[15HariNgeblogFF2#day6] Sehangat Serabi Solo

“Iya, ini sudah mau berangkat. Nanti aku pakai kereta Prameks1 8.30. Aku turun Purwosari saja ya, supaya kamu tidak kejauhan jemputnya. Jangan lupa bawa helm.”

“Ya, Mas. Hati-hati ya.”

Barra menstater motornya dan melaju menuju stasiun Tugu Jogja. Hari ini dia dan Kayla berencana mencari kain batik di Pasar Klewer Solo untuk sarimbitan yang akan dipakai di pernikahan sepupu Kayla bulan depan. Dititipkannya motornya di stasiun dan dia berangkat ke Solo dengan kereta Prameks. Kayla memang tinggal di Solo, sementara Barra di Jogja. Jarak mereka hanya satu jam perjalanan saja menggunakan kereta atau dua jam dengan sepeda motor. Tiap Sabtu atau Minggu biasanya Barra akan ke Solo mengunjungi Kayla. Atau jika Barra sedang punya banyak kesibukan, Kayla-lah yang mengalah menjenguk Barra. Mereka ringan saja menjalani hubungan yang sudah terjalin sejak….ah sejak kapan tepatnya mereka sendiri tidak mengerti. Mereka telah lama saling mengenal, kemudian semakin dekat dan akhirnya berpacaran. Tepatnya kapan tanggal ‘jadian’ itupun tidak mereka ingat lagi. Ya sudahlah, yang penting mereka serius menjalin hubungan karena beberapa kali orang tua Kayla menanyakan tentang keseriusan Barra, Barra selalu berjanji akan serius menyayangi dan menjaga Kayla, meski sampai saat ini belum juga berani menyebut kapan akan menikahinya.

Kayla telah menunggu di luar stasiun saat kereta Barra tiba. Diciumnya tangan Barra dan mereka segera menuju tujuan mereka. Berboncengan motor dari stasiun Purwosari menuju pasar Klewer tak memakan waktu lebih dari 5 menit. Setibanya di Klewer, mereka mulai memilah milih kain batik yang cocok untuk mereka berdua. Tak mudah menemukan yang sesuai selera. Kadang yang Kayla suka, Barra kurang sreg. Begitu sebaliknya. Mereka menyusuri Klewer, berjalan berdua, tetapi tanpa bergandengan tangan. Kayla memang tidak suka menunjukkan kemesraan di muka umum. Berbeda dengan Kinar yang sedikit cuek meski tetap sewajarnya. Ah..mendadak Barra teringat Kinar yang baru ditemuinya beberapa hari lalu di Bandung. Perasaan bersalah menelusup di hati Barra. Gadis itu tak tau apa-apa. Sesungguhnya niatnya menemui Kinar di Bandung sekaligus untuk mengakui semuanya pada Kinar, membuka rahasia yang disimpannya dari Kinar beberapa waktu ini. Tetapi apa daya. Melihat senyum Kinar, sorot penuh rindu di mata Kinar, dan rona bahagia di wajahnya, Barra tak mampu. Bahkan dia pun tak mampu berdusta bahwa ada rindu di hatinya untuk Kinar dan ada bahagia di relung terdalam melihat raut bahagia Kinar.

“Yang ini gimana Mas?” Kayla mengagetkan lamunan Barra.

“Nah! Ini aku suka Dik. Motif ini adalah motif untuk pemuda seperti kita yang masih terus belajar. Warnanya juga aku suka. Ambil yang ini saja.”

“Nggih Bu, mundhut ingkang menika, Bu.2” Kayla membayar dan menerima kain batik mereka.

“Pulang?”

“Aku pengen serabi, Mas. Nyari serabi dulu yuk.”

Kayla sudah punya langganan serabi di seputaran pasar Klewer ini. Maka tak perlu waktu lama untuk menemukan penjual serabi. Sesampainya di penjual serabi, Kayla memesan serabi sementara Barra menunggu di tempat duduk yang disediakan. Beberapa saat menunggu,  ttrrrrttt…..handphone Barra bergetar. Ditengoknya nama di layar. Nomor tak dikenal. Ah, ini pasti Kinar yang menelepon menggunakan layanan voip. Sepertinya Kayla masih lama, Barra pun memutuskan mengangkatnya toh biasanya Kinar tak pernah lama kalau meneleponnya.

“Selamat hari Minggu, Mas. Lagi di mana dan sedang apa?” Seperti kereta Kinar bertanya, dengan nada renyah seperti biasanya.

“Ndak sedang ngapa-ngapain. Lagi di rumah aja. Gimana kabarmu?” mungkin sekedar basa basi atau menutupi sesuatu dari Kinar.

“Puji Tuhan baik, Mas. Sudah kembali lagi dengan tugas-tugas ni… Mas gimana ker…”

“Serabi dataaang! Selamat menikmati, Mas.” seru Kayla memotong pembicaraan Barra dan Kinar. Barra buru-buru menutup telpon Kinar tanpa memberi isyarat terlebih dahulu pada Kinar.

Di jauh sana, Kinar bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba teleponnya terputus? Siapa suara perempuan tadi? Kinar mencoba menelepon lagi, tetapi sampai berkali-kali tak juga mendapat jawaban dari Barra. Kinar merasa tidak tenang. Kinar merasa ada yang disembunyikan Barra darinya. Kinar merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Barra. Kinar merasa…..ah…tak terasa air mata mengalir di pipi Kinar. Hangat. Sehangat serabi yang tengah Barra dan Kayla nikmati…

—————————————————

1) kereta Prambanan Ekspress

2) Iya Bu, beli yang ini.

Word count: 632

6th day of #15HariNgeblogFF2


[15HariNgeblogFF2#day5] Sepanjang Jalan Braga

Juni 2011

“Paper Anda diterima untuk dipresentasikan pada Konferensi Pendidikan Matematika, 5 Juli 2011, di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.”

Kinar masih terpana membaca email yang diterimanya barusan. Jadi… Jadi papernya diterima dan dia bisa ikut konferensi di Bandung, yang artinya dia bisa pulang dengan biaya dari kampusnya? Jadi? Ini beneran? Sesaat kemudian Kinar menyadari bahwa yang dibacanya barusan memang benar dan dia tidak sedang bermimpi. Dia melonjak kegirangan dan buru-buru membuka aplikasi voip di komputernya untuk menelpon Barra, kekasihnya

“Puji Tuhan, Masss… Puji Tuhan paperku diterima. Aku bisa pulang Masss…!!” tak sabar Kinar mengabarkan berita bahagia ini pada Barra.

“Wah, Puji Tuhan. Jadinya kapan?”

“4 & 5 Juli, Mas. Tapi sayang aku tidak bisa pulang ke Jogja. Jadwalnya padat dan aku cuma dapat izin dari kampus ngepas dengan jadwal. Kalau mas ada waktu dan bisa izin dari kantor, mas yang ke Bandung yaa..”

“Iya, nanti diusahakan.” Barra menjawab datar saja. Kinar menangkapnya. Tetapi buru-buru ditepisnya, dia tidak ingin kebahagiaannya terganggu.

Sudah satu tahun sejak kepergian Kinar ke Jepang untuk study, Kinar belum pernah bisa pulang ke tanah air. Dan melalui konferensi semacam ini, Kinar bisa pulang dengan support dana perjalanan dari kampusnya. Betapa bahagianya Kinar, bisa menghirup udara tanah air lagi, bisa bertemu dengan Barra lagi, harapannya.

Juli 2011

“Selesai jam berapa?” pesan singkat mendarat di handphone Kinar. Beruntung Kinar tetap mengaktifkan nomornya meski berada di luar negeri, sehingga ketika dia kembali ke tanah air, Barra bisa mudah menghubunginya.

“Jam 4, sebentar lagi. Sudah sampai mana?”

“Sudah sampai. Sekarang sedang jalan-jalan di Jalan Braga. Nanti kujemput di hotel ya.”

