Rumahku Istanaku…

Sudah hari terakhir Uni Evi mengadakan giveaway pertamanya dan saya belum menulis review or komen dari salah satu postingannya. Maafkan Uni. Artikel-artikel Uni semuanya menarik, tapi ketika sampai pada artikel tentang rumah dan kemiskinan, memori saya jadi kembali ke masa kanak-kanak hingga dewasa seperti sekarang. Saya mengalami tahapan-tahapan ‘rumah’ berdasar tingkat kesejahteraan keluarga. Rumah seperti yang dipasang di postingan Uni (saya kopi di sini ya Uni) pun pernah saya tinggali. Bedanya atap rumah saya sudah genteng.

rumah ga evi

Melihat tumpukan sabut kelapa dan blarak (daun kelapa kering), sungguh persis dengan kondisi saya masa kecil. Plus ayam yang masuk rumah. Haha… Dulu Ibu rajin pelihara ayam, katanya kalau mau lauk ayam tinggal potong ayam sendiri, mana kuat waktu itu beli daging ayam di pasar :D. Plus, kalau butuh uang, ayamnya bisa dijual. Yang saya tidak suka dengan pelihara ayam adalah kotorannya. Apalagi kalau ayam masuk rumah dan ‘bertelur’ di dalam rumah, haduh… Nah kalau blarak dan sabut kelapa itu untuk bahan bakar karna dulu kami masih memasak menggunakan kayu. Jika terdengar suara daun kelapa kering yang jatuh di belakang rumah, saya dan kakak segera berlari lalu menyeretnya ke rumah. Biasanya Bapak atau Ibu yang nglekreki/memisahkan daun kelapa dari pelepahnya. Lalu saya yang akan mengumpulkan lalu mengikatnya dengan tali yang diambil dari pelepah daun kelapa. Kami punya lumbung tempat menyimpan padi dan di atasnya ada tempat untuk menyimpan blarak. Kadang-kadang Titik kecil suka naik ke atas dan sembunyi di tumpukan blarak itu. Tidak heran kalau Titik kecil sering dihinggapi tengu maupun kamitetep di ketiak dan di bagian-bagian nylempit lainnya.

Nostalgia rumah berdinding bambu berlantai tanah belum selesai. Karna lantainya masih alami alias dari tanah, maka sapu yang digunakan pun sapu lidi. Baik untuk dalam rumah maupun halaman. Dan supaya tidak berdebu saat disapu (terutama untuk halaman), tanah diperciki air dulu. Maka setelah selesai menyapu, ujung sapu lidi pun menjadi bentol-bentol serupa korek api. Haha….

Sedikit demi sedikit keuangan keluarga semakin membaik seiring dengan berkurangnya anggota keluarga yang sekolah dan beralih status menjadi bekerja. Maka seperti yang disebutkan Uni Evi bahwa standar kemiskinan atau kesejahteraan keluarga bisa dilihat dari rumahnya, rumah kami pun meningkat sedikit menjadi setengah permanen. Separuh permanen, separuhnya lagi dengan bambu. Lantai pun meningkat menjadi plester. Sudah perlu sapu ijuk sekarang plus belajar mengepel lantai :D. Selain dari rumahnya, rupanya standar kemiskinan/kesejahteraan juga bisa dilihat dari cara memasaknya. Yang tadinya dengan tungku dan kayu, maka kami meningkat menggunakan kompor minyak dan tungku (Ibu paling sulit meninggalkan daden geni neng luweng, katanya eman-eman kayu dan blaraknya :D). Memiliki rumah dengan dinding bambu itu ada untungnya. Saya tidak perlu pigura untuk memajang foto. Cukup dengan ditusuk lidi dan diselipkan di antara lubang bambu :D.

Sekarang, puji Tuhan rumah kami sudah permanen penuh dan kami pun sudah memasak dengan kompor gas, meninggalkan kompor minyak maupun tungku. Tetapi kenangan-kenangan akan masa kecil dengan segala kekurangan dan keterbatasan menjadikan kami tak kurang bersyukur atas penyertaanNya bagi keluarga kami. Kita memang seringkali perlu bernostalgia mengenang masa lalu. Bukan untuk meratapi keadaan di masa lalu, tetapi justru untuk mensyukuri apa yang telah kita terima hingga saat ini. Dan kita pun akan tersenyum dan takjub atas luar biasanya berkat Tuhan untuk hidup kita.

Semoga keluarga-keluarga yang masih tinggal di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah tetap menjalani kehidupan dengan bahagia. Percayalah, Tuhan memberikan berkatNya untuk seluruh umat, termasuk Anda dan saya :). Dan semoga para pemimpin di atas sana lebih memperhatikan rakyatnya dan bukan kekuasannya semata :).

Selamat hari Rabu dan selamat menghayati anugerah penyertaanNya bagi hidup kita.

Salam,
Titik

Postingan ini diikutkan pada

BANNER-EVIINDRAWANTO1

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto