Intermezzo II

20120730-231948.jpg

Mungkin kita butuh waktu untuk menepi, sama2 pergi, utk menguji hati, dan mengerti rasa kehilangan.

Baiklah, mari menepi, sama2 pergi, utk menguji hati, dan mengerti rasa kehilangan…

hari kesembilan belas….belasan rindu reras terlepas….lalu menguap menggumpal awan………….tertahan……..
bilakah bisa kurinaikan hujan?

namun kini, semua tak lagi sama 🙂
biar saja rindunya tertahan, biar saja tetap tergantung di awan-awan.. Usah menunggu waktu tuk rinaikan.. Usah katakan.. Biar jadi rahasiamu dan awan, ada rindu yang lelah tersimpan…

Bangun! Bangun dari mimpi dan pergi! Hapus jejak-jejak yang ragu-ragu, yang berikan kepastian bahwa segalanya tidak pasti…

Simpan rinai rindumu dengan sabar… Ada kemarau yang menunggu gerimis lucumu…

Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.

Thanks for waking me up this morning from my long long sleep. GBU!

.:tt:.

In memoriam: Boci (danBO keCIL)

Belum sempat kukenalkan pada teman-teman blog, Boci, boneka revoltech saya, sudah menghilang. 😦

Emak dan Boca (danBO beCAr) kangen sama kamu Nak..

Sore itu Boci dan Boca jalan-jalan berdua. Boci tampak sedikit murung. Boca tak tau kenapa. Sampai akhirnya Boci mengungkapkan keinginannya untuk berpisah dari Boca. Boca yang tidak tahu menahu permasalahannya pun terkejut.

“Boci, maksudmu apa???”

“Tidak ada masalah apa-apa di antara kita, Boca. Tapi aku harus pergi.”

“Tapi kenapa?”

“eMak akan pulang ke Indonesia. Aku akan ikut dengannya. Kita akan terpisah ribuan mil jauhnya Boca!”

“Tapi kamu kan bisa kembali lagi ke sini. Dan kita akan bersama-sama lagi Boci!”

“Entahlah Boca. Perasaanku mengatakan kita tak bisa bersama lagi…… Izinkan aku pergi Boca…”

Boci pun memeluk Boca lalu berjalan lurus memunggungi Boca yang tertunduk menahan sedih dan tanda tanya..

10 Juli 2012

Emak sedang menunggu pesawat yang akan terbang pukul 00.30 dini hari ketika membuka tas punggungnya dan mendapati Boci ada di dalam tas. Emak terkejut.

“Lho, Boci! Kamu kenapa ada di sini?”

“Boci mau ikut eMak ke Indonesia.. Boci pengen tahu tempat kelahiran eMak..”

“Weh…lha trus Boca gimana kamu tinggalin?”

“Boci udah pamitan kok Mak..”

“Oh..ya udah, diam-diamlah kamu di tas ya…!”

“Iya, Mak…”

20120730-233128.jpg
Waktu transit di Bangkok, Boci sempat heran sama bentuk atap sebuah gapura di bandara yang mirip sama rumah makan Padang. 

20120730-233455.jpgBoci juga sempat berfoto dengan sekawanan gajah. Katanya dipaksa Emak. Padahal sih Boci juga suka… Hihi…

20120730-233528.jpg
Waktu sudah di Indonesia, Boci diajaki Emak kumpul-kumpul sama teman ngeblognya. Wah…Boci jadi idola saat itu. Sampai-sampai eMak kikuk sendiri. Hehe….

Tuh kan, semua sayang Boci. Semua pengen punya Boci. Boci jadi tersanjung.

Boci pun ikut emak pulang ke Purworejo kampung halamannya dengan kereta. Tetapi entah di mana Boci menghilang. Ketika sampai di rumah, Emak tak bisa menemukan Boci di tasnya maupun di tas tangannya. Emak langsung lemas. Emak pun mencintai Boci seperti Boca mencintai Boci. Dan kini eMak dan Boca kehilangan. Hiks… 😥

20120730-233937.jpg
Lihatlah bagaimana Boca kehilangan Boci. Sampai-sampai Boca bilang akan tetap mencintai Boci bila esok tiba. Ah Boca….kamu seperti emak saja… (ups!)

20120730-234016.jpg
Boca menerbangkan rindunya bersama angin. Berharap sampai pada Boci. Boca berharap, siapapun kini yang merawat Boci akan mencintainya seperti emak dan Boca mencintai Boci.

Boci…kami merindukanmu. Baik-baiklah selalu yaa….. Semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi…