Syukuran Sederhana Ultah Bapak

Kemarin, 4 Februari 2012 adalah ulang tahun Bapak yang ke 78. Puji Tuhan, Bapak dikarunia kesehatan hingga usia 78 tahun :). Semoga dikaruniai umur panjang dan kesehatan. Amin. Kemarin keluarga mengadakan syukuran sederhana untuk ulang tahunan Bapak. Iya, sederhana, hanya berkumpul bersama, berdoa bersama, dan makan bersama. Tetapi kami semua sangat bahagia, terlebih melihat Bapak bahagia dikelilingi keluarga: anak-anak, mantu, cucu, dan buyut. Bahkan anaknya yang sedang jauh ini pun ikut hadir melalui kotak 14 inchi warna merah :D.

Kakak-kakak saya berkolaborasi bikin nasi tumpeng dan urap (kluban). Saya tidak tau persis makna filosofis dari nasi tumpeng dan urap (kluban) itu, tetapi dulu Ibu selalu membuat urap untuk syukuran apa saja dan kakak saya selalu kekeuh harus ada urap di setiap syukuran (saya juga gk yakin kakak tau makna filosofis urap itu :mrgreen:). Mungkin ada yang tahu, bisa di-share di blog untuk kita semua (terutama orang Jawa kaya saya yang sudah mulai ilang Jawane 😦).

Setelah semua kumpul, termasuk koneksi skype dengan saya nyambung, kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama-sama. Lihat deh, wajah Bapak gembira sekali. Senang sekali melihatnya. Lalu tiup lilin, potong tumpeng, membagi makan bersama, berdoa, dan makaaan. Hehe… Berhubung koneksi putus-putus, jadi beberapa bagian tidak bisa saya ikuti. Untunglah ponakan mengirimkan beberapa foto acara kemarin. Senang sekali.

This slideshow requires JavaScript.

Selamat Ulang Tahun…

Ini adalah postingan rutin setiap tanggal 4 Februari. Postingan tentang Bapak di hari ulang tahun Bapak. 🙂

Selamat ulang tahun ke-78, Bapak..
Semoga sehat selalu, dikarunia umur panjang, dan bahagia..

Tentang Bapak sering kutulis di blog, salah satunya adalah postingan ini. Bapak memang pribadi yang sangat menginspirasi, bagi saya terutama. Sosok yang sangat sangat sabar, rendah hati, sederhana, dan tidak neka-neka.

Bapak dulu pernah menjadi guru dan pernah menjabat kepala sekolah. Tetapi karna sesuatu hal, Bapak berhenti diberhentikan sebagai guru dengan tanpa uang pensiun. Saya yakin beberapa teman bisa menebak apa penyebabnya :). Tetapi Bapak memang benar-benar pribadi yang kuat dan sabar. Terlebih lagi, Bapak dianugerahi istri yang sangat sangat setia yaitu Ibu. Maka setelah tidak menjadi guru, Bapak dan Ibu mengawali hidup dari nol. Bapak dan Ibu berjualan jenang jagung, menumbuk jagung di malam hari, lalu dijual pagi harinya. Sampai akhirnya ada yang menawarkan pada Bapak untuk menjadi kuli bangunan. Bapak mengambil kesempatan itu. Sudah, tidak perlu bicara gengsi, yang penting bisa hidup dan menghidupi keluarga. Dari memegang bolpen dan kapur, menjadi memegang cangkul dan mengaduk semen. Berat? Tentu saja. Tetapi itulah Bapak, yang tetap bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimanapun beratnya. Dari kepala menjadi kaki, Bapak pernah mengalaminya.

Sejak menjadi kuli bangunan, kehidupan lumayan membaik. Ibu juga bekerja menjadi penjahit di pecinan. Setidaknya setiap Sabtu, Bapak bisa membelikan susu kental manis bendera untuk kakak-kakak saya (ya, waktu itu saya belum dibentuk 🙂 ). ‘Jabatan’ Bapak pun meningkat, dari kuli bangunan menjadi tukang. Tau apa bedanya kuli bangunan dan tukang? Kuli bangunan itu yang mengaduk semen, mengangkut bata, melayani tukang. Tukang itu yang membangun, mengukur, memasang bata, dll. Dan puji Tuhan pekerjaan Bapak bagus sehingga banyak mendapat tawaran pekerjaan.

Bapak pensiun menjadi tukang setelah simbah dari Ibu meninggal dan Bapak harus mengurus sawah. Bapak menjadi petani meski tidak begitu menguasai dunia pertanian. Simbah dari Bapak bukan seorang petani, tetapi bekerja sebagai sekretaris di perusahaan rokok, dan sebagai seorang tabib (banyak orang sakit datang ke simbah, saya tidak tau persis, tetapi sepertinya Simbah mendapat karunia menyembuhkan melalui doa). Bapak belajar dari Ibu yang memang anak petani. Dan Bapak memang tekun dalam mengerjakan sesuatu. Maka Bapak pun cepat menguasai hal-hal yang berkaitan dengan dunia pertanian. Bapak juga ditunjuk menjadi ketua kelompok pertanian di desa. Kadang-kadang ada insinyur pertanian yang datang menawarkan kerjasama, maksudnya meminjam lahan Bapak untuk melakukan uji coba produknya, Bapak sekalian belajar dari insinyur tersebut. Tidak heran, dulu Bapak sempat ingin saya menjadi insinyur pertanian (kalau sekarang menyebutnya Sarjana Teknik Pertanian).

Dengan semua yang dilakukan Bapak dan sumbangsih Bapak bagi desa, tidak heran jika Bapak Lurah waktu itu rela dimutasi demi membantu kakak saya lulus sebagai pegawai negeri. Bukan, ini bukan KKN, tetapi ini atas nama keadilan. Kakak saya berulang kali lulus ujian CPNS, tetapi ketika tes kedua (saya lupa namanya kalau tidak salah ‘litsus’ singkatan dati penelitian khusus), kakak saya selalu tidak diluluskan hanya karna status Bapak dulu ketika diberhentikan dari guru, bukan karna kurangnya kompetensi dia. Kalau ada yang menyebut pelanggaran hak asasi manusia, maka inilah contohnya :). Maka Bapak Lurah pun akhirnya bertindak, berani menjamin bahwa Bapak adalah orang yang ikut ‘membangun’ desa melalui pertanian, bahwa Bapak memiliki peran dan sumbangsih bagi kemajuan desa,  maka embel-embel ET di belakang nomor KTP Bapak pun sudah seharusnya dicoret dan tidak penting. Dan dengan tindakan Pak Lurah itu, kakak akhirnya lulus menjadi PNS, yaitu menjadi guru SD dan sekarang sudah menjadi kepala sekolah. Keluarga kami sangat berterimakasih pada Pak Lurah tersebut. Peraturan tes kedua itu dihapus pada saat kementrian dalam negeri dipegang Bapak Rudini. Maka kakak saya pas dan saya bisa lulus pegawai negeri tanpa melalui tes itu (yang jika masih ada mungkin butuh jaminan Pak Lurah lagi).

Kini semua anak-anak Bapak sudah bekerja dengan pekerjaan yang layak. Harapan Bapak dikabulkan Tuhan, bahwa apa yang tidak bisa diterimanya, bisa diterima oleh anak-anak. Bapak tidak ingin anak-anak menjadi petani karna pekerjaan sebagai petani itu berat. Karnanya Bapak tidak meminta kami membantu Bapak di sawah, tetapi meminta kami untuk belajar dan belajar supaya kami bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik dari Bapak & Ibu. Kini tidak ada lagi yang mencibir atau menghina Bapak, yang ada mereka salut kepada Bapak, dengan perjuangan yang berat Bapak bisa mengantarkan anak-anak menjadi seperti sekarang. “Semua itu karna anugerah Tuhan, bukan karna usaha Bapak” begitu Bapak seringkali menjawab jika ada yang menyampaikan kesalutannya kepada Bapak.

Usia Bapak sekarang 78 tahun. Memang sudah tidak lagi muda. Bapak sudah sering sakit, terutama setelah Ibu meninggal, Bapak jadi mudah sakit. Memang suami istri itu benar-benar belahan jiwa ya. Setelah Ibu meninggal, Bapak jadi punya hipertensi, padahal sebelumnya justru darah rendah. Bapak jadi harus mengonsumsi obat setiap hari (meskipun Bapak bandel, hanya pas tensi tinggi saja Bapak baru minum obat). Rasanya sedih kalau Bapak sedang sakit. Waktu saya di Jogja, tiap akhir minggu saya pulang untuk menemani Bapak, tetapi kalau Bapak sakit, saya bakal pp Purworejo-Jogja dengan motor. Dan Bapak tidak izinkan saya bolak/ik pakai motor. Karnanya Bapak selalu bilang: bapak udah sembuh, kamu nggak usah pulang nanti sore. Begitulah Bapak, tidak mau saya capek. Sekarang saat saya di Jepang, Bapak tidak mau bilang kalau sedang sakit. Nanti setelah sembuh, baru Bapak cerita kalau kemarin habis sakit. Bapak tidak mau saya bingung di sini kalau tau Bapak sakit (eh, mbrebes mili saya menuliskan ini :P). Ya, begitulah Bapak, terlalu baik :). Sekarang, kakak sudah tinggal di depan rumah Bapak. Bapak tidak lagi kesepian, tiap hari ada cucu yang membuat hari-harinya ceria. Juga dekat dengan kakak yang seorang perawat sehingga membuat Bapak tenang sewaktu-waktu tekanan darahnya naik. Dan puji Tuhan, Bapak dikarunia kesehatan waktu-waktu ini. Tensinya selalu normal (normal untuk ukuran Bapak) berkisar 140-150. Tiap kutelepon juga selalu terdengar bahagia. Puji Tuhan.

Tuhan, aku mohon, karuniakanlah selalu kebahagiaan dan ketenangan hati untuk Bapak. Kesehatan dan usia yang panjang bagi Bapak, sehingga Bapak bisa menangi semuanya, termasuk menangi cucu dari anak bungsunya. Terimakasih untuk kekuatan dan perlindungan yang Engkau berikan bagi Bapak selama ini. Engkaulah kekuatannya, Engkaulah sumber bahagianya, Syukur kepada-Mu ya Allah.

Bapak, Ibu (ketika masih sugeng), dan anak-anak tahun 2004 waktu pernikahan kk3. Ibu sudah sakit waktu itu. Dan setiap ada saudara yg datang, Ibu menangis. Lihat, tangan kiri Ibu memegang sapu tangan & wajah Ibu pun terlihat habis menangis.

Bapak, lebaran kemarin (belum punya foto terbaru)

Keberangkatan tanpa air mata

Pertama, mau ucapin happy first anniversary buat teh Orin dan suami. Selamat ya, semoga pernikahan yang udah dibangun selama 1 tahun ini semakin kokoh, semakin penuh kedamaian, kebahagiaan, dan cinta. Semoga cepat dikaruniai momongan. Amin.

Nah, dalam rangka ‘syukuran’ ulang tahun pernikahannya, teh Orin ngadain semacam giveaway/kontes yang bertajuk ‘the sweetest memories‘. Susah juga buat saya untuk memilih foto mana yang memiliki kenangan terindah. Karna setiap foto punya kenangannya tersendiri. Tapi akhirnya saya memilih foto ini untuk saya ikutkan meramaikan acara syukurannya teh Orin.

Ini adalah foto sy dan Bapak waktu keberangkatan sy ke Jepang tanggal 20 Maret 2011 lalu. Sy memang sudah bertekad untuk berangkat tanpa air mata. Kita semua harus bahagia dengan keberangkatanku ke Jepang. Begitu juga ketika berpisah dengan Bapak dan keluarga di bandara internasional Soekarno-Hatta. Saya tahu Bapak terharu. Dari matanya tidak dapat menipu. Ada haru, ada bangga, ada bahagia, juga ada khawatir di sana. Tapi Bapak tetap tersenyum. Bapak melepas keberangkatan sy dengan senyuman.

Beberapa minggu sebelum hari itu, Bapak sempat jatuh sakit. Dan apa yang Bapak bilang saat beliau sakit adalah: “Bapak harus cepat sembuh. Bapak mau ngantar Tanti ke bandara tanggal 20 nanti”. Oh….bukan hanya saya yang tidak bisa menyembunyikan air mata, tapi juga kakak2 sy. Sy sangat terharu, betapa keberangkatan sy memberi semangat yang besar untuk Bapak sembuh dari sakit. Dan puji nama Tuhan, Bapak pun segera sehat kembali. Bapak berangkat ke Jakarta dengan kakak seminggu sebelum sy berangkat.

Akhirnya, hari keberangkatan itu pun tiba. Dan Bapak dengan senyum bahagianya mengantar kepergian sy. Saya sangat bersyukur sekali akhirnya Bapak bisa mengantar saya dan akhirnya saya bisa diantar Bapak. Saya membawa kenangan terindah di bandara itu selama sy di sini. Terakhir kalimat yang Bapak bilang adalah: “Hati-hati. Besok pas pulang Bapak jemput lagi”. Amin. Puji Tuhan. Sehat terus ya Pak. Bapak adalah motivasi terbesarku….

Saya pun berangkat. Dan ketika pulang nanti, orang pertama yang ingin sy lihat begitu keluar dari bandara adalah Bapak. Dengan senyumnya seperti ketika melepas kepergiaan saya. Amin.

angka kembar ke-7 Bapak

 

Bapak di usia 77 tahun

4 Februari 2011… Hari ini Bapak berulang tahun yang ke-77. Syukur pada Tuhan atas usia yang Tuhan tambahkan pada Bapak. Syukur pada Tuhan atas kesehatan yang Tuhan limpahkan bagi Bapak. Beberapa waktu lalu Bapak sakit. Beliau harus bolak-balik ke Rumah Sakit dan lab, Purworejo dan Jogja. Sy pun wira-wiri Purworejo-Jogja. Dan puji Tuhan, waktu telpon tadi Bapak bilang semuanya sudah normal kembali, Bapak sudah sehat lagi. Semoga terus terjaga kesehatannya ya Pak.

Setelah pulang dari pemeriksaan di RS di Jogja, Bapak minta antar nengok sawah. Karna lama tidak ditengok, sawah pun penuh gulma dan kekurangan air. Di usia 77 tahun, meski sudah beberapa kali sakit, Bapak masih ingin mengurus sawah meskipun semuanya dikerjakan orang suruhan. Lihatlah Bapak yang masih semangat mengalirkan air dengan ‘menyogok’ saluran air dengan bambu panjang yang dibawanya.

Selamat ulang tahun, Bapak. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kebahagiaan dan kesehatan bagi Bapak. Semoga dikarunia usia yang panjang dan penuh berkah serta menjadi berkat bagi sesama. Maafkan anakmu ini ya Pak, jika belum bisa memenuhi harapan Bapak & membahagiakan Bapak. Doakan aku selalu ya Pak. Aku mengasihimu, Pak…

ultah bapak

Hari ini bapak berulang tahun. Tujuh puluh enam tahun, sudah sepuh ya. Selamat Ulang Tahun, Bapak, semoga dikaruniai umur panjang, sehat, dan bahagia dalam menjalani hari-hari selanjutnya. Amin.

Tadi pagi saya menelepon bapak, mengucapkan selamat ultah pada beliau, disertai doa yang kupanjatkan pada Sang Pengabul Doa. Bapak sudah menduga saya bakal meneleponnya pagi tadi, bahkan sudah persiapan sebelumnya. Saya jadi senyum mendengar cerita bapak. Ceritanya handphone bapak rusak, tidak bisa dicharge. Semalam cucunya datang dan bapak cerita ke cucunya kalau hp-nya rusak. Lalu bapak minta bertukar hp pada sang cucu karna besok pasti bakal ditelpon anak-anak. Ah, bapak..tau saja. 🙂 Dan cucunya itu alias keponakan saya, yang usianya sama dengan saya, mengirim pesan singkat ke saya tadi malam: jangan lupa telpon bapak besok. Oo…tentu saja.. Aku selalu ingat ultah bapak meski tidak kucatat dalam reminder handphone atau kulingkari di kalender.

Saya mau kasih kado apa ya buat bapak. Mmm…waktu usia 64, bapak menyebutnya 8 windu, beliau menginginkan lukisan, dan kami anak-anaknya pun membelikan lukisan untuk bapak dan membuatkan bancakan kecil2an untuk mensyukuri usia yang Tuhan berikan. Empat tahun yang lalu saya memberi kado ‘kartu ujian cpns’, karna waktu itu saya hampir mustahil bisa mendaftar cpns karna mepetnya ujian pendadaran dengan jadwal penerimaan cpns, padahal bapak sangat ingin saya jadi pns (keinginan orang tua pada umumnya). Beberapa tahun terakhir saya hanya memberi kado kecil-kecil untuk bapak. Tahun ini kasih apa ya??? Ada permintaan kado si dari bapak, tapi…..

Yap, bersyukur buat karunia umur panjang yang diberikan Tuhan kepada bapak. Juga kesehatan dan kesabaran bapak menjalani kehidupannya. Terimakasih Tuhan….

happiness…

Gambar di atas dikirim oleh seorang teman ke email saya, bersamaan dengan gambar-gambar lain yang penuh inspirasi. Udah lama banget si ngirimnya dan udah lama juga tersimpan di folder foto saya. Kadang saya buka-buka lagi kalau sedang senggang.

Yupz….tidak ada yang bertanggungjawab atas kebahagiaanmu, kecuali dirimu sendiri <mudah2an bener saya nerjemahkannya>. Saya sering bilang pada diri saya sendiri: yang bisa bikin kamu bahagia itu ya dirimu sendiri, yang bikin kamu sedih itu ya pikiran2mu sendiri, yang bikin kamu cemas itu ya kekhawatiran2mu sendiri. Jadi kalau kamu mau bahagia: ciptakan itu dari hatimu…inner suggestion…. (halah belibet, padahal belum tentu bener…wkwkwk)

Abaikan celotehan saya di atas. Dan saya mau berbagi bahagia di sini. Saya bahagia karena berbagai alasan.

1. Bapak sudah sembuh

Setelah kemarin sempat tinggi tekanan darahnya, sekarang beliau sudah kembali sehat. Sudah telepon sambil tertawa2. Sudah bisa jalan-jalan pagi lagi (kalau tidak hujan). Ya..secara umum, beliau sudah sehat. Terimakasih teman-teman yang sudah membantu dalam doa. Jangan sepelekan doa ya, doa itu sangat besar kuasanya loh.. Jadi kalau ada yang bilang: “aku bantu doa ya”, itu dukungan yang luar biasa lho temans.. 🙂

2. Saya ulang tahun

Hah?? Ulang tahun lagi?? Bukan..bukan… Jadi ceritanya 13 November kemain kantor saya berulang tahun. Saya bertugas jadi mc acara ceremonial resmi –pengarahan pak kepala pusat–. Hmm..sempat deg2an juga saya, soalnya baru kali ini saya ngemsi di depan babe baru (kepala lembaga saya yang baru-saya biasa menyebutnya babe-) yang terkesan garang. Wew… Tapi puji Tuhan lancar hingga akhir. Karena hari jumat acara dilanjutkan setelah sholat jumat yaitu acara potong tumpeng dan makan bersama, dan mc-nya bukan lagi saya.

Pukul 13 kita berkumpul di ruang makan dan acara dimulai. Babe memotong tumpeng dan diserahkan pada pejabat termuda, mas yuliawanto (meski dia sudah jadi pejabat, saya tetap ndak bisa ganti manggil dia dengan sebutan “Pak”, hehe). Kemudian beliau memotong tumpeng lagi dan diserahkan pada pegawai termuda, saya… :”> (emoticon malu kaya apa ya?? :P) . Tak lupa beliau “bebani” saya dengan wejangan2nya. Doakan kami ya Pak, mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab kami dengan baik…

3. Hujan

Ya…saya bahagia karna hujan sudah datang. Ngerasain kan cuaca kemarin2 yang panas tak terkira. Ya, saya mengalami udara dan cuaca yang panas tak terkira. Menyalakan kipas angin pun rasanya tetap panas, bahkan angin yang dikipaskan pun ikut2an hangat.

Dan…cessss…..hujan datang bawa sejuk. Bau ampo (tanah) yang ditimbulkan dari hujan pertama aromanya sedaaaaaap banget. Ya nggak sih? Kalau saya iya. Rumput-rumput dan tanaman2 pasti menari-nari karna hujan. Dan suasana hujan itu lho…umh….romantis…melankolis….tragis (ups!jangan donk, kan lagi ngomongin bahagia 😉 )

Saya menikmati musim hujan kali ini… Seneng banget rasanya dia udah datang… Adem…

4. Menikah

Tenang…tenang…bukan saya yang menikah ;). Sahabat-sahabat saya banyak yang mengakhiri masa lajangnya waktu-waktu ini. Bahagia banget mendengarnya. Sahabat saya waktu SMP menikah minggu lalu, tapi saya tidak bisa datang karena bapak sedang sakit waktu itu, tapi tetep kirim doa donk (inget, doa besar kuasanya, kado paling mahal tuh 😉 ). Sahabat saya waktu SMA, ada berapa ya….mmm 2 yang udah masuk kabarnya, ntar pasti ada susulan undangan lagi deh.. Trus sahabat saya waktu kuliah…setidaknya ada 3 yang rencananya saya mau datang: Bantul, Boyolali, Cilacap. Yang Bantul sahabat di organisasi, yang Boyolali sahabat yang luar biasa (gw sebut gitu jeng, karna kita memang luar biasa…:P ), sahabat yang cilacap…wah pernah jadi teman tidur ya jeng…hehehe…

Selamat ya sahabat2…dan terimakasih banyak udah bikin aku bahagia dengan kabar2 dari kalian.

5. Pekerjaan

Pekerjaanmu udah kelar tik?? Hehe…belum…pakai banget pula belumnya.. Tapi setidaknya saya mencoba menikmati pekerjaan saya. Walaupun silih berganti tiada henti, tapi bersyukur tak terkira, lihat…betapa banyaknya saudara2 yang sedang berjuang untuk ikut tes cpns tahun ini. Untuk apa coba?? Untuk cari kerja. Nah, saya malah udah punya kerjaan banyak, gimana nggak bersyukur coba… 🙂

6. Sahabat

Saya bahagia memiliki kalian semua, sahabat2 saya di dunia maya maupun nyata. Berbagi banyak hal dengan teman2, belajar banyak hal dari teman2. Ya…saya sangat bahagia.

Beberapa waktu terakhir, saya sedang jadi pendengar yang baik dari beberapa sahabat yang sedang dalam ‘pergumulan’. Dan saya bersyukur dipilih Tuhan untuk menjadi pendengar mereka, karena lagi-lagi dari semua yang mereka ceritakan, dari apa respon saya, saya belajar….belajar..dan belajar…

7. Tidak tahu

Ya…..saya tidak ada alasannya…tau2 saya bahagia…hehe…. Akhir2 ini ada perasaan yang tidak saya pahami…dan biarlah saya menyebutnya bahagia…

.

.

::kantor, 18 November 2009: 20.01 wib::

dan hari ini ada namamu lagi

SAKIT

Hari ini status facebook teman-teman banyak yang menuliskan tentang sakit-penyakit. Seorang teman menuliskan bahwa anaknya panas, deman, tidak mau makan, badannya lemas. Lalu ada pula status yang berupa doa, mohon kepada TUHAN untuk memberi kesembuhan dari penyakitnya karena masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Ada lagi yang mengeluh demam karena baru saja di Jakarta dia berhujan-hujan, kini di jogja panas tak terkira. Dan seterusnya. Dan dari semuanya itu, aku pun ikut menundukkan kepala bagi saudara-saudaraku ini, supaya TUHAN menjamah mereka dan menyembuhkan mereka dari sakit-penyakitnya.

Weekend ini, aku membagi waktuku untuk menjenguk ponakanku yang sakit di hari sabtu dan mengantar bapak pijat di hari minggu. Ponakan beberapa waktu yang lalu sakit. Demam. Kakak berulang kali mengabarkan keadaan anaknya. Namun saya sedang ada dinas di luar kota sehingga tidak bisa datang menjenguk. Namun tak lupa kubawa si kecil kepada TUHAN dalam doa malamku. Tante percaya nak, doa itu besar kuasanya.

Kemarin kujenguk ponakan. Dia sudah cukup sehat meskipun masih minum obat. Dan bersyukur meski masih 10 bulan, dia tidak sulit minum obat. Ketika saya datang, dia masih bermain dengan ibunya. Syukurlah nak, tante seneng melihatmu ceria lagi. Tante sempat khawatir waktu ibumu mengabarkan keadaanmu. Tapi meski tante tidak menjengukmu, tante percaya TUHAN sendiri yang datang untukmu dan menyembuhkanmu.

Hari minggunya saya pulang. Dan seperti janji saya pada bapak, saya mengantar beliau ke tempat kakak ketiga untuk pijat dengan alat pijat getar yang dimiliki kakak. Bapak bahkan membawa alat itu pulang dan mengulangi pemijatan di rumah.

Sorenya kami ke gereja. Tak lupa saya memohonkan kesehatan untuk beliau juga untuk teman-teman & saudara-saudara yang sedang sakit. Di akhir doa saya tetap berpasrah: jadilah kehendak-MU ya Allah.

Sepulang dari gereja kami bersiap nonton MotoGP. Tapi tiba-tiba bapak mengeluh kepalanya sedikit pusing. Saya coba periksa tekanan darahnya dengan alat tensi yang kami punya. Ya Tuhan, ternyata tekanan darahnya tinggi: 190/100 (menurut hasil pemeriksaan saya). Saya segera mencari persediaan obat bapak. Ternyata habis, tinggal obat dosis rendah yang sudah tidak mempan untuk bapak. Lalu dengan tenang (bapak tidak boleh liat saya panik, karna beliau pasti akan ikut panik lalu stress lalu tensinya akan semakin tinggi), saya ajak bapak untuk periksa ke dokter spesialis penyakit dalam yang biasa memeriksa bapak. Bapak bersedia dan kami pun berangkat. Ternyata hari minggu tutup. Duh. Kami kembali pulang. Berbekal salinan resep dari dokter saya kembali pergi mencarikan obat untuk bapak. Berkeliling kota purworejo, ternyata apotek2 sudah tutup. Akhirnya saya ke RS Panti Waluyo, rumah sakit yang sudah seperti rumah buat saya karena dulu kakak kerja di sana selama 8 tahun, ibu saya juga dirawat di sana setiap kali sakit, bapak juga sering saya bawa ke sana kalau sakit. Sampai di sana saya langsung bertemu dengan perawat yang kebetulan juga sudah saya kenal. Maksud hati ingin menebus obat, tapi ternyata obat yang dimaksud di resep tidak ada. Saya menunduk lemas. Numpang nangis sebentar lalu pulang. Ya Tuhan…

Sesampai di rumah, bapak masih bermain-main dengan alat tensi. Beliau memang bisa mengukur tekanan darahnya sendiri. Tadi saya berbohong pada beliau bahwa tekanan darah beliau 170/100 bukan 190/100 supaya beliau tidak stress. Ternyata waktu saya tinggal nyari obat, beliau memeriksa sendiri dan tahu berapa sebenarnya tekanan darahnya. Saya lalu ajak beliau untuk periksa ke rumah sakit saja. Dan untungnya beliau bersedia (maklum orang tua kadang tidak mau diajak periksa kalau bukan dengan dokter yang biasanya). Saya kembali datang ke RS Panti Waluyo untuk kedua kalinya dalam satu malam. Sudah pukul 21 lebih, sudah ganti shift. Ditemui perawat yang saya tidak kenal, bapak diperiksa. Ternyata hasil pemeriksaan di RS, tensi beliau 180/110. Lalu dipanggilkan dokter. Dan lagi-lagi saya bersyukur karna dokter yang memeriksa malam ini adalah teman kakak yang sudah bapak kenal. Ini cukup mengurangi tingkat stress bapak. Apalagi dokter ini suka bercanda. Kami diberi obat, dokter langung menelepon kakak saya dan memberi ‘instruksi2’ langsung pada dia tentang kesehatan bapak, dengan bahasa kedokteran yang saya nggak maksud. Puji Tuhan bapak cukup minum obat dan rawat jalan. Kamipun pulang.

Sekarang, saat saya mengetik ini, beliau sudah tidur. Saya berdoa supaya TUHAN memberikannya kesehatan, pemulihan, dan kebahagiaan di usianya yang sudah tua. Masih banyak keinginannya yang belum terwujud dan masih ada satu ‘tanggungjawab’ yang masih membebani beliau. Aku paham betul Pak. Tetaplah sehat Bapak. Berbahagialah di hari tuamu. Lihatlah kami anak2mu yang sudah kau antarkan menuju kemandirian. Engkau adalah gambaran keberhasilan yang menginspirasi banyak orang. Tidak ada satu pun anakmu yang kau izinkan bekerja menggunakan alat cangkul sepertimu, tapi dengan alat pena & komputer. Tidak bekerja di bawah terik matahari sepertimu, tapi di dalam ruangan yang teduh. Dan seperti cita-citamu, mengantarkan anak-anak untuk bekerja yang memberi guna bagi orang lain, dan TUHAN pun memberikannya: pendidikan & kesehatan. Berbahagialah Bapak dengan semuanya itu. TUHAN, tolonglah bapak, sembuhkanlah dia, pertolonganMU menyembuhkan ya Allah…

Ya TUHAN, ku tidak pantas Kau datang padaku

namun  bersabdalah saja maka aku akan sembuh…

tangan TUHAN tak kurang panjang untuk menolong

telinga TUHAN tak kurang tajam untuk mendengar

dan kini TUHAN ampuni sgala dosaku

dan kutahu KAU sanggup tolongku…

Kami serahkan hidup kami kepadaMU ya ALLAH….sakit penyakit kami semua: bapak, teman, saudara, semuanya… Amin.

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Yakobus 5:16

bapak

bapak 75th

::Purworejo, 8 November 2009, 23.34 WIB::