Kembaran Ibu

Saat diumumkan kalau hari Senin, 31 Agustus 2015 harus mengenakan pakaian Jawa Jogja, saya kebingungan karna belum punya. Pas ulang tahun Jogja bulan Maret lalu, saya pas dinas luar, jadi tidak ikut mengenakan baju tradisional Jawa. Karna diumumkan hari Jumat, dan hari Sabtu (seperti biasa) saya mudik, akhirnya saya kontak ponakan di rumah supaya nyariin baju mbah Uti (baju Ibuk) yang model tangkepan. Hasil seraching-nya menunjukkan kebaya-kebaya yang dipunyai Ibuk kebanyakan kebaya kutu baru. Hikssss…..bagaimana inih??

Akhirnya pas saya sampai rumah ubek2 lagi dan nemu satu kebaya warna PINK yang modelnya tangkepan! Puji Tuhan….. Minggu sore balik Jogja, jahit bagian yang sobek (karna udah lama ya jadi ada luka-luka dikit), kemudian dicuci. Besok paginya siap dikenakan untuk mangayubagya hari Keistimewaan Yogyakarta. Pas sampai pada tatanan rambut, upsss…..ini rambut seuprit mau digimanain ini??? Untung masih punya sisa hairspray pas ke Malay dulu, jadi tanpa latihan langsung sasak rambut pakai sisir biasa, semprot hairspray dan bawa rambut ke belakang. Jepit rambut seuprit di belakang dengan jepitan berpita. Taraaa….dari depan mirip sanggulan. Dari belakang mah, kuciran 😆 . Dan sebelum masa aktif hairspray habis, foto dulu donk 😀

mom duplicate

sebelum berangkat kantor

di meja kantor

di meja kantor…tak lupa Boci menemani 😀

IMG_0035

bersama teman-teman kantor…. hairspray sudah mulai kehilangan masa aktifnya (rambutnya dah mulai mbelah 😀 )

Trus, pas ponakan liat foto-foto saya, dia bilang: “mbak Tanti mirip mbah Utiiiii”!!

O yes, i am your duplicate, Mom ❤

Perjalanan 2014

2015

Selamat tahun baruuu….. Ish, terlambat banget ya. Haha… Gak papa deh, mumpung Januarinya belum habis, masih bisa ngucapin selamat tahun baru buat teman-teman semua :mrgreen: .

Jika menilik setahun ke belakang, sepertinya waktu berlalu dengan sangat cepat, tiba-tiba sudah tiba lagi tahun yang baru. Banyak hal dialami, tetapi yang paling tampak adalah tahun 2014 saya dipenuhi dengan perjalanan. Meskipun tentu saja tidak hanya itu. Ada syukur yang teramat sangat, seperti pada bulan Februari saat keluarga kami merayakan ulang tahun Bapak yang ke-80. Ada duka mendalam saat kehilangan sahabat, saudara, keluarga, si M yang adalah Simon, yang saya ceritakan di sini, pada bulan November lalu. Ada banyak cerita yang tak sempat kubagikan pada dunia. Baiklah, mari kita rangkum saja perjalanan 2014 menjadi satu postingan di blog yang sudah berdebu dengan jaring laba-laba belang di tembok keraton putih temboknya. Sepertinya ini bakal jadi postingan yang panjang… Skip-skip aja kalau lagi sibuk yaa… 🙂

Januari

Awal tahun 2014, saya melakukan perjalanan ke pulau Sumatera tepatnya ke Sumatera Barat. Perjalanan ini adalah dalam rangka ‘kopdangan’, kopdar sekaligus kondangan ke tempat Bundo LJ. Ini adalah pertama kalinya saya bertemu Bundo. Ini juga pertemuan pertama saya dengan  teman perjalanan yang luar biasa: Putri, Bunda Lily, Bunda Monda. Tak afdol rasanya sudah sampai bumi Minang tapi tidak jalan-jalan. Kami sempat berkunjung ke lembah Harau, tarusan Kamang, rumah puisi Taufik Ismail, Panorama, Taruko, Rumah Bung Hatta, Istana Pagaruyuang, dan banyak lagi. Menyenangkan pakai banget deh pokoknya… Pengen jalan-jalan bareng lagi. Kapan ya?!

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Februari

Bulan Februari adalah bulan bahagia bagi keluarga saya. Yes! Bulan ini Bapak kami berulang tahun pada tanggal 4, dan tahun 2014 kemarin adalah ulang tahunnya yang ke-80. Puji Tuhan, bersyukur atas anugerah kesehatan dan usia bagi Bapak. Kami mengadakan persekutuan doa bersama mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan buat Bapak dan keluarga kami.

Di bulan Februari 2014 juga terjadi erupsi Gunung Kelud pada tanggal 13 dan tepat pada hari Valentine dini hari abu vulkaniknya sampai di Jogja dan menjadikan seluruh Jogja kelabu. Tetapi sejak beberapa hari sebelumnya, saya sudah berniat nonton konser KLa Project pas tanggal 14 itu. Jadilah nonton konser dalam kedukaan. Tapi untungnya konsernya diubah jadi konser amal, jadi lebih nyaman nontonnya 😀

Karna abu vulkanik itu, kawan saya, Simon, yang punya tambak udang memanen udangnya, kebetulan sudah hampir tiba waktu panen dan takut kenapa-kenapa kalau tersiram abu segitu banyak. Diundanglah kami teman-temannya untuk ikut di panenan. Kami pun datang seperti kuceritakan di sini. Pulangnya kami dibawain satu plastik udang per orang. Bukan hanya itu, beberapa hari kemudian kami diundang lagi untuk syukuran panenannya. Ah, Simon…. How i miss you, Mon… 😦

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Maret

Bulan Maret, sebelum tugas kantor bertumpuk-tumpuk, saya dan teman-teman kantor mengambil waktu untuk jalan-jalan. Gak jauh-jauh yang penting happy.. Kami jalan-jalan ke Gunung Api Purba Nglanggeran dan Pantai Sadranan dan Kukup di Gunung Kidul. Tentang pantai Sadranan sudah saya ceritakan di sini, tapi bolehlah saya kasih beberapa fotonya lagi di sini, ditambah foto di Nglanggeran yang belum saya bagi di blog. Hadeh…modus pamer bingit ya.. 😀

Oiya, bulan ini saya berkesempatan kopdar dengan penulis buku Niskala, mas Daniel Mahendra, sekaligus kopdar dengan blogger senior seperti Bunda Tuti Nonka dan Uda Vizon.

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

April

April…mmm….ini bulan Pemilu kan yaa… Pemilu legislatif. Selain itu, ini juga bulan reuni. Saya reunian dengan teman-teman SMA yang tinggal di Jogja di kontrakan saya. Saya juga kedatangan sahabat baik waktu kuliah yang berasal dari Bali. Ini juga bulan yang happy 😀

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Mei

Bulan Mei tahun lalu saya dapat kesempatan mengikuti training di Penang, Malaysia. Hampir sebulan saya di sana. Bertemu dengan teman-teman dari negara lain memang selalu menyenangkan. Menambah wawasan dan pengalaman, berbagi dan berdiskusi. Bersyukur mendapat kesempatan itu. Nah, selain belajar tentu saja ada sesi jalan-jalan. Haha…. Saya berkesempatan mengunjungi George Town dan Bukit Bendera di Penang, lalu Twin Tower, Putrajaya, dan Batu Cave di Kuala Lumpur. Bersyukur, bersyukur, bersyukur…

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Juni

Bulan Juni kantor kami ‘bandung bondowoso’ melaksanakan pelatihan Kurikulum 2013 bagi Guru Sasaran yang akan melaksanakan kurikulum 2013. Bulan ini saya tidak mengenal hari Sabtu-Minggu. Everyday is a working day, dengan perjalanan ke sana kemari. InsyAllah kami ikhlas, meskipun sekarang kurikulum 2013 dihentikan sementara implementasinya. Yup, memang masih banyak kekurangan di sana sini pada tataran implementasi, tetapi secara konseptual K13 bagus kok, tidak berubah 180 derajat dari kurikulum sebelumnya tetapi hanya melengkapi. Ups! Kok jadi bahas kurikulum. Hihi… Back to postingan jalan2 aja ya :mrgreen:. Nah, di bulan Juni ini, keluarga kami juga mantu ponakan. Padahal saya masih ribet dengan kurikulum. Akhirnya pas tanggal itu saya minta lokasi pelatihan yang di Purworejo biar bisa izin sehari untuk datang ke nikahan ponakan. Puji Tuhan, akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga di hari pernikahan ponakan 🙂

This slideshow requires JavaScript.

-o0o-

Ternyata udah panjang dan lebar ya, padahal baru 6 bulan ni ceritanya… Hmm… Mau dilanjutin sampai Desember atau dipotong sampai sini dulu ya?? Ah, berhubung tahun 2014 blog ini cuma berisi 19 postingan, jadi dipotong jadi 2 aja deh, biar dapat 2 postingan. Hihi…. Jadi, demikian dulu cerita tentang perjalanan saya di tahun 2014 ya, teman-teman. Ini buat arsip pribadi saya aja sih. Terima kasih buat yang masih sudi mampir dan berkenan baca ^_^ .

Salam hangat dan jangan lupa bahagia 🙂

Long Weekend kemarin

Hallo… Apa kabar temans? Gimana libur panjangnya? O iya, sebelumnya mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Adha, selamat menghayati ketaatan Ibrahim yang rela mengorbankan anak yang dicintainya sebagai bukti kecintaannya pada Yang Kuasa.

Long weekend saya kemarin diisi dengan jagong manten, jalan-jalan dengan Krishna-Ganesh, main ke tempat kakak, dan kehabisan tiket kereta Prameks. Haha…. Ceritanya Krishna belum pernah naik kereta api, padahal hobinya main kereta api dan nonton video kereta api. Sejak dari keciiil dulu udah hobby sama kereta api. Dan waktu saya di Jepang kemarin dia sering bilang: besok kalau mb Tanti udah pulang, mz Krishna mau naik kereta api. Mumpung ada libur panjang, saya sempatin ngajak dia ke Jogja naik kereta api. OK, karna liburnya 4 hari, mari kita ceritakan satu per satu.

Hari Sabtu saya mudik sore dengan kereta api Prameks. Motor saya titip di stasiun. Sampai rumah nonton sepakbola U-19 yang hasilnya membanggakan ituh. Bapak masih heboh lho kalo nonton bola, masih teriak-teriak kaya anak muda, hihi…. Hari Minggunya, saya jagong manten ke Kebumen, bareng2 teman kuliah yang hasilnya semacam mini reunion gitu deh…

20131016-164922.jpg

20131016-165248.jpg

Hari Seninnya, saya, Krishna, Ganesh, dan mamanya Krishna-Ganesh ke Jogja naik kereta api Prameks. Wah, Krishna heboh deh naik kereta. Tiketnya mau dipegangnya terus, pokoknya harus dia yang ngasihkan ke kondekturnya. Karna gak dapat tempat duduk, akhirnya kami ndeprok di lantai kereta. Tapi Krishna gak mau duduk donk, dia berdiri dan mengamati sekitar. Hmm…sip..sip!! Kalau Ganesh sih anteng di pangkuan saya. Tengak tengok juga tapi gak banyak suara. Sampai Jogja, saya ambil motor di penitipan dan kita jalan-jalan deh. Pertama ke Taman Pintar yang letaknya di depan Bank Indonesia, atau dari Malioboro belok kiri. Krishna lagi tertarik dengan planet dan bintang, makanya kuajak masuk planetarium untuk lihat video tentang planet dan bintang-bintang. Setelah keluar, langsung cerita ke mamanya: tadi ada planet yang ada cincinnya tapi bukan Saturnus lho Mah, terus ada yang tabrakan (lalu nengok ke saya) itu apa mbak Tanti? Hehe…jadi menjelaskan dengan bahasa anak-anak: itu debu-debu di luar angkasa, waktu mau jadi planet. Nangkep gak ya dia? Hoho…

20131016-171358.jpg

20131016-170629.jpg

Selesai di Taman Pintar, kita makan siang dulu di food court-nya Taman Pintar, sambil istirahat. Lalu melanjutkan jalan-jalan ke kebun binatang Gembira Loka. Masih satu jalur dengan Taman Pintar tadi. Luruuuus aja ke timur, sampai deh di bonbin. Setelah membeli tiket masuk, kami menerima tiket dan peta. Krishna pegang itu peta, dan sebelumnya sempat nanya: mah, mz krishna pegang petanya kebalik gak? Hihi…lalu dia sadar sendiri kalo sudah benar karna gambar hewan-hewannya tidak terbalik. Beberapa hewan yang dia sudah tahu sudah tidak ditanyakan lagi, tapi beberapa yang lain dia tanyakan. Waktu sampai pada gambar kancil, Krishna semangat sekali mau lihat kancil. Itu kan yang mamah cerita kan mah? Hehe… Jadi berjalanlah kita mengelilingi Gembira Loka sambil mengenalkan anak-anak dengan binatang-binatang yang biasanya hanya dilihat di buku dan poster. O iya, karna Krishna sedang belajar membaca, beberapa nama hewan dia berusaha membaca sendiri dari papan nama yang ada di depan kandang. Good job, boy!!

20131016-172535.jpg

20131016-172611.jpg

20131016-172630.jpg

20131016-172639.jpg

20131016-172736.jpg

Kebun binatang Gembira Loka sekarang lebih bersih ya? Ada Taring (transportasi keliling) yang berupa kereta kelinci mengelilingi kebun binatang. Ada juga kapal-kapal boat sebagai wahana air. Saya sengaja memilih jalan, tidak naik Taring, supaya lebih leluasa melihat binatang-binatang di kandang. Sepertinya anak-anak juga menikmati, tidak mengeluh capek. Syukurlah..

Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 16:30. Wah, harus cepat-cepat ke stasiun nih karena kereta kembali ke Purworejo ada lagi pukul 17:35. Kita pun bergegas menuju stasiun, membeli tiket dan pulang menaiki Prameks lagi. Puji Tuhan kali ini Krishna dapat tempat duduk. Yang lainnya ya teteup, ndeprok di lantai 😀

Sampailah kita pada hari terakhir libur panjang, yaitu Selasa, pas perayaan Idul Adha. Pagi-pagi bangun lalu masak soto ayam, lalu sarapan. Mungkin karna capek jalan-jalan kemarin, hari itu saya tidur siang. Bangun sudah sekitar pukul 14:00. Kakak pertama datang dan mengajak saya ke rumah kakak ketiga. OK, sekalian kita ke stasiun ya. Rumah kakak ketiga cukup dekat dengan stasiun Kutoarjo. Sampai rumah kakak ketiga, ngobrol sana sini, dan akhirnya sampai waktu kembali ke Jogja. Jadwal kereta adalah pukul 19:00. Pukul 18:30 kami sudah sampai stasiun. Masih 30 menit lagi, masih agak longgar lah waktunya, begitu pikir saya. Ternyata oh ternyata, antrian tiket mengular dan loket sudah ditutuuuup!! Aaaak….saya kehabisan tiket!! Huhuhu…. Dengan sedih hati saya kejar kakak yang untungnya belum melaju dan ikut ke Purworejo lagi. Pulang lagi deh… Hiks…

Akhirnya, pagi tadi berangkat ke Jogja naik bis yang juga penuh sesak. Berdiri dari Purworejo sampai Jogja. Lumayaaaan. Sampai kantor sudah terlambat. Tapi sejak semalam saya kehabisan tiket kereta, saya langsung SMS bagian kepegawaian kalau besok hari saya mungkin sedikit terlambat. Jadi kalau saya datang terlambat setidaknya sudah minta izin. Hehe…

Begitulah long weekend saya kemarin, yang diceritakan dengan long juga ternyata 😀

Oh iya, long weekend kemarin saya dapat hiburan lucuuuu banget dari seseorang. Hihi… Terima kasih ya, kamu. Sungguh menghibur! God bless you :*

See you Japan, hello home… :)

Hai…nglanjutin cerita lagi yaa… Hihihi, gak selesai2 ni ceritanya 😛 , cerita kepulangan yang diiringi fajar pagi itu, hingga tiba di bandara dengan bagasi yang pastinya overweight :mrgreen: . Seperti saya bilang kemarin, kami bertiga membawa 2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, 3 box boneka hinaninggyo, 1 ransel, 1 tas kamera, 1 tas selempang, 2 tas tangan. Waktu di counter check in, saya hanya memasukkan koper besar, tas besar, dan box boneka. Tapi ternyata petugas meminta memasukkan 2 koper kecil juga ke bagasi karna barang yang dibawa di kabin sudah terlalu banyak. Hmm…baiklah.. Menurut tiket kami masing-masing, saya hanya dapat jatah 20kg, Bapak dan Kakak masing-masing 30kg, jadi total kami bertiga 80kg.  Tapi Garuda memberi kebijakan untuk penerbangan internasional kelas ekonomi mendapat bagasi 30kg. Jadi kami bertiga dapat jatah 90kg. Nah, setelah ditimbang, ternyata total bagasi kami 120kg. Ya sudah bisa diduga bakal kelebihan sih, apalagi dua koper kecil yang tadinya mau dibawa di kabin ternyata diminta dimasukkan bagasi, ya sudah lah… Saya diminta membayar 2.500 yen/kg overweight kalau gak salah. Tapi saya minta keringanan dulu. Berdasar saran dari kawan yang sudah bolak-balik sekolah di LN (cepet lulus ya bro 😛 ), saya musti bilang ke petugas kalau saya pelajar yang sudah menyelesaikan study, kepulangan saya ini istilahnya back for goodpulang untuk menetap di tempat tujuan tidak kembali lagi dalam waktu dekat. Saya pun menjelaskan pada petugas seperti saran kawan saya tsb. Tapi mbaknya tetap meminta saya membayar karna saya sudah didiskon 10 kg lho dari jatah 20kg menjadi 30kg. Mmm…karna saya masih ngeyel, akhirnya ada petugas lain, kali ini seorang pria, sepertinya memiliki jabatan yang lumayan, mendatangi counter kami dan bertanya masalah kami. Mbaknya menjelaskan duduk perkara kepada pria tersebut dalam bahasa Jepang. Masnya mendatangi saya dan menawarkan discount untuk membayar kelebihan bagasi saya. Saya lalu mengulangi lagi penjelasan saya ke mbak petugas tadi kepada mas pria ini. Dengan jurus onegaishimasu tolong dibantu, mas tadi paham kalau saya pelajar. Dia bertanya: berarti anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)?  Dengan tegas menjawab: Iya, ini beli tiket pesawatnya pun lewat Garuda PPI Kansai lho…bla..bla..bla..sebutin deh nama-nama pejabat di PPI Kansai *modus*. Mas pria pun tersenyum ramah seakan bertemu kawan satu group dan menginstruksikan mbak petugas untuk memasukkan semua bagasi saya berapapun kelebihan beratnya. Hah…puji Tuhan… Terima kasih mas pria yang tidak saya tahu namanya. Setelah urusan check in beres, mas pria tadi masih mengajak saya ngobrol, menanyakan tempat kuliah saya, dan mengucapkan selamat juga atas kelulusan saya. Sebelum saya berlalu, sempat menyalami saya, bapak, dan mbak sambil mengucapkan selamat jalan.

Sambil menunggu saat boarding, kami sarapan dulu. Berhubung sudah sampai Jepang dan belum makan udon, baiklah mari kita makan udon. (Nyari-nyari foto2 saat2 ini kok gak nemu ya? Ee..di manakah?).

OK, akhirnya waktu boarding tiba. Yuk masuk….

Saya dan Bapak-kakak ternyata terpisah lumayan jauh duduknya. Tapi tak apalah, berdoa semoga perjalanan lancar.

Kami transit di Ngurah Rai Denpasar kemudian berpisah di sini. Bapak-kakak melanjutkan penerbangan ke Jogja, sedangkan saya ke Jakarta. Kok ke Jakarta sih? Lah dapatnya tiket ke sana, nawar ke Jogja gak boleh. Ya sudah lah. Oche, dari Ngurah Rai, pesawat saya berangkat satu jam lebih awal dari pesawat kakak dan Bapak. Setelah berpamitan, saya pun menaiki bus menuju pesawat. Pesawat terbang dan beberapa saat kemudian sampai pula di Soeta. Saya sempat bertemu temannya teman untuk menyampaikan titipan, lalu menunggu kakak saya yang katanya mau datang menjemput lalu mengantar saya ke hotel. Sebenernya bisa saja saya tidur di rumah kakak di Bekasi sana, tapi kasihan besok pagi-pagi harus ngantar lagi ke bandara. Jadi sudahlah saya nginap di hotel murah dekat bandara saja. Tring..tring..sudah hampir putus asa karna kakak tak kunjung datang, saya pun menelepon hotel untuk menjemput. Eee…belum selesai telepon, kakak dan keluarga muncul. Bukannya disambut pelukan rindu setelah sekian lama gak ketemu, saya malah ngomel: iiiih….lama banget, disms gak balas, ditelpon gak bisa!! Hahaha…payah nih adik bungsu 😛 Menyadari respon yang gak OK, buru-buru saya cium tangan mereka dan ponakan2 cium tangan saya. Hihihi…. Kami pun menuju hotel.

Besok harinya, saya terbang ke Jogja. Kali ini pakai si singa. Sampai Jogja, sengaja gak minta jemput karna yang jemput pasti masih capek habis jemput Bapak-kakak semalam. Berasa cuma dari situ aja, iya kan, cuma dari Jakarta, cuma bawa satu koper besar dan tas ransel, saya sudah ‘dijemput’ banyak sopir taksi. Haha… Akhirnya saya pilih yang paling gigih & tentu saja yang murah :mrgreen:. Jadi, saya pulang ke Purworejo naik taksi avanza, sendirian. Ndak sampai 2 jam, sudah sampailah saya di kampung halaman. Haaa…..welcome home, Titik ^_^.  Tapi e tapi….ini rumah kok sepi?! Rumah Bapak malah kuncian, dan di rumah kakak cuma ada dik Ganesh dan yang momong. Wkwkwk…. Ternyata, Bapak baru ke sawah coba!! Hadeh…baru juga semalam tiba dari Jepang, paginya sudah ke sawah. Ndak capek po ya Bapak tu.. Nengoki aja sih, tapi mbok ya istirahat dulu to Pak… Habis ngglethak sebentar di rumah kk5, terdengar motor datang..haa…kk5 dan Krishna datang.. Krishna salting ketemu mb Tanti. Hihihi….. Ndak berapa lama Bapak pun pulang…. Ah….kembali di rumah lagi dan kali ini untuk waktu yang lamaaaa… Puji Tuhan..

Terima kasih Tuhan untuk segala hal yang telah Engkau limpahkan buat kami. Terima kasih untuk kesempatan mencari ilmu di Jepang. Terima kasih juga untuk kesehatan bagi Bapak selama saya berada di Jepang, pun selama lima hari Bapak berada di Jepang. Semua karna anugerahMu, Tuhan.. Hamba senantiasa mohon tuntunan dan pimpinanmu untuk kehidupan hamba selanjutnya di tanah air. Semoga senantiasa Engkau berkati dan menjadi saluran berkatMu bagi sesama. Amin..

Here i am…

home

Bapak & kk5 sedang melihat2 foto perjalanan Bapak ke Jepang

Rumahku Istanaku…

Sudah hari terakhir Uni Evi mengadakan giveaway pertamanya dan saya belum menulis review or komen dari salah satu postingannya. Maafkan Uni. Artikel-artikel Uni semuanya menarik, tapi ketika sampai pada artikel tentang rumah dan kemiskinan, memori saya jadi kembali ke masa kanak-kanak hingga dewasa seperti sekarang. Saya mengalami tahapan-tahapan ‘rumah’ berdasar tingkat kesejahteraan keluarga. Rumah seperti yang dipasang di postingan Uni (saya kopi di sini ya Uni) pun pernah saya tinggali. Bedanya atap rumah saya sudah genteng.

rumah ga evi

Melihat tumpukan sabut kelapa dan blarak (daun kelapa kering), sungguh persis dengan kondisi saya masa kecil. Plus ayam yang masuk rumah. Haha… Dulu Ibu rajin pelihara ayam, katanya kalau mau lauk ayam tinggal potong ayam sendiri, mana kuat waktu itu beli daging ayam di pasar :D. Plus, kalau butuh uang, ayamnya bisa dijual. Yang saya tidak suka dengan pelihara ayam adalah kotorannya. Apalagi kalau ayam masuk rumah dan ‘bertelur’ di dalam rumah, haduh… Nah kalau blarak dan sabut kelapa itu untuk bahan bakar karna dulu kami masih memasak menggunakan kayu. Jika terdengar suara daun kelapa kering yang jatuh di belakang rumah, saya dan kakak segera berlari lalu menyeretnya ke rumah. Biasanya Bapak atau Ibu yang nglekreki/memisahkan daun kelapa dari pelepahnya. Lalu saya yang akan mengumpulkan lalu mengikatnya dengan tali yang diambil dari pelepah daun kelapa. Kami punya lumbung tempat menyimpan padi dan di atasnya ada tempat untuk menyimpan blarak. Kadang-kadang Titik kecil suka naik ke atas dan sembunyi di tumpukan blarak itu. Tidak heran kalau Titik kecil sering dihinggapi tengu maupun kamitetep di ketiak dan di bagian-bagian nylempit lainnya.

Nostalgia rumah berdinding bambu berlantai tanah belum selesai. Karna lantainya masih alami alias dari tanah, maka sapu yang digunakan pun sapu lidi. Baik untuk dalam rumah maupun halaman. Dan supaya tidak berdebu saat disapu (terutama untuk halaman), tanah diperciki air dulu. Maka setelah selesai menyapu, ujung sapu lidi pun menjadi bentol-bentol serupa korek api. Haha….

Sedikit demi sedikit keuangan keluarga semakin membaik seiring dengan berkurangnya anggota keluarga yang sekolah dan beralih status menjadi bekerja. Maka seperti yang disebutkan Uni Evi bahwa standar kemiskinan atau kesejahteraan keluarga bisa dilihat dari rumahnya, rumah kami pun meningkat sedikit menjadi setengah permanen. Separuh permanen, separuhnya lagi dengan bambu. Lantai pun meningkat menjadi plester. Sudah perlu sapu ijuk sekarang plus belajar mengepel lantai :D. Selain dari rumahnya, rupanya standar kemiskinan/kesejahteraan juga bisa dilihat dari cara memasaknya. Yang tadinya dengan tungku dan kayu, maka kami meningkat menggunakan kompor minyak dan tungku (Ibu paling sulit meninggalkan daden geni neng luweng, katanya eman-eman kayu dan blaraknya :D). Memiliki rumah dengan dinding bambu itu ada untungnya. Saya tidak perlu pigura untuk memajang foto. Cukup dengan ditusuk lidi dan diselipkan di antara lubang bambu :D.

Sekarang, puji Tuhan rumah kami sudah permanen penuh dan kami pun sudah memasak dengan kompor gas, meninggalkan kompor minyak maupun tungku. Tetapi kenangan-kenangan akan masa kecil dengan segala kekurangan dan keterbatasan menjadikan kami tak kurang bersyukur atas penyertaanNya bagi keluarga kami. Kita memang seringkali perlu bernostalgia mengenang masa lalu. Bukan untuk meratapi keadaan di masa lalu, tetapi justru untuk mensyukuri apa yang telah kita terima hingga saat ini. Dan kita pun akan tersenyum dan takjub atas luar biasanya berkat Tuhan untuk hidup kita.

