#WPC: Abandoned

20140304-104612.jpg

Apakah masuk tema abandoned?

Habis pedhot sandal dibuang..

kau tinggalkan begitu saja
sekian lamanya kita berdua…
#sandal lebay πŸ˜›

Pasangan itu seperti sendal, satu mati/hilang, satunya tak ada arti. #katanya

Semacam jeda untuk topik ‘lihatlah dari sisi yang lain’ πŸ˜›

Lihatlah dari sisi yang lain… (3)

Masih seputaran cerita hujan abu dan hari-hari selanjutnya. Kini sampai pada hari Sabtu, 15 Februari 2014. Ada apa hari itu? Sini kubagi cerita πŸ™‚

Jumat tengah malam sepulang nonton konser KLa, sudah aku rebah untuk tidur, datang SMS dari kawan UKM waktu kuliah dulu, mengabarkan kalau esok hari dia akan memanen udang di tambaknya, lalu dia undang kami kawan-kawannya untuk datang. Wah…senang sekali dapat undangan ini. Beberapa saat kemudian datang WA dari kawan lain yang menanyakan: besok berangkat tempat si M gak? Nah, si kawan ini pasti dapat SMS dari si M juga. Kujawab: ya πŸ™‚ .

Sebelumnya, mari kukenalkan sedikit tentang si M ini. Dia laki-laki, dulu kuliah di kampus yang sama denganku, tetapi beda fakultas dan beda angkatan. Si M kakak angkatanku 1 tahun. Kami bertemu di UKM yang tingkat kekeluargaannya sangat tinggi. Tidak heran sampai sekarang kami masih sering kumpul dan jalan bareng. Aku lulus lebih dulu sementara si M masih melanjutkan kuliahnya. Si M lulus dari kuliah entah tahun berapa aku lupa, lalu mengajar di SMP di Jogja. Tapi rupanya panggilannya bukan sebagai guru, karna sepulang aku dari Jepang, tak berapa lama kudengar dia keluar dari guru dan memilih bertani di kampungnya sana. Setelah itu dia pun mengabarkan kalau sekarang merambah usaha tambak. Ah..M M, ternyata kamu pekerja keras juga. OK, perkenalan awal tentang si M segitu dulu, mari melanjutkan ceritaku.

Setelah koordinasi singkat, akhirnya diputuskan Sabtu pagi berangkat mruput ke tambak yang lokasinya sekitar 1-1.5 jam dari Jogja. Karna jalanan masih berabu tebal, kita putuskan naik kendaraan roda 4. Karna yang available cuma pick up, ya sudahlah..pick up pun jadi. Hihi… Jadi Sabtu pagi teman saya jemput saya di kontrakan, lalu jemput si Sash di kontrakannya, dan kami bertiga pun berangkat menuju tambak udang. Yuhuuu…perjalanan berabu pun dimulai..!!

20140227-191005.jpg

Tugu Jogja, 15 Februari 2014 sekitar pukul 6:30 pagi.

Sampai di tambak, sudah ada beberapa ember udang yang bikin saya histeria. Habis gemes liat udang besar-besar dan banyak gitu.. Lalu menuju tambak dan melihat para pemilik tambak di sekitar tambak M sedang membantu M memanen udangnya. Ditebarkan jala, diangkat, dan lagi-lagi saya histeria melihat banyak udang yang nyangkut di jala! Ah, ndeso banget deh saya waktu itu. Tapi saya sangat bahagia melihat panen udang, bahagia melihat kebersamaan para petani tambak yang bergotong royong tanpa bayaran untuk memanen hasil tambak rekannya, bahagia juga melihat hasil kerja keras si M yang begitu menyenangkan ini. Selamat menikmati hasil kerja kerasmu ya M. Puji Tuhan…

Sedang melihat-lihat para petani tambak, tiba-tiba salah seorang datang membawa durian: ni mb di suruh mas M bawain durian. Alamaaak….ini banyak amat jamuannya. Saya gak perlu waktu lama, segera ambil posisi untuk menikmati durian. Hehehe….

Selanjutnya kami menuju tempat pengepulan hasil panen di rumah penduduk dekat tambak. Udang yang dijaring tadi dicuci bersih, lalu dipilih yang berkulit keras dengan yang lunak. Yang berkulit keras dan besar akan diarahkan untuk ekspor, sedang yang kualitas di bawahnya dijual di pasar domestik. Hmm…..begitulah.

