Pasir Berbisik

dengar bisik angin menelisik di sela rambut yang kusut…. lihat kita serupa titik di padang sahara yang terbentang tak bersudut.. Apalah kita, serupa butir pasir di gurun yang terbang diterpa angin… Apalah kita…

Tetapi Ialah Sang Maha, yang tak lalai menjagai ciptaanNya… Ialah Sang Maha, yang tak lepas mengawasi kita…

  

dot on the desert

 
**kawasan Pasir Berbisik Gunung Bromo

di Jarimu

Di Jarimu
Oleh: Bernard Batubara

Laksmi, di permukaan mataku kau menuliskan luka,
Lalu memaksa bibirku yang sedang kaulumat dengan ucapan perpisahan membaca kata demi kata.
Kita begitu fasih mengahancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.
Sementara air mata sibuk mencari jalan pulang,
takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat.
Aku tak mampu menulis di tanganmu,
sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian.
Kita begitu hapal cara saling menemukan,
tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.
Di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai.
Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain.
Jauh dari yang tak akan kembali,
jauh dari yang tak akan pernah terjadi….

 

*puisi milik Bernard Batubara
*suara milik Rahne Putri
*video milik Tjah Aiu 

Mushola Al Khawarizmi, mushola di kantor kami

Mushola Al Khawarizmi

Mushola Al Khawarizmi

Ini adalah mushola terdekat di lingkungan saya, yaitu mushola Al Khawarizmi PPPPTK Matematika.

Mushola Al Khawarizmi berada di dalam kantor, ‘terjepit’ di antara gedung SEAMEO QITEP in Math & asrama. Meski posisinya nylempit tapi mushola ini cukup luas, dapat menampung +/-150 jemaah. Nama Al Khawarizmi diambil dari nama bapak aljabar. Mushola ini kadang digunakan untuk sholat Jumat juga apabila sedang ada pelatihan di kantor. Tetapi apabila tidak ada peserta diklat, umat muslim sholat Jumat di masjid terdekat.

Nah, jika Anda berkunjung ke kantor kami, tak perlu bingung ke mana harus menjalankan ibadah sholat, mushola Al Khawarizmi ini tempatnya. 🙂

Salam.

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

 

Lihatlah dari sisi yang lain… (3)

Masih seputaran cerita hujan abu dan hari-hari selanjutnya. Kini sampai pada hari Sabtu, 15 Februari 2014. Ada apa hari itu? Sini kubagi cerita 🙂

Jumat tengah malam sepulang nonton konser KLa, sudah aku rebah untuk tidur, datang SMS dari kawan UKM waktu kuliah dulu, mengabarkan kalau esok hari dia akan memanen udang di tambaknya, lalu dia undang kami kawan-kawannya untuk datang. Wah…senang sekali dapat undangan ini. Beberapa saat kemudian datang WA dari kawan lain yang menanyakan: besok berangkat tempat si M gak? Nah, si kawan ini pasti dapat SMS dari si M juga. Kujawab: ya 🙂 .

Sebelumnya, mari kukenalkan sedikit tentang si M ini. Dia laki-laki, dulu kuliah di kampus yang sama denganku, tetapi beda fakultas dan beda angkatan. Si M kakak angkatanku 1 tahun. Kami bertemu di UKM yang tingkat kekeluargaannya sangat tinggi. Tidak heran sampai sekarang kami masih sering kumpul dan jalan bareng. Aku lulus lebih dulu sementara si M masih melanjutkan kuliahnya. Si M lulus dari kuliah entah tahun berapa aku lupa, lalu mengajar di SMP di Jogja. Tapi rupanya panggilannya bukan sebagai guru, karna sepulang aku dari Jepang, tak berapa lama kudengar dia keluar dari guru dan memilih bertani di kampungnya sana. Setelah itu dia pun mengabarkan kalau sekarang merambah usaha tambak. Ah..M M, ternyata kamu pekerja keras juga. OK, perkenalan awal tentang si M segitu dulu, mari melanjutkan ceritaku.

Setelah koordinasi singkat, akhirnya diputuskan Sabtu pagi berangkat mruput ke tambak yang lokasinya sekitar 1-1.5 jam dari Jogja. Karna jalanan masih berabu tebal, kita putuskan naik kendaraan roda 4. Karna yang available cuma pick up, ya sudahlah..pick up pun jadi. Hihi… Jadi Sabtu pagi teman saya jemput saya di kontrakan, lalu jemput si Sash di kontrakannya, dan kami bertiga pun berangkat menuju tambak udang. Yuhuuu…perjalanan berabu pun dimulai..!!

20140227-191005.jpg

Tugu Jogja, 15 Februari 2014 sekitar pukul 6:30 pagi.

Sampai di tambak, sudah ada beberapa ember udang yang bikin saya histeria. Habis gemes liat udang besar-besar dan banyak gitu.. Lalu menuju tambak dan melihat para pemilik tambak di sekitar tambak M sedang membantu M memanen udangnya. Ditebarkan jala, diangkat, dan lagi-lagi saya histeria melihat banyak udang yang nyangkut di jala! Ah, ndeso banget deh saya waktu itu. Tapi saya sangat bahagia melihat panen udang, bahagia melihat kebersamaan para petani tambak yang bergotong royong tanpa bayaran untuk memanen hasil tambak rekannya, bahagia juga melihat hasil kerja keras si M yang begitu menyenangkan ini. Selamat menikmati hasil kerja kerasmu ya M. Puji Tuhan…

Sedang melihat-lihat para petani tambak, tiba-tiba salah seorang datang membawa durian: ni mb di suruh mas M bawain durian. Alamaaak….ini banyak amat jamuannya. Saya gak perlu waktu lama, segera ambil posisi untuk menikmati durian. Hehehe….

Selanjutnya kami menuju tempat pengepulan hasil panen di rumah penduduk dekat tambak. Udang yang dijaring tadi dicuci bersih, lalu dipilih yang berkulit keras dengan yang lunak. Yang berkulit keras dan besar akan diarahkan untuk ekspor, sedang yang kualitas di bawahnya dijual di pasar domestik. Hmm…..begitulah.

Sambil menyaksikan warga memilih udang-udang itu, si M bercerita banyak. Tentang tambaknya, tentang kebun ketelanya, pun tentang masalah pribadinya. Hatinya yang poranda sesaat sebelum hari-hari indah bernama pernikahan menghampiri. 🙂 memang masing-masing orang punya masalahnya sendiri. Tetapi yang kemudian membuatku tersenyum adalah cara M menyikapi perpisahan pedih itu dengan sangat positif. “Bersyukur aku pisahan saat aku sudah mengerjakan tambak. Kalau belum, mungkin pelarianku akan ke hal-hal yang gak bener”. “Bersyukur juga aku putus, kalau tidak mungkin aku gak bisa nggarap tambak karna lebih sering bolak-balik ngantar ke sana kemari”. Dan bersyukur-bersyukur lainnya membuatnya merasa ringan menghadapi dan menjalani luka hatinya. Ada hal baik, ada hikmah di balik setiap kejadian. Kalau mau melihat dari sisi yang lain, dari sisi positif, hidup ini indah adanya, meski ada luka, air mata, mendung, kelabu, juga hujan. Berbaliklah, mungkin ada pelangi yang tadinya tak tampak 🙂 .

Hey, M! Semangat terus yaa… Tetap tekun dan bekerja keras. We all support you… GBU ^_^

Lihatlah dari sisi yang lain… (2)

Ini tentang menonton konser KLa Project saat paginya hujan abu mengguyur kota Jogja.

Info dari teman maupun baliho-baliho di pinggir jalan tentang rencana KLa Project mengadakan konser bertajuk “reinKLAnasi, Jogja reinviting love” pada Jumat, 14 Februari 2014 memang sudah ada sejak beberapa hari or minggu sebelumnya. Saya ikut forward-forward infonya juga, tapi memang belum memutuskan akan nonton atau tidak. Alasan utamanya simple sih: karna gak ada temannya #curcol . Sampai pada hari Kamis, 13/2 malam sekitar pukul 19, saya WA-an dengan teman yang ternyata sama-sama pengen nonton konser itu. Akhirnya keputusan nonton pun turun malam itu. Sekitar pukul 20:00 saya meluncur menuju salah satu tiket box paling dekat dengan rumah. Ada kejadian lucu-lucu gimanaaa gitu waktu beli tiket. Saya sudah masuk dan bilang mau beli tiket 2 lembar. Ee..ternyata uang cash di dompet saya tidak cukup untuk beli 2 tiket. Kebiasaan jarang bawa uang cash banyak karna biasanya bisa gesek. Ternyata di situ gk bisa gesek. Yah, akhirnya saya minta mereka nyiapin tiketnya dulu dan saya keluar cari ATM. Sudah sampai ATM ada kejadian lagi yang bikin lebih lucu-lucu gimana. Sudah saya tulis di FB, jadi ku-screenshot aja ya 🙂

screenshot

Hihi…begitulah cerita malam itu. Selesai dari ATM saya kembali ke tiket box dan mendapatkan dua tiket konser reinKLAnasi untuk esok hari.

20140226-132046.jpg

Pulang beli tiket, malam saya seperti penuh bunga. Membayangkan esok hari nonton konser KLA dengan seseorang itu. Iya, sengaja WA orang itu dan ngobrolin tentang konser KLA bukan tanpa tujuan, memang supaya dia ngajak nonton dan aku bisa melihat berbagai kemungkinan dengannya. Ini sengaja curhat, bukan curhat colongan. Hihihi…. Gimana hasilnya? Lanjutin aja bacanya. Hahaha….

Setelah malam penuh bunga itu, pukul 22:50 melihat status teman yang mendengar suara letusan, lalu menyalakan TV, dan menyaksikan letusan gunung Kelud dengan kilatan-kilatannya. Seketika bayangan tentang konser KLA lenyap, berganti kengerian yang mencekam. Malam itu tidur dengan lebih banyak doa.

Pagi harinya, 14 Februari 2014, seperti sudah kuceritakan sebelumnya, Jogja hujan abu tebal. Kantor diliburkan dan saya tidak keluar rumah seharian. Tidak ada pesan juga dari seseorang itu, kecuali pagi hari mengingatkan mengenakan mantel kalau berangkat kantor. Tapi setelahnya tidak ada pesan apa-apa. Saya juga disibukkan dengan bersih-bersih abu. Sampai sekitar pukul 15, ketika ingin rehat, barulah teringat tentang konser KLA. Ada perasaan masygul saat itu. Apa iya akan nonton konser di tengah kondisi yang seperti ini, di saat warga sekitar Kelud berjuang menyelamatkan diri dari erupsi, di tengah warga Jogja juga bergelut melawan abu di rumah dan di jalanan. Lalu kamu akan kentjan di saat seperti ini? Ah…hati saya gamang saat itu. Sudah ada 2 tiket di tangan, tetapi kondisinya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya 😦 .

Sambil rebahan, saya membuka WhatsApp salah satu grup. Seorang teman ada yang membahas tentang konser tersebut. Ternyata konser tetap diadakan, tetapi konsep acaranya sedikit bergeser, dari yang tadinya konser biasa menjadi konser peduli, di mana sebagian dana yang terkumpul akan disalurkan bagi korban bencana Kelud, Sinabung, dan banjir Manado. Puji Tuhan, artinya kami yang nonton bukan hanya bersenang-senang, tetapi juga sedikiiit berkontribusi membantu para korban. Saya sedikit lega, lalu mencoba mengingatkan seseorang itu dengan mengirim foto tiket yang saya dapat semalam. Balasan dia sama dengan kegamangan saya tadi: “jadi nonton? Rasanya lain ya nonton dalam suasana begini”. Saya tersenyum, mengerti sangat apa yang dia rasakan karna saya juga merasakan hal yang sama. Tapi ketika saya ceritakan bahwa konsernya untuk konser peduli, akhirnya dia memutuskan berangkat juga 🙂 .

Tepat waktu maghrib dia sampai di kontrakan. Tentu saja lengkap dengan masker dan mantel, minus kaca mata. Dia menjalankan kewajibannya dulu sementara saya siap-siap. Sekitar pukul 18:45 kami berangkat dari kontrakan. Itu jadi saat pertama saya keluar dari kontrakan seharian itu. Ternyata memang tebal sekali abunya. Di jalan-jalan masih kemebul tiap kali abu tergesek ban kendaraan. Untunglah kami sudah mengenakan mantel dan masker. Memang tidak hujan sih, tapi kan hujan abu. Hehe… Kami menunggu cukup lama di lokasi konser. Sambil foto-foto, ngobrol haha hihi, ketemu teman yang berpikiran sangat positif tentang kami. Hihi… Pukul 21 barulah Katon, Lilo, Adi dan tim tampil di panggung. Aaa.., saya berteriak, sementara dia kalem saja. Saya memang heboh kalo nonton konser. Nyanyi, teriak, lompat, gitu deh… Beberapa lagu dinyanyikan seperti Romansa, Tak Bisa ke Lain Hati, Terpurukku, Yogyakarta, Semoga, 2 lagu yang saya gak tau judulnya, ditutup dengan lagu Kembali. Sepertinya tidak banyak yang dinyanyikan KLA, karna tau-tah udah selesai aja konsernya. Haha…penonton konser selalu saja pengen nambah, padahal udah 1,5 jam juga mereka nyanyi non stop 🙂 . Saya tak banyak memotret, tapi sempat merekam 2 lagu: Tak Bisa ke Lain Hati dan Semoga. Karna lagunya syahdu, saya gk lompat-lompat, diam menghayati dan merekam 🙂 .

20140226-132114.jpg

Konser selesai, kami pulang. Saya bahagia. Lalu sadar bahwa hari itu adalah hari Valentine. Valentine kelabu, tetapi hatiku merah jambu.

Lalu bagaimana hasil kentjannya?

Esok harinya, masih bersuasana merah jambu, saya BBMan dengan teman, yang lalu bercerita bahwa dia bertemu seseorang yang nonton konser dengan saya itu bersama dengan pacarnya & bahkan dikenalkan padanya. Kejadian itu hanya berselang beberapa hari sebelum dia nonton konser dengan saya. Ya, begitulah hasilnya. Ternyata Valentine kelabu kemarin memang benar-benar kelabu. Hati yang sebelumnya sempat merah jambu mendadak tertutup hujan abu. Sepertinya cukup tebal, jadi kalau ada yang mau membersihkannya, harus bawa serokan dan berani berkeringat untuk menyerok dan menyiram sampai bersih sampai terlihat merah jambu lagi ^_^ . Hihihi…

Jadi begitu cerita saya tentang nonton konser KLa Project setelah hujan abu pagi harinya. Meski dalam kondisi yang tak sebaik yang dibayangkan, tetapi setidaknya malah ada manfaat yang diberikan selain bersenang-senang menonton konser, yaitu ikut membantu korban bencana di Indonesia, meski hanya keciiiil sekali jumlahnya. Meski hasil melihat berbagai kemungkinannya berbuah negatif, tetapi setidaknya menjadi tahu, ternyata hati ini masih kelabu perlu disapu, xixixi… Dan setelahnya pun tak ada yang berubah dari kami, karna saya hobby berteman, jadi semuanya masih seperti semula. Indah kan? 😉

#WPC: Object

The object of selfie photo is you!! Yes, yourself ^_^

selfie by shot on the mirror

selfie by using FaceTime camera

selfie with friend ^_^

Happy selfie…. 😀
(Maksudnya: selamat poto2 selfie 😀 )

#mbfw #TdRM day 1: Perjalanan ke Ranah Minang

Sejak mendapat berita gembira tentang pernikahan sahabat saya, saya langsung memutuskan untuk menghadiri pernikahan itu. Jauh memang, di Sumatera (Jawa-Sumatera kan jauh ya bo’ 😛 ). Tapi apalah arti jarak jika hati sudah berkehendak, kan? 🙂 Tanpa babibu saya langsung bilang: “Tt mau datang, Bun”. Dan Bundo pun menyarankan untuk berangkat bersama Bunda Monda dan Inon Rizkia. Mereka semua kawan-kawan blogger saya, dan satu pun belum pernah bertemu sebelumnya, termasuk Bundo yang akan saya kunjungi itu. Apakah saya canggung? Pada awalnya iya, bahkan saya tidak berani menanyakan nomor HP mereka dan hanya berkomunikasi lewat fasilitas pesan di Facebook. Baru setelah mereka memberikan nomor HPnya tanpa diminta, kita mulai saling berbalas pesan lewat handphone.

Tiket pesawat Jakarta-Padang sudah dipesan oleh Inon, saya hanya memesan tiket Jogja-Jakarta dan Padang-Jogja untuk pulangnya. Sebelum keberangkatan tak ada persiapan yang berarti, percaya saja sama Inon tentang transportasi baik menuju maupun selama di sana karna Inon kan orang sana. Untuk tempat-tempat yang nanti akan dikunjungi di sana setelah kita menghadiri pernikahan Bundo juga tak banyak kurisaukan, selain Inon ada Bunda Monda juga yang sudah pernah Tour de Ranah Minang bersama keluarga beberapa tahun lalu. Jadi saya berangkat tanpa banyak keinginan ini itu, ringan sekali lah. Saya hanya ingin menghadiri akad nikah Bundo, selebihnya bonus 🙂 . Hanya mempersiapkan hati supaya gak mewek waktu akad dan siapkan stamina buat jalan-jalan.