Semoga keluarga-keluarga yang masih tinggal di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah tetap menjalani kehidupan dengan bahagia. Percayalah, Tuhan memberikan berkatNya untuk seluruh umat, termasuk Anda dan saya :). Dan semoga para pemimpin di atas sana lebih memperhatikan rakyatnya dan bukan kekuasannya semata :).

Selamat hari Rabu dan selamat menghayati anugerah penyertaanNya bagi hidup kita.

Salam,
Titik

Postingan ini diikutkan pada

BANNER-EVIINDRAWANTO1

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto

5 Hari di Jepang: hari ke-3 & ke-4

Lho kok dijadiin 1? Iya, soalnya hari ketiga itu kan baru pulang dari Kyoto, jadi anggaplah hari istirahat yaa, meskipun ada kegiatan juga malamnya. Jadi, kami tiba dari Kyoto hari Jumat malam. Bapak dan kakak langsung saya inapkan di penginapan sedangkan saya kembali ke asrama. Hari Sabtu pagi jadwal saya buang sampah-sampah besar (baju bekas, kertas bekas, elektronik bekas yang tidak bisa dilungsurkan) ke Recycle Center Naruto. Untuk membuang sampah memang agak ribet di Jepang ini. Saya punya lemari es kecil yang kebetulan dulu dapat lungsuran tapi kemudian rusak. Saya tidak tega mau nglungsurkan lagi ke teman lain, akhirnya saya pilih untuk membuangnya saja. Saya harus bayar sekitar 3500 yen. Hehe… Berhubung saya tidak mau ada masalah sebelum kepulangan ke Indonesia, jadi saya ikuti saja semua peraturan pembuangan sampah di sini. Saya membayar di kantor pos, kemudian saat membuang sampah, tanda terima pembayaran diserahkan kepada petugas di recycle center.

Sabtu pagi (hari ke-3, 16 Maret), setelah beberes, saya dijemput teman orang Jepang yang mau mengantar ke pembuangan sampah. Segala baju bekas, kertas bekas, dan sampah-sampah lain kami masukkan ke mobilnya, lalu kami melaju ke recycle center. Letak RC-nya di pojokan di daerah pegunungan. Sampai sana ternyataaa……TUTUP. Ah…ternyata Sabtu-Minggu tutup. Teman saya yang mengantar tadi juga tidak tahu kalau Sabtu tutup karna RC di tempatnya tetap buka di hari Sabtu tapi hanya setengah hari. Kami akhirnya kembali ke asrama dan menurun-nurunkan lagi sampah-sampah tadi. Saya tinggal punya hari Senin, 18 Maret untuk menyelesaikan segala urusan karena 19 Maret subuh saya sudah harus berangkat ke bandara lalu kembali ke Indonesia. Padahal 18 Maret adalah hari wisuda saya dan teman saya yang mengantar tadi. O’ow… Saya tadinya mikir pas hari  terakhir di Jepang ini sudah bebas segala urusan, tinggal wisuda, check out dari asrama lalu jalan-jalan cari oleh-oleh. Ternyataaaa….akan ada ceritanya nanti :D. Akhirnya teman saya yang baik hati itu mau membantu saya membuang sampah di hari wisuda itu, tapi sore hari. Saya janjian dengan petugas asrama untuk cek out jam 4. Jadi dia menawarkan untuk mengantar sendiri tanpa saya. Duh, orang Jepang ni kalau baik ya baik banget deh. Dengan sedikit tidak enak akhirnya saya setujui. Bagaimana lagi, jadwalnya mepet.

Nah, setelah acara buang sampah yang gagal itu, saya bersepeda menuju penginapan Bapak dan kakak. Ternyata mereka berdua sudah check out dari hotel. Gasik banget. Nanti malam rencananya mau menginap di rumah teman, jadi saya memang bilang sama pihak hotel kalau besok kami check out dan check in lagi hari minggu malam untuk menginap 2 hari, minggu dan senin. Saya pikir bisa check out nanti agak siang, ee…jam 10an saya sampai hotel, mereka udah di luar. Begitu liat saya langsung tertawa mereka: kita buta huruf deh, gak bisa ngomong, gak mudeng apa-apa. Hihi… Saya bicara dengan pihak hotel dan meninggalkan barang-barang kami di hotel karna besok bakal menginap di sini lagi. Setelah urusan dengan hotel beres, kami pergi ke asrama saya. Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan. Dari hotel ke asrama jalan kaki. Jauh bo’.. Eh mampir sarapan dulu ding. Bapak saya minta menaiki sepeda saya biar gak terlalu capek. Hihi..bersepeda di Jepang ya Pak 😀 . Berhubung asrama saya pulau tersendiri, jadi kami harus menaiki kapal boat untuk menyeberang. Sayang fotonya belum tersimpan di sini, masih di HP, nanti deh disusulkan.

Sudah hampir sampai di asrama, kami bertemu dengan bunga sakura yang sudah mekar. Ayo foto dulu, Pak… 🙂

bapak sakura

Setelah sampai asrama, Bapak dan kakak kaget: lho kok masih banyak yang belum diberesi??!! Wkwkwk….walhasil, hari itu saya dan kakak berjibaku menyelesaikan packing yang belum selesai. Bapak, istirahat saja ya Pak :D. Sudah agak sore, teman saya orang Indonesia menjemput ke asrama. Kami memang berencana menginap di rumahnya karna kebetulan ibu’nya juga datang dari Indonesia. Sampai di rumahnya, ternyata istrinya masak besar. Eh? Dan ternyata juga mengundang teman-teman Indonesia lainnya  untuk datang. Hwaa…gak kepikiran bakal ada acara, taunya cuma main doang :D. Teman saya itu juga habis lulus Ph.D, jadi sekalian syukuran katanya. Ooh…. Tiwas saya gak bawa apa-apa. Hari ke-3 ditutup dengan ngobrol bareng keluarga Indonesia di Tokushima.

Wah, ternyata baru cerita hari ke-3 sudah sepanjang ini. Gak jadi digabung kalau gitu.. Wkwkwk… Hari ke-4 di postingan selanjutnya saja deh, hihi… Puji Tuhan sampai hari ketiga Bapak masih sehat dan bugar. Agak sakit perut sedikit katanya, plus gak bisa ke belakang buang air besar jadinya Bapak takut makan. Kalau buang air kecil malah bolak-balik. Tapi secara keseluruhan masih bisa diatasi. Bersyukur juga ada banyak teman-teman yang membantu selama Bapak di Jepang. Termasuk yang membantu mengantar buang sampah, memberi penginapan hari itu, juga yang besok hari mengajak Bapak melihat pameran boneka di festival hinamatsuri. Apa itu hinamatsuri? Besok ya ceritanya…. 🙂 #gaya

Salam dari Jogja,
Titik

#Tambahan. Puji Tuhan, foto ini terpilih sebagai pemenang kontes Sehari menjadi Srikandi di blog Happy Photographs. Terima kasih komandan Blogcamp group dan dewan juri untuk kesempatannya. Sukses selalu. 🙂

Bapak sampai di Jepang

Setelah semua persiapan lancar, tanggal 13 Maret 2013, Bapak berangkat dari Adi Sucipto Jogja transit di Ngurah Rai Denpasar. Sesuai jadwal, Bapak akan tiba di Kansai airport di Osaka hari berikutnya, 14 Maret 2013 pukul 08:30 JST. Saya jemput di bandara. Saya berangkat dari Naruto dengan bus pukul 05:30. Puji Tuhan ada teman yang mengantar dari asrama sampai halte bus di pagi buta itu. Terima kasih ya.

Bus melaju dengan tenang. Saya tertidur karna semalam saya tidak tidur sama sekali. Di hari-hari akhir sebelum kepulangan memang saya sering tidak tidur. Beberes yang tak beres-beres dan entah apa lagi. Sampai lupa saya. Dan tiba-tiba bus sudah mendekati bandara. Lumayan juga, tidur sekitar 2 jam. Sampai di Kansai airport masih sekitar pukul 07:30. Wah, masih lama donk menunggu Bapak dan kakak. Akhirnya saya turun ke lantai 2, jalan-jalan nyari kombini untuk beliin pelembab bibir buat Bapak. Suhu memang sudah menghangat untuk kita yang di Jepang, sekitar 8 derajat saat itu. Tapi untuk Bapak, yang baru datang dari Indonesia, pasti dingin sekali. Dan biasanya bibir jadi kering dan pecah-pecah. Makanya perlu pelembab bibir. Pukul 8 saya turun ke lantai 1, pikir saya supaya saya sudah di tempat ketika Bapak dan kakak keluar. Setengah 9 lebih, belum keluar. Mungkin urusan imigrasi dan bagasinya lama, pikir saya. Malah kemudian saya bertemu dengan suami dan anak-anaknya kawan saya yang baru datang dari Indonesia. Wah, satu pesawat dengan Bapak donk, tanya saya. Iya, tapi saya udah terakhiran lho ini keluarnya. Heh?? Lha Bapak sama kakak mana?? Saya masih menunggu dengan sedikit cemas. Jangan-jangan ada masalah di imigrasi atau claim bagasi nih. Masih celingak-celinguk, tiba-tiba saya ditepuk suaminya teman saya tadi dari belakang, dan dia datang bersama Bapak…. Haaaaaaa…..ternyata Bapak sudah nunggu di luar dari tadi.. Pesawatnya mendarat lebih awal dari jadwal. Bodohnya, saya kok ya gak ngecek di pengumuman. Ha..sudahlah yang penting sudah ketemu Bapak. Peluk-peluk Bapak dan kakak lalu nganter Bapak ke toilet dulu plus ngasih jaket yang lebih tebal. Bener kan, Bapak kedinginan.

welcome to Japan, Pak

welcome to Japan, Pak

welcome to Japan, sist.. Makasih sudah nganterin Bapak sampai ke Jepang..

welcome to Japan, sist.. Makasih sudah nganterin Bapak sampai ke Jepang..

Dari bandara kami tidak langsung pulang ke Naruto, tapi kami ke Kyoto dulu buat jalan-jalan. Kalau udah pulang ke Naruto, nanti susah buat jalan-jalan. Kami naik bus lagi dari bandara ke Kyoto. Semua tiket sudah saya pesan di Naruto kemarin, termasuk tiket pulang dari Kyoto ke Naruto besok. Di bus saya tanya-tanya ke Bapak tentang perjalanan semalam. Ini adalah perjalanan dengan pesawat terbang pertama untuk Bapak maupun kakak. Wah, terbang pertama langsung ke Jepang, kata saya. Bapak pun cerita kalau pas di Bali ternyata transitnya cuma sebentar sekali, tidak ada waktu istirahat sama sekali, langsung masuk pesawat dan terbang. Lalu setelah tiba di Osaka, di bagian pemeriksaan dan imigrasi Bapak ditanya alamat saya. Lha Bapak gak tahu, tahunya cuma Tokushima. Lalu oleh petugas ditanya nama lengkap saya dan tanggal lahir saya. Untunglah di keluarga kami, tanggal lahir memang diingat, jadi Bapak maupun kakak dengan mudah menyebut nama lengkap dan tanggal lahir saya. Lalu dicek oleh petugas dan ditemukan alamat lengkap saya. Petugas sendiri yang akhirnya menuliskan di form. Beres deh urusan. Yang gak beres, ketika keluar kok saya gak ada. HP kakak tidak bisa untuk menghubungi karna tombol roamingnya belum di-ON-kan. Hihi..maklum grogi ya Buk :P. Dan di bus pun kita jadi yang paling ramai, padahal di bus gak boleh ramai-ramai. 😀

baru tiba di Kyoto.. Berfoto di bawah bunga sakura (atau momo ya?) dan kedinginan.. brrrr.....

baru tiba di Kyoto.. Berfoto di bawah bunga sakura (atau momo ya?) dan kedinginan.. brrrr…..

tetap bergaya meski dingin :D

tetap bergaya meski dingin 😀

Sekitar satu setengah jam perjalanan, kami sampai di Kyoto. Di Kyoto, kami menginap di Kyoto Hana Hostel, hostel untuk para backpacker. Kami memilih yang satu kamar untuk bertiga, Japanese style. Sampai di sana belum waktunya cek in. Kami istirahat dulu di  ruangan bersama yang bisa digunakan untuk istirahat. Bapak saya bikinkan teh lalu tidur. Sekitar pukul 1 atau 2, perut sudah lapar. Kami keluar untuk makan. Kebetulan dekat hostel ada warung Sukiya, ya sudah yuk makan di sini saja.

makan pertama di Jepang :D

makan pertama di Jepang 😀

Setelah selesai makan, Bapak masih dingin sebenarnya. Saya tawarkan mau jalan-jalan apa mau istirahat di hostel? Ternyata pada mau jalan. Kami lihat peta yang kami dapat dari hostel. Lalu memilih lokasi yang dituju. Pilihan jatuh ke Fushimi Inari shrine. Kebetulan saya juga belum pernah ke sana. Yang saya tahu, shrine ini digunakan sebagai lokasi syuting film Memoirs of Geisha. Kami menggunakan kereta menuju Inari. Dari Kyoto station hanya 2 stasiun. Berhubung kami ngobrol di kereta, alhasil kami melewatkan stasiun Inari. Hahaha… Kebablasan deh. Kami turun di stasiun berikutnya dan mengambil kereta balik yang ternyata lama. Dingin banget waktu nunggu kereta. Kita pun cari-cari lokasi yang tingkat kedinginannya paling rendah. Haha…

keretanya mirip Prameks :D

keretanya mirip Prameks 😀

di dalam kereta yang sepi..

di dalam kereta yang sepi..kereta balik habis kebablasan 😀

sampai juga di Inari station :D

sampai juga di Inari station 😀

tinggal aja, Pak.. Kalau keluar, tiketnya ditelan :)

tinggal aja, Pak.. Kalau keluar, tiketnya ditelan 🙂

Akhirnya sampai juga kita di Inari shrine. Tidak begitu ramai kelihatannya, padahal cukup terkenal juga tempat ini. Gak papa deh, malah bagus buat foto-foto :P. Di kuil ini terdapat ribuan torii (pintu gerbang) sebagai penghargaan kepada para donatur pembangunan kuil. Warnanya merah-oranye. Konon warna demikian untuk mengusir roh-roh jahat. Jadi di sepanjang setapak, kanan-kirinya adalah torii-torii itu. Udah pernah nonton Memoirs of Geisha? Pasti tahu lah ya 🙂 Saya sih belum. #eh 😛

bergaya di pintu gerbang utama

bergaya di pintu gerbang utama

Bapak & anak sama-sama gaya :P

Bapak & anak sama-sama gaya 😛

bertigaaa ^_^

bertigaaa ^_^

Sudah berkeliling shrine, Bapak sudah capek, tapi yang terutama sih sudah kedinginan. Kami pun kembali ke penginapan. Naik kereta lagi menuju Kyoto station. Dari Kyoto station ke penginapan kita jalan cepat, habisnya dingin. Hehe… Sampai penginapan, gelar futon lalu istirahat sebentar sambil ngobrol-ngobrol. Setelah lelah dan dingin hilang, kami bergiliran mandi. Mau makan masih pada kenyang. Tapi kalau gak makan bakalan lapar. Pilihan jatuh ke….bikin Indomie..!! Wkwk.. Kebetulan kakak bawa Indomie dan di penginapan memang bisa masak. Yippie…merasakan Indomie Indonesia… Enak banget. Kami bikin 4 porsi, 1 porsi untuk nambah :D.

Selesai makan, kembali ke kamar. Ngobrol-ngobrol lalu lambat laun Bapak tertidur sementara saya dan kakak masih ngobrol plus nransfer foto-foto. Tidak berapa lama sudah terdengar suara dengkuran Bapak. Ah mak….tak terkatakan deh bahagia dan harunya. Luar biasa ya penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Luar bisa berkat Tuhan dalam hidupku. Saya merasa ajaib bisa bersama-sama Bapak di Jepang di usia Bapak yang ke-79. Ajaib biasa mendengar dengkurannya di Jepang. Ajaib. Tuhan memang benar-benar ajaib. Syukur padaMu ya, Allah. Tak terasa air mata berlinang. Saya memunggungi kakak saya (biar gak ketahuan kalau mewek :mrgreen: ) lalu tidur.

Besok jalan-jalan ke mana lagi ya? Tunggu cerita selanjutnya ^_^