Pagi di Kampung Tembakau

Matahari sudah mulai meninggi pagi itu. Pukul 6 lebih sekian. Saya keluar dari rumah sahabat saya, rumah teduh di kaki gunung Sindoro, sebuah desa di kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Hamparan kebun tembakau di sekitarnya. Orang-orang mulai bergerak ke pasar meski pagi masih berkabut. Keluarga-keluarga mulai menjemur tembakau yang sudah digelar di rigen-rigen. Memang harus segera dijemur, karna sebelum pukul 14 siang nanti jemuran tembakau itu harus sudah diangkat, kalau tidak, menurunlah kualitas tembakaunya. Aktivitas di perkampungan penghasil tembakau telah dimulai.

matahari mulai meningi

matahari mulai meningi

suasana pagi berkabut

suasana pagi berkabut

menjemur tembakau

menjemur tembakau

jemuran tembakau berjajar-jajar di pinggir jalan

jemuran tembakau berjajar-jajar di pinggir jalan

kebun tembakau dan pemukiman yang tertutup kabut

kebun tembakau dan pemukiman yang tertutup kabut

anak-anak berjalan melalui pematang

anak-anak berjalan melalui pematang

mari jalan pagi, menghirup udara yang masih segar bebas polusi...

mari jalan pagi, menghirup udara yang masih segar bebas polusi…

kebun tembakau di kaki gunung sindoro

kebun tembakau di kaki gunung sindoro

ada pula sawah yang hijau membentang bagai permadani di kaki langit

ada pula sawah yang hijau membentang bagai permadani di kaki langit

Inilah pagi di desa Purbosari, kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Udara sejuk dan segar bikin saya betah lama-lama di sana. Pemandangan hijau dan suasana kampung yang akrab. Suatu saat kudatang lagi hai kampung nan asri….

Ikut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan ke-34 dengan tema: Kampung di blog Berbagi Kisahku

Bandung 2: Tangkuban Perahu

Kalau menyebut nama Bandung, apa saja yang terlintas di pikiran kita? Ada yang terlintasi sebuah gunung dengan legendanya yaitu Gunung Tangkuban Perahu? Pasti ada ya. Dan bulan lalu, sebelum trip nekad ke Temanggung itu, saya berkesempatan ke Bandung dan berkunjung ke Tangkuban Perahu. Puji Tuhan banget… Lalu kenapa judulnya Bandung 2? Karena ini adalah kali kedua saya ke Bandung. Yang pertama setahun yang lalu untuk acara yang sama, sempat menyusuri kota Bandung bareng Teh Nchie dan kopdar dengan blogger Bandung yang kompak banget itu. Yang belum baca sila mampir ke sini. Sayangnya untuk kali kedua ini, saya tidak berkesempatan kopdar dengan blogger Bandung. Jadwal padat (gayanya).

Saya berada di Bandung selama 3 hari dari Kamis s.d. Sabtu. Hari pertama kegiatan selesai sampai sore. Malamnya sudah ada acara dinner dengan tim dari sekolah yang menjadi salah satu tempat kegiatan. Hari kedua, acara berakhir siang sebelum sholat Jumat. Setelah jam ishoma, kami diajak oleh pihak sekolah untuk jalan-jalan. Tadinya mau ke Pasar Baru, tetapi setelah pembicaraan waktu makan siang, akhirnya tujuan berpindah ke Gunung Tangkuban Perahu. O iya, kenapa saya sebut “kami”? Karena saya di Bandung dalam rangka ‘menemani’ Sensei-Sensei saya dari Jepang yang jadi pembicara seminar dan workshop selama 3 hari itu. Beruntung ya saya? :). Jadi setelah ishoma itu, dengan bus sekolah yang kutunggu kutunggu  kami menuju Tangkuban Perahu, lewat Lembang, lewat sekolah yang kemarin dikunjungi salah dua Sensei, dan ketika melihat plang arah ke Parongpong, segera teringat pada Ibu Dey 🙂 . Pemandangan indah di kanan/kiri, hingga sampailah kami di tempat pemberhentian bus. Dari pemberhentian bus, kami naik angkot khusus untuk mendaki gunung. Bayarnya 5000/orang pp (kalau tidak salah ingat). Dan sampailah kami ke puncak Gunung Tangkuban Perahu. Wah, senangnya. Ini sebagian foto yang saya ambil di sana. Berkah Tuhan waktu itu cuaca cerah dan langitnya biruuuuu banget.