“Ndak usah. Nanti kususul ke Jalan Braga saja, kebetulan aku juga ingin beli oleh-oleh untuk teman-teman di sana. Maaf ya mas harus nunggu. Jalan-jalanlah dulu.”

Pukul 4 kegiatan selesai. Kinar mengemasi barang-barangnya dan kembali ke hotel. Berganti baju dan segera menuju ke Jalan Braga. Sudah tidak sabar dia bertemu Barra. Ah, seperti apa Barra sekarang, setahun tidak bertemu. Tapi pasti masih manis seperti dulu. Hanya sepuluh menit saja dari hotelnya di Jl. Setiabudi sampai ke Jalan Braga menggunakan taksi. Kinar mencari sebuah kafe steak yang tadi disebut Barra untuknya bertemu.

“Mas, aku dah sampai di depan kafenya. Keluarlah.”

Sesaat kemudian Barra muncul dari dalam kafe. Kinar ingin sekali menghampur ke pelukan Barra. Oo tidak..tidak..lakukan yang biasa saja atau Barra akan mengira kamu telah diracuni budaya barat. Lho, Jepang kan di timur kenapa bisa jauh ke barat? Kinar mencium tangan Barra seperti biasa ketika mereka bertemu ataupun berpisah. Mereka makan di kafe tadi dan melanjutkan jalan di sepanjang jalan Braga.

Kinar menghujani Barra dengan ceritanya. Betapa rindunya Kinar pada Barra. Berbeda rasanya bercerita melalui email/facebook atau telepon dengan bercerita sambil bertatap muka begini. Mereka berjalan bergandengan dengan Kinar di sisi kiri seperti biasa. Barra pun menceritakan kesibukannya dan banyak persoalan yang dialaminya. Kinar sedih tak bisa banyak membantu Barra karna jarak yang memisahkan mereka. Tapi Barra pun memakluminya. Rrrttt…handphone Barra bergetar. Barra hanya melihat nama yang muncul di layar lalu memasukkan handphonenya lagi ke kantongnya.

“Siapa mas? Kenapa ndak diangkat?”

“Ndak papa, biasa. Sudah, ayo jalan lagi. Ambil foto gedung itu lho, arsitekturnya bagus.” Barra mengalihkan perhatian.

Dan sepanjang Jalan Braga mereka berdua berbagi rindu, sampai Kinar mengantar Barra ke stasiun karna dia harus kembali ke Jogja malam itu juga.

Juni 2012

Jalan Braga semakin ramai saja. Kafe steak itu masih ada di sana dan semakin ramai pengunjung. Pelukis jalanan juga masih ada di sana mewarnai dan menjadi pemandangan yang indah sepanjang jalan. Kinar menyusurinya. Sendirian. Kini bukan dalam rangka konferensi, dia sudah selesai study dan sudah kembali ke tanah air 2 bulan yang lalu. Kebetulan ada riset yang dilakukannya di Bandung sehingga dia kembali ke kota ini lagi.

Jalan Braga. Baru setahun yang lalu disusurinya bersama Barra. Tapi kini tidak lagi. Kinar telah menerima kenyataan Barra tak lagi miliknya. Pastilah perempuan itu lebih baik dari Kinar dan bisa memberikan apa yang tidak bisa Kinar berikan untuk Barra.

Mendadak hati Kinar berdesir. Ah, Kinar benci merasakan ini, tapi seringkali ia tak dapat mengelaknya. Tapi tak apa Barra, bahagialah dan tak usah risaukan aku. Jangan khawatir, aku akan menemukan lagi seseorang sepertimu. Someone like you, ah..hopefully better than you :). Bisik Kinar pada hatinya.

——————

Word count: 680

Diketik di jalan menggunakan HP.

[15HariNgeblogFF2#day4] Kerudung Merah

Angin berhembus perlahan meniup lembut ujung kerudung abu-abu yang kukenakan. Tangan kananku masih kau genggam, aku membiarkannya saja, tanpa kueratkan genggaman pun tanpa hendak kulepas. Matamu memandang ke depan, pada kilauin air danau Toba ini. Aku lebih tertarik memandang ke sisi kiri, beberapa orang membersihkan enceng gondok yang mulai banyak tumbuh di kawasan danau Toba. Indikator kerusakan ekosistem, katanya. Ah, usaha mereka patut dihargai, membersihkan tanaman pengganggu demi kestabilan ekosistem. Memang yang mengganggu-mengganggu begitu perlu dibasmi!

“Dik, mikir apa kau?” ah…kamu merusak imajinasiku yang sudah sampai di ubun-ubun.

“Tidak Bang, lihat orang-orang bersihkan enceng gondok saja.”

“Oh… Eh Dik, sebentar lagi anniversary hubungan kita, kau mau kado apa dari Abang?”

“Kerudung merah, Bang.” kamu nampak bingung dengan pilihanku. Entah bingung, entah terkejut.

“Wah, sejak kapan kau suka warna cerah?”

“Sejak beberapa hari yang lalu, Bang. Sejak Abang bosan dengan kemonotonanku. Sejak Abang menginginkan warna warni dalam dunia Abang tapi tidak bisa didapat dariku. Sejak Abang mencari wanita lain yang lebih berwarna, lebih gaul, lebih modis dari aku.”

Suaraku berdinamika cressendo, makin lama makin meninggi. Emosiku sudah tak tertahankan. Gondok si leher yang kutahan-tahan beberapi hari ini kulepaskan. Merah mataku dan air mata menggenang di keduanya. Sebelum kamu sempat mempertanyakan kebingunganmu, kusodorkan MMS dari kawan yang memuat foto dirimu dengan gadis berkerudung merah sedang jalan berdua. Tampak serasi, tampak mesra meski tanpa gandengan tangan. Aku bersiap-siap membantah setiap alasannya.

“Hahahaha…..” lah? malah tertawa “jadi kau cemburu sama Rani, Dik? Ini Rani, Dik, yang kemarin dulu Abang bilang mau berbulan madu ke sini sama suaminya. Ah kau.. Ini pun ada suaminya. Teman kau cuma motret Abang berdua saja, padahal ada suaminya ini di sampingnya. Waktu itu kau sedang ada tugas ke Jawa, tak bisa ikut temani mereka jalan-jalan di sini.”

Jiaaah..malunya aku, mencemburui kakak Rani. Pipiku meremang merah, semerah kerudung yang dikenakan kak Rani.

—————————————-

Word count: 311

Ternyata bikin FF ‘mendadak’ itu syuuuliiitt.. Dikasih waktu 24 jam dengan tema dan setting yang ditentukan. Alamak…sulit kali pun. Tapi seru juga, musti searching-searching dulu lah kita. Jadi tahu tentang lokasi-lokasi setting cerita. Besok (eh, nanti) musti ke Bandung, jalan-jalan di jalan Braga. Siapa mau usul cerita? Hehehe…..

4th day of #15HariNgeblogFF2

[15HariNgeblogFF2#day3] Jingga di Ujung Senja

Yang kupunya hanyalah rasa, tersimpan rapat di relung hati, mungkin telah mengristal di endapan sunyi. Meski yang kauberi hanyalah bayang, nyanyian rindu yang adalah pelukanmu, canda tawa yang adalah kecupanmu, dan doa-doa yang adalah genggaman tangan yang menguatkanku. Kita percaya pada takdir. Kita percaya kita tak bisa mengontrol jalan takdir. Yang kita bisa hanyalah berserah, berpasrah padanya, dan mengusahakan semampu kita.

Matahari menitipkan jingga pada langit, senja menjelang. Sunyi kembali menyergap ruang hati. Rindu telah tak bisa kuhitung lagi. Dan senja adalah pertemuan kita. Pertemuan di bawah langit yang sama.

“Kau tau siapa yang mewarnai jingga di ujung senja itu?” katamu suatu ketika.

“Siapa?”

“Kita. Ketika kita membiarkan senja apa adanya, kita bahkan telah mewarnainya.” dan kita kembali sunyi, menikmati senja bersama. Senja kita masing-masing, di bawah langit yang sama.

“Selamat berbuka puasa, Sayang.” katamu di masa yang lain.

“Iya, Sayang, sebentar lagi. Di situ sudah maghrib? Selamat berbuka ya. Semoga puasa hari ini barokah.” kataku dalam perih.

Palembang – Jogja itu jauh, Sayang. Ketika kamu telah membasahi kerongkonganmu setelah seharian kering, aku masih menunggu beberapa saat lagi. Palembang – Jogja itu jauh, Sayang. Jauh. Semakin jauh. Dan air mataku terjatuh.

“Sudah gelap Ran, ayo pulang.”

“Iya…”

Kutaburkan bunga yang kugenggam ini di sungai Musi. Berharap harumnya sampai padamu. Mungkin akan menjadi bunga terakhir yang kukirim padamu bersama sebait sajak sepi. Bacalah bersama malaikat-malaikat di sorga yang kini menemanimu. Telah tiba saatnya aku mengubur kenangan tentangmu, kamu yang tidak akan pernah lagi kembali untuk bersama menikmati senja, di bawah langit yang sama. Lalu akan kusambut pagi, bersama dia yang mengajakku pulang. Pulang ke rumah jiwa, tempat aku kembali dari mana saja. Selamat tinggal senja.

Senja melenggang tanpa sepatah kata
Tak sisakan jingga berhias kilau sedikit saja
Lalu tanggallah lelah itu di sudut dengan setitik perih
Biar merata dengan fatamorgana, tepisku

Senja melenggang semakin jauh
Merentang jarak tak kasat mata dan sia-sia
Lalu tanggallah segenggam asa yang tertanam
Biar layu sebelum menuai sekotak narasi

Senja itu ada di sudut mataku
Senja itu ada di tiap inci kulitku
Senja adalah nafas yang pernah kamu tiup
Segenggam butiran kopi
Sejumput keinginan untuk berkata
Senja adalah rasa
Senja adalah kamu
Senja adalah aku
Senja adalah kita

Selamat tinggal senja..

————————————————————–

Word count: 354. 

Puisi by Catastrova Prima.

3rd day of #15HariNgeblogFF2

[15HariNgeblogFF2#day2] Pagi Kuning Keemasan

Kita bertemu di suatu senja di hamparan pasir putih Pulau Lengkuas. Kamu baru saja turun dari menara peninggalan Belanda itu, sambil mengamati hasil bidikanmu di atas sana. Sementara aku, tengah mengabadikan senja seusai menemani teman-teman dari Jakarta snorkeling di pulau ini. Pertemuan yang melanjutkan kita pada hubungan tak bernama melalui komunikasi maya.

Aku benci mencintai. Aku benci membiarkan benih rasa yang tak sengaja tertabur di ladang hati ini tumbuh. Karna aku tak mau saat dia telah kokoh tertanam, sesuatu memaksanya tercerabut dari hatiku. Sakit. Tentu saja. Begitupun denganmu. Aku tak mau jatuh cinta padamu. Apalagi kita hanya tersambung gelombang maya. Semu!

Gagal!

“Happy 4th anniversary…” katamu di sambungan telepon.
“Heh? Anniversary apaan?”
“Anniversary pertemuan kita di Belitung..”
“Halaaaah!! Ada-ada saja kamu iniiii!!”

Kenapa si kamu harus lucu, kenapa kamu harus jayus, dan kenapa kamu harus menjadi sosok yang menyenangkan meski hanya mampu kudengar, tak mampu kusentuh dan takmampu kuajak jalan-jalan? Kenapa? Jawablah supaya aku punya alasan sehingga aku gagal menjauhi hal yang kubenci. Mencintai. Sementara itu beberapa hari lalu dengan tanpa malu-malu kaukirimkan undangan pernikahanmu melalui pos ke alamatku. Arrrggghhh!! Tega!

