Bunga di Tepi Jalan

Bunga di Tepi Jalan
(Koes Plus)

Suatu kali kutemukan bunga di tepi jalan.
Siapa yang menanamnya tak seorang pun mengira.
Bunga di tepi jalan alangkah indahnya.
O kasihan, ‘kan kupetik sebelum layu.

Di sekitar belukar dan rumput gersang.
Seorang pun tak ‘kan mau memperhatikan.
Biarlah ‘kan kuambil penghias rumahku.
O kasihan, ‘kan kupetik sebelum layu. 

Lirik di atas ditulis kawan di status facebooknya. Karena saya sedang suka bunga dan banyak sekali bunga-bunga yang saya temui, termasuk bunga di tepi jalan yang sungguh indah, saya pun menulis komentar atas status tersebut: “di sini bunga di tepi jalannya indah2..lebih indah dari pakaian Salomo”. Awalnya berbalas biasa, tapi lama-lama jadi sok filosofis pembicaraan kita. Hihihi… Begini percakapan kami:

Titik: di sini bunga di tepi jalannya indah2… Lebih indah dari pakaian Salomo 🙂

Teman: keren dunk, Tik….

Titik: iya…seperti yg km like kemarin
setiap bunga dipakai-i dgn sangat indah oleh Penciptanya

Teman: hmmm, iya….kadang2 orang tdk mau memperhatikan bunga di tepi jalan itu, krn orang hanya melihat dr satu sisi saja….padahal,bunga di tepi jalan belum tentu tidak indah….

Titik: tetapi bunga tidak pernah khawatir, dia tetap menghiasi jalanan tanpa peduli orang menganggapnya atau tidak. Sampai akhirnya layu dan gugur ke bumi. Selesailah perannya, selesailah dharmanya 🙂

Teman:  ketika seseorang berani mengambil bunga itu, sbnrnya dia tidak akan menyesal….ya, bunga di tepi jalan memang akan terus bertahan tanpa memperdulikan respon orang di sekitarnya, dia akan bertahan utk terus menghiasi jalan itu….tp aku berharap ada yg berani mengambil bunga itu 🙂

Titik: Bunga sih tidak mempermasalahkan ada/tidaknya org yg memetiknya. Karna ketika ia dipetik, ia pun akan dijadikan hiasan, pengindah yang menyenangkan dan menentramkan hati org yg memetiknya. Baginya, asalkan dia tetap menjalankan perannya mengindahkan dunia, di manapun dia: di tepi jalan, di vas, di selipan telinga, di rambut; itu cukup baginya. 🙂

Teman: ya….filosofi bunga mengajarku byk hal….bunga akan tetap menikmati dan menjalankan perannya,tp dari sisi manusiaku ak kasihan dgn bunga itu,maka pada akhirnya ak menyatakan alangkah bahagianya ketika seseorang mengambilny dan menjadikannya penghias….hehe3

Titik: ketika bunga dipetik dari dahannya, dia akan mudah layu. Butuh seseorang yang benar-benar mau merawatnya. Jika tidak, maka lebih baik bunga itu tetap di dahannya sampai dia layu dan mati pada saatnya. 🙂

Teman: apabila ada seseorang yg berani memetiknya berarti seseorang itu harus berkomitmen utk menjaga dan merawatnya #bunga di tepi jalan, alangkah indahnya :)#

Titik: betul. Karena sekali bunga itu dipetik, dia tidak akan bisa dikembalikan lagi ke dahannya.

Teman: ya….#bunga di tepi jalan#

Titik: ternyata aku byk ngomong ya… hihihi…. 😀

Teman: menarik, Tik….sangat….bunga di tepi jalan ”menyentuhku” 😀

—-

Begitulah kesoktahuan kami terhadap bunga di tepi jalan. Entah bagaimana sebenarnya perasaan bunga itu sendiri seandainya dia punya perasaan seperti kita. Apakah benar seperti obrolan kami di atas? Yang jelas kedua orang di atas adalah dua perempuan usia menjelang kepala tiga, cantik, muda, dan bahagia, yang menghabiskan malam minggunya di depan laptop atau handphone-nya. Dan kurasa hal itu berpengaruh pada isi obrolan mereka. 😉

Gambar:  Hiruzaki-tsukimisou (Oenothera speciosa )