cint…

terbata mengeja cinta

lalu diam menggantung di sudut bibir

biar mentari menjadikannya uap

atau embun meleburnya dalam debu

 

 

 

 

 

 

kita bisu

tekun menenun waktu

———————————————————

Kata teman sy, Februari itu bulan cinta (mmm…referensinya apa ya?). Kata teman sy lagi, sy lama gk update blog ini (perasaan baru 4 hari). Kata teman sy yang lain, sy lama gk bikin puisi (bikin puisi butuh mood je). Jadi, mengakomodasi kata teman2 saya tadi, sy mencoba membuat puisi cinta untuk meng-update blog ini. Hasilnya…. beginilah kalo nulis puisi gk pake mood. Maaf ya teman. 🙂

Selamat bulan Februari…

Salam,

foto diambil dari google

postingan ke-200

tak cukup

aku tak cukup indah untuk bisa mengindahkanmu..

aku tak cukup baik untuk bisa membaikkanmu..

aku tak cukup mulia untuk bisa memuliakanmu..

aku tak cukup sempurna untuk bisa menyempurnakan hidupmu..

 

aku hanya punya sepotong hati yang mencintaimu dengan segala keterbatasanku..

dan cinta akan menjadikan segalanya cukup…

 

141210.22.11

copas dr status dgn sedikit modifikasi

kata-kata di saat terakhir…

Hari-hari terakhir kita sedang berduka dengan berpulangnya tokoh-tokoh bangsa. Terakhir adalah ibu Ainun Habibie yang meninggal di Jerman. Kepergiannya meninggalkan haru dan kisah cinta sejati dua manusia. Bapak Habibie tidak pernah keluar rumah sakit selama 2 bulan dan setia mendampingi ibu hingga saat terakhirnya.

Kata-kata terakhir Bapak Habibie ketika melepas ibu pergi:

Kami sekeluarga rela melepasnya. Kami mencintainya, tetapi Allah jauh lebih mencintainya.

———–

Srrrrtttt…….layar seolah terbuka ke masa 4 tahun yang lalu. Ketika ada seorang suami yang juga mendampingi istrinya hingga saat terakhirnya. Sang istri pergi setelah suami melepasnya dengan kata-kata terakhirnya:

Bapak tresna karo sira, 48 tahun bareng ora tau padu. Saiki yen sira arep kondur, Bapak ikhlas. Anak-anak wis padha mentas, sira wis berhasil olehe dadi ibu.

(Bapak cinta kamu, 48 tahun bersama tidak pernah bertengkar. Sekarang kalau kamu mau pulang, Bapak ikhlas. Anak-anak sudah ‘mentas’, kamu sudah berhasil menjadi ibu.)

———-

Kata-kata terakhir dari belahan jiwa, penuh cinta. Bapak Habibie kepada ibu Ainun, istrinya. Suami kepada istrinya, yang adalah Bapak & Ibu saya.

Damailah di sisi-Nya, orang-orang yang mencintaimu telah mengantarkan kalian pulang dengan cinta dan keikhlasan.

#Note: ini bukan FiksiMini

Lima Menit

Saya sedang duduk di bangku panjang di samping mushola sore itu, ketika seorang perempuan datang dan ikut duduk di bangku yang sama. Saya hanya menoleh dan tersenyum, seolah mempersilahkan dia duduk di sebelah saya.

“Mau sholat mb?” sapanya mengawali pembicaraan. Saya hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Sedang menunggu seseorang?” tanyanya lagi. Kali ini saya menjawab karna sepertinya perempuan itu ingin mengajak saya ngobrol.
“Iya, nunggu teman saya lagi sholat.”
“Teman lelaki?”
Saya tersenyum yang artinya iya.
“Pacarnya?”
Kali ini saya tidak bisa menjawab. Menggeleng atau tersenyum pun tidak. Ada sedikit sebal di hati saya. Kenapa juga perempuan ini bertanya terus menerus seolah-olah menyelidiki saya. Tapi pertanyaan terakhir ini memang tidak bisa saya jawab. Sebenarnya bisa. Jawabannya adalah bukan. Tapi saya enggan untuk menjawab. Saya hanya menunduk sambil menghela nafas.

Tiba-tiba perempuan itu mendekat ke arah saya, mengusap-usap punggung saya dan menarik tubuh saya ke dadanya. Dia seolah ingin menenangkan saya karna dia sadar pertanyaannya telah membuat hati saya berantakan.

“Maaf ya, saya banyak nanya, padahal kita belum kenal. Maaf juga kalau pertanyaan saya bikin kamu sedih.” Katanya sambil mengusap punggung saya.
“Tidak apa mbak.” Senyum saya masih tetap saya pasang demi menutup perasaan yang tak karuan.
“Kalau saya tidak salah menangkap, saya pernah jadi kamu.” Perempuan itu menerawang sambil tetap merangkul saya. Ini adalah awalan dari ceritanya yang kupikir akan panjang.
“Saya pernah sangat dekat dengan laki-laki. Telah menganggapnya bagian hidup saya. Dan saya pikir, saya tidak bisa hidup tanpa dia.” Saya memandang wajahnya yang menerawang sementara dia terus bercerita.
“Kami tidak pernah membicarakan hubungan. Kami hanya selalu bersama. Dan saya mencintainya.”

Jeda.

“Suatu hari saya bertanya pada diri saya sendiri: apakah dia juga mencintaiku seperti aku mencintainya; apakah dia juga merasa kurang saat tidak bersamaku seperti aku saat tidak bersamanya; apakah dia bahagia bersamaku seperti aku bahagia bersamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang di benak saya, meskipun selama ini saya selalu berkata: jalani saja apa adanya.” Dia menghela nafas.
“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu dengan segala keberanian, saya bertanya pada laki-laki yang saya cintai itu. Dan kamu tau apa jawabnya?!”
Saya kaget mendapat pertanyaan itu. Saya kaget dia telah memandang saya setelah sedari tadi bercerita sambil menerawang memandang ke depan.
“Tidak mbak.” Jawab saya sambil juga membalas pandangannya, jelas saja saya tidak tahu.
“Ya, kamu benar. Dia menjawab “tidak”. Dia tidak mencintai saya, dia tidak merasa ada yang hilang saat tidak ada saya di sampingnya, ya..meskipun dia merasa senang jika sedang bersama-sama saya.”

Saya tertegun mendengar ceritanya. Saya membayangkan perasaannya saat itu ketika mendapati jawaban dari laki-laki yang dicintainya. Bagaimana hancurnya dia ya? Tapi saya tak ingin bertanya lebih dalam. Dari tadi pun saya tidak bertanya, dia yang ingin bercerita. Jadi biarlah dia melanjutkan sendiri ceritanya.

“Tentu saja saya sedih sekali mendengarnya. Sebagai perempuan saya merasa sakit. Saya menangis di kamar. Beberapa hari tidak beraktivitas seperti biasa. Saya terpuruk.”
“Tapi kemudian saya sadar, cinta itu kamu bukan aku. Bukan bagaimana aku jika tanpa kamu, tapi bagaimana kamu jika tanpa aku. Bukan tentang aku bahagia denganmu, tapi tentang apakah kamu bahagia denganku. Jika tidak, maka biarkan dia mencari bahagianya, karna kebahagiaannya adalah juga kebahagianmu. Kamu pasti akan merasakan kebahagiaan juga ketika kamu tahu dia bahagia meski tak bersamamu. Dan yang terakhir, bukan tentang aku mencintaimu, tapi apakah kamu juga mencintaiku. Maka jika tidak, sebaiknya kita pergi. Jika suatu hari nanti dia menyadari bahwa dia pun mencintai kita, dia akan mencari.”

Saya diam mencermati setiap kata dari perempuan yang merangkul saya sambil bercerita ini. Perempuan yang baru sekali ini saya temui dan dengan terbuka menceritakan masa lalunya. Perempuan yang dengan sekali bertanya bisa mengerti kedalaman hati saya. Perempuan yang dalam waktu 5 menit telah memberi makanan bagi batin saya. Dalam hati saya mengiyakan kata-katanya.

Sementara kami sama-sama terdiam, datang seorang laki-laki menghampirinya. Rupanya perempuan tadi sama seperti saya, sedang menunggu seseorang menjalankan kewajiban agama.

“Kenalkan, ini Heru, suami saya, laki-laki yang saya ceritakan tadi.”
Kami bersalaman. Dan saya mengerti, perempuan ini tulus dalam cintanya, menjadikan kamu sebagai cintanya dan bukan aku. Dan laki-laki ini akhirnya menyadari bahwa dia pun mencintai perempuan itu lalu mencarinya.

Mereka berpamitan sebelum laki-laki yang saya tunggu keluar dari mushola itu. Dan ketika laki-laki yang saya tunggu menghampiri saya, cerita perempuan tadi menggema di kepala. Cinta itu tentang kamu, bukan tentang aku.

.

.

.

[kantor, 30 April 2010, 13.10]
Terinspirasi puisi QK: Cinta itu Kamu, bukan Aku.

repost dari notes fb.

Bintang Jatuh

Bulan tak lagi bulat penuh, sudah sedikit terkikis waktu. Tapi bintang masih bertabur berserak di pelataran langit yang tak berbatas. Ratri menghitung bintang-bintang itu. Terlalu banyak hingga tak pernah bisa ia selesaikan. Dan malam ini, malam minggu ini, Ratri duduk sendirian di teras rumahnya, memandang langit yang selalu dikaguminya. Tak ada aktivitas yang lebih menyenangkan daripada memandang langit dan mengagumi keindahannya. Tidak malam, tidak siang, tidak senja, tidak fajar, langit selalu memesona bagi Ratri. Dan bintang adalah penghuni langit yang paling Ratri sukai. Satu buntang ia nobatkan sebagai bintangnya. Bukan bintang yang paling terang, tapi Ratri begitu menyukainya, karna walau sinarnya tak cemerlang, bintang itu setia berkedip seolah genit menyapa Ratri. Sementara Ratri menikmati lukisan alam, dari jauh terdengar suara motor tua yang sangat dikenalnya. Motor lelaki yang tak pernah bosan mengunjungi Ratri, begitu pula denga Ratri. Semakin dekat suara itu dan Ratri memasang senyum sebelum lelaki itu tiba di depan pagar rumahnya.

“Dah selesai belum ngitung bintangnya?” sapa Gilang sambil memarkir motornya di depan pagar rumah Ratri.

“Belum ni bro, makin banyak aja perasaan.” Jawab Ratri. Gilang membuka pagar rumah Ratri yang hanya setinggi perutnya dan terbuat dari bambu. Menuju teras melewati setapak kecil yang dipagari tanaman pacar air di kanan kiri. Nuansa pedesaan yang kental di rumah Ratri. Siapa pun akan nyaman berlama-lama di sana.

“Abang martabak tikungan nitip ini buat kamu, Rat.” Gilang menyodorkan tas plastik berisi martabak telur kesukaan Ratri. Dua minggu terakhir Ratri puasa makan martabak karna radang tenggorokan. Gilang tau betul Ratri bakal kangen dengan makanan kesukaannya ini.

“Wuah….makasih ya Lang. Kamu memang buaik. Ntar kubikinan minum dulu ya.”

Beberapa menit kemudian Ratri keluar dengan dua cangkir minuman dan sepiring martabak yang dibeli Gilang tadi.

“Kopi hitam buat kamu, kopi krimmer buat aku. Diminum Lang.” Sudah tak perlu bertanya lagi, Ratri sudah tau minuman kesukaan Gilang. Kopi hitam tanpa ampas.

Ratri dan Gilang bersahabat sejak empat tahun yang lalu. Pertemuan tak sengaja di acara ulang tahun teman Ratri yang ternyata juga teman Gilang. Mereka pun akhirnya saling mengenal. Bersama dengan temannya itu akhirnya mereka bersahabat. Tapi sejak sang teman punya kekasih, mereka lebih sering berdua dan tidak lagi bertiga. Gilang dan Ratri saling terbuka, Ratri adalah tempat Gilang berkeluh kesah, pun Gilang adalah tempat Ratri menuangkan perasaannya. Bahu Gilang sudah kuyup dengan air mata Ratri. Tangan Ratri sudah halus mengusap punggung Gilang member kekuatan. Yah, begitulah dua sahabat itu.

“Masih nunggu satu bintang itu jatuh Rat?”
“Iya Lang. Kalau dia jatuh aku akan minta satu permintaan yang aku yakini akan dikabulkan.”
“Keyakinanmu itu yang mengabulkan permintaanmu, bukan bintang jatuh itu.”
“Kurasa juga begitu.”
Mereka berbincang sambil memandang langit. Tak saling pandang satu sama lain. Di tangan Gilang cangkir berisi kopi hitam, di tangan Ratri cangkir berisi kopi krimmer.

“Masih belum bisa melupakan dia, Rat?”
“Sedikit-sedikit sudah bisa.”
“Lalu kenapa masih menunggu bintang itu jatuh?”
Ratri tak langsung menjawab pertanyaan Gilang. Justru gemuruh yang riuh di hatinya.

“Aku justru ingin membuka hati buat orang lain Lang. Aku menunggu bintang itu jatuh. Bintang itu bukan lagi dia, tapi seseorang lain yang menyayangiku apa adanya. Bukan menggantikan dia, tapi menyempurnakan hidupku dan membuatku mampu melupakan masa lalu. Jika telah datang seseorang itu, maka artinya bintang itu telah jatuh.”