landscape di sebelah kanan

landscape di sebelah kanan

kawah Gn. Tangkuban Perahu

kawah Gn. Tangkuban Perahu

kuda-kuda sedang 'parkir' menunggu penunggang..

kuda-kuda sedang ‘parkir’ menunggu penunggang..

para Sensei sedang menikmati kawah Gn. Tangkuban Perahu

para Sensei sedang menikmati kawah Gn. Tangkuban Perahu

jatuh cinta dengan langit, apa saja jadi indah di fotonya... :)

jatuh cinta dengan langit, apa saja jadi indah di fotonya… 🙂

cantik ya...perpaduan tebing kapur dan langit birunya... Sukaaa banget...

cantik ya…perpaduan tebing kapur dan langit birunya… Sukaaa banget…

bukti otentik saya pernah ke Tangkuban Perahu :D

bukti otentik saya pernah ke Tangkuban Perahu 😀

dagangan di pinggir jalan

dagangan di pinggir jalan

Cantik ya.. Saya suka pemandangannya, penataannya, aktivitas di atas. Pengunjung bisa berkeliling Tangkuban Perahu dengan kuda. Sebenarnya ada 10 kawah di Gn. Tangkuban Perahu, tetapi baru satu kawah yang kami kunjungi dan berfoto-foto, sudah ada pengumuman untuk segera turun. Kami kesorean memang. Pas turun sudah pukul 17, meski langit masih cerah.

Bicara Tangkuban Perahu pasti tak lepas dari legenda yang menyertainya. Dayang Sumbi, Sangkuriang, dan si Tumang. Btw, ada yang ingat legenda terbentuknya gunung Tangkuban Perahu? Yang ingat tunjuk jariii…. ^_^

Ternyata legenda Sangkuriang tidak hanya tentang terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu lho, tetapi juga Bukit Tanggul, Gunung Burangrang, dan danau Bandung. Lengkapnya sila baca di wikipedia :).

OK, ini adalah salah satu tulisan dari perjalan(-jalan)an saya. Besok dilanjutin perjalanan berikutnya ya. Setelah Bandung ini sebenarnya Temanggung itu, tapi malah udah ditulis duluan, ngejar kontes nekad itu soalnya :P. Hi Bandung, dua kali saya mengunjungimu, dua kali saya terpesona padamu…

…dan saat tulisan ini terbit, saya mungkin sedang berada di atas awan.
Hallo Bandung, saya datang lagi, untuk yang ketiga kali…  :*

See you Japan, hello home… :)

Hai…nglanjutin cerita lagi yaa… Hihihi, gak selesai2 ni ceritanya 😛 , cerita kepulangan yang diiringi fajar pagi itu, hingga tiba di bandara dengan bagasi yang pastinya overweight :mrgreen: . Seperti saya bilang kemarin, kami bertiga membawa 2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, 3 box boneka hinaninggyo, 1 ransel, 1 tas kamera, 1 tas selempang, 2 tas tangan. Waktu di counter check in, saya hanya memasukkan koper besar, tas besar, dan box boneka. Tapi ternyata petugas meminta memasukkan 2 koper kecil juga ke bagasi karna barang yang dibawa di kabin sudah terlalu banyak. Hmm…baiklah.. Menurut tiket kami masing-masing, saya hanya dapat jatah 20kg, Bapak dan Kakak masing-masing 30kg, jadi total kami bertiga 80kg.  Tapi Garuda memberi kebijakan untuk penerbangan internasional kelas ekonomi mendapat bagasi 30kg. Jadi kami bertiga dapat jatah 90kg. Nah, setelah ditimbang, ternyata total bagasi kami 120kg. Ya sudah bisa diduga bakal kelebihan sih, apalagi dua koper kecil yang tadinya mau dibawa di kabin ternyata diminta dimasukkan bagasi, ya sudah lah… Saya diminta membayar 2.500 yen/kg overweight kalau gak salah. Tapi saya minta keringanan dulu. Berdasar saran dari kawan yang sudah bolak-balik sekolah di LN (cepet lulus ya bro 😛 ), saya musti bilang ke petugas kalau saya pelajar yang sudah menyelesaikan study, kepulangan saya ini istilahnya back for goodpulang untuk menetap di tempat tujuan tidak kembali lagi dalam waktu dekat. Saya pun menjelaskan pada petugas seperti saran kawan saya tsb. Tapi mbaknya tetap meminta saya membayar karna saya sudah didiskon 10 kg lho dari jatah 20kg menjadi 30kg. Mmm…karna saya masih ngeyel, akhirnya ada petugas lain, kali ini seorang pria, sepertinya memiliki jabatan yang lumayan, mendatangi counter kami dan bertanya masalah kami. Mbaknya menjelaskan duduk perkara kepada pria tersebut dalam bahasa Jepang. Masnya mendatangi saya dan menawarkan discount untuk membayar kelebihan bagasi saya. Saya lalu mengulangi lagi penjelasan saya ke mbak petugas tadi kepada mas pria ini. Dengan jurus onegaishimasu tolong dibantu, mas tadi paham kalau saya pelajar. Dia bertanya: berarti anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)?  Dengan tegas menjawab: Iya, ini beli tiket pesawatnya pun lewat Garuda PPI Kansai lho…bla..bla..bla..sebutin deh nama-nama pejabat di PPI Kansai *modus*. Mas pria pun tersenyum ramah seakan bertemu kawan satu group dan menginstruksikan mbak petugas untuk memasukkan semua bagasi saya berapapun kelebihan beratnya. Hah…puji Tuhan… Terima kasih mas pria yang tidak saya tahu namanya. Setelah urusan check in beres, mas pria tadi masih mengajak saya ngobrol, menanyakan tempat kuliah saya, dan mengucapkan selamat juga atas kelulusan saya. Sebelum saya berlalu, sempat menyalami saya, bapak, dan mbak sambil mengucapkan selamat jalan.

Sambil menunggu saat boarding, kami sarapan dulu. Berhubung sudah sampai Jepang dan belum makan udon, baiklah mari kita makan udon. (Nyari-nyari foto2 saat2 ini kok gak nemu ya? Ee..di manakah?).

OK, akhirnya waktu boarding tiba. Yuk masuk….

Saya dan Bapak-kakak ternyata terpisah lumayan jauh duduknya. Tapi tak apalah, berdoa semoga perjalanan lancar.

Kami transit di Ngurah Rai Denpasar kemudian berpisah di sini. Bapak-kakak melanjutkan penerbangan ke Jogja, sedangkan saya ke Jakarta. Kok ke Jakarta sih? Lah dapatnya tiket ke sana, nawar ke Jogja gak boleh. Ya sudah lah. Oche, dari Ngurah Rai, pesawat saya berangkat satu jam lebih awal dari pesawat kakak dan Bapak. Setelah berpamitan, saya pun menaiki bus menuju pesawat. Pesawat terbang dan beberapa saat kemudian sampai pula di Soeta. Saya sempat bertemu temannya teman untuk menyampaikan titipan, lalu menunggu kakak saya yang katanya mau datang menjemput lalu mengantar saya ke hotel. Sebenernya bisa saja saya tidur di rumah kakak di Bekasi sana, tapi kasihan besok pagi-pagi harus ngantar lagi ke bandara. Jadi sudahlah saya nginap di hotel murah dekat bandara saja. Tring..tring..sudah hampir putus asa karna kakak tak kunjung datang, saya pun menelepon hotel untuk menjemput. Eee…belum selesai telepon, kakak dan keluarga muncul. Bukannya disambut pelukan rindu setelah sekian lama gak ketemu, saya malah ngomel: iiiih….lama banget, disms gak balas, ditelpon gak bisa!! Hahaha…payah nih adik bungsu 😛 Menyadari respon yang gak OK, buru-buru saya cium tangan mereka dan ponakan2 cium tangan saya. Hihihi…. Kami pun menuju hotel.

Besok harinya, saya terbang ke Jogja. Kali ini pakai si singa. Sampai Jogja, sengaja gak minta jemput karna yang jemput pasti masih capek habis jemput Bapak-kakak semalam. Berasa cuma dari situ aja, iya kan, cuma dari Jakarta, cuma bawa satu koper besar dan tas ransel, saya sudah ‘dijemput’ banyak sopir taksi. Haha… Akhirnya saya pilih yang paling gigih & tentu saja yang murah :mrgreen:. Jadi, saya pulang ke Purworejo naik taksi avanza, sendirian. Ndak sampai 2 jam, sudah sampailah saya di kampung halaman. Haaa…..welcome home, Titik ^_^.  Tapi e tapi….ini rumah kok sepi?! Rumah Bapak malah kuncian, dan di rumah kakak cuma ada dik Ganesh dan yang momong. Wkwkwk…. Ternyata, Bapak baru ke sawah coba!! Hadeh…baru juga semalam tiba dari Jepang, paginya sudah ke sawah. Ndak capek po ya Bapak tu.. Nengoki aja sih, tapi mbok ya istirahat dulu to Pak… Habis ngglethak sebentar di rumah kk5, terdengar motor datang..haa…kk5 dan Krishna datang.. Krishna salting ketemu mb Tanti. Hihihi….. Ndak berapa lama Bapak pun pulang…. Ah….kembali di rumah lagi dan kali ini untuk waktu yang lamaaaa… Puji Tuhan..

Terima kasih Tuhan untuk segala hal yang telah Engkau limpahkan buat kami. Terima kasih untuk kesempatan mencari ilmu di Jepang. Terima kasih juga untuk kesehatan bagi Bapak selama saya berada di Jepang, pun selama lima hari Bapak berada di Jepang. Semua karna anugerahMu, Tuhan.. Hamba senantiasa mohon tuntunan dan pimpinanmu untuk kehidupan hamba selanjutnya di tanah air. Semoga senantiasa Engkau berkati dan menjadi saluran berkatMu bagi sesama. Amin..

Here i am…

home

Bapak & kk5 sedang melihat2 foto perjalanan Bapak ke Jepang

Purworejo Berirama makin ceria… ^_^

Selamat hari Selasa temans. Gimana hari Seninnya kemarin? Langsung sibuk ya? Atau berasa sibuk karna habis libur? Kadang-kadang perasaan kita seperti itu ya, merasa hari Senin adalah hari yang sibuk. Padahal sih hari lainnya juga sibuk, tapi karena Senin adalah awal masuk kerja dari sebelumnya libur dua hari, jadi deh lebih terasa kesibukannya.

Weekend kemarin adalah weekend pertama setelah saya mulai ngantor. Mulai mudik tiap minggu lagi seperti dulu. Tapi sekarang tiap kali mudik ada Krishna dan Ganesh di rumah karna mereka sudah tinggal di depan rumah Bapak. Makin senang deh. Nah weekend kemarin, setelah mencuci dan membereskan kost (eh, yang beresin ponakan ding), saya berangkat mudik. Berangkat agak pagi memang karna perlu ke kantor Samsat untuk ambil plat motor. Habis itu berencana nyervis motor karna lampu depan mati. Sempat makai motor waktu malam dan buta jalan. Kejeglong-jeglong deh. Nah, di jalan kena momen polisi donk dengan pelanggaran lampu tidak menyala. Kujelaskan sama pak polisi kalo lampu depan memang mati. Tapi posisi tombol lampu terus di posisi ON. Kalo gak percaya silakan dicek deh. Ini saya pulang mau ambil plat nomor sekalian service, Pak. Akhirnya pak polisi meloloskan saya dari tilang.

Urusan ke kantor samsat selesai, tapi urusan service belum. Eh, hujan turun aja. Ya sudah lah, service ditunda. Dan waktu hujan memang paling enak buat….bobo :D. Senangnya bisa bobo siang. Bangun tidur, ponakan-ponakan juga baru bangun. Mandi-mandi lalu nonton kartun-kartun di TV. Mas Krishna belajar baca huruf di kalender. Dik Ganesh (sepertinya) serius nonton TV gitu. Tapi ternyata dia perhatikan aktivitas kakaknya lho. Buktinya besok harinya dia pegang-pegang kalender sambil tunjuk-tunjuk dan ceplas-ceplos: “S”, “A”, “S”, tapi cuma S dan A aja. Haha…

Habis maem, mas Krishna nagih janji jalan-jalan ke alun-alun. Soalnya tadi mb Tanti janji kalau maemnya habis diajakin jalan-jalan ke alun-alun. Sebelum ke alun-alun mampir kios potong rambut dulu karna rambut Krishna sudah panjang, sudah kena kuping. Tapi tukang cukur langganan Krishna ditunggu gak keluar-keluar. Akhirnya gak jadi potong deh. Besok lagi ya mas.

20130409-080214.jpg

batal potong rambut deh

dik Ganesh yang metal ky Zamrud

dik Ganesh yang metal ky Zamrud

Habis dari tukang cukur di belakang pendapa Kabupaten Purworejo, kita ke alun-alun. Wah, ramai sekarang alun-alun Purworejo. Ada sepeda dengan lampu LED warna-warni yang disewakan untuk dikayuh keliling alun-alun, seperti di alun-alun selatan Jogja. Ada delman-delman hias yang ditarik kuda kecil atau ada juga yang ditarik keledai. Ada tempat bermain anak-anaknya juga. Sayangnya gak mengambil foto karna baru nyetir si Mio. Di sekeliling alun-alun juga banyak warung tenda. Kalau warung-warung tenda memang sudah ada dari dulu. Tetapi tambahan hiburannya sepertinya masih baru. Kami berhenti di penjual martabak, karna saya memang maniak martabak #ingat kesehatan Nduk, martabak banyak minyaknya #seminggu sekali aja boleh yaa…

20130409-080334.jpg

menggoreng martabak spesial

Habis martabaknya selesai, kita pulang deh.. Eh, di pojok alun-alun sebelah timur-selatan, ada tulisan Purworejo besar. Waduh..memang sudah banyak perubahan nih, makin bersinar kotaku.

20130409-142557.jpg

Purworejo Berirama

Nah, buat teman-teman yang belum pernah ke Purworejo, monggo lho pinarak wonten kutha Purworejo Berirama. Tindak alun-alun wayah dalu kathah hiburan. Badhe dhahar ndalu, kathah warung wonten alun-alun. Menawi siang, monggo kula aturi tindak Warung Soto Pak Rus wetan stasiun Purworejo, napa Bebek Pak Dargo ingkang sampun kondang saloka. Lanthing Bagelen, kue lompong, lan clorot, jajanan khas Purworejo. Duren lan manggis ugi kondang saking Purworejo. Menawi ngelak, monggo tindak Jembatan Butuh ngunjuk dawet ireng. Badhe piknik sekulawarga bakar iwak laut, monggo tindak pantai Jatimalang. Ampun kesupen pinarak Mranti, dalemipun bapak kula 😀 . Monggo… 🙂

#searcing-searching ternyata nemu campursari kutho Purworejo. Monggo disimak. ^_^

Filosofi Durian

Siapa yang tak kenal durian? Buah ASLI Indonesia yang nikmatnya cetar membahana bikin nagih itu? Saya pernah naik taksi di sini, kebetulan sopir taksinya lumayan talkative gitu, jadi di jalan diajaki ngobrol lah saya. Berhubung bahasa Jepang saya plegak-pleguk, jadi dia tahu kalau saya orang asing. Ditanyalah asal saya, dan ketika saya jawab Indonesia, dia langsung bilang: “wah, saya pernah ke Indonesia, ke Bali (Bali memang paling terkenal di sini), saya juga makan durian, enak sekali”. Nah kan, begitu ngomongin Indonesia jadi teringat durian kan? Ya karena durian itu asli Indonesia.

Itu di ranah internasional, kalau di ranah nasional dan regional, ketika saya menyebut kota kelahiran saya Purworejo, orang-orang pun akan langsung merujuk salah satunya pada durian. Itu pula yang terjadi kemarin pagi ketika saya menulis status galau galak di Facebook. Saat berbalas komentar, saya menyebut kota kelahiran saya Purworejo. Nah Om Vyan yang Pak Tuonya Inon dan Cupit (sekarang tambah banyak nak mudonya Om Vyan (jodohnya Pak Tuo itu nak mudo kan ya?)) langsung keingat durian dan menyebutkan filosofi durian begini.

“cocok… secara Purworejo penghasil buah durian… (filosofi durian: walaupun berduri tp isinya lembut dan disukai orang, kolesterolnya meningkatkan gairah… jeleknya: berbahaya bagi penderita hipertensi)”

Malamnya waktu mata tak kunjung terpejam, saya baca lagi status saya pagi itu dan komentar-komentarnya. Waktu baca komentar Om Vyan, saya jadi manggut-manggut, benar juga ya, durian ternyata punya banyak makna filosofis yang bisa diambil. Jadilah malam/pagi tadi, mengawali tanggal 12 bulan 12 tahun 12 saya berkicau di timeline facebook dengan hastag #filosofiDurian. Apa saja? Markisim, mari kita simak.

:: Purworejo terkenal dengan duriannya. Dan setelah dipikir2 ternyata byk makna filosofis yang bisa diambil dari durian…  #filosofiDurian

:: durian itu berkulit keras dan berduri, tapi dalamnya lembut, manis, dan disukai banyak orang. So, jangan tertipu penampilan luar. Bisa jadi yang luarnya galak itu tnyta hatinya lembut ^_^ #filosofiDurian

:: buah durian menebarkan aroma yang khas. Semua orang akan langsung tau itu durian hanya dengan mencium aromanya. Kita juga punya ‘aroma’ kita masing2, di mana orang akan mengenali kita hanya dgn ‘mencium aroma’ kita. Semoga saja aroma yg kita tebar adl aroma yg menyenangkan byk orang yaa… #filosofiDurian

:: membuka durian akan mudah jika kita merunut saja jalan yg sudah ada. Tapi kalau salah jalan, ya sudah, bakal boncel2 deh duriannya, gak terbuka pula unless kita balik ke jalan yg benar. Hidup juga gitu deh…kalau nurut jalan yang dibuatNya, insyAllah mudah, tapi kalau melenceng dari jalanNya, yaaah…siap susah aja…kecuali mau kembali ke jalan yg benar 🙂 #filosofiDurian

:: durian itu tergantung di pohon yg tinggi, sulit untuk meraihnya. Tapi kalau sdh matang dia akan jatuh sendiri. Sama ky jodoh ya, daripada bersusah payah meraih yg tinggi itu, lebih baik siapkan perlengkapan spy saat dia jatuh kita bisa menangkapnya tanpa ada yg terluka. Kita cukup tunggu waktu saja, dia pasti jatuh kok 😉 #filosofiDurian

:: durian yang jatuh dari pohonnya pasti lebih enak daripada durian yg dipetik & dieram. Yah….segala sesuatu kalo sudah waktunya, pasti nikmat. Tapi kalo belum waktunya dipaksa juga, yah…bisa nikmat sih, tapi tak senikmat yg sudah waktunya jatuh… #filosofiDurian