Sore ini kuputuskan menyeberang ke pulau Lengkuas lagi. Aku ingin melarung rasaku padamu di sana. Pada saat senja, persis ketika kita berjumpa. Dan aku ingin menikmati pagi yang cahayanya memantul keemasan di lautan, berpadu mesra dengan pasir putih di pulau kecil ini. Pagi adalah awal. Ya. Aku ingin mengawali hidup baru tanpamu, tanpa pesan-pesan mayamu, tanpa perhatian-perhatian semumu. Tanpamu. Karna kau bukan milikku.

Tak ada penginapan di pulau kecil ini. Aku akan minta izin penunggu mercu suar untuk mengizinkanku menumpang tidur di pos jaganya. Atau kalau tidak, memasang tenda di tepi pantai sana.

“Permisi Pak, saya Rani, tinggal di Tanjung Binga, mau minta izin numpang tidur di sini bisa Pak?”

Bapak penjaga mercu suar yang tampaknya masih muda itu menoleh ke arahku. Tubuhku melemas seketika. Pingsan. Sejak kapan kamu jadi penjaga mercu suar di Pulau Lengkuas ini????

————————————————

Word count: 316

Yeah!! Another geje FF for the 2nd day of #15HariNgeblogFF2. 😀

[15HariNgeblogFF2#day1] Menunggu Lampu Hijau

Aku tahu ini sudah terlambat. Kamu sudah menungguku terlalu lama. Kaubilang “kutunggu sampai pukul 8 malam, kalau tidak…” dan tak ada kelanjutannya. Maafkan aku. Tetapi entah kebetulan apa yang membuatku selalu terjebak lampu merah begini. Dan menunggu lampu hijau dalam hitungan detik itupun terasa begitu lama. Arrrgghh….

Aku sudah berada di bawah jam gadang yang menjulang ini. Dan seperti dugaanku sebelumnya, kamu sudah tidak ada si sana. Arrrghhh! Dasar lampu merah sialan! Pasti Dera marah besar karna aku terlambat datang menemuinya, sampai-sampai dia meninggalkanku begini. Aku harus buru-buru minta maaf dan merayunya. Tunggu, akan kuawali dengan alasan keterlambatanku, lalu meminta maaf, lalu menawarinya ice cream sebagai permintaan maaf. Ah, OK, ini pasti berhasil. Dera pasti luluh dan kembali ke sini lagi menemuiku. Yak, ambil handphone, search nama Ayank Dera, call.

“Sayang, kamu di mana? Aku baru sampai, tadi terjebak lampu merah….” belum selesai bicara, Dera sudah menyambar saja.

“Aaaak, maaf terlambat Ay! Aku di perempatan terakhir, nunggu lampu hijau gk nyala-nyala nii…. Tunggu sebentar yaa…”

Rrrrr…

—————————-

Word count: 165

Jelas aja ini FF geje. Pengen ikutan #15HariNgeblogFF2 tapi kok gk ada ide. Telat pula. Jam 8 kan sudah ditutup submit linknya. Ah, sudahlah, yang penting ikutan. Belajar nulis fiksi. Susah bo’ 😀

Satria dan amerta

Senja mulai surut di cakrawala. Jingga itu, mereka bilang candikala, indah memburat di langit barat. Lelaki masih terpekur di tepi pantai, merenungi takdir yang tak menyatukannya dengan yang tercinta. Tidakkah kau takut Buta Kala menelanmu, wahai Lelaki? Bisikan itu menelusup di hatinya. Lelaki bergeming. Dari arah laut seorang perempuan berkain putih mendekatinya. Lelaki merasakan udara tiba-tiba menjadi sangat dingin. Siapakah perempuan ini?

“Apa yang mendukakanmu, hai Lelaki? Ceritakan padaku luka hatimu. Aku bisa menolongmu.”

“Siapa kamu?” Lelaki merapatkan kain yang membalut tubuhnya, dingin semakin terasa. Tiba-tiba bisikan tadi terdengar lagi. Apakah dia Buta Kala yang mewujud menjadi perempuan cantik?