Gilang menoleh, mendapati wajah Ratri menatap satu bintang yang disukainya. Wajah perempuan yang telah lama disayanginya. Andai kamu tau Rat, aku ingin sekali menjadi bintang itu. Aku ingin sekali jatuh di jantungmu, ingin kamu tau betapa aku menyayangimu.

“Tidakkah kamu menyadari bintang itu telah jatuh?” Gilang berbisik lirih sampai-sampai Ratri tak mendengarnya.
“Kamu bilang apa Lang?” Ratri mengkonfirmasi.
“Kamu nggak dengar Rat? Barusan aku bilang: wajahmu jelek banget kalau lagi serius. Hahahaha..”
Dan gelak pun membuncah di antara mereka. Obrolan berlanjut dengan materi ringan yang penuh canda sampai malam memaksa mereka berpisah.

“Aku pulang Rat. Kalau sudah kamu temukan satu bintang itu, kalau bintang itu sudah jatuh, kabari aku. Aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia. Oke?”

Ratri tersenyum mengangguk. Gilang keluar dari halaman rumah Ratri, menyalakan motor tuanya dan melambaikan tangan pada Ratri sebelum menghilang di tikungan.

Ratri memandang langit. Pada satu bintang di langit kelam itu. Dan dia segera mengambil handphonenya. Diketiknya sebuah pesan untuk Gilang.

‘Lang, bintangnya udah jatuh barusan…’

Di jalan Gilang menghentikan motornya membaca sms dari Ratri. Mengernyitkan dahi. Lalu membalas.

‘Oh ya? Cepat sekali? Lalu kamu minta permohonan apa?’

‘Aku ingin bersama dia selamanya.

‘Semoga terkabul seperti keyakinanmu. Jadi siapa bintang itu?’

Ratri sedikit gemetar. Lalu diketiknya pesan singkat untuk Gilang.

Send to Gilang:

‘…bintang itu…kamu…’

Gilang memutar motornya kembali ke rumah Ratri…

.

.

[1 Mei 2010, 22.00 WIB]

Cinta kadang perlu juga diucapkan.

 

**dibuat pas malam minggu, duduk sendirian di teras depan kamar kost, sambil mamam martabak telur dan liatin bintang, mangku ciput sambil seru2an pesbukan ma temen2, ee tau2 jadilah tulisan. Horeee….bisa nulis cerpen lagi. Xixixixi….. 😀 **

pray….

photobucket.com

.

Aku berdoa untuk seorang yang akan meletakkanku

pada posisi kedua di hatinya, setelah-MU,

Aku memohon bukan seorang dengan penuh kesempurnaan

namun seorang dengan hati yang tulus mencintai-MU

sehingga hidupnya bukan untuk dirinya sendiri

melainkan untuk-MU,

dan aku juga memohon berikanlah aku hati yang sungguh mencintai-MU

sehingga aku dapat mencintainya dengan cinta-MU

dan bilamana akhirnya kami bertemu,

itu karena Engkau menginginkan kami bertemu

pada waktu yang tepat,

dan Engkau akan membuat segala sesuatu indah

pada waktu yang Engkau tentukan.

Amin… 

thanks to: Asterina & mz Abe.

mengantar rindu..

Ini malam minggu. Saat yang selalu kita tunggu karna malam minggu adalah saat kita bertemu. Jarak kita memang tak jauh, tapi bukankah satu jengkal itu juga jarak. Dan jarak kita pun membuat kita tak bisa bertemu. Lalu waktu ikut mengambil perannya dalam memisahkan kita. Ah, untunglah kita masih punya setia, masih saling percaya, dan tentu saja dengan dasar: ‘cinta’.

Saat weekday kita hanya berjumpa lewat suara, atau barisan kata2 di layar handphone kita. Kita sama2 menahan rindu. Beruntung cinta kita tumbuh mendewasa. Pada langit yang sama membiru, kita leburkan rindu kita. Pada cinta yang sama membara, kita menyatu dalam percaya. Ah, aku bersyukur karenanya.

Malam ini aku melaju, menuju ke kotamu. Tak peduli dingin menyerangku. Aku ingin bertemu. Ingin cepat2 aku sampai di tempatmu, mengantarkan rinduku, memberikan cintaku, hanya untukmu kekasihku, hanya untukmu. Siapkan dirimu dengan hangat cintamu, karna kau akan kuhujani dengan deras rinduku. Tunggulah aku di kotamu. Kita akan segera bertemu.

-3.10.2009: 18.50-

dalam vw kodok, pada sebuah perjalanan 😀

under: fiksi