Sambil menyaksikan warga memilih udang-udang itu, si M bercerita banyak. Tentang tambaknya, tentang kebun ketelanya, pun tentang masalah pribadinya. Hatinya yang poranda sesaat sebelum hari-hari indah bernama pernikahan menghampiri. πŸ™‚ memang masing-masing orang punya masalahnya sendiri. Tetapi yang kemudian membuatku tersenyum adalah cara M menyikapi perpisahan pedih itu dengan sangat positif. “Bersyukur aku pisahan saat aku sudah mengerjakan tambak. Kalau belum, mungkin pelarianku akan ke hal-hal yang gak bener”. “Bersyukur juga aku putus, kalau tidak mungkin aku gak bisa nggarap tambak karna lebih sering bolak-balik ngantar ke sana kemari”. Dan bersyukur-bersyukur lainnya membuatnya merasa ringan menghadapi dan menjalani luka hatinya. Ada hal baik, ada hikmah di balik setiap kejadian. Kalau mau melihat dari sisi yang lain, dari sisi positif, hidup ini indah adanya, meski ada luka, air mata, mendung, kelabu, juga hujan. Berbaliklah, mungkin ada pelangi yang tadinya tak tampak πŸ™‚ .

Hey, M! Semangat terus yaa… Tetap tekun dan bekerja keras. We all support you… GBU ^_^

Lihatlah dari sisi yang lain… (2)

Ini tentang menonton konser KLa Project saat paginya hujan abu mengguyur kota Jogja.

Info dari teman maupun baliho-baliho di pinggir jalan tentang rencana KLa Project mengadakan konser bertajuk “reinKLAnasi, Jogja reinviting love” pada Jumat, 14 Februari 2014 memang sudah ada sejak beberapa hari or minggu sebelumnya. Saya ikut forward-forward infonya juga, tapi memang belum memutuskan akan nonton atau tidak. Alasan utamanya simple sih: karna gak ada temannya #curcol . Sampai pada hari Kamis, 13/2 malam sekitar pukul 19, saya WA-an dengan teman yang ternyata sama-sama pengen nonton konser itu. Akhirnya keputusan nonton pun turun malam itu. Sekitar pukul 20:00 saya meluncur menuju salah satu tiket box paling dekat dengan rumah. Ada kejadian lucu-lucu gimanaaa gitu waktu beli tiket. Saya sudah masuk dan bilang mau beli tiket 2 lembar. Ee..ternyata uang cash di dompet saya tidak cukup untuk beli 2 tiket. Kebiasaan jarang bawa uang cash banyak karna biasanya bisa gesek. Ternyata di situ gk bisa gesek. Yah, akhirnya saya minta mereka nyiapin tiketnya dulu dan saya keluar cari ATM. Sudah sampai ATM ada kejadian lagi yang bikin lebih lucu-lucu gimana. Sudah saya tulis di FB, jadi ku-screenshot aja ya πŸ™‚

screenshot

Hihi…begitulah cerita malam itu. Selesai dari ATM saya kembali ke tiket box dan mendapatkan dua tiket konser reinKLAnasi untuk esok hari.

20140226-132046.jpg

Pulang beli tiket, malam saya seperti penuh bunga. Membayangkan esok hari nonton konser KLA dengan seseorang itu. Iya, sengaja WA orang itu dan ngobrolin tentang konser KLA bukan tanpa tujuan, memang supaya dia ngajak nonton dan aku bisa melihat berbagai kemungkinan dengannya. Ini sengaja curhat, bukan curhat colongan. Hihihi…. Gimana hasilnya? Lanjutin aja bacanya. Hahaha….

Setelah malam penuh bunga itu, pukul 22:50 melihat status teman yang mendengar suara letusan, lalu menyalakan TV, dan menyaksikan letusan gunung Kelud dengan kilatan-kilatannya. Seketika bayangan tentang konser KLA lenyap, berganti kengerian yang mencekam. Malam itu tidur dengan lebih banyak doa.

Pagi harinya, 14 Februari 2014, seperti sudah kuceritakan sebelumnya, Jogja hujan abu tebal. Kantor diliburkan dan saya tidak keluar rumah seharian. Tidak ada pesan juga dari seseorang itu, kecuali pagi hari mengingatkan mengenakan mantel kalau berangkat kantor. Tapi setelahnya tidak ada pesan apa-apa. Saya juga disibukkan dengan bersih-bersih abu. Sampai sekitar pukul 15, ketika ingin rehat, barulah teringat tentang konser KLA. Ada perasaan masygul saat itu. Apa iya akan nonton konser di tengah kondisi yang seperti ini, di saat warga sekitar Kelud berjuang menyelamatkan diri dari erupsi, di tengah warga Jogja juga bergelut melawan abu di rumah dan di jalanan. Lalu kamu akan kentjan di saat seperti ini? Ah…hati saya gamang saat itu. Sudah ada 2 tiket di tangan, tetapi kondisinya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya 😦 .

Sambil rebahan, saya membuka WhatsApp salah satu grup. Seorang teman ada yang membahas tentang konser tersebut. Ternyata konser tetap diadakan, tetapi konsep acaranya sedikit bergeser, dari yang tadinya konser biasa menjadi konser peduli, di mana sebagian dana yang terkumpul akan disalurkan bagi korban bencana Kelud, Sinabung, dan banjir Manado. Puji Tuhan, artinya kami yang nonton bukan hanya bersenang-senang, tetapi juga sedikiiit berkontribusi membantu para korban. Saya sedikit lega, lalu mencoba mengingatkan seseorang itu dengan mengirim foto tiket yang saya dapat semalam. Balasan dia sama dengan kegamangan saya tadi: “jadi nonton? Rasanya lain ya nonton dalam suasana begini”. Saya tersenyum, mengerti sangat apa yang dia rasakan karna saya juga merasakan hal yang sama. Tapi ketika saya ceritakan bahwa konsernya untuk konser peduli, akhirnya dia memutuskan berangkat juga πŸ™‚ .

Tepat waktu maghrib dia sampai di kontrakan. Tentu saja lengkap dengan masker dan mantel, minus kaca mata. Dia menjalankan kewajibannya dulu sementara saya siap-siap. Sekitar pukul 18:45 kami berangkat dari kontrakan. Itu jadi saat pertama saya keluar dari kontrakan seharian itu. Ternyata memang tebal sekali abunya. Di jalan-jalan masih kemebul tiap kali abu tergesek ban kendaraan. Untunglah kami sudah mengenakan mantel dan masker. Memang tidak hujan sih, tapi kan hujan abu. Hehe… Kami menunggu cukup lama di lokasi konser. Sambil foto-foto, ngobrol haha hihi, ketemu teman yang berpikiran sangat positif tentang kami. Hihi… Pukul 21 barulah Katon, Lilo, Adi dan tim tampil di panggung. Aaa.., saya berteriak, sementara dia kalem saja. Saya memang heboh kalo nonton konser. Nyanyi, teriak, lompat, gitu deh… Beberapa lagu dinyanyikan seperti Romansa, Tak Bisa ke Lain Hati, Terpurukku, Yogyakarta, Semoga, 2 lagu yang saya gak tau judulnya, ditutup dengan lagu Kembali. Sepertinya tidak banyak yang dinyanyikan KLA, karna tau-tah udah selesai aja konsernya. Haha…penonton konser selalu saja pengen nambah, padahal udah 1,5 jam juga mereka nyanyi non stop πŸ™‚ . Saya tak banyak memotret, tapi sempat merekam 2 lagu: Tak Bisa ke Lain Hati dan Semoga. Karna lagunya syahdu, saya gk lompat-lompat, diam menghayati dan merekam πŸ™‚ .

20140226-132114.jpg

Konser selesai, kami pulang. Saya bahagia. Lalu sadar bahwa hari itu adalah hari Valentine. Valentine kelabu, tetapi hatiku merah jambu.

Lalu bagaimana hasil kentjannya?

Esok harinya, masih bersuasana merah jambu, saya BBMan dengan teman, yang lalu bercerita bahwa dia bertemu seseorang yang nonton konser dengan saya itu bersama dengan pacarnya & bahkan dikenalkan padanya. Kejadian itu hanya berselang beberapa hari sebelum dia nonton konser dengan saya. Ya, begitulah hasilnya. Ternyata Valentine kelabu kemarin memang benar-benar kelabu. Hati yang sebelumnya sempat merah jambu mendadak tertutup hujan abu. Sepertinya cukup tebal, jadi kalau ada yang mau membersihkannya, harus bawa serokan dan berani berkeringat untuk menyerok dan menyiram sampai bersih sampai terlihat merah jambu lagi ^_^ . Hihihi…

Jadi begitu cerita saya tentang nonton konser KLa Project setelah hujan abu pagi harinya. Meski dalam kondisi yang tak sebaik yang dibayangkan, tetapi setidaknya malah ada manfaat yang diberikan selain bersenang-senang menonton konser, yaitu ikut membantu korban bencana di Indonesia, meski hanya keciiiil sekali jumlahnya. Meski hasil melihat berbagai kemungkinannya berbuah negatif, tetapi setidaknya menjadi tahu, ternyata hati ini masih kelabu perlu disapu, xixixi… Dan setelahnya pun tak ada yang berubah dari kami, karna saya hobby berteman, jadi semuanya masih seperti semula. Indah kan? πŸ˜‰

Lihatlah dari sisi yang lain… (1)

Tentang meletusnya Gunung Kelud dan hujan abu yang turun di sejumlah daerah di Jawa menyisakan banyak kisah. Malam itu (13 Februari 2014) salah seorang teman menulis status di FB kalau mendengar suara gemuruh lalu menduga-duga apakah Gunung Kelud sumber suaranya. Saya yang sudah tiduran di kamar bergegas keluar dan menyalakan TV. Reporter TV menyiarkan meletusnya Gunung Kelud dengan latar belakang kilatan-kilatan ngeri di langit hitam. Group di WhatsApp pun mulai ramai. Malam itu kengerian yang pernah kurasakan saat meletusnya Gunung Merapi kembali terasa.

Esok paginya, saat bangun tidur sekitar pukul 5, rasanya ingin segera keluar rumah. Dan saya begitu syok mendapati halaman rumah sudah berwarna putih, meski masih ada sisa tanah yang bersih dari abu di bawah teras. Saya membangunkan ponakan dan menyalakan TV. Pagi itu grup WhatsApp sudah ramai sejak subuh. Saya tak juga beranjak dari kasur di depan TV, menyimak berita di TV dan obrolan di WhatsApp. Hari masih gelap, padahal ketika kulihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Menjelang pukul 7, langit menjadi merah. Merah seluruhnya. Jujur saja, saat itu saya justru takjub, ya Tuhan indahnyaa… Pukul 8 langit mulai tampak seperti pukul 5:30 biasanya. Hujan abu masih deras. Saya masih belum memutuskan untuk berangkat kantor karna derasnya hujan. Manajemen segera rapat darurat dan tak berapa lama memutuskan meliburkan kantor karna hujan abu yang cukup deras. Ya, memang pagi itu sangat deras. Saya keluar dengan payung transparan, dan hanya beberapa detik payung saya sudah semacam di foto ini.

Hari itu saya memutuskan diam di rumah tanpa keluar-keluar. Kemarin habis belanja barang kebutuhan, termasuk makanan2 instant. Tapi namanya ‘harus’ terkena bencana, ternyata kompor di dapur error gasnya (ngesess..) plus air galon pun habis. Jadi sama saja tidak bisa bikin ind*mie rebus atau semacamnya untuk isi perut. Bersyukur sekitar pukul 10 pacarnya ponakan datang bawa air mineral 1,5 liter dan makanan kecil. Lumayan lah untuk sarapan. Sekitar pukul 11, saya mendengar suara Bapak kontrakan membersihkan halaman. Wah, sebelum halaman kontrakan ikut dibersihkan Bapak, lebih baik segera menyingsingkan lengan baju, dan membersihkan halaman. Apa kata dunia kalau sampai Bapak yang membersihkan halaman kontrakan. Jadi siang itu saya dan Bapak, berdua membersihkan halaman, Bapak membersihkan halaman kost2an, saya membersihkan halaman kontrakan. Hasil pengumpulan abu diserahkan pada Bapak untuk disingkirkan πŸ˜€

Selesai bebersih halaman, ada teman datang membawakan makan siang. Karna dipikir cuma dekat, teman saya ini tidak memakai mantel untuk menutup badannya. Hasilnya, sampai kontrakan saya, baju, celana, dan semuanya penuh dengan abu. Aduh Man..Man.. Tapi terima kasih banyak bantuan logistiknya ya.

Hari itu memang kami diam di dalam rumah, ‘menikmati’ hujan abu yang cukup tebal. Tapi masih ada banyak hal yang bisa disyukuri dari kejadian hujan abu itu. Bersyukur masih bisa dibersihkan, bersyukur masih ada persediaan ataupun bantuan makanan, bersyukur ketika melihat berita di TV, tidak banyak korban dan para pengungsi pun aman.

Alam menyeimbangkan dirinya. Gunung meletus, insya Allah, akan mendatangkan kebaikan nantinya. Keseimbangan alam, kesuburan tanah, pun kebersamaan warga. Berdoa semoga para korban nyawa maupun harta benda boleh diberi keikhlasan dan kekuatan untuk menerima ‘anugerah’ dari Tuhan ini dan kita semua juga boleh belajar dari setiap kejadian di muka bumi ini… Aamiin..

.

*iyee…ini emang postingan telaaaaat banget.. biarin ah, buat catatan pribadi ^_^

#WPC: Object

The object of selfie photo is you!! Yes, yourself ^_^

selfie by shot on the mirror

selfie by using FaceTime camera

selfie with friend ^_^

Happy selfie…. πŸ˜€
(Maksudnya: selamat poto2 selfie πŸ˜€ )

#WPC: Juxtaposition

ziarah

Tanpamu, langit masih menguning berangsur jingga…
Kumbang masih bersahutan menyanyikan tembang senja,
masih ada 1001 cara menikmatinya..

Meski tanpamu, senja tetap memesona…

**menikmati senja, menziarahi kata2..

——————————————————————-

Saya tadinya tidak paham sama sekali dengan tema WPC kali ini. Setelah saya cari di kamus google, ternyata arti juxtaposition adalah “placing side by side” atau pensejajaran. Lalu apa hubungannya pensejajaran itu dengan foto di atas? Jadi, foto di atas sebenernya mau ambil fokus di tulisan Ziarah, judul bukunya Paulo Coelho, yang seharusnya dibaca sebelum The Alchemist. Kemudian, si vespa biru itu jadi background-nya saja. Tapi setelah diunggah si instagram dan FB, ternyata komentar teman-teman justru berfokus pada vespanya. Aish…gagal fokus deh ane. Maka dari itu, saya akhirnya menganggap bahwa backgroud foto ini bisa jadi sejajar kefokusannya dengan fokus foto yang sebenarnya, masuk lah ke tema WPC kali ini *maksa.

Demikian :mrgreen:

#mbfw #TdRM day 1: Perjalanan ke Ranah Minang

Sejak mendapat berita gembira tentang pernikahan sahabat saya, saya langsung memutuskan untuk menghadiri pernikahan itu. Jauh memang, di Sumatera (Jawa-Sumatera kan jauh ya bo’ πŸ˜› ). Tapi apalah arti jarak jika hati sudah berkehendak, kan? πŸ™‚ Tanpa babibu saya langsung bilang: “Tt mau datang, Bun”. Dan Bundo pun menyarankan untuk berangkat bersama Bunda Monda dan Inon Rizkia. Mereka semua kawan-kawan blogger saya, dan satu pun belum pernah bertemu sebelumnya, termasuk Bundo yang akan saya kunjungi itu. Apakah saya canggung? Pada awalnya iya, bahkan saya tidak berani menanyakan nomor HP mereka dan hanya berkomunikasi lewat fasilitas pesan di Facebook. Baru setelah mereka memberikan nomor HPnya tanpa diminta, kita mulai saling berbalas pesan lewat handphone.

Tiket pesawat Jakarta-Padang sudah dipesan oleh Inon, saya hanya memesan tiket Jogja-Jakarta dan Padang-Jogja untuk pulangnya. Sebelum keberangkatan tak ada persiapan yang berarti, percaya saja sama Inon tentang transportasi baik menuju maupun selama di sana karna Inon kan orang sana. Untuk tempat-tempat yang nanti akan dikunjungi di sana setelah kita menghadiri pernikahan Bundo juga tak banyak kurisaukan, selain Inon ada Bunda Monda juga yang sudah pernah Tour de Ranah Minang bersama keluarga beberapa tahun lalu. Jadi saya berangkat tanpa banyak keinginan ini itu, ringan sekali lah. Saya hanya ingin menghadiri akad nikah Bundo, selebihnya bonus πŸ™‚ . Hanya mempersiapkan hati supaya gak mewek waktu akad dan siapkan stamina buat jalan-jalan.

Hari keberangkatan tiba, saya berangkat sendiri dari Jogja menuju Jakarta hari Kamis malam, 9 Januari 2014. Selanjutnya menginap di (hotel dekat) bandara yang sudah saya pesan sebelumnya. O ya, bukan promosi, cuma mau nyimpen nomor telpon hotel itu di blog ini saja plus siapa tahu juga ada yang butuh info hotel bandara yang murah. Kalau harus transit di Jakarta, saya biasanya menginap di Hotel Permata Bandara. Itu letaknya di Jl. Husein Sastranegara, Benda, Tangerang. Kurang lebih 15 menit dengan mobil dari bandara. Biasanya saya menelepon dulu ke nomor (021) 54381606/ 82561098 untuk reservasi kamar. Kenapa pilih di sini? Kebetulan saja dulu pertama kali browsing hotel murah bandara ketemunya hotel ini. Harga kamarnya untuk yang standar IDR200000, untuk yang suite IDR350000. Fasilitasnya lumayan, kamarnya bersih dan ada air hangatnya. Dan yang bikin saya merasa aman adalah fasilitas antar jemputnya. Sampai di bandara kita tinggal telpon untuk minta dijemput, besok paginya request diantar jam berapa. Cukup aman untuk seorang bernama Titik πŸ˜‰ . Dan sampai saat ini saya sudah 3 kali menginap di hotel ini. OK, itu sekilas kamar yang saya inapi malam itu.

Paginya saya diantar menuju bandara Soeta pukul 6:30 karna pesawat kami akan berangkat pukul 7:30. Sampai bandara saya melihat Bunda Monda sedang menarik travel bag-nya. Aih, itu Bunda, teriak saya dalam hati. Ketemu juga kita… Begitu saya masuk, saya langsung menyapa Bunda dan cipika-cipiki. Merasa canggung? Kali ini sudah tidak. Seperti sudah kawan lama yang sering bertemu. Begitulah keluarga blogger, cukup membaca tulisan-tulisannya, kita sudah bisa mengenalnya luar dalam, tentunya tulisannya harus jujur ya πŸ™‚ . Setelah melewati pemeriksaan dan masuk ruang cek in, saya menelepon Inon yang ternyata sedang di toilet. Tak berapa lama Inon datang bersama papanya. Salam, Pa πŸ™‚ . Kami kemudian cek in lalu masuk ruang tunggu. Tak menunggu lama, ada panggilan boarding dan kami pun masuk pesawat. Ada sedikit kejadian lucu di sini, tapi biar itu jadi cerita offline saja, hihi…

Ah…terbanglah kita menuju Ranah Minang. Ini kali kedua saya ke Minang, pertama ke Solok beberapa waktu lalu, tapi tak sempat ke mana-mana karna waktu tersita untuk kerja. Dan kali ini yang kedua, saya mengkhususkan waktu untuk menghadiri pernikahan Bundo sekaligus liburan. Kebetulan belum banyak pekerjaan juga di kantor.

on board

on board

Di pesawat saya duduk terpisah dengan Bunda, Inon, dan Papa. Inon banyak bercerita, sedang saya….banyak tidur (doh). Rasanya cepat saja pesawatnya terbang, tau-tau sudah sampai saja di Minangkabau International Airport (MIA). Puji Tuhan…perjalanan aman bebas hambatan. Sebagai ‘turis’, tak elok rasanya kalau belum berfoto dengan tulisan ‘Welcome to…’. Berfotolah kami di tulisan ‘Selamat datang..’ yang ada di bandara. Norak? Biarin :mrgreen:

welcome to West Sumatera, dear bloggers ^_^

welcome to West Sumatera, dear bloggers ^_^

Perjalanan ke Ranah Minang berakhir manis dengan pertemuan kami dengan Bunda Lily yang sudah tiba lebih dulu di MIA. Next, cerita tentang pertemuan itu dan aktivitas kita di hari pertama TdRM yaa… See you :*