Weekly Photo Challenge: Orange

Orange, kupikir tadinya jeruk, eh ternyata warna oren alias oranye. Tentang etimologi kata ini bisa temans baca di blognya Bunda Monda. Dulu saya hampir tidak punya baju berwarna oren dan warna-warna cerah temannya seperti kuning, merah, dan biru muda. Tapi sejak kePDan saya meningkat, saya mulai menyukai baju-baju berwarna cerah. Dan tanpa disadari, ada beberapa baju oren di lemari saya baik itu kaos maupun baju untuk ke kantor. Ini salah satu baju yang didesain dan dicetak teman saya pakai foto dan tagline saya. Hihi…. Ada yang berminat bikin kaos macam ini? Bisa buat kado lho… Hubungi saya yaa… 😀

2015/03/img_7905.jpg Selain pada baju, warna oren bisa dengan mudah kita temui di kuliner Nusantara. Salah satunya di menu ikan bakar pedas khas Makassar ini. Look at the colour and imagine how spicy and hot that cuisine. Cabenya cabe rawit bo’. Huhhah banget deh…

2015/03/img_5273.jpg

 Untuk menawarkan rasa pedas, enak banget kalo minum es jus markisa. Di Makassar salah satu oleh-oleh yang bisa kita bawa pulang adalah sirup markisa. Saya sering bawa pulang sirup markisa. Nah, ada kejadiaan lucu nyebelin nih dengan sirup markisa. Alkisah sirup markisanya tinggal sedikit di botol. Mungkin teman saya pengen bersih-bersih kulkas saya kali ya, jadi dia dengan kreatifnya menuang sisa sirup markisa itu di cetakan es batu. Pas saya mau bikin es teh, o’ow, ini kenapa ada oren2 di cetakan es batu gini??? Ternyata beliau punya niat mulia, memudahkan membuat es sirup markisa dengan mencemplungkan sirup berbentuk es ke dalam segelas air. Apa daya koloid berbentuk sirup tersebut tidak juga membeku meski disimpan di dalam frezer. Huhuhu….

IMG_6341

Daripada gelo karna gak jadi bikin es teh, mending jalan-jalan menikmati langit sore yang mengoren yuk… Haha…tetep aja lebih enak disebut ‘menjingga’ yaa… 😀 Marii…

IMG_5288

Saya kasih bonus satu foto yaa… Ndilalahnya kantor saya kok ya bikin kaos seragam olahraga warna oren. Jadi pas deh dengan tema WPC kali ini. Gimana, oren masih cocok kan ya dengan kulit saya yang sawo matang? 😉

IMG_6257 Selamat berWPC temans. Selamat hari Kamis menjelang weekend. Pesan terakhir: jangan lupa bahagia 😀

Turnamen Foto Perjalanan #57: Langit Biru

Huwoooo….temanya bikin gak kukuuu… Here is my sky…

2015/03/img_8579.jpg

Foto ini diambil pagi tadi (3 Maret 2015) sekira pukul 07:00 pagi saat berangkat kantor dari kawasan Prambanan, Sleman menggunakan iPhone 5 tanpa suntingan. Hamparan hijau menguningnya padi berpadu dengan biru langit pagi. Indahnya alam Indonesia. That’s why i love this country so deep.

Foto ini diikutsertakan pada Turnamen Foto Perjalanan 57 : Langit Biru

Sadranan i’m in love

pantai sadranan.jpgMelihat landscape di atas, bayangan kalian pantai indah itu ada di mana? Bali? Lombok? Hoho… Pantai indah itu ada di Jogja, tepatnya di Gunung Kidul, DIY. Namanya: Pantai Sadranan.

Minggu kemarin, saya dan teman-teman kantor melakukan perjalanan ke Gunung Kidul, dan salah satu destinasi wajib kunjung di Gunung Kidul adalah pantai. Kita menuju pantai-pantai selatan di wilayah Gunung Kidul yang dulunya dikenal dengan area BKK. Apa itu BKK? BKK itu Baron-Kukup-Krakal. Dulu yang terkenal memang 3 pantai itu. Tetapi lama-lama, semakin banyak pantai-pantai indah yang dikembangkan untuk area wisata.

Memasuki pos retribusi, kita membayar biaya retribusi 10 ribu rupiah per kepala, dan itu sudah bisa menikmati 10 pantai di areal BKK situ. Murah banget. Tapi ada yang mengganjal buat saya, karena kita membayar untuk 8 kepala dan hanya dikasih karcis 2 lembar. Hmm….ke mana 6 lembarnya??

OK, tujuan pertama kami ke pantai Kukup. Saya sudah pernah kemari, mudah-mudahan nanti bisa saya tuliskan tentang pantai ini juga :). Selanjutnya kami ingin ke pantai Pulang Syawal/Indrayanti, tapi saya pengen ke pantai yang belum terkenal aja. Akhirnya teman yang pegang kemudi membelokkan mobil ke pantai Sadranan. Pantai Sadranan ini kalo dari pantai Kukup ambil arah kanan, melewati pantai Krakal masih lurus saja, nanti ketemu pertigaan yang ada plang pantai Sadranan gitu ambil kanan lagi. Nah, habis itu ketemu penginapan baru deh ambil kiri, jalan kecil dan berbatu. Mungkin karna aksesnya belum lebar makanya sampai sana hanya ada beberapa motor yang parkir dan mobil kami saja. Waw!! Begitu memasuki kawasan berpasir putih, jantung saya langsung berdesir, masyaAllah….keren sangaaadddd…..!! Saya ambil alih kamera yang tadi dipegang teman: aku mau motret2!!

pantai sadranan gunung kidul.jpg

20140327-213239.jpg

Airnya di sini jerniiiih banget!! Kamu bisa liat ikan kecil-kecil warna warni di sini. Lucuuu…. Saranku sih jangan diambil, dinikmati aja. Toh kalau diambil, dibawa pulang juga mungkin cuma akan mati karna kadar garam airnya tidak sesuai. Biarin aja mereka berenang-renang di sini yaa… 🙂

ikan mungil di pantai sadranan.jpg

Pantai Sadranan ini tempatnya masih sepi, padahal keindahannya tiada tara begini. Ombaknya hampir tidak ada. Pantai ini berkarang, jadi ombak sudah pecah membentur karang di tengah sana, sampai di pinggir sudah tinggal gelombang kecil saja. Nyaman banget kalau dipakai berendam. Sayaaaang banget kemarin gak bawa baju renang atau setidaknya yang bisa basah-basahan. Makanya masih penasaran pengen ke sana lagi, pengen berendaaam.. ^_^

20140327-214251.jpg

20140327-214258.jpg

20140327-214323.jpg

Gimana? Kereeen kan?

Lho, foto Tt mana? Eh, belum ada ya?? Tenang..tenang.. Tt mah gak bakal ketinggalan nampang. Hihihi… Nih!

20140327-214744.jpg

20140327-214757.jpg

20140327-214813.jpg

20140327-214831.jpg

Harapanku, pantai ini akan tetap bersih seperti ini. Gak usah ramai-ramai deh, yang ramai biar di Indrayanti aja :P. Tapi habis kemarin foto pantai ini dishare sama admin twitter @JogjaToday dan banyak yang retweet, kayanya pantai ini bakal makin ramai nih.. Yang penting tetap jaga ketenangan dan kebersihan yaa…

Salam #pokokepiknik \^_^/

Lihatlah dari sisi yang lain… (1)

Tentang meletusnya Gunung Kelud dan hujan abu yang turun di sejumlah daerah di Jawa menyisakan banyak kisah. Malam itu (13 Februari 2014) salah seorang teman menulis status di FB kalau mendengar suara gemuruh lalu menduga-duga apakah Gunung Kelud sumber suaranya. Saya yang sudah tiduran di kamar bergegas keluar dan menyalakan TV. Reporter TV menyiarkan meletusnya Gunung Kelud dengan latar belakang kilatan-kilatan ngeri di langit hitam. Group di WhatsApp pun mulai ramai. Malam itu kengerian yang pernah kurasakan saat meletusnya Gunung Merapi kembali terasa.

Esok paginya, saat bangun tidur sekitar pukul 5, rasanya ingin segera keluar rumah. Dan saya begitu syok mendapati halaman rumah sudah berwarna putih, meski masih ada sisa tanah yang bersih dari abu di bawah teras. Saya membangunkan ponakan dan menyalakan TV. Pagi itu grup WhatsApp sudah ramai sejak subuh. Saya tak juga beranjak dari kasur di depan TV, menyimak berita di TV dan obrolan di WhatsApp. Hari masih gelap, padahal ketika kulihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Menjelang pukul 7, langit menjadi merah. Merah seluruhnya. Jujur saja, saat itu saya justru takjub, ya Tuhan indahnyaa… Pukul 8 langit mulai tampak seperti pukul 5:30 biasanya. Hujan abu masih deras. Saya masih belum memutuskan untuk berangkat kantor karna derasnya hujan. Manajemen segera rapat darurat dan tak berapa lama memutuskan meliburkan kantor karna hujan abu yang cukup deras. Ya, memang pagi itu sangat deras. Saya keluar dengan payung transparan, dan hanya beberapa detik payung saya sudah semacam di foto ini.

Hari itu saya memutuskan diam di rumah tanpa keluar-keluar. Kemarin habis belanja barang kebutuhan, termasuk makanan2 instant. Tapi namanya ‘harus’ terkena bencana, ternyata kompor di dapur error gasnya (ngesess..) plus air galon pun habis. Jadi sama saja tidak bisa bikin ind*mie rebus atau semacamnya untuk isi perut. Bersyukur sekitar pukul 10 pacarnya ponakan datang bawa air mineral 1,5 liter dan makanan kecil. Lumayan lah untuk sarapan. Sekitar pukul 11, saya mendengar suara Bapak kontrakan membersihkan halaman. Wah, sebelum halaman kontrakan ikut dibersihkan Bapak, lebih baik segera menyingsingkan lengan baju, dan membersihkan halaman. Apa kata dunia kalau sampai Bapak yang membersihkan halaman kontrakan. Jadi siang itu saya dan Bapak, berdua membersihkan halaman, Bapak membersihkan halaman kost2an, saya membersihkan halaman kontrakan. Hasil pengumpulan abu diserahkan pada Bapak untuk disingkirkan 😀

Selesai bebersih halaman, ada teman datang membawakan makan siang. Karna dipikir cuma dekat, teman saya ini tidak memakai mantel untuk menutup badannya. Hasilnya, sampai kontrakan saya, baju, celana, dan semuanya penuh dengan abu. Aduh Man..Man.. Tapi terima kasih banyak bantuan logistiknya ya.

Hari itu memang kami diam di dalam rumah, ‘menikmati’ hujan abu yang cukup tebal. Tapi masih ada banyak hal yang bisa disyukuri dari kejadian hujan abu itu. Bersyukur masih bisa dibersihkan, bersyukur masih ada persediaan ataupun bantuan makanan, bersyukur ketika melihat berita di TV, tidak banyak korban dan para pengungsi pun aman.

Alam menyeimbangkan dirinya. Gunung meletus, insya Allah, akan mendatangkan kebaikan nantinya. Keseimbangan alam, kesuburan tanah, pun kebersamaan warga. Berdoa semoga para korban nyawa maupun harta benda boleh diberi keikhlasan dan kekuatan untuk menerima ‘anugerah’ dari Tuhan ini dan kita semua juga boleh belajar dari setiap kejadian di muka bumi ini… Aamiin..

.

*iyee…ini emang postingan telaaaaat banget.. biarin ah, buat catatan pribadi ^_^

Jatuh cinta…

Entah bagaimana memaparkannya dengan kata-kata, tetapi ketika aku melihatnya ada rasa yang begitu absurd merasuk ke dalam dada. Ah…aku jatuh cinta dengan birunya, dengan gundukan tertutup abu vulkanik yang mengeras, dan akhirnya keduanya memadu sempura dalam frame seluas layar telepon selulerku.

20131013-214826.jpg

Bagaimana mungkin aku melewatkan pemandangan indah ini tanpa mengabadikannya dengan aku di dalamnya. Maka kuteriakkan: “Ataaaa….fotoiiiiinnn!! Pokoknya latarnya ky gini yaaa…” Dan Ata Septarius pun mengintip dari balik view finder-nya untuk memotret si gadis yang narsisnya maksimal ini. (Ataaa…fotoku yg itu manaaa???!!!)

Tak berapa lama ada segerombolan muda-mudi yang berjajar di atas lalu berpose. Aku pun ikut memotret dari belakang. Mereka berharap foto berlatar gunung Merapi, aku mendapat foto berlatar langit biru yang memesona.

20131013-215814.jpg

Segera kutunjukkan pada Ata: “Ataaa…bagus yaa…?!” Dan jawabnya tidak sesuai harapan: “Titik kalau motret jangan center-center, biar enak dilihat.” Sambil manyun aku membidik lagi, dan kali ini tidak kukasih liat pada Ata chan.

20131013-220258.jpg

Tapi memang lebih bagus dari foto yang kedua ya. Lihat foto di gallery klik edit klik gambar tongkat ajaib (auto-enhance). Terlihat bedanya dengan foto kedua yang tidak disunting kan? Beberapa waktu lalu pengen kuunggah di instagram. Supaya bisa terlihat utuh, tidak square seperti template instagram, kumasukkan dulu dalam FrameMagic.

20131013-221034.jpg

Pencinta langit ini masih saja jatuh cinta pada langit, setiap hari, setiap waktu. Begitulah cinta, setiap hari jatuh pada orang/sesuatu yang sama.

**foto-foto koleksi pribadi, diambil menggunakan kamera iPhone, diedit dengan fasilitas editing di iPhone (non aplikasi), ditambahkan frame dengan aplikasi FrameMagic. Lokasi: tepi sungai Gendhol di lereng gunung Merapi.

Ini asli fotoku lho, Om….. (semacam laporan ke Om Nh :D)**

Bandung 2: Tangkuban Perahu

Kalau menyebut nama Bandung, apa saja yang terlintas di pikiran kita? Ada yang terlintasi sebuah gunung dengan legendanya yaitu Gunung Tangkuban Perahu? Pasti ada ya. Dan bulan lalu, sebelum trip nekad ke Temanggung itu, saya berkesempatan ke Bandung dan berkunjung ke Tangkuban Perahu. Puji Tuhan banget… Lalu kenapa judulnya Bandung 2? Karena ini adalah kali kedua saya ke Bandung. Yang pertama setahun yang lalu untuk acara yang sama, sempat menyusuri kota Bandung bareng Teh Nchie dan kopdar dengan blogger Bandung yang kompak banget itu. Yang belum baca sila mampir ke sini. Sayangnya untuk kali kedua ini, saya tidak berkesempatan kopdar dengan blogger Bandung. Jadwal padat (gayanya).

Saya berada di Bandung selama 3 hari dari Kamis s.d. Sabtu. Hari pertama kegiatan selesai sampai sore. Malamnya sudah ada acara dinner dengan tim dari sekolah yang menjadi salah satu tempat kegiatan. Hari kedua, acara berakhir siang sebelum sholat Jumat. Setelah jam ishoma, kami diajak oleh pihak sekolah untuk jalan-jalan. Tadinya mau ke Pasar Baru, tetapi setelah pembicaraan waktu makan siang, akhirnya tujuan berpindah ke Gunung Tangkuban Perahu. O iya, kenapa saya sebut “kami”? Karena saya di Bandung dalam rangka ‘menemani’ Sensei-Sensei saya dari Jepang yang jadi pembicara seminar dan workshop selama 3 hari itu. Beruntung ya saya? :). Jadi setelah ishoma itu, dengan bus sekolah yang kutunggu kutunggu  kami menuju Tangkuban Perahu, lewat Lembang, lewat sekolah yang kemarin dikunjungi salah dua Sensei, dan ketika melihat plang arah ke Parongpong, segera teringat pada Ibu Dey 🙂 . Pemandangan indah di kanan/kiri, hingga sampailah kami di tempat pemberhentian bus. Dari pemberhentian bus, kami naik angkot khusus untuk mendaki gunung. Bayarnya 5000/orang pp (kalau tidak salah ingat). Dan sampailah kami ke puncak Gunung Tangkuban Perahu. Wah, senangnya. Ini sebagian foto yang saya ambil di sana. Berkah Tuhan waktu itu cuaca cerah dan langitnya biruuuuu banget.

landscape di sebelah kanan

landscape di sebelah kanan

kawah Gn. Tangkuban Perahu

kawah Gn. Tangkuban Perahu

kuda-kuda sedang 'parkir' menunggu penunggang..

kuda-kuda sedang ‘parkir’ menunggu penunggang..

para Sensei sedang menikmati kawah Gn. Tangkuban Perahu

para Sensei sedang menikmati kawah Gn. Tangkuban Perahu

jatuh cinta dengan langit, apa saja jadi indah di fotonya... :)

jatuh cinta dengan langit, apa saja jadi indah di fotonya… 🙂

cantik ya...perpaduan tebing kapur dan langit birunya... Sukaaa banget...

cantik ya…perpaduan tebing kapur dan langit birunya… Sukaaa banget…

bukti otentik saya pernah ke Tangkuban Perahu :D

bukti otentik saya pernah ke Tangkuban Perahu 😀

dagangan di pinggir jalan

dagangan di pinggir jalan

Cantik ya.. Saya suka pemandangannya, penataannya, aktivitas di atas. Pengunjung bisa berkeliling Tangkuban Perahu dengan kuda. Sebenarnya ada 10 kawah di Gn. Tangkuban Perahu, tetapi baru satu kawah yang kami kunjungi dan berfoto-foto, sudah ada pengumuman untuk segera turun. Kami kesorean memang. Pas turun sudah pukul 17, meski langit masih cerah.

Bicara Tangkuban Perahu pasti tak lepas dari legenda yang menyertainya. Dayang Sumbi, Sangkuriang, dan si Tumang. Btw, ada yang ingat legenda terbentuknya gunung Tangkuban Perahu? Yang ingat tunjuk jariii…. ^_^

Ternyata legenda Sangkuriang tidak hanya tentang terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu lho, tetapi juga Bukit Tanggul, Gunung Burangrang, dan danau Bandung. Lengkapnya sila baca di wikipedia :).

OK, ini adalah salah satu tulisan dari perjalan(-jalan)an saya. Besok dilanjutin perjalanan berikutnya ya. Setelah Bandung ini sebenarnya Temanggung itu, tapi malah udah ditulis duluan, ngejar kontes nekad itu soalnya :P. Hi Bandung, dua kali saya mengunjungimu, dua kali saya terpesona padamu…

…dan saat tulisan ini terbit, saya mungkin sedang berada di atas awan.
Hallo Bandung, saya datang lagi, untuk yang ketiga kali…  :*

pelabuhan hati

Kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu pelabuhan tenang
yang mau menerima kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada satu pelabuhan kecil,
yang kemudian harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu,
dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

(Pelabuhan karya Tyas Tatanka)

 

yang nge-repost,

yustha tt