Bingkisan dari Sahabat (2)

Berangkat dari sebuah foto di tulisan Uni Evi tentang sebuah rumah, membawa ingatan akan rumahyang pernah kutinggali ketika menghabiskan masa kanak-kanak. Lalu dengan ketekunan dan kerja keras, diiringi doa dan ucap syukur, perlahan-lahan rumahku pun meningkat semakin layak. Bukan untuk menyombongkan diri, justru untuk berbagi, dan untuk mengingatkan diri sendiri dari mana diri ini sebelumnya. Justru dengan itu, kita tidak menjadi sombong, kita memiliki empati kepada saudara-saudara kita yang berada pada kondisi seperti kita saat itu. Seperti komentar Niee pada postingan tentang rumah itu, bahwa pendidikan memegang peran yang sangat penting bagi peningkatan kesejahteraan, aku setuju 100% dengan pernyataan itu. Oleh karnanya, orang tua selalu mendorong anak-anaknya untuk bersekolah, tak perlu membantu di sawah terlalu banyak, yang penting kalian sekolah yang benar. Selanjutnya bisa mencari pekerjaan yang layak, yang lebih baik dari orang tuanya. Meski 5 dari 6 anaknya perempuan, tetapi orang tua tetap memberi hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. Orang tua ingin anak-anaknya mandiri, kelak jika pun sudah menikah, tidak hanya bergantung dari penghasilan suami.

Cerita kilas balik masa lalu itu ternyata mengantarkan berkah bagi rumahku. Satu box gula semut aren Arenga Palm Sugar dari CV. Diva Maju Bersama dikirimkan ke rumah melalui kantorku. Bersamaan dengan itu sebuah novel tentang cinta kasih seorang perempuan di panti asuhan terhadap anak-anak yang terbuang, salah satunya Dewa, anak tuna daksa yang beruntung dikaruniai usia panjang. Biola Tak Berdawai.

bingkisan manis..

bingkisan manis..

Sore itu pun menjadi hari yang manis buatku. Di luar turun gerimis, enaknya bikin teh manis. Mari mencoba gula semut dari Uni Evi..

Kopi apa teh? Teh aja deh...

Kopi apa teh? Teh aja deh…

Dan mari menikmati kalimat-kalimat yang dirangkai Seno Gumira Atmaja pada novel yang diangkat dari film dengan judul yang sama.

20130529-185452.jpg

Nikmatnya membaca novel ditemani secangkir teh/kopi dengan gula aren dari CV Diva Maju Bersama.

Ketika kuunggah foto bingkisan manis ini di facebook, langsung mendarat permintaan teh jahe gula aren dari kawan di jauh situ. Datanglah ke rumah, akan kuracikkan sesuai seleramu, semoga :) . Besok paginya kubagi kepada teman-teman satu ruangan, dan mereka bertanya: wah, kalau beli di mana ini, Tik? Karna aku memang belum tahu di mana belinya, langsung saja kukirim ke alamat ini :).

Terima kasih Uni Evi atas bingkisan manisnya, juga untuk Kang Lozz yang telah memilih tulisanku untuk mendapat bingkisan ini. Semoga Tuhan melimpahkan berkahnya kepada Uni dan Kang Lozz. Amin.

Salam manis,
Titik

Monday Morning

Selamat pagi Senin..,
Gimana weekendnya teman2? Semoga menyenangkan dan penuh kebahagiaan yaa.. Karna waktu yang terus berjalan, suka gak suka kita masuki lagi minggu kerja alias weekday. Pasti deh banyak yang gak suka sama hari Senin, padahal bakal datang terus tuh tiap minggu. Rugi donk tiap minggu sebel, hehe… Buat saya, Senin pagi adalah saatnya kembali menghadapi kenyataan dunia. Kembali ke Jogja setelah mudik 2 hari di rumah. Biasanya dengan kendaraan roda 2, tapi karna Sabtu kemarin saya merasa lelah lahir batin, jadi deh saya naik bus saja pulangnya. Jadi pagi ini pun saya berangkat by bus juga…

Ngapain aja di bis? Baca novel. Lama-lama ngantuk, ambil HP, ngeblog aja deh. Hehe…. Semoga selamat sampai tujuan, amin…

20130527-064416.jpg

20130527-064803.jpg

Semangat ya teman2, supaya satu minggu ini pun menjadi hari2 yg menyenangkan…

Salam,
Titik

Pilkada Jateng

Hallo orang Jawa Tengah!! Siapa yang tadi ke TPS untuk milih gubernur? Siapa yang gak datang? Siapa yang datang tapi gak milih? Hoho…

Beberapa hari lalu ditelpon Bapak kalau sudah dapat undangan dari KPU untuk Pilkada Jateng. Hari kemarin juga disms KPU Jateng mengingatkan untuk datang ke TPS hari Minggu, 26 Mei 2013. Ada atau tidak ada pilkada juga saya pulang sih..

20130526-180737.jpg

Jadi, hari ini kami sekeluarga bareng2 berangkat ke TPS untuk menggunakan hak pilih kami. Namanya hak itu boleh digunakan boleh tidak. Jadi kalau ada yang golput ya silakan aja wong itu hak. Kalau saya milih gak? Woo itu rahasia. Pilih siapa? Apalagi itu, lebih rahasia 😉

20130526-181044.jpg

Dari ketiga cagub, Hadi Prabowo-Don Murdono, Bibit Waluyo-Sudijono, Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko, saya memang cuma tau Pak
Bibit, ya karna beliau gubernur Jateng sebelumnya. Yang lain, terus terang saya gak kenal. Pak Ganjar tau ding karna banyak gambarnya di jalan2 di Purworejo. Program2nya? Rrr…apalagi, lebih gak tau!! Payah ya? Emang. Rasanya memang sepi2 saja ya pilgub Jateng ini. Jauh dari gegap gempita pilgub Jakarta *yaeyalaah. Bapak saja bilang begitu: kok sepi yaa. Hmm… Sudah gitu, dari berita di TV, banyak TPS yang sepi pengunjung, itu berarti banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya. Banyak yang golput pula. Saya tidak mengikuti, di TPS saya tadi berapa persen yang golput.

Anyway, dari hitung cepat diperoleh hasil pasangan nomor 3 Ganjar-Heru meraih suara tertinggi. Semoga saja gubernur Jateng yang akan datang bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk Jawa Tengah. Kalau hasil akhirnya memang Ganjar-Heru yang menang, semoga benar ‘ora korupsi-ora ngapusi’ ya Pak. Dan karna Pak Ganjar dari Kutoarjo yang mana itu masuk kabupaten Purworejo, semoga Purworejo kecipratan ya Pak. Jalannya jadi halus, biar kalo pp Jogja-Purworejo bisa nyaman :D. Kok banyak permintaan, emang tadi nyoblos Ganjar? Weh, nanya lagi..rahasiaaa!!

20130526-211524.jpg

Bingkisan dari Sahabat (1)

Tulisan perjalanan Bapak ke Jepang sudah selesai, yay! Setelah pulang dari Jepang, puji Tuhan terus bisa ngeblog bahkan ikut kontes dan giveaway dari sahabat. Ikut kontes atau giveaway dari sahabat adalah kegembiraan bagi saya. Jika ada kawan yang memiliki hajat, sebagai teman kita biasanya kondangan kan? Begitu juga hajat di dunia maya, maka sudah sepantasnya kita ikut mangayubagya. Untuk hadiahnya, itu urusan belakangan.

Pada hari Kartini lalu, komandan BlogCamp, Pakdhe Cholik, mengadakan gelaran Sehari Menjadi Srikandi yang temanya adalah lomba foto kegiatan positif para perempuan Indonesia. Sebagai staf di suatu lembaga, aktivitas saya berkaitan dengan administrasi dan akademik yang kebanyakan dikerjakan di depan layar komputer. Jadilah foto saya di depan komputer saya setor untuk meramaikan acara. Tak disangka foto tersebut mendapat nilai tertinggi hasil penilaian juri. Dan komandan BlogCamp pun memberikan tali asih berupa sebuah buku “Menjadi Manusia Kaya Arti” karya beliau sendiri, bros cantik karya Susindra Craft, serta uang bakso. Puji Tuhan.

buku Menjadi Manusia Kaya Arti dan bros cantik

buku Menjadi Manusia Kaya Arti dan bros cantik

Saya belum selesai membaca buku ini, tapi saya boleh bilang kalau buku ini seru untuk dibaca semua kalangan. Dalam buku ini, Pakdhe Cholik tetap menjadi Pakdhe yang kita kenal, humoris namun berwibawa. Setiap tulisan beliau sertakan hikmah yang bisa kita petik dari tulisan tersebut. Tidak menggurui, hanya berbagi, begitu beliau sering menulis. Dan seperti itu pula yang akan kita dapat dalam buku tersebut. Ditulis ringan, tetapi ada pelajaran yang bisa kita petik dari sana. Terima kasih Pakdhe atas bukunya :).

Selain buku dan bros, tali asih juga diberikan dalam bentuk uang bakso. Karna uang baksonya lumayan dapat banyak mangkok kalau dibelanjakan, jadi akan lebih nikmat jika dinikmati bersama teman-teman. Maka di suatu jam makan siang, saya ajak teman-teman untuk makan bersama di rumah, kebetulan teman-teman kan belum tahu kost baru saya, jadi sekalian ngasih tahu di sini lho kostanku :). Tapi maaf, baksonya berbelok jadi ikan bakar :mrgreen: .

makan bersama

makan bersama

Terima kasih Pakdhe Cholik atas bingkisan di hari Kartini. Puji Tuhan memberikan manfaat, bukan hanya untuk saya tapi juga untuk teman-teman. Lihat saja raut bahagia mereka. Hehehe…. Semoga Tuhan senantiasa mengaruniakan berkatNya juga kesehatan untuk Pakdhe dan keluarga. Amin.

Salamku,
Titik

See you Japan, hello home… :)

Hai…nglanjutin cerita lagi yaa… Hihihi, gak selesai2 ni ceritanya 😛 , cerita kepulangan yang diiringi fajar pagi itu, hingga tiba di bandara dengan bagasi yang pastinya overweight :mrgreen: . Seperti saya bilang kemarin, kami bertiga membawa 2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, 3 box boneka hinaninggyo, 1 ransel, 1 tas kamera, 1 tas selempang, 2 tas tangan. Waktu di counter check in, saya hanya memasukkan koper besar, tas besar, dan box boneka. Tapi ternyata petugas meminta memasukkan 2 koper kecil juga ke bagasi karna barang yang dibawa di kabin sudah terlalu banyak. Hmm…baiklah.. Menurut tiket kami masing-masing, saya hanya dapat jatah 20kg, Bapak dan Kakak masing-masing 30kg, jadi total kami bertiga 80kg.  Tapi Garuda memberi kebijakan untuk penerbangan internasional kelas ekonomi mendapat bagasi 30kg. Jadi kami bertiga dapat jatah 90kg. Nah, setelah ditimbang, ternyata total bagasi kami 120kg. Ya sudah bisa diduga bakal kelebihan sih, apalagi dua koper kecil yang tadinya mau dibawa di kabin ternyata diminta dimasukkan bagasi, ya sudah lah… Saya diminta membayar 2.500 yen/kg overweight kalau gak salah. Tapi saya minta keringanan dulu. Berdasar saran dari kawan yang sudah bolak-balik sekolah di LN (cepet lulus ya bro 😛 ), saya musti bilang ke petugas kalau saya pelajar yang sudah menyelesaikan study, kepulangan saya ini istilahnya back for goodpulang untuk menetap di tempat tujuan tidak kembali lagi dalam waktu dekat. Saya pun menjelaskan pada petugas seperti saran kawan saya tsb. Tapi mbaknya tetap meminta saya membayar karna saya sudah didiskon 10 kg lho dari jatah 20kg menjadi 30kg. Mmm…karna saya masih ngeyel, akhirnya ada petugas lain, kali ini seorang pria, sepertinya memiliki jabatan yang lumayan, mendatangi counter kami dan bertanya masalah kami. Mbaknya menjelaskan duduk perkara kepada pria tersebut dalam bahasa Jepang. Masnya mendatangi saya dan menawarkan discount untuk membayar kelebihan bagasi saya. Saya lalu mengulangi lagi penjelasan saya ke mbak petugas tadi kepada mas pria ini. Dengan jurus onegaishimasu tolong dibantu, mas tadi paham kalau saya pelajar. Dia bertanya: berarti anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)?  Dengan tegas menjawab: Iya, ini beli tiket pesawatnya pun lewat Garuda PPI Kansai lho…bla..bla..bla..sebutin deh nama-nama pejabat di PPI Kansai *modus*. Mas pria pun tersenyum ramah seakan bertemu kawan satu group dan menginstruksikan mbak petugas untuk memasukkan semua bagasi saya berapapun kelebihan beratnya. Hah…puji Tuhan… Terima kasih mas pria yang tidak saya tahu namanya. Setelah urusan check in beres, mas pria tadi masih mengajak saya ngobrol, menanyakan tempat kuliah saya, dan mengucapkan selamat juga atas kelulusan saya. Sebelum saya berlalu, sempat menyalami saya, bapak, dan mbak sambil mengucapkan selamat jalan.

Sambil menunggu saat boarding, kami sarapan dulu. Berhubung sudah sampai Jepang dan belum makan udon, baiklah mari kita makan udon. (Nyari-nyari foto2 saat2 ini kok gak nemu ya? Ee..di manakah?).

OK, akhirnya waktu boarding tiba. Yuk masuk….

Saya dan Bapak-kakak ternyata terpisah lumayan jauh duduknya. Tapi tak apalah, berdoa semoga perjalanan lancar.

Kami transit di Ngurah Rai Denpasar kemudian berpisah di sini. Bapak-kakak melanjutkan penerbangan ke Jogja, sedangkan saya ke Jakarta. Kok ke Jakarta sih? Lah dapatnya tiket ke sana, nawar ke Jogja gak boleh. Ya sudah lah. Oche, dari Ngurah Rai, pesawat saya berangkat satu jam lebih awal dari pesawat kakak dan Bapak. Setelah berpamitan, saya pun menaiki bus menuju pesawat. Pesawat terbang dan beberapa saat kemudian sampai pula di Soeta. Saya sempat bertemu temannya teman untuk menyampaikan titipan, lalu menunggu kakak saya yang katanya mau datang menjemput lalu mengantar saya ke hotel. Sebenernya bisa saja saya tidur di rumah kakak di Bekasi sana, tapi kasihan besok pagi-pagi harus ngantar lagi ke bandara. Jadi sudahlah saya nginap di hotel murah dekat bandara saja. Tring..tring..sudah hampir putus asa karna kakak tak kunjung datang, saya pun menelepon hotel untuk menjemput. Eee…belum selesai telepon, kakak dan keluarga muncul. Bukannya disambut pelukan rindu setelah sekian lama gak ketemu, saya malah ngomel: iiiih….lama banget, disms gak balas, ditelpon gak bisa!! Hahaha…payah nih adik bungsu 😛 Menyadari respon yang gak OK, buru-buru saya cium tangan mereka dan ponakan2 cium tangan saya. Hihihi…. Kami pun menuju hotel.

Besok harinya, saya terbang ke Jogja. Kali ini pakai si singa. Sampai Jogja, sengaja gak minta jemput karna yang jemput pasti masih capek habis jemput Bapak-kakak semalam. Berasa cuma dari situ aja, iya kan, cuma dari Jakarta, cuma bawa satu koper besar dan tas ransel, saya sudah ‘dijemput’ banyak sopir taksi. Haha… Akhirnya saya pilih yang paling gigih & tentu saja yang murah :mrgreen:. Jadi, saya pulang ke Purworejo naik taksi avanza, sendirian. Ndak sampai 2 jam, sudah sampailah saya di kampung halaman. Haaa…..welcome home, Titik ^_^.  Tapi e tapi….ini rumah kok sepi?! Rumah Bapak malah kuncian, dan di rumah kakak cuma ada dik Ganesh dan yang momong. Wkwkwk…. Ternyata, Bapak baru ke sawah coba!! Hadeh…baru juga semalam tiba dari Jepang, paginya sudah ke sawah. Ndak capek po ya Bapak tu.. Nengoki aja sih, tapi mbok ya istirahat dulu to Pak… Habis ngglethak sebentar di rumah kk5, terdengar motor datang..haa…kk5 dan Krishna datang.. Krishna salting ketemu mb Tanti. Hihihi….. Ndak berapa lama Bapak pun pulang…. Ah….kembali di rumah lagi dan kali ini untuk waktu yang lamaaaa… Puji Tuhan..

Terima kasih Tuhan untuk segala hal yang telah Engkau limpahkan buat kami. Terima kasih untuk kesempatan mencari ilmu di Jepang. Terima kasih juga untuk kesehatan bagi Bapak selama saya berada di Jepang, pun selama lima hari Bapak berada di Jepang. Semua karna anugerahMu, Tuhan.. Hamba senantiasa mohon tuntunan dan pimpinanmu untuk kehidupan hamba selanjutnya di tanah air. Semoga senantiasa Engkau berkati dan menjadi saluran berkatMu bagi sesama. Amin..

Here i am…

home

Bapak & kk5 sedang melihat2 foto perjalanan Bapak ke Jepang

The last day >> Time to say good bye “See You!!”

19 Maret 2013

Hari ini adalah hari yang pernah sangat saya tunggu-tunggu, tetapi ketika sampai pada saatnya, hari ini menjadi hari yang begitu berat untuk dilalui. Manusia sering begitu ya, menunggu suatu waktu tetapi ketika sampai pada waktunya malah galau. Gimana donk? 😀

04:00 JST

Bangun dari tidur yang mungkin hanya dua-tiga jam. Mandi sebentar lalu bersiap. Pukul 05:00 sudah memesan taksi untuk menjemput di hotel. Bus dari Naruto Highway menuju Kansai Airport Osaka berangkat pukul 05:30. Karena di Jepang segalanya on time, maka memesan taksi pukul 05:00 sudah cukup untuk mengantar ke halte bus. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak menunggu terlalu lama. Dua taksi yang akan membawa kami, saya-bapak-kakak-barang2, sudah siap di depan ketika kami turun pukul 5 kurang 10 menit. Tiga orang, dan….rrr….2 koper besar, 1 tas besar, 2 koper kecil, tiga kardus boneka hinamatsuri, 1 ransel, 1 tas slempang, 1 tas kamera, 2 tas tangan. Omigod…..

Pukul 05:15 kami sudah sampai di halte bus Naruto. Sampai di sana, kami bertemu kawan orang Kenya yang juga akan back for good seperti saya. Dia diantar oleh kawan kami orang Jepang menggunakan mobil. Kami berlima pun menaiki highway menggunakan monorail.  Setelah turun dari monorail, kami masih perlu berjalan menaiki tangga/menggunakan lift untuk sampai di haltenya. Dengan barang bawaan saya yang begitu banyak, saya perlu bolak-balik untuk membawanya. Untunglah ada kawan-kawan saya itu, jadi bisa membantu membawa.

Sampai di atas, tak berapa lama datang kawan saya orang Fiji yang juga akan pulang setelah wisuda hari kemarin. Dia juga diantar kawan orang Jepang yang merasa kepagian mengantar ke halte pukul 05:00 dari asrama 😀 . Yah, karena orang Jepang terbiasa on time dan sudah hapal estimasi waktu dari rumah sampai halte, sedang kita terbiasa tidak on time, jadi lebih baik nunggu daripada ketinggalan bus. Hihi…

Sebelum bus datang dan kita harus berpisah, mari berfoto bersama dulu. Eh…saat kami berfoto, terdengar suara tapak sandal sedang berlari dan nafas yang ngos-ngosan. Rupanya dua teman kami, satu orang China dan satu orang Jepang berlari karna ingin menguntabkan (melepas kepergian) kami. Mereka pun langsung bergabung berfoto bersama. Motretnya hanya dengan HP jadi banyak red-eye-nya deh.

05:30

Pukul 05:30 kurang sedikit, bus tujuan Kansai Airport, Osaka pun datang. Sopir memberi karcis untuk bagasi kita lalu memeriksa tiket. Penumpang dipersilakan masuk dan sopir menaikkan barang-barang kita ke bagasi. Ya, di Jepang, sopir bekerja sendiri. Dan kita tidak perlu memberi tip untuk jasa menaik-naikkan barang-barang kita tersebut karna itu sudah menjadi bagian dari tugasnya.

Pukul 05:30 bus pun berangkat… Melambaikan tangan pada kawan-kawan yang mengantar di luar. Ah….see you, Naruto…

Setelah dua tahun menghabiskan hari-hari di Naruto dengan segala suka-dukanya, dengan kenangan, harapan, kegagalan, bangkit, dan lain sebagainya, akhirnya hari ini sampai juga. Dan kita harus berpisah, pulang kembali membawa segala kenangan yang ada di sana. Kembali teringat kata-kata yang terucap saat awal dulu: jarak ribuan mil itu dekat dan dua tahun itu cepat. Indeed, semuanya terjadi seperti yang terucap. Hatiku bergetar lagi menuliskan ini. Di jalan, matahari pagi pun bangun. Ah….fajar terakhir yang kulihat di Jepang. Oo…tidak, bukan…bukan yang terakhir, bukankah kaubilang ‘sampai jumpa’? Semoga kelak akan menjumpai lagi fajar di negeri sakura. Amin.

IMG_7410

Bus melaju dengan tenang menembus pagi yang lengang. Saya dan Bapak berbincang di jalan. Saya tidak ingin tidur di jalan, begitupun Bapak. Tak terasa bus telah tiba di pemberhentian yang kita tuju: Kansai airport. Kita semua turun dan mengambil bagasi kita. Masih terlalu pagi, counter check in Garuda belum buka. Baiklah, kita istirahat dulu. Saya turun ke lantai 2 untuk membeli beberapa makanan untuk oleh-oleh, seperti Kit-Kat rasa matcha dan sakura. Setelah dirasa cukup, saya kembali ke lantai 4 dan mengantri di counter check in. Sudah bersiap dengan bagasi yang bejibun sekaligus jawabannya. Petugas di counter adalah orang Jepang. Bagaimana kabar bagasi saya yang sudah pasti overweight itu? Berapa yen yang harus saya bayar? Besok lagi ya ceritanya… Hehe…. 😀

Kecele’ bau tubuhmu…

[Cerita di balik aroma]

Ada banyak kenangan yang terpapar ketika suatu aroma tiba-tiba menyeruak masuk menggoyang bulu-bulu hidung dan mengirim sinyal informasi ke otak. Tak hanya informasi tentang sumber aroma tersebut, tetapi lengkap dengan kenangan yang menyertainya. Saya punya cerita tentang aroma itu. Mungkin sedikit konyol, tapi setiap kali tercium aroma itu, saya kembali tersenyum geli.

Ceritanya saya punya teman dekat, sudah sangat dekat sekali sehingga ‘baunya’ pun saya hapal. Saat bersama dia ‘baunya’ selalu memenuhi radius 2 meter di sekeliling kami. Saat dibonceng dia, aroma itu yang tertiup angin dan masuk ke lubang hidungku. Begitupun ketika memasuki kamar kostnya. Sudah lah, ini baunya banget. Maka setiap kali tercium aroma tubuh dan kamarnya itu, saya sudah pasti yakin itu dia yang datang. Sampai suatu hari aroma tubuh dan kamarnya itu tertangkap indra penciuman saya. Ada seseorang di belakang saya yang dari aromanya saya yakin betul kalau itu dia. Tapi….. Begitu saya membalik badan dan melihat sosok di belakang saya itu, lhooo…. kok bukan diaaa??? Ini kan bau diaaa??!!! Kenapa?! Kenapa kamu nyama-nyamain aroma tubuhnya??? Saya kecele’ teramat sangat. Hiks…

Ketika kemudian saya mengadu padanya bahwa ‘baunya’ itu juga dimiliki orang lain, kami selidiki apa penyebabnya. Ternyata oh ternyata, segala aroma tubuh dan kamar yang dia miliki berasal dari pewangi pakaian dari tempat laundry langganannya. Dan tentu saja yang mencucikan baju di tempat laundry tersebut bukan hanya dia tapi juga orang-orang lain termasuk orang yang saya pikir nyama-nyamain baunya itu. Hahaha….

wangi

Setelah kejadian itu, definisi aroma itu menjadi sedikit meluas, bukan lagi aroma tubuhnya tetapi terdeteksi sebagai aroma laundry langganannya. Hahaha…… Sayangnya saya belum pernah nanya ke tukang laundry-nya, merk pewangi apa yang dia pakai. Kalau tahu kan bisa saya pakai juga di rumah, supaya saya bisa selalu membaui tubuhnya. Asal nggak kesaru sama bau tubuh orang lain di belakang saya tadi aja. Hahaha…

Setelah sekian lama saya tidak mencium aroma itu, beberapa waktu yang lalu ketika tercium lagi, saya kembali ngikik. Teringat kejadian kecele’ aroma pakaian yang sama dari dua orang yang berbeda. Hihihi….

Begitulah sedikit cerita di balik aroma yang pernah saya miliki yang saya ceritakan untuk meramaikan Giveaway Cerita di Balik Aroma yang diadakan oleh Kakaakin.