“Hahaha….mengapa kau berpikir demikian? Tenangkanlah hatimu. Aku tidak akan mencelakaimu. Aku akan menolongmu.”

Lelaki terkejut. Bagaimana perempuan ini bisa tahu apa yang dipikirkannya. Jangan-jangan ia tahu pula apa yang menimpanya, apa yang sesungguhnya terjadi padanya, dan apa yang diharapkannya. Lelaki tidak berani melanjutkan pikiran-pikirannya. Ia takut perempuan itu akan membacanya.

“Jadi kau tidak mau menceritakannya? Baiklah, aku pergi.” Perempuan itu bangkit dan melangkah, tetapi dengan spontan Lelaki meraih tangannya dan mencegahnya pergi.

“Tunggu!!” Bulu kuduk Lelaki meremang. Tangan yang dipegangnya begitu halus, ia seperti sedang menyentuh kain beludru.

“Aku hanya ingin bisa bersatu dengan perempuanku. Tetapi takdir tidak menyatukanku dengannya. Bisakah kau membantuku, menyatukan kami di kehidupan kedua?”

“Minumlah ini, amerta, minuman keabadian para dewa. Kau akan bertemu dengannya di kehidupannya yang kedua. Semoga saat itu takdir menyatukan kalian berdua.”

Lelaki menatap botol kecil di genggamannya. Dia tak pernah tau cairan ini sebelumnya. Cairan keabadian? Akan mempertemukannya dengan kekasihnya di kehidupan kedua? Berbagai pertanyaan berpusar di kepalanya.

“Terimaka…” dan Lelaki kembali terkejut. Perempuan itu sudah lenyap entah ke mana.

***

“Arini, bertahanlah…” Satria menggenggam tangan Arini -istrinya- yang tak bereaksi apa-apa. Selang-selang di tubuhnya, bunyi perekam denyut jantung yang semakin perlahan, semua tampak tak menunjukkan harapan.

“Aku sangat mencintaimu, Arini…”

Aku juga sangat mencintaimu Satria. Sejak pertama bertemu, aku merasa telah lama mengenalmu, dan aku langsung jatuh cinta padamu.

“Mengapa takdir begitu kejam kepadaku? Ratusan tahun aku menunggumu tetapi hanya 3 tahun kita ditakdirkan bertemu dan hidup bersama.”

Apa maksudmu Satria? Apa maksudmu dengan “ratusan tahun”? Aku tidak mengerti.

“Akan kuceritakan sebuah rahasia padamu, Arini. Kita, di kehidupan yang lalu, saling mencintai. Tetapi takdir tak menyatukan kita. Kamu adalah istri kakakku. Lalu di suatu senja aku bertemu dengan seseorang, mungkin dia utusan langit, yang memberiku air suci amerta, air keabadian yang menjadikanku tak pernah mati. Lalu kau datang lagi Arini. Kita akhirnya bisa bersama di kehidupan saat ini. Jadi….tolong jangan pergi Arini…..” suaranya parau bercampur tangis.

Satria….

Air mata mengalir di sudut mata Arini. Tubuhnya tetap tidak bergerak. Denyut jantungnya semakin melemah…melemah….gelap…

***

Ini adalah senja ke-empatpuluh yang Satria habiskan di tepi pantai sejak kematian Arini. Dia menanti perempuan berkain putih itu datang lagi. Tetapi hingga gelap datang, tak pernah didapatinya perempuan bertangan halus itu.

“Wahai dewi, berikanlah padaku penawar amerta-mu. Aku ingin bersama kekasihku di surga. Aku ingin keabadian di sana. Berikanlah penawar amerta-mu!!”

Setiap hari diteriakkannya permohonan itu. Tetapi perempuan itu tak pernah datang. Ia sedang menari bersama Arini di surga. Sesungguhnya ia hanya menolong Arini bertemu lagi dan bersatu dengan kekasihnya. Tetapi bukan menolong lelaki itu.

***
**
*

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

#FF 519 kata