:: durian akan jatuh kalo ia sudah matang benar. Jadi kalo sampai skrg saya belum jatuh2 (ke pelaminan) itu artinya saya belum matang benar…… Wkwkwk…mulai ngaco!!  #filosofiDurian

:: makan durian kalau kebanyakan bisa bikin pusing, darah tinggi, atau mabuk. Sebenarnya bukan salah duriannya sih, tapi salah kebanyakannya. Segala sesuatu kalau kebanyakan mmg gak baik, secukupnya saja lah yaa….  #filosofiDurian

:: berhubung sudah ngantuk, #filosofiDurian-nya cukup dulu.. Kalau ada yg nambahin, boleh.. Kalau besok nemu lagi, tambahin lagi…. Mengawali 12.12.12 dengan durian… Yumm…kangen durian & teman makan durian.. *eh*

Begitulah celotehan saya tadi pagi (tengah malam). Tentu saja itu tidak bisa dijadikan rujukan, wong cuma ocehannya botjah galau yang lagi galak kangen durian. Apakah di rumah sudah musim durian? Ayo makan durian rame-rame…!!

makan duren rame2

 

Salam duren mania,

yustha tt

Bebek Goreng Mbak Titik ^_^

Konon, terapi galau itu salah satunya dengan menulis. Saya lagi galau nih, habis marah-marah sendiri. Untungnya marah-marah sendiri ya, coba marah-marah bareng, pasti jadi rame. Hehe… Untungnya juga gak ada siapa-siapa di kamar, jadi gak ada yang tahu. Sekarang jadi pada tahu deh karna saya tulis (nah, kelihatan galaunya kan? wkwk…. :mrgreen:). Tapi karna saya tahu diri saya sendiri (kadang gak tau juga sih 😛 ), jadi saya tahu juga apa yang bisa saya lakukan untuk meredam marah dan mengatasi galau saya. Gak mau kan hari berantakan cuma gara-gara kesal. Cepet-cepet disingkirkan dengan segala cara. Inhale-exhale pastilah. Minum air putih juga iya. Cuci muka, basahi kepala dengan air dingin (kalau di Muslim ‘wudhu’) juga he’em. Itu cara-cara paling mudah yang bisa dilakukan siapa saja untuk meredam bara di kepala. Habis itu…silakan dengan cara kalian masing-masing. Hehe…..

Salah dua cara mengatasi marah dan galau adalah dengan MAKAN. Hahaha….iya betul. Jangan-jangan itu emosinya gara-gara lapar. Bisa jadi lho. Habis makan siapa tahu galaunya hilang. Nah, biar lebih mantab, makannya makanan yang dimasak sendiri. Dijamin deh galaunya makin cepat hilang, karna apa, karna kita jadi beraktivitas dan lupa sama si galau. Hehe….analisa dari tukang galau yang suka masak :mrgreen:. Sini-sini saya bagi resep masakan yang uenak banget, yang beberapa waktu lalu saya masak dan berhasil menghabiskan nasi tiga piring!! Ups! Ini laper apa maruk? :mrgreen: Saya kemarin masak BEBEK GORENG dengan SAMBEL BAWANG. Ya..ya…pasti ada yang bilang: ih, itu kan mirip bebek gorengnya Pak S****t. Iya sih. Tapi sebenernya ya, sebelum dia tenar, saya udah lebih sering makan pakai sambel bawang. Emang sih lauknya bukan bebek goreng, tapi tempe goreng atau kadang cuma nasi doang. Eh, beneran lho, saya sering makan pakai sambel bawang doang jaman kecil dulu. Gak pernah takut kekurangan gizi tuh, toh di hari lain Ibu memasak sayur hasil kebun/sawah. Daun singkong lah, genjer lah (ada yang tahu daun genjer?), buntil lah, daun kates lah, mbayung, dll dkk. Jadilah saya sehat seperti sekarang.

OK..OK..saya memang suka bersayap kemana-mana kalau nulis. Yuk kembali ke dapur. Pertama-tama, siapkan bahan-bahannya untuk bikin bebek goreng.

Bahan:

Bebek (tentu saja). Kemarin saya beli ‘Peking duck’ seberat 1.6kg, tapi cuma saya pakai setengahnya.
Daun sereh 1 aja, dimemarkan (karna kemarin punyanya tinggal daunnya bukan pangkalnya jadi langsung saya masukkan beberapa daun)
Daun salam 2 lembar,
Lengkuas 2 cm, memarkan
Air 800ml atau secukupnya

Bumbu halus:

Bawang merah 6 siung
Bawang putih 4 siung
Kemiri 3 butir
Kunyit 2 cm
Jahe 2 cm
Merica bubuk
Gula pasir
Garam

Cara membuatnya:

1. Potong bebek sebesar sesuai selera. Pas buat makan lah ya, jangan besar banget jangan kecil banget.
2. Masukkan air, bebek yang sudah dipotong-potong, daun salam, daun sereh, lengkuas, dan bumbu halus.
3. Masak hingga air menyusut hampir habis dan bebek empuk. Angkat & tiriskan.
4. Goreng hingga kecoklatan. Tidak perlu lama-lama karna bebek sudah empuk.
5. Angkat, tiriskan, lalu sajikan dengan lalapan dan sambel bawang..

Nah, bagaimana membuat sambal bawangnya? Gampaaang banget. Siapkan bahannya:

1. cabai rawit 9 buah (kata Bapak, kalau cabainya ganjil bakal lebih pedas, haha….)
2. bawang putih 1.5 siung (hehe…soalnya cabai Indonesia kan pedas ya, kalau pakai cabai sini kemarin saya pakai 1 siung saja)
3. garam secukupnya

Caranya:
1. Haluskan bahan-bahan di atas, diuleg di cobek lebih mantab.
2. Guyur dengan minyak panas bekas menggoreng bebek tadi.
3. Sajikan.

Hummm…..menulis ini saja saya sudah kemleceren lagi. Duh…duh….apalagi kalau liat gambarnya ya? Haha….monggo dinikmati…

Silakan dicoba. Jangan salahkan saya kalau tiba-tiba nasi satu bakul langsung habis ya. Hehehe….

 

Salam yummy,

yustha tt

 

—-
#masih galau, Tik?
Apa?! Galau?! Sudah lupa tuh… ^_^

Terima kasih

Budaya mengucapkan terimakasih sudah jadi warisan yang sangat bernilai dari nenek moyang kita. Di mana tempat ada kata atau bahasa tubuh yang bermakna terimakasih.

Ada satu cerita tentang terimakasih yang baru saja aku alami hari minggu kemarin. Ceritanya waktu itu aku dan teman-teman kantor datang ke pernikahan seorang rekan. Kami membawa peta menuju rumah mempelai. Namun karena daerahnya sedikit sulit maka beberapa kali kami hentikan mobil dan bertanya pada penduduk kampung tempat resepsi yang kami tuju. Setiap kali teman yang bertanya kembali ke mobil, secara spontan aku tanya: “Udah bilang terimakasih belum?”. Berkali-kali aku spontan menanyakan pertanyaan yang sama. Sampai suatu ketika temanku turun lagi untuk bertanya, dan saat kembali ke mobil dia sudah laporan: “Aku sudah bilang terimakasih”. Hehe, rasanya sudah melakukan kesalahan kalau lupa mengucapkan terimakasih. Tidak terlalu sulit mengucapkan terimakasih, tapi kadang kita melupakannya. Padahal satu kata saja sudah membuat orang lain senang dan merasa berharga. 😉

——————————–

Tulisan lama, 14 Mei 2008, yang pernah diunggah di blog multiply saya. Saya masih menggunakan kata ganti ‘aku’. Penulisan terima kasih pun masih salah yaitu ‘terimakasih’, yang benar ‘terima kasih’.

Terima kasih sudah membaca :).