Kecele’ bau tubuhmu…

[Cerita di balik aroma]

Ada banyak kenangan yang terpapar ketika suatu aroma tiba-tiba menyeruak masuk menggoyang bulu-bulu hidung dan mengirim sinyal informasi ke otak. Tak hanya informasi tentang sumber aroma tersebut, tetapi lengkap dengan kenangan yang menyertainya. Saya punya cerita tentang aroma itu. Mungkin sedikit konyol, tapi setiap kali tercium aroma itu, saya kembali tersenyum geli.

Ceritanya saya punya teman dekat, sudah sangat dekat sekali sehingga ‘baunya’ pun saya hapal. Saat bersama dia ‘baunya’ selalu memenuhi radius 2 meter di sekeliling kami. Saat dibonceng dia, aroma itu yang tertiup angin dan masuk ke lubang hidungku. Begitupun ketika memasuki kamar kostnya. Sudah lah, ini baunya banget. Maka setiap kali tercium aroma tubuh dan kamarnya itu, saya sudah pasti yakin itu dia yang datang. Sampai suatu hari aroma tubuh dan kamarnya itu tertangkap indra penciuman saya. Ada seseorang di belakang saya yang dari aromanya saya yakin betul kalau itu dia. Tapi….. Begitu saya membalik badan dan melihat sosok di belakang saya itu, lhooo…. kok bukan diaaa??? Ini kan bau diaaa??!!! Kenapa?! Kenapa kamu nyama-nyamain aroma tubuhnya??? Saya kecele’ teramat sangat. Hiks…

Ketika kemudian saya mengadu padanya bahwa ‘baunya’ itu juga dimiliki orang lain, kami selidiki apa penyebabnya. Ternyata oh ternyata, segala aroma tubuh dan kamar yang dia miliki berasal dari pewangi pakaian dari tempat laundry langganannya. Dan tentu saja yang mencucikan baju di tempat laundry tersebut bukan hanya dia tapi juga orang-orang lain termasuk orang yang saya pikir nyama-nyamain baunya itu. Hahaha….

wangi

Setelah kejadian itu, definisi aroma itu menjadi sedikit meluas, bukan lagi aroma tubuhnya tetapi terdeteksi sebagai aroma laundry langganannya. Hahaha…… Sayangnya saya belum pernah nanya ke tukang laundry-nya, merk pewangi apa yang dia pakai. Kalau tahu kan bisa saya pakai juga di rumah, supaya saya bisa selalu membaui tubuhnya. Asal nggak kesaru sama bau tubuh orang lain di belakang saya tadi aja. Hahaha…

Setelah sekian lama saya tidak mencium aroma itu, beberapa waktu yang lalu ketika tercium lagi, saya kembali ngikik. Teringat kejadian kecele’ aroma pakaian yang sama dari dua orang yang berbeda. Hihihi….

Begitulah sedikit cerita di balik aroma yang pernah saya miliki yang saya ceritakan untuk meramaikan Giveaway Cerita di Balik Aroma yang diadakan oleh Kakaakin.

5 hari di Jepang: hari ke-5 >> This is the day…

Saya agak deg-degan mau menuliskan cerita hari ke-5 Bapak di Jepang, alias hari Senin, 18 Maret 2013. Kenapa? Karena hari ini adalah puncak tujuan kunjungan Bapak ke Jepang: menghadiri wisuda saya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang senantiasa menuntun, membimbing, melindungi kami semua hingga hari ini. Syukur tak terhingga.

Semalam, kami bertiga menginap di hotel di kamar yang sama. Pagi itu saya bangun lebih pagi, lalu meminta Bapak mandi. Selesai Bapak mandi, saya pun menyusul. Ketika saya keluar kamar mandi, Bapak sedang memakai dasi yang rupanya sedikit kepanjangan. Untunglah punya peniti kecil jadi bisa diakali. Setelah urusan dasi selesai, saya pun mengurus dandanan saya sendiri. Karna minim peralatan dandan, rambut cuma saya gulung seadanya, wajah cuma bedak, eye liner, dan lipstik. Baju, saya memakai kebaya dan rok batik. Untuk baju kami dibebaskan memilih baju yang kami inginkan. Saya dan teman-teman international students memilih mengenakan baju tradisional dari negara kami masing-masing. Sementara teman-teman yang orang Jepang memilih mengenakan jas atau hakama (kimono untuk pelajar). Selesai berdandan seadanya dan mengenakan kebaya, giliran sepatu….. O’ow…saya tidak punya sepatu/sandal high heels yang cocok untuk kebaya. Untunglah kakak saya tipikal perempuan banget yang ke mana-mana memakai sandal/sepatu tinggi. Saya pun disodorinya sepatu yang matching dengan kebaya yang saya kenakan. Tentu saja sambil kasih ceramah: makanya jadi perempuan itu yang feminin dan sedikit modis donk. Duh, padahal menurut saya, saya sudah lumayan feminin je, ternyata di mata kakak masih tomboy. Alamak….

Seusai kami semua berbenah, saya memanggil taksi untuk mengantar kami ke kampus. Masih sedikit pagi jadi kami mampir asrama dulu. Dari asrama ke kampus jalan kaki. Dan pagi itu, anginnya bertiup kencang sekali. Sampai aula sudah banyak wisudawan/wisudawati yang foto-foto. Kami pun ikut berfoto. Karna angin bertiup kencang, rok pun terbang-terbang dan rambut yang tidak di-hairspray pun terbang ke mana-mana.

Ketika waktu masuk aula tiba, kami masuk. Keluarga wisudawan/ti diberi tempat duduk di belakang. Wisuda kali ini dibarengkan antara wisudawan/ti undergraduate (S1) dan graduate (S2). Prosesi wisuda di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia, semua wisudawan akan maju ke depan dan menerima ijazah serta memindahkan kuncung topi dari kiri ke kanan. Sedangkan di Jepang (di kampus saya), hanya satu perwakilan dari mahasiswa S1 dan satu perwakilan dari mahasiswa S2 yang maju ke depan dan menerima ijazah. Selebihnya, ijazah dibagikan di luar. Oke, saya perjelas urut-urutan prosesi wisudanya. Pertama penghormatan kepada bendara Jepang dan panji universitas. Lalu pembukaan dari Rektor. Yang kedua sambutan dari pejabat kampus lainnya (saya tidak tahu siapa). Dilanjutkan dengan penerimaan ijazah bagi perwakilan wisudawan/ti S1. Setelah itu perwakilan mahasiswa S2. Lalu pidato dari Rektor. Dilanjutkan dengan pembacaan kesan pesan dari wakil wisudawan S1 dan wakil wisudawan S2. Yang terakhir, pemberian penghargaan bagi mahasiswa berprestasi. Lalu penutup. Semua prosesi dilakukan full Japanese. Beberapa bisa dipahami, seperti meminta berdiri dan memberi hormat. Tetapi untuk sambutan maupun pidato rektor, hmm….nyimak sih, tapi cuma bisa nangkap sedikit saja kosakatanya :D.

Selesai upacara, kami keluar dan di luar sudah ada petugas dari bagian akademik dengan tas-tas berisi ijazah kami. Saya pun mendekat lalu bilang: kokusai kyouiku, onegaishimasu. Dan Bapak petugas pun memberi segepok tas untuk satu kelas kami (yang cuma 7 orang itu 😀 ). Wah, gak ada prosesi penyerahan apa-apa ni ya? Kita bikin yuk. Xixi.. Akhirnya, saya pun menyerah-nyerahkan tas itu ke teman-teman seolah-olah saya rektor atau dekan. Hahaha…. O iya, keluar dari aula, sanggul saya sudah sayonara, lepas dan terurai deh :D. Untung tetap matching sama kebayanya ya, soalnya kebayanya modern (kebaya pinjem juga sih 😛 ).

Setelah itu, apalagi kalau gak foto-foto. Setelah foto-foto dengan teman-teman, saya menuju depan kampus untuk foto dengan background nama kampus dan sakura. Sayang, sakuranya sudah mulai tumbuh daun, tapi tetap lumayan cantik lah :D. O iya, pada hari H wisuda, professor saya yang juga pembantu rektor langsung berangkat ke Zambia seusai upacara wisuda. Saya berusaha mencarinya lebih dulu karna sudah tidak akan bertemu lagi. Tapi kemudian saya pasrah saja, karna Sensei pasti sangat sibuk untuk keberangkatan ke Zambia. Dan ternyata, saat kami sedang berfoto-foto di depan kampus, Sensei lewat dan menyempatkan turun demi menyalami Bapak dan berfoto bersama kami. Meski sangat mepet waktunya. Saya pun sekaligus pamitan pulang ke Indonesia dan mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan bantuannya selama ini. Sensei orang yang sangat sangat baik.

Setelah berfoto, saya menyelesaikan beberapa urusan administrasi di kampus. Setelah ini masih ada acara buang sampah dan cek out dari asrama. Tapi sebelum mengantar Bapak dan kakak ke hotel dan saya kembali lagi ke asrama untuk menyelesaikan urusan terakhir dengan kampus, kami makan siang dulu di warung makan depan kampus. Kami makan bertiga sambil mensyukuri berkat yang Tuhan limpahkan kepada kami. Puji syukur padaMu, ya Allah…. 🙂


.
.
#btw, Bapak pakai jas keren ya? Kaya pensiunan deh, Pak 😀