1 Januari 2013

Selamat tahun baru 2013!! Apa resolusimu? (kenapa ya setiap tahun baru kata ini begitu populer?) Anyway  saya menghabiskan 1 Januari 2013 kebanyakan di jalan (dari kemarin di jalan terus perasaan :P). Dari pergantian tahun hingga saat saya mengetik ini, ada banyak kejadian untuk saya.

Jalan-jalan di Tokyo

Dari hari Sabtu, saya dan teman-teman berangkat ke arah Tokyo. Tentang perjalanannya, nanti dibuat postingan terpisah. Postingan ini untuk yang tanggal 1 Januari 2013 saja. Hehe…. Menjelang pergantian tahun, kami berjalan dari Harajuku yang terkenal dengan Harajuku style-nya itu, ke Shibuya station yang ada patung Hachiko-nya itu. Sepanjang perjalanan dari Harajuku ke Shibuya, saya menemukan ‘sisi lain’ Jepang yang tidak saya temui di ‘kampung’ saya, Tokushima sana. Ternyata ‘ketidakteraturan’ pun ada di sini. Sampah, vandalisme, tuna wisma, bisa saya temui di Tokyo, yang mana di Tokushima hampir tidak pernah saya temui.

Sampai di Shibuya, sudah banyak orang dan juga polisi. Tapi saya sempat juga berfoto dengan patung anjing penurut Hachiko. Semakin lama gelombang manusia semakin banyak. Kami, saya dan teman-teman, berdiri di pinggir jalan, di bagian pinggir dari kerumunan manusia itu. Di depan saya, polisi memasang pembatas. Di belakang saya, di bagian tengah kerumunan, ada sekelompok orang yang sepertinya mabuk, berteriak-teriak dan menari. Polisi di depan saya berdiri berjajar banyak sekali, membawa toa dan meneriakkan peringatan untuk menghentikan aksi kelompok di tengah itu. Tapi….kebanyakan mereka adalah orang asing (meski ada juga orang Jepangnya) yang mungkin tidak paham bahasa Jepang sehingga aksi tetap berlanjut. Mungkin juga karena mereka mabuk. Kami yang sudah kadung terjebak, sulit untuk keluar. Sampai akhirnya aksi mereka mengganggu orang lain karena mereka merangsek ke pinggir sehingga orang-orang terdorong dan hampir jatuh. Untung saya bisa berpegangan dengan pagar pembatas sehingga tidak jatuh. Lalu ada yang memanjat traffic light segala. Tapi pelakunya langsung diseret polisi. Kelompok ‘perusuh’ itu semakin membesar dan akhirnya keluar pagar memenuhi perempatan Shibuya. Beberapa masih dengan teriakan-teriakannya menaiki gedung di pinggir jalan. Polisi sebanyak itu pun kewalahan. Saya dan teman-teman akhirnya memaksakan diri keluar. Kami bertujuh (satunya terpisah) saling bergandengan keluar dari kerumunan. Dan….ah….lega…… meski kaki saya masih gemetar, karna dingin dan karna keder juga dengan yang rusuh-rusuh begitu. Fiuuuh…..malam tahun baru mau senang-senang, malah gemeteran. Tak ada kembang api, tak ada konser musik, tak ada terompet, tak ada count down, yang ada cuma mikir gimana caranya cepat-cepat keluar dari kerumunan masa ini. Hu.hu.hu…. Untunglah ada laki-laki di rombongan kami, jadi merasa aman. Yak, akhirnya kami kembali lagi ke Harajuku (tempat parkir mobil), jalan kaki lagi sambil bahas kejadian tadi. Sampai-sampai kami lupa mengucapkan selamat tahun baru kepada masing-masing kami. Haha….. Akemashite omedetou gozaimasu.. kotoshimo yoroshiku onegaishimasu….

Perjalanan pulang

Setelah ‘merayakan’ pergantian tahun, kami kembali pulang ke Tokushima. Di perjalanan, saya tidur. Pas bangun, ee…lihat gunung Fuji di belakang sana. Tapi mata masih belum bisa melek plus dingin, jadi saya cuma jepret sekali dari dalam mobil lalu tidur lagi. He.he.he… Bangun lagi pas dikasih tahu teman yang nyetir “Tik, langitnya bagus!”. Tau aja dia kalau saya penyuka langit. Tapi lagi-lagi saya cuma bangun sebentar, menikmati langit jingga keunguan, dan tidur lagi. Doh! Pas matahari mulai silau, saya bangun beneran. Lalu kami berhenti di rest area untuk cuci muka/wudhu, sholat, dan sarapan. Pas sarapan, di sebelah, si Tantri ngecek handphone dan ternyata ada pesan dari Rangga mengucapkan selamat tahun baru. Si Tantri jadi tersipu senang. Masalahnya beberapa hari yang lalu Rangga bilang gak mau menghubungi Tantri sampai batas waktu yang belum pasti. Ternyata nongol juga dia hari ini. Meski habis itu pasti ngilang lagi dia. Konsisten. Hmm… Tantri yang sok jaim, cuma membalas  dengan ucapan yang sama. Hahaha..geli saya….dua anak ini kek ABG tua aja…

Kami mampir ke Tarumi di Kobe untuk makan siang. Seperti biasa kalau akhir tahun pasti banyak SALE di mana-mana, termasuk di Tarumi. Dan saya… Saya tergoda SALE donk. Saya beli lucky bag. Apa yang kamu beli, Tik? Panci!! Haha…. Satu set panci J.A. Henckels plus pisau dapur, gunting dapur, dan 2 sendok sayur. Murah bo’.. namanya juga SALE. Satu set pancinya discount 50%. Masih ditambah pisau & gunting dapurnya, yang mana harga asli keduanya jadi 60% dari harga set panci setelah sale. (Hitung sendiri yak 😛 ). Pokoknya murah banget deh. (Pembenaran dari si korban diskon 😀 ).

Dari Tarumi, saya langsung minta pulang. Saya ingin sampai rumah sebelum pukul 19:00 WIB atau pukul 21:00 waktu sini, karena….

Pernikahan ponakan di rumah

Ponakan saya dari kakak pertama hari ini melangsungkan akad nikah. Ponakan saya ini usianya sepantaran dengan saya. Jadi dari kecil kami sudah sering main bareng, anak & cucunya Ibuk 😛 . Sedih sekali tidak bisa ada di sana untuk menyaksikan pernikahan mereka. Tapi gak papa, yang penting semuanya berjalan lancar di rumah sana. Sebelum akad nikah, saya sempat skype kakak kelima, yang kemudian handphone-nya diambil alih ponakan lain. Oleh si ponakan ini saya ‘dipertemukan’ seluruh keluarga yang berkumpul termasuk kedua mempelai. Wuu…terharu saya. Lalu saya putus dulu supaya nanti pas akad saya bisa mengikuti lagi lewat skype.

Laporan jalannya persiapan akad nikah datang dari siapa-siapa di rumah sana. Ya kakak, ya ponakan, ya ponakan ipar (jadi udah 3 orang ponakan saya yang menikah. Bulik’e kalah rek…). Nah, pas akad nikahnya, saya skype lagi kakak saya. Dan ternyata…. pulsa HP dia habis, Saudara!! Gak bisa untuk skype lagi deh. Jadilah saya cuma dapat cerita lewat whatsapp (karna di HP lain belum terinstal skype), gak bisa streaming mengikuti prosesi akad nikah. Hiks… Tapi lega juga setelah dengar semua berjalan lancar dan sekarang ponakan & ponakan ipar telah SAH sebagai suami istri. Puji Tuhan.

Kalau boleh cerita dikit, si ponakan yang nikah ini korban CLBK…cinta lama belum kelar *eh. Dulu jaman awal kuliah, mereka sempat pacaran, tapi kemudian putus dan si ponakan pacaran dengan cowok lain 5 tahun lamanya. Ternyata belum berjodoh dengan yang 5 tahun, akhirnya harus berakhir. Nah, si ponakan ipar pun mendekat lagi, pacaran lagi dan akhirnya….berakhir di pelaminan. Semoga selamanya ya… Menjadi keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah dan dikaruniai anak-anak yang sholeh/sholehah. Doakan bulikmu cepet nyusul yaa…. *teteup 😛 . Semoga resepsi besok berjalan dengan lancar, selancar acara hari ini. Amin.

Begitulah hari pertama saya di tahun 2013 ini. Macam-macam ya kejadiannya. Bagaimana dengan teman-teman? Semoga lancar jaya semuanya ya…

Salam saya,

~Tt

*buat pemanis postingan, saya kasih yang manis-manis 😛

hachiko

Takut Cantik

Postingan ini melanjutkan postingan saya kemarin yang bercerita tentang gigi palsu. Mungkin ini sedikit pelepas perasaan. Sebenarnya agak kurang cocok dipost di blog yang dibaca banyak orang, tetapi tak apalah, toh ini tentang saya sendiri, dan kalaupun ada seseorang, tidak akan saya sebutkan namanya :). Sebelumnya saya minta maaf dulu kalau postingan ini nanti menyinggung siapa pun. Saya hanya ingin berbagi, supaya terlepas apa yang seringkali masih muncul di hati.

Dari judulnya, apa yang terbayang oleh teman-teman? Bahwa saya takut cantik? Ya, demikian adanya. (Katanya takut cantik, tapi narsis gak ketulungan, hihi….). Jadi dulu saya pernah ditegur oleh seseorang dengan kalimat yang entah mengapa terngiang dan seringkali muncul ke telinga lagi. Intinya adalah bahwa saya melakukan banyak usaha untuk memermak diri supaya terlihat lebih cantik. Dengan memakai kawat gigi lah, dengan memakai kaca mata lah, dan lain-lain. Tentu saja tuduhan itu tidak benar. Saya memakai kawat gigi memang untuk estetika, tapi bukan semata-mata supaya kelihatan cantik. Saya memakai kaca mata memang karna mata saya minus. Saya bahkan lebih cantik tanpa kaca mata, menurut saya. Tetapi ternyata teguran itu mengena ke hati saya sehingga seringkali mengontrol sikap dan keputusan saya. Seringkali saya merasa takut untuk melakukan apa-apa yang nantinya bisa membuat saya tampak lebih cantik. Seperti ketika saya memutuskan untuk mencabut gigi saya dan memakai gigi palsu, teguran itu kembali terngiang-ngiang di telinga. Kamu cuma ingin cantik kan, Tik?! Dan hati nurani saya selalu menolak. Tidak! Saya tidak ingin jadi cantik. Tidak! Maka sebelum saya mendengar alasan-alasan kesehatan, bahkan yang lebih mengerikan ancaman kista dan kanker rahang, saya tetap bersikukuh tidak mencabut gigi saya. Saya biarkan saja gigi saya itu maju karna saya tidak mau melakukan perawatan hanya karena alasan estetika atau supaya terlihat cantik. (Tapi kalau dengan gigi maju pun saya tetap terlihat cantik, yaa….bagaimana lagi… #plak :mrgreen: ). Maka kalau membaca postingan saya tentang gigi, saya seringkali menegaskan bahwa usaha ini bukan untuk membuat saya jadi cantik. Ya, karna saya masih terngiang teguran yang membuat saya takut cantik. Hmm…nampak kekanakan sekali ya saya ini :(.

Tetapi saya mau cukupkan perasaan saya itu di sini, sekarang. Saya tidak ingin lagi dihantui oleh perasaan itu. Saya mau bilang di sini bahwa usaha apapun itu yang kita lakukan yang bisa membuat kita terlihat cantik tidak akan berarti apa-apa kalau hati kita tidak ‘cantik’. Yap. Komentar Bunda Monda dan teman-teman di postingan kemarin mengingatkan saya lagi akan hal itu. Saya mungkin takut cantik oleh apa yang terlihat mata, tapi saya tidak boleh takut cantik oleh apa yang terpancar dari hati. Seperti sahabat saya pernah bilang: “good looking makes you pretty but a great heart makes you beautiful”. Maka saya memilih menjadi beautiful daripada sekedar pretty.

Salam,
titik

#btw, ini postingan serius amat yak!! Hihihihi……

12.12.12 & keindahan melepaskan

Melepaskan sesuatu yang kita cintai memang tak mudah. Sangat tidak mudah. Bahkan ketika ia telah sejak lama harus kita lepaskan, tetapi seringkali rasa lebih menguasai keputusan kita. Akhirnya kita tetap berusaha untuk mempertahankannya, meski sesungguhnya melepaskannya adalah pilihan yang terbaik.

Sejak mengetahui kenyataan bahwa aku harus melepasnya, ada rasa yang kuat dalam hatiku untuk tetap mempertahankannya. Aku tahu itu bukan pilihan yang baik. Banyak masukan dari kanan kiri untuk segera melepasnya. Tapi aku tak juga rela. Berbagai cara kulakukan untuk mempertahankannya. Entah sudah berapa waktuku yang kubuang demi usaha itu. Yang pasti telah lebih dari 4 tahun. Entah berapa tenaga dan biaya yang telah kuhabiskan demi dia.Yang pasti lebih dari harga motor tua kesayanganku.

Tetapi percayakah kalian, bahwa ternyata cinta bisa berubah seiring waktu? Bisa. Percayalah, dia bisa berubah. Bisa semakin besar, bisa pula semakin pudar. Atau yang lebih nyaman didengar: semakin sadar. Dua tahun aku di Jepang. Selama itu juga aku belajar untuk memahami beberapa hal. Yang tadinya tak kuketahi, sedikit demi sedikit mulai terbuka. Aku pun berkonsultasi dengan beberapa ahli tentang masalahku ini. Dan aku mendapati kenyataan, dia telah lama tak jadi milikku sejak adanya perlakuan itu. Akhirnya, dengan sedikit memaksa, mereka menyarankan padaku untuk segera melepasnya.

Apakah aku langsung menuruti saran mereka? Ternyata tidak, Saudara-saudara. Entahlah, aku masih sayang untuk melepasnya. Sampai akhirnya aku bisa memutuskan bahwa memang inilah saatnya. Tanggal 21 November 2012 adalah hari di mana akhirnya kucabut gigi depanku tercinta :mrgreen:. Hahaha…iya, ini tentang gigiku yang maju itu. Dengan berbagai pertimbangan dan saran-saran dari dokter gigi di sini dan teman-teman dokter gigi di berbagai tempat, akhirnya kuputuskan untuk mencabut gigi depanku dan memasang gigi palsu. Sungguh ini pergumulan yang sangat panjang teman-teman, karna saya (balik lagi pakai kata ganti saya 😛 ) merasa gigi saya baik-baik saja. Saya masih sayang untuk melepas gigi asli saya. Tapi ternyata melepasnya itu lebih baik. Gigi saya itu sejatinya sudah lepas, cuma tinggal menunggu waktu saja supaya benar-benar lepas dari gusi. Dan memang benar, setelah dicabut, saya lihat bekasnya, ternyata yang tertempel cuma sedikit sekali. Pantas saja prosesnya begitu cepat, tidak terasa sakit juga setelah anestesinya habis.

Setelah dicabut, tentu saja saya jadi ompong. Tiap hari pakai masker deh saya. Bukan karna malu, tapi kasihan sama teman-teman kalau jadi takut lihat saya ompong. Hehe…. 3 minggu saya ompong. Itu foto saya pakai balon itu pas saya lagi ompong lho. Hihi…. Trus, tanggal 5 Desember adalah jadwal cetak giginya. Lalu tanggal 12 Desember 2012, gigi palsuku jadi dan dipasang. Horeee….saya bisa lepas masker!!! Haha….. Dan baru sadar kalau ternyata pas tanggal cantik saya jadi (tampak) cantik. Wkwk…

abaikan jerawatnya, fokus ke giginya aja :mrgreen:

abaikan jerawatnya, fokus ke giginya aja :mrgreen:

Puji Tuhan, setelah usaha habis-habisan memermak gigi saya, akhirnya saya menyerah dan mengganti saja giginya dengan gigi yang baru. Memang terlihat sedikit berbeda sih sebelum dan sesudah pakai gigi palsu. Tetapi saya selalu ingat bahwa kalau saya kelihatan lebih cantik, itu PALSU! Aslinya saya JELEK, OMPONG lagi!! Heuheuheu….. Tapi perawatan gigi ini bukan hanya untuk estetika saja, tapi juga untuk kesehatan jaringan gigi secara keseluruhan. Kemarin dulu sempat diceritani tentang kista di jaringan gigi kawan, wii…membayangkannya saya ngeri. Padahal saya sering abses di belakang gigi saya yang maju itu. Apa saya gak takut kalo nanti malah jadi inveksi dan kista? Hii…naudzubilah jangan sampai. Makanya, cabut adalah solusi terbaik./p>

Terima kasih banyak untuk Bapak Haisha (dokter gigi) di Naruto yang sudah merawat gigi saya (gak tau namanya). Terima kasih drg. Adel Ilyas yang sudah direpoti dengan konsultasi onlinenya. Terima kasih drg. Sapta Adisuka Mulyanto, drg. Trianna Wahyu Utami, drg. Meinar Nur Ashrin, drg. Asikin Nur, yang sudah direpoti dengan konsultasi offline dan bantuan bicara dalam bahasa Jepang dengan pak dokter gigi di sini. Terima kasih drg. Ari Indah & drg. Tri yang dulu pernah merawat gigi saya. Terima kasih semuanya. Satu lagi, terima kasih untuk seseorang yang selalu mengingatkan saya bahwa kecantikan saya itu PALSU! Haha…i will always remember, it’s only a mask on my face. Yeah… Tapi setidaknya saya punya kenang-kenangan yang dibawa pulang dari Jepang, yaitu gigi palsu made in Japan. Hahaha…..

Salam senyum,

Titik

Hidup adalah Keberulangan

Hidup adalah keberulangan. Dan percayalah, kamu tak pernah sendirian.

-self quote-

Setelah kemarin saya nulis tentang si Bagus, ternyata Teh Orin komen kalau dia punya kisah yang mirip-mirip sama cerita saya itu. Dan ini bukan sekali dua kali kita punya kejadian, permasalahan, kisah hidup, yang ternyata juga dimiliki oleh orang lain dengan sedikit saja perbedaan. See? Sebenarnya hidup kita ini adalah keberulangan. Apa yang telah terjadi dengan orang lain, mungkin sekali akan menimpa kita juga, hanya sedikit berbeda pada konteks dan waktunya saja. Intinya sih tetap sama.

Hari ini, si Dani (sok2an udah kenal lama, padahal baru kenal hari ini juga. Hihi…. :mrgreen: ) mbaca cerita tentang Yustha dan langsung mbaca cerita tentang Bagus. Dan oh my…ternyata ceritanya juga mirip. Kalau ini mah keberulangan yang agak bodoh. Lha keledai aja gak jatuh di lubang yang sama, lah kok kamu ngulangi kisah yang sama, Tik..Tik…

Anyway, saya cuma pengen bilang (sama diri saya sendiri), bahwa dalam setiap permasalahan hidupmu, kau tak pernah sendirian. Tak pernah sendirian yang mempunyai dua makna, yaitu bahwa selalu ada teman, sahabat, dan keluarga yang akan setia mendukungmu; juga dalam makna bahwa bukan hanya kamu yang mengalami hal demikian. Ada banyak orang di luar sana yang juga mengalami hal yang sama. Sama. Yang berbeda adalah sikap masing-masing kita menghadapinya. Mau seperti apa kamu menyikapinya, terserah kamu. Tetapi cerita berikutnya akan sangat tergantung pada bagaimana sikapmu itu. Dan percaya gak, bahwa semakin sering kamu diberi masalah, semakin baik kamu akan belajar, semakin matang kamu akan bersikap, semakin kuat pula kamu menjalani hidupmu. Percaya gak? Saya sih percaya :D. Jadi kalau kamu sedang dalam masalah, jangan bersedih dan terpuruk lama-lama ya, bersyukurlah karna kamu diberi kesempatan untuk belajar dan belajar lagi, menguatkan hidupmu lagi. Ya. Ya Tik ya (tadi kan lagi ngomong sama diri sendiri 😛 ).

Selamat malam, teman-teman. Apakah kalian juga sedang dalam ‘kelas’ permasalahan? Selamat ‘belajar’ yaa… ^_^

Luv u,

yustha tt

Perasaan yang amazing ituh..!!

Life is a tragedy for those who feel and a comedy for those who think.

Entah quote dari siapa itu, yang jelas pernah ditulis teman saya waktu mengomentari tulisan saya yang ini. Ya, cerita buka-bukaan saya tentang kisah kasih jaman SMA. Haha… Sekarang sih sudah bisa tertawa, tapi waktu merasakannya dulu, alamak….pedih! Aish..lebay :P. Pernah tidak sih teman-teman mengenang masa lalu kemudian tertawa sendiri mengingat kejadian-kejadian bodoh di masa lalu. Waktu kita menangis-nangis karna putus dengan pacarnya mungkin, atau waktu patah hati karna kasih tak sampai mungkin, atau yang lain-lainnya, di mana saat dulu kita begitu bersedih, menangis darah, terpuruk sedemikian rupa, tapi saat ini kita bisa menertawakannya. Pernah tidak? Dan postingan saya kali ini pun akan seperti itu. Haha….

Gegara postingannya Teh Orin tentang Gie, saya jadi ingat kejadian jaman dulu kala. Hihi… (nah kan, belum-belum sudah tertawa 😀 ). Gie meninggal di puncak Semeru karna menghirup asap beracun. Dia mendaki Semeru karna ingin merayakan ulang tahunnya di puncak gunung. Dan keinginan merayakan ulang tahun di puncak gunung tidak hanya dimiliki Gie. Adalah sahabat saya, sebut saya Bunga, yang juga memiliki keinginan serupa, merayakan ulang tahun di puncak gunung. Keberuntungan dimiliki oleh Bunga karna dia memiliki kekasih, sebut saja Bagus, yang adalah pecinta alam…mm..suka mendaki gunung lah. Dan Bagus ini adalah….. Jreeeng jreeeng…. Bagus ini adalah sahabat saya juga, yang celakanya, saya tipikal orang yang tresna jalaran saka kulina. Maka seperti dugaan Anda semua, saya kulina terhadap Bagus. Celaka yang kedua, saya juga tipikal orang yang memendam perasaan. Jadilah Bagus tidak tahu kalau saya kulina terhadapnya. Lagian kalau pun tahu juga belum tentu dia mau sama saya. Wkwkwk…. Pun Bagus sudah sering curhat tentang Bunga pada saya. Jadi saya tahu kalau Bagus naksir sama Bunga. Tahu banget lah, wong dia cerita. Hahaha…. Bisa dibayangkan ndak perasaan saya waktu itu? Orang yang saya taksir, curhat ke saya kalau dia naksir orang lain!!! Peeediiiih bangget khannn?! Hiks!! Hahaha…. Yah, singkat kata, mereka resmi pacaran. Bagus dengar dari teman saya yang lain kalau sebenarnya saya naksir dia. Bagus pun mengalami dilema… Halaaah…!! Dia tidak mau kehilangan sahabat sebaik saya #plak. Tapi dia juga bahagia akhirnya bisa berpacaran dengan gadis yang dicintainya. Saking dilemanya, sampai-sampai si Bagus ndak ngasih tahu saya kalau mereka sudah jadian. Wkwkwk…. Ingat itu saya ketawa lagi. Akhirnya Bagus pun menemukan waktu yang tepat untuk memberi tahu kabar bahagia itu. Yah…sebagai gadis biasa usia belasan, pasti sedih donk karna bakal ada yang berubah setelah itu. Ternyata Bagus juga sedih lho. Dia tidak mau kalau hubungan kami berubah karna dia sudah punya pacar. Dan waktu itu saya sok dewasa beibeh gitu deh. Sok-sokan bilang: hidup itu ndak ada yang langgeng mas, semua pasti berubah. Status mas sudah berubah, yang lain pun akan mengikuti. Sekarang mas sudah punya Bunga untuk berbagi beban. Kita terima saja perubahan itu. Cieeeh…sok banget kan gue…!! Xixixi… Padahal habis itu sayanya yang kerepotan mengatasi perubahan itu. Menjadi jarang ke markas, menjadi rajin belajar (haha..!!), menerima banyak tawaran mengajar, mencari pelarian, dan lain sebagainya. Sampai akhirnya Bagus datang lagi dan meminta persahabatan kami dikembalikan lagi seperti dulu. Ah…saya luluh deh. Akhirnya saya berusaha menguatkan hati untuk menerima kenyataan dan ikhlas serta tetap tersenyum. Oh…sungguh terpuji sikapmu, Tik #selfplak.

Balik lagi ke topik: merayakan ulang tahun di puncak gunung. Nah, hubungan kami sudah cair nih. Saya sudah balik lagi ke markas, sering bertemu dengan Bagus dan Bunga dan ngobrol bersama. Bunga juga sudah ndak merasa sungkan sama saya. Mereka berdua kadang datang ke kost saya dan kita ngobrol-ngobrol bertiga. Pokoknya sudah OK lah. Sampai kemudian Bunga mengutarakan keinginannya untuk merayakan ulang tahun di puncak gunung. Sebagai pacar yang baik, Bagus pun mengiyakan. Padahal Bunga belum pernah naik gunung tuh. Bagus mengajak temannya sesama anak PA untuk menemani. Nah, siapa yang bakal menemani Bunga? Masa’ Bunga manjat sama laki-laki semua. Ndak mungkin kan? Dan, saya pun menjadi yang terpilih untuk menemani Bunga mendaki gunung untuk merayakan HUTnya. Sesama pemula dalam urusan pendakian. Saya pun belum pernah mendaki gunung, Saudara. Dapat training singkat dari teman saya yang lain, ketua mapala di kampus, plus dipinjami perlengkapan mendaki. Haha…pokoknya waktu itu saya taunya tinggal berangkat. Segala backpack, isinya, bahkan celana buat mendakinya sudah dibereskan sama teman-teman saya anak mapala. Hahaha….sip kan gue.. :P. Dan pendakian pun dimulai.

Entah berapa kali kami berhenti untuk minum dan istirahat, tetapi kami tidak pernah menyerah sebelum mencapai puncak. Malam menghampiri, tetapi kami belum sampai pada puncaknya. Kami memutuskan berhenti, memasang tenda, membuat api, dan merayakan ulang tahun Bunga. Bunga tidak meniup lilin, tetapi meniup api yang membakar kayu api unggun. Haha..keren yak. Dan saya jadi fotografernya. Memotret prosesi tiup kayunya, juga kecupan di keningnya. Uhuuy.. Waktu itu kameranya masih model nginceng dari balik lensa. Jadi saya lama-lamain njepretnya, sok-sok belum dapat fokusnya. Huahahaha… Perasaanmu gimana Tik? Emm….campur aduk. Antara bahagia, haru, sekaligus secuil cemburu. Pokoknya amazing lah. Sulit dideskripsikan. Kalau sekarang saya menonton ulang film itu sih, saya bakal menepuk-nepuk punggung Titik muda sambil bilang: kamu hebat, Nak. Xixixixi…. Waktu turun, teman saya yang satu lagi, yang laki-laki juga mengelus-elus kepala saya sambil bilang hal yang sama. Haha….

Setelah istirahat, tidur sesaat, kami melanjutkan perjalanan lagi supaya bisa menikmati sunrise di puncak. Dan kami berhasil!! Aaaaah…..indah banget menikmati sunrise di puncak gunung… Menyaksikan awan bertumpuk-tumpuk di bawah sana.. Membayangkan itu kasur empuk dan kita bisa melompat jatuh di atasnya. Maha besar Tuhanku… Dua gadis yang baru pertama kali mendaki berhasil mencapai puncak. Kami berfoto-foto mengabadikan ‘keberhasilan’ kami. Perasaan Bunga pasti bahagia sekali. Lha wong saya saja bahagia. Dan ada perasaan yang amazing lagi waktu melihat mereka berdua bahagia seperti itu, seperti lega, bahagia, ah…entah apa lah itu namanya :).

Taraaaa….. FTV-nya sudah selesai. Hahaha…. Sepertinya cerita ini seru juga kalau dibikin FTV ya. Hmm…jadi punya ide untuk bikin skrip dan dikirim ke produser FTV. Hihihi….

Kok kamu berani nyeritain sih Tik? Gak papa, Bunga sekarang sudah menikah dan punya anak. Sedangkan Bagus sudah punya pacar juga. Lho, mereka pisahan? Yaa…jalan hidup kan tidak ada yang tahu. Tetapi yang jelas, sampai detik ini hubungan saya dengan Bunga dan Bagus masih sangat-sangat baik sekali. Bagus masih sering curhat sama saya, Bunga juga masih sering cerita-cerita tentang apa saja. Pacar Bagus pun kenal baik dengan saya. Hihi…sip kan? 😉

Teman-teman punya kisah sedih masa lalu yang sekarang bisa menjadi tawa tidak? Berani cerita? 😉

In memoriam: Boci (danBO keCIL)

Belum sempat kukenalkan pada teman-teman blog, Boci, boneka revoltech saya, sudah menghilang. 😦

Emak dan Boca (danBO beCAr) kangen sama kamu Nak..

Sore itu Boci dan Boca jalan-jalan berdua. Boci tampak sedikit murung. Boca tak tau kenapa. Sampai akhirnya Boci mengungkapkan keinginannya untuk berpisah dari Boca. Boca yang tidak tahu menahu permasalahannya pun terkejut.

“Boci, maksudmu apa???”

“Tidak ada masalah apa-apa di antara kita, Boca. Tapi aku harus pergi.”

“Tapi kenapa?”

“eMak akan pulang ke Indonesia. Aku akan ikut dengannya. Kita akan terpisah ribuan mil jauhnya Boca!”

“Tapi kamu kan bisa kembali lagi ke sini. Dan kita akan bersama-sama lagi Boci!”

“Entahlah Boca. Perasaanku mengatakan kita tak bisa bersama lagi…… Izinkan aku pergi Boca…”

Boci pun memeluk Boca lalu berjalan lurus memunggungi Boca yang tertunduk menahan sedih dan tanda tanya..

10 Juli 2012

Emak sedang menunggu pesawat yang akan terbang pukul 00.30 dini hari ketika membuka tas punggungnya dan mendapati Boci ada di dalam tas. Emak terkejut.

“Lho, Boci! Kamu kenapa ada di sini?”

“Boci mau ikut eMak ke Indonesia.. Boci pengen tahu tempat kelahiran eMak..”

“Weh…lha trus Boca gimana kamu tinggalin?”

“Boci udah pamitan kok Mak..”

“Oh..ya udah, diam-diamlah kamu di tas ya…!”

“Iya, Mak…”

20120730-233128.jpg
Waktu transit di Bangkok, Boci sempat heran sama bentuk atap sebuah gapura di bandara yang mirip sama rumah makan Padang. 

20120730-233455.jpgBoci juga sempat berfoto dengan sekawanan gajah. Katanya dipaksa Emak. Padahal sih Boci juga suka… Hihi…

20120730-233528.jpg
Waktu sudah di Indonesia, Boci diajaki Emak kumpul-kumpul sama teman ngeblognya. Wah…Boci jadi idola saat itu. Sampai-sampai eMak kikuk sendiri. Hehe….

Tuh kan, semua sayang Boci. Semua pengen punya Boci. Boci jadi tersanjung.

Boci pun ikut emak pulang ke Purworejo kampung halamannya dengan kereta. Tetapi entah di mana Boci menghilang. Ketika sampai di rumah, Emak tak bisa menemukan Boci di tasnya maupun di tas tangannya. Emak langsung lemas. Emak pun mencintai Boci seperti Boca mencintai Boci. Dan kini eMak dan Boca kehilangan. Hiks… 😥

20120730-233937.jpg
Lihatlah bagaimana Boca kehilangan Boci. Sampai-sampai Boca bilang akan tetap mencintai Boci bila esok tiba. Ah Boca….kamu seperti emak saja… (ups!)

20120730-234016.jpg
Boca menerbangkan rindunya bersama angin. Berharap sampai pada Boci. Boca berharap, siapapun kini yang merawat Boci akan mencintainya seperti emak dan Boca mencintai Boci.

Boci…kami merindukanmu. Baik-baiklah selalu yaa….. Semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi…

Berdoa di Facebook

Tadi pagi saya menulis status di facebook yang berisi doa. Ya, diawali dengan menyebut nama Tuhan, mensyukuri nikmatNya, memohon kepadaNya, dan diakhiri dengan mempercayai pengabulan doa olehNya: amin. Selesai menuliskannya, tiba-tiba teringat status salah satu teman yang bilang: “Kenapa si pada berdoa di facebook? Bukankah doa itu komunikasi pribadi antara kita dengan Tuhan? Tidak perlu orang lain tau kan?”. Deg. Saya terhenti.

Adakah teman-teman yang juga sering menulis status berupa doa? Bagaimana menurut teman-teman?

Salam.