Resah

Hadeeehhh….ini lagu terngiang2 terus di telinga…
Denger di radio pada Minggu malam dalam perjalanan Prambanan-Mlati dalam kantuk yang luar biasa. Sudah hampir sampai rumah lagu ini muncul.. Pas sampai di depan rumah pas reffnya: aku ingin berdua denganmu, di antara daun gugur….
Entah kenapa sepenggal lirik itu nyantel terus di kepala. Sampai melahirkan penasaran dan akhirnya mencari-cari lagu siapa sih itu tadi? Ketik lirik yang diingat di mesin pencari dan muncullah blognya Payung Teduh: payungteduh.blogspot.com. Di sana saya menemukan puisi/lirik lagu lain yang seperti puisi2 saya, salah satunya kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan.. Yah, hidup ini keberulangan memang, yang terjadi di kita bisa terjadi di orang lain. Kalau tidak begitu, pasti tidak ada yang puisinya menceritakan kisah hidup kita, atau sebaliknya ada orang yang termehek-mehek baca puisi kita karna merasa “ini gue bangettt…huhuhu….”
Hahaha…ya sudahlah, mari kalian ikut dengarkan lagunya payung teduh yang terus terngiang di telingaku itu yaa…. 🙂

#jangan lupa bahagia, temans…

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan…

Kita tak semestinya berpijak diantara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri ditengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan abadi

o0o

#Payung Teduh

Tentang Kebalikan

Merakit mesin penenun hujan
hingga terjalin, terbentuk awan.
Semua tentang kebalikan
terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu.

Keputusan yang tak terputuskan
ketika engkau telah tunjukkan
semua tentang kebalikan
kebalikan di antara kita..

Kau sakiti aku,
kau gerami aku,
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

*

**bersenandung sambil menikmati gerhana bulan yang berlalu cepat sore tadi. Ada yang lihat?!**
***hawa gerah. Kemarin lusa bau tanah basah sudah menghampiri hidung, segar.
Malam ini pun hujan menghambur memeluk bumi yang merindui. Hmm…sudah masuk musim hujan (kah?)***