See you Japan, hello home… :)

Hai…nglanjutin cerita lagi yaa… Hihihi, gak selesai2 ni ceritanya 😛 , cerita kepulangan yang diiringi fajar pagi itu, hingga tiba di bandara dengan bagasi yang pastinya overweight :mrgreen: . Seperti saya bilang kemarin, kami bertiga membawa 2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, 3 box boneka hinaninggyo, 1 ransel, 1 tas kamera, 1 tas selempang, 2 tas tangan. Waktu di counter check in, saya hanya memasukkan koper besar, tas besar, dan box boneka. Tapi ternyata petugas meminta memasukkan 2 koper kecil juga ke bagasi karna barang yang dibawa di kabin sudah terlalu banyak. Hmm…baiklah.. Menurut tiket kami masing-masing, saya hanya dapat jatah 20kg, Bapak dan Kakak masing-masing 30kg, jadi total kami bertiga 80kg.  Tapi Garuda memberi kebijakan untuk penerbangan internasional kelas ekonomi mendapat bagasi 30kg. Jadi kami bertiga dapat jatah 90kg. Nah, setelah ditimbang, ternyata total bagasi kami 120kg. Ya sudah bisa diduga bakal kelebihan sih, apalagi dua koper kecil yang tadinya mau dibawa di kabin ternyata diminta dimasukkan bagasi, ya sudah lah… Saya diminta membayar 2.500 yen/kg overweight kalau gak salah. Tapi saya minta keringanan dulu. Berdasar saran dari kawan yang sudah bolak-balik sekolah di LN (cepet lulus ya bro 😛 ), saya musti bilang ke petugas kalau saya pelajar yang sudah menyelesaikan study, kepulangan saya ini istilahnya back for goodpulang untuk menetap di tempat tujuan tidak kembali lagi dalam waktu dekat. Saya pun menjelaskan pada petugas seperti saran kawan saya tsb. Tapi mbaknya tetap meminta saya membayar karna saya sudah didiskon 10 kg lho dari jatah 20kg menjadi 30kg. Mmm…karna saya masih ngeyel, akhirnya ada petugas lain, kali ini seorang pria, sepertinya memiliki jabatan yang lumayan, mendatangi counter kami dan bertanya masalah kami. Mbaknya menjelaskan duduk perkara kepada pria tersebut dalam bahasa Jepang. Masnya mendatangi saya dan menawarkan discount untuk membayar kelebihan bagasi saya. Saya lalu mengulangi lagi penjelasan saya ke mbak petugas tadi kepada mas pria ini. Dengan jurus onegaishimasu tolong dibantu, mas tadi paham kalau saya pelajar. Dia bertanya: berarti anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)?  Dengan tegas menjawab: Iya, ini beli tiket pesawatnya pun lewat Garuda PPI Kansai lho…bla..bla..bla..sebutin deh nama-nama pejabat di PPI Kansai *modus*. Mas pria pun tersenyum ramah seakan bertemu kawan satu group dan menginstruksikan mbak petugas untuk memasukkan semua bagasi saya berapapun kelebihan beratnya. Hah…puji Tuhan… Terima kasih mas pria yang tidak saya tahu namanya. Setelah urusan check in beres, mas pria tadi masih mengajak saya ngobrol, menanyakan tempat kuliah saya, dan mengucapkan selamat juga atas kelulusan saya. Sebelum saya berlalu, sempat menyalami saya, bapak, dan mbak sambil mengucapkan selamat jalan.

Sambil menunggu saat boarding, kami sarapan dulu. Berhubung sudah sampai Jepang dan belum makan udon, baiklah mari kita makan udon. (Nyari-nyari foto2 saat2 ini kok gak nemu ya? Ee..di manakah?).

OK, akhirnya waktu boarding tiba. Yuk masuk….

Saya dan Bapak-kakak ternyata terpisah lumayan jauh duduknya. Tapi tak apalah, berdoa semoga perjalanan lancar.

Kami transit di Ngurah Rai Denpasar kemudian berpisah di sini. Bapak-kakak melanjutkan penerbangan ke Jogja, sedangkan saya ke Jakarta. Kok ke Jakarta sih? Lah dapatnya tiket ke sana, nawar ke Jogja gak boleh. Ya sudah lah. Oche, dari Ngurah Rai, pesawat saya berangkat satu jam lebih awal dari pesawat kakak dan Bapak. Setelah berpamitan, saya pun menaiki bus menuju pesawat. Pesawat terbang dan beberapa saat kemudian sampai pula di Soeta. Saya sempat bertemu temannya teman untuk menyampaikan titipan, lalu menunggu kakak saya yang katanya mau datang menjemput lalu mengantar saya ke hotel. Sebenernya bisa saja saya tidur di rumah kakak di Bekasi sana, tapi kasihan besok pagi-pagi harus ngantar lagi ke bandara. Jadi sudahlah saya nginap di hotel murah dekat bandara saja. Tring..tring..sudah hampir putus asa karna kakak tak kunjung datang, saya pun menelepon hotel untuk menjemput. Eee…belum selesai telepon, kakak dan keluarga muncul. Bukannya disambut pelukan rindu setelah sekian lama gak ketemu, saya malah ngomel: iiiih….lama banget, disms gak balas, ditelpon gak bisa!! Hahaha…payah nih adik bungsu 😛 Menyadari respon yang gak OK, buru-buru saya cium tangan mereka dan ponakan2 cium tangan saya. Hihihi…. Kami pun menuju hotel.

Besok harinya, saya terbang ke Jogja. Kali ini pakai si singa. Sampai Jogja, sengaja gak minta jemput karna yang jemput pasti masih capek habis jemput Bapak-kakak semalam. Berasa cuma dari situ aja, iya kan, cuma dari Jakarta, cuma bawa satu koper besar dan tas ransel, saya sudah ‘dijemput’ banyak sopir taksi. Haha… Akhirnya saya pilih yang paling gigih & tentu saja yang murah :mrgreen:. Jadi, saya pulang ke Purworejo naik taksi avanza, sendirian. Ndak sampai 2 jam, sudah sampailah saya di kampung halaman. Haaa…..welcome home, Titik ^_^.  Tapi e tapi….ini rumah kok sepi?! Rumah Bapak malah kuncian, dan di rumah kakak cuma ada dik Ganesh dan yang momong. Wkwkwk…. Ternyata, Bapak baru ke sawah coba!! Hadeh…baru juga semalam tiba dari Jepang, paginya sudah ke sawah. Ndak capek po ya Bapak tu.. Nengoki aja sih, tapi mbok ya istirahat dulu to Pak… Habis ngglethak sebentar di rumah kk5, terdengar motor datang..haa…kk5 dan Krishna datang.. Krishna salting ketemu mb Tanti. Hihihi….. Ndak berapa lama Bapak pun pulang…. Ah….kembali di rumah lagi dan kali ini untuk waktu yang lamaaaa… Puji Tuhan..

Terima kasih Tuhan untuk segala hal yang telah Engkau limpahkan buat kami. Terima kasih untuk kesempatan mencari ilmu di Jepang. Terima kasih juga untuk kesehatan bagi Bapak selama saya berada di Jepang, pun selama lima hari Bapak berada di Jepang. Semua karna anugerahMu, Tuhan.. Hamba senantiasa mohon tuntunan dan pimpinanmu untuk kehidupan hamba selanjutnya di tanah air. Semoga senantiasa Engkau berkati dan menjadi saluran berkatMu bagi sesama. Amin..

Here i am…

home

Bapak & kk5 sedang melihat2 foto perjalanan Bapak ke Jepang

The last day >> Time to say good bye “See You!!”

19 Maret 2013

Hari ini adalah hari yang pernah sangat saya tunggu-tunggu, tetapi ketika sampai pada saatnya, hari ini menjadi hari yang begitu berat untuk dilalui. Manusia sering begitu ya, menunggu suatu waktu tetapi ketika sampai pada waktunya malah galau. Gimana donk? 😀

04:00 JST

Bangun dari tidur yang mungkin hanya dua-tiga jam. Mandi sebentar lalu bersiap. Pukul 05:00 sudah memesan taksi untuk menjemput di hotel. Bus dari Naruto Highway menuju Kansai Airport Osaka berangkat pukul 05:30. Karena di Jepang segalanya on time, maka memesan taksi pukul 05:00 sudah cukup untuk mengantar ke halte bus. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak menunggu terlalu lama. Dua taksi yang akan membawa kami, saya-bapak-kakak-barang2, sudah siap di depan ketika kami turun pukul 5 kurang 10 menit. Tiga orang, dan….rrr….2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, tiga kardus boneka hinamatsuri, 1 ransel, 1 tas slempang, 1 tas kamera, 2 tas tangan. Omigod…..

Pukul 05:15 kami sudah sampai di halte bus Naruto. Sampai di sana, kami bertemu kawan orang Kenya yang juga akan back for good seperti saya. Dia diantar oleh kawan kami orang Jepang menggunakan mobil. Kami berlima pun menaiki highway menggunakan monorail.  Setelah turun dari monorail, kami masih perlu berjalan menaiki tangga/menggunakan lift untuk sampai di haltenya. Dengan barang bawaan saya yang begitu banyak, saya perlu bolak-balik untuk membawanya. Untunglah ada kawan-kawan saya itu, jadi bisa membantu membawa.

Sampai di atas, tak berapa lama datang kawan saya orang Fiji yang juga akan pulang setelah wisuda hari kemarin. Dia juga diantar kawan orang Jepang yang merasa kepagian mengantar ke halte pukul 05:00 dari asrama 😀 . Yah, karena orang Jepang terbiasa on time dan sudah hapal estimasi waktu dari rumah sampai halte, sedang kita terbiasa tidak on time, jadi lebih baik nunggu daripada ketinggalan bus. Hihi…

Sebelum bus datang dan kita harus berpisah, mari berfoto bersama dulu. Eh…saat kami berfoto, terdengar suara tapak sandal sedang berlari dan nafas yang ngos-ngosan. Rupanya dua teman kami, satu orang China dan satu orang Jepang berlari karna ingin menguntabkan (melepas kepergian) kami. Mereka pun langsung bergabung berfoto bersama. Motretnya hanya dengan HP jadi banyak red-eye-nya deh.

05:30

Pukul 05:30 kurang sedikit, bus tujuan Kansai Airport, Osaka pun datang. Sopir memberi karcis untuk bagasi kita lalu memeriksa tiket. Penumpang dipersilakan masuk dan sopir menaikkan barang-barang kita ke bagasi. Ya, di Jepang, sopir bekerja sendiri. Dan kita tidak perlu memberi tip untuk jasa menaik-naikkan barang-barang kita tersebut karna itu sudah menjadi bagian dari tugasnya.

Pukul 05:30 bus pun berangkat… Melambaikan tangan pada kawan-kawan yang mengantar di luar. Ah….see you, Naruto…

Setelah dua tahun menghabiskan hari-hari di Naruto dengan segala suka-dukanya, dengan kenangan, harapan, kegagalan, bangkit, dan lain sebagainya, akhirnya hari ini sampai juga. Dan kita harus berpisah, pulang kembali membawa segala kenangan yang ada di sana. Kembali teringat kata-kata yang terucap saat awal dulu: jarak ribuan mil itu dekat dan dua tahun itu cepat. Indeed, semuanya terjadi seperti yang terucap. Hatiku bergetar lagi menuliskan ini. Di jalan, matahari pagi pun bangun. Ah….fajar terakhir yang kulihat di Jepang. Oo…tidak, bukan…bukan yang terakhir, bukankah kaubilang ‘sampai jumpa’? Semoga kelak akan menjumpai lagi fajar di negeri sakura. Amin.

IMG_7410

Bus melaju dengan tenang menembus pagi yang lengang. Saya dan Bapak berbincang di jalan. Saya tidak ingin tidur di jalan, begitupun Bapak. Tak terasa bus telah tiba di pemberhentian yang kita tuju: Kansai airport. Kita semua turun dan mengambil bagasi kita. Masih terlalu pagi, counter check in Garuda belum buka. Baiklah, kita istirahat dulu. Saya turun ke lantai 2 untuk membeli beberapa makanan untuk oleh-oleh, seperti Kit-Kat rasa matcha dan sakura. Setelah dirasa cukup, saya kembali ke lantai 4 dan mengantri di counter check in. Sudah bersiap dengan bagasi yang bejibun sekaligus jawabannya. Petugas di counter adalah orang Jepang. Bagaimana kabar bagasi saya yang sudah pasti overweight itu? Berapa yen yang harus saya bayar? Besok lagi ya ceritanya… Hehe…. 😀

5 hari di Jepang: hari ke-5 >> This is the day…

Saya agak deg-degan mau menuliskan cerita hari ke-5 Bapak di Jepang, alias hari Senin, 18 Maret 2013. Kenapa? Karena hari ini adalah puncak tujuan kunjungan Bapak ke Jepang: menghadiri wisuda saya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang senantiasa menuntun, membimbing, melindungi kami semua hingga hari ini. Syukur tak terhingga.

Semalam, kami bertiga menginap di hotel di kamar yang sama. Pagi itu saya bangun lebih pagi, lalu meminta Bapak mandi. Selesai Bapak mandi, saya pun menyusul. Ketika saya keluar kamar mandi, Bapak sedang memakai dasi yang rupanya sedikit kepanjangan. Untunglah punya peniti kecil jadi bisa diakali. Setelah urusan dasi selesai, saya pun mengurus dandanan saya sendiri. Karna minim peralatan dandan, rambut cuma saya gulung seadanya, wajah cuma bedak, eye liner, dan lipstik. Baju, saya memakai kebaya dan rok batik. Untuk baju kami dibebaskan memilih baju yang kami inginkan. Saya dan teman-teman international students memilih mengenakan baju tradisional dari negara kami masing-masing. Sementara teman-teman yang orang Jepang memilih mengenakan jas atau hakama (kimono untuk pelajar). Selesai berdandan seadanya dan mengenakan kebaya, giliran sepatu….. O’ow…saya tidak punya sepatu/sandal high heels yang cocok untuk kebaya. Untunglah kakak saya tipikal perempuan banget yang ke mana-mana memakai sandal/sepatu tinggi. Saya pun disodorinya sepatu yang matching dengan kebaya yang saya kenakan. Tentu saja sambil kasih ceramah: makanya jadi perempuan itu yang feminin dan sedikit modis donk. Duh, padahal menurut saya, saya sudah lumayan feminin je, ternyata di mata kakak masih tomboy. Alamak….

Seusai kami semua berbenah, saya memanggil taksi untuk mengantar kami ke kampus. Masih sedikit pagi jadi kami mampir asrama dulu. Dari asrama ke kampus jalan kaki. Dan pagi itu, anginnya bertiup kencang sekali. Sampai aula sudah banyak wisudawan/wisudawati yang foto-foto. Kami pun ikut berfoto. Karna angin bertiup kencang, rok pun terbang-terbang dan rambut yang tidak di-hairspray pun terbang ke mana-mana.

Ketika waktu masuk aula tiba, kami masuk. Keluarga wisudawan/ti diberi tempat duduk di belakang. Wisuda kali ini dibarengkan antara wisudawan/ti undergraduate (S1) dan graduate (S2). Prosesi wisuda di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia, semua wisudawan akan maju ke depan dan menerima ijazah serta memindahkan kuncung topi dari kiri ke kanan. Sedangkan di Jepang (di kampus saya), hanya satu perwakilan dari mahasiswa S1 dan satu perwakilan dari mahasiswa S2 yang maju ke depan dan menerima ijazah. Selebihnya, ijazah dibagikan di luar. Oke, saya perjelas urut-urutan prosesi wisudanya. Pertama penghormatan kepada bendara Jepang dan panji universitas. Lalu pembukaan dari Rektor. Yang kedua sambutan dari pejabat kampus lainnya (saya tidak tahu siapa). Dilanjutkan dengan penerimaan ijazah bagi perwakilan wisudawan/ti S1. Setelah itu perwakilan mahasiswa S2. Lalu pidato dari Rektor. Dilanjutkan dengan pembacaan kesan pesan dari wakil wisudawan S1 dan wakil wisudawan S2. Yang terakhir, pemberian penghargaan bagi mahasiswa berprestasi. Lalu penutup. Semua prosesi dilakukan full Japanese. Beberapa bisa dipahami, seperti meminta berdiri dan memberi hormat. Tetapi untuk sambutan maupun pidato rektor, hmm….nyimak sih, tapi cuma bisa nangkap sedikit saja kosakatanya :D.

Selesai upacara, kami keluar dan di luar sudah ada petugas dari bagian akademik dengan tas-tas berisi ijazah kami. Saya pun mendekat lalu bilang: kokusai kyouiku, onegaishimasu. Dan Bapak petugas pun memberi segepok tas untuk satu kelas kami (yang cuma 7 orang itu 😀 ). Wah, gak ada prosesi penyerahan apa-apa ni ya? Kita bikin yuk. Xixi.. Akhirnya, saya pun menyerah-nyerahkan tas itu ke teman-teman seolah-olah saya rektor atau dekan. Hahaha…. O iya, keluar dari aula, sanggul saya sudah sayonara, lepas dan terurai deh :D. Untung tetap matching sama kebayanya ya, soalnya kebayanya modern (kebaya pinjem juga sih 😛 ).

Setelah itu, apalagi kalau gak foto-foto. Setelah foto-foto dengan teman-teman, saya menuju depan kampus untuk foto dengan background nama kampus dan sakura. Sayang, sakuranya sudah mulai tumbuh daun, tapi tetap lumayan cantik lah :D. O iya, pada hari H wisuda, professor saya yang juga pembantu rektor langsung berangkat ke Zambia seusai upacara wisuda. Saya berusaha mencarinya lebih dulu karna sudah tidak akan bertemu lagi. Tapi kemudian saya pasrah saja, karna Sensei pasti sangat sibuk untuk keberangkatan ke Zambia. Dan ternyata, saat kami sedang berfoto-foto di depan kampus, Sensei lewat dan menyempatkan turun demi menyalami Bapak dan berfoto bersama kami. Meski sangat mepet waktunya. Saya pun sekaligus pamitan pulang ke Indonesia dan mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan bantuannya selama ini. Sensei orang yang sangat sangat baik.

Setelah berfoto, saya menyelesaikan beberapa urusan administrasi di kampus. Setelah ini masih ada acara buang sampah dan cek out dari asrama. Tapi sebelum mengantar Bapak dan kakak ke hotel dan saya kembali lagi ke asrama untuk menyelesaikan urusan terakhir dengan kampus, kami makan siang dulu di warung makan depan kampus. Kami makan bertiga sambil mensyukuri berkat yang Tuhan limpahkan kepada kami. Puji syukur padaMu, ya Allah…. 🙂


.
.
#btw, Bapak pakai jas keren ya? Kaya pensiunan deh, Pak 😀

5 hari di Jepang: hari ke-4 >> Hina Matsuri

Nerusin cerita Bapak di jepang ah. Sekarang sudah sampai hari Minggu atau hari ke-4. Semalam kami menginap di rumah kawan kami di Shirasagidai, Tokushima. Paginya, kawan kami, namanya mb Ayu, dan kedua anaknya menjemput kami di sana dan mengajak Bapak jalan-jalan melihat pameran boneka di acara Hinamatsuri atau festival boneka untuk memperingati hari anak perempuan. Tempatnya di Katsuura-cho, sebelah selatan Tokushima.

Pada festival hinamatsuri tersebut ditampilkan hina ninggyou, satu set boneka dari kaisar, permaisuri, dayang-dayang, menteri, juga pemain musik. Ditata dalam meja berundak dengan karpet merah di bawahnya. Pada hari anak perempuan, yaitu 3 Maret, para keluarga juga memasang boneka tersebut dan melepasnya jika perayaan sudah selesai.

Nah, sebagai foreigner, kami diperbolehkan membawa pulang boneka-boneka tersebut. Gratis. Jadi Bapak dan kakak pun mengambil juga. Kakak malah meminta satu set, dan diizinkan. Oh my God, sayanya malah gak enak karna dapat banyak banget 😀 .

Sepulang dari hinamatsuri, kami membawa pulang 3 box boneka yang nantinya dibawa pulang ke Indonesia. Aje gile ya.. Hihi…. Sebelum kembali ke Naruto, kami mampir makan di warung sushi. Ternyata Bapak dan kakak bisa juga makan sushi. Hebat deh. Bapak malah tambah es krim. Katanya es krimnya beda ya, enak. Hihi…puji Tuhan. Sampai di Naruto, kami kembali ke asrama dulu, beberes (lagi) sampai bersih lalu kembali ke hotel. Saya pun ikut menginap di hotel untuk persiapan acara besok pagi.

Kami istirahat dulu yaa…. 😀

5 Hari di Jepang: hari ke-3 & ke-4

Lho kok dijadiin 1? Iya, soalnya hari ketiga itu kan baru pulang dari Kyoto, jadi anggaplah hari istirahat yaa, meskipun ada kegiatan juga malamnya. Jadi, kami tiba dari Kyoto hari Jumat malam. Bapak dan kakak langsung saya inapkan di penginapan sedangkan saya kembali ke asrama. Hari Sabtu pagi jadwal saya buang sampah-sampah besar (baju bekas, kertas bekas, elektronik bekas yang tidak bisa dilungsurkan) ke Recycle Center Naruto. Untuk membuang sampah memang agak ribet di Jepang ini. Saya punya lemari es kecil yang kebetulan dulu dapat lungsuran tapi kemudian rusak. Saya tidak tega mau nglungsurkan lagi ke teman lain, akhirnya saya pilih untuk membuangnya saja. Saya harus bayar sekitar 3500 yen. Hehe… Berhubung saya tidak mau ada masalah sebelum kepulangan ke Indonesia, jadi saya ikuti saja semua peraturan pembuangan sampah di sini. Saya membayar di kantor pos, kemudian saat membuang sampah, tanda terima pembayaran diserahkan kepada petugas di recycle center.

Sabtu pagi (hari ke-3, 16 Maret), setelah beberes, saya dijemput teman orang Jepang yang mau mengantar ke pembuangan sampah. Segala baju bekas, kertas bekas, dan sampah-sampah lain kami masukkan ke mobilnya, lalu kami melaju ke recycle center. Letak RC-nya di pojokan di daerah pegunungan. Sampai sana ternyataaa……TUTUP. Ah…ternyata Sabtu-Minggu tutup. Teman saya yang mengantar tadi juga tidak tahu kalau Sabtu tutup karna RC di tempatnya tetap buka di hari Sabtu tapi hanya setengah hari. Kami akhirnya kembali ke asrama dan menurun-nurunkan lagi sampah-sampah tadi. Saya tinggal punya hari Senin, 18 Maret untuk menyelesaikan segala urusan karena 19 Maret subuh saya sudah harus berangkat ke bandara lalu kembali ke Indonesia. Padahal 18 Maret adalah hari wisuda saya dan teman saya yang mengantar tadi. O’ow… Saya tadinya mikir pas hari  terakhir di Jepang ini sudah bebas segala urusan, tinggal wisuda, check out dari asrama lalu jalan-jalan cari oleh-oleh. Ternyataaaa….akan ada ceritanya nanti :D. Akhirnya teman saya yang baik hati itu mau membantu saya membuang sampah di hari wisuda itu, tapi sore hari. Saya janjian dengan petugas asrama untuk cek out jam 4. Jadi dia menawarkan untuk mengantar sendiri tanpa saya. Duh, orang Jepang ni kalau baik ya baik banget deh. Dengan sedikit tidak enak akhirnya saya setujui. Bagaimana lagi, jadwalnya mepet.

Nah, setelah acara buang sampah yang gagal itu, saya bersepeda menuju penginapan Bapak dan kakak. Ternyata mereka berdua sudah check out dari hotel. Gasik banget. Nanti malam rencananya mau menginap di rumah teman, jadi saya memang bilang sama pihak hotel kalau besok kami check out dan check in lagi hari minggu malam untuk menginap 2 hari, minggu dan senin. Saya pikir bisa check out nanti agak siang, ee…jam 10an saya sampai hotel, mereka udah di luar. Begitu liat saya langsung tertawa mereka: kita buta huruf deh, gak bisa ngomong, gak mudeng apa-apa. Hihi… Saya bicara dengan pihak hotel dan meninggalkan barang-barang kami di hotel karna besok bakal menginap di sini lagi. Setelah urusan dengan hotel beres, kami pergi ke asrama saya. Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan. Dari hotel ke asrama jalan kaki. Jauh bo’.. Eh mampir sarapan dulu ding. Bapak saya minta menaiki sepeda saya biar gak terlalu capek. Hihi..bersepeda di Jepang ya Pak 😀 . Berhubung asrama saya pulau tersendiri, jadi kami harus menaiki kapal boat untuk menyeberang. Sayang fotonya belum tersimpan di sini, masih di HP, nanti deh disusulkan.

Sudah hampir sampai di asrama, kami bertemu dengan bunga sakura yang sudah mekar. Ayo foto dulu, Pak… 🙂

bapak sakura

Setelah sampai asrama, Bapak dan kakak kaget: lho kok masih banyak yang belum diberesi??!! Wkwkwk….walhasil, hari itu saya dan kakak berjibaku menyelesaikan packing yang belum selesai. Bapak, istirahat saja ya Pak :D. Sudah agak sore, teman saya orang Indonesia menjemput ke asrama. Kami memang berencana menginap di rumahnya karna kebetulan ibu’nya juga datang dari Indonesia. Sampai di rumahnya, ternyata istrinya masak besar. Eh? Dan ternyata juga mengundang teman-teman Indonesia lainnya  untuk datang. Hwaa…gak kepikiran bakal ada acara, taunya cuma main doang :D. Teman saya itu juga habis lulus Ph.D, jadi sekalian syukuran katanya. Ooh…. Tiwas saya gak bawa apa-apa. Hari ke-3 ditutup dengan ngobrol bareng keluarga Indonesia di Tokushima.

Wah, ternyata baru cerita hari ke-3 sudah sepanjang ini. Gak jadi digabung kalau gitu.. Wkwkwk… Hari ke-4 di postingan selanjutnya saja deh, hihi… Puji Tuhan sampai hari ketiga Bapak masih sehat dan bugar. Agak sakit perut sedikit katanya, plus gak bisa ke belakang buang air besar jadinya Bapak takut makan. Kalau buang air kecil malah bolak-balik. Tapi secara keseluruhan masih bisa diatasi. Bersyukur juga ada banyak teman-teman yang membantu selama Bapak di Jepang. Termasuk yang membantu mengantar buang sampah, memberi penginapan hari itu, juga yang besok hari mengajak Bapak melihat pameran boneka di festival hinamatsuri. Apa itu hinamatsuri? Besok ya ceritanya…. 🙂 #gaya

Salam dari Jogja,
Titik

#Tambahan. Puji Tuhan, foto ini terpilih sebagai pemenang kontes Sehari menjadi Srikandi di blog Happy Photographs. Terima kasih komandan Blogcamp group dan dewan juri untuk kesempatannya. Sukses selalu. 🙂

5 hari di Jepang: hari ke-2

Hari pertama di Jepang, Bapak termasuk tangguh lho. Bagaimana tidak, jetlag suhu dari daerah tropis ke daerah empat musim yang masih mengakhiri musim dinginnya, dan langsung jalan-jalan padahal habis perjalanan 8 jam lamanya. Salut memang untuk Bapak. Puji Tuhan ya Pak. Semangat dari dalam memang bisa mengalahkan segalanya. Uhuy deh..

Setelah semalam tidur nyenyak (mudah-mudahan nyenyak beneran ya Pak), hari kedua di Jepang, Bapak diajak jalan-jalan lagi (ini anaknya gak kasihan sama Bapaknya :D ). Karna rencananya jalan seharian, jadi kita membeli kartu city bus all day pass seharga 500 yen. Dengan kartu tersebut, kita bisa keliling kota naik bis sepanjang masih dalam lingkup yang tercover city bus. Asyik kan? Pertama, kita mau mengunjungi Kyomizudera temple, lalu Ginkakuji temple, dan yang terakhir Kinkakuji temple. Lah kok temple semua? Iya ya.. Haha… Kemarin waktu di stasiun kita sempat ke Information center buat nanya-nanya tempat yang direkomendasikan. Tiga tempat itu direkomen. Ya udah deh, kita ke sana yuk. Di Kyoto biarpun pergi sendiri insyAllah gak tersesat deh. Sudah banyak yang berbahasa Inggris, banyak disediakan peta dan petunjuk juga. Untuk rute bus pun sudah ada map-nya. Jadi lebih tenang dan aman bertualang di sana.

Kita berangkat dari hostel dengan mengambil noriba (bus stop) yang terdekat dari hostel. Tujuan pertama Kyomizudera. Sambil melihat di petunjuk rute, Bapak menghitung berapa halte yang kita lewati sebelum turun. Sambil juga menikmati keteraturan di Jepang. Dan..sampai juga di halte Kyomizudera. Kami turun lalu berjalan menuju temple. Karena kuil-kuil biasanya dibangun di tempat yang tinggi, maka perjalanan menuju kuil pun perjalanan yang menanjak. Sampai di Kyomizudera pohon-pohon sakura sudah muntub-muntub nyaris membuka kuncup sakuranya. Sayangnya baru nyaris :D . Tapi ada beberapa yang sudah berbunga meski belum mekar sempurna.

Di Kiyomizudera ini biasanya pengumuman kanji of the year digelar. Di sini juga terdapat tiga mata air yang konon melambangkan kesehatan, umur panjang, dan kesuksesan. Pengunjung bisa meminum dari mata air tersebut. Tapi kalau minum dari ketiga mata air, malah tidak mendapatkan kemurahan kesehatan, umur panjang, dan kesuksesan lho, karna yang bersangkutan berarti serakah. Hehehe…

Habis puas berkeliling, kami turun dan melanjutkan perjalanan ke Ginkakuji temple. Ini juga dikenal sebagai kuil perak. Di Ginkakuji ada Ginshadan sand layout di mana pasirnya katanya diambil dari gunung Fuji. Taman di Ginkakuji juga sangat indah. Rasanya sejuk berada di sini.

Di Ginkakuji kami tak begitu lama. Kami lalu menuju Kinkakuji temple. Nah, kalau Ginkakuji tadi kuil perak, kalau Kinkakuji kuil emasnya. Sudah sore kami sampai di Kinkakuji. Jadi memang tidak bisa berlama-lama. Lagipula suhu mulai dingin. Kami pun kembali ke hotel. Setelah makan kami pun siap-siap untuk kembali pulang ke Naruto. Saya sudah membeli tiket bus dari Kyoto ke Naruto. Halte busnya ada di Kyoto station noriba nomor 1. Karna segala sesuatu di sini on time, jadi sambil menunggu waktu kami foto-foto dulu. Bus pun datang, dan kami pulang….. Sampai jumpa di Naruto.. ^_^

Mengundang Bapak ke Jepang…

Baca postingan Bu Enny yang sedang mengunjungi putrinya di Jepang, saya jadi ingin menuliskan juga kunjungan Bapak ke Jepang sebelum saya pulang kemarin. Dan tentang kepergian Bapak ke Jepang ini pun menjadi pertanyaan teman-teman ketika bertemu saya. Ya, mereka sudah melihat fotonya di facebook tetapi memang saya tidak cerita-cerita sebelumnya kalau Bapak mau ke Jepang, jadi mereka cukup terkejut. 🙂

Ceritanya, sekitar bulan November ketika saya menelepon Bapak via skype, Bapak bertanya: “kamu besok pas wisuda terus siapa yang menemani?”. Ada rasa entah yang menyusup di hati yang membuat saya merinding ketika Bapak bertanya begitu. Dalam hati saya merasakan keinginan Bapak untuk mendampingi saya wisuda, karna setiap pencapaian anak-anaknya adalah kebanggaan untuknya. Tetapi saya juga melihat kekecewaan dari pertanyaannya karna tidak bisa menemani wisuda saya. Bagi Bapak, pergi ke Jepang mungkin adalah kemustahilan. Tapi saya jadi mikir-mikir, kenapa enggak mengajak Bapak ke Jepang, mumpung Bapak masih sehat dan mumpung saya masih di Jepang? Kesempatan kan gak datang dua kali. Yup, akhirnya saya menawarkan pada Bapak untuk ke Jepang saat saya wisuda. Awalnya Bapak ragu, takut keluar biaya banyak. Tapi setelah saya bujuk, Bapak ndak ragu lagi. Jadi kita mulai tahapannya. Pertama membuat paspor.

Seperti prosedur pembuatan paspor yang saya baca di sini, Bapak harus melengkapi syarat-syarat pembuatan paspor, di antaranya bukti domisili (KTP & KK), bukti identitas diri (bisa pilih salah satu: akta kelahiran, akta perkawinan/surat nikah, ijazah, surat babtis, atau surat keterangan lain yang dikeluarkan pemerintah). Nah, untuk KTP & KK sih gak ada masalah. Tapi untuk bukti identitas diri, Bapak sempat bingung juga. Akte kelahiran, Bapak sudah gak punya. Surat nikah, sebenarnya ada, tapi sudah agak rusak begitu. Ijazah, yaaah…sudah gak ada juga. Jadi kemungkinannya hanyalah surat babtis. Bapak dengan semangat mengayuh sepeda ke gereja (ya, Bapak kalau sedang semangat memang begitu, berani bersepeda ke mana-mana). Bapak mau minta surat babtis dari gereja. Di gereja kan ada arsipnya. Waktu ditanya untuk apa, Bapak menjawab: untuk ke Jepang. Haha..Bapak gaya banget.

Berkas-berkas untuk pembuatan paspor sudah lengkap baik untuk Bapak maupun untuk kakak (Bapak ke Jepang diantar kakak). Tapi….di sela-sela itu Bapak jatuh sakit :(. Semangat Bapak untuk ke Jepang pun menyusut. Saya menyerahkan ke Bapak bagaimana baiknya, karna yang paling tau kekuatan Bapak kan Bapak sendiri. Yang penting saat itu Bapak sembuh dulu. Nanti setelah sembuh baru dipikirkan lagi. Dan setelah Bapak sembuh, ternyata Bapak masih punya keinginan untuk ke Jepang. Malah langsung bilang sama saya kalau mau ngurus paspor hari Senin. Wah, senangnyaa. Selama Bapak mengurus paspor, saya pun mencari tiket untuk Bapak dan kakak.

Sebagai anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), kami mendapatkan perlakuan khusus dari Garuda Indonesia. Pihak Garuda memberi discount khusus tiket untuk mengundang keluarga ke Jepang. Saya pun memanfaatkan promo tersebut. Karna dari pemberi beasiswa jadwal kepulangan saya sudah pasti, saya pun memesan tiket untuk kembali di tanggal yang sama dengan saya. Karena memesan tiketnya online, jadi semua syaratnya dikirim dalam bentuk file. Syaratnya adalah foto paspor saya (pengundang), kartu pelajar, alien card, paspor keluarga yang diundang, dan bukti hubungan keluarga (bisa menggunakan akte kelahiran maupun KK). Semua syarat sudah dikirimkan. Eh, ada masalah, ternyata pada tanggal keberangkatan yang saya pilih, tidak ada penerbangan dari Bali karena hari raya Nyepi. Saya pun memundurkan satu hari sehingga akhirnya Bapak hanya di Jepang selama 5 hari. Tapi puji Tuhan, urusan paspor dan tiket dapat berjalan lancar.

Selanjutnya adalah mengurus visa. Seperti syarat pengajuan visa yang tercantum di website kedutaan besar Jepang di Indonesia, Bapak menggunakan jenis visa kunjungan keluarga. Saya mengirimkan undangan dan syarat-syarat lainnya ke rumah untuk kemudian digunakan mengurus visa di kedutaan Jepang di Jakarta. Kakak saya yang mengurus visa ke Jakarta, Bapak tidak perlu ikut karna bisa dititipkan kakak. Tidak sampai seminggu, visa sudah jadi dan siap diambil. Dengan demikian, Bapak SIAP pergi ke Jepang. Horeeee……

20130423-145037.jpg

keluarga yang mengantar keberangkatan Bapak

 

 

#all by His grace