Babak Sandiwara

Aku menemukanmu,
dalam sunyi malam dan dingin tanpa pelukan.
Hanya matamu menatapku lekat,
enggan kau lepas meski kau tau aku ngilu dengan tatapanmu…

Langkahmu menyusuri jalanan kota,
menerabas keramaian dan binar lampu jalanan.
Kurasakan panas tubuhmu,
tersengal-sengal nafasmu,
dan keringatmu…ingin kuusap dengan ujung lengan bajuku..
andai saja kau mau..

Kamu lelah…
Lelah memanggul dendam yang tak kunjung kau letakkan,
lelah mencari cara melepaskan amarah..
Tidakkah kau ingin beristirahat?

Di beranda ini,
tersimpan kumpulan naskah, yang telah kau susun
dengan hati2 dan sangat teliti.
Sebuah karya besar,
yang kaunilaikan padaku setiap selesai satu babak.

Aku menunggu dalam diam,
sampai seluruh karyamu kauselesaikan..

Malam ini aku menemukanmu,
memandangku tajam, dalam..
memegang catatan yang kausebut kenyataan,
meyakinkanku sebuah kebenaran.
Meski kini tlah kaudapati
kumpulan naskah yang kauberikan padaku,
kuletakkan dalam kotak
yang kuberi label: fiksi!

Mari beristirahat kawan,
hari sudah menjelang pagi..

#tt
07.01.10: 01.54 wib

Titik

Dia mengetukkan penanya lalu tersenyum lega. Dia telah membubuhkan tanda titik di rangkaian ceritanya. Akhir dari sebuah cerita yang disusunnya sekian lama. Seorang penulis pasti akan tersenyum ketika cerita berhasil ia tuntaskan, tak peduli jalan cerita yg ia susun berakhir bahagia atau sebaliknya duka. Apalagi ketika ia menyusun cerita, ia mendapati masa buntu, tak tau apa yg akan ditulisnya. Kadang ingin dibunuhnya saja tokoh dalam ceritanya supaya cerita segera berakhir. Hah..tapi sayang juga memutus ide awal dengan mematikan tokoh hanya gara2 dia sedang buntu, tak mampu berpikir bagaimana kelanjutan ceritanya. Seringkali dia memilih berdiam. Menutup sejenak buku ceritanya, beristirahat, mengambil jeda, menikmati hijaunya rumput di taman, membebaskan pikirannya. Biar saja ceritanya sejenak mengambang. Dia menunggu percikan inspirasi menghampiri otaknya, lalu dilanjutkannya lagi cerita yg sempat tertunda. Penulis tak pernah mati ide. Ia kadang hanya butuh beristirahat membiarkan kabut yg menutupi inspirasi menguap. Penulis tak mengenal putus asa. Dituntaskannya apa yang telah diawalinya. Dituliskannya apa yg ada dalam benaknya. Penulis memilih jujur dalam tulisannya. Fiksi pun tidak berisi kebohongan, karna imajinasi tak pernah berdusta.

Dia meletakkan penanya di atas buku yang baru saja diselesaikannya. Dibukanya pintu rumahnya, hendak menikmati pepohonan hijau dan rumput yang membentang di luar sana. Tapi…. Matanya terbentur buku bersampul biru di tengah lapangan rumput….dan seorang pria membawakannya. Tak lama pria itu mendekat, menyerahkan buku bersampul biru padanya. Ah….hatinya berdesir ragu..haruskan memulai lagi menuliskan cerita, sedang baru saja ia bubuhkan tanda titik pada cerita sebelumnya??

Hujan dan Kenangan

Deras hujan di luar, mengingatkanku padamu. Apa kabarmu?

 

 

Senja menggantung di ujung langit, kala itu. Bersiap menyerbukan hujan ke bumi manusia. Aku sedang merenungi rasa hampa.

 

Sekian waktu kau abaikan aku. Takpedulikan pesan2 yang kukirim puluhan kali ke handphonemu. Tak mengangkat telponku meski aku menghubungimu puluhan kali. Aku merindu dalam gelisah, Sayangku. Bergema tanya, adakah di sana kau baik selalu?

 

Aku makin tak menentu ketika sepotong kue kuning telah tersaji di langit malam dan kau tak kunjung hadir. Di mana kamu? Aku menunggumu hingga malam tak mampu menahan mentari bangun dari peraduan. Tak peduli cincin hitam melingkar di mataku & aku tertidur di sela waktu kerja, setelah itu. Setiap malam kutunggui kamu. Hingga sepotong kue kuning itu tandas dimakan masa. Tiga kali putarannya dan aku harus selalu merelakan ia habis tanpa kunikmati denganmu.

 

Kamu menghilang begitu saja. Tanpa permisi. Tanpa pelukan perpisahan. Tanpa ciuman pelepasan. Kamu hilang… Dan aku? Aku patah hati tanpa bisa konfirmasi..

 

Dan senja itu, ketika aku telah pasrah kehilanganmu, hujan turun menderas. Aku menikmatinya dari jendela kamarku, tempat biasanya aku menantikan kue kuning sebagai penanda waktu kedatanganmu. Dan….. aku menemukanmu. Berlari di bawah hujan, melambaikan tangan ke arahku, isyarat yg mengatakan ‘bukain pintu’. Aku tertegun. Tak percaya itu kamu. Ah…tapi gemuruh rindu membuatku berjingkat turun dan membukakan pintu untukmu. Kamu tersenyum lucu di depan pintu. Tanganmu terbuka menyambut hamburanku ke pelukmu. Tapi aku masih takjub menemukanmu lagi setelah berbulan-bulan kehilangan. Dan kamu pun tak tahan, kaudekap aku penuh kerinduan.

 

“hey…..basah semua bajumu.” teriakku di pelukmu dan kita terbahak bersama.

 

Hujan masih menderas di luar. Kamu telah berganti baju yang sengaja kautinggal di lemari bajuku. Aku pun demikian. Kita bercengkerama di ruang keluarga, ditemani secangkir kopi dan sepenuh bahagia. Kamu bercerita banyak hal sambil membelai kepalaku yang kurebahkan di bahumu. Tapi kamu takkunjung menjawab tanyaku kemana saja selama ini. Hingga kali ketujuh aku bertanya, kamu menghela nafas, melepas belaianmu, bangun, mengambil cangkir kopimu tapi tak meminumnya.

 

“ada apa?” kuusap punggungmu. Aku merasakan beban dan gelisah dari gelagatmu.

“aku harus meninggalkanmu….”

Jedaaarrr!! Petir di luar seolah mengetahui persis keterkejutanku. Bibirku gemetar untuk bertanya ‘kenapa?’. Dan kamu menjawabnya tanpa perlu aku tanya.

“dia telah tau keberadaanmu. Dia akan meninggalkanku jika aku tak meninggalkanmu.”

“…dan kamu memilih dia daripada aku??” tanyaku lirih tanpa perlu jawaban.

Kamu meletakkan cangkirmu lalu memelukku. Mencoba mengalirkan kehangatan pada tubuh yg membeku. Aku terisak di pelukmu….

 

Inilah pelukan perpisahan.. Akhir perjalanan…

.

.

.

***

.

.

.

 

Hujan belum juga reda. Kuseduh dua cangkir kopi. Kubawa ke ruang keluarga bersama sepiring pisang goreng.

“kopi buatan istriku paling enak sedunia.” kata pria di depan tv itu sambil menggodaku. Dia yg selalu ada untukku tanpa perlu kutunggu sepotong kue kuning dalam sepiring langit kelam datang di balik jendela. Seandainya dulu aku masih bersetia pada ketidakpastian, mungkin saat ini aku masih duduk di tepi jendela, menantikannya, yang tak kan datang selamanya. Hatinya telah memilih, lalu mengapa tak mau beralih? Tapi Tuhan tak pernah tinggal diam, dia bersama mereka yang patah hatinya. Dan setiap kita adalah malaikat yang patah sayapnya. Pasangan sayap kita ada pada pasangan kita. Dia, yang datang tiba-tiba tanpa aku duga sebelumnya. Ya… Tuhan tak pernah tinggal diam….

“hayoo melamun!!” suamiku membuyarkan lamunanku.

Aku pun tersipu malu…

 

 

19092010
#inspired by: hujan, ‘Sepotong Kue Kuning’ Dee..

sebuah keniscayaan

kita tak mengingat lagi awalnya
tiba-tiba sampai di tengah
menempuh arah yang salah

lalu malam pun risik
angin berbisik: kita harus kembali pulang
pulang pada mula-mula
yang tak kita tau di mana
di sana tak ada ‘kita’
hanya ‘aku’ dan ‘kamu’
juga rahasia yang membatu

lunglai kugantungkan harap pada bintang
enggan meraih
biar menjelma bintang jatuh

sementara di sini
air mata menghapus duka
karna perpisahan tak pernah penuh hura-hura
keniscayaan telah tiba
seperti pernah kaujanjikan suatu ketika
aku hanya menggenapkannya

dan kini
bukalah pintu rumahmu

melangkahlah

aku pun…

 

Kamar, 281210, 23.37