Hari keberangkatan tiba, saya berangkat sendiri dari Jogja menuju Jakarta hari Kamis malam, 9 Januari 2014. Selanjutnya menginap di (hotel dekat) bandara yang sudah saya pesan sebelumnya. O ya, bukan promosi, cuma mau nyimpen nomor telpon hotel itu di blog ini saja plus siapa tahu juga ada yang butuh info hotel bandara yang murah. Kalau harus transit di Jakarta, saya biasanya menginap di Hotel Permata Bandara. Itu letaknya di Jl. Husein Sastranegara, Benda, Tangerang. Kurang lebih 15 menit dengan mobil dari bandara. Biasanya saya menelepon dulu ke nomor (021) 54381606/ 82561098 untuk reservasi kamar. Kenapa pilih di sini? Kebetulan saja dulu pertama kali browsing hotel murah bandara ketemunya hotel ini. Harga kamarnya untuk yang standar IDR200000, untuk yang suite IDR350000. Fasilitasnya lumayan, kamarnya bersih dan ada air hangatnya. Dan yang bikin saya merasa aman adalah fasilitas antar jemputnya. Sampai di bandara kita tinggal telpon untuk minta dijemput, besok paginya request diantar jam berapa. Cukup aman untuk seorang bernama Titik 😉 . Dan sampai saat ini saya sudah 3 kali menginap di hotel ini. OK, itu sekilas kamar yang saya inapi malam itu.

Paginya saya diantar menuju bandara Soeta pukul 6:30 karna pesawat kami akan berangkat pukul 7:30. Sampai bandara saya melihat Bunda Monda sedang menarik travel bag-nya. Aih, itu Bunda, teriak saya dalam hati. Ketemu juga kita… Begitu saya masuk, saya langsung menyapa Bunda dan cipika-cipiki. Merasa canggung? Kali ini sudah tidak. Seperti sudah kawan lama yang sering bertemu. Begitulah keluarga blogger, cukup membaca tulisan-tulisannya, kita sudah bisa mengenalnya luar dalam, tentunya tulisannya harus jujur ya 🙂 . Setelah melewati pemeriksaan dan masuk ruang cek in, saya menelepon Inon yang ternyata sedang di toilet. Tak berapa lama Inon datang bersama papanya. Salam, Pa 🙂 . Kami kemudian cek in lalu masuk ruang tunggu. Tak menunggu lama, ada panggilan boarding dan kami pun masuk pesawat. Ada sedikit kejadian lucu di sini, tapi biar itu jadi cerita offline saja, hihi…

Ah…terbanglah kita menuju Ranah Minang. Ini kali kedua saya ke Minang, pertama ke Solok beberapa waktu lalu, tapi tak sempat ke mana-mana karna waktu tersita untuk kerja. Dan kali ini yang kedua, saya mengkhususkan waktu untuk menghadiri pernikahan Bundo sekaligus liburan. Kebetulan belum banyak pekerjaan juga di kantor.

on board

on board

Di pesawat saya duduk terpisah dengan Bunda, Inon, dan Papa. Inon banyak bercerita, sedang saya….banyak tidur (doh). Rasanya cepat saja pesawatnya terbang, tau-tau sudah sampai saja di Minangkabau International Airport (MIA). Puji Tuhan…perjalanan aman bebas hambatan. Sebagai ‘turis’, tak elok rasanya kalau belum berfoto dengan tulisan ‘Welcome to…’. Berfotolah kami di tulisan ‘Selamat datang..’ yang ada di bandara. Norak? Biarin :mrgreen:

welcome to West Sumatera, dear bloggers ^_^

welcome to West Sumatera, dear bloggers ^_^

Perjalanan ke Ranah Minang berakhir manis dengan pertemuan kami dengan Bunda Lily yang sudah tiba lebih dulu di MIA. Next, cerita tentang pertemuan itu dan aktivitas kita di hari pertama TdRM yaa… See you :*