5 Hari di Jepang: hari ke-3 & ke-4

Lho kok dijadiin 1? Iya, soalnya hari ketiga itu kan baru pulang dari Kyoto, jadi anggaplah hari istirahat yaa, meskipun ada kegiatan juga malamnya. Jadi, kami tiba dari Kyoto hari Jumat malam. Bapak dan kakak langsung saya inapkan di penginapan sedangkan saya kembali ke asrama. Hari Sabtu pagi jadwal saya buang sampah-sampah besar (baju bekas, kertas bekas, elektronik bekas yang tidak bisa dilungsurkan) ke Recycle Center Naruto. Untuk membuang sampah memang agak ribet di Jepang ini. Saya punya lemari es kecil yang kebetulan dulu dapat lungsuran tapi kemudian rusak. Saya tidak tega mau nglungsurkan lagi ke teman lain, akhirnya saya pilih untuk membuangnya saja. Saya harus bayar sekitar 3500 yen. Hehe… Berhubung saya tidak mau ada masalah sebelum kepulangan ke Indonesia, jadi saya ikuti saja semua peraturan pembuangan sampah di sini. Saya membayar di kantor pos, kemudian saat membuang sampah, tanda terima pembayaran diserahkan kepada petugas di recycle center.

Sabtu pagi (hari ke-3, 16 Maret), setelah beberes, saya dijemput teman orang Jepang yang mau mengantar ke pembuangan sampah. Segala baju bekas, kertas bekas, dan sampah-sampah lain kami masukkan ke mobilnya, lalu kami melaju ke recycle center. Letak RC-nya di pojokan di daerah pegunungan. Sampai sana ternyataaa……TUTUP. Ah…ternyata Sabtu-Minggu tutup. Teman saya yang mengantar tadi juga tidak tahu kalau Sabtu tutup karna RC di tempatnya tetap buka di hari Sabtu tapi hanya setengah hari. Kami akhirnya kembali ke asrama dan menurun-nurunkan lagi sampah-sampah tadi. Saya tinggal punya hari Senin, 18 Maret untuk menyelesaikan segala urusan karena 19 Maret subuh saya sudah harus berangkat ke bandara lalu kembali ke Indonesia. Padahal 18 Maret adalah hari wisuda saya dan teman saya yang mengantar tadi. O’ow… Saya tadinya mikir pas hari  terakhir di Jepang ini sudah bebas segala urusan, tinggal wisuda, check out dari asrama lalu jalan-jalan cari oleh-oleh. Ternyataaaa….akan ada ceritanya nanti :D. Akhirnya teman saya yang baik hati itu mau membantu saya membuang sampah di hari wisuda itu, tapi sore hari. Saya janjian dengan petugas asrama untuk cek out jam 4. Jadi dia menawarkan untuk mengantar sendiri tanpa saya. Duh, orang Jepang ni kalau baik ya baik banget deh. Dengan sedikit tidak enak akhirnya saya setujui. Bagaimana lagi, jadwalnya mepet.

Nah, setelah acara buang sampah yang gagal itu, saya bersepeda menuju penginapan Bapak dan kakak. Ternyata mereka berdua sudah check out dari hotel. Gasik banget. Nanti malam rencananya mau menginap di rumah teman, jadi saya memang bilang sama pihak hotel kalau besok kami check out dan check in lagi hari minggu malam untuk menginap 2 hari, minggu dan senin. Saya pikir bisa check out nanti agak siang, ee…jam 10an saya sampai hotel, mereka udah di luar. Begitu liat saya langsung tertawa mereka: kita buta huruf deh, gak bisa ngomong, gak mudeng apa-apa. Hihi… Saya bicara dengan pihak hotel dan meninggalkan barang-barang kami di hotel karna besok bakal menginap di sini lagi. Setelah urusan dengan hotel beres, kami pergi ke asrama saya. Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan. Dari hotel ke asrama jalan kaki. Jauh bo’.. Eh mampir sarapan dulu ding. Bapak saya minta menaiki sepeda saya biar gak terlalu capek. Hihi..bersepeda di Jepang ya Pak 😀 . Berhubung asrama saya pulau tersendiri, jadi kami harus menaiki kapal boat untuk menyeberang. Sayang fotonya belum tersimpan di sini, masih di HP, nanti deh disusulkan.

Sudah hampir sampai di asrama, kami bertemu dengan bunga sakura yang sudah mekar. Ayo foto dulu, Pak… 🙂

bapak sakura

Setelah sampai asrama, Bapak dan kakak kaget: lho kok masih banyak yang belum diberesi??!! Wkwkwk….walhasil, hari itu saya dan kakak berjibaku menyelesaikan packing yang belum selesai. Bapak, istirahat saja ya Pak :D. Sudah agak sore, teman saya orang Indonesia menjemput ke asrama. Kami memang berencana menginap di rumahnya karna kebetulan ibu’nya juga datang dari Indonesia. Sampai di rumahnya, ternyata istrinya masak besar. Eh? Dan ternyata juga mengundang teman-teman Indonesia lainnya  untuk datang. Hwaa…gak kepikiran bakal ada acara, taunya cuma main doang :D. Teman saya itu juga habis lulus Ph.D, jadi sekalian syukuran katanya. Ooh…. Tiwas saya gak bawa apa-apa. Hari ke-3 ditutup dengan ngobrol bareng keluarga Indonesia di Tokushima.

Wah, ternyata baru cerita hari ke-3 sudah sepanjang ini. Gak jadi digabung kalau gitu.. Wkwkwk… Hari ke-4 di postingan selanjutnya saja deh, hihi… Puji Tuhan sampai hari ketiga Bapak masih sehat dan bugar. Agak sakit perut sedikit katanya, plus gak bisa ke belakang buang air besar jadinya Bapak takut makan. Kalau buang air kecil malah bolak-balik. Tapi secara keseluruhan masih bisa diatasi. Bersyukur juga ada banyak teman-teman yang membantu selama Bapak di Jepang. Termasuk yang membantu mengantar buang sampah, memberi penginapan hari itu, juga yang besok hari mengajak Bapak melihat pameran boneka di festival hinamatsuri. Apa itu hinamatsuri? Besok ya ceritanya…. 🙂 #gaya

Salam dari Jogja,
Titik

#Tambahan. Puji Tuhan, foto ini terpilih sebagai pemenang kontes Sehari menjadi Srikandi di blog Happy Photographs. Terima kasih komandan Blogcamp group dan dewan juri untuk kesempatannya. Sukses selalu. 🙂

5 hari di Jepang: hari ke-2

Hari pertama di Jepang, Bapak termasuk tangguh lho. Bagaimana tidak, jetlag suhu dari daerah tropis ke daerah empat musim yang masih mengakhiri musim dinginnya, dan langsung jalan-jalan padahal habis perjalanan 8 jam lamanya. Salut memang untuk Bapak. Puji Tuhan ya Pak. Semangat dari dalam memang bisa mengalahkan segalanya. Uhuy deh..

Setelah semalam tidur nyenyak (mudah-mudahan nyenyak beneran ya Pak), hari kedua di Jepang, Bapak diajak jalan-jalan lagi (ini anaknya gak kasihan sama Bapaknya :D ). Karna rencananya jalan seharian, jadi kita membeli kartu city bus all day pass seharga 500 yen. Dengan kartu tersebut, kita bisa keliling kota naik bis sepanjang masih dalam lingkup yang tercover city bus. Asyik kan? Pertama, kita mau mengunjungi Kyomizudera temple, lalu Ginkakuji temple, dan yang terakhir Kinkakuji temple. Lah kok temple semua? Iya ya.. Haha… Kemarin waktu di stasiun kita sempat ke Information center buat nanya-nanya tempat yang direkomendasikan. Tiga tempat itu direkomen. Ya udah deh, kita ke sana yuk. Di Kyoto biarpun pergi sendiri insyAllah gak tersesat deh. Sudah banyak yang berbahasa Inggris, banyak disediakan peta dan petunjuk juga. Untuk rute bus pun sudah ada map-nya. Jadi lebih tenang dan aman bertualang di sana.

Kita berangkat dari hostel dengan mengambil noriba (bus stop) yang terdekat dari hostel. Tujuan pertama Kyomizudera. Sambil melihat di petunjuk rute, Bapak menghitung berapa halte yang kita lewati sebelum turun. Sambil juga menikmati keteraturan di Jepang. Dan..sampai juga di halte Kyomizudera. Kami turun lalu berjalan menuju temple. Karena kuil-kuil biasanya dibangun di tempat yang tinggi, maka perjalanan menuju kuil pun perjalanan yang menanjak. Sampai di Kyomizudera pohon-pohon sakura sudah muntub-muntub nyaris membuka kuncup sakuranya. Sayangnya baru nyaris :D . Tapi ada beberapa yang sudah berbunga meski belum mekar sempurna.

Di Kiyomizudera ini biasanya pengumuman kanji of the year digelar. Di sini juga terdapat tiga mata air yang konon melambangkan kesehatan, umur panjang, dan kesuksesan. Pengunjung bisa meminum dari mata air tersebut. Tapi kalau minum dari ketiga mata air, malah tidak mendapatkan kemurahan kesehatan, umur panjang, dan kesuksesan lho, karna yang bersangkutan berarti serakah. Hehehe…

Habis puas berkeliling, kami turun dan melanjutkan perjalanan ke Ginkakuji temple. Ini juga dikenal sebagai kuil perak. Di Ginkakuji ada Ginshadan sand layout di mana pasirnya katanya diambil dari gunung Fuji. Taman di Ginkakuji juga sangat indah. Rasanya sejuk berada di sini.

Di Ginkakuji kami tak begitu lama. Kami lalu menuju Kinkakuji temple. Nah, kalau Ginkakuji tadi kuil perak, kalau Kinkakuji kuil emasnya. Sudah sore kami sampai di Kinkakuji. Jadi memang tidak bisa berlama-lama. Lagipula suhu mulai dingin. Kami pun kembali ke hotel. Setelah makan kami pun siap-siap untuk kembali pulang ke Naruto. Saya sudah membeli tiket bus dari Kyoto ke Naruto. Halte busnya ada di Kyoto station noriba nomor 1. Karna segala sesuatu di sini on time, jadi sambil menunggu waktu kami foto-foto dulu. Bus pun datang, dan kami pulang….. Sampai jumpa di Naruto.. ^_^

Bapak sampai di Jepang

Setelah semua persiapan lancar, tanggal 13 Maret 2013, Bapak berangkat dari Adi Sucipto Jogja transit di Ngurah Rai Denpasar. Sesuai jadwal, Bapak akan tiba di Kansai airport di Osaka hari berikutnya, 14 Maret 2013 pukul 08:30 JST. Saya jemput di bandara. Saya berangkat dari Naruto dengan bus pukul 05:30. Puji Tuhan ada teman yang mengantar dari asrama sampai halte bus di pagi buta itu. Terima kasih ya.

Bus melaju dengan tenang. Saya tertidur karna semalam saya tidak tidur sama sekali. Di hari-hari akhir sebelum kepulangan memang saya sering tidak tidur. Beberes yang tak beres-beres dan entah apa lagi. Sampai lupa saya. Dan tiba-tiba bus sudah mendekati bandara. Lumayan juga, tidur sekitar 2 jam. Sampai di Kansai airport masih sekitar pukul 07:30. Wah, masih lama donk menunggu Bapak dan kakak. Akhirnya saya turun ke lantai 2, jalan-jalan nyari kombini untuk beliin pelembab bibir buat Bapak. Suhu memang sudah menghangat untuk kita yang di Jepang, sekitar 8 derajat saat itu. Tapi untuk Bapak, yang baru datang dari Indonesia, pasti dingin sekali. Dan biasanya bibir jadi kering dan pecah-pecah. Makanya perlu pelembab bibir. Pukul 8 saya turun ke lantai 1, pikir saya supaya saya sudah di tempat ketika Bapak dan kakak keluar. Setengah 9 lebih, belum keluar. Mungkin urusan imigrasi dan bagasinya lama, pikir saya. Malah kemudian saya bertemu dengan suami dan anak-anaknya kawan saya yang baru datang dari Indonesia. Wah, satu pesawat dengan Bapak donk, tanya saya. Iya, tapi saya udah terakhiran lho ini keluarnya. Heh?? Lha Bapak sama kakak mana?? Saya masih menunggu dengan sedikit cemas. Jangan-jangan ada masalah di imigrasi atau claim bagasi nih. Masih celingak-celinguk, tiba-tiba saya ditepuk suaminya teman saya tadi dari belakang, dan dia datang bersama Bapak…. Haaaaaaa…..ternyata Bapak sudah nunggu di luar dari tadi.. Pesawatnya mendarat lebih awal dari jadwal. Bodohnya, saya kok ya gak ngecek di pengumuman. Ha..sudahlah yang penting sudah ketemu Bapak. Peluk-peluk Bapak dan kakak lalu nganter Bapak ke toilet dulu plus ngasih jaket yang lebih tebal. Bener kan, Bapak kedinginan.

welcome to Japan, Pak

welcome to Japan, Pak

welcome to Japan, sist.. Makasih sudah nganterin Bapak sampai ke Jepang..

welcome to Japan, sist.. Makasih sudah nganterin Bapak sampai ke Jepang..

Dari bandara kami tidak langsung pulang ke Naruto, tapi kami ke Kyoto dulu buat jalan-jalan. Kalau udah pulang ke Naruto, nanti susah buat jalan-jalan. Kami naik bus lagi dari bandara ke Kyoto. Semua tiket sudah saya pesan di Naruto kemarin, termasuk tiket pulang dari Kyoto ke Naruto besok. Di bus saya tanya-tanya ke Bapak tentang perjalanan semalam. Ini adalah perjalanan dengan pesawat terbang pertama untuk Bapak maupun kakak. Wah, terbang pertama langsung ke Jepang, kata saya. Bapak pun cerita kalau pas di Bali ternyata transitnya cuma sebentar sekali, tidak ada waktu istirahat sama sekali, langsung masuk pesawat dan terbang. Lalu setelah tiba di Osaka, di bagian pemeriksaan dan imigrasi Bapak ditanya alamat saya. Lha Bapak gak tahu, tahunya cuma Tokushima. Lalu oleh petugas ditanya nama lengkap saya dan tanggal lahir saya. Untunglah di keluarga kami, tanggal lahir memang diingat, jadi Bapak maupun kakak dengan mudah menyebut nama lengkap dan tanggal lahir saya. Lalu dicek oleh petugas dan ditemukan alamat lengkap saya. Petugas sendiri yang akhirnya menuliskan di form. Beres deh urusan. Yang gak beres, ketika keluar kok saya gak ada. HP kakak tidak bisa untuk menghubungi karna tombol roamingnya belum di-ON-kan. Hihi..maklum grogi ya Buk :P. Dan di bus pun kita jadi yang paling ramai, padahal di bus gak boleh ramai-ramai. 😀

baru tiba di Kyoto.. Berfoto di bawah bunga sakura (atau momo ya?) dan kedinginan.. brrrr.....

baru tiba di Kyoto.. Berfoto di bawah bunga sakura (atau momo ya?) dan kedinginan.. brrrr…..

tetap bergaya meski dingin :D

tetap bergaya meski dingin 😀

Sekitar satu setengah jam perjalanan, kami sampai di Kyoto. Di Kyoto, kami menginap di Kyoto Hana Hostel, hostel untuk para backpacker. Kami memilih yang satu kamar untuk bertiga, Japanese style. Sampai di sana belum waktunya cek in. Kami istirahat dulu di  ruangan bersama yang bisa digunakan untuk istirahat. Bapak saya bikinkan teh lalu tidur. Sekitar pukul 1 atau 2, perut sudah lapar. Kami keluar untuk makan. Kebetulan dekat hostel ada warung Sukiya, ya sudah yuk makan di sini saja.

makan pertama di Jepang :D

makan pertama di Jepang 😀

Setelah selesai makan, Bapak masih dingin sebenarnya. Saya tawarkan mau jalan-jalan apa mau istirahat di hostel? Ternyata pada mau jalan. Kami lihat peta yang kami dapat dari hostel. Lalu memilih lokasi yang dituju. Pilihan jatuh ke Fushimi Inari shrine. Kebetulan saya juga belum pernah ke sana. Yang saya tahu, shrine ini digunakan sebagai lokasi syuting film Memoirs of Geisha. Kami menggunakan kereta menuju Inari. Dari Kyoto station hanya 2 stasiun. Berhubung kami ngobrol di kereta, alhasil kami melewatkan stasiun Inari. Hahaha… Kebablasan deh. Kami turun di stasiun berikutnya dan mengambil kereta balik yang ternyata lama. Dingin banget waktu nunggu kereta. Kita pun cari-cari lokasi yang tingkat kedinginannya paling rendah. Haha…

keretanya mirip Prameks :D

keretanya mirip Prameks 😀

di dalam kereta yang sepi..

di dalam kereta yang sepi..kereta balik habis kebablasan 😀

sampai juga di Inari station :D

sampai juga di Inari station 😀

tinggal aja, Pak.. Kalau keluar, tiketnya ditelan :)

tinggal aja, Pak.. Kalau keluar, tiketnya ditelan 🙂

Akhirnya sampai juga kita di Inari shrine. Tidak begitu ramai kelihatannya, padahal cukup terkenal juga tempat ini. Gak papa deh, malah bagus buat foto-foto :P. Di kuil ini terdapat ribuan torii (pintu gerbang) sebagai penghargaan kepada para donatur pembangunan kuil. Warnanya merah-oranye. Konon warna demikian untuk mengusir roh-roh jahat. Jadi di sepanjang setapak, kanan-kirinya adalah torii-torii itu. Udah pernah nonton Memoirs of Geisha? Pasti tahu lah ya 🙂 Saya sih belum. #eh 😛

bergaya di pintu gerbang utama

bergaya di pintu gerbang utama

Bapak & anak sama-sama gaya :P

Bapak & anak sama-sama gaya 😛

bertigaaa ^_^

bertigaaa ^_^

Sudah berkeliling shrine, Bapak sudah capek, tapi yang terutama sih sudah kedinginan. Kami pun kembali ke penginapan. Naik kereta lagi menuju Kyoto station. Dari Kyoto station ke penginapan kita jalan cepat, habisnya dingin. Hehe… Sampai penginapan, gelar futon lalu istirahat sebentar sambil ngobrol-ngobrol. Setelah lelah dan dingin hilang, kami bergiliran mandi. Mau makan masih pada kenyang. Tapi kalau gak makan bakalan lapar. Pilihan jatuh ke….bikin Indomie..!! Wkwk.. Kebetulan kakak bawa Indomie dan di penginapan memang bisa masak. Yippie…merasakan Indomie Indonesia… Enak banget. Kami bikin 4 porsi, 1 porsi untuk nambah :D.

Selesai makan, kembali ke kamar. Ngobrol-ngobrol lalu lambat laun Bapak tertidur sementara saya dan kakak masih ngobrol plus nransfer foto-foto. Tidak berapa lama sudah terdengar suara dengkuran Bapak. Ah mak….tak terkatakan deh bahagia dan harunya. Luar biasa ya penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Luar bisa berkat Tuhan dalam hidupku. Saya merasa ajaib bisa bersama-sama Bapak di Jepang di usia Bapak yang ke-79. Ajaib biasa mendengar dengkurannya di Jepang. Ajaib. Tuhan memang benar-benar ajaib. Syukur padaMu ya, Allah. Tak terasa air mata berlinang. Saya memunggungi kakak saya (biar gak ketahuan kalau mewek :mrgreen: ) lalu tidur.

Besok jalan-jalan ke mana lagi ya? Tunggu cerita selanjutnya ^_^

 

Mengundang Bapak ke Jepang…

Baca postingan Bu Enny yang sedang mengunjungi putrinya di Jepang, saya jadi ingin menuliskan juga kunjungan Bapak ke Jepang sebelum saya pulang kemarin. Dan tentang kepergian Bapak ke Jepang ini pun menjadi pertanyaan teman-teman ketika bertemu saya. Ya, mereka sudah melihat fotonya di facebook tetapi memang saya tidak cerita-cerita sebelumnya kalau Bapak mau ke Jepang, jadi mereka cukup terkejut. 🙂

Ceritanya, sekitar bulan November ketika saya menelepon Bapak via skype, Bapak bertanya: “kamu besok pas wisuda terus siapa yang menemani?”. Ada rasa entah yang menyusup di hati yang membuat saya merinding ketika Bapak bertanya begitu. Dalam hati saya merasakan keinginan Bapak untuk mendampingi saya wisuda, karna setiap pencapaian anak-anaknya adalah kebanggaan untuknya. Tetapi saya juga melihat kekecewaan dari pertanyaannya karna tidak bisa menemani wisuda saya. Bagi Bapak, pergi ke Jepang mungkin adalah kemustahilan. Tapi saya jadi mikir-mikir, kenapa enggak mengajak Bapak ke Jepang, mumpung Bapak masih sehat dan mumpung saya masih di Jepang? Kesempatan kan gak datang dua kali. Yup, akhirnya saya menawarkan pada Bapak untuk ke Jepang saat saya wisuda. Awalnya Bapak ragu, takut keluar biaya banyak. Tapi setelah saya bujuk, Bapak ndak ragu lagi. Jadi kita mulai tahapannya. Pertama membuat paspor.

Seperti prosedur pembuatan paspor yang saya baca di sini, Bapak harus melengkapi syarat-syarat pembuatan paspor, di antaranya bukti domisili (KTP & KK), bukti identitas diri (bisa pilih salah satu: akta kelahiran, akta perkawinan/surat nikah, ijazah, surat babtis, atau surat keterangan lain yang dikeluarkan pemerintah). Nah, untuk KTP & KK sih gak ada masalah. Tapi untuk bukti identitas diri, Bapak sempat bingung juga. Akte kelahiran, Bapak sudah gak punya. Surat nikah, sebenarnya ada, tapi sudah agak rusak begitu. Ijazah, yaaah…sudah gak ada juga. Jadi kemungkinannya hanyalah surat babtis. Bapak dengan semangat mengayuh sepeda ke gereja (ya, Bapak kalau sedang semangat memang begitu, berani bersepeda ke mana-mana). Bapak mau minta surat babtis dari gereja. Di gereja kan ada arsipnya. Waktu ditanya untuk apa, Bapak menjawab: untuk ke Jepang. Haha..Bapak gaya banget.

Berkas-berkas untuk pembuatan paspor sudah lengkap baik untuk Bapak maupun untuk kakak (Bapak ke Jepang diantar kakak). Tapi….di sela-sela itu Bapak jatuh sakit :(. Semangat Bapak untuk ke Jepang pun menyusut. Saya menyerahkan ke Bapak bagaimana baiknya, karna yang paling tau kekuatan Bapak kan Bapak sendiri. Yang penting saat itu Bapak sembuh dulu. Nanti setelah sembuh baru dipikirkan lagi. Dan setelah Bapak sembuh, ternyata Bapak masih punya keinginan untuk ke Jepang. Malah langsung bilang sama saya kalau mau ngurus paspor hari Senin. Wah, senangnyaa. Selama Bapak mengurus paspor, saya pun mencari tiket untuk Bapak dan kakak.

Sebagai anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), kami mendapatkan perlakuan khusus dari Garuda Indonesia. Pihak Garuda memberi discount khusus tiket untuk mengundang keluarga ke Jepang. Saya pun memanfaatkan promo tersebut. Karna dari pemberi beasiswa jadwal kepulangan saya sudah pasti, saya pun memesan tiket untuk kembali di tanggal yang sama dengan saya. Karena memesan tiketnya online, jadi semua syaratnya dikirim dalam bentuk file. Syaratnya adalah foto paspor saya (pengundang), kartu pelajar, alien card, paspor keluarga yang diundang, dan bukti hubungan keluarga (bisa menggunakan akte kelahiran maupun KK). Semua syarat sudah dikirimkan. Eh, ada masalah, ternyata pada tanggal keberangkatan yang saya pilih, tidak ada penerbangan dari Bali karena hari raya Nyepi. Saya pun memundurkan satu hari sehingga akhirnya Bapak hanya di Jepang selama 5 hari. Tapi puji Tuhan, urusan paspor dan tiket dapat berjalan lancar.

Selanjutnya adalah mengurus visa. Seperti syarat pengajuan visa yang tercantum di website kedutaan besar Jepang di Indonesia, Bapak menggunakan jenis visa kunjungan keluarga. Saya mengirimkan undangan dan syarat-syarat lainnya ke rumah untuk kemudian digunakan mengurus visa di kedutaan Jepang di Jakarta. Kakak saya yang mengurus visa ke Jakarta, Bapak tidak perlu ikut karna bisa dititipkan kakak. Tidak sampai seminggu, visa sudah jadi dan siap diambil. Dengan demikian, Bapak SIAP pergi ke Jepang. Horeeee……

20130423-145037.jpg

keluarga yang mengantar keberangkatan Bapak

 

 

#all by His grace

Berkat Kartini…

20130421-173955.jpg

Menjadi srikandi masa kini berarti memberi dari yang kita miliki untuk kemanfaatan bersama. Berterima kasih kepada RA Kartini yang telah membuka pintu emansipasi kepada perempuan-perempuan Indonesia untuk mengenyam pendidikan yang setara dengan kaum pria. Kini, wanita pun bisa berkarya, bisa bekerja, bermanfaat tak hanya bagi keluarga tetapi juga bagi negara.

Selamat hari Kartini!!

Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Sehari Menjadi Srikandi

20130421-192410.jpg

 

 

#Katini kecil sedang dikarantina untuk mengerjakan laporan akhir tahun di kantornya 🙂

Ujian Nasional…

Semua pasti tahu ya kalau hari ini adik-adik kita kelas XII SMA/SMK dan sederajat mengikuti ujian nasional alias UN, kecuali 11 provinsi yang karna kesalahan teknis (katanya) diundur pelaksanaannya menjadi hari Kamis nanti. Hmm…semoga saja adik-adik di 11 provinsi tersebut tetap semangat dan tidak terganggu persiapannya.

Bicara tentang UN, beberapa waktu lalu saya sempat menonton berita tentang bagaimana siswa-siswa begitu ‘histeria’ menyambut UN ini. Memang banyak sekolah yang mengadakan doa bersama, buat saya sih itu masih wajar. Tapi ketika saya melihat ada siswa-siswa yang meminta air yang sudah didoakan untuk dibawa atau menulisi pensil yang akan digunakan untuk ujian dengan doa-doa tertentu, saya merasa miris. Apakah harus sebegitu berlebihannya? Atau mungkin kurangnya pengetahuan saya tentang ‘usaha’ yang semacam itu. Berdoa memang wajib hukumnya, tetapi usaha juga harus mengiringi. Ayolah, hadapi dengan optimis. 🙂

Dulu saya juga pernah ujian nasional lho dik (ini ngomong sama adik2 yang mau/sedang UN 😀 ), tapi waktu itu namanya EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Memang sih, dulu tidak menggunakan standar nilai minimal seperti sekarang, tetapi dikombinasi dengan nilai EBTA yang kalau sekarang Ujian Sekolah. Eh, sekarang penentu kelulusan juga bukan cuma nilai UN kan? Ada nilai Ujian Sekolah juga kan yang menjadi penentu kelulusan?  Jadi tidak perlu terlalu takut menghadapi UN ya, meskipun tidak mengurangi persiapannya. Jadi ingat jaman mb Tt dulu menghadapi Ebtanas. Cerita-cerita jaman mb Tt dulu yuk…

kartu Ebtanas

Dulu mb Tt gimana sih persiapanya? Stress juga gak menghadapi Ebtanas? 

Eh, jangan salah ya. Sejak SD, kalau mau Ebtanas, di sekolah pasti ada kelas tambahan. Les di pagi hari dan siang hari sepulang sekolah. Kalau waktu SD sih belum ikut bimbingan belajar. SMP juga belum, hanya mengandalkan les di sekolah saja. Ketika SMA, karna materinya lebih sulit, dan saya lemah di Fisika, jadi ngambil bimbingan untuk Fisika. Trus mb Tt belajar tiap hari gak? Ssstt…jangan ditiru ya…mb Tt belajar kalau ada PR dan mau ulangan. Hihi… Tapi kalau udah kelas 3, jadi lebih rajin belajar, soalnya jadi lebih banyak PR atau latihan soal yang dikasih dari sekolah. Memang untuk orang-orang macam saya, harus dikasih rangsangan supaya mau belajar, ya itu..dengan ngasih banyak latihan soal.

Biar gak stress menghadapi UN gimana caranya sih mb?

Waduh….pertanyaannya… Tapi menurut saya, kita grogi, tegang, panik menghadapi sesuatu itu karena kita tidak siap. Nah, supaya tidak stress, bersiaplah. Caranya? Ya belajar. Hehe… Belajar itu bisa dengan membaca sendiri, belajar bersama teman, di sekolah, di bimbingan belajar, latihan soal, atau juga membuat ringkasan sendiri. Jaman sekolah dulu, terutama kalau mau Ebtanas, Bapak selalu bangunkan saya pagi-pagi buat belajar. Kenapa? Karna kata Bapak, pagi-pagi itu pikiran masih fresh karna habis istirahat. Jadi kalau malam saya boleh tidur gasik, tapi besok pagi juga bangun gasik. Di hari lain selain menjelang ujian, biasanya saya susaaaaah banget dibangunin pagi. Tapi kalau pas mau ujian, yaaa…namanya juga pengen bisa ngerjakan, harus mau berkorban dikit, buat diri sendiri ini, Ya kan? 😉

Nah, kalau jaman SMA, udah agak gedhe, udah cari cara sendiri buat mempelajari materi-materi sulit. Dulu saya bikin ringkasan di kertas folio garis tapi dilipat jadi 4 kolom. Jadi kan kecil tuh, bisa dibawa-bawa. Sebenarnya membuat ringkasan begitu artinya sudah belajar minimal 3 kali lho. Pertama, membaca. Kedua, menulis ringkasannya yang artinya membaca dan mengingat dalam satu kegiatan. Ketiga, membaca ringkasannya itu. Terus kalau lagi belajar dengan teman, biasanya saya main tebak-tebakan. Buat saya itu lebih nyantel di ingatan. Kalau adik-adik, carilah sendiri cara-cara yang buat kalian paling nyaman dan paling mudah, karna tentu saja beda kepala beda pula caranya, Ya kan?

Jaman mb Tt, ada doa bersama di sekolah gitu gak sih?

Mmm…saya dulu sekolah di sekolah negeri. Dan jaman saya dulu, Ebtanas itu tidak seheboh sekarang ini. Biasa saja, sewajarnya tes kenaikan kelas. Hanya, Ebtanas ini kenaikan kelas yang lebih tinggi. UN juga begitu. Wajar kalau setiap akan naik kelas kita diuji kan? Dalam kehidupan juga seperti itu, ada cobaan, ada ujian kalau kita mau ‘naik kelas’ ke level hidup yang lebih tinggi. Jadi, UN atau Ebtanas itu adalah sebuah kewajaran. Berdoa tentu saja kita lakukan. Tetapi untuk doa bersama di sekolah, jaman saya dulu tidak ada. Saya ‘hanya’ berdoa sendiri & meminta doa restu Bapak & Ibu. Selebihnya, ya belajar. 🙂

Mb Tt nilai UN/Ebtanasnya bagus ya?

Eeeeeh….meskipun saya nulis macem-macem di atas itu, tapi bukan berarti trus nilai saya bagus banget. Yah, biasa saja. Bagus banget juga enggak, jelek banget juga enggak. Untuk Ebtanas SD dan SMP, NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang diperoleh, puji Tuhan masih cukup untuk masuk ke sekolah yang saya inginkan. Untuk Ebtanas SMA, seperti saya bilang tadi bahwa saya lemah di Fisika, jadi nilai Fisika saya ya jeblog. Hiks deh… Yang penting saya sudah berusaha, sampai les segala, hasilnya…ya itu hasil usaha saya. Diterima dengan lapang dada. Hidup belum berakhir karna nilai Fisika saya jelek. Apalagi setelah itu masih harus mempersiapkan diri lagi untuk UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), jadi gak boleh sedih lama-lama. Pokoknya, jangan mudah menyerah deh!! Tidak udah takut dengan ujian, karena di manapun, selama hukum alam ini masih berlaku, yang namanya ujian itu selalu ada. 🙂

Jadi dik adik, ayo semangat hadapi UN-nya. Tidak usah berlebihan takutnya. Sewajarnya saja & selalu optimis!! Belajar dan berdoa yaa…. Minta restu orang tua juga.. Selamat mengerjakan UN!! 🙂

Soto Pak Rus Stasiun Purworejo & Pertemuan dengan Cucu Cantik

Masih melanjutkan cerita tentang kotaku Purworejo. Selama di rumah, belum banyak melakukan wisata kuliner ke mana-mana. Tapi Minggu kemarin sepulang gereja, kami mampir ke warung Soto Pak Rus yang sekarang terletak di timur stasiun Purworejo. Soto Pak Rus dulunya ada di stasiun Purworejo sampai-sampai sering dikenal sebagai soto stasiun. Waktu masih di stasiun, warungnya hanya kecil tapi pengunjungnya banyak. Kita sering berbagi meja dengan orang lain karna memang gak ada tempat. Bahkan kadang kita makan di kursi-kursi ruang tunggu stasiun. FYI Stasiun Purworejo sudah tidak digunakan secara aktif lagi, hanya dipertahankan sebagai monumen. Soto Pak Rus sekarang sudah pindah ke timur stasiun yang tempatnya lebih luas.

Rasa soto Pak Rus ini memang beda dari soto daging lainnya. Gurih dan manisnya pas di lidah. Apalagi ditambah babatnya. Yumm….kalau kata Pak Bondan: mak nyuuusss!!! Eh, sudah dapat pengakuan dari Pak Bondan si master wisata kuliner lho kalo Soto Pak Rus ini mak nyusss!! 😀 Ah…saya jadi lapar… Yuk ah mupeng soto pak rus dulu…

20130409-080411.jpg

soto + babat.. gak cukup semangkok

Pulang dari Soto Pak Rus, rencananya mau ke rumah kk3 karna cucuku yang cantik si Clareta pas pulang. Eh ternyata dikabari kk3 kalau kk3 malah lagi di Jogja dan d’Reta yang mau main ke rumah Mbah Uyut. Wah..senangnya. Sambil nunggu cucu datang, masak dulu untuk makan siang (dari tadi kok makan terus ya :mrgreen: ). Selesai masak, duduk-duduk di teras sambil ngobrol dengan Bapak dan ponakan-ponakan. Gak berapa lama cucu yang ditunggu pun datanglah. Haaa…akhirnya ketemu juga kita ya dik…. Langsung deh kuminta d’Reta dan kugendong-gendong. Untungnya langsung mau. Masih lemes kali ya dik. 🙂

20130409-080527.jpg

akhirnya ketemu cucu cantik…. #abaikantalisurga

Dik Reta agak kurusan memang dibandingkan di foto sebelumnya, tapi tetep cantik kok :). Dari gendong-gendong d’Reta seharian, saya dapati ternyata memang saya belum siap jadi emak-emak. Saya belum berhasil nyuapin d’Reta sampai habis. Trus saya juga belum bisa nidurin. Pas dia rewel karna ngantuk dan saya berusaha nidurin, ee gak berhasil dan akhirnya saya kasih ke ibunya, eh tidur. Yah…gagal deh.. Gpp lah latihan lagi, ponakan/cucu banyak ini. Hihi…..

20130409-080623.jpg

d’Reta bangun bubu…

Meskipun Minggu kemarin hujan turun dari jam 2 sampai malam, tapi tetap menyenangkan bertemu dengan si cucu cantikku ini. Kalau kamu, ngapain aja hari Minggu kemarin?

20130409-080607.jpg