di Jarimu

Di Jarimu
Oleh: Bernard Batubara

Laksmi, di permukaan mataku kau menuliskan luka,
Lalu memaksa bibirku yang sedang kaulumat dengan ucapan perpisahan membaca kata demi kata.
Kita begitu fasih mengahancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.
Sementara air mata sibuk mencari jalan pulang,
takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat.
Aku tak mampu menulis di tanganmu,
sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian.
Kita begitu hapal cara saling menemukan,
tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.
Di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai.
Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain.
Jauh dari yang tak akan kembali,
jauh dari yang tak akan pernah terjadi….

 

*puisi milik Bernard Batubara
*suara milik Rahne Putri
*video milik Tjah Aiu 

Semacam Klarifikasi

Jadi begini, beberapa hari lalu, ponakan yang serumah dengan saya mau baca puisi di acara Samudera Kata (@puisiindojgj). Lalu dia minta puisi dari saya. Hah? Ngece kali kau dik, masa iya puisi menye2-nya mbak mau dibaca depan penonton.  Hihi…. Akhirnya, kukasih puisi ‘pergilah seperti uap, karna kutau kau akan kembali sebagai hujan’. Saya memang suka banget dengan puisi itu, mau suruh baca puisi Nyanyian Angsa-nya WS Rendra kok kepanjangan. Durasi rek durasi :D. Akhirnya do’i setuju deh bacain puisi ‘teman’ saya itu. Sukses? Mm…menurut saya sih, mesti terus belajar. Hihi…kaya sendirinya pinter baca puisi 😛

20130802-162523.jpg

Nah, paginya saya iseng search puisi itu di gugel. Daaaan…saya menemukan postingan yang lebih lama dari post teman saya di note. Aaaa….k ternyata saya keliru. Puisi yang saya cintai itu ternyata karya Bang Toga Nainggolan yang ia tulis di sini. Ihiks…semacam merasa bersalah telah share info tanpa konfirmasi dulu 😥 . Baiklah, dengan ini saya klarifikasii, bahwa puisi “Pergilah Seperti Uap, karna Kutau, Kau akan Kembali Sebagai Hujan” BUKAN karya Rio Anggoro seperti yang saya tulis di sini, tetapi karya bang Toga Nainggolan. Soundcloud-nya juga bakal saya rekam ulang deh. Hehe… Maaph ya bang Toga… ^_^

Eh, selamat mudik ya teman-teman, hari ini hari terakhir masuk kantor kan? Posting2 pas liburan juga boleh lho…saya baca2 aja 😀

See youuu….. Muuaaahhh….

Babak Sandiwara

Aku menemukanmu,
dalam sunyi malam dan dingin tanpa pelukan.
Hanya matamu menatapku lekat,
enggan kau lepas meski kau tau aku ngilu dengan tatapanmu…

Langkahmu menyusuri jalanan kota,
menerabas keramaian dan binar lampu jalanan.
Kurasakan panas tubuhmu,
tersengal-sengal nafasmu,
dan keringatmu…ingin kuusap dengan ujung lengan bajuku..
andai saja kau mau..

Kamu lelah…
Lelah memanggul dendam yang tak kunjung kau letakkan,
lelah mencari cara melepaskan amarah..
Tidakkah kau ingin beristirahat?

Di beranda ini,
tersimpan kumpulan naskah, yang telah kau susun
dengan hati2 dan sangat teliti.
Sebuah karya besar,
yang kaunilaikan padaku setiap selesai satu babak.

Aku menunggu dalam diam,
sampai seluruh karyamu kauselesaikan..

Malam ini aku menemukanmu,
memandangku tajam, dalam..
memegang catatan yang kausebut kenyataan,
meyakinkanku sebuah kebenaran.
Meski kini tlah kaudapati
kumpulan naskah yang kauberikan padaku,
kuletakkan dalam kotak
yang kuberi label: fiksi!

Mari beristirahat kawan,
hari sudah menjelang pagi..

#tt
07.01.10: 01.54 wib

Pergilah seperti uap, karna kutahu, kau akan kembali sebagai hujan…

(Rio Anggoro)

Dancing_in_The_Rain_by_AnkyShpanky

D. Rio Anggoro adalah teman saya sejak SMP.
Pernah 1 kelas selama 3 tahun di SMP. Naik ke SMA, kami 1 SMA lagi.
Berbeda nasib setelah kuliah. Dia ke Farmasi Sanata Dharma, saya ke kampus di sebelahnya.
Sekarang menjadi Overseas Business Manager di PT. Dexa Medica.
Sementara berkantor di Lagos, Nigeria.
Orangnya tipe planning, segalanya harus well preparedPerfectionist.
Ngakunya tidak pandai berimajinasi. Tapi sekali menulis, saya langsung jatuh hati.
Ini tulisan satu-satunya yang saya temukan di note FB dia. Saya jatuh cinta pada kata-kata yang diraciknya.
Sayang saya tak pandai membaca puisi. Jadi maaf, jika terdengar seperti orang bergumam. Tanpa emosi.
Semoga masih bisa dinikmati. 🙂

O iya, satu info lagi tentang Rio: dia sudah punya pacar. Sayang ya…. :mrgreen:

Selamat hari Jumat, teman-teman. Apakah di situ hujan? Mari menari di bawah hujan…. 🙂

/

Salam,
~Tt

Perjalanan Kita

Rangga, happy 2nd anniversary… Entah anniversary untuk apa karna kita tidak pernah mengikrarkan apa-apa. Hanya saja, hari ini dua tahun lalu kita sama-sama mengakui perasaan kita masing-masing. Ya, hanya sebatas pengakuan tanpa kelanjutan apa-apa. Karna ‘kelanjutan’ itu seolah kemustahilan bagi kita.

Rangga, selama bersamamu, aku bahagia. Meski….tak sempurna. Aku tak pernah bisa (bahkan sekedar) berharap akan begini selamanya. Kita hanya menjalani hari-hari berdua, berbagi segala hal, tetapi tak pernah berani bertanya ‘kita mau ke mana?’. Pada akhirnya nanti kita tetap harus memilih. Kita telah sama-sama tahu apa yang harus kita pilih. Meski hingga kini, kita tetap saja menyusun cerita dalam perjalanan hidup kita.

Rangga… Perjalanan kita ini seolah tanpa tanda baca ya… Kita tak ingat lagi bagaimana awalnya. Kita hanya terus menulis dan menulis dalam lembaran kehidupan kita. Kita tak pernah tau kapan akan berakhir, bahkan tak yakin apakah akan berakhir.

Mungkin memang cinta tak perlu tanda baca ya…..

Love,
~Tt

#intinya ingin posting puisinya Sapadi Djoko Damono, Sonet 12 ^_^
#ini hanya fiksi belaka, mencoba mengintepretasikan sonetanya Pak Sapardi 😛
#ditulis dalam perjalanan…