Nada untuk Asa: Positif Menghadapi Hidup

Pagi tadi seorang teman mengirim pesan lewat BBM: “di Jogja film Nada untuk Asa diputer ndak? Recommended, jeng. Bagus!”. Hmm…saya yang tidak rajin memerhatikan judul-judul film yang sedang tayang di sinema di Jogja pun langsung membuka laman 21cineplex. Oh ternyata diputar. Saya baca sekilas sinopsisnya di laman itu dan memutar trailernya. Lalu saya balas pesan teman saya: “OK, nanti aku nonton”.

~o0o~

Nada, diperankan oleh Marsha Timothy, dihadapkan pada kematian suaminya yang ternyata disebabkan oleh AIDS. Kehidupannya bertambah remuk saat hasil tes darah dirinya menyatakan ia positif HIV, juga pada bayinya, Asa. Menjalani kehidupan sebagai orang positif HIV tidaklah mudah. Penolakan dari keluarga, dari lingkungan, bahkan dari dirinya sendiri. Asa dewasa pun mengalami hal-hal yang menyakitkan karena dirinya positif. Tetapi Asa adalah gadis yang kuat, berani menghadapi hidup. “Orang-orang mungkin kagum dengan orang yang berani mati. Tetapi bagi kami orang-orang positif, butuh kekuatan untuk kami berani hidup!” begitu ucap Asa pada Wisnu (Darius Sinartria), laki-laki yang pernah menjadi pendamping orang-orang dengan HIV/AIDS, yang kemudian jatuh cinta pada Asa.

Film yang disutradari Charles Gozali dan dibintangi pemain-pemain berkelas seperti Marsha Timothy, Acha Septriasa, Mathias Mucus, Buthet Kertaraharja, Wulan Guritno, Irgi A. Fahrezi, dll ini dikemas dalam alur bolak-balik. Pemilihan setting dan properti yang pas membuat penonton mengikuti alur tersebut dengan smooth. Didukung musik yang diolah oleh Pongky Prasetyo menjadikan film bergenre drama ini menjadi apik untuk dinikmati.

Nada untuk Asa, dalam durasinya yang cukup singkat ini memberikan banyak pesan untuk kita, khususnya untuk saya pribadi. Bagaimana kita dibukakan pada kenyataan kehidupan para ODHA, menyentuh nurani saya tentang bagaimana saya musti memperlakukan para ODHA sebagai teman, sahabat, saudara. Mereka bukan ancaman, mereka adalah korban, di mana mereka pun berhak menjalani hidup seperti orang-orang tanpa HIV/AIDS. Begitu juga semangat para ODHA untuk melanjutkan hidup, berani menjalani hidup, membuat saya merasa betapa ringannya permasalahan hidup yang saya alami dibanding mereka. Melalui film ini juga kita kembali diingatkan tentang janji pernikahan: setia pada saat suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit. Dan yang tak kalah penting yang saya peroleh dari film ini adalah kekuatan pengampunan! Betapa Nada yang semestinya marah pada perempuan yang telah menularkan virus HIV di tubuh suaminya hingga akhirnya ia dan anaknya pun mengidap virus yang sama, memilih memaafkan perempuan itu, memaafkan perselingkuhan suaminya, berdamai dengan kenyataan dan menatap ke depan menghadapi kehidupan bagaimanapun juga.

Film ini tidak diputar pada bulan Desember, para peringatan hari AIDS sedunia, tetapi justru pada bulan Februari, bulan cinta. Menurut saya, ini memberikan persepsi baru, terutama bagi generasi muda, tentang bagaimana kita memaknai cinta. Cinta bukan hanya tentang kamu dan pasanganmu, tetapi juga dengan orang-orang di sekelilingmu, termasuk mereka para ODHA. Cinta bukan hanya tentang bahagia pada saat sehatnya, tetapi juga berjuang bersama pada saat sakitnya. Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton, baik untuk generasi muda maupun keluarga.

Terima kasih untuk Prima yang telah merekomendasikan film ini untuk saya tonton. Terima kasih untuk Nada, Asa, Wisnu, Bapak, keluarga Papa untuk segala pesan yang disampaikan melalui peran kalian di film ini. Terima kasih para ODHA untuk semangat yang kalian berikan untuk kami. Positif menjalani hidup!

81 tahun Bapak

Adalah syukur ketika masih bisa melihat senyum Bapak yang bahagia menyaksikan ulang video acara ulang tahunnya yang ke-80 tahun lalu. Seperti kembang api yang meletup-letup, mungkin begitulah yang beliau rasa ketika menonton video ulang tahun ke-80 pada saat usianya 81. Ya, 4 Februari lalu Bapak menambahkan lagi angka usianya menjadi 81. Puji Tuhan yang membuatnya terjadi.

Kami tak membuat pesta untuk ulang tahun Bapak kali ini, kami hanya berkumpul, bersyukur, berdoa, dan makan bersama di rumah. Semoga Bapak bahagia. Meski masih ada harapan Bapak yang belum terwujud, tetapi kami berdoa semoga Bapak tetap bahagia & semoga Tuhan segera mewujudkan, mengabulkan harapan Bapak itu. Amin.

2015/02/img_8103.jpg

2015/02/img_8173.png

2015/02/img_8159.jpg

2015/02/img_8152.jpg

Selamat ulang tahun, Pak… Semoga berlimpah sukacita, sehat, & bahagia. Tuhan memberkati…. #sungkem