ibu menyiapkan sarapan untuk kami, anak-anak, sebelum berangkat sekolah. Ibu akan menyusul Bapak setelah kami berangkat sekolah dan setelah pekerjaan rumah beres. Jika Bapak belum sarapan di rumah, Ibu akan membawakan bekal ke sawah dan mereka makan bersama di sawah. Tampak romantis ya? Begitulah romantisme petani. 🙂

Ibu dan Bapak adalah pasangan serasi, termasuk dalam hal ‘pekerjaan’. Bapak bekerja di sawah, menanam, merawat, hingga panen. Ibu membantu pekerjaan Bapak. Dari tandur, matun, menyiram palawija, dan memanen hasil tanam. Ibu pula yang bertugas menjual ke pasar atau menawarkan ke warga desa hasil panenannya. Bapak cukup rajin memanfaatkan lahan. Pematang sawah ditanaminya dengan lombok, kacang panjang, tales, ubi, dll. Waktu antara lepas panen dan masa tanam selanjutnya, Bapak manfaatkan untuk menanam mentimun yang masa panennya cepat. Ibu termasuk pribadi yang tekun. Dan karna sumber keuangan kami memang dari sawah, Ibu begitu cermat memanfaatkan hasil tanam untuk menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedikit saja cabai yang bisa Ibu petik di sore hari akan dibawanya ke pasar besok pagi, pulangnya bisa membawa tempe atau telur untuk lauk. 🙂

Memang tidak semua pekerjaan di sawah dilakukan sendiri oleh Ibu dan Bapak. Beberapa pekerjaan masih butuh bantuan orang lain, seperti membajak sawah, tanam padi (tandur), dan panen. Untuk membersihkan gulma (matun) kadang masih bisa dikerjakan sendiri oleh Ibu dan Bapak, namun tak jarang juga minta bantuan orang lain. Untuk upahnya, kami punya ‘harga’ sendiri di kampung kami yang mungkin berbeda dengan di kampung lain. Jika pakai ngirim (makan siang), maka harganya akan lebih rendah. Ibu selalu memilih sibuk memasak untuk ngirim daripada harus membayar lebih. Khusus untuk panen padi, kita akan menghargainya dengan sistem bawon, yaitu membagi 1/6 dari yang dia dapatkan. Misalnya seseorang memperoleh 6 karung, maka ia akan membawa pulang 1 karung sebagai upah membantu memanen. Tetapi untuk pekerjaan lain, kita menghargainya dengan uang.

Di kampung kami, yang biasa membantu tandur adalah ibu-ibu. Seperti foto berikut ini.

Mereka adalah ibu-ibu petani yang membantu bapak tandur (menanam padi). Salah satu dari mereka adalah bulik (tante) saya sendiri. Pada saat foto ini diambil, Ibu sudah dipanggil Tuhan. Jika Ibu masih ada dan sehat, Ibu pasti ada bersama-sama mereka :).

Ibu-ibu petani ini adalah perempuan-perempuan tangguh. Tahan terhadap panas dan lelah. Saya selalu salut dengan perempuan yang bekerja di lapangan, di bawah sinar matahari. Semoga Tuhan menguatkan mereka.

Mereka adalah ibu-ibu petani yang juga Ibu dari anak-anak mereka. Mereka adalah ibu-ibu pekerja, sama seperti kita yang bekerja di kantor, hanya saja kantor mereka adalah sawah yang luas itu. Mereka adalah Ibu yang ingin memberi yang terbaik bagi keluarga mereka, membantu suami mereka, demi anak-anak mereka. Wahai ibu-ibu petani, selamat hari Ibu. Terik mentari yang menghitamkan kulitmu adalah bukti cintamu pada anak-anak, buah hatimu. Semoga Tuhan menguatkanmu selalu. Amin.

Buat Ibu di surga: Selamat Hari Ibu ya Buk.
Aku yakin Ibu sudah bahagia di sana. Dan semoga aku masih bisa selalu membuatmu lebih bahagia. Amin.

Potret ini diikutsertakan dalam Kontes Perempuan dan Aktivitas yang di  selenggarakan  oleh Ibu Fauzan dan  Mama Olive 

Mother’s Day

Taukah kawan kalau kemarin adalah Hari Ibu atau Mother’s Day yang diperingati sebagian negara di dunia? Saya baru tahu kemarin, atau setidaknya saya pernah membaca tapi tidak begitu memperhatikan sehingga lupa. 🙂
 

Kemarin, Minggu, 8 Mei 2011 adalah minggu ke-2 di bulan Mei, yang oleh sebagian negara diperingati sebagai Mother’s Day atau Hari Ibu. Lebih dari 75 negara memperingati Mother’s Day di hari kemarin. Logo yahoo kemarin adalah seorang anak yang menggambar anak kecil, ibu, dan lambang cinta berwarna pink untuk ikut memperingati Mother’s Day.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia jatuh pada tanggal 22 Desember sebagai peringatan Kongres Perempuan Indonesia I yang diselenggarakan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.  Sedangkan peringatan Mother’s Day yang jatuh pada minggu kedua bulan Mei adalah untuk memperingati pencanangan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara oleh Julia Ward Howe pada tahun 1870.

Kemarin saya ikut memperingati Mother’s Day. Saya mendapat bnga dari gereja sebagai peringatan hari ibu. Eh, saya kan belum jadi ibu, kenapa dapat bunga juga? Tidak apa, semoga segera menjadi ibu. Begitu kata Bapa dan teman saya. Wah, saya langsung komat-kamit dalam gereja berdoa mengamini kata-kata mereka. 😀

 

My Mother’s Day Flower

Selamat Hari Ibu untuk seluruh Ibu dan calon ibu di seluruh dunia. Semoga Tuhan melimpahimu dengan kebahagiaan dan berkah dalam hidupmu. Bersyukur atas peran yang Tuhan berikan kepadamu: sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai sahabat bagi suami dan anak-anakmu.

 

 

Dan untuk Ibu tercinta di sorga: bahagia selalu ya Bu. Semoga aku selalu bisa membahagiakanmu. Doaku selalu.

 

Salam,

.

.

sumber: wikipedia

gambar mawar diambil di depan gereja.

22 Desember >> hari Ibu.. (repost)

Repost postingan setahun yang lalu…
Selamat hari Ibu buat semua Ibu di dunia blogsphere….

22 Desember >> hari Ibu.. Hari Ibu…. Coba cek di facebook atau twitter. Hari ini pasti bertebaran status yang berbunyi “i love u, Mom” dengan berbagai versi. Termasuk status saya. :: ‘i love u, Mom.’ Semoga di sorga sana kau mendengar. Terimakasih telah mengantarku mjd spt skrg ini, dgn kasih & pengorbananmu. Maafkan anakmu blm sempat membahagiakanmu… I love u, Ibu.. Ya, tentu saja saya menyayangi Ibu. Meski saya tahu, beliau terlebih lagi menyayangi saya. Wanita … Read More

via celoteh .:tt:.

22 Desember >> hari Ibu..

Hari Ibu….

Coba cek di facebook atau twitter. Hari ini pasti bertebaran status yang berbunyi “i love u, Mom” dengan berbagai versi. Termasuk status saya.

:: ‘i love u, Mom.’ Semoga di sorga sana kau mendengar. Terimakasih telah mengantarku mjd spt skrg ini, dgn kasih & pengorbananmu. Maafkan anakmu blm sempat membahagiakanmu… I love u, Ibu..

Ya, tentu saja saya menyayangi Ibu. Meski saya tahu, beliau terlebih lagi menyayangi saya. Wanita tegar, keras, tapi juga rapuh ini telah memberi saya banyak pelajaran buat saya.

Ibu lahir pada tahun 1940 weton Rabu Legi, itu yang ibu ingat, sampai kemudian kita menemukan buku rapot di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama –SMPnya SMEA) dan di sana tertera tanggal lahir Ibu yaitu 10 April 1940. Hidup di keluarga yang boleh dibilang cukupan. Beliau hanya memiliki 1 adik laki-laki karena berulangkali adiknya lahir lalu meninggal. Pada usia 17 tahun, tepatnya tanggal 31 Desember 1957, Ibu menikah dengan lelaki ganteng dan mapan yaitu Bapak. Hmm…masih imut ya..17 tahun.. Satu tahun kemudian Ibu melahirkan anak pertamanya di bulan Desember tahun berikutnya, kk1. Bapak sering menceritakan masa2 mereka saat awal2 pernikahan, saat jatuh miskin, saat bersama-sama memulai hidup dari nol dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Ah, Ibu memang perempuan yang hebat.

Ya.. Ibu setia mendampingi Bapak meskipun Bapak sudah tidak segagah dulu, meskipun Bapak saat itu hanya bekerja menjadi kuli bangunan, meskipun Ibu harus ikut bekerja menjual makanan kecil di pasar dan dari rumah ke rumah, meskipun Ibu harus ikut berpanas2 di sawah, bangun pagi2 untuk pergi ke pasar menjual hasil panenan. Mereka selalu bersama.  Dalam kemiskinan dan kesesangsaraan, Ibu tetap tegar dan kuat. Wow! Saya bahkan tidak bisa membayangkan keadaan saat itu. Ketika saya bertanya pada Ibu: “kenapa saat itu Ibu tidak meninggalkan Bapak? Padahal banyak teman2 Ibu yang tidak kuat lalu memilih meninggalkan suaminya.” dan jawab ibu: “Ibu melas karo Bapak.”…  Ah, ungkapan cinta yang paling tulus..

Ibu melahirkan saya saat beliau berusia 43 tahun (ya, karna saya lahir tahun 1983). Kala itu Ibu hampir tidak terselamatkan karena saat Ibu hendak melahirkan, Bapak sedang bekerja (jadi kuli bangunan) di PLN. Hanya ada kk5 (kk saya persis) yang masih berusia 4 tahun. Tapi puji Tuhan akhirnya Bapak bisa pulang dan memanggilkan suster untuk membantu persalinan. Ibu sering menceritakan itu pada saya, dan saya hanya berlinang2 air mata. Cerita Ibu selalu mengingatkan saya setiap kali saya melukai hatinya… Maafkan anakmu Ibu.

Ibu menderita sakit hipertensi. Saya tidak tahu persis kapan awalnya. Hanya saja sakitnya itu sangat lama. Sampai kemudian ibu mendapat serangan stroke pertama tahun 2004, lalu kemudian sembuh. Dan di tahun 2005 ibu mendapat serangan stroke yang kedua yang menyebabkan kakinya lumpuh sebelah kiri. 1,5tahun ibu tidak bisa melakukan aktivitas dengan leluasa. Beliau hanya duduk di teras, jalan2 di halaman rumah dengan dituntun Bapak, membaca2 buku tembang Jawa, mendengarkan radio & menonton tv. Ya…Ibu bergantung pada pertolongan orang lain. Dan saat itu, Bapak selalu di sampingnya. 30 Maret 2006 Ibu berpulang ke rumah Tuhan. Sakit yang dideritanya telah sembuh dan Ibu telah berada dalam tempatnya yang damai dan bahagia. Amin.

Setahun yang lalu, tepat di hari Ibu, 1000 hari meninggalnya Ibu, kami memasangkan batu di pemakaman Ibu.

Hari ini, hari Ibu… Bukan hanya hari ini aku mengenang Ibu, karena setiap kejadian baik bahagia maupun sedih, selalu saya bercerita pada Ibu, dengan cara seperti anak kecil: memandang fotonya dan bercerita. Selalu.

Ibu…engkaulah bintangku… Menerangiku siang dan malam…. Maafkan anakmu belum sempat membahagiakanmu….

saat saya kelas 6 SD

I love u, Mom…..

 

::buat semua Ibu & calon Ibu, Selamat Hari Ibu….. 🙂