Good Morning, Monday!!

20130930-073101.jpg
Selamat pagi, teman-teman. Selamat hari Senin… Semoga sehat semuanya, siap beraktivitas di minggu terakhir September sekaligus minggu pertama Oktober. Bagaimana September teman-teman? Ceria kah? Semoga yaa… September saya…mmm….super sibuk (atau sok sibuk ya? Hehe…). Tapi bukan cuma saya kok, hampir semua orang di kantor merasakan kesibukan yang sama. Tapi Puji Tuhan masih tetap sehat dan semoga selalu sehat. Disuplai multivitamin sih. Tau diri lah kalau badan gak kuat-kuat banget. Yah, namanya orang kerja kan butuh tenaga, pikiran, juga waktu. Untung ya saya belum punya siapa2, jadi gak ada yang kasihan ditinggal-tinggal terus. Eh, ada ding, itu ponakan yang di rumah udah ngeluh aja: aku ditinggal terus, bo2 sendiri terusss!! 😦 Dan akhirnya dia ngungsi ke kost temennya atau minta temennya nginep di kontrakan. Hihi…maafkan tantemu ya dik… 🙂 Semoga segera selesai ini tugas yang menumpuk-numpuk. Kadang ketawa juga kalo baca email dari teman tentang pekerjaan yang dibumbui keluhan terselubung, hihi…. Semua sibuk, semua capek, semua butuh waktu sehari 48 jam atau seminggu 10 hari deh. Tapi semua tetap semangat, tampaknya :D. Semoga memang beneran semangat. Lha kalo gak semangat malah gak kelar semua donk.

Nah, jadi curhat deh. Gk papa lah, sekali se(puluh)kali :D. Hari ini saya berangkat ke kantor pagi-pagi karna ada rapat jam ke-0. Haha..ada-ada saja, rapat mruput. Tapi tetap narsis dulu ah sebelum berangkat, karna..karna..karna hari ini nyoba ngantor pakai high heels. Hihi.. Kemayu tenan. Biarin ah.. Biar lebih semangat kalau diawali dengan hati gembira kan? 😉

Ya udah, mau lanjut rapat lagi… Semangat hari Senin yaa.. Love you :*

Tersesatku..tersesatku dalam Labirin Rasa…

labirin rasa_

Labirin Rasa di atas jaket hijau army-ku 😀

Judul: Labirin Rasa
Penulis: Eka Situmorang-Sir
Penerbit: Wahyumedia
Tebal halaman: 394 halaman
Harga: IDR 52,000.00

Pertama kali mengenal mb Eka dulu ketika dia masih ngeblog dengan cerpen-cerpennya yang sedikit ‘centil’ kalau gak mau dibilang ‘nakal’ :P, juga puisi-puisi dan cerita ringan lainnya. Dan nama Kayla adalah nama yang dulu dipakai mb Eka di cerpennya (yang sekarang sudah diproteksi). Maka ketika mb Eka menuliskan pesan di halaman pertama bukunya: “Selamat bertualang bersama Kayla..” bayangan sosok Kayla yang seksi, ‘berani’, membuat jantung pria kebat-kebit pun tergambar di kepala. Tapi..seperti apa sih sosok Kayla yang jadi tokoh utama di novel mb Eka ini? Lalu, petualangan seperti apa sih yang ditawarkan Kayla melalui novel ini? Here we go

Kayla di novel ini ternyata adalah gadis yang sedikit tomboy, ceplas-ceplos, semau gue, tapi nyenengin. Petualangan cintanya diawali dari desperado-nya Kayla atas nasib IPKnya yang nasakom (nasib satu koma) yang mengantar dia untuk rehat sejenak, berlibur ke rumah Eyangnya di Jogja. Dalam perjalanan ke Jogja, di kereta dia bertemu seorang pria bermata hijau, tampan, menawan seperti Darius Sinartria. Dasar Kayla, dia pun menyapa dengan PD-nya, bahkan dengan jujurnya bilang: “kamu ganteng”. Dan obrolan di kereta pun membuat mereka dekat, hingga Kayla meminta Ruben, nama pria itu, untuk menjadi pemandunya jalan-jalan selama di Jogja.

Tak diduga, liburannya ke rumah Eyangnya di Jogja memberi tahunya tentang ramalam Eyang Kakungnya perihal seorang pria yang akan menjadi pendamping hidupnya. Seorang Pangeran Fajar, yang akan ia temui dalam perjalanan mencari arti hidup sesungguhnya, di atas bukit hijau dengan taburan kemilau mentari yang hangat, cinta pertama, fajar kehidupannya. Semakin Kayla tidak memercayai ramalam Eyang Kakungnya, semakin Kayla memikirkannya. Dan alam bawah sadarnya mulai mencari sang Pangeran Fajar. Siapakah dia? Apakah Ruben? Banyak pertanda yang menuju pada Ruben. Dan Kayla mengejar kebenarannya.

Jatuh bangun Kayla mencari Pangeran Fajarnya. Adalah pria-pria yang ia temui selama petualangannya, Dani, David, Patar, Andi, Chyntia (ups, yang ini bukan pria tapi masuk juga dalam petualangannya. Hah?! Kayla sempat jadi lesbian? Atau?!! Penasaran?!! 😉 ), dan tentu saja Ruben. Menanti bertahun-tahun (kalau kata Tt: berpuluh-puluh purnama 😀 ), bermetamorfosa menjadi Kayla yang so perempuan, mendapatkan cinta yang ia perjuangkan, dibumbui pengkhianatan, hingga akhirnya…. Akhirnya… Akhirnya gimana Titik?!! Baca sendiriiiii……..!!! Haha…..

labirin rasa

Waktu menerima novel dari mb Eka, saya sempat bergumam: wah, tebel juga, bakal selesai berapa lama nih. And guess how long i need to finish this book. Gak sampai sehari, cuma semalam doang. Saya mulai membaca pukul 9 malam dan selesai pukul 2 pagi. Hah?! D.u.a p.a.g.i?!! Iya. Karna novel ini menarik, membuatmu penasaran akan kelanjutan ceritanya. Makanya saya gak bisa berhenti sebelum menuntaskan kisahnya. Bahasanya ringan, gak perlu mengerutkan kening untuk memahami ceritanya. Kamu juga akan disuguhi perjalanan ke tempat-tempat menarik di Nusantara seperti Jogja, Bromo, Bali, Makassar, Medan, Brastagi, lengkap dengan deskripsinya dah bahkan biaya angkot menuju ke lokasi pun ada. Bisa jadi petunjuk juga kalau kamu mau solo traveling 🙂. Mb Eka menggambarkannya dengan detil. Beberapa tempat yang dia tulis pernah saya kunjungi sehingga saya mudah membayangkan, tetapi tempat-tempat lain yang belum saya kunjungi, dengan deskripsi yang dia tulis, mampu menghadirkan gambaran di kepala saya tentang indahnya Bromo dan Toba, misalnya.

Perjalanan mencari cinta sejati pun digambarkan dengan perjuangan yang tak mudah. Ada kalanya kita harus melepaskan, berdiam dan memberi ruang untuk cinta bertumbuh. Ada kalanya kita harus mengalah, ada waktunya juga kita harus berjuang hingga titik darah penghabisan. Kayla mengajarkannya.

Meski masih banyak kesalahan penulisan, terutama penulisan nama tokoh, tapi novel Labirin Rasa recommended buat dibaca kamu pecinta novel romansa, kamu yang sedang mencari cinta, kamu semua.

logo-smartfren-anti-lelet-live-smart

Buat mb Eka, selamat dan sukses untuk launching bukunya besok Sabtu, 28 September 2013 di Gramedia Matraman. Sukses juga untuk buku-buku selanjutnya yang akan ditulis (yakin). God bless you! 🙂

Aku Tersindirrrrr!!!

Aku tersindir, sungguh aku tersindir olehmu!!

Sebelum melanjutkan ocehan, ambil kemoceng dulu, bersih-bersih debu yang numpuk di blog. Duh, tebel amat ya, kaya habis kesiram abu vulkanik. Ngelirik kalender di sebelah, alamaak..udah hampir satu bulan gak ngeblog pantes aja abunya tebeelll. Untungnya baru hampir ya, belum sebulan apalagi lebih #ngelirik eMak Bundo ah :mrgreen: . Btw, ke mana aja sih kok blognya dianggurin? Ke mana-manaaaa…. Lho, berarti banyak cerita donk?! Iyaaa, harusnya banyak cerita, tapi kenapa gak diceritain di blog?!! Sibuk? Gak punya waktu? Halah!! Alasan doang itu. Hehe..iya, memang cuma alasan doang, sebenernya sih cuma males aja. Semestinya sih masih bisa posting di sela-sela perjalanan, di pesawat, di travel, di bis, kan bisa nulis dulu, nanti tinggal diupload waktu sinyalnya bersahabat. Iya sih, cuma kadang kalau pas di jalan baca hp gitu suka pusing (alasan lagi!!! :D). Haha…OK-OK, kretekin jari jemari, ayo nulis lagiiii…….. #colek2 hiatusers

Ya udah, karna ini baru sibuk bersihin debu sama pemanasan, postingnya segini dulu ye :D. Biar ada ‘warna’-nya dikit, ini kukasih landscape Merapi yang kuambil kemarin waktu jalan-jalan ke sana, sama satu foto lagi waktu adfuntour mengelilingi merapi sama jeng Vega Ngatini.

20130923-164051.jpg

20130923-162743.jpg

Nah, lalu itu judulnya maksudnya apa? Kamu tersindir oleh siapa Tik? Anu, aku tersindir sama Bunda Monda yang tetap ngeblog di kala sempit 😀