Menikmati Bromo di Siang Hari?!! BISA!!

Heyho, selamat Jumat… Melanjutkan postingan lalu tentang perjalanan ke Bromo yuk… 🙂 . Kemarin ceritanya baru sampai Desa Tosari yaa… Yang belum baca, boleh intip dulu di sini 🙂 #sekalianpromosipostingan

Perjalanan ke Bromo diawali dengan menyewa jip. Bapak-bapak itu yang ngurusin sementara saya ke toilet buat bebersih meski akhirnya gak berani sentuh air dan cuma pakai tissue basah. Tawar menawar dan didapat harga IDR 750,000.00 untuk satu jip beserta sopirnya. Bapak sopirnya bernama Pak Iswanto, seorang warga beragama Hindu, memiliki ladang kentang, juga menyewakan jipnya. Pak Iswanto tidak banyak bicara, jadi kita yang tanya-tanya. Saya ding, soalnya kawanan di belakang pada tertidur 😀 . Sebelum melanjutkan perjalanan dengan jip, kita bayar tiket masuk dulu seharga IDR 27,500.00 per orang. Murah kan?!

Ini tiket masuknya...

Ini tiket masuknya…

Tujuan pertama adalah Puncak Penanjakan, view point’nya Gunung Bromo. Biasanya orang-orang menikmati sunrise di sini. Karena sudah siang, sudah tidak begitu ramai di sini, malah cenderung sepi. Tapi malah bisa puas menikmati view gegunungan dan poto poti di sini. Meskipun awan-awan sudah menguap, matahari sudah bersinar terang, tak ada lagi jingga fajar, tapi perpaduan gunung, langit biru, dan hamparan pasir sangat cantik. Berdesir dada saya. Luar biasa karya Sang Pencipta.

Pintu gerbang view point Puncak Penanjakan

Pintu gerbang view point Penanjakan

SAH :D

SAH 😀

Langit, gunung-gunung, dan hamparan pasirnya lagi akuuuurrrrrr...... Cakeps bingitsss.......

Langit, gunung-gunung, dan hamparan pasirnya lagi akuuuurrrrrr…… Cakeps bingitsss…….

mau pagi mau siang, lukisanNya tetap indah...

mau pagi mau siang, lukisanNya tetap indah…

selfie ah.... Eh, bukan selfie si ini namanya, poto dirii :D

selfie ah…. Eh, bukan selfie si ini namanya, poto dirii 😀

OK! Sudah menikmati karya agung Sang Pencipta di View Point Penanjakan, mari kita turun ke kalderanya. Jalannya berkelok-kelok, tapi tenang saja, pak sopir sudah hapal dengan jalanan di sini. Pemberhentian pertama adalah gunung Batok. Silakan menikmati view gunung Batok dengan hamparan pasir di sekelilingnya. Awalnya saya pikir ini kawasan pasir berbisiknya. Ternyata saya salah. Kawasan pasir berbisik ada di belakang sana. Nanti kita ke sana yaa…. Di sini sebaiknya pakai masker, atau penutup kepala dan hidung. Soalnya, kadang-kadang angin datang dan mengangkut debu-debu beterbangan. Jadilah syal saya saya ubel-ubel biar menutup kepala, leher, juga hidung 😀

panorama di pemberhentian pertama....

panorama di pemberhentian pertama….

me love this pic so much... Keren ya?! Xixixi....

me love this pic so much… Keren ya?! Xixixi….

perempuan berkalung sorban eh pashmina ding :D Jadi kaya pake jilbab ya, padahal itu cuma diubel2 biar gak kena debu :D

perempuan berkalung sorban eh pashmina ding 😀
Jadi kaya pake jilbab ya, padahal itu cuma diubel2 biar gak kena debu 😀

Untung udah 'dibalut' pas debunya beterbangan gini...

Untung udah ‘dibalut’ pas debunya beterbangan gini…

Habis dari sini, kita ke tujuan utama, yaitu puncak Gunung Bromo. Sampai di pemberhentian kedua ini, kita akan diserbu oleh tukang kuda (aduh apa ya itu istilahnya). Mereka akan menawarkan jasa kudanya untuk mengantar kita sampai ke anak tangga menuju puncak Gunung Bromo. Harganya sekitar 50 ribuan. Tapi sebagai mantan pendaki gunung (halah! baru juga sekali naik gunungnya 😆 ), saya pilih jalan kaki sampai puncak donk. Eits, tapi sebelum naik-naik ke puncak gunung, kita sarapan dulu yuk, lapeeerrrr….. Di sini ada warung tenda yang menjual cup mie seharga IDR 10rb. Lumayan lah buat ganjal perut dan cadangan tenaga jalan ke puncak Bromo. Hehe…..

sarapan dulu

sarapan dulu

mereka...teman seperjalanan

mereka…teman seperjalanan

menuju tangga itu dulu...

menuju tangga itu dulu… Jauh? ya…relatif sih…tapi saya sampai sana dengan gembira kok….

Akhirnya sampai puncak :D

Akhirnya sampai puncak 😀

Kawah Gunung Bromo, masih mengepul dengan bau belerangnya…. Eh..eh..di Bromo ini saya merasakan pentingnya tongsis! Hwakakakak……

Jadi begitulah perjalanan menuju puncak Gunung Bromo. Menikmati Bromo di siang hari?! Bisa. Nyatanya kami bisa menikmatinya dengan ceria. Ini belum selesai. Masih ada satu lagi yaitu pasir berbisik dan bukit teletubies. Tapi karna ini udah panjang banget, jadi bersambung lagi yaaa….. Oiya, ada yang nanya: berapa suhu Bromo siang hari? Mmm…waktu itu dengan baju seperti itu saya nyaman2 saja. Tidak begitu dingin juga. Agak sorean sekira pukul 15:00 baru mulai mendingin. Siapin jaket saja lah 🙂

OK deh, sampai di sini dulu ceritanya. Dilanjut kalau saya mood ya.. Semoga gak lama…

Salam :